"Kejutan" Dari Sebuah Rencana Yang Dibuat Mendadak

image source: uiwater.com


"Genuine happiness comes from within, and often it comes in spontaneous feelings of joy"
-- Andrew Weil

Di beberapa artikel sebelumnya, saya sempat menyatakan bahwa salah satu hobi saya adalah menonton film, khususnya di bioskop. Masuk ke dalam teater bioskop adalah sebuah pengalaman yang sangat mengasyikkan, seolah kita dibawa menuju "dunia" lain, sejenak keluar dari dunia nyata. Di dalam bioskop, imajinasi kita diatur sedemikian rupa, menghasilkan efek berbeda untuk setiap penonton.

Efek setelah menonton itulah yang menimbulkan sensasi ketagihan. Saya selalu ingin kembali ke dalam bioskop, menikmati deretan film lainnya. Andaikan selembar tiket menonton dihargai semurah tiket TransJakarta, mungkin saya akan selalu menonton setiap film yang diputar. Khusus untuk film yang memang sudah ditunggu sejak lama kemunculannya, saya akan memastikan diri ini menjadi salah satu penontonnya.

Rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari untuk menonton sebuah film terkadang tidaklah sesuai kenyataan. Bisa saja ada kegiatan mendadak yang harus dilakukan, menghadiri sebuah acara yang tidak bisa ditolak, atau sekadar terbentur deadline pekerjaan (ini yang sungguh menyedihkan). Dari sekian rencana yang sudah tersusun rapi, justru sebagian tidak terlaksana sempurna. Kebahagiaan menikmati film harus kalah oleh tuntutan hidup.

Nah, beberapa waktu lalu, saya sempat terjerat oleh masalah dalam pekerjaan. Sebenarnya masih bisa ditangani, namun otak saya terasa macet. Sulit menemukan solusi atas beberapa permasalahan yang timbul. Sepanjang pagi hingga siang, saya merasa tidak melakukan banyak hal yang berarti. Saat lelah muncul, saya memaksakan diri beristirahat sejenak. Iseng saya membuka aplikasi sebuah jaringan bioskop lokal melalui ponsel, dan terhenyak saat melihat ada satu film horor yang sudah saya nantikan kehadirannya sedang diputar.

Kemudian ide spontan itu datang: saya ingin mengajak dua orang lain yang saya tahu penggemar film horor juga. Pasti akan seru sekali. Kami biasa menonton bersama film semacam itu, dan menonton di bioskop jelas pilihan yang menarik! Saya tidak tahu apakah mereka bersedia atau tidak (berhubung aktivitas keduanya juga sama-sama sibuk), tapi saya coba dulu saja, jika ditolak, itu urusan belakangan.

Undangan mendadak tersebut ternyata direspon dengan baik oleh mereka, dan akhirnya kami menonton di jam pemutaran malam, waktu terbaik yang bisa dipilih. Film horor yang ditonton saat malam hari memang selalu mengasyikkan, aura kengeriannya terasa. Memang itulah yang saya incar. Syukurlah, kami mendapat suguhan film yang tidak mengecewakan. 


"I guess sometimes the greatest memories are made in the most unlikely of places, further proof that spontaneity is more rewarding than a meticulously planned life"
-- J. A. Redmerski 

Saya tidak akan mengulas filmnya. Karena acara menonton tersebut berawal dari sebuah ide spontan, maka saya tertarik membahas mengenai spontanitas. Oke, saya tahu bahwa hidup ini penuh dengan perencanaan. Saya belum pernah menemukan seseorang yang tidak merencanakan apapun dalam hidupnya. Tidak usah bicara muluk-muluk mengenai perencanaan menikah, memiliki anak dan rencana besar lainnya. Lihat saja hal-hal remeh semacam makan apa, pergi kemana, menelepon siapa, dan sebagainya. Semua memiliki unsur "perencanaan" di dalamnya, dan kita pasti pernah terlibat dalam hal-hal semacam itu, bukan?

Rencana bisa berubah. Perubahannya bisa muncul kapan saja, dimana saja. Saat kita sedang bepergian dengan teman-teman ke satu tempat misalnya, awalnya berencana naik mobil bersama, namun akhirnya malah memilih naik kereta api atau bis. Saat ingin makan di suatu restoran, akhirnya menjadi makan di pinggir jalan. Terkadang perubahan semacam itu yang menjadikan perjalanan semakin seru.

