Kenapa Enggan Mengakui Keunggulan Orang Lain?

Image source: pinterest.com
"Honesty is the first chapter in the book of wisdom" -- Thomas Jefferson

Apakah kalian pernah merasa iri dengan pencapaian orang lain?

Jika iya, maka kalian sama dengan saya. Iri sudah ada dalam kamus saya sejak kecil, mengingat saya dididik oleh kurikulum yang seolah mengajarkan bahwa siapa terpintar, dialah yang menguasai hampir semua bidang. Mayoritas guru saya selalu mengagung-agungkan siswa yang memiliki peringkat satu dan mereka akan mengatakan sesuatu seperti, "Coba kalian contoh si A, dia pintar, bla bla bla..." Lambat laun apresiasi khusus kepada yang pintar terpatri dalam benak dan menjadikan saya kerap memandang iri pencapaian orang lain.

Mungkin akan lain ceritanya jika mereka mengatakan, "Kalian semua bisa seperti si A. Kalian adalah kumpulan siswa pintar. Mari berprestasi lebih baik." Saya percaya masih ada guru baik di luar sana yang akan berkata demikian ke murid-muridnya, bukannya memojokkan yang tidak pintar dan menganak emaskan yang berprestasi.

Apakah rasa iri ini wajar? Saya kira iya, dan saya yakin semua orang pernah merasakannya, meskipun kadarnya berbeda-beda. Ada yang bisa meminimalisir rasa iri hingga menjadi tidak iri sama sekali, atau sebaliknya, justru tidak dapat mengontrol rasa iri yang timbul, sehingga pembawaannya selalu saja kesal.

Jika rasa iri sudah bercokol dalam diri, bisa dipastikan kita akan sulit memandang baik pencapaian orang lain. Bukannya mengapresiasi mereka, justru kita malah sibuk mencari kelemahannya, seolah keunggulan mereka bukanlah sesuatu yang patut dibicarakan. Pikiran kita sudah terkontaminasi dengan negative thinking, dan jika terus dibiarkan, bisa dipastikan akan menggerogoti nurani. Artinya, kita tidak bisa ikhlas mengakui keunggulan orang lain dan malah mencela mereka sebisa mungkin.

"Be honest to those who are honest, and be also honest to those who are not honest" -- Lao Tzu

Saya memiliki kisah tersendiri terkait ini. Sewaktu kuliah, saya dan teman sekelas pernah diminta untuk membentuk kelompok presentasi dengan materi yang sudah ditetapkan oleh dosen. Di akhir setiap presentasi, kami semua diminta untuk memberi skor pada setiap kelompok. Kelompok terbaik adalah yang mendapatkan skor paling tinggi, yang mana itu berarti seluruh mahasiswa mendukung mereka.

Presentasi berjalan dengan gegap gempita. Setiap kelompok berusaha menampilkan yang terbaik, termasuk kelompok saya. Selama berminggu-minggu kami mempersiapkan semuanya dengan matang hingga hari H. Saat tampil di depan, kelompok saya menampilkan materi dengan penuh percaya diri. Ada lima kelompok saat itu, dengan rata-rata anggota enam orang. Anggap saja kelompok saya bernama kelompok A. Kelompok saya bersaing ketat dengan kelompok B. Kami berdua menampilkan materi yang sesuai dengan kemauan dosen, dan beliau mengatakan bahwa kami berdua adalah pesaing terkuat, dan hasil akhir akan diputuskan oleh suara terbanyak.

Dosen saya kemudian mempublikasikan kertas penilaian, demi transparansi hasil. Betapa terkejutnya kelompok saya saat mengetahui bahwa seluruh anggota kelompok B (pesaing) memberikan nilai rata-rata di bawah lima (skala satu sampai sepuluh) pada kelompok kami, sementara kelompok lain rata-rata memberi nilai sempurna pada kelompok kami. Lho kok? Padahal kelompok saya memberikan nilai baik pada kelompok B lho. Kami semua di kelompok A mencoba menilai dengan jujur. Kami mengakui kelompok B tampil dengan baik, sehingga mereka layak diberi nilai baik.

