Keterbukaan di Era Media Sosial

image source: qubole.com

"Data is a precious thing and will last longer than systems themselves"
-- Tim Berners-Lee

Hidup di masa sekarang, di era digital, mau tidak mau berkompromi dengan yang namanya internet. Kebutuhan akan hal tersebut seolah menjadi kebutuhan pokok yang cukup sulit diabaikan. Bergabung dengan dunia internet berarti menjadi bagian dari masyarakat digital, dengan segala kemudahan akses informasi dan sebagainya. Memilih untuk tidak bergabung, berarti... ya kalian akan tertinggal dengan banyak hal (kecuali kalian memang menginginkannya).

Jika dirunut, banyak sekali aspek kehidupan yang sudah terhubung dengan internet. Kita bergerak menuju masyarakat dimana data adalah unsur penting. Data pembelian, pilihan produk, minat, komunitas, tren, lokasi, dan sebagainya, itu semua terkumpul menjadi satu kesatuan data yang sungguh luar biasa besarnya. Manfaatnya pun besar bagi kepentingan dan kemudahan masyarakat beraktivitas.

Saya baru merenungi masalah data tersebut setelah membaca sebuah novel karangan Dave Eggers yang berjudul "The Circle". Novel ini pernah diangkat ke layar lebar, dibintangi Emma Watson dan Tom Hanks. Saya pernah menontonnya, dan tidak merasa tergugah dengan apa yang coba disampaikan si pembuat film. Entah, mungkin ini perasaan saya saja, tapi filmnya terkesan terburu-buru, tidak maksimal dalam menyampaikan pesan. Ulasan yang diterima film ini pun kurang memuaskan.

Beberapa bulan setelah menonton film itu, pikiran saya kembali terusik dengan tema yang tersaji di sana. Benak saya menanyakan sesuatu yang sulit dijawab, dan saya yakin itu ada hubungannya dengan apa yang dipaparkan di film. Ingin menonton filmnya lagi, terasa malas. Menyadari bahwa film itu disadur dari novel, saya segera mencarinya untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam. Saya ingin menyelami jalan pikiran sang penulis. Beruntunglah saya menemukannya.


image source: agent8.co.uk
Gambar di atas hanyalah sampel (yang saya miliki adalah e-book, sehingga sulit ditunjukkan bukti fisiknya). Saya ingin memperlihatkan logo The Circle yang terpampang di sana. Buku ini bercerita mengenai Mae Holland, seorang gadis yang bekerja di perusahaan teknologi bernama Circle, dengan harapan mendapat kehidupan lebih makmur. Seperti logo di atas, Circle banyak berhubungan dengan data yang saling terhubung satu sama lain, kesemuanya seolah membentuk satu lingkaran sempurna. Mereka memiliki media sosial bernama Zing, dan diceritakan juga bahwa Circle menguasai mayoritas mesin pencarian di internet. Kantor pusatnya disebut "kampus", dengan beragam fasilitas menarik.

Mae sangat senang bekerja di sana. Dia ditempatkan di bagian Customer Experience, menangani pelanggan yang menjadi mitra pengiklan, menjawab pertanyaan dan memberi umpan balik terkait kepuasan pelanggan. Setiap harinya Mae akan diberi skor tertentu berdasarkan tingkat kepuasan pelanggan, untuk menunjukkan kinerjanya. Karena bekerja dengan gigih, Mae sering mendapat skor nyaris sempurna.

Sayangnya, bekerja di Circle bukanlah semata bekerja sesuai job description. Berhubung Circle adalah perusahaan teknologi dan menguasai media sosial, maka "bersosialisasi" juga menjadi unsur penting, sehingga setiap karyawan diharapkan partisipasinya dalam acara sosial kantor, juga melalui media sosial yang dimiliki. Mae yang cenderung tertutup awalnya terkejut dengan "tuntutan" tersebut. Dia bahkan sempat ditegur oleh bagian SDM mengenai media sosialnya yang dibiarkan kosong selama masa-masa awal bekerja. Teguran berikutnya terkait partisipasi dia dalam acara kantor, yang bisa dibilang minim. Menurut bagian HRD, Mae adalah "enigma", dan "diselubungi misteri".

Menyadari bahwa setiap karyawan akan diberi "PartiRank" atau semacam ranking yang menunjukkan sejauh mana mereka telah berpartisipasi secara sosial, Mae tidak ingin mengecewakan perusahaan. Dengan gigih dia mengejar ketertinggalannya, dengan mengikuti acara yang diselenggarakan perusahaan, mengisi media sosial dengan berbagai postingan, mengunggah tautan, memberi komentar di postingan orang lain, mengikuti petisi online, bergerilya memberi icon semacam smile, frown dan semacamnya untuk postingan yang dia temui, demikian seterusnya hingga dirasa PartiRank-nya membaik.

