Benda-Benda yang Kamu Miliki Bisa Berkata Banyak Mengenai Citra Diri, Lho!

sumber gambar: kqed.org
Fumio Sasaki dan Rak Buku

Siapa itu Fumio Sasaki? Ada apa dengan rak buku?

Jadi, di artikel sebelumnya (berjudul Stres Bekerja? Coba Renungkan Baik-Baik...), saya sempat membahas mengenai sebuah buku berjudul "Goodbye, Things" karya Fumio Sasaki. Dia adalah penulis asal Jepang yang sudah menerapkan prinsip hidup minimalis sehari-hari. Hidupnya yang dulu berantakan berangsur membaik setelah dia membuang sebagian besar barang dari apartemennya. Kini, Fumio Sasaki hidup hanya dengan segelintir barang yang memang sangat esensial saja.

Nih, silahkan lihat penampakan bagian dalam apartemennya:
sumber gambar: japantimes.co.jp
Buku "Goodbye, Things" ini terasa personal, karena memang ditulis dari sudut pandang orang pertama, yakni seorang minimalis yang dulu berkubang dengan banyak barang, banyak masalah dan banyak stres. Fumio merelakan sebagian besar barang tersebut pergi (baca: dijual, dibuang, atau didonasikan), dan berani mengklaim dirinya menjadi pribadi yang jauh lebih terbuka dan tidak stres setelahnya.

Terdengar menyenangkan? Pasti. Saya juga ingin seperti itu, tapi... mengurangi kepemilikian barang menjadi seperti Fumio rasanya... sungguh berat, hehe. Bukan berarti itu tidak bisa dilakukan, lho. Butuh komitmen kuat.

Isi buku ini begitu bagus hingga saya merekomendasikan kalian untuk membacanya. Jika kalian pernah membaca buku fenomenal "The Life-Changing Magic of Tidying Up" karya Marie Kondo (yang masih satu negara dengan Fumio Sasaki) dan menyukainya, maka kalian tidak akan kesulitan menemukan kenikmatan membaca "Goodbye, Things".

Fumio menulis lebih banyak hal mengenai mengapa kita terikat dengan benda, atau materi fisik. Dalam perangkap dunia kapitalis seperti saat ini, mudah ditemukan iklan produk yang membuat kita ingin terus membeli dan menumpuk barang. Belum lagi pusat perbelanjaan, baik offline maupun online. Jadilah rumah kita seperti tempat penampungan barang. Jika harus dibereskan, bingung sendiri mulai dari mana. Iya kan?
Pasti ada saja alasan seperti: "Nanti juga masih kepake, sayang ah kalo dibuang" untuk barang-barang yang semestinya dibuang. 

Ckckck. 

Fumio Sasaki tidak akan menoleransi alasan lemah semacam itu. Mungkin saja dia akan menceramahi kalian tentang pentingnya hidup minimalis dan berpisah dengan barang. Entahlah, bisa jadi seperti itu. Atau tidak sama sekali. Saya kan tidak tahu perangai Fumio seperti apa, hehe. 

Well, lagipula artikel ini tidak sedang membicarakan mengenai bagaimana menjadi seorang minimalis. Biarlah Fumio Sasaki yang menjelaskannya kepada kalian sendiri (itu juga jika kalian tertarik membaca bukunya). Saya tergerak untuk mengambil beberapa bagian dari buku tersebut (untuk kedua kalinya, dan di artikel mendatang mungkin masih akan ada beberapa pengambilan lagi, mengingat BANYAK sekali kutipan menarik) dan menuliskannya di blog.

Oh ya, tentang rak buku Fumio Sasaki. 


Maaf, malah jadi lupa tujuan awal paruh pertama ini. Oke. Ada salah satu judul subbab dalam buku "Goodbye, Things" yang langsung membuat perhatian saya tersedot: Rak buku adalah etalase diri sayaNah lho, apa itu maksudnya? Saya menemukan kalimat menarik dari halaman 48 (telah diedit untuk kepraktisan tampilan):

Dulu, saya gemar menumpuk buku di rak yang memakan ruang di lorong sempit apartemen saya. Padahal, rasanya saya tidak pernah membaca satu pun buku itu. Meski begitu, bukannya dibaca baik-baik, sebagian besar hanya saya sentuh sepintas.

