Teringat atau Sengaja Memikirkan?

image source: chronicle.com

"If you spend too much time thinking about a thing, you'll never get it done

-- Bruce Lee

Otak. Semua orang menggunakan organ tersebut untuk berpikir, namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah semua orang menggunakannya dengan cara yang sama? Jika demikian, tentu semua bisa menjadi ilmuwan, bisa menemukan teknologi terbaru, bisa membuat karya seni berkualitas, bisa menghasilkan apapun yang ingin dihasilkan. Benar, bukan? Saya tidak bisa membayangkan keadaan dunia jika semua berpikir secara sama. 

Well... kalian tidak perlu memikirkan sejauh itu. Tenang saja. Lagipula, itu hanya sekelumit pemikiran menakutkan yang saya bangun. Entahlah, terkadang otak saya ini gemar melakukan aktivitas yang sulit diabaikan: terlalu sering memikirkan sesuatu. Apakah yang dipikirkan? Apa saja. Melihat kerumunan orang, membaca tulisan yang menggugah jiwa, mendengarkan musik yang mengalun indah, mendengarkan percakapan atau cerita seseorang, menonton film yang membuat terpana. Hal-hal semacam itu selalu mengaktifkan radar dalam otak untuk segera melakukan satu hal: MARI PIKIRKAN HAL INI SECARA SEKSAMA!

Saya sengaja menulis kalimat tersebut dalam huruf kapital untuk menggambarkan betapa besarnya pengaruh hal itu dalam kehidupan sehari-hari. Juga, betapa melelahkannya! Mungkin untuk beberapa kesempatan, hal itu membantu saya menjadi pribadi yang produktif. Misal, menemukan solusi atas permasalahan di lingkup pekerjaan yang sudah sangat memusingkan (dalam pekerjaan saya sekarang, selisih satu angka yang timbul bisa menimbulkan perang urat syaraf antar berbagai pihak), meluncurkan tutur kata yang baik kepada orang lain, atau untuk menulis artikel di blog ini. Saya akui, saya senang melakukannya.

Masalah timbul jika kegiatan "memikirkan terlalu dalam" tersebut merambah sisi kehidupan saya yang lain: hubungan sosial, hubungan asmara, prinsip hidup, hingga selera dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Saya tidak tahan untuk tidak mencoba memikirkan kenapa si A berkata kasar, kenapa si B mencela saya, kenapa film itu sungguh buruk, kenapa musik ini terlalu sulit dicerna, kenapa saya dianggap menyedihkan jika memilih menonton di bioskop sendirian, hingga kenapa saya HARUS mengenakan seragam kantor selama tiga kali dalam satu minggu?

Fiuh.

"Stop thinking, and end your problems" -- Lao Tzu

Semua pertanyaan yang terngiang mengenai segala sesuatu di dalam otak saya lebih banyak mendekam begitu saja daripada ditemukan jawabannya. Hm, kenyataan menyedihkan. Jikapun jawabannya muncul, terkadang masih tidak sesuai, sehingga proses berpikir mendalam terpaksa dilakukan lagi. 

Kini, dengan bangga saya mengatakan kalau keberadaan blog ini sebenarnya sungguh membantu saya dalam menguraikan apa yang kusut dalam pikiran. Semua "sampah" pemikiran yang mengendap dengan teratur coba dipilah dan disusun ulang, sehingga terbitlah beberapa artikel. Terkadang, saat tengah malam, saya mencoba membaca lagi beberapa tulisan di blog ini, dan hasilnya membuat saya tersenyum lega. Haha. Apa jadinya jika semua artikel saya di blog ini masih terpendam dalam pikiran? 

Ya, setidaknya masih ada media yang sanggup menampung hal tersebut, daripada dipendam dan menjadi bangkai yang tak beraturan, khawatir menambah stres. Itulah sebabnya saya selalu merasa bahagia sekali sehabis menulis. Sayang, diri ini kerap terjebak dalam faktor malas, sehingga melupakan betapa bahagianya perasaan setelah menulis. Apapun itu, menulis tetaplah merupakan sebuah kegiatan spesial bagi saya, juga sebuah kegiatan "bersih-bersih pikiran" yang cukup ampuh menenangkan emosi.