Saya tidak meminta balas budi nilai. Saya hanya ingin berkompetisi dengan sehat. Well, bisa saja sih kami tidak tampil sempurna dan buruk, namun kenapa kelompok lain menyatakan sebaliknya? Dosen pun menyatakan kami tampil dengan baik. Lantas, kenapa kelompok B berbeda, memberi nilai buruk? Apakah mereka berambisi menjadi kelompok terbaik sehingga berusaha menjegal? Apakah mereka iri? Saat itu saya hanya dapat memendam kesal dan tanda tanya. Meskipun hasilnya tetap menyatakan kelompok kami yang menang (alhamdulillah), saya mendapat sebuah pelajaran tersendiri terkait apresiasi akan keunggulan.

Baca juga: Apresiasi Itu Sangat Penting

"Appreciation is a wonderful thing: it makes what is excellent in others belong to us as well" -- Voltaire

Apresiasi terhadap keunggulan adalah sesuatu yang indah, dapat membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri. Sayang, tidak semua apresiasi diberikan dengan tulus. Kisah terkait kelompok presentasi yang saya jelaskan di atas adalah satu dari sekian kisah yang saya miliki terkait iri hati. Seiring waktu, saya menemukan banyak kasus yang menunjukkan bahwa tidak semua orang menyukai keunggulan orang lain. Dalam dunia kerja, memiliki rekan yang iri pada kita lebih menakutkan ketimbang dimarahi atasan. Jika dimarahi atasan, kita masih dapat berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Lain halnya dengan rekan kerja yang iri. Mereka kerap tidak menampilkannya secara terang-terangan, namun dapat melakukan hal-hal buruk yang tidak kita duga. Karir justru dapat terancam oleh orang-orang yang merasa iri terhadap keberhasilan kita.

Saya sendiri pernah merasa iri akan rekan kerja yang hasil pekerjaannya sungguh brilian. Namun, setelah saya bekerja bersamanya secara lebih intens, saya menyadari bahwa memang benar dia adalah seseorang yang cekatan, cerdas dan memiliki visi kuat. Saya tidak ragu mengubah iri hati menjadi kagum. Saya pun mengambil banyak pelajaran dari dirinya. Saat itulah saya memarahi diri sendiri. Iri hati boleh saja, namun jadikan iri hati itu menjadi pemicu untuk menjadi lebih baik, bukan lantas menjatuhkan orang lain.

Oke, mungkin saja rekan kerja yang memiliki pencapaian bagus menampilkan karakter yang menyebalkan, sombong, bossy, dan sebagainya, tapi bukan berarti kita berhak mencela pencapaiannya.

Mengakui keunggulan orang lain memang tidak mudah. Sampai saat ini saya pun masih berusaha mencoba mengapresiasi dengan baik. Saya pernah membaca di suatu artikel bahwa kunci utama mengakui pencapaian orang lain adalah ikhlas dan berpikiran terbuka. Pikiran sempit hanya menghasilkan dengki, selalu melihat kejelekan orang lain, hasut-menghasut, kesal, dan stres. Tidak ikhlas juga menghasilkan banyak penyakit hati.

Sejak saat itu, saya selalu berusaha mengelola iri hati dengan baik. Saya enggan membiarkan iri hati berkembang menjadi dendam. Dalam kultur organisasi dimana iri hati dijadikan dasar menjatuhkan orang lain, bisa dipastikan organisasinya tidak akan berkembang menjadi sehat. Bersainglah dengan sehat. Fair play. Ya, iri hati memang kerap timbul saat melihat pencapaian orang lain, saya pun masih merasakannya, namun jangan beri makan iri hati dengan ego. Jangan mengagung-agungkan si iri. Dia akan senang menggerogoti pikiran jernih kita dan membuat kita selalu memandang remeh pencapaian orang lain, contohnya seperti ini:

1) "Jelas aja dia dipromosiin, orang dia anak kesayangannya si bos..."
2) "Sok banget sih dia kerjanya paling sempurna, selalu lembur. Palingan juga pencitraan..."
3) "Lihat aja mobil barunya. Jangan-jangan dia ngakalin duit kantor!"
4) "Kok dia bisa dapet bonus gede sih? Perasaan kerjanya juga ga becus!"
5) "Dasar penjilat atasan, selalu aja dapet proyek baru. Lihat aja, kalo dia minta tolong sama gua, ga bakal gua ladenin. Biarin aja dia kerja sendiri."