Apakah perubahan rencana bisa ditemukan dalam aktivitas lainnya? Tentu saja. Saya kerap merencanakan janji temu dengan beberapa teman, jadwal telah dibuat, namun ada saja perubahan mendadak, berujung gagal. Akhirnya kami sepakat bahwa perencanaan tidak perlu dibuat, jika memungkinkan, dilakukan secara spontan saja. Hasilnya? Justru rencana spontan lebih sering terlaksana daripada rencana yang tersusun rapi. Haha.

Atau lihat saja contoh kasus menonton film yang saya paparkan di atas. Itu termasuk spontanitas. Saya yakin, jika rencananya sudah disusun beberapa hari sebelumnya, kemungkinan untuk terlaksana adalah 50:50. Dalam rencana spontan, ada unsur "kejutan" dan mungkin ini yang membuat rencana tersebut justru terasa menyenangkan. Ya kan? Bisa jadi diantara kami sebenarnya ada yang terbentur dengan beberapa urusan, namun karena ada "kejutan spontan", maka diabaikan sementara. Bukan kejutan tidak menyenangkan ya, itu lain cerita. Saya memfokuskan pada rencana positif. Unsur kejutan itu juga yang membuat otak kita seolah memprosesnya sebagai hadiah kecil, dan hadiah erat kaitannya dengan kebahagiaan.

Nah, momen-momen seperti itulah yang membahagiakan. Bukan momen besar kok, cuma sekedar menonton film bersama, namun berawal dari rencana mendadak. Saya sendiri tidak menyangka bahwa hari itu akan berakhir dengan menonton bersama, padahal sedari pagi saya berniat untuk bekerja lembur. Perubahan mendadak justru membuat hidup lebih berwarna.


image source: pixabay.com
"No matter how many plans you make or how much in control you are, life is always winging it"
-- J.D. Salinger

Nah, dalam setiap rencana yang telah disusun, apakah semuanya berjalan mulus? Tentu tidak. Pasti ada saja masalah yang datang menghampiri, baik dalam skala kecil hingga besar, yang menyebabkan rencana tersebut setengah terlaksana, atau bahkan gagal total. 

Beginilah hidup.

Kalimat itu yang sering saya dengar dari seseorang manakala rencana hidupnya buyar karena beberapa alasan. Manusia boleh saja merencanakan sesuatu, namun Allah yang akan mengatur semuanya. Kalimat itu juga sering saya dengar. Sayangnya, tidak semua bisa memaknai kalimat tersebut dengan sungguh-sungguh. Jika rencana besar dalam hidupnya gagal, ada beberapa orang yang justru tenggelam dalam kesedihan berlarut, tanpa sadar bahwa semua itu sebenarnya telah diatur oleh Allah.

Oke, saya tidak akan banyak menceramahi tentang hikmah dari ujian hidup dan semacamnya, karena saya sendiri kerap bergelimang dalam masalah satu itu, haha. Saya hanya ingin memberi contoh bahwa tidak semua rencana dalam hidup yang kita susun itu akan terlaksana sempurna. Akan selalu ada penyesuaian di dalamnya. 

Saya punya seorang teman yang jika melakukan perjalanan ke luar kota untuk liburan, jarang menyusun rencana hingga detil. Baginya, yang perlu dia ketahui adalah bahwa dia memiliki uang cukup saat dalam perjalanan. Dua hal yang dipersiapkan sebelumnya hanya tiket transportasi dan hotel, itu juga terkadang mendadak. Masalah pergi kemana, makan dimana, bertemu siapa dan sebagainya, benar-benar mengandalkan spontanitas. Justru banyak ide bermunculan saat sedang dalam perjalanan, sehingga dia benar-benar membuka pikiran seluas-luasnya akan ide spontan yang masuk.

"Hidup ini udah ribet, ngga usah terlalu dibikin ribet lah menikmati perjalanannya," demikian kata teman saya tatkala ditanya bagaimana dia bisa setenang itu merencakan perjalanan. 