Kemudian, sebuah insiden terkait kerahasiaan dan cara berkomunikasi yang menimpanya membuat Mae berpikir mengenai transparansi. Dia merasa bersalah akibat insiden tersebut, dan berkat dukungan Bailey, mentor sekaligus salah satu petinggi perusahaan, Mae menerapkan konsep yang membuat hidupnya berubah, yakni menjadikan identitas dirinya terbuka untuk dunia. Mae dibekali sebuah kamera kecil yang dia bawa kemana-mana dan disiarkan langsung melalui internet ke seluruh dunia, sehingga hidupnya terus dipantau melalui kamera tersebut.

Hmm... benarkah yang dilakukan Mae mengubah semuanya menjadi lebih baik?

"It's dangerous when people are willing to give up their privacy" -- Noam Chomsky

Membaca "The Circle" membuat saya merinding, betapa apa yang diramalkan dalam novel tersebut bisa saja terjadi di masa depan, mengingat saat ini dunia menuju kesatuan tunggal masyarakat internet. Dunia semakin bergerak nyaris tanpa filter sosial, tanpa malu mengumbar berita palsu, mencaci maki dengan akun anonim, menghakimi tanpa paham kejadian utuh, membagikan data pribadi tanpa sadar konsekuensinya, mengetahui kehidupan orang yang tidak benar-benar kita kenal secara pribadi, dan semacam itu.

Kompleks. Itu kata yang cocok menggambarkan kumpulan data yang ada di internet. Dengan mudah perilaku kita akan dianalisis oleh semacam mesin pintar, kemudian menghasilkan kajian menarik mengenai perilaku pembelian, minat, pola pikir, dan semacamnya. Di satu sisi, hal itu bermanfaat untuk memetakan kebutuhan bagi beberapa pihak tertentu, dan sebagai pengguna akhir, kita juga diuntungkan dengan segala kemudahan yang menyertainya. Namun, di sisi lain, itu semacam perangkap tanpa akhir. Dunia maya akan selalu lapar, rakus akan data.

Sekarang, pertanyaannya adalah: Apakah keterbukaan di era digital sebagai sesuatu yang positif atau negatif?

Mengenai pertanyaan tersebut, saya akan menampilkan beberapa dialog dalam novel "The Circle", antara Bailey (petinggi perusahaan) dan Mae, untuk dijadikan bahan renungan. Saya memotong beberapa bagian agar relevan dan singkat, tapi intinya tetap bermakna sama (halaman 344):

Mae     : Tetapi, saya masih berpikir bahwa ada hal-hal, meskipun hanya sedikit, yang ingin kita simpan sendiri. Maksud saya, semua orang melakukan hal-hal pribadi, atau di kamar tidur, yang membuat mereka malu.

Bailey  : Oke, terhadap hal-hal seperti itu akan ada dua hal yang akhirnya terjadi. Pertama, kita akan menyadari bahwa perilaku apa pun yang kita rahasiakan itu sebenarnya sangat tersebar luas dan tidak merugikan sehingga tidak perlu menjadi rahasia. Atau yang kedua, jika kita semua, sebagai masyarakat, memutuskan bahwa ini adalah perilaku yang lebih baik tidak kita lakukan, akan mencegah perilaku ini dilakukan.

Bailey  : Mae, pernahkah kau punya rahasia yang menggerogotimu dari dalam, dan begitu rahasia itu terbongkar, kau merasa lebih baik?
Mae     : Pernah.
Bailey  : Aku juga. Begitulah sifat rahasia. Rahasia itu seperti kanker jika disimpan di dalam, tetapi tidak berbahaya setelah dikeluarkan.
Mae     : Jadi, Anda mengatakan tidak boleh ada rahasia.
Bailey  : Aku sudah memikirkan hal ini selama bertahun-tahun, dan aku belum menemukan skenario ketika rahasia lebih bermanfaat ketimbang merugikan. Rahasia memungkinkan perilaku antisosial, amoral, dan destruktif.


