Apa Asyiknya Membaca Buku?

sumber gambar: trishbookshelf.blogspot.com

"We read to know we're not alone
" -- William Nicholson

"Apa asyiknya membaca buku?"


Pertanyaan itu sempat dilontarkan oleh seorang teman saat dia tahu bahwa setiap bulan saya kerap menyisihkan dana untuk membeli buku. Selama beberapa detik saya hanya bisa terpaku dan tersenyum canggung. Itu sama saja seperti bertanya kepada seorang penggemar traveling, "Apa asyiknya jalan-jalan?" 


Kita semua mampu untuk pergi jalan-jalan, minimal keliling kota kelahiran, namun apakah kita semua senang melakukannya? Jangan salah. Ada lho orang yang tidak suka berjalan-jalan. Serius. Banyak yang memiliki dana berlebih, namun kenapa sebagian dari mereka tidak mengalokasikannya untuk traveling? Teori yang sama berlaku dalam hal membaca buku. Kalian semua para pembaca blog ini pasti bisa membaca buku, bahkan itu adalah kewajiban mutlak sejak mengenyam pendidikan dasar. 


Pertanyaannya adalah: apakah kita senang melakukannya?


Mendapat kesenangan saat membaca buku itu penting, karena akan memicu kita untuk puas, terus membaca dan mendapat banyak wawasan. Sebuah buku bacaan tidak harus selalu diidentikkan dengan novel. Ada orang yang hampir tidak pernah membaca karya fiksi, namun sering membaca nonfiksi. Tidak masalah, itu tergantung selera, yang pasti dia telah menemukan kepuasan membaca buku. Nah, itu yang harus diraih. Tanpa sensasi tersebut, sepertinya akan sulit untuk menjadi seseorang yang gemar membaca.

Di artikel-artikel sebelumnya, saya sempat membahas mengenai bahan bacaan yang banyak beredar di sekeliling kita. Ada banyak jenisnya, mulai dari majalah, komik, novel, buku pelajaran, hingga artikel di internet. Semua itu bisa kalian baca. Sama seperti makanan, tubuh kita tetap butuh asupan nutrisi dari hidangan yang sehat, meski terkadang kita malah mengabaikannya dan beralih ke konsumsi camilan.


Bicara mengenai asupan, semua jenis bahan bacaan memiliki porsi masing-masing dalam menyuplai asupan untuk otak, baik itu bahan bacaan sesungguhnya, atau sekedar bahan bacaan camilan (bahan bacaan ringan)

Saya tertarik untuk mengangkat tema mengenai buku bacaan karena beberapa hari belakangan ini, saya tergerak untuk membaca sebuah buku yang dibeli beberapa tahun lalu (saya sendiri baru sadar pernah membelinya). Buku itu kini masih dalam proses dibaca, dan diri ini merasa senang sekali dapat kembali larut dalam sebuah bacaan. Larut dalam dunia yang diciptakan para penulis. Menyelami setiap huruf, kata dan kalimat yang tercetak. Hebatnya lagi, stres yang saya alami seolah menghilang sejenak bersamaan dengan intensitas membaca.

Nah, itulah yang saya maksud dengan kepuasan membaca buku. Saya sungguh menyukai jenis buku yang sedang dibaca ini, sehingga memicu rasa penasaran untuk terus membacanya hingga tuntas. 


sumber gambar: tivertonlibrary.org

"Books are a uniquely portable magic" -- Stephen King



Sensasi Saat Larut Membaca Sebuah Buku 

Larut dalam membaca buku sama menyenangkannya seperti larut dalam menulis. Banyak yang mengatakan bahwa jika kita merasa buntu dalam menulis, maka membacalah untuk mendapatkan asupan ide dan energi. Beberapa bulan belakangan ini memang bukan waktu terbaik saya dalam menghasilkan tulisan di blog (sangat, sangat tidak produktif), dan saya membaca buku sekedarnya saja, tidak dalam intensitas terjadwal seperti biasanya. Bahkan, terkadang diri ini seringkali malas melihat tumpukan buku, apalagi membuka lembarannya untuk dibaca.

Entah bagaimana caranya, pada suatu hari saat sedang mencari sesuatu di rak, saya penasaran melihat deretan koleksi buku yang ada. Sebagian berdebu, sebagian bahkan masih berada dalam sampul plastik toko, benar-benar tidak disentuh setelah dibeli! Mengenaskan. Maksudnya, kondisi saya cukup mengenaskan, hingga setega itu membiarkan buku yang dibeli dengan uang, malah disia-siakan. Tahu demikian, lebih baik dari awal saya tidak usah membeli, atau meminjamnya saja dari perpustakaan.