Kini, saya bisa melihat dengan jelas alasan saya menyimpan buku-buku itu, tidak pernah membuang satu pun meski saya tahu tidak akan dibaca. Saya begitu ingin menyampaikan nilai diri melalui buku itu. Buku-buku itu ada untuk mengkomunikasikan satu pesan:

Saya sudah membaca begitu banyak buku. 

Sebagaimana terlihat oleh siapa pun yang melihat rak buku itu, saya punya minat yang beragam. Saya juga punya rasa ingin tahu yang tinggi. Saya mungkin terlihat seperti pria yang sangat biasa, tapi sebenarnya saya penuh dengan pengetahuan yang luar biasa. Mungkin saya bisa disebut sebagai orang yang terpelajar dan berpikiran mendalam.


sumber gambar: circlein.com.au
Berusaha Menunjukkan Citra Diri 

Setelah membaca isi subbab itu, saya terpekur. Apa yang disampaikan Fumio sungguh benar. Coba baca saja kelanjutannya: 


Melalui begitu banyaknya buku yang saya miliki, saya sedang berusaha menunjukkan nilai diri. Alasan tersebut juga melatari koleksi CD dan DVD yang menggunung, benda-benda antik, foto-foto nyeni yang menghiasi dinding, peralatan makan, dan koleksi kamera. Nyaris semua benda ini tak pernah saya gunakan. 

Kalimat Fumio jelas menusuk saya begitu mendalam, karena memang demikianlah yang saya lakukan selama ini. Uhuk! Saya memiliki rak buku yang diberi penutup kaca, alias bisa dilihat siapa saja. Koleksi saya terpampang dengan penuh sukacita di sana, bagaikan etalase pribadi. 


Saya tidak bohong bahwa saya memang bangga dengan koleksi tersebut. Kenapa? Karena saya mendapatkannya dengan susah payah. Sekitar 95 persen koleksi tersebut saya beli dengan hasil keringat sendiri. Sejak kecil saya adalah seorang anak yang gemar membaca, namun memiliki sumber daya finansial terbatas untuk memuaskan hobi tersebut. Perpustakaan sekolah menjadi tempat pelarian yang pas. Maka, bertahun-tahun kemudian, setelah mendapatkan penghasilan sendiri, saya seperti balas dendam. Buku-buku yang terlihat memenuhi selera, dan memang sanggup dibeli, akan saya beli.

Baca jugaMaaf Buku-Buku di Rak, E-book Ternyata Lebih Praktis

Saya ingin membangun semacam perpustakaan pribadi, dan sepertinya impian tersebut tidak akan pernah surut, mengingat banyaknya jumlah buku yang terus saya koleksi sampai sekarang.

Saya... bagaimana ya? Saya senang memiliki koleksi tersebut karena... hmm...

Benarkah saya juga ingin dianggap terlihat cerdas? Inikah yang membuat saya kalap setiap kali melihat diskon buku? Karena ingin koleksi bertambah? Inikah juga yang menjelaskan mengapa saya sulit sekali menyingkirkan koleksi tersebut?

Jika demikian adanya, wah... ada yang salah dengan diri saya! Tampaknya saya perlu lebih banyak berkontemplasi. Saya harus benar-benar meyakinkan diri, apa alasan terkuat untuk tetap mempertahankan koleksi tersebut, yang jelas-jelas sudah memakan banyak tempat!