Astaghfirullah. Untuk kalian yang telah merasakan dunia kerja, pasti pernah menemukan beberapa kalimat di atas, atau setidaknya menyerupai. Untuk kalian yang belum merasakan dunia kerja, jangan khawatir. Tidak semua karyawan bermulut tajam kok. Budaya dalam setiap organisasi juga berbeda. Kitalah yang harus pintar memposisikan diri, apakah mengikuti arus negatif atau arus positif. Seorang karyawan yang profesional seharusnya mengikuti arus positif. 

"We always love those who admire us..." -- Francois de La Rochefoucauld

Berusahalah merubah rasa iri menjadi kagum. Apresiasi setiap keunggulan orang lain. Mereka bisa tampil lebih baik dari kita tentu ada usaha mencapainya. Oke, mungkin saja mereka melakukan hal-hal tidak etis dalam pencapaiannya, tapi jangan pernah pikiran negatif itu mengendap dalam pikiran. Tidak ada gunanya, justru akan menggerogoti nurani kita. 

Kenapa kita tidak suka melihat orang lain sukses? Apakah kita tidak ingin sukses juga seperti mereka? Jika iya, kenapa harus iri tanpa melakukan perbaikan diri? Kenapa berusaha menjatuhkan orang lain? 

Sama saja untuk dunia blog. Mungkin saja kita iri melihat blogger lain yang lebih sukses dengan pencapaian ini itu, namun bukan berarti kita harus meremehkannya. Justru kita mesti belajar banyak dari pencapaian dia, dan berusaha memperbaiki diri. Saya justru senang melihat tulisan blogger lain yang pemaparannya lancar dan menyenangkan untuk dibaca, membuat saya selalu tersenyum-senyum membayangkan bagaimana mereka melakukannya.

Pengakuan akan keunggulan orang lain harus datang dari hati. Dengan melakukannya, kita telah membiarkan pikiran terbuka atas segala kemungkinan, dan Insya Allah akhirnya menemukan resep jitu untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Now, the last question is: maukah kita mengakui keunggulan orang lain?

-Bayu-



Note: Isak tangis bahagia Meghan Trainor yang keluar saat dia menerima penghargaan Best New Artist di ajang Grammy tahun ini menjadi bukti bahwa dia tidak menyangka karirnya di kancah musik dapat berbuah manis sebuah piala Grammy. Saya juga tidak menyangka musiknya ternyata enak untuk didengar berulang-ulang. Lagunya yang berjudul "No" menemani saya saat menulis artikel ini. Jelas, Meghan Trainor adalah seorang musisi yang patut diperhitungkan dalam genre pop.
Image source: idolator.com

33 komentar

  1. Alo, Bay, lama nggak ngelongok di mari gue nih ye.
    Yaaa, karena garis gue beda ama lu, gue tetep apresiasi artikel lo yang ini (meskipun utek gue agak "peyang"=nggak paham). Hahahaha, ya itumah curhatan gue aja seh.

    Gue baru ngeh, "iri" itu 1r diapit 2i. Dari penerawangan gue barusan, kalo di awal kita sudah I ri, so di akhir hasil dari I yang di awal: ir I.
    Moga lu paham apa gue maksud yak, hahaha ... #garukgarukpala

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo juga, Andri. Iya, gua juga udah lama ngga ngelongok ke blog lo hehe. Wah, makasih nih apresiasinya :D
      Semoga ada bagian-bagian yang masih bisa lo pahami ya.

      Wuih, pake penerawangan nih ya... haha. Hm, yang gua tangkep dari kalimat lo adalah, kalo kita iri, maka hasilnya akan tetap begitu aja, bener? Ada dua "i" mengapit satu "r"
      "I" yang di awal akan berakhir sama dengan "I" di belakang.
      *semoga maksudnya bener itu* :p

      Hapus
    2. Eumm.. Justru aku makin gak ngerti baca komen ini. Ini lg pada bahas apaan sih? Fisika? *kepo banget* *malah nimbrung komenan org* *abisnya penasaran sih* *ikutan garuk2 pala*

      Hapus
    3. Haha, bukan Lu, bukan lagi pada bahas Fisika. Lebih ke... permainan kata :p
      Kalo yang gua tangkep, maksudnya Andri adalah jika kita iri, ya hasilnya akan tetep begitu. Toh dua huruf "i" akan tetap menjadi "i". Beda halnya kalo kita ngubah iri menjadi hal lain, motivasi misalnya.