Saat tangan ini bergerak menyusuri judul-judul buku yang belum tersentuh sama sekali, hati saya terasa... diliputi semacam perasaan tertentu. Ada getaran halus, seperti rasa rindu. Haha. Apakah ini berarti saya rindu aktivitas membaca yang sesungguhnya? Dalam artian, membaca buku untuk dinikmati di waktu senggang, ditemani hidangan lezat, minuman segar, dengan rentang waktu yang masih tersedia?

Astaga, saya ternyata benar-benar merindukan momen tersebut!

Akhirnya, tanpa pikir panjang, saya segera mengambil acak beberapa buku yang sampul plastik tokonya belum dibuka, kemudian memilahnya dengan antusias. Wah, banyak sekali  buku menarik yang belum dibaca. Jantung saya berdegup kencang, senang membayangkan sisa hari akan dilalui dengan membaca buku. Pilihan jatuh pada sebuah novel terjemahan yang sudah lama ingin dibaca. Nah, ini cocok.

Setelah lokasi membaca dan hidangan tertentu disiapkan, saya mulai membuka sampul novel itu. Aroma sebuah buku baru pun tercium, membuat memori saya akan masa-masa sekolah saat menjelajah rak-rak di perpustakaan menyeruak kembali. Dulu saya memang senang berkeliaran menjelajahi rak-rak buku perpustakaan, sekedar menyentuh buku dan mencium aromanya. Ya, saya memang seaneh dan segila itu. Haha. Jika diingat lagi, jadi malu rasanya. Seperti maniak saja.

Oke, kembali ke kisah awal.

Tanpa terasa, beberapa jam sudah saya lalui, larut dalam kegiatan membaca buku yang tak sengaja ditemukan tersebut. Boleh dibilang, ini momen yang jarang sekali bisa saya rengkuh. Kebahagiaan sederhana semacam ini selalu saja tersingkirkan oleh beragam urusan lain.

Seketika itu juga, agar momen itu terasa abadi, saya langsung membuka laptop dan menuangkannya di blog. Benak saya dipenuhi ide yang menuntut keluar. Kini, saya mengakui bahwa membaca buku bisa merangsang otak untuk mencari ide dan menemukan semangat menulis yang ditularkan si penulis. Menemukan makna terpendam dalam sebuah bacaan dan menambah kosakata baru, sehingga dapat kita gunakan dalam tulisan sendiri. 

Oke, kalimat di atas terlalu mengarah pada sisi kepenulisan. Memangnya semua pembaca buku harus menjadi penulis? Bagaimana jika tidak tertarik menulis? Tidak masalah, setidaknya dengan membaca buku kita bisa merasakan dunia lain yang terbentang luas, siap untuk dikunjungi kapan pun kita mau. Tubuh boleh saja terikat pada tempat dimana kita membaca, namun biarkan pikiran mengembara menuju dunia lain tanpa batasan. Apalagi jika yang dibaca adalah novel penuh imajinasi, wah... seolah kita merasa bebas dari dunia nyata, masuk ke dalam khayalan yang diciptakan sang penulis.

Bagaimana jika yang dibaca adalah buku nonfiksi? Apakah masih terasa "sengatan" imajinasinya? Hm... mungkin tidak sedahsyat buku fiksi, namun saat membaca buku nonfiksi, khususnya jika memang buku tersebut menarik (dari segi wawasan dan cara kepenulisannya), maka bisa dipastikan tetap merasakan sensasi menyenangkan saat membacanya. Saya kerap merasa termotivasi saat membaca buku semacam biografi dan self-help, padahal itu termasuk karya nonfiksi. Itulah sensasi yang saya maksud.