Entahlah dengan kalian, tapi jika saya berada dalam kondisi emosi tinggi, ternyata menulis merupakan salah satu terapi efektif untuk menenangkan diri (selain mendengarkan musik, menonton film, dan hal-hal semacam itu). Mungkin terasa menyebalkan pada awalnya, namun fokus dalam meluncurkan kata demi kata menjadi sebuah tulisan sanggup mengalihkan pikiran sejenak, dan hasilnya... sebuah artikel! Menguntungkan, bukan? Di saat orang lain mungkin memaki-maki tanpa henti, atau membuang benda-benda ke segala arah, terapi menenangkan emosi bagi saya adalah dengan menulis.

Terapi berikutnya yang terasa ampuh adalah dengan bercerita ke orang lain. Ternyata, cukup menceritakan kepada seseorang, efeknya luar biasa ya. Apa yang mengendap di pikiran, terlampiaskan begitu saja dan ditangkap telinga orang lain. Lega. Sayang sekali, lain halnya dengan menulis, terapi "bercerita ke orang lain" ini sulit saya lakukan, mengingat saya cukup selektif memilih teman untuk bercerita. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, namun saya tidak peduli masalah kuantitas. Saya menjunjung kualitas, sehingga berbicara dengan orang-orang tersebut terbukti ampuh menenangkan emosi.

"...There is no point in sitting around thinking about all the ifs, ands and buts
-- Amy Winehouse

Deretan kalimat yang sudah saya tuangkan di atas bisa dikategorikan sebagai kegiatan "sengaja memikirkan", karena memang saya mencurahkan segenap waktu dan usaha untuk berpikir. Oya, terkait hal ini, ada satu hal yang menarik. 
Beberapa saat yang lalu saya melakukan blogwalking ke salah satu artikel di blog Icha Hairunnisa yang ini, dan saya tersenyum sendiri membaca paragraf-paragraf terakhir yang dia tulis. Icha adalah salah satu dari beberapa blogger yang saya kagumi cara penulisannya yang lancar, dan di penutup artikel tersebut dia menceritakan mengenai menulis di malam hari, dimana menurutnya (saya kutip):

"Termasuk lebih terbuka pada diri sendiri. Berdiskusi pada diri sendiri, bertanya pada diri sendiri."

That's it. Itu juga yang saya alami hampir setiap malam. Saya terdiam khusus untuk "sengaja memikirkan" aktivitas di hari itu, kenapa bisa A dan bisa B, demikian seterusnya hingga tertidur. Saya berdiskusi dengan diri sendiri, memikirkan rencana keesokan hari, padahal bisa saja yang terjadi tidaklah sesuai rencana. Well, manusia hanya bisa merencanakan, bukan?

Lalu, bagaimana jika kalimatnya diganti menjadi "tidak sengaja memikirkan"? Nah ini juga kasus khusus. Bahasa lainnya adalah "kepikiran". Saya tidak tahu istilah resminya apa, tapi saya akan menggunakan kata "teringat" saja. Berbeda dengan "sengaja memikirkan", kasus "teringat" terjadi jika kita sedang melakukan suatu hal tertentu, kemudian mendadak datanglah ingatan itu. BUM! Apa saja bisa masuk. Biasanya hal-hal yang mengusik kita, mulai dari masalah pekerjaan, asmara, keluarga, dan sebagainya. Bisa pula sesuatu yang menyenangkan, seperti wajah kekasih, atau ingatan akan kegiatan positif yang akan dilakukan ke depannya. Secara ringkasnya, seperti dirangkum oleh Icha (masih dikutip dari artikel yang saya tautkan di atas), kita menjadi bertanya-tanya: "Kenapa aku kepikiran hal yang itu-itu terus sih?"