      Kurang lebih begitulah hehe.
      *semoga ga makin bikin lo garuk-garuk kepala ya* :D

      Hapus
  2. Suka iri sama blogger yang memiliki keahlian lain, Misal bisa buat template atau theme dan kemampuan lainnya... Jadi termotivasi buat ngikutin jejak mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya Wahab, namanya keahlian, bisa berbeda antar blogger. Sebenernya kita bisa kayak mereka kalo mau berusaha keras. Nah bagus kalo akhirnya lo termotivasi untuk ngikutin jejak mereka. Lo udah berhasil ngerubah iri jadi motivasi positif. :)

      Hapus
  3. Eeeuuwwh gak lakik. ngejatuhin kelompok lain gitu, pengen banget menang?

    hahah sebelumnya maaf bang aku baru mampiur lagi, karna tiap kali buka blog abang pc saya tiba-tiba mati. ini serius. gatau deh kenapa. jadi tiap mau blogwalking gagal terus. :(

    setuju sih sama postingan kali ini. Iri itu gampang banget. Aku juga kadang sadar atau enggak suka ngiri sama orang lain yang hidupnya kok lancar-lancar aja, ini itu bisaan banget, multi talent ngono.

    Tapi ya di jadiin pacuan aja si, biar kita semangat dan terus usaha biar bisa menyamai bahkan mengungguli. jangan sampe penyakit hati dengki ini jadi sumber maksiat buat diri kita sendiri. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, iya Dibah, ga lakik, padahal ketua kelompok yang disana laki-laki, dan mungkin hasrat pengen menang segitu besarnya :p whatever lah, semoga dia sekarang bisa fair play dalam berkompetisi, dimanapun dia berada sekarang.

      It's okay Dibah, gua juga jarang mampir lagi ke blog lo :p
      waduh, serem banget ya tiap kali buka blog gua, PC lo tiba-tiba mati. Tapi alhamdulillah lo bisa mampir kesini lagi, thanks banget... oya, panggil gua "Bayu" aja kayak yang laen.

      Nah iya, namanya manusia, pasti ada rasa iri ngelihat pencapaian orang lain. Iri pun gampang banget dateng, sebisa mungkin langsung direm biar ga kebablasan.

      Sip, dijadiin pacuan aja biar jadi semangat untuk menyamai dia, atau bahkan kayak yang lo bilang, mengungguli. Keren tuh kalimat akhirnya: "jangan sampe penyakit hati dengki ini jadi sumber maksiat buat diri kita sendiri"

      Makasih Dibah :)

      Hapus
  4. Saya juga merasa suka kayak gitu,,, tapi sekarang udah bisa mengapresiasi dan menghargai kemampuan orang lain,, kita memang harus bisa bersikap terbuka dan ikhlas,,, perasaan iri mungkin bisa saja menjadi sesuatu yang positif misalnya adalah dengan cara beprestasi dan lebih rajin lagi belajar supaya bisa menyaingin orang yang membuat kita jadi iri,,, jadi iri tak selamanya negative,,, kecuali irinya udah bercampur sama dengki... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasih applause dulu buat Kangzai kalo udah bisa mengapresiasi dan menghargai kemampuan orang lain *prok prok prok*

      Ikhlas itu kuncinya Kang, sulit banget dipraktekkin hehe. Semoga kita semua bisa ikhlas ya lihat pencapaian orang lain, jadi rasa iri yang timbul bisa ditendang sama si ikhlas.

      Nah bener tuh, kalo dikonversikan menjadi sesuatu hal yang positif, semacem berprestasi dan lebih rajin belajar... wah, itu excellent person namanya :D

      Iya Kang, kalo irinya udah bercampur dengan dengki, bisa runyam urusannya. Yang ada dongkol mulu bawaannya hehe :p
      Thanks for your comment.

