Jangankan Memperjuangkan Minat, Menemukannya Saja Belum Tentu Berhasil

Salah satu sudut dalam museum Van Gogh di Amsterdam, Belanda
sumber gambar: pinterest.com
"What would life be if we had no courage to attempt anything?" -- Vincent Van Gogh

Film Animasi "Loving Vincent" yang Dibuat dengan Kreatifitas Tinggi

Film animasi selalu menarik perhatian saya.

Dari semua film animasi yang pernah saya tonton, baru ada satu film yang mampu menyihir saya sedemikian rupa saat melihat adegan demi adegannya, yakni film "Loving Vincent". Adegannya dibuat menggunakan LUKISAN TANGAN DENGAN CAT MINYAK! Saya paham bahwa melukis satu kanvas penuh saja butuh proses yang tidak sebentar. Bayangkan jika kita harus melukis setiap adegan demi adegan film!

Nyatanya, itulah yang dilakukan 125 pelukis profesional dari berbagai penjuru dunia (sayangnya, dari Indonesia tidak ada) di studio Loving Vincent di Polandia dan Yunani. Mereka memilih 120 karya asli Vincent Van Gogh untuk ide dasar adegan demi adegan. Setelah itu, aktor dan aktris terpilih akan memerankan tiap adegan dalam studio berlatar green screen. Hasil pengambilan gambarnya akan dipoles oleh bantuan CGI (Computer-Generated Imagery) untuk detail lokasi, properti dan lainnya. Kemudian, proses kreatif nan melelahkan pun dimulai: menyerahkan hasil adegan film kepada para pelukis, untuk dilukis setiap pergerakan adegannya dengan lukisan cat minyak, manual! Hasil kerja keras tersebut menghasilkan 65.000 frame yang menjadi dasar pergerakan animasi.

Ckck. Bukankah itu bisa disebut sebuah proyek ambisius dan penuh perjuangan? Hebatnya lagi, semua adegan dilukis menggunakan gaya khas sapuan kuas Vincent Van Gogh, karena memang film ini didedikasikan untuk mengenang dirinya.

Proses melelahkan para pelukis di dalam studio untuk film "Loving Vincent"
sumber gambar: nightflight.com
Saya mengetahui film ini pertama kali melalui ajang Academy Awards (Oscar) 2018, karena film tersebut dinominasikan dalam kategori "Best Animated Feature Film". Saat menontonnya di bioskop pun saya hanya tertarik akan pergerakan animasinya. Indah sekali. Jujur, saya tidak mengenal siapa itu Vincent Van Gogh. Hehe. Yang saya tahu, dia adalah salah satu pelukis terkenal di dunia. Itu saja. 
Dari kiri ke kanan: Perbandingan karya asli ("Portrait of Armand Roulin" - 1888), tampilan di adegan dan foto pemeran di studio green screen
sumber gambar: aintitcool.com
Saat ditonton, alur film cukup membosankan , pokoknya tidak terlalu spesial. Di beberapa adegan bahkan saya tertidur (mungkin pengaruh menonton di malam hari juga). Entahlah, seperti ada sesuatu yang kurang. Saya menikmatinya sebatas melihat keindahan tampilan lukisannya saja, tidak lebih. Kenapa juri Oscar menganggapnya menarik?

Beberapa bulan kemudian, tanpa sengaja saya menemukan e-book "Lust For Life" saat sedang mencari buku untuk dibaca. Novel karya Irving Stone yang terbit di tahun 1934 ini mengisahkan tentang kehidupan Vincent Van Gogh. Saya jadi teringat salah satu adegan dalam film "Loving Vincent", saat Marguerite Gatchet (diperankan Saoirse Ronan) berkata pada Armand Roulin (diperankan Douglas Booth): "Kau ingin tahu lebih banyak tentang kematiannya (Vincent Van Gogh), tapi apa yang kamu ketahui tentang kehidupannya?"