Kalian pasti pernah mengalaminya, kan? Atau justru sering? "Teringat" menyebabkan diri kita gundah atau senang, tergantung konteksnya. Hal seperti itu muncul tak terduga, dan seringkali menjadi faktor naik turunnya mood. Saat kita memiliki masalah dengan sesuatu, kita akan terus "teringat" sehingga menyebabkan segala hal tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Atau, jika kita terus-menerus "teringat" akan seseorang yang spesial, wah bisa dipastikan segala sesuatunya juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Haha. Jadi, baik positif atau negatif, tetap saja "teringat" akan membuat sebuah anomali dalam beraktivitas, bukan? Tapi itu juga tergantung besar kecilnya "teringat" tersebut.

Nah, bagaimana jika "teringat" kemudian berlanjut "sengaja memikirkan"? Bingo! Mengalami "teringat" saja sudah menimbulkan sensasi tersendiri, ditambah lagi "sengaja memikirkan"! Combo. Untuk kasus positif, mungkin tidak terasa melelahkan. Misal, kalian teringat seseorang yang spesial, kemudian memutuskan untuk memikirkannya sepanjang hari untuk memotivasi diri. It's fine, semua orang mengalaminya. Jika yang "teringat" adalah sebuah masalah, paket combo itu sungguh menguras energi. Serius. Sangat melelahkan. Percayalah, sebaiknya hindari paket tersebut, karena saya kerap melakukannya saat "teringat" sebuah masalah pelik, dan sungguh sulit keluar dari jeratan itu. Sudah "teringat" akan suatu masalah, dipikirkan secara mendalam pula. Duh.

Jika kalian memiliki masalah yang mengusik pikiran, kemudian bisa memaksa diri untuk melupakan semua kasus "teringat" yang timbul dari hal tersebut, mencoba mengenyahkannya mentah-mentah, dan melanjutkan aktivitas normal, maka saya ucapkan selamat. Itu hal yang sulit dilakukan bagi saya. Mungkin ini pula yang menyebabkan saya terkadang iri pada mereka yang terlihat easy going, karena saya tidak bisa seperti itu.

Sekali lagi, saya merasa beruntung bisa mengenal dunia blog. Media ini sungguh efektif menampung semua pemikiran yang melompat-lompat di kepala setiap saat. Saya setuju dengan kalimat yang muncul di halaman awal saat kita mengetik www.blogger.com, yaitu: "Publish Your Passion, Your Way". Ah, Google memang benar. I love writing, and this blog is a good start to publish my passion, with my own way :D

Happy blogging.

-Bayu-



Note: Musik yang saya dengarkan kali ini untuk menemani proses menulis adalah lagu "All You Had To Do Was Stay" milik Taylor Swift, diambil dari album 1989. Taylor Swift adalah musisi yang sudah kenyang mendapat kritik terkait banyaknya lirik lagu yang seolah membeberkan kisah asmara dia tanpa malu ke publik. I don't care about it. Saya menyukai musiknya, dan perolehan dua piala Grammy Awards untuk kategori bergengsi Album of The Year (tahun 2010 dan 2016) seharusnya sudah cukup membungkam mereka-mereka yang meragukan musikalitas si gadis pirang cantik ini. 

Saya menyukai setiap kata yang ditorehkan Taylor Swift dalam lagu ini, khususnya bagian: "People like you always want back the love they pushed aside, but people like me are gone forever when you say goodbye". 