Ya, benar juga. Justru konsep seperti itu yang membuat dia terlihat tenang-tenang saja kalau ada masalah datang. Bukan berarti dia mengabaikan masalah, hanya saja dia menganggapnya sebagai "bagian" dari hidup, bukan kerikil penghalang atau bahkan batu besar. Bagi orang-orang seperti dia, rencana hidup memang penting, namun bukan berarti harus berjalan demikian adanya. Jika di tengah jalan muncul perubahan, ya dinikmati saja proses perubahan tersebut.

Itulah mengapa teman saya sangat menikmati bepergian tanpa rencana detil. Dalam ide spontan yang muncul sepanjang perjalanan, justru bisa ditemukan keseruan-keseruan lain yang mengarah pada kebahagiaan. Jika kita tidak membuka pikiran untuk ide-ide spontan yang hadir, mungkin malah akan berujung pada kecemasan atau stres saat menjalaninya.

Bagaimana dengan saya? Wah, saya bukan tipe demikian sayangnya, hehe. Saya terkadang masih merasa cemas dan panik saat rencana yang sudah disusun sejak awal menjadi berantakan, dan otak saya kurang tanggap memproses semua ide mengenai penyesuaiannya. Tapi jika bicara mengenai hal-hal sederhana semacam rencana menonton film secara mendadak, saya harus akui, itu memang menyenangkan kok. Seperti yang saya bilang sebelumnya, ada unsur "kejutan" dalam rencana spontan semacam itu, dan jika kejutannya menyenangkan, otak saya akan menganggapnya sebagai "hadiah kecil". 

Manusia bisa merencanakan apapun sepuasnya, namun pada akhirnya, kita tidak akan pernah tahu hasil akhirnya akan jadi seperti apa. Seperti hari ini, saya sama sekali tidak berencana untuk mempublikasikan artikel di blog (masih ada beberapa aktivitas lain yang ingin saya kerjakan), namun pada kenyataannya, malam ini juga saya malah merombak draft dan merilis sebuah artikel. Hasilnya? Pikiran saya menjadi lebih rileks, dan saya bisa tersenyum lega menutup akhir pekan ini dengan sebuah tulisan.

Bagaimana dengan kalian? Adakah rencana mendadak yang justru bisa mendatangkan kebahagiaan?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Untuk mendapatkan mood positif, saya mengobrak-abrik koleksi playlist dan menemukan satu lagu yang mengusung ambience fun, yaitu "Laid" yang dinyanyikan oleh Matt Nathanson. Sebenarnya ini adalah lagu milik band Inggris bernama James, namun didaur ulang oleh Matt Nathanson untuk dimasukkan ke album kompilasi soundtrack "American Pie: The Wedding". Lagu ini sendiri ditempatkan di awal film, langsung menggebrak dengan penuh semangat, untuk membuka keliaran khas Amerika yang ditunjukkan sepanjang durasi.


Notable lyric of this song:

I found you sleeping next to me, i thought i was alone
You're driving me crazy, when are you coming home?
image source: amazon.com
READ MORE - "Kejutan" Dari Sebuah Rencana Yang Dibuat Mendadak

Mengapa Menjadi Hitam Diantara Mayoritas Putih Kerap Diremehkan?

image source: freepptbackgrounds.net
"Black is not sad... black is poetic" -- Ann Demeulemeester

Di blog ini, beberapa waktu lalu saya sempat membahas mengenai keindahan hitam dan putih, bagaimana kedua warna itu merupakan warna yang indah saat digabung. Banyak yang mengincar warna lebih menarik daripada hitam dan putih, misalnya merah, kuning, hijau, biru dan masih banyak lagi. Sama seperti warna kehidupan, yang selalu dicari adalah yang berwarna-warni, agar penuh semangat positif, padahal warna hitam dan putih yang hadir pun bisa memberikan kenyamanan tersendiri. Kira-kira itulah sekelumit isi tulisan saya terdahulu.

Kini, saya ingin memfokuskan pada sisi warna hitam. Kita ibaratkan saja sisi putih adalah sisi positif, warna suci dan kebaikan, sementara sisi hitam adalah sisi negatif, warna muram dan jahat. Noda yang melumuri kebaikan. Intinya, hitam kerap dikonotasikan tidak baik. Musibah yang menimpa seseorang sering disebut "masa-masa tergelap dalam hidup". Saat kematian menyapa, seluruh orang yang hadir di pemakaman mendadak mengenakan busana hitam.