      Hapus
  5. Iya ya bay, tanpa sadar memang iri udah jadi 1 dari sekian paket sifat yang tertanam dalam diri kita sebagai manusia #sekarang tergantung seberapa besar porsi iri tersebut ya kan..
    Kayaknya mayoritas, moga moga sih ga semua..di lingkup sekolah selalu kejadian yang kayak kamu sebutin di atas bay..parameter sukses itu selalu terletak pada si rangking 1 atau yang paling pintar, padahal kenyataannya setelah sama sama memasuki usia dewasa alias dunia kerja, ga semuanya kan yang pintar itu lantas akhirnya selalu sukses.
    Bahkan yang tadinya di sekolah dianggap cupu, malah kebanyakan yang akhirnya jadi 'orang'
    Mengenai cerita lu yang kelompok b itu, ih aslik ngeselin...kok ada ya yang ambisinya parah sampe sampe ga fair dalam menilai...memang kalangan ini ada aja sih karena nganggap nilai adalah segala galanya penentu kesuksesan

    Dunia kerja memang keras, tepat...
    Gue dulu pas di lingkup kerja malah yang ngekiin mungkin terbilang bos tapi bukan yang big bossnya sih,...ya gitu deh lain di depan lain pula di belakang perangainya pas ada kita. Jadi berasa kek si oknum bos tingkat bawah ini agak carmuk biar dipandang sempurna ama big bosnya gitu deh aaaiihhhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Nit. Gua suka sama kalimat lo: "iri udah jadi 1 dari sekian paket sifat yang tertanam dalam diri kita sebagai manusia".
      Itu berarti iri bisa bermanfaat. Bayangin aja kalo kita ngga iri, mungkin kita ngga akan tertantang untuk maju. Tapi bukan berarti iri harus dipupuk dengan pikiran negatif. Sebaliknya, si iri harus dipupuk dengan pikiran positif, biar ke depannya kita jadi manusia yang lebih baik *tsaah*

      Iya, semoga ga semua sekolah nanemin hal-hal semacem "banding-membandingkan" antar siswa gitu. Semoga generasi sekarang bisa mengubah iri mereka sejak kecil jadi motivasi untuk lebih maju.

      Bener Nit, dunia kerja memang melihat kemampuan akademis, tapi ada kemampuan lain yang lebih dipertimbangkan: pengalaman berorganisasi, pendalaman ilmu selain bidang akademik tertentu, penguasaan komunikasi, kemampuan bernegosiasi, dll. Bisa jadi mereka yang ngga berhasil sejak SD malah lebih unggul dari temen-temennya di dunia karir, atau kayak yang lo bilang, yang tadinya di sekolah dianggap cupu, malah bisa jadi "orang" :)

      Haha, itu kejadian sebenernya ngga mau gua inget lagi, tapi kayaknya cocok untuk gua tuangin di blog, biar dijadiin pelajaran aja. Rasa iri bisa ngubah seseorang menjadi berhasrat akan segalanya. Nilai akademis jadi patokan keunggulan, jadi mungkin mereka nganggep bisa menghalalkan segala cara.

      Wah, kalo ngomongin karakter orang-orang di kantor, bisa beragam ya Nit, mungkin kalo dituangin di blog bisa panjang lebar haha.
      Ya, gua ngerti karakter yang lo maksud. Lain di depan lain pula di belakang, demi dipandang sempurna oleh the big boss. Ada-ada aja lah ya Nit :p

      Hapus
  6. Faktor yang mempengaruhi anak paling besar adalah keluarga, jika anak memiliki sifat yang dirasa negatif pandanglah latar belakang keluarganya. Wajarlah kalo kita ini memiliki sifat iri, karena orangtua kita sering membandingkan semua hal kepada orang lain. Misal, nilai matematika kita 6 dan nilai matematika B adalah 8. Orangtua kita akan berkata "kok kamu cuman dapat 6 sih, lihat itu B dia dapat 8" dan dari situlah lahir sifat iri. Kita juga perlu tau bahwa ketika kita dapat nilai matematika 6 belum tentu kita tidak cerdas/pintar, karena setiap anak diciptakan dalam ke-unikan masing masing. Btw, saya dulu dan sampai sekarang masih sering iri, ketika saya iri dengan seseorang, saya akan mencoba memujinya sehingga secara tidak langsung saya mulai mengakui kemampuannya dan mulai memudarkan sifat iri yang saya miliki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, komentarnya sungguh-sungguh luar biasa, makasih banyak nih :D