Oh yeah, Taylor knows it so well.
image source: en.wikipedia.org

20 komentar

  1. Aseeg kayaknya jadi berhierarki gitu ya bay, mulai dari think too much alias berpikir terlalu dalam, kepikiran sampai sengaja memikirkan..
    Well semuanya gue jelas sering mengalami
    Nah semuanya itu kalo dalam porsi yang over kadang emang ga sehat, alih alih nemu jawaban atas apa yang menjadi "objek pemikiran", e seringnya kita malah terjerumus ama pola pola kecil yang menjadi pemicunya sampe jadi benang kusut yang ruwet entah itu untuk bab apa dalam kehidupan ini.
    Yang ada misal ga dimananaje dengan baik, kitanya yang stress kenapa ngasi ruang untuk pikiran pikiran yang ga pernah ada habisnya itu

    Tapi ya emang sih udah kodratnya manusia untuk berpikir
    La wong lagi sante aja kadang kepikiran selintas hal hal absurd yang lewat...
    Kayaknya susah klo kita punya waktu satu hari aja untuk ga ngapa ngapain otaknya, tetep aja jatoh-jatohnya mikir juga ya hihihi #Bcoz of namanya mahluk berakal dan bernalar, cuma gimana caranya pas ngelakuin kegiatan dari kata kerja ini kita bisa smart, menempatkan segala sesuatunya secara tepat sehingga misalkan ga ketemu jawabannya, ya kita tetap bisa have fun

    Bener banget blog itu media "bersih-bersih" yang cukup mujarab setelah ngadu sama yang Kuasa setelah kita dibebani pikiran akan suatu hal.
    Gue kalo pas lagi spaneng ato istilahnya ruwet mikirin sesuatu someday curhat di blog dengan bahsa yang bias, kayak yang lo biasa tuliskan dalam artikel di blog ini Bay, cukup ngebantu membikin plong yang tadinya nyeseg sih hahahaha...


    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Nita. What a nice comment :D
      Maaf nih baru bisa bales sekarang.

      Iya Nit, dibuat semacem hierarki haha. Wah, kalo yang namanya benang kusut pikiran, gue sering ngalamin. Kadang belitan kecil aja bisa jadi belitan gede, lama-lama ruwet sendiri, langsung stres :p dan kayak yang lo bilang: "kitanya yang stres kenapa ngasi ruang untuk pikiran pikiran yang ga pernah ada habisnya itu"

      Ah iya, setuju Nit. Makasih tambahannya. Manusia diberikan akal sama Allah SWT untuk berpikir, dan konsekuensinya ya tentu itu tadi... berbagai macam pikiran bisa aja mampir. Bener, kayaknya susah kalo sehari aja untuk ga ngapa-ngapain otaknya, karena ya emang pasti mikir, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

      Gue suka nih kalimat lo: "gimana caranya pas ngelakuin kegiatan kita bisa smart, menempatkan segala sesuatunya secara tepat."

      Allah SWT tetep jadi tumpuan awal, selebihnya kita bisa mengadu lewat beragam cara, mulai dari curhat ke temen, nulis di buku harian, atau nulis di blog, macem-macem lah.

      Berasa plongnya itu enak banget ya Nit kalo dah nulis :D

      Hapus
  2. "If you spend too much time thinking about a thing, you'll never fall a sleep"

    wqwqwq

    senyum sendiri pas baca quote yang pertama. aku inget semalem nggak bias tidur gara-gara mikirin banyak hal.

    kalau paket combonya kaefsi sih enak, bikin kenyang. lah kalau paket kombonya, tiba-tiba inget terus malah jadi kepikira, yang ada jadi kehilangan selera makan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Puti :)

      Hehe. Ngga bisa tidur karena banyak yang dipikirin ya. Gue juga pernah begitu, dan berasa ga enak banget, gelisah mulu.

      Haha, bener-bener... kalo paket kombonya si restoran fast food yang satu itu emang enak, berasa renyah. Kalo paket combonya pikiran... kagak ada renyah-renyahnya :p dan ujung-ujungnya kayak yang lo bilang, kehilangan selera makan.

      Semoga kita bisa bebas dari paket combo pikiran ya :D

      Hapus
  3. Menulis bagi gue juga udah jadi terapi untuk menenteramkan jiwa. Malah beberapa orang yang udah kecanduan menulis itu kalau gak nulis seminggu bisa sakit. Wahaha. Gokil.