Gelap. Suram. Pesimis.

Bagaimana dengan warna putih? Tidak usah diragukan lagi, kemilau putih selalu memberikan nuansa positif dimanapun dia berada. Warna busana para muslim saat menunaikan ibadah haji atau umroh, warna kertas kosong standar, dan warna-warna lain untuk menggambarkan kesucian sesuatu, pastilah putih. Putih si baik, sementara hitam si jahat. Selalu demikian.

Apakah memang hitam seburuk itu? Atau sekedar simbol? Jika demikian, malang benar nasib si hitam, menanggung kesan negatif, hanya untuk memperlihatkan bahwa si putih selalu suci jika disandingkan bersebelahan dengannya. Masyarakat cenderung menilai apa yang dianggap sama oleh masyarakat lain, sehingga sisi hitam bisa dipastikan tidak sepopuler putih dalam hal-hal yang positif.

Di dalam artikel ini, saya mengibaratkan hitam dan putih adalah warna yang sejajar, bukan menandakan putih adalah suci sementara hitam adalah kotor. Tidak, saya tidak membicarakan kebaikan dan kejahatan. Saya menekankan masalah perbedaan. Jadi, sampai tulisan ini berakhir, yang dimaksud sisi hitam di sini adalah sisi berbeda dari kondisi yang ada. Saya meletakkan putih sebagai warna utama, sementara hitam sebagai warna pembeda diantara putih.

"None of us are just black and white, or never wrong and always right. No one."
-- Suzy Kassem

Hitam juga identik dengan noda, seolah menjadi sesuatu yang harus segera dibersihkan saat muncul, bahkan keberadaannya tidak diinginkan. Sama seperti noda kesalahan dalam hidup. Jika selama ini kita melakukan sesuatu sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, maka dianggap menjadi bagian dari "putih", sama seperti orang lain (padahal belum tentu putihnya alami, bisa saja dipalsukan). Nah, begitu ada kesalahan yang dilakukan, saat itulah noda hitam muncul, mencemari sisi putih yang telah kita refleksikan.

Semua orang bisa dan pernah melakukan kesalahan, sekecil apapun itu. Kesalahan tersebut kita anggap saja noda hitam. Nah, bagaimana masyarakat memperlakukan si noda hitam inilah yang membuat saya bingung. Ada sebagian yang bisa memahami dan memberikan toleransi, namun sebagian besar malah memandangnya hina. Bagi mereka yang memandang sinis, noda hitam tersebut bagai racun yang menempel, seolah harus segera dibersihkan.

Saya sendiri pernah melakukan kesalahan, kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Sebelum menulis artikel, saya berusaha merenung cukup lama mengenai reaksi orang-orang saat mengetahui saya berbuat salah selama ini. Jika diingat-ingat, ada yang bisa memahami dan memaafkan, ada yang mengkritik habis-habisan, ada yang diam saja, dan yang paling menyakitkan adalah mereka yang langsung mencoret saya dari daftar "orang yang bisa dipercaya", alias hilang sudah reputasi putih yang saya bangun selama ini. Hubungan komunikasi pun rusak.

Mungkin kalian juga pernah mengalami beberapa diantaranya. Betapa sebuah noda hitam dapat merusak kemilau putih yang selama ini terpancar. Benar kata pepatah, "Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga". Dulu saya tidak terlalu menganggapnya serius, kini saya merasakan sendiri makna pepatah tersebut. Hidup ini memang unik ya, sesaat kita merasa berada di atas angin, sesaat kemudian terjun bebas ke bawah.

