Grammy Awards Ke-59, Part 2: "Kontroversi"

image source: metorchestramusicians

BAGIAN KEDUA
DARI TRILOGI CATATAN MENGENAI GRAMMY AWARDS KE-59


"Music by definition is very inclusive, very diverse" 
-- Neil Portnow, CEO The Recording Academy

Di artikel sebelumnya, saya menulis mengenai album Lemonade milik Beyonce. Album itu sendiri merupakan visual album, yang berarti ditunjang dengan visual, dalam hal ini sebuah film yang dirilis di HBO, pada April 2016.

Oke, di bagian kedua ini saya akan membahas mengenai kontroversi nominasi Grammy yang diraih (dan tidak diraih) Beyonce, hingga pengumuman pemenang Album of The Year, termasuk kontroversi yang dilakukan Adele (seolah acara penghargaan harus selalu menuai kontroversi).

Di Grammy Awards ke-59, Beyonce masuk nominasi ke empat genre sekaligus, yakni Pop, Rock, R&B dan Rap. Jika tidak salah, ini adalah pertama kalinya ada musisi yang masuk ke empat genre dalam satu perhelatan. Well deserved for her. Untuk Pop, R&B dan Rap (lagipula, Beyonce berkolaborasi dengan rapper, bukan berarti menyanyi rap), mudah dimaklumi, namun saya cukup terkejut begitu mendapati nama Beyonce di jajaran nominasi Best Rock Performance, melalui lagu "Don't Hurt Yourself". Banyak pihak juga terkejut ada nama Beyonce di kategori rock, seolah dunia sudah jungkir balik, padahal baik-baik saja.

Saya mencoba mencerna lagu tersebut perlahan. Memuat sampel dari lagu "When The Levee Breaks" milik Led Zeppelin, Beyonce membawakan lagu "Don't Hurt Yourself" dengan penuh penjiwaan (ditunjang bantuan vokal dan talenta Jack White, musisi rock kaliber Grammy). Berhubung lagunya mengenai kekesalan dia akan suaminya yang "dianggap selingkuh", maka lagu ini penuh dengan amarah, bentakan, suara parau dan kata-kata makian. Lagunya saja sudah dibuka dengan kalimat:

Who the fuck do you think i am?
You ain't married to no average bitch, boy
You can watch my fat ass twist, boy
As i bounce to the next dick, boy

Wow. Saya tidak akan menerjemahkannya, silakan kalian mencari tahu sendiri. Kata-kata makian masih diumbar sepanjang lagu. Hm, entah kenapa album ini tidak dilabeli logo "Parental Advisory". Oke, jadi dengan aransemen kuat, suara parau, bantuan Jack White, jelaslah kenapa lagu tersebut diakui di kategori rock performance. Lagunya bagus, bahkan menjadi favorit saya. Lagu tersebut lebih terasa unsur rock-nya dibandingkan "Heathens" milik Twenty One Pilots yang bersaing dengan Beyonce di kategori sama. Well, meski banyak pihak kurang setuju, toh juri Grammy sudah kenyang dengan kontroversi terkait pengkotak-kotakkan genre, jadi mereka pasti punya alasan tersendiri.

Kontroversi berikutnya datang dari lagu "Daddy Lessons", mengusung sentuhan country (good job, Bey!), berisikan lirik mengenai pelajaran hidup yang Beyonce dapat dari sang ayah. Oke. Saya suka musik country, dan lagu ini menurut saya adalah usaha luar biasa Beyonce mengusung genre tersebut. Di acara Country Music Awards (CMA), Beyonce bahkan diundang tampil membawakan lagu ini bersama dengan Dixie Chicks (grup country kaliber Grammy), dan sambutannya meriah. Itu berarti, lagunya diakui di komunitas country.