    Nggak tau kenapa, gue rasanya pun mengalami kesusahan kayak lu, Bay. Selalu kepikiran terus dan gak bisa bersikap normal. Susah membohongi diri. Kalaupun bisa, tentunya butuh proses lama. Kalau terlihat bisa, itu palingan gue lagi mencoba mengecoh pikiran yang mengganggu atau kesedihan akan masalah itu. Mana bisa bener-bener easy going begitu. :(

    Kalau kata temen gue, Robby Haryanto, dia bersyukur telah mengenal blog. Rasanya banyak orang yang merasa hidupnya lebih baik karena blog deh. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiwa yang ga tenteram bawaannya resah mulu soalnya ya Yog. Menulis punya efek bikin perasaan tenang. Wah, gokil tuh kalo ada yang sampe sakit gara-gara ga menulis seminggu. Berarti dijiwai banget, hehe. Keren.

      Iya Yog, kalopun bisa ga kepikiran terus, butuh proses lama. Palingan sih untuk masalah yang kecil-kecil bisa diusahain ga terlalu dipikir sampe pusing, tapi kalo untuk yang agak kompleks, masih susah. Haha.

      Easy going jelas bukan salah satu kelebihan gue, karena ya... susah banget buat terlihat demikian! Ga bisa :(

      Yap, bersyukur bisa mengenal blog. Alhamdulillah kalo para bloger merasa tercerahkan dengan adanya blog :D

      Hapus
  4. Berkebalikan dengan gue bay, kalo gue justru otak lagi renyah renyahnya jalan, berpikiran terbuka, berdiskusi dengan diri sendiri, ama mikirin satu hal buat jadi postingan di blog tuh justru abis tidur siang, setelah asyar, wkkwkw...seringnya sih gitu. Karena klo uda tidur dulu, rasanya fresh, trus jadi besemangat banget buat cepet2 nulisin apa aja yang tadinya selintas lewat e ttus malah kepikiram kenapa ga gue ulas aja jadi artikel,terutama yang mengulas film di blog film gue, gue semangat banget kadang ampe kepikiran ah besok abis nonton idealis mau ngreview langsung wkwkwkwk...klo dipending2 rasanya sakit banget ini kepala, begitu uda dituangin di blog langsung lega

    BalasHapus
    Balasan
    1. Abis tidur siang? Wah... yang pernah gue baca, manfaat tidur siang emang salah satunya bikin daya fokus naik, dan pikiran seger. Malah sebenernya dianjurkan untuk tidur siang, minimal dua puluh menit lah untuk ngehasilin pikiran yang fresh lagi setelah dipake kerja sepagian penuh.

      Bagus itu, Nit. You need to stick with that good habit :)

      Iya, kalo ada selintasan ide di kepala, rasanya harus buru-buru dituangin kan ya, kalo ngga didokumentasiin, khawatirnya lupa lagi hehe. Gue sih biasanya dicatet dulu di hape, baru dituangin ke blog.

      Blog film lo yang ini udah jarang diupdate lagi ya Nit? Ini tadi gue lihat, terakhir masih review "Grave of The Fireflies". Gue dah nonton film rekomendasi lo, dan seneng banget ama kisahnya. Ayo, gue butuh rekomendasi lo lagi nih buat tontonan animasi bagus hehe :D

      Hapus
  5. Sini toss dulu, Bay! Aku juga orang yang nggak bisa easy going. Dan iri sama orang yang bisa seperti itu. Aku kalau udah ada masalah, bawaannya males buat ngapa-ngapain. Meratapi masalah ituuuuuu terus. Ku pengen biasa-biasa aja. Tapi nggak bisa. Ya bisa sih tetap ngelakuin aktivitas seperti biasanya, tapi tetap kepikiran juga. Ya itu, nikmatin paket combo. Udah terpikir begitu aja masalah, kepikiran, dipikirkan secara mendalam pula. Duh. Ini postingan membangkitkan gairah buat curhat. Hahahaha.