      Iya, begitulah... dari lingkup keluarga bisa dilihat juga, ya? Hm... bener juga sih, dulu gua waktu kecil kadang dibanding-bandingin sama sepupu yang lebih oke segalanya, sampe gua kesel dan baru pas dewasa jadi sadar, kalo setiap orang terlahir dengan keunikan masing-masing. Mungkin kita ga bisa mahir dalam bidang matematika atau ilmu eksak lain, tapi kita mahir dalam bidang seni, atau bidang lain.

      Wah, alhamdulillah kalo akhirnya bisa memudarkan rasa iri yang dimiliki dengan sebuah "pengakuan" akan keunggulan orang lain. :)

      Hapus
  7. Hmmm...... rasanya kamu buat artikel gini, hati kayak dirajam beberapa kali hahahahahaha.

    aku orangnya merasa iri disaat lihat temen punya sesuatu yang ga aku milikin, kayak "hidupnya enak.. ga seberantakan hidupku"...
    entah... apalagi kalau berhubungan dengan keluarga.. sampai akhirnya menerima sendiri keadaan keluarga sendiri gimana, dan akhirnya fun juga buat nerima secara 'lengkap' :)

    aku kalau udah iri malah ujungnya kepikiran sendiri, dan stress sendiri lalu bisa nangis hahahahah *anaknya labil banget ya*
    ujungnya kalau udah gitu kayak ga berdaya dan merasa ga se-spektakuler orang lain..

    sekarang pun lagi banget ngerasain hal itu.
    rasanya bercokol di dada "kok aku ga bisa kayak mereka" atau "kok aku ga seberuntung mereka ya, padahal udah berusaha sejauh ini...", tapi.... cuma bisa pasrah aja ujungnya.


    iri itu bikin capek. senewen sendiri. dan gampang banget skebawa kepikiran.
    walaupun kalau aku sih ga jadi dengki atau musuhin dan merugikan orangnya... hahahahaha

    cuma tetep aja....
    apa ya.... susah banget ya kalau ga iri, selalu aja ngerasain....
    tapi tetep harus sadar sifat jelek itu dari sejak dini,,, biar ga menggerogoti hati *langsung istigfar*



    duh masuk postingan kamu bikin aku kecolongan curhat. gawat.






    udah ah komennya

    hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, maaf Han kalo artikel gua bisa "merajam" hati lo :p sebatas nuangin pemikiran aja, syukur-syukur bisa dijadiin pelajaran.

      Gua juga dulu suka gitu Han waktu masih kecil. Namanya anak kecil, kalo lihat temennya lebih oke dari dia, pasti muncul iri, pengen jadi kayak temennya itu. Kalo ngga berhasil jadi kayak dia, ujung-ujungnya nyalahin keadaan orang tua, padahal kan keadaan setiap keluarga berbeda. Apa yang terlihat manis di luar, bisa jadi bermasalah di dalam. Dan apa pun keadaan keluarga yang kita miliki, kita harus ikhlas nerimanya, dan justru jadi tantangan untuk menjadikannya lebih baik.
      Duh, jadi ikut curhat juga nih :p

      Mudah-mudahan Han yang sekarang udah ga labil lagi ya kalo iri hehe. Come on, mungkin lo belum memahami sampe sejauh mana keunggulan yang lo miliki. One thing for sure: you're good at writing, so itu jadi poin yang bisa lo banggakan, bukan? Menulis bisa melatih kepekaan berpikir, dan seorang blogger harus bangga bisa berbeda dengan orang kebanyakan. Kita bisa punya aset di dunia maya, sementara orang lain belum tentu punya :)

      No more tears or sad, Han... you're just... different from others, cause we are different from others :)

      Kalo iri udah muncul, buru-buru istighfar dan berusaha ikhlas ngelihat pencapaian orang lain. Susah sih, gua juga belum tentu selalu berhasil ikhlas kok, tapi dicoba ngga ada salahnya, kan? Dan tanemin motivasi positif kalo kita bisa melampau mereka :D

      Haha, ngga apa-apa Han, comment curhat juga diterima kok disini :D

      Hapus
  8. topik pembahasannya berat banget nh, pas banget dengan relevansi kehidupan zaman sekarang. hahaha. rasa iri mungkin memang menjadi penghalang dari keengganan kita mengakui kecemerlaangan orang lain. tapi, kadang rasa iri dan enggan untuk mengakui itu justru dapat dikonversikan menjadi motivasi yang mengatakan kalau sebenarnya kita bisa lebih dari dia.