"Once you've lost your privacy, you realize you've lost an extremely valuable thing"
-- Billy Graham

Novel "The Circle" memuat banyak sekali kalimat-kalimat yang layak untuk didiskusikan lebih mendalam. Kalimat itu mengkritisi masyarakat modern, dimana semua data diri dengan mudahnya mengalir masuk ke dalam sebuah sistem pengolahan data raksasa, tanpa benar-benar bisa dikelola secara mandiri. Saya tidak bisa membahasnya satu persatu di sini, hanya mengambil tema intinya saja, yang diketengahkan oleh Dave Eggers, sang penulis, yaitu:

1. Rahasia adalah kebohongan.
2. Berbagi berarti peduli.
3. Privasi adalah pencurian.

Dave Eggers menulis kritik mengenai rahasia di halaman 354: "Ketika ada sesuatu yang dirahasiakan, terjadi dua hal. Yang pertama adalah bahwa hal itu memungkinkan terjadinya kejahatan. Kita bertingkah lebih buruk ketika perbuatan kita tidak perlu dipertanggungjawabkan. Itu sudah jelas. Dan, yang kedua, rahasia menimbulkan spekulasi. Ketika tidak tahu apa yang disembunyikan, kita menebak-nebak, kita mengarang jawabannya."

Hmm. Rahasia memang terdengar mengerikan, karena unsur misteri yang meliputinya. Namun jika kita dituntut untuk mempublikasikan semua hal tanpa terkecuali (meniadakan rahasia) dan sebagai konsekuensinya, mengetahui semua yang terjadi terhadap seseorang setiap detiknya, menurut saya itu bukanlah gagasan yang baik. Dave dengan cermat mengkritisi perilaku masyarakat Circle yang sangat tergantung dengan media sosial dan segala macam pernak-pernik di dalamnya. Bagi dunia ideal versi Circle, masyarakat sudah semestinya memberikan semua hal yang mereka ketahui kepada masyarakat lain melalui internet, baik itu pengalaman pribadi, tempat-tempat menarik, hasil karya, dan semacamnya. Tidak ada lagi rahasia. 

Dengan berbagi hal tersebut, maka masyarakat telah menerapkan konsep kepedulian terhadap sesama. Bisa saja ada orang-orang yang tidak bisa mendaki gunung, merasakan pengalaman melihat gunung melalui video milik orang lain yang didokumentasikan, sehingga semua pihak senang. Itu yang dimaksud dengan "berbagi berarti peduli". Seperti yang tertulis dalam novel: "Menyembunyikan sesuatu yang indah, perjalanan yang menyenangkan di atas air, cahaya bulan yang bersinar, bintang jatuh... itu hanya karena egois. Itu egois dan tidak lebih."

Menurut dunia ideal versi Circle, menyembunyikan suatu hal yang kita lihat, ketahui, dengar, cium dan rasakan adalah keegoisan pribadi. Bagi mereka, sudah semestinya hal-hal tersebut didokumentasikan dan dibagikan kepada orang lain, karena semua orang berhak tahu apa yang kita tahu. Tidak boleh ada rahasia di antara orang lain. Rahasia itu sendiri justru menimbulkan perilaku yang merusak bagi tatanan masyarakat sosial.

Lebih lanjut, Dave Eggers memberi sindiran terhadap privasi. Dia membuat seorang tokoh dalam novel menyatakan bahwa ketika kita tidak memberikan pengalaman seperti yang kita alami kepada teman, atau kepada mereka yang memiliki keterbatasan fisik, pada dasarnya kita mencuri dari mereka. Kita mengingkari hak mereka. Pengetahuan adalah hak asasi yang mendasar. Akses setara terhadap semua kemungkinan pengalaman manusia adalah hak asasi manusia.


"Friends don't spy, true friendship is about privacy, too" -- Stephen King

Lika-liku konflik yang dituangkan dalam novel The Circle menyadarkan saya bahwa masyarakat yang hidup dalam era keterbukaan informasi tidak sepenuhnya sempurna. Apa yang semula dipandang sebagai demokrasi, nyatanya tidak semanis itu. Pihak yang memegang kendali penuh atas semua informasi masyarakat bisa menggunakannya untuk kepentingan mereka, menjatuhkan lawan politik dan hal-hal mengerikan yang justru melenceng dari konsep demokrasi. Transparansi data digunakan sebagai simbol kepedulian, padahal justru hal itu mendorong masyarakat semakin terjebak dalam sebuah lingkaran sempurna. Layaknya bentuk lingkaran yang tidak memiliki lubang keluar, demikian juga segala asupan informasi yang kita berikan. Terjebak dalam lingkaran. Yang membuatnya ironis adalah, kita tanpa sadar telah terjebak.

Tidak ada jalan keluar. Semua berhak tahu. Semua berhak menghakimi. Semua berhak diberitahukan kepada semua orang, tanpa terkecuali. Hidup yang semula damai tanpa banyak notifikasi, mendadak menjadi riuh karena semua orang melihat apa yang orang lain lihat, padahal belum tentu mereka mengenal orang tersebut secara personal. Bersosialisasi dengan media sosial yang awalnya didengung-dengungkan dengan gencar, justru cenderung menimbulkan sikap antisosial itu sendiri. 