Sayang, tanpa alasan yang jelas, lagu ini ditolak juri Grammy masuk ke kategori country, padahal pihak Beyonce sudah mencoba mendaftarkannyaEntah apa yang harus Beyonce lakukan untuk membuatnya terdengar lebih country, semoga ini bukan masalah ras, karena mayoritas musisi country adalah kulit putih. Beyonce harus puas "hanya" diakui di empat genre. Mungkin beberapa tahun mendatang Beyonce tertarik masuk kategori... jazz? dance? latin? Who knows?

Baiklah. Secara keseluruhan, album Lemonade mengusung beragam genre, tema dan pesan, mayoritas adalah perjuangan kulit hitam, isu sosial, juga pergulatan personal. Mengutip ulasan dari Rolling Stone Indonesia (oleh Agun Wiriadisasra), Lemonade adalah "...album yang personal, jujur, politis, kontroversial, menantang dan berani." 


"No, i don't think there's a race problem at all. We do the best we can
-- Neil Portnow, CEO The Recording Academy

Sehebat apapun kritikus memuji album Lemonade, nyatanya pada pengumuman pemenang di tanggal 12 Februari lalu, nama Adele yang keluar sebagai pemenang Album of The Year, melalui album ketiganya, "25". Banyak protes merebak, menuding The Recording Academy tidak memihak Beyonce, malah memihak kulit putih. Jika melihat sejarah Grammy, memang tidak banyak musisi kulit hitam yang mendapat piala Album of The Year, terakhir adalah Herbie Hancock di tahun 2008.

Neil Portnow selaku CEO The Recording Academy, seperti yang saya kutip di kalimat bertanda kuning di atas, menampik tudingan tersebut. Menurutnya, juri Grammy (voter) telah memilih yang terbaik. Neil juga menekankan bahwa hasil pemenang bukan keputusan segelintir orang, melainkan hasil voting dari sekitar 13.000 (bayangkan, 13.000 orang!) anggota The Recording Academy dari segala lapisan ahli musik. Jika Adele menang, artinya banyak voter yang memilih dia. 

Dari ulasan yang saya baca, banyak pihak menilai bahwa juri Grammy masih berkutat pada traditional voter, yakni mereka-mereka yang berpegang teguh pada unsur musik alami. Jujur, album Adele memang luar biasa, jelas memegang teguh prinsip tersebut, dimana keseluruhan album 25 menyajikan pop ballad dengan soul kuat, penuh elegan, hal yang tidak didapat di Lemonade. Bukan berarti Lemonade tidak elegan, hanya saja Adele menampilkan musiknya lebih "tradisional". Entahlah, mungkin juri Grammy belum siap memenangkan album eksperimental semacam Lemonade sebagai Album of The Year.

Sebagai gantinya, juri Grammy memberi "hadiah" untuk Beyonce berupa dua piala Grammy, satu untuk Best Urban Contemporary Album dan Best Music Video (untuk video klip "Formation"). Dua piala dari sembilan nominasi mungkin terkesan sepele, tapi itulah yang harus puas Beyonce raih. 


"What the fuck does she (Beyonce) has to do to win Album of The Year?" -- Adele

Sejarah tercipta di perhelatan Grammy Awards ke-59 ini, dimana untuk pertama kalinya ada musisi yang berhasil meraih tiga kategori bergengsi (Album of The Year, Record of The Year dan Song of The Year) untuk kedua kalinya. Adele adalah musisi fenomenal pendobrak rekor tersebut. Di tahun 2012, dia melakukannya melalui album 21 dan lagu andalan "Rolling In The Deep", sementara di tahun 2017 ini dia memborong piala melalui album 25 dan lagu andalan "Hello".

Sekedar informasi, di dalam Grammy Awards ada yang namanya General Field (The Big Four, yaitu: Record of The Year, Song of The Year, Best New Artist, dan paling tinggi Album of The Year), kategori "umum" yang presitisus, tidak mudah masuk ke empat nominasi bergengsi tersebut. Banyak musisi akan melonjak kegirangan begitu masuk nominasi (baru sebatas nominasi), apalagi memenangkan satu. Adele tidak hanya memenangkan satu, tapi tiga piala. Tidak hanya sekali, tapi dua kali! Tak heran jika di malam kemenangannya, banyak orang melakukan standing applause untuknya, menghormati pencapaian emas tersebut. Khusus untuk Best New Artist, Adele sendiri pernah memenangkannya di tahun 2009. Complete.