    Paling berat sih menurut saya adalah ketika memuji keunggulan orang yang tak kita kenal. kadang kalau kita puji, dibilang sok asik. kadang kalau nggak dipuji, dibilang iri. serba salah. mengkonversi rasa iri menjadi sebuah rasa kagum mungkin adalah jalan terbaik dari permasalahan ini. hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, padahal gua ngga mau jatoh ke pembahasan yang berat sih Jev, tapi mudah-mudahan masih bisa dipahami intinya ya :D

      Ya, bener banget bro, iri jadi penghalang kita untuk mengakui kecemerlangan orang lain. Nah, justru kalo bisa dikonversikan jadi motivasi "kita-bisa-lebih-dari-dia" itu luar biasa Jev. Semoga lo bisa mengkonversikannya ya :)

      Pake kata ganti "gue" "lu" aja biar lebih nyaman Jev :) panggil gua "Bayu" juga it's okay...

      Haha, iya juga sih Jev, paling berat kalo mesti memuji orang yang ga kita kenal. Akan ada kekhawatiran dicap sok asik, tapi ya... kadang dalam suatu momen kayak begitu, perlu pemahaman akan situasi, dan saat kita berhasil paham situasi terbaik, kita bisa kasih apresiasi. Kalo diberikan dengan tulus dan ga berlebihan, semoga ga berakhir dengan awkward dan terhindar dari cap "sok asik" :p

      Intinya, perlu peka dengan situasi dan kondisi. Dan gua setuju sama kata-kata lo: "mengkonversi rasa iri menjadi sebuah rasa kagum mungkin adalah jalan terbaik dari permasalahan ini" :D

      Hapus
  9. Dulu saya juga suka iri lihat teman berprestasi, walaupun depan dia kita kelihatan senang, ngucapin selamat dan segala macamnya, tapi jujur dalam hati kadang miris, aslinya pingin banget jadi kayak dia. Tapi bukannya kata orang iri tanda tak mampu, ya... sekarang mulai ngembangin yang menjadi kemampuan sendiri aja deh.

    Eh, betewe itu zaman kuliah udah pada gede kan ya, masih ada yang bersaingnya kayak gitu? ckckkc...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya apa yang diucapkan kadang berbeda dengan hati ya hehe. Di lisan A, tapi hatinya B. Well, kuncinya ikhlas. Insya Allah, kalo kita ikhlas lihat pencapaian orang lain, kita bisa mengubah iri jadi motivasi positif. Bener, bukan berarti iri tanda tak mampu kok, dan bener tuh, mulai ngembangin yang menjadi kemampuan sendiri aja. Ngembangin blog pribadi juga sebuah pencapaian khusus lho, and we should proud of it :D

      Iya, udah pada gede haha. Entahlah, masih ada aja yang bersaing kayak begitu. Jangankan di lingkup kuliah yang katanya berisi "maha"siswa, di lingkup kantoran yang diisi "profesional" aja persaingan tidak fair masih kerap terjadi.