Jangan terkejut juga jika suatu saat, setelah kalian banyak mendapat asupan bahan bacaan melalui buku, pasti ada semacam dorongan untuk menulis. Menghasilkan sebuah karya pribadi, sesederhana atau sekacau apapun itu. Tidak masalah, sepanjang kita menyukai prosesnya. Bukankah semua penulis besar berasal dari pembaca yang rakus? 


sumber gambar: Pinterest

"The best advice i ever got was that knowledge is power and to keep reading"
-- George Bernard Shaw



Beberapa Saran Untuk Mendapatkan Kesenangan Membaca Buku

Ah, apalah artinya sensasi membaca buku yang saya uraikan di atas jika pada dasarnya tidak tertarik membaca, ya kan? Kalau sudah demikian saya tidak bisa berbuat banyak. Artikel ini juga bukan untuk memaksa kalian langsung menjadi kutu buku. Semua murni tergantung pilihan masing-masing. Banyak manfaat membaca buku yang bisa kalian cari sendiri di internet, saya tidak akan menguraikannya di sini. 

Yang saya ingin tekankan adalah bahwa membaca buku itu termasuk kegiatan menyenangkan, benar-benar bisa memberikan kepuasan batin. Lalu, bagaimana caranya mendapat kepuasan tersebut? Well, kurang lebih ini saran dari saya:

1. Kumpulkan niat untuk membaca. Setelah itu, jernihkan pikiran dari segala macam pola pikir sempit dan sebagainya, buka seluas-luasnya untuk menerima segala jenis wawasan. Otak kita akan menyerap dengan "rakus" saat kita tidak mengekangnya dengan pola pikir sempit.

2. Tentukan jenis buku bacaan apa yang menarik minat kalian. Tidak tahu apa yang menarik? Ya sudah, mulai saja membaca buku apapun itu, dengan sendirinya akan bertemu dengan hal yang menjadi minat. Kenapa tidak dimulai saja dulu?

3. Mulai dari buku bacaan ringan. Selesaikan sampai habis, secara bertahap. Jika melihat terlalu banyak tulisan membuat kalian stres, maka bisa dimulai dengan buku yang memiliki gambar di dalamnya, dengan jumlah halaman tidak terlalu banyak. Kalian harus merasakan sensasi menyelesaikan membaca sebuah buku, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan! Anggap itu sebagai rekor tersendiri yang menyenangkan. Jika perlu, beri hadiah kecil bagi diri sendiri saat bisa menyelesaikan membaca sebuah buku. Lama-lama, tanpa diberi hadiah, diri kalian akan menemukan efek menyenangkan dari hal tersebut. Itu sensasi yang luar biasa.

4. Temukan tempat yang bisa membuat kalian membaca dengan tenang dan fokus. Jauhkan peralatan komunikasi sementara. Jika kalian membaca melalui e-book di gadget, maka matikan sementara layanan internetnya agar tidak terganggu dengan notifikasi ini itu, atau setidaknya aktifkan mode sunyi. Banyak orang yang saat ini sulit memfokuskan suatu hal akibat terlalu sering mengakses media sosial yang menawarkan konsep informasi cepat dan sepotong-potong, juga kegiatan multitasking di gadget.

5. Mulailah membaca, temukan hal-hal yang menarik dari bacaan tersebut. Jika bukunya berupa novel, gunakan imajinasi untuk membayangkan apa yang diinginkan penulis untuk kita pahami. Sulit berimajinasi? Mungkin buku non fiksi lebih cocok untuk dibaca. Jika ada kalimat yang kurang dimengerti atau alur yang "nyeleneh" dan "berat", jangan menyerah. Inilah yang kerap dilakukan pembaca pemula. Kalian bisa beristirahat sejenak dan setelah pikiran jernih, bisa membaca ulang bagian yang sulit tersebut. Jika masih juga pusing, jangan dipaksa. Bisa jadi kalian memulainya dengan bacaan yang terlalu "berat". Silahkan pilih bacaan lain yang lebih "ringan" dan membuat tertarik. Ketertartikan akan suatu topik bisa membuat kalian hanyut dalam bahan bacaan, setebal apapun buku itu.

6. Bertukar pikiranlah dengan orang-orang yang gemar membaca. Kalau menemukan teman yang gemar membaca, maka bisa saling merekomendasikan bahan bacaan, atau setidaknya, menemukan teman bicara yang sepaham. 

7. Datanglah ke perpustakaan untuk melihat koleksi yang terpampang di sana. Jika perpustakaan dianggap terlalu kaku, maka kunjungi saja toko buku besar dengan penataan rak yang eye catching. Tidak harus membeli kok. Kadang ada buku untuk display yang sudah dibuka sampul plastiknya. Buku tersebut boleh untuk dibaca, sepanjang kalian menaati peraturan yang berlaku. Saya sering menemukan kembali semangat membaca setelah melihat deretan buku-buku bagus di toko buku, lho. Mereka seolah berteriak memanggil saya untuk segera membacanya. 