Ada satu hal yang menyentuh. Bukannya membanggakan pencapain itu, di atas panggung saat menerima piala Album of The Year (setelah diselingi tangis haru), Adele dengan lantang justru memberi kredit tersendiri untuk Beyonce. Berikut kutipan pidatonya:

"...But i can't possibly accept this award. And i'm very humbled and i'm very grateful and gracious. But my artist of my life is Beyonce. And this album to me, the Lemonade album, is just so monumental."

Tidak berhenti sampai disitu, Adele bahkan merusak piala Grammy yang diraihnya, membelahnya menjadi dua bagian, berharap bisa mewakili perasaannya bahwa satu bagian milik Beyonce. Atau dengan kata lain, Lemonade dan 25 sama baiknya. Apapun itu, intinya Adele ingin menyuarakan "pemberontakan kecil-kecilan", bahwa di balik segala kontroversi yang timbul terkait pengumuman pemenang, Beyonce adalah sang juara.

Nasi telah menjadi bubur. Piala telah diserahkan kepada para pemenang di 84 kategori yang dirilis. Pro kontra selalu ada dalam setiap keputusan yang dibuat, namun pada akhirnya, semua dikembalikan ke pribadi masing-masing, menerima atau menolak. 

Oya, saya masih memiliki artikel penutup di postingan berikutnya, karena ini adalah semacam trilogi catatan. Terima kasih jika kalian masih membaca sampai bagian ini, dan saya pun akan sangat menghargai jika artikel berikutnya juga turut dibaca.

-Bayu-



Note: Sturgill Simpson bukan musisi sembarangan. Musik yang diusungnya bernapaskan country rock, alt country dan soul. Albumnya masuk ke kategori bergengsi Album of The Year di ajang Grammy 2017. Salah satu lagu dari album tersebut, yaitu "Brace for Impact (Live a Little)", menemani saya dalam menulis artikel ini.

Entah apakah album luar biasa pemenang Best Country Album ini akan masuk ke pasar Indonesia atau tidak.
image source: pitchfork.com









2 komentar

  1. ((Banyak pihak juga terkejut ada nama Beyonce di kategori rock, seolah dunia sudah jungkir balik, padahal baik-baik saja.))

    Hahahaha. Itu lucu, Bay. Aku ngakak bacanya.

    Setelah sadar pernah dengerin Formation, begitu baca ini aku dengerin Don't Hurt Yourself. DAAAN AKU SUKAAAAA! LAGUNYA ENERJIK, BAAAAAY! Oh iya, gimana rumah tangganya Beyonce sama Jay-Z ya? *malah ngajak ngegosip*


    Ya ampun, aku sontak nutup mulut dan nangis begitu baca paragraf tentang Adele ngerusak piala Grammy-nya dan ngebagi buat Beyonce. Mengharukan. Adele rendah hati banget. Momen itu ngingatin aku sama scene di film Mean Girls, di mana tokoh utamanya (aku lupa namanya siapa) ngerusak mahkota yang dia dapat, dia patahin, dan potongan-potongannya dibagiin ke teman-temannya. :')

    Dari postingan aku jadi tau kalau Bayu suka musik country. Selera musik yang bagus, Bay! :)

    BalasHapus
  2. Liriknya yang bawa-bawa dick... duh, kasar amat itu Beyonce. :))

    Gila emang si Adele. Rakus amat borong piala wahahaha.

    Akhir-akhir ini udah jarang ngikutin perkembangan musik luar, sih. Jadi pas baca ini rada bingung. Banyak lagu yang gue gak tahu. Hello doang yang paling inget itu. :(

    BalasHapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.