    Aku setuju tuh, entah gimana jadinya dunia ini kalau semuanya bisa menggunakan otak dan pikirannya dengan cara yang sama. Serunya ya kalau beda pola pikir gitu. Misalnya kayak ngebahas film sama temen, kita bapernya karena A, temen kita karena B. Trus kita takjub. Kok bisa dia baperin hal itu, hal yang luput dari kita dan kita nggak kepikiran dari situ. Hehehehe.

    DAN HUAAAAAA AKU SENENG BANGET, BAY. ADA NAMAKU DI SINI DAN LINK POSTINGANKU HAHAHAHAHAAHAHAHA. Itu aku nulis gitu dengan ngedit berkali2 btw. Awalnya keliatan personal gitu, kalimat "hal yang itu-itu aja," pun awalnya bukan kata itu. Trus sebelumnya aku hilangin kolom komentarnya. HAHAHAHA. Habis isinya galau. Trus akhirnya aku edit lagi dan jadilah kayak gitu, Bay. Aku kepikiran banyak hal sebelum posting itu. Mikir itu baiknya gimana ya biar nggak keliatan curhat banget. Gimana ya kalau misalnya aku blak2 an aja curhatnya, banyakin curhatnya daripada filmnya. Hahaha.

    Terima kasih, Bay. Ini bikin aku yang sempat nggak pengen ngeblog lagi, jadi ngilangin niat bajingak itu. Btw itu lagu Taylor Swift aku belum pernah denger yang itu. Lagi2 di liriknya sangat eksplisit soal perasaannya ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Tos deh Cha! Kepengen bisa jadi orang yang easy going, tapi apalah daya... susah :(

      Nah iya, apa yang lo tuangin ini sama banget ama yang gue rasain. Bawaannya males buat ngapa-ngapain. Sekali kepikiran, eh malah dipikirin terus, jadinya paket combo ga kelar-kelar :p
      Ga pa-pa kalo mau curhat mah hehe.

      Hmm, kalo semua orang dibekali pikiran dan sudut pandang yang sama, mungkin dunia jadi monokrom haha. Pasti ada hikmahnya Allah SWT menjadikan jalan pikiran kita berbeda-beda, meski dalam beberapa kasus bisa disamain persepsinya. Iya, kadang kalo baca tulisan orang laen, gue juga suka kepikiran, "Ni orang ternyata mikir sampe ke arah situ ya, keren juga."

      Haha. Soalnya kalimat di postingan lo itu keren, jadinya gue ambil. Dan kok ya kebetulan lagi itu gue emang kepengen ngebahas masalah "kepikiran" ini, jadilah gue combine. Makasih juga ya udah ngasih ide lewat kalimat itu. Postingan lo itu malah oke kok Cha, write just the way you are :)

      Wah, alhamdulillah deh kalo postingan ini membantu semangat lo. Malahan penulis artikel ini yang semangatnya lagi jatuh bangun haha.

      Lagu "All You Had To Do Was Stay" ini ada di album 1989, emang bukan hit yang jadi jagoan sih, cuma entah kenapa, pas didengerin berulang kali dan dicermati liriknya, gue malah suka hehe. Ya, Taylor Swift bisa sangat eksplisit tentang perasaan dia dalam lirik-liriknya :p

      Hapus
  6. Terkadang dalam dua opsi "Teringat atau sengaja memikirkan":itu kembali pada aspek yang akan mengikuti dibelakangannya. Maksudnya aspek apa yang mendasari seseorang sampai memilih untuk "teringat" atau "Sengaja memikirikannya".

    Misalnya gini, dalam bahasan akan sebuah ingatan masa lalu, nostalgia atau sejenisnya yang terkorelasikan dengan epik oleh suatu hal yg mendasari akan sebuah ingatan. Misalnya begini "Ketika mendengarkan lagu home milik michael buble seketika teringat akan mantan yang begitu suka mendengarkan dan menyanyikan lagu ini" dan dalam fase teringat ini tubuh kita seolah2 dalam fase tidak sadar dan belum siap, semua mengalir begitu saja. Seolah-olah ingatan akan mantan tsb begitu mudah terpantik dan terputar kembali gegara sebuah lagu saja.