Benar sekali. Bisa jadi saya tidak memahami film "Loving Vincent" karena saya tidak mengenal siapa itu Vincent Van Gogh, mengetahui satu karyanya pun belum pernah. Jadi, apa salahnya mencoba mencari tahu? Saya pun bertekad mengenal siapa sebenarnya pelukis itu melalui novel "Lust For Life". Hasilnya? Sukses menjungkirbalikkan emosi saya, dalam artian positif! Novel ini sungguh menyentuh. Akhirnya, saya menonton ulang "Loving Vincent" dan... tersenyum senang karena mulai bisa mengikuti alurnya, sekaligus memahami adegan demi adegan. Ah, terasa sangat indah begitu ditonton kedua kalinya.

sumber gambar: ebooks.gramedia.com
"Great things are done by a series of a small things brought together" 
-- Vincent Van Gogh

Untuk Memahami Seseorang, Kita Harus Mengenal Lebih Dalam Tentang Kehidupannya

Vincent Willem Van Gogh adalah seorang pelukis beraliran pasca-impresionis asal Belanda. Di dalam novel, kita diajak menyelami kehidupannya, mulai dari penyalur karya seni di London (Inggris), sebagai misionaris Kristen di Borinage (Belgia), keterlibatan penuh awal sebagai pelukis di Etten (Belanda), pembelajaran melukis dan percobaan dengan cat minyak di Den Haag (Belanda), ketekunan melukis di Nuenen (Belanda), perkenalan dengan para pelukis lain di Paris (Perancis), eksperimen dengan warna cerah di Arles (Perancis), masa depresi di Saint Remy (Perancis) hingga masa akhir hidupnya yang kelam di Auvers (Perancis).

Ada satu poin yang menarik untuk dibahas dari novel ini, yakni passion atau minat. Setelah menggeluti beberapa profesi, Vincent akhirnya sadar bahwa dunianya berwarna cerah saat dirinya melukis. Awalnya, dia hanya iseng membuat sketsa para penambang batu bara di Borinage. Ledakan gairahnya itulah yang akhirnya membuat dia sadar akan minatnya: menangkap ekspresi dan nyawa semua yang terlihat oleh matanya, menjadi sebuah lukisan.

Berikut saya kutip perkataan Vincent kepada adiknya, Theo, mengenai minat melukis ini (halaman 136):

"...Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku. Tapi kini aku telah mengerti satu hal dimana aku tidak akan pernah gagal."

"The Self Portrait" (1889), salah satu karya terkenal dari Vincent Van Gogh, sekaligus menunjukkan potret dirinya sendiri
sumber gambar: en.wikipedia.org
Itulah yang membuat Vincent akhirnya melukis bagai kesetanan, dalam artian dia melukis seolah tidak akan ada hari lain. Dengan gigih dia menggoreskan sketsa demi sketsa; mempelajari teknik melukis melalui pelukis lain dan juga hasil lukisan mereka; menuangkan apa yang dilihatnya ke atas kanvas; bereksperimen dengan guratan, emosi subyek, sapuan warna, teknik pencahayaan; juga menanamkan kepercayaan pada dirinya sendiri bahwa lukisannya akan semakin baik dari hari ke hari.

Berikut kutipan pemikiran Vincent yang saya ambil dari halaman 442:

"... Dia tidak puas dengan dirinya sendiri dan apa yang sedang dilakukannya, tetapi dia tetap memiliki sedikit harapan bahwa akhirnya itu akan lebih baik."

"...Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya.

Ada kalanya Vincent memang sempat menyerah saat mengetahui hasil lukisannya tidak mengalami kemajuan, namun berkat dorongan motivasi sang adik, akhirnya dia kembali bangkit dan meneruskan disiplinnya dalam melukis. Menyerah dan bangkit. Terus melukis tanpa lelah. Mungkin itulah sebabnya dia menjadi seorang pelukis sejati.

Vincent hidup untuk melukis, bukan melukis untuk hidup, karena -- seperti yang tertera di novel -- keadaan finansialnya tidak bagus. Sepanjang hidupnya, Vincent hanya berhasil menjual satu karya! Kerap kali dia menahan lapar berhari-hari karena tidak memiliki uang untuk sekedar membeli roti atau kopi hitam. Itu semua tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melukis, hebat sekali.

Coba simak kutipan di bawah ini (halaman 442):

"Hasrat untuk sukses telah meninggalkan Vincent. Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya."

"...dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya -- kekuatan dan kemampuan untuk mencipta."

Wah. Jika saya menjadi Vincent, mungkin saya sudah menyerah dengan kondisi yang ada. Haha. Oh, jangan lupakan satu kendala lagi: Vincent sudah kenyang mendapat cibiran dari orang lain terkait kecintaannya pada melukis dan kemelaratan yang dia derita. Dia bahkan dicap aneh, gila, pengangguran liar dan semacamnya.

Apakah Vincent gentar? Tidak, karena masih ada satu orang di dunia yang menganggapnya hebat dan sepenuhnya waras, yakni Theo, adiknya sendiri sekaligus malaikat penyelamat. Jadi, banjiran makian tidak menjadi masalah selama Theo masih menyiraminya dengan kasih sayang. Theo sendiri bisa dibilang sebagai satu-satunya orang yang setia mendukung Vincent secara finansial maupun emosional sepanjang hayatnya. Theo menjadi satu titik kelemahan terbesar Vincent, yang pada akhirnya justru menyeret dia ke dalam jurang depresi saat mengetahui sang adik tertimpa cobaan hidup. Theo ibarat matahari bagi Vincent. Vincent boleh saja terpuruk, namun matahari akan selalu dapat menyinarinya. Justru saat sinar matahari meredup, Vincent otomatis kehilangan arah.

Ah, saya merinding sendiri saat menuliskan artikel ini. Novel "Lust For Life" sungguh bagus, menyajikan kisah pilu Vincent Van Gogh. Ternyata tidak semua pelukis besar benar-benar "berjaya" di masa hidupnya ya. Saya pikir Vincent Van Gogh menuai kesuksesan saat dia hidup, nyatanya tidak. Hidup Vincent bisa dibilang "menyakitkan dan tragis". Saat membaca bagian dimana Vincent mendapat kebahagiaan, saya ikut merasa bahagia, sementara saat Vincent ditimpa kemalangan, saya ikut sedih. Ini terdengar konyol, namun itulah yang saya rasakan. 

Mungkin memang benar bahwa untuk memahami seseorang, kita harus menyelami kehidupannya terlebih dahulu. Bisa jadi kita menganggap seseorang bodoh dan kikuk, padahal nyatanya dia berwawasan luas. Lihat apa yang terjadi pada nama harum Vincent Van Gogh kini. Dia dianggap sebagai pelukis besar aliran pasca-impresionis, dan harga lukisannya bisa mencapai triliunan rupiah! Sebuah museum didirikan untuk mengabadikan karyanya, dan banyak pelukis menjadikannya idola. Luar biasa. 

Kegigihan memperjuangkan minatlah yang membawa Vincent hingga sejaya ini. Ironisnya, semua dia peroleh setelah dirinya meninggal dunia.

"I put my heart and my soul into my work, and have lost my mind in the process"
-- Vincent Van Gogh
"The Starry Night" (1889), salah satu karya paling terkenal dari Vincent Van Gogh yang banyak diperbincangkan dan dianalisis pecinta seni
sumber gambar: en.wikipedia.org

"Life always brings difficulties, that is true, but the good side of it is that it gives energy"
-- Vincent Van Gogh

Apa Minat Kamu dalam Hidup?

Oh, itu pertanyaan membingungkan. Saya sendiri pasti akan susah menjawabnya. Saya menyukai hal-hal seperti menonton film, membaca buku, menulis dan hal-hal yang terkait dengan unsur kreatifitas, tapi jika harus disimpulkan menjadi sebuah minat, ehm... saya sendiri belum yakin. Apakah menulis adalah minat saya? Bisa jadi, soalnya saat menulis sebuah artikel, saya merasa tenggelam dalam dunia lain, dunia dimana hanya saya saja yang bisa menikmatinya.

Oke, jika memang menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan dan menyebarkan manfaat ke orang lain adalah minat saya, lalu mengapa saya masih merasa kurang percaya diri menunjukkannya ke orang lain? Menurut saya, minat akan membuat kita berseri-seri saat memberitahukannya ke orang lain. Bagi saya, tidak demikian. Seringkali saya menutup rapat tulisan yang saya buat, bahkan tidak menginginkan sembarang orang melihatnya. Konyol memang, apalagi media ini adalah blog, dimana penyebarannya melalui internet, dan internet bisa diakses siapa saja. Haha. Ditambah, saya juga belum berniat memonetisasi minat ini.

Begitulah. Intinya, saya sendiri masih meragukan minat dalam hal tulis-menulis. Mungkin saya harus menyerap semangat Vincent Van Gogh dalam memperjuangkan minat, agar saya menjadi penulis yang konsisten dan terus belajar memperbaiki diri, tak peduli hujatan orang lain, dan memang berkarya karena sudah menjadi kewajiban.

Atau... jangan-jangan ini memang minat saya, namun saya tidak berani mengakuinya? Mungkin tekanan internal dalam diri yang mengkerdilkan minat ini. Jika Vincent Van Gogh saja mau berusaha melukis setiap hari, setiap saat, bahkan dalam keadaan lapar sekalipun... akankah saya melakukan hal yang sama dalam menulis? Apakah saya berani memperjuangkan keinginan ini dan terus maju, apapun resikonya? 

Entahlah. Saya harus berkontemplasi lebih dalam jika menyangkut masalah minat, masih terus mencari. Saya pernah membaca bahwa menemukan minat adalah proses yang harus melibatkan kejujuran diri sendiri, dan tidak ada satu orang pun yang dapat menerka minat orang lain selain orang itu sendiri. Tes secanggih apapun hanya akan mencoba mengarahkan, bukan memutuskan. Artinya, pencarian minat adalah murni perjalanan ke dalam diri sendiri, menanyakan pertanyaan sama terus-menerus: apa sesungguhnya minat saya dalam menjalani hidup?

Aduh, berat sekali ya pertanyaannya. Jangankan berkontemplasi mencari minat dalam hidup, kebanyakan kita justru memikirkan isu lain, mulai dari remeh hingga besar, bukan? Akui saja, pencarian minat sepertinya bukan sesuatu yang penting di masyarakat kita. Sedari kecil, kadang kita menemukan hal-hal menarik dari sebuah aktivitas, yang mungkin saja berawal dari hobi, dan menjurus ke arah minat untuk dijadikan profesi suatu saat... namun seiring pendewasaan diri, tidak semuanya berhasil mempertahankan minat tersebut. 

Atau lebih tepatnya, tidak semua orang diperbolehkan mengikuti kata hati untuk meneruskan minat tersebut sebagai profesi. Pola pikir masyarakat kita masih berkutat pada profesi-profesi yang dianggap menguntungkan secara finansial dan berada dalam zona aman, tidak benar-benar profesi yang sejalan dengan minat kita. Lagipula, siapa yang mau repot-repot mencari tahu minat diri sendiri saat setiap hari harus disibukkan mengurus masalah sandang, pangan dan papan?

Pada akhirnya, sebagian besar dari kita menyerah pada keadaan, mengikuti arus, mengekang minat ke dalam penjara terdalam di hati. Minat tersebut, yang benihnya bisa saja muncul sejak kanak-kanak, menjadi lemah karena tidak dipupuk setiap hari. Dan... jadilah sebuah masyarakat seperti yang jamak kita lihat saat ini, dimana hidup sekedar untuk memastikan sandang, pangan dan papan terpenuhi, karena memang itulah yang selalu menjadi isu paling penting dalam hidup. Perjuangan untuk memenuhi standar ekonomi masyarakat, bukan perjuangan memenuhi minat. Akan selalu ada seribu alasan untuk menyalahkan berbagai pihak, bukan malah merenungkan kenapa minat tersebut tidak diperjuangkan.

Jadi, pertanyaan yang lebih tepat saya ajukan sekarang bukanlah "Apa minat kamu dalam hidup?" melainkan: "Apakah kamu sudah menemukan minat kamu dalam hidup, dan berani memperjuangkannya?"

-Bayu-





Catatan selama proses menulis:


Saya mendengarkan album soundtrack "Loving Vincent" yang berisikan materi komposisi karya Clint Mansell selama proses menulis artikel di atas.

Mengingat film "Loving Vincent" adalah sebuah persembahan indah dan penuh seni dari ratusan pelukis dunia dan pengagum karya Vincent Van Gogh, maka musik pengiringnya pun dibuat dengan baik untuk mengiringi adegan demi adegan. Dari 14 musik score yang ada di album, saya sengaja memutar dua lagu terus-menerus, yakni "The Night Cafe" dan "The Yellow House", karena musiknya sungguh menenangkan dan menghanyutkan. Daya magisnya sanggup membuat saya menulis nyaris tanpa henti.

Saya tidak tahu apa saja yang menjadi inspirasi Clint Mansell saat menyusun komposisi kedua musik score tersebut, tapi yang pasti keduanya mengalun indah dengan caranya masing-masing.
sumber gambar: amazon.com

10 komentar

  1. Pertama kali tahu nama Vincent van gogh itu pas pelajaran seni di sekolah, penjelasannya enggak serinci tulisan di postingan blog ini. Makasih udah nulis artikel yang bisa menambah semangat untuk memperjuangkan minat kita ya.

    Baca tulisan ini jadi ikut merenung sendiri mengenai harus menseriusi minat menulis lewat blog atau sekedar terus menulis aja tanpa harus serius dan fokus ke profesi lain, iya sih, dunia tulis menulis itu anomalinya gede banget, ketidakpastian buat dapet penghasilan lewat menulis enggak semua orang bakalan beruntung bisa dapet kebebasan finansial dari menseriusi minat ini, baca cerita vincent van gogh di artikel ini aja, dia kesulitan finansial dan dapet ejekan yang enggak ada hentinya dari masyarakat sekitar, padahal kan dia enggak ngerugiin orang lain, enggak minta makanan untuk menghidupi dari orang lain, atau hal lain yang ngebebanin orang lain, dia cuma mau melukis dan itu dipermasalahkan sama masyarakat tempat ia tinggal, agak bingung, hidup di tengah masyarakat yang kurang mengapresiasi minat seseorang tekanannya gede, padahal pas kecil dulu, mereka-mereka juga yang nanya ke kita apa sih minat yang mau kita seriusi dan ngasih harapan utopia yang kelak bakalan terwujud asalkan kita konsisten berkarya lewat minat kita, but at the end when we grow up, sadly, society judge people who pursuing their passion as an abnormal one, so they believe that they have an obligation to forcing us to forget our passion and be a normal person like what they want such as focus to gain money from a realistic carreer.

    Pertanyaannya jadi: harus banget ya hidup kita diatur sampe ke ranah privat seperti passion aja dirusuhin gitu?

    Sekali lagi, makasih untuk artikelnya ya, Bayu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gue tahu nama Vincent Van Gogh kalo ngga salah dari buku pas baca di SMP, udah sebatas itu aja.

      Bener Agung, dunia tulis-menulis itu anomalinya gede, makanya bener-bener dibutuhin tekad luar biasa kalo mau serius terjun di bidang ini. Gue pun masih dalam tahap menulis untuk hobi. Kalo kita lihat penulis-penulis besar, banyak bukunya yang udah cetak berkali-kali, padahal di balik itu, proses nulisnya juga berat. Dimana-mana tiap profesi emang selalu ada resiko, tapi ya... jika profesi tersebut dijalankan sesuai dengan minat, pasti hasilnya jadi lebih maksimal. Itu idealnya.

      Contohnya Vincent Van Gogh, yang bener-bener tetep semangat melukis, disiplinnya kuat banget. Salut.

      Well, mau ngga mau, inilah masyarakat dimana kita tinggal. Mereka akan menganggap kita "tidak biasa" kalo berbelok arah nekunin minat jadi profesi, apalagi minatnya aneh-aneh, ngga sejalan sama profesi umum yang aman di masyarakat. Tekanan ekonomi masih jadi isu paling besar.

      Haha. Pertanyaan yang unik. Jangankan passion, ranah yang lebih privat lagi bisa aja kok dirusuhin, bahkan diobrak-abrik sedemikian rupa karena tekanan sosial. Tinggal bersabar aja ngelakuin yang terbaik, sembari pelan-pelan diperjuangin minatnya :)

      Oke sip. Makasih juga udah comment disini. Gue seneng kalo artikel ini bermanfaat buat yang baca.

      Hapus
  2. saya suka dengan karya seni, termasuk lukisan seperti punya van gogh ini..
    makanya tempat favorit buat melarikan diri ya galeri seni dan museum.
    review yang bagus tentang minat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue juga suka karya seni, cuma ngga terlalu mendalami banget. Palingan cuma lihat sekilas-sekilas. Nah, berkat novel dan film Loving Vincent ini, gue jadi lebih peduli sama karya Vincent Van Gogh, yang ternyata setelah diamat-amati... keliatan indah :)

      Wah, keren... tempat favoritnya galeri seni dan museum. Ah, seru kali ya kalo pergi ke museum Van Gogh, ngeliat langsung lukisan-lukisannya disana, hehe.

      Sip, makasih ya.

      Hapus
  3. Saya pernah dengar, tapi ya sebatas tahu dia pelukis aja. Soal karya atau hal-hal lain saya nggak cari tahu lebih lanjut. Berkat tulisan ini, saya jadi kagum sama sosok beliau. Asli, kisahnya cukup relevan dengan saya. Bedanya, saya ini menulis, bukan melukis. :)

    Saya sudah empat tahunan menggilai dunia tulis-menulis. Terutama memprioritaskan sebagian penghasilan untuk beli buku setiap bulannya daripada beli makan enak. Padahal pangan termasuk dalam kebutuhan primer seperti sandang dan papan, tapi entah mengapa buku (terutama novel) bisa saya anggap primer juga. Mungkin karena buku itu memang sudah menjadi makanan bagi seorang penulis. Tanpa beli dan baca buku, saya bisa kelaperan~ Ehehe.

    Mencari penghasilan dari dunia tulis-menulis emang susah banget, sih. Banyak yang bilang kalau menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama itu sama aja gila. Mesti ada pemasukan dari kerjaan di bidang lain.

    Ya, kalau saya pikir emang ada benarnya. Buktinya, esai, cerpen, dan puisi saya sering banget ditolak media. Malah belum ada yang tembus kayaknya deh. Lalu lama-lama pengin berhenti sejenak untuk ngirim. Sakit juga ditolak terus. Haha. Mau nggak mau, saya butuh kerjaan lain untuk bertahan hidup. :)

    Melihat blog saya yang beberapa kali menerima iklan, saya jadi salut sama lu yang belum menjadikan blog ini untuk komersil, Bay. Tapi ya gimana, pemasukan iklan dari blog lumayan bagi saya. Saya kudu realistis. :(

    Setidaknya, saya masih pilih-pilih klien. Selama saya masih cukup oke dengan kontennya, mah saya terima aja. Kalau nggak sreg dengan diri saya, sebisa mungkin saya tolak sekalipun harganya mahal. Tetap ralistis tanpa membuang idealis. Hehe. :)

    Saya nggak tahu, sih, sampai kapan tetep kekeuh menjadikan menulis sebagai cara utama untuk mencari uang. Tapi saya akhir-akhir ini mulai bingung dan letih juga. Apalagi melihat kondisi ekonomi keluarga yang mengharuskan saya bekerja kantoran seperti dulu--yang menerima gaji tetap setiap bulannya. Namun, saya tetep susah meninggalkan dunia menulis. Kadang mikir kalau saya kerja tetap lagi, susah ngatur waktu nulisnya sebab udah capek duluan.

    Setelah mengetik kalimat barusan, ternyata saya cukup gila juga seperti Vincent Van Gogh soal passion, ya. Lalu saya pun nggak sadar mengapa bisa-bisanya menuliskan curhatan di kolom komentar sepanjang ini. :(

    Yah, intinya semoga saja prosesnya kelak betul-betul bisa membuahkan hasil~ Kalaupun nanti buahnya nggak manis-manis amat kayak yang saya rasakan saat ini, yang penting menulis selalu bisa menyelamatkan saya dari banyak hal. Selalu bisa menjadi terapi jiwa. Ada sampah, racun, atau apa pun itu yang keluar dari kepala ini sehingga tidak penuh dan mumet lagi. Ada kelegaan dan kepuasan batin. Itu udah cukup buat saya bahagia, meski masuk dalam kategori miskin. Toh, saya tidak miskin hati maupun ilmu karena menulis. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue juga jadi kagum sama beliau, Yog :)

      Wah iya juga ya, ngebaca pengalaman lo sendiri menggilai dunia tulis-menulis, relevan sama kisahnya Van Gogh, hehe. Bagi Van Gogh, bisa melihat sebuah objek dan melukiskannya adalah pekerjaan utama pelukis, jadi dia rela ngehabisin duitnya cuma untuk nyewa orang lain untuk dijadiin bahan lukisannya! Kurang lebih sama ama lo yang rela prioritasin penghasilan buat beli buku, karena seperti yang lo bilang: "buku itu sudah menjadi makanan bagi seorang penulis".

      Semangat Yog dalam ngirim hasil tulisan lo. Yakin aja, dengan niat baik dan semangat berkarya, suatu saat lo akan dapet apa yang lo impiin, selama lo masih berpegang teguh sama kepribadian sendiri, artinya tulisan lo itu ya emang tulisan seorang Yoga, dan akan tetep berciri itu. Vincent Van Gogh sering dicela hasil lukisannya karena aliran kayak beliau belom diterima luas saat itu, tapi ternyata dia tetep ngembangin karyanya dengan sapuan kuas khas beliau... dan saat ini, banyak pelukis yang menjadikannya panutan.

      Ngga apa2 Yog curhat di kolom komentar, hehe. Memperjuangkan passion itu ngga ada salahnya kok, justru lo harus bangga udah nemu apa yang menjadi passion lo dalam hidup. Setidaknya, menulis bisa menjadi terapi jiwa yang ampuh bagi lo, dan "tidak miskin hati maupun ilmu karena menulis" seperti yang lo bilang.

      Btw, ampe sekarang emang gue belom kepikiran pasang iklan di blog sendiri, haha. Mungkin suatu saat, bisa jadi. Untuk saat ini, udah bisa nuangin pikiran dan dibaca orang laen (mudah2an bermanfaat) aja udah jadi kepuasan tersendiri bagi gue :)

      Hapus
  4. Saya tahu beliau sejak SMP, kebetulan memilih seni lukis daripada seni musik kala itu. Jadi tahu beberapa pelukis dunia dan Indonesia, meski sekarang sudah lupa, miris.

    Waktu baca judul tulisan ini di daftar baca blog, rasanya tertarik sekaligus terjerembab sedikit ke belakang. Lagi-lagi masalah minat, atau sebut saja passion agar terdengar lebih milenial, hahaha.

    Sedih rasanya ketika melihat teman yang kuliah di bidang yang mereka sukai benar. Jadi ketika ada badai tugas, bahagia wajahnya meski kuyu matanya tidak tidur semalaman. Saya tetap bekerja keras dan tidak menjadikannya beban, tapi tetap saja binar semangat teman yang 'berpassion' itu beda.

    Curhat hahaha.

    Jangankan memperjuangkan minat, menemukan bakat saja kelimpungan demi menyeimbangkan 'lakukan hal/pekerjaan seusai bakat dan minat'.

    Tapi dunia blogging mengisi lubang itu. Menulis dan fotografi, alhamdulillah sering bikin senyum-senyum sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, beruntungnya, bisa kenal Vincent Van Gogh dari jalur akademis.

      Iya, pake aja istilah passion ngga apa2 kok, hehe. Udah lazim juga di masyarakat.

      Nah itu dia... kalo orang yang menggeluti passion dalam beraktivitas, mau dapet masalah kayak gimana pun, keliatannya dianggep tantangan, karena emang pada dasarnya mereka suka akan dunia itu, haha. Apalagi kalo di level mahasiswa, saat mendalami ilmu yang emang udah menjadi passion-nya, wah... pasti berbinar2 kalo dapet tugas :p

      It's okay curhat, silakan... hehe.

      Ah, kalo ngomongin blog, emang udah jadi penyelamat banget ya bagi kita-kita blogger ini. Wah, ternyata lo malah punya satu kegemaran lagi, fotografi. Sip deh, selamat menekuni dunia menulis dan fotografi :D

      Hapus
  5. Wow wow wow rekomendasi film2 bayu pasti berat nih #ahzegggg

    Hmmmm ternyata begitu ya, bisa menikmati setelah menonton untuk kedua kalinya dan mencoba menyelami siapa itu subjek utama dari si film

    Tau ga Bay, gue dulu malah tau vincent van gogh dari majalah donal bebek loh, di situ ceritanya donal n 3 kponakannya lg dirundung kasus hilangnya karya2 lukisan vincent van gogh secara misterius di sebuah pameran....ebuseddd iya bener, sangking menghayatinya topik cerita donal itu, gw jd pnasaran trus nyari tau siapa itu vincent van gogh


    Trus terkesima karena ternyata saking maestronya blio di bidang seni lukis.

    Biasanya yang jadi daya magnet seorang tokoh besar macem blio tuh emang khidupan dari sisi kelamnya....

    Trutama pas baca sekilas tentang penyakit psikotik dan delusi yg berakibat pd stabilitas mentalnya, jadi yang gw baca blio sempet memotong salah satu kupingnya n klo ga salah inget wafatnya juga mayan tragis...hmmm

    Ah rupanya semua itu ada hubungan dari sang matahari dalam hidupmya yang mulai meredup yaitu sang adik. Emang sih klo kita terlanjur ketergantungan sumber semangat utama bukan dari diri sendiri, melainkan dari orang lain, giliran orang lain tersebut udah ga mampu lagi mengoptimalkan energinya untuk menyemangati kita, ya kitanya yang akhirnya jadi down n terpuruk banget

    Sedih sih...kadang menyelami sejarah tokoh dunia dari sisi terang maupun gelapnya
    Semacam, jadi ikut trenyuh karena terlanjur mengenal lebih jauh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Kebetulan aja lagi nemu film yang bagus kok Nit, dan ada yang unik untuk dibahas :p

      Wah... pengalaman lo lebih unik lagi, tahunya lewat majalah Donal Bebek. Iya, berarti yang lo rasain sama ama gue, langsung penasaran siapa itu Vincent Van Gogh, dan bener-bener terkesima ama keahlian beliau. Hebatnya, karya-karya beliau banyak yang masuk jajaran lukisan termahal saat ini, padahal mah semasa hidupnya bisa dibilang banyak yang mandang remeh karya beliau.

      Bener Nit, beliau sempet motong salah satu kupingnya. Pikirannya juga dianggap "menyimpang", mungkin karena tekanan hidup dan standarnya dalam membuat karya. Lukisan "The Starry Night" yang gue pasang di atas itu, ajaibnya dia lukis saat dia ada di rumah sakit jiwa St. Remy, masih terdaftar sebagai pasien di sana. Orang boleh menganggap dia gila, tapi ternyata hasil pikirannya bisa ngehasilin lukisan semacam itu.

      Wafatnya pun tragis, dan menimbulkan spekulasi apakah dibunuh atau bunuh diri (fakta umum yang beredar sih beliau bunuh diri), tapi film "Loving Vincent" dengan cerdas pake isu "dibunuh atau bunuh diri" ini sebagai pondasi kisahnya.

      Iya Nit, meski sebelum Theo (adiknya) punya masalah pun, sebenernya Vincent udah sering depresi, tapi begitu Theo mulai ditimpa masalah, Vincent langsung jatuh ke jurang terdalam. Theo ini bener-bener titik terlemah Vincent, ngga ada yang bisa ngejungkirbalikkin hidup dia seperti Theo ini. Gue sampe berdecak kagum sama ikatan kuat mereka sebagai kakak-adik.

      Trenyuh dan kagum pokoknya baca novel "Lust For Life" ini, betapa perjuangan gigih bisa menghasilkan karya luar biasa :)

      Hapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.