Mengenai dampak ini, Dave Eggers menyinggungnya di halaman 311. Melalui seorang tokoh teman Mae, Dave menulis sebagai berikut: "...Kau mengikatkan diri secara sukarela. Dan, dengan sukarela kau menjadikan dirimu autis secara sosial. Kau tidak lagi mengerti isyarat komunikasi mendasar manusia. Kau berada di meja bersama tiga manusia, yang semuanya berusaha memandangmu dan berusaha bicara denganmu, dan kau malah memandangi layar. Yang menjadi paradoks adalah, kau mengira menjadi pusat dunia, dan itu membuat pendapatmu lebih berharga, tetapi dirimu sendiri menjadi kurang hidup."

Begitulah. Masyarakat dalam konsep Circle adalah masyarakat yang didorong untuk terus-menerus terbuka dalam hal informasi. Berikan kepada dunia, maka kamu akan dianggap peduli. Jangan pernah menyimpan rahasia, karena itu bisa mengarah pada kejahatan. Dengan sendirinya, individu yang tidak cocok dengan konsep Circle, akan terdesak keluar dari sistem, dan mereka adalah anomali sosial.

Wow. Konsep itu terdengar mengerikan bagi saya. Duh, bisa jadi saya adalah individu yang tidak cocok dengan konsep Circle. Kecuali untuk melihat beberapa akun berita, saya terhitung jarang sekali melihat linimasa media sosial dalam segala bentuknya, memposting sesuatu, dan semacamnya. Melihat linimasa media sosial kerap menimbulkan stres jika tidak disertai mental yang kuat. Saya masih mengandalkan keberadaan teman dekat untuk berbagi segalanya. Saya percaya mereka bisa menghakimi dengan tulus, bukan penghakiman sepihak yang marak terjadi di dunia maya akhir-akhir ini, padahal yang mereka hakimi belum dikenal secara pribadi.

Novel The Circle menekankan bahwa privasi adalah kejahatan. Itu adalah sindiran yang sangat telak. Untuk beberapa kasus khusus, menjaga privasi memang bisa menimbulkan tindakan merusak norma sosial. Misalnya, saat seorang koruptor gigih melindungi data percakapannya dengan pihak lain dalam kasus korupsi. Hal-hal seperti itu kerap menimbulkan konflik sosial. Dave Eggers pun seolah menggantungkan permasalahan ini, tidak memberi solusi. Bisa jadi Dave ingin membiarkan pembaca menginterpretasikan sendiri, apakah tindakan menjaga ketat privasi untuk mereka yang melakukan tindak kejahatan termasuk "kejahatan", atau bukan.

Oke. Coba kesampingkan hal tersebut. Saya tidak ingin mengomentari lebih lanjut, isunya terlalu sensitif. Mari bahas mengenai orang-orang yang kerap kita temui dalam jalur pertemanan media sosial. Orang-orang yang dengan bantuan teknologi, menjadi terhubung dengan kita, entah itu di Facebook, Twitter, Path, Instagram dan sebagainya. Entahlah dengan kalian, tapi bagi saya, melihat dengan akses penuh kehidupan orang lain, terutama yang tidak kita kenal secara pribadi, bukanlah hal yang menyenangkan. Saya tidak berhak mengawasi setiap gerak-gerik manusia.

Ada orang yang mengatur media sosialnya agar hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang dia kenal, atau hanya mengikuti akun yang memang benar-benar "temannya". Mereka tidak mau dijejali linimasa yang penuh dengan postingan orang-orang yang tidak mereka kenal secara pribadi. Media sosial sendiri pun menyediakan fitur untuk mengakomodir hal-hal semacam itu. Artinya, masih ada kepedulian dari pembuat aplikasi untuk menghargai privasi. Dalam dunia ideal Circle, hal-hal seperti itu tidak diperkenankan. Mereka tidak menerima tindakan mengunci, mengosongkan atau menghapus hal-hal yang telah diunggah. Jika data yang telah tersimpan di penyimpanan awan dihapus, artinya mencederai konsep transparansi yang diagung-agungkan. Tindakan demikian dianggap anomali. Lingkaran tidak akan terbentuk sempurna jika masih ada potensi kebocoran di dalamnya.


"It takes discipline not to let social media steal your time" -- Alexis Ohanian

Saya juga paham, media sosial berdampak positif terhadap masyarakat modern, mulai dari menemukan teman lama, berinteraksi dengan kenalan baru, mendapat jejaring luas untuk bisnis, atau sekedar mendalami hobi. Tidak masalah. Semua memiliki kebutuhan masing-masing. Data diri saya juga tidak sepenuhnya tertutup kok, sebagian telah terunggah ke internet. Seperti yang saya bilang di atas, internet seolah sudah menjadi kebutuhan yang sulit diabaikan. Menggunakannya dengan berhati-hati dan semata untuk tujuan positif tidak ada salahnya. Jangan sampai berlebihan, itu yang tidak baik. Berbijaklah dalam menggunakannya.

Mungkin hanya blog ini yang masih saya anggap media yang "sesuai" dengan minat dan kebutuhan. Tanpa sadar, saya telah menumpahkan beberapa keluh kesah dan opini tertentu dalam blog selama ini, dan bisa saja itu disalahartikan. Kekhawatiran tersebut malah menimbulkan perasaan cemas tak berdasar, sehingga saya memandang sinis blog sendiri. Ditambah faktor malas menulis, membuat saya melupakan blog. Semua orang bisa mengurus hidup masing-masing tanpa saya harus ikut campur tangan memberi opini publik. Itu yang saya pikir.

Kenyataan berkata lain. Saat vakum menulis, dunia seolah tidak bersahabat terhadap saya. Tidak ada unsur excitement. Datar. Nyaris tak berwarna. Saya beraktivitas dengan kejemuan maksimal. Hiburan sederhana semacam buku, musik dan film tidak terlalu diminati lagi. Saya tenggelam dalam arus dunia dengan segala tuntutannya. Gejolak pikiran yang dulu biasa saya tumpahkan lewat tulisan seringkali terpendam dalam benak tanpa berani dikeluarkan. Saya kurung mereka dalam sudut tergelap. 

Saat semua terasa muram, novel The Circle itu hadir sebagai kejutan dan memberi warna tersendiri dalam aktivitas sehari-hari. Kejutan kedua datang dari seorang rekan bloger, Yoga Akbar Sholihin, yang mengirim email menanyakan perihal absennya saya dalam dunia blog. Yoga merupakan salah satu pembaca setia yang kerap meletakkan komentar di banyak artikel saya. Sejak itu saya terhenyak, menyadari bahwa identitas bloger tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Bloger memang bukan profesi saya, namun menulis sudah pasti menjadi salah satu hal yang bisa membuat hidup saya terasa lebih hidup. Beberapa kali saya vakum, dan efeknya selalu sama: hidup nyaris tak berwarna lagi.

Setelah itu, beberapa teman memberi semangat untuk kembali menulis di blog. Butuh dorongan mental luar biasa bagi saya untuk kembali membuka blogger.com dan masuk ke akun pribadi. Tulisan ini sendiri mengalami bongkar pasang tak terhitung banyaknya. Saya hampir lupa bagaimana pola menulis yang biasa. Sempat timbul keraguan, apakah ini langkah yang benar. Saya pendam tulisan ini dalam draft selama beberapa waktu dan kembali dibongkar pasang lagi tanpa henti. Sepertinya ini adalah proses edit artikel blog paling melelahkan yang pernah saya alami.

Kemudian saya tersadar, betapa panjangnya tulisan ini! Proses edit kembali bergulir, hingga di satu titik, saya menyerah. Lagipula, ini bukan jenis artikel yang mensyaratkan jumlah kata dan semacamnya. Saya hanya ingin menulis.

Saya juga tidak peduli jika artikel ini hanya dibaca oleh satu orang, atau bahkan tidak ada sama sekali, alias saya sendiri yang membaca. Tak apalah. Kenapa? Karena saya memperoleh hadiah yang teramat luar biasa dalam beberapa bulan terakhir ini, yakni perasaan lega. Ya, saya lega bisa menumpahkan lagi pemikiran dalam benak. Saya lega dan tersenyum lebar melihat beberapa komentar yang masuk ke artikel-artikel sebelumnya, meski sampai saat ini ada yang belum sempat saya balas dan mengunjungi balik (terima kasih kepada para bloger yang telah berkomentar di postingan saya ya).

Bicara mengenai postingan, saya jadi membayangkan jika hidup dalam masyarakat versi ideal Circle, sebuah masyarakat yang dituntut melaporkan (mem-posting) apapun ke media sosial: kemana kita pergi, apa yang kita pikirkan, apa yang kita makan, apa yang dikenakan, jenis hiburan apa yang baru saja dialami, dan sebagainya. Beruntunglah pemerintah tidak menuntut saya rajin mengunggah apapun ke media sosial semacam Facebook, Twitter, Instagram, Path dan sejenisnya, atau menuntut saya untuk melihat linimasa seluruh media sosial tersebut, demi mengemban "misi berpartisipasi". Jika itu terjadi, maka saya dipastikan langsung tereliminasi dari sistem sosial. Serius. Saya akan menyerah, tidak sanggup memenuhi hal tersebut.