    Kedua, soal "sengaja memikirkan" itu biasanya terjadi pada saat sedang mengerjakan soal ujian. Ketika menghadapi soal ujian yg sekiranya bisa dikerjakan namun lupa rumusnya, secara sadar dan sengaja, otak kita akan bekerja untuk memikirkannya lebih ekstra, bahkan jika divisualisasikan seolah2 otak kita sengaja membuka tumpukan2 memori ttg materi tsb yg tersembunyi dalam folder di dalam kepala. Dan biasanya, fase ini akan sangat memakan banyak energi, dan melelahkan.

    Ya tapi ada juga, fase khusus, yakni fase dimana "teringat dan sengaja memikirkan" terjadi dalam satu waktu, itu terjadi ketika campur tangan alam semesta. Misalnya gini ketika lagi hujan, secara sadar atau tidak sadar kita akan terfokus ke rintik hujan, dan secara sadar atau tidak, pikiran terbagi jadi banyak, antara kenangan mantan, pelukan hangat suatu malam, indomie kuah pakai telor, atau sekedar tidur dalam pelukan mantan. Ya memang membingungkan ketika terjadi fase ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, bener Mas. Tergantung pada aspek yang mendasari seseorang sampai memilih untuk "teringat" atau "sengaja memikirkannya".

      Untuk yang "teringat", momen pemicunya bisa macem-macem, salah satunya yang Mas Fandhy contohin itu, lewat sebuah lagu. Begitu kuatnya momen yang dibawa si lagu dalam ingatan kita, jadi begitu ada lagu tersebut diputer, memori langsung terpancing. Banyak hal lainnya, bisa lokasi, bau, foto dan sebagainya.

      Yang untuk aktivitas ngerjain soal ujian itu emang dipastikan butuh energi "sengaja memikirkan", karena kita dituntut untuk membuka tumpukan memori di otak.

      Haha. Contoh yang ditampilin unik. Keren. Iya sih Mas, ada campur tangan alam semesta, tapi ada special case juga. Kadang "teringat dan sengaja memikirkan"
      bisa aja pas sebelum tidur malem, pas lagi makan pagi, saat kapanpun lah. Dan bener kata Mas, kalo fase itu terjadi, bikin bingung deh :p

      Hapus
  7. Wow. Baca tulisan sekaligus komentar-komentar yang panjang di atas bikin aku bingung harus berkomentar apa lagi, semuanya udah mewakili apa yang ingin aku sampaikan. Hahahah

    Sejenak, aku sempat membayangkan gimana jadinya kalau semua orang punya pemikiran dan isi kepala yang sama; imho, mungkin engga akan ada yang namanya perdebatan dan persilangan pendapat, tapi kalau begitu bisa-bisa hidup jadi hambar dan engga berwarna. Perbedaan pemikiran, dll itu yang justru bikin hidup ini makin hidup. Ehe~

    Aku juga termasuk orang yang overthinking sih, segala sesuatu dipikirkan. Makanya aku salut sama orang yang 'udahlah-jangan-terlalu-dipikirin' aku sih engga bisa, tapi lagi belajar untuk bisa sih, walaupun ending-endingnya hanya bisa dilupakan untuk beberapa saat aja, oleh sebab itu; untuk meredakan dan mengurangi kebiasaan overthinking ini, aku menulis di blog. Aku setuju lah kalau menulis itu merupakan salah satu terapi efektif untuk menenangkan diri, entah apa jadinya kalo semua pemikiran dipendem dalam kepala, bisa jadi penyakit hahah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Udah pada terwakilkan semua ya pendapatnya :p berarti sepemikiran.