      Hapus
  10. Wah. Untuk orang yang suka mengapresiasi tulisan orang lain kayak kamu, postingan ini rasanya bener-bener dari hati, Bay. Kamu menjiwai banget nulis gini. Aku juga sempat ada kepikiran buat nulis dengan tema begini. Tapi gimana ya, terlalu berat buat aku yang pengetahuannya nggak seluas kamu, punya pemikiran dan luas. Dan aku juga rasanya kayak nggak ngaca gitu. Seolah aku nasehatin orang, nyuruh orang buat ngapresiasi hasil kerja, bakat, atau karya orang lain, padahal aku sendiri belum bisa selalu mengapresiasi keunggulan orang lain :'D

    Menurutku guru model begitu juga bisa ditemui di rumah. Alias, orangtua. Kadang ada kan orangtua yang membanding-bandingkan anak satunya dengan anak yang lain. Atau membandingkan anaknya sendiri dengan anak tetangga. Mungkin niat mereka baik, buat ngasih motivasi dsb. Tapi ya gitu, caranya salah. Yang ada anaknya malah makin minder, dengki, bahkan ngerasa kalau orangtuanya nggak sayang sama dia. Eh gitu nggak sih. Hehehee.


    Untuk kejadian yang waktu kamu kuliah, aku juga pernah ngerasain waktu SMK. Ngeselin banget ya. Orang-orang kayak gitu pelit apresiasi. Padahal mereka pengen banget dapat apresiasi dari orang lain. Tapi mereka sendiri nggak mau bermurah hati buat kasih apresiasi ke orang yang jelas-jelas pantas dan patut ngedapatin. Menurutku kalau kita suka mengapresiasi keunggulan orang lain, kita jadi terlihat punya kepribadian yang hangat. Citra diri kita jadi baik di mata orang lain. Cuman ya bener kata kamu, Bay. Apresiasi harus datang dari hati. Harus tulus. Ntar jatohnya jadi kayak menjilat gitu ya kalau misalnya nggak tulus. :'D

    HUAAAAAA LAGU NO! Aku seneng banget kalau akhirnya ada lagu di note postingan kamu yang udah ada di playlist aku. Huahahaha. Langsung sorak sorai kegirangan. :D Lagu No ini keren yak. Aku suka nih sama lagu-lagunya Meghan yang sekarang-sekarang ini. Beda ssama yang waktu dia ngerilis My Future Husband, Lips Are Movin. Menurutku lagunya yang itu rada kekanak-kanakan. Trus nggak easy listening. Beda sama lagu No ini. Suaranya powerful gitu kan, Bay. Aaaaaaaak sukaaaaaaaa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Your comment is awesome Cha, as usual hehe :D

      Hehe, well... semoga apa yang gua tulis ini bisa jadi self-reminder, khususnya buat gua pribadi. Makasih udah dibilang "menjiwai", ini berusaha nuangin apa yang ngeganjel di pikiran kok :D
      Don't underestimate yourself, siapa tahu kalo ditulis dari sudut pandang seorang Icha Hairunnisa, malah ada sesuatu yang berbeda :)

      Bener Cha, lingkungan keluarga turut berkontribusi dalam hal ini. Waktu kecil pun gua kadang suka dibanding-bandingin sama sepupu yang lebih oke dari gua, sampe gua bingung, masa iya gua ga pernah terlihat unggul dari dia? Tapi ya itulah, semoga ke depannya kita ngga begitu ke keluarga kita sendiri. Seorang anak kecil akan mudah menyerap apa yang dia pelajari semasa kecil, apa yang dia rasakan dan alami.

      Pernah ngalamin juga Cha pas SMK? Hm... dijadiin pelajaran aja, kita ga tahu nasib akan membawa kita kemana, kan? Bisa aja mereka yang dulu pas SMK pelit apresiasi, ternyata mereka sekarang sadar bahwa hal-hal semacem itu perlu. Iya Cha, harus dateng dari hati. Tulus dan jujur :)

      Wah, lo juga suka Meghan Trainer yang "No"? Haha, bisa samaan playlistnya berarti. Dan emang lagu ini keren kok, keren banget. Unsur popnya ngga menye-menye, dan ya, bener kata lo, sebagian lagu di album sebelumnya terkesan kekanak-kanakan. Yang "No" ini lebih strong hehe. Meghan punya suara yang mantap. Powerful. Oke lah pokoknya :D

      Hapus
  11. Gua koment ah...
    Hahahaha....


    Emang bener IRI bisa menggerogoti pikiran, tapi disamping itu IRI juga bisa memacu motivasi bro...

    Good luck....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan bro, dengan senang hati comment lo siap gua tampung kok. Haha :D

      Yap, itu sisi ekstremnya. Iri bisa menggerogoti pikiran, apalagi kalo lagi dalam kