Asyiknya Mengomentari Adegan Dalam Sebuah Film

image source: peoplestrategy.com
Penonton Bioskop Yang Banyak Berkomentar

(1) "Ini film apaan ya tadi judulnya? Bakal seru ngga ya kira-kira?"
(2) "Kok kelihatannya agak kuno ya tampilannya?"
(3) "Ih, anak yang paling kecil lucu ya, mirip si Kakak"
(4) "Gambarnya bagus ya, kreatif pastinya dia"
(5) "Ya Allah, berani amat sih itu anak kecil ngambil dadu sendirian"
(6) "Bentar lagi ada yang ngagetin nih! Ah, bentar lagi ada yang ngagetin nih...!"

Potongan dialog di atas memang acak, namun saya berusaha menuliskan semuanya secara apa adanya, karena memang demikianlah yang saya dengar. Kedua telinga saya harus "rela" menangkap semua celotehan seorang ibu-ibu dan suaminya yang sedang menonton film "Marrowbone". 

Jujur, saat saya membeli tiket film "Marrowbone", saya sama sekali tidak tahu apakah dua kursi di sebelah kanan akan ditempati orang atau tidak. Kondisi bioskop saat itu sendiri cukup penuh, bisa jadi penonton sudah kenyang menonton "Justice League" atau muak menontonnya atau sekedar cari alternatif tontonan selain itu, sehingga kursi-kursi terlihat banyak ditempati orang. Tidak masalah bagi saya, asalkan semua penonton yang memadati teater bersikap "wajar".

Hingga kemudian lampu dimatikan, tanda pemutaran film akan segera dimulai.

Beberapa saat setelah itu, datanglah sepasang suami istri (sebut saja si Bapak-Ibu) berumur sekitar enam puluh tahun yang tampak ramah, bergerak cukup perlahan, meminta maaf sembari mencari celah untuk lewat di depan saya, dan duduk dengan manis di sebelah kanan. Saya melemparkan senyum sopan saat mereka berdua kembali meminta maaf karena telah menginterupsi. Ah tidak apa-apa, lagipula filmya belum diputar kurang dari semenit.

Kemudian, dengan tenang si Ibu mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya, entah apa itu, tapi si Bapak tampak senang (berseru tertahan, "Nah, ini nih...") dan langsung merobeknya. Ternyata cemilan kacang kulit garing, karena setelah itu mereka berdua heboh membuka kulit kacang, suara yang cukup mengganggu. Saya mencoba mengabaikan, hingga datanglah komentar pertama dari si Ibu, seperti yang tertulis di atas: "Ini film apaan ya tadi judulnya? Bakal seru ngga ya kira-kira?"

Si Bapak hanya merespon dengan dengusan pelan sembari menikmati cemilannya, bisa jadi dia sendiri lupa judul filmnya apa. Sekedar informasi, "Marrowbone" adalah sebuah film horor/thriller yang mengambil tema perjuangan empat kakak beradik menghadapi teror rumah berhantu dan teror psikologis. Istilah rumah "berhantu" sepertinya kurang cocok, mengingat inti ceritanya lebih dalam dari sekedar teror kaget-kagetan. "Marrowbone" bisa dibilang sebuah tontonan menyegarkan bagi saya sebagai pecinta jenis film seperti ini.

Oke. Kembali ke kisah si Bapak-Ibu penikmat cemilan kacang kulit itu. Setelah bertanya judul film, tidak butuh waktu lama bagi si Ibu untuk kembali mengeluarkan komentar berikutnya (lihat kembali dialog di atas): "Kok kelihatannya agak kuno ya tampilannya?" yang dibalas dengan tawa ringan oleh si Bapak. Adegan dalam film terus bergulir, dan komentar si Ibu makin ramai. Si Bapak terlihat sabar meladeni, karena memang ocehan mereka sambung menyambung.

Ternyata ada beberapa orang yang merasa terganggu, kemudian memberi teguran, "Sstt!!" kepada si Bapak-Ibu. Kedua orangtua itu hanya merespon dengan, "Maaf ya" sembari tertawa sopan. Tapi itu tak menyurutkan niat mereka untuk terus berkomentar rupanya. Mereka sadar telah mengganggu ketenangan, namun tetap melanjutkan berkomentar dengan memelankan suara.

image source: danroam.com
"What do people go to the theatre for? An emotional exercise" -- Mary Pickford

Pengalaman Pribadi Berkomentar Saat Menonton Film

Pengalaman menonton di sebelah kedua orangtua itu memberi ide untuk postingan ini. Saya jadi teringat diri saya sendiri yang kerap berkomentar saat menonton ramai-ramai di rumah. Menonton sembari menikmati cemilan ringan juga kerap saya lakukan. Apakah saya merasa terganggu? Ternyata tidak juga. Menonton film secara bersama-sama juga mengasyikkan, bisa tertawa dan berkomentar sesuka hati.

Saya juga teringat momen beberapa minggu belakangan ini, saat mengajak kedua orangtua saya untuk menonton film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" di bioskop, sebagai momen penyegaran bagi mereka dan juga quality time. Kedua orangtua saya selalu senang sekali saat diajak menonton film Indonesia di bioskop, khususnya saat film tersebut sangat menyentuh secara emosional bagi mereka, seperti film "Siti", "9 Summers 10 Autumns", atau "Ibu, Maafkan Aku" dimana begitu ada adegan Christine Hakim menangis, di saat itu pulalah ibu saya turut menangis. Di film "Kartini" pun demikian.

Saat menonton film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" pun kedua orangtua saya turut berkomentar tentang adegan di dalam film, mulai dari lokasi, penggunaan dialek Indonesia Timur yang kental, sosok Marsha Timothy, musik yang indah, dan sebagainya. Wah, pokoknya seru sekali, kami bertiga bagai pengamat film saja. Untungnya saat itu kondisi bioskop tidak penuh terisi, mungkin karena masyarakat kurang suka tontonan semacam ini, atau demam Justice League yang terlalu mewabah. Apakah saya terganggu dengan komentar kedua orangtua saya? Ternyata tidak. Jika mereka tidak berkomentar justru "tanda bahaya", itu berarti filmnya terasa membosankan, karena mereka pasti akan segera terkantuk-kantuk atau bahkan tertidur pulas.

Mengomentari adegan demi adegan yang berkesan adalah usaha mereka menikmati film, sama seperti saya saat memutuskan menonton film beramai-ramai di rumah atau bioskop, atau saat saya fokus menonton sendiri, itu juga usaha menikmati film. Pernah sekali saya menegur kedua orangtua karena terlalu ribut, khawatir mengganggu kenyamanan penonton lain. Mereka memang terdiam setelah itu, namun saya melihat ada "luka" di mata mereka, mungkin kesal karena anaknya tidak memahami cara mereka menikmati film.

Sejak itu saya tidak pernah lagi menegur mereka jika terlalu ribut. Saya sadar mereka menikmati film bukan untuk benar-benar fokus, namun harus diselipi komentar. Jalan termudah membiarkan mereka mengomentari film tanpa khawatir mengganggu penonton lain adalah dengan menempati kursi yang kemungkinan lumayan jauh dari lokasi penonton lain, dan untungnya berhasil sampai saat ini.

"It is not how much we have, but how much we enjoy, that makes happiness"
-- Charles Spurgeon

Seyum Lega Setelah Menonton "Marrowbone"

Jika ingin fokus, saya memilih menonton film sendirian, namun jika ingin mendapatkan hiburan atau semata melepas penat dan quality time bersama siapapun yang bersedia meluangkan waktu, saya memilih menonton bersama orang lain. Saat menonton untuk fokus, saya benar-benar mencari tahu tentang film yang akan saya tonton, mulai dari rating, ulasan, trailer, sutradara, hingga jajaran pemain. Saya sudah membawa segenap ekspektasi sebelum menikmati film tersebut.

Berbeda halnya dengan saat menonton untuk mendapatkan hiburan semata. Saya tidak terlalu peduli dengan ulasan. Yang saya cari adalah kepuasan menonton apapun yang disajikan si pembuat film, ditambah quality time dengan orang lain. Jika bagus, alhamdulillah. Jika buruk, ya sudah langsung lupakan saja, tidak perlu disesali, hehe. Saya pun menyadari bahwa ada kalanya saya butuh berkomentar saat menonton film, terutama jika saya dan rekan menonton saya memang menggemari film tersebut.

Kini, setelah saya pikir secara mendalam, di dalam bioskop pun pasti akan SELALU ada orang-orang yang berkomentar saat melihat satu adegan dalam film, entah dalam bisikan halus atau celetukan kencang yang terdengar penonton lain. Sebuah film sejatinya dibuat untuk menjadi hiburan, dan ada kalanya suatu adegan benar-benar membuat kita tergelitik untuk berkomentar, sesingkat apapun itu, misalnya, "Masya Allah", "Astaga", "Waduh", "Anjir!" dan semacamnya, atau bahkan sekedar tawa ringan atau pekik tertahan.

Kita sekedar bereaksi atas apa yang dilihat, itu normal menurut saya. Hanya saja, reaksi tersebut yang harus dikendalikan jika berhadapan dengan situasi yang menuntut kita untuk memahami kepentingan orang lain. Jika menonton film bersama-sama di rumah atau di suatu tempat yang tidak terlalu ramai, kita bisa bebas mengekspresikan apapun. Terserah. Beda halnya dengan menonton di bioskop, yang notabene merupakan lokasi publik, sehingga reaksi yang muncul saat melihat suatu adegan di film harus kita pertimbangkan masak-masak.

Jika kalian masih tetap ingin berkomentar di dalam bioksop tanpa memedulikan kehadiran orang lain yang mungkin sedang ingin fokus menonton, well... bersiap-siaplah dengan resiko yang timbul. Sama seperti si Bapak-Ibu penikmat cemilan kacang kulit itu, yang berkali-kali diberi teguran, "Sstt!" namun masih terus berkomentar tanpa henti, meski dengan suara pelan.

Ah, tampaknya mereka menikmati momen menonton dengan cara demikian. Saat credit title bergulir dan lampu bioskop dinyalakan tanda film telah usai, si Bapak-Ibu kembali tersenyum ramah kepada saya dan meminta izin untuk berjalan keluar melewati sisi depan saya. Kedua wajah mereka menunjukkan kehangatan dan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan. "Marrowbone" jelas memberi mereka pengalaman menonton yang menyenangkan. Bisa jadi mereka akan tetap menonton film-film lain di bioskop ke depannya, masih dengan celetukan-celetukan sama, dan akan memelankan suara jika ada yang menegur. 

"Learn to enjoy every minute of your life. Be happy now" -- Earl Nightingale

Saat melihat kedua orangtua itu berlalu pergi, saya menyadari sesuatu. Pantas saja saya tidak terlalu mempermasalahkan ocehan mereka sepanjang film, bahkan saya menjadikan itu bagian dalam menikmati film, karena mereka mengingatkan saya akan sesuatu. Ini cukup aneh, karena biasanya jika sedang menonton sendiri, saya cukup terganggu dengan komentar-komentar penonton lain yang muncul. Tapi tidak dengan yang satu ini.

Ya, ternyata mereka mengingatkan saya kepada kedua orangtua sendiri, yang juga akan bersikap sama seperti mereka saat menikmati sebuah film. Haha. Sebelas dua belas lah. Saya bersyukur tidak ikut menyuruh si Bapak-Ibu diam saat mereka berceloteh riang. Jika itu terjadi, besar kemungkinan saya akan merusak momen menikmati film yang mereka bangun.

Oke, kali ini saya merasa gagal sebagai penonton yang menjunjung tinggi etika dalam menonton di bioskop, tapi di satu sisi, entah kenapa, saya lega membiarkan si Bapak-Ibu menikmati momen mereka menonton film. Saya pun bisa tersenyum lepas saat melangkahkan kaki keluar dari bioskop.

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

The power of 60's. Mengusung musik era tahun 60-an mungkin bukan perkara mudah karena faktor komersial, namun sebuah band indie lokal bernama Indische Party terlihat tidak peduli. Dengan musik yang diracik sedemikian kreatifnya, band beranggotakan jebolan kampus IKJ ini berhasil mencuri perhatian untuk kalangan tertentu. Saya mendengarkan lagu mereka yang berjudul "No More" terus-menerus selama proses menulis artikel di atas. Musik Indische Party membawa nuansa tersendiri yang menyenangkan.


Notable lyric of this song:

All your love is a lie
You've got to take it away, my friend
image source: provoke-online.com

4 komentar

  1. kayaknya ada peringatan gaboleh ribut deh sebelum mulai
    ya sutralah
    aku belum liat marwobone bolehlah masuk list

    BalasHapus
  2. Duh. Ini siapa sih yang taroh bawang di sini?! AKU NANGIS MASA BACANYAAAAAAAAAAAAAA. TERHARUUUUUUUUU. BAYU KAMU BAIK BANGET NGGAK NGERASA KEGANGGU. AKU JUGA JADI INGAT SAMA ORANGTUAKUUUU. SOALNYA MEREKA UMURNYA KISARAN ENAM PULUH TAHUNAN JUGA. HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA HUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUU.

    Aku juga termasuk orang yang suka berkomentar lepas kalau nonton film di manapun, Bay. Termasuk di bioskop. Teman-teman yang nonton sama aku udah paham gimana ekspresifnya (baca: mengganggunya) aku. Bahkan menurutku yang paling parah pas nonton Happy Death Day kemarin, aku spontan teriak "I love you, Carter (nama salah satu pemainnya)!" terus aku disenterin sama penonton di kursi seberang. Huhuhuhu. Malu :(

    Aku belum nonton Marrowbone nih. Sempat masuk watchlist bulan kemarin tapi belum sempat ketonton juga karena keburu dijangkit bokek. Mudahan ntar pas gajian (semoga malam ini hahaha) bisa ketonton deh. Oh iya, Bay. Sekali lagi, aku sedih baca ini. Aku jadi ingat kedua orangtuaku. Dulu aku pernah ada niatan buat ngajak mereka nonton bareng. Quality time. Tapi belum kesampaian. Sumpah ini tulisannya bikin aku jadi membayangkan kedua orangtuaku. Penulisan kamu, respon kamu akan kedua pasutri enam puluh tahunan itu, dan betapa enjoynya mereka dalam menikmati filmnya, bikin aku nangis. Tulisan yang bagus, Bay. Nggak papa gagal dalam beretika nonton di bioskop. Toh sbeenarnya memang bener sih, kalau kita nggak bereaksi apapun akan filmnya, justru itu tanda bahaya. Tanda kalau filmnya nggak memuaskan. Dan ya, seenggaknya bereaksi dengan mengomentari filmnya itu masih jauh lebih baik daripada selama nonton malah mainan hape bahkan ngerekam itu buat IG story.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal saya udah berencana nulis komentar panjang, tapi salah fokus karena baca komentar Icha. Hahaha. Nonton film mainan IG stories.

      Hapus
  3. Bayu, salam kenal. Baru baca dua tulisan kamu dan saya ingin komentar disini aja ya. Tulisannya rapi dan matang sekali. Ada catatan selama menulis juga. Saya suka konsep dan ide-ide yang kamu bawa di dua postingan ini dan sebelumnya.

    Sekali lagi, salam kenal ya :D

    BalasHapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.