Hmm... jika dipikir-pikir, meski saya tidak aktif membagikan apapun ke media sosial, tetap saja teknologi mampu "membaca" dan "melacak" saya, berdasarkan data-data yang telah saya unggah ke internet. Semua data itu dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Jadi, meski saya berpegang pada prinsip "privasi adalah prioritas", bisa jadi saat ini internet sedang menertawakan saya, sembari berkata, "Lo itu ngga sepenuhnya suci, bro! Internet bisa tahu tentang lo dalam sekejap mata."

Well, semoga masyarakat ideal yang diharapkan dalam novel The Circle hanya terjadi di dalam novel, tidak di masa depan. Selama saya masih bergelut dengan internet di kehidupan sehari-hari, sebisa mungkin saya berusaha bijak saat mengunggah apapun ke dalamnya. Kita tidak akan tahu apakah unggahan kita saat ini bisa berbalik menyerang kita di masa mendatang, bukan?


-Bayu-


Catatan selama proses menulis:

Film "Garden State" membuat saya mengenal sebuah band asal Amerika Serikat bernama The Shins. Di film itu, sang tokoh utama yang diperankan Natalie Portman mengatakan bahwa "musik ini akan merubah hidupmu..." dan memang itulah aura yang diusung The Shins melalui lagu "New Slang". Lagu bernapaskan folk ballad yang lembut ini menemani saya sepanjang proses menulis, memacu mood untuk terus bergerak positif.


image source: amazon.com

8 komentar

  1. Dari kemarin bingung mau komentar apa. Haha. Biar bagaimanapun, makasih sudah menyebut nama gue, Bay. :)

    Media sosial ya, duh gue termasuk orang yang terbuka juga kayak film atau novel The Circle. Bagusnya, apa yang gue bagiin ke medsos itu masih ada filternya. Hal lain yang orang lain nggak perlu tahu, atau yang negatif-negatif sebisa mungkin disimpan sendiri. Kalau bisa jangan sampai jadi racun di medsos. Cukup orang terdekat aja yang tahu sisi buruk gue. Lagian, kalau sama mereka bisa dinasihati, bukan dicaci.

    Sekarang medsos yang aktif cuma Twitter dan Instagram. Twitter meski cuma 140 karakter, tapi twit-nya itu pernah gue kembangin jadi tulisan blog. Ada twit-twit diri gue sendiri yang sebelumnya nggak gue sangka berpotensi jadi ide. Twit orang lain, yang seandainya sebuah opini pun bisa gue bantah lewat tulisan di blog. Terlepas dari twit war dan orang yang penebar kebencian di Twitter, asal orang yang kita follow menarik kayaknya mah asyik aja buat terus gunainnya. Instagram lumayan buat hobi lainnya: memotret acak pakai ponsel. Bisa jadi latihan menulis juga di caption-nya.

    Kalau Path sudah gue tinggalin sejak 2016. Entahlah, apa gunanya lagi aplikasi itu. Fitur yang ngasih tau tidur dan bangun jam berapa itu asli penting banget sumpah. Wahahaha. Terus ngasih tau lokasi lagi di mana. Semua itu bisa dipalsuin.

    Paling sering gue pakai fitur yang ngasih tau diri kita lagi nonton film, dengerin musik, atau baca buku. Menurut gue, itu bisa untuk berbagi referensi ke teman yang lain. Cuma lama-lama males juga gunainnya. Mau berbagi referensi kayak gitu kalau dipikir-pikir bisa dijadiin ulasan di blog. Ya udah, memang cuma blog media yang cocok dan sreg buat gue.

    Walaupun ada energi negatif di tulisan, tapi kalau ada celah kayaknya bisa gue jadiin lelucon. Terus tulisan curhat nggak penting sekalipun, itu suatu hari bisa juga jadi refleksi diri. Sejauh ini ngeblog memang membuat hidup lebih berwarna. :)

    O iya, selamat kembali ngeblog, Bay~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Sama-sama Yog, makasih juga atas reminder-nya :)

      Menurut gue, "terbuka di medsos" versi lo itu masih mengikuti norma kok, toh lo mem-filternya. It's fine. Semua orang butuh media sosial dengan kebutuhan masing-masing.

      Kalo di lingkungan Circle, filter semacem itu malah ga diperkenankan, dan lo akan dituntut untuk mempublikasikan semuanya, nyaris tanpa filter. Hidup kita bisa dipantau 24 jam oleh siapapun. Entahlah apa ada yang masih akan bertahan dengan kondisi begitu.