Apakah dari sebuah kesalahan yang menodai kesucian putih itu ada hikmahnya? Tentu saja ada. Butuh kejelian dan kepekaan dari setiap individu untuk memahami makna di balik kejadian tersebut. Bagi yang tidak memahami maknanya, cenderung bergelimang dalam kesedihan mendalam dan frustasi berlebih, berujung melakukan hal-hal yang malah lebih merusak diri sendiri. Lagipula, dari kesalahan yang merusak hubungan dengan manusia tersebut bisa saja Allah SWT sedang mengingatkan kita untuk berbenah diri.

image source: deviantart.com
"We've all got both light and dark inside us. What matters is the part we choose to act on. That's who we really are
-- J. K. Rowling


Oke, dari pembahasan di atas kita tahu bahwa warna hitam dikonotasikan tidak suci. Noda dalam hidup pun bisa dianggap warna hitam. Kini mari bahas ke arah yang lebih luas lagi, mengenai hidup dalam masyarakat yang terbagi dalam kelompok putih (mayoritas) dan hitam (minoritas). Teori yang berlaku di sebagian besar masyarakat adalah "hiduplah seperti kelompok mayoritas putih, sebaiknya tidak perlu menjadi hitam untuk tampil berbeda". Menjadi kelompok putih berarti menjadi bagian masyarakat yang ideal, setidaknya demikianlah yang ada di benak setiap orang. Untuk apa menjadi sisi yang berseberangan (hitam) jika menjadi putih adalah jalan terbaik?

Coba perhatikan orang-orang yang kerap kita jumpai setiap hari, yang berinteraksi dengan kita, secara langsung maupun tidak langsung. Saya yakin semua tidak sempurna. Selalu ada kelemahan dalam diri setiap orang. Lagipula, definisi sempurna itu sendiri seperti apa? Apakah yang memiliki ciri fisik seperti seorang supermodel dan berkelakuan baik bisa dibilang panutan sempurna?

Pertanyaan utamanya adalah: sempurna yang dimaksud ini, sempurna versi siapa?

Apakah mereka-mereka yang terlahir dengan cacat fisik bukanlah orang yang sempurna, dan tidak berhak mendapat fasilitas seperti orang lain yang terlahir tidak seperti mereka? Jika memang mereka dianggap tidak sempurna, lalu mengapa Allah SWT memberi kehidupan padanya? Jika ditanyakan kepada orang-orang yang terlahir cacat, mereka juga tidak berharap terlahir demikian. Bagaimana jika diri kita berada dalam posisi mereka? Masihkah berbangga menjadi pribadi yang sempurna, sama seperti orang lain?

Apakah jika kita terlihat sama seperti orang kebanyakan, yang memiliki fisik sempurna, pekerjaan impian, rumah impian, keluarga impian dan sebagainya, maka kita bisa tersenyum lega? Apakah itu definisi sejati dari kesempurnaan hidup? Lalu, bagaimana nasibnya orang-orang yang tidak memiliki kriteria tersebut? Ada dua kemungkinan: mereka akan berusaha menjadi seperti sosok sempurna lainnya (berusaha menjadi kelompok putih), atau mereka akan mencari jalan untuk menjadi diri sendiri, tidak termakan arus utama (menjadi kelompok hitam).
Jika kemungkinan pertama yang diambil, alias "berusaha menjadi seperti sosok sempurna lainnya", maka dalam perjalanan mencapai hal tersebut, bisa saja mereka melakukan segala cara, bahkan melanggar norma-norma dalam masyarakat. Kalau sudah demikian, berarti mereka memasukkan noda hitam dalam kehidupan hanya untuk tampil menjadi sisi putih, dong? Mengerti maksud saya? Berarti kesempurnaan yang diusung hanyalah semu. Mereka hanya ingin menjadi bagian dari sisi putih, agar terlihat sama seperti putih lainnya. Mereka tidak ingin dianggap berbeda. Bagi mereka, berbeda berarti anomali, dan menjadi anomali di tengah kelompok putih adalah hal yang menyedihkan.

Saya justru salut dengan mereka-mereka yang memilih opsi "mencari jalan untuk menjadi diri sendiri, tidak termakan arus utama". Mereka memilih menjadi sisi hitam dari masyarakat yang tampak putih. Bisa saja mereka memiliki persyaratan menjadi kelompok putih, namun tidak dilakukan. Kenapa? Karena bagi mereka, tidak selamanya menjadi putih di antara putih adalah kesempurnaan hidup. Mereka telah menemukan makna dari perbedaan itu sendiri. 