"We use objects to tell people just how valuable we are" -- Fumio Sasaki

Kita Semua Ingin Menunjukkan Citra Diri Setiap Saat

Jika setelah membaca buku "The Life-Changing Magic of Tidying Up" karya Marie Kondo saya langsung tertarik membenahi barang untuk menampilkan apa-apa saja yang terlihat menyenangkan bagi saya (atau istilah Marie Kondo adalah "spark joy"), maka beda ceritanya dengan buku "Goodbye, Things". Setelah membacanya, saya jadi sulit tidur. Bukan karena saya keranjingan membaca hingga tengah malam (dalam beberapa kasus sih iya, tapi tidak sering kok), namun lebih karena saya terus-menerus dihantui kalimat demi kalimat dalam buku tersebut. Mengingat saya ini tipe yang selalu memikirkan suatu hal (argh, sungguh menyiksa memang!), jadilah tangan saya gatal untuk menulis di blog, menumpahkan semuanya.

Benak saya tidak sanggup menampung ini semua.

Hingga di satu titik, saya merasa mendapat semacam kesadaran. Ya, justru setelah menuliskannya di blog ini, kesadaran itu muncul. Jika saya saja sampai membeli buku dalam jumlah banyak dan bangga menampilkannya, maka bisa jadi dalam sisi lain, di kehidupan pribadi kita, aksi menampilkan citra diri ini sungguh penting.

Kita? Iya, saya, kamu dan semua orang di dunia ini. Seperti yang dituliskan Fumio Sasaki di halaman 155: "Kita semua, dalam skala yang berbeda-beda, selalu mengasosiasikan diri dengan barang-barang kita".

Itulah yang menjelaskan mengapa kita senang sekali membeli benda-benda yang seolah memancarkan aura "inilah jati dirimu". Bahkan tanpa disadari pun, memang demikianlah adanya. Kita membeli pakaian, tas, sepatu, kendaraan, properti, gadget, dan masih banyak lagi.

Tapi kan saya membeli ponsel canggih untuk menunjang pekerjaan saya, karena fiturnya bla bla bla. Mungkin itu alasan kita membeli iPhone generasi terbaru, atau wearable device semacam smartwatch merk tertentu yang harganya selangit. Lalu kita akan membela diri dengan kecanggihan fiturnya, dan bagaimana desain benda itu yang menarik, berapapun harganya, pasti dibeli.

Jika dibawa ke keramaian pun, sebuah iPhone generasi terbaru jelas menunjukkan prestise tersendiri, bukan ponsel dari pabrikan yang kurang terkenal. Okelah jika memang kebutuhan kalian tercukupi dengan fitur terbaru di ponsel, itu masih rasional. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak mengetahui kecanggihannya?

Saya punya cerita nyata. Ada orang yang gemar mengganti ponsel dengan merk terkenal keluaran terbaru, padahal dia seseorang yang gagap teknologi. Bisa dipastikan ponsel tersebut juga dimaksimalkan hanya untuk telepon dan melancarkan serangan pesan instan WhatsApp. Oh, dan media sosial tentunya. Tapi begitu ditanya mengapa harus generasi terbaru, dengan enteng dia akan menjawab, "Karena gue bos."

Oke. Jadi status "bos"-nya itu membuat dia melegalkan pembelian ponsel merk terkenal, paling gres di pasaran, dengan fitur yang mungkin dia tidak akan gunakan. Belum lagi kendaraan dan properti yang dia miliki. Kinclong. Semua miliknya seolah meneriakkan kalimat: "Lihat nih, gue seorang bos".

Itulah citra diri yang dia ingin tampilkan.


sumber gambar: pergikuliner.com
Mari perluas isu ke arah pusat-pusat perbelanjaan, dengan deretan gerai-gerai merk terkenal. Pasti kita pernah (atau sering) ke tempat semacam ini, bukan? Banyak yang keluar masuk, melihat deretan barang di etalase, membeli, kemudian... JRENG, keluar dengan tentengan seabrek. Saat iseng, akan melipir ke salah satu kedai kopi internasional untuk sekedar melepas dahaga dan melepas lelah sejenak. Tidak bisa dipungkiri, meski kalian sangat menyukai racikan kedai kopi tersebut sekalipun atau dipaksa berkumpul di tempat itu, tetap saja akan ada semacam citra diri yang langsung melekat, seolah memasang papan pengumuman: "Wow, gue ada di tempat nongkrong ini, guys!"

Bukan berarti saya pembenci kedai kopi tersebut. Tidak. Saya justru menyukainya kok, hehe. Jadi bisa dibilang citra tersebut juga yang ingin saya tampilkan, tanpa sadar. Melalui blog ini malah baru saya sadar sepenuhnya. Pantas saja perasaan saya selalu senang dan... apa ya istilahnya? Pokoknya, selalu merasa spesial jika bisa membuka pintu kedai kopi itu dan berhasil menikmati salah satu produknya. Menjadi bagian dari orang-orang di dalamnya.

Sepertinya, itu menjelaskan fenomena mengapa barang-barang mewah dihargai selangit dan selalu ada yang akan membelinya. Para produsen barang mewah itu tahu bahwa produknya diasosiasikan dengan prestise tertentu, atau kategori high class, sehingga pembelinya pasti akan dilabeli demikian. Oke, di luar faktor bahwa barang bermerk selalu mengunggulkan kualitas tinggi (saya percaya ini), pasti akan selalu ada faktor label "premium" dan "eksklusif" di dalamnya. Belum wah rasanya kalau belum menggunakan baju rancangan A, menggunakan kendaraan tipe B, menggunakan ponsel tipe C, tinggal di properti daerah D, dan sederet wah wah yang lainnya. Para penjual akan memasang harga selangit untuk menekankan kualitas dan prestise, lalu... hore, meraup keuntungan dari praktik demikian.

Sial. Jebakan kapitalisme dan citra diri. Sempurna. Jadi inilah yang ditentang oleh Fumio Sasaki.


Pentingkah Citra Diri?

Nah, ini pertanyaan yang agak sulit dijelaskan, saya sendiri cukup ragu menyampaikan hal ini dalam tataran logis dan wajar. Jadi, ini sepenuhnya adalah opini saya, jika kalian memiliki pandangan berbeda, tidak apa-apa, silahkan utarakan. Lagipula hei, semua artikel dalam blog saya adalah opini pribadi kok, bukan sesuatu yang menjadi acuan atau apalah. Saya hanya seorang personal bloger. Berbeda pendapat itu wajar.

Bagi saya pribadi, citra diri itu penting. Mengapa? Karena dengan citra diri, kita memberi kepastian kepada dunia, sosok seperti apa kita ini. Tanpa itu, kita cenderung tidak mampu menggapai tujuan hidup. 

Tapi eh tetapi... ada yang mengusik pikiran saya. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, bukan? Nah, citra diri memang penting, namun jika penerapannya sudah menjadi sebuah tuntutan dan malah membuat kita stres, itulah sisi buruknya. Hal itu pula yang mendasari Fumio Sasaki menulis seperti ini (halaman 156): "Ada hal-hal yang sangat kita sukai sampai-sampai terasa sebagai bagian dari diri kita. Hal-hal itu lalu membentuk citra yang harus dipertahankan."

Yang coba diuraikan Fumio Sasaki adalah bagaimana lepas dari tuntutan pemenuhan citra diri tersebut dengan cara melepas barang-barang yang kita miliki. Misal, kita mengaku sebagai penggemar berat musik sehingga terbebani untuk terus menampilkan sosok penggemar musik sejati (misal mengoleksi banyak CD, poster, peralatan musik, dan semacamnya), maka coba lepaskanlah barang-barang yang berhubungan dengan musik. Berani lepaskan dengan ikhlas, dan rasakan bahwa tuntutan citra diri tersebut meredup. Ke depannya, saat menikmati musik, diharapkan kita tidak akan terdorong untuk tampil sebagai "penggemar garis keras" yang harus tahu semua hal ("Oh gue punya album itu" atau "Musisi A? Gue baru aja nonton konsernya kemaren, bla bla bla"), tapi lebih ke menikmati apa adanya.

Fumio pun berkata (halaman 155): "Sekarang, saya tak lagi pusing tentang jumlah film yang ditonton. Saya bukan lagi "penggemar berat film", tapi sekadar seseorang yang menyaksikan film yang menarik minatnya".

Tampilkan apa adanya, tidak perlu terlalu terbebani. Itulah pesannya. Menurut saya, bukan berarti menghilangkan pentingnya citra diri itu sendiri. Fumio Sasaki sendiri pastinya sekarang dilabeli seorang yang minimalis, sehingga citra diri itu akan melekat kemanapun dia pergi. Tapi karena telah mencapai derajat "seorang minimalis", maka dia tidak tertarik untuk berpura-pura menampilkannya, karena memang itulah yang dia jalani sehari-hari.


Fumio tidak seperti Marie Kondo yang dengan baik hati memberi tips bagaimana merapikan banyak barang. Saran Fumio cukup sederhana: kurangi kepemilikan barang, hingga yang ada hanyalah yang benar-benar dibutuhkan. Jika kita hanya membutuhkan tiga kemeja, kenapa pula harus membeli dua lagi hanya karena harganya sedang didiskon? (Omong-omong, Fumio Sasaki memiliki sedikit pakaian lho, seperti yang dijabarkan di bagian Tentang Penulis, yaitu: Fumio Sasaki adalah seorang penulis tiga puluh tahunan yang tinggal di apartemen kecil di Tokyo dengan tiga kemeja, empat celana panjang, empat pasang kaus kaki, dan sedikit benda lainnya -- luar biasa, ya?).

Bisakah kita melakukannya? Tentu saja bisa, namun dengan keberanian berubah dan komitmen penuh. Sesuai dengan kaidah Fumio Sasaki, maka itu semua bisa dimulai dengan membuang (baca: jual, buang atau donasi) barang-barang milik pribadi yang tidak dibutuhkan. Jika dijalankan dengan benar, maka sedikit demi sedikit pemenuhan tuntutan akan citra diri sempurna mulai meredup. Lagipula, tidak ada manusia yang sempurna. Akan melelahkan kalau kita berpura-pura sempurna.

Dengan adanya tuntutan, maka kita cenderung membeli produk untuk menampilkan citra diri yang positif, mengabaikan kewajaran dan kondisi finansial. Nah, itu yang menjadi sisi buruknya! Dalam tataran wajar, manusia normal pasti menginginkan barang kok, namun dalam motif untuk keberlangsungan hidup. Jika motifnya diselimuti oleh tuntutan sosial berlebih, Itu yang tidak disukai Fumio Sasaki. Jebakan itu yang dijamin akan membuat kita hidup dengan penuh tekanan. 

Fumio menginginkan kita merdeka dari segala tuntutan citra diri.

Hm... Oke, oke.

Saya mungkin tidak bisa mengikuti total gaya hidup seorang Fumio Sasaki (hanya menyisakan tiga kemeja saja? come on...), namun saya bisa menerapkan filosofinya ke dalam berbagai segi kehidupan, dalam level yang sanggup saya jalankan. Beberapa penerapan sudah memberikan manfaatnya kok. Tapi, saya pun tahu bahwa tuntutan citra diri ini sangat penting di era modern, apalagi dengan kehadiran media sosial (wah, khusus untuk isu citra diri di media sosial, mungkin saya akan menuliskannya di artikel terpisah, mengingat bisa jadi banyak yang perlu dikupas lebih dalam). 

Jadi, butuh tekad kuat untuk menampilkan citra diri yang wajar. Bahkan, apa yang kita anggap wajar, belum tentu dianggap wajar di mata orang lain. Jebakan persepsi. Semua kembali pada kehendak masing-masing. Saya tidak memaksakan opini. Pada akhirnya, diri kitalah yang menjalankan hidup dan mempertanggung jawabkan pilihan yang kita ambil.

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Pilihan lagu untuk menemani menulis kali ini adalah "Sit Next to Me" karya Foster The People. Sudah lama saya tidak mendengarkan musik mereka. Vokal Mark Foster yang khas mengingatkan saya akan kejayaan album pertama, Torches. Artikel di internet menyebutkan bahwa genre lagu ini adalah indie-pop, neo-psychedelia dan funk. Campur aduk. Entah apa penjelasan dari masing-masing genre tersebut, tapi racikan kesemuanya membuat lagu ini begitu nyaman untuk didengarkan berulang-ulang, khususnya di bagian intro.


CATATAN TAMBAHAN: Berarti bisa dibilang, bagian "catatan selama proses menulis" ini juga menunjukkan kalau saya ingin dianggap sebagai pendengar musik dengan genre tertentu. Apakah ini semacam jebakan citra diri? Sayang sekali, benar. Ah biarlah, hehe. Satu hal yang pasti: saya memang tidak bisa menulis tanpa ditemani musik. Dan saya memang mendengarkan lagu Foster The People ini berulang-ulang. Jika boleh membela diri, ini adalah bentuk ciri khas yang ingin saya pertahankan.😁

Penggalan lirik yang menarik:
And now it's over, we're sober
Symptoms of the culture
And the night ain't getting younger


sumber gambar: en.wikipedia.org




2 komentar

  1. Kalau soal nongkrong di tempat-tempat wah, gue malah malas banget, Bay. Selain karena harganya mahal, kadang enggak cocok di lidah. Gue lebih sreg warung-warung pinggiran jalan. Daripada main ke kafe, gue lebih senang di warkop. Karena menu yang gue pesan kemungkinan itu-itu aja. Milo dan roti bakar. Di kafe harganya bisa 2-3 kali lipat. Gue enggak terlalu peduli diejek kurang gaul atau apa. Sebab gue mau makan dan minum yang emang gue doyan. Bukan yang lagi ngetren.

    Nah, soal buku ini nih berat banget. Rak buku gue yang kecil termasuk udah kepenuhan. Kayaknya 100 buku mah menyentuh. Niatnya mau menjual buku-buku yang gue beli tahun 2012-2015 karena kemungkinan banyak yang enggak akan dibaca ulang. Ada sekitar 20 buku setelah gue pilah. Selera bacaan gue telah berubah atau bertumbuh. Tapi bingung juga siapa yang sudi membeli buku komedi sejenis itu. Kemungkinan anak SMA atau kuliah semester awal. Terus kertasnya juga udah menguning. Takut memasang harga terlalu mahal. Semacam ada rasa sayang buat dijual mengingat dulu pertama kali beli mesti menyisihkan sebagian gaji khusus buat buku. Gue sulit membuang rasa tidak tega. Pasti ada nilai sentimental juga di situ. Pada masanya buku-buku itu pernah menghibur gue.

    Bicara soal citra diri, entah kenapa gue lebih suka disebut pembaca daripada penulis. Ehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. It's okay, Yog. Selama lo nemu kenyamanan yang cocok untuk melakukan aktivitas di warung pinggir jalan sekalipun, ga masalah.

      Duh, rasanya kalo terkait buku, semua pembaca buku pasti ngalamin ini ya: numpuk koleksi banyak :p Bener, rasanya sayang mau ngejual buku-buku lama yang udah kita beli dengan perjuangan. Kalo lo sulit untuk membuang rasa tidak tega, berarti itu buku emang udah punya nilai sentimental yang tinggi (atau dalam istilah lain: "sentimental items").

      Untuk buku yang udah sempet lo pilah dan mungkin ga akan dibaca ulang, kalo emang bingung masalah jualannya, mungkin lo bisa pertimbangin untuk donasiin aja. Siapa tahu dengan donasi, ngga akan ada masalah berat hati terkait kondisi buku yang udah ga layak atau gimana, karena itu udah lo ikhlasin. Tapi keputusan ada di tangan lo kok, mau di-keep, dijual atau donasi.

      Wah oke juga statement penutup lo. Iya juga Yog, kalo pembaca itu bisa dibilang mengeksplor semuanya ya, nikmatin bahan bacaan yang ada :)

      Hapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.