      Nah, kalo bisa dapet ide dari medsos, berarti kan penggunaannya positif. Gue pun masih buka Twitter, sekedar lihat berita terbaru. Ide kan bisa dateng dari mana aja. Instagram buat nyalurin hobi juga oke tuh :)

      Kalo Path, kelihatannya masih akan dipake selama masyarakat masih butuh hal-hal semacem itu hehe. Pembuat aplikasinya cuma menyediakan media, sekarang tinggal gimana kita bijak makenya. Gue juga dah lama ga buka Path :p

      Setuju Yog, saat ini blog jadi media yang tepat bagi gue. Bisa dibilang, ini kan medsos juga, cuma ya... lebih elegan aja kalo nulis di blog hehe. Semua tulisan itu punya gaya masing-masing, dan bener kata lo, suatu hari bisa jadi refleksi diri.

      Makasih, Yog! :D

      Hapus
  2. Waah, itu novel tahun berapa ya?
    aku kayaknya sering lihat itu di toko buku online, malah kayaknya sempet kepikiran pengen beli juga.
    setelah baca riview singkat dari mas Bayu tentang novel itu, sepertinya aku akan mengurungkan niat buat beli novel itu. abis, kayaknya bacaannya berat banget gitu ya.

    Apa yang diceritakan di novel The Circle sepertinya terjadi di masa sekarang ini. Walaupun kelihatannya berbeda, di novel ada yang memerintahkan kita untuk memposting apapun karena ada yang menyuruh, sedangkan di dunia nyata, tanpa sadar diri kitalah yang mengharuskan kita memposting semua ke media sosial. tapi sebenarnya keduanya sama, kita sama-sama diperintah.

    aku pribadi sekarang memang sedang dalam proses mengurangi kecanduan dalam bermedia sosial. bener katamu, kalau kita terlalu mengikuti, kayaknya emang nggak bakal kuat.
    aku lebih sering mengamati, biar nggak ketinggalan-ketinggalan amat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Edisi aslinya (Amerika) tahun 2013, terbit di Indonesia tahun 2016.

      Iya Put, wara-wiri bukunya di toko buku online, gue juga belinya di sana. Wah, jangan diurungkan niatnya buat beli. Isinya bagus kok, dan masih bisa dicerna. Tema yang diusung mungkin "dalem", tapi bahasanya ga yang berat kayak bahasa sastra. Tenang, pelan-pelan kalo dibaca, akan hanyut sama alurnya :D

      Bener, kalo di masa sekarang, dengan gegap gempita medsos, tanpa sadar kita "diperintah" untuk posting. Medsos nyediain kebutuhan kita sebagai manusia sosial, jadi ya... kita merasa terpuaskan.

      Gue pun juga mengurangi karena ngga bisa nyiapin mental pas lihat timeline dengan beragam isinya, dari beragam medsos. Sekarang, jadi jauh lebih nyaman karena fokus ke beberapa aja, itu juga intensitasnya sedikit.

      Iya Put, sebatas mengamati aja sih hehe.

      Hapus
  3. SELAMAT DATANG KEMBALI, BAAAAAAY! Kangen nih baca tulisan berbobot dan jujurnya kamu. Akhirnya kangennya tertuntaskan~

    The Circle. Film ini dulu sempat aku pengen nonton tapi pas baca review-reviewnya, aku jadi nggak tertarik. Lagian gimana ya. Aku kurang sreg sama Emma Watson. Huhuhu. Entah apa alasannya. Mungkin karena terlalu suka sama Emma Stone.

    Memahami dan mengulas The Circle dari novelnya menurutku adalah pilihan tepat. Kamu bisa nulia sedetail dan secermat ini, Bay. Aku jadi ngerasa ngeri sama The Circle. Sama kayak kamu, aku juga nggak bisa hidup dengan aturan The Circle itu. Aku pasti tereliminasi dari kehidupan sosialnya. Huhuhu. Gimana ya, makin ke sini aku malas buat terbuka di medsos. Aku punya tumblr yang digunain untuk menampung curhatanku, itupun seringnya tulisannya aku private. Medsos yang masih aktif sekarang kayaknya cuma Twitter. Blog juga. Dua 'benda' itu aku gunain buat hiburan dan hobi sih. Melepas penat karena kerja seharian. Bukan kebutuhan juga.

    Poin berbagi berarti peduli ternyata begitu ya, Bay. Aku mikirnya berbagi berarti pamer. Orang yang terlalu sering pamer kebahagiaan bisa dibilang begitu. Lagipula, kebahagiaan yang dipamerkan itu bisa aja nggak sebahagia yang terlihat. Dia membagikannya karena berharap pujian dari orang lain yang bisa buat dia bahagia. Itu yang pernah dibilang sama teman blogger. Aku setuju. Mungkin kamu juga setuju.