Perbedaan itu indah, dan penuh makna. Coba saja lihat angsa hitam dan angsa putih. Jika angsa putih terlihat menawan dan anggun dengan bulu-bulu putihnya, lalu mengapa harus ada angsa berwarna hitam? Tengok lagi hewan lainnya. Jika seekor kuda terlihat gagah dengan surainya yang indah, lalu mengapa ada hewan seperti keledai yang tampak lemah? Kenapa tidak diciptakan saja lebih banyak kuda, dan menghilangkan keledai? masih banyak pertanyaan lainnya yang semestinya kita renungkan.

Mereka semua, makhluk-makhluk yang kita anggap terlihat buruk, tidak sempurna dan semacamnya, bisa dibilang menjadi sisi hitam. Tidak selamanya hewan-hewan tampil dengan bentuk sempurna. Bahkan kucing pun, yang menjadi peliharaan manusia, dibekali dengan warna bulu beragam, tidak melulu satu warna.

Lalu, mengapa manusia kerap meremehkan perbedaan fisik yang ada? Jika dari hal sederhana semacam itu saja kita belum mampu memberi toleransi, bagaimana bisa menyikapi perbedaan dalam pola pikir, bahasa, budaya, atau tujuan hidup? Kenapa misalnya, pilihan mengambil kuliah di kampus swasta diremehkan, harus mengambil kuliah di kampus negeri? Atau contoh lainnya, kenapa bekerja di perusahaan besar selalu diagung-agungkan, sembari meremehkan mereka yang bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko ritel?

Jadi, menjadi hitam diantara kerumunan putih bukanlah pilihan buruk. Banyak bukti di sekeliling kita, bukti ciptaan Allah SWT, bahwa berbeda tidak selamanya buruk. Allah SWT selalu memperhatikan setiap makhluk tanpa terkecuali. 

Saya tidak memaksa kalian untuk langsung berganti haluan menjadi sisi anti mainstream. Saya sendiri berusaha mengimbangi kedua hal tersebut, meski sulit. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa tidak selamanya menjadi sisi putih selalu benar. Jangan sampai kita begitu terobsesi menjadi seperti mereka-mereka yang tampak dominan di kelompok putih, padahal mencapai taraf hidup seperti mereka tidak sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Atau, bisa jadi taraf hidup mereka tidak sesuai dengan norma yang kita anut. Tidak selamanya yang kita lihat pada diri orang lain itu sesuai apa adanya.

Saya juga ingin mengingatkan bahwa sah-sah saja menjadi bagian kelompok putih, asalkan tidak meremehkan keberadaan kelompok hitam, kelompok yang berbeda dengan putih. Jika kita memiliki penghasilan tinggi, keluarga lengkap, properti banyak, dan pencapaian lain, apa gunanya meremehkan mereka yang tidak seperti itu? Saya tahu bahwa uang adalah hal penting, namun mengagung-agungkan pencapaian hidup berdasarkan standar uang bukanlah sesuatu yang bijak. Pada akhirnya, yang kita dapatkan hanya sebatas kepuasan ego, bukan kepuasan batin yang menenangkan. Apakah kita masih mengutamakan ego saat menyadari bahwa diri ini hanyalah butiran debu di tengah luasnya angkasa luar?

Lagipula, apakah mengejar urusan dunia adalah tuntutan hidup mutlak yang harus dipenuhi? Apakah dengan memiliki harta berlimpah dan pencapaian ini itu, hidup kita lantas menjadi sempurna? Sekali lagi, sempurna versi siapa? Versi manusia atau versi Allah SWT?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Saya mendengarkan berulang-ulang lagu Alabama Shakes yang berjudul "Joe" selama proses menulis. "Joe" adalah bonus track di album Sound & Color. Saya mendengarkan versi live mereka di Austin City Limits, yang terasa menyentuh sekali saat didengarkan. Suara sang vokalis, Brittany Howard, sungguh membuat lagu bernapaskan alternative rock & soul ballad ini sangat bernyawa. Emosi saya campur aduk setiap kali mendengarnya.

Notable lyric of this song:
What am i to do? I been all around this world
Looking for someone like you
image source: nerdist.com



READ MORE - Mengapa Menjadi Hitam Diantara Mayoritas Putih Kerap Diremehkan?
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.