      Wah, gue suka kalimat yang ini: "...mungkin engga akan ada yang namanya perdebatan dan persilangan pendapat". Bener. Bisa jadi hidup terasa hambar. Semua orang dipastikan bergerak ke arah yang sama. Ngga akan ada profesi yang bener-bener berbeda. Setuju, perbedaan pemikiran, dll... itu yang justru bikin hidup ini makin hidup :)

      Iya Novi, gue juga salut sama orang yang bisa easy going, rasanya kok ya bisa tahan ngadepin segala macem masalah hehe.

      Nah, back to blog. Menulis tetep jadi obat utama untuk menenangkan diri, karena beban pikiran yang ruwet udah dituangin ke tulisan, dan hebatnya, berdampak positif sama kondisi kejiwaan kita.

      Iya, kalo semua dipendem di kepala, mungkin bisa jadi penyakit :p

      Hapus
  8. iseng BW, sepertinya juga sudah lama tidak berkunjung ke blognya masbro yang selalu mencerahkan ini.. :D

    artikelnya jadi mengingatkan saya pada sekira dua pekan yang lalu, sewaktu ngopi bareng sahabat, ada topik pembicaraan yang seru dan hingga kini masih membuat kita takjub sekaligus penasaran, yakni kecanggihan otak dan memori yang disimpannya.

    betapa kadang sesuatu atau seseorang yang telah mengendap di dasar memori sekian puluh tahun yang lalu dan telah terlupakan tiba-tiba bisa muncul kembali di ingatan dan tergambar jelas dan kian jelas hanya karena satu tigger: mencium aroma parfum tertentu..

    karena yang diingat adalah seseorang atau peristiwa yang menyenangkan, jadilah kita bernostalgia dengan kenangan itu, hehe..

    nice share, bro.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, jadi terharu. Makasih nih udah mampir kemari lagi. Welcome back :D

      Jadi penasaran apa percakapan tentang "kecanggihan otak dan memori yang disimpannya itu", pasti seru banget tuh, sampe bisa bikin takjub begitu.

      Nah setuju ini. Aroma bisa merangsang memori dalam benak, yang terikat sama kenangan akan suatu hal. Gambarannya pun bisa jelas ya, padahal kejadiannya udah puluhan tahun. Hebat. Nice example.

      Makasih bro komentarnya ya :D

      Hapus
  9. Aku baru aja nulis sedikit di blog tentang apa yang mengganggu aku akhir-akhir ini karena terlalu memikirkan, dan iseng main ke blog Ka Bayu (yang udah lama banget kayaknya nggak aku kunjungin!) terus baca tulisan ini. Yo kok pas bangeeeettt. Bacain komentar-komentarnya jugaaa seneeeng. Huhuhu.

    Iya, abis nulis di blog juga aku jadi lebih plong, ditambah baca tulisan ini... Yah, intinya bersyukurlah kenal blog dan blog-blog kece semacam ini! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Sabil.

      Ga usah manggil Ka Bayu ya, cukup panggil aja Bayu kayak yang laen hehe. Selamat datang kembali di blog ini kalo begitu, makasih banget nih udah mampir. Gue nya sendiri juga baru bisa bales komentar lo sekarang :p

      Wah, seneng deh kalo tulisan gue bisa relate sama yang lo rasain. Dan alhamdulillahnya para bloger yang naro komentar di sini luar biasa semua isinya, jadi ya saling melengkapi antara apa yang ada di tulisan dan yang ada di komentar :) selamat membaca.

      Haha, bisa aja nih. Makasih banyak ya :D semoga makin rajin ngeblog, biar lebih plong rasanya kalo abis nulis.

      Hapus
  10. Benar itu, blogging membuat kita punya tempat lampiasan isi kepala, dan ditengok orang lain pula :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Totally agree with you. Blog itu tempat untuk pelampiasan isi kepala, yang diramu dengan penuh kreatifitas, jadi hasilnya sesuatu yang positif :)

      Hapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.