    Bay, aku suka sama cara pandangmu. Mau tulisan ini sepanjang apapun, mau dibongkar pasang kek, aku tetap suka. Aku tetap nyaman bacanya. Kamu nggak ngeblog itu lagi bikin hidup orang-orang yang suka akan tulisan kamu jadi nggak berwarna lagi. Terima kasih sudah menulis (selalu) bagus, Bay!

    TERUS YA AMPUN MUSIK FOLK BALLAD. GIMANA JADINYA ITU LAGU HUHUHU. Keren banget pasti. Bikin nyaman dengernya kayaknya. *brb dengerin*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Makasih Cha :D

      Dulu juga pas nonton pertama kali di bioskop, awalnya skeptis. Karena iseng, ya nonton aja, tanpa baca review. Eng ing eng... ternyata hasilnya kurang memuaskan. Di beberapa adegan, gue sukses tidur selama beberapa menit saking capek ngikutin ceritanya haha.

      Emma Watson vs Emma Stone... well, mereka punya ciri masing-masing, tapi... oke, Emma Stone is the winner. I agree. Piala Oscar udah membuktikannya.

      Iya Cha, untung penggarapan di novel beda sama film, itulah kenapa gue penasaran sama sumber aslinya. Ngeri beneran abis baca, ngeri karena ngebayangin kalo di masa depan kita dituntut begitu. Berarti kita samaan bakal tereliminasi ya? :p Gue sih udah pasti bakal nyerah.

      Buat nyalurin hobi sah-sah aja kok. Kita sebagai manusia kan butuh penyaluran semacem itu. Blog kayaknya paling pas lah ya. Bisa nuangin apa yang ada di pikiran.

      Setuju Cha sama apa yang lo paparin tentang pamer itu. Kalo di lingkungan Circle, ga ada kata pamer. Bagi mereka, itu keharusan, bentuk kepedulian kepada sesama. Justru kalo ga share, malah dianggap anomali (??). Kalo ke dunia nyata kita, ya emang apa yang ditampilin belum tentu sama dengan aslinya.

      Wah, thank you so much. Baca comment ini jadi terharu, beneran. Semoga ke depannya gue masih bisa terus nulis :)

      Hehe. Musik folk ballad keren, Cha! "New Slang" ini lagunya bagus, seisi album The Shins juga bagus. Yeah, selamat mendengarkan, bikin nyaman kok :D

      Hapus
  4. Woooowwww akhirnya comeback!!!! Dan tulisanmu panjaaaaaaaannngggg niaaaaaannn!
    Kan kan... Kalau ada niat nulis mah, akhirnya juga bisa nulis lagi kekekekeke.

    Aku baru lihat cover circle... Antara aku pernah lihat di toko buku sama enggak pernah lihat. Hmmm.
    Berat banget ga sih bukunya? Pengen baca tapi ga mau baca yang terlalu serius hahahaha.

    Untungnya aku menjalani sekarang di medsos masih banget pakai filter. Biar ga terlalu terlihat tukang galau dan alay muahahahahahahahah.
    *Udahtobat.gamaulagi*

    Suksez nulisnya ya bay.
    Jangan tiba tiba ninggalin blog lagi. Kasian blognya butuh asupan nutrisi tulisanmu :)

    Eh... Mau numpang promo ah, aku buat blog baru ekekekeke.
    Hanthinkbooks.blogspot.com.

    Mampir ya bay!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Han, akhirnya bisa comeback lagi, lega. Makasih juga ya udah ngingetin tentang blog waktu itu. Lo punya andil juga atas comeback-nya gue kemari :D

      Ngga kok, bukunya ngga berat banget, justru mengalir lancar kalo emang dari awal udah masuk ke alurnya. Sama aja kayak novel-novel laen yang ngetengahin dialog, alur maju, konflik dan sebagainya. As simple as that. Semua filosofi Dave Eggers yang gue tuangin di atas secara ga sadar akan kita temui kok. Saat bacanya sih malah ngerasanya ya baca cerita aja, penasaran ampe akhir, hehe.

      Haha. Filter medsos berarti masih penting kan, ya? Karena memang manusia modern butuh itu, bukan versi sempurna Circle. Kalo filter semacam itu ditiadakan, gue yakin ga semua bisa bertahan.

      Sip. Insya Allah lancar nulis. Ya, blog ini butuh asupan nutrisi, bukan sarang laba-laba :p

      Oke siap. Gue dah meluncur ke blog baru lo Han, udah comment juga. Nice review. Good job :D

      Hanthinkbooks --> gue suka pemilihan nama ini.

      Hapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.