Oke. Demikianlah tips dari saya untuk menemukan kesenangan membaca buku. Tips di atas tidak akan berguna jika kalian tidak berniat untuk mendalami sebuah bacaan. Semua kegiatan butuh niat, tak terkecuali membaca. Coba kumpulkan niat, temukan buku kegemaran, dan nikmatilah proses membacanya. Sedikit demi sedikit dibaca. Dari satu dua lembar, berkembang menjadi puluhan lembar, lalu akhirnya menjadi ratusan lembar. Tanpa terasa kalian akan menyelesaikan membaca sebuah buku. Jika sudah sampai pada tahap itu, selamat! Kalian telah menambah wawasan.

Nah, semoga artikel sederhana ini mampu membuat kalian -- setidaknya -- memikirkan mengenai keinginan membaca buku. Satu langkah kecil yang positif lebih baik daripada tidak melangkah sama sekali, bukan?

-Bayu-




Catatan khusus selama proses menulis:

Saya mendengarkan terus lagu Norah Jones yang berjudul "Come Away With Me" sepanjang menulis artikel di atas. Dulu saat pertama kali didengar, lagu ini selalu mendatangkan kantuk dan bosan. Kini, setelah "dicerna" berkali-kali, barulah saya menemukan esensinya. Norah Jones adalah musisi yang memiliki selera musik bagus. Lagu yang mengusung pop dan jazz ini cocok dinikmati saat bersantai. Alunan musiknya sungguh damai dan berkelas, membuat saya tersenyum saat menyadari keindahannya. Pantas saja album yang memuat lagu ini diganjar piala bergengsi "Album of The Year" Grammy Awards di tahun 2003.


Penggalan Lirik yang Menarik: "Come away with me and i'll never stop loving you"
sumber gambar: en.wikipedia.org

2 komentar

  1. Persoalan membaca ketika orang itu terjun juga sebagai penulis adalah rasa nikmat buat mengunyah kisah-kisahnya akan berkurang. Dia bakal berpikir, ini pakai teknik apa ya. Kenapa bagian ini bisa bikin saya sedih. Gimana cara dia menyusun suasana kelam itu. Dan seterusnya. Saya beberapa kali mengalami perasaan sejenis itu yang lama-lama mengganggu. Akhirnya saya coba siasati dengan:

    1. Pembacaan pertama, cukup baca aja selayaknya bocah haus ilmu. Simpan pertanyaan-pertanyaan dengan menandai bagian bukunya pakai sticky notes.

    2. Pembacaan kedua atau selanjutnya baru boleh dianalisis, dibedah, atau apalah. Dengan sebuah syarat, saya merasa buku itu layak dibaca ulang. Dapat membuat saya lupa sama dunia sendiri, saya pindah ke alam yang diciptakan penulisnya. Kalau enggak masuk standar, tentu tak ada pembacaan kedua.

    Terus, sekarang gue lama-lama bisa lebih nyaman baca di gadget sejak ada iPusnas, apalagi juga habis beli aplikasi Moon Reader Pro (khusus buat baca versi e-pub, biasanya karya penulis luar). Sekalian bisa buat dengerin musik juga kalau dari ponsel. Bikin playlist khusus membaca. Siapin camilan dan minuman dekat tempat duduk. Lalu baca 1-2 jam. Istirahat biar mata enggak lelah. Poin plus baca buku di ponsel tuh kalau lagi capek duduk kan bisa tiduran miring atau gimana. Baca buku fisik agak ribet. Tapi jika diganti buku fisik, biasanya bakal tahan duduk sampai 5 jam lebih. Mata oke-oke aja. Dalam jangka waktu itu, mungkin gue bisa tamat satu novelet atau kumpulan cerpen atau puisi.

    Fiksi atau nonfiksi buat gue mah sama aja tetap bisa dinikmati selama digarap dengan asyik. Kalau nonfiksi yang penulisannya kaku kayak buku pelajaran, ya jelas enggak kuat gue bacanya. Fiksi yang gaya berceritanya berantakan juga siapa yang tahan? Haha.

    Poin kelima, "Ketertartikan" itu salah ketik kan, Bay?

    BalasHapus
  2. Ingin berkomentar sangat banyak setelah baca tulisan ini, tapi setelah baca komen Yoga, enggak jadi deh. Hahaha

    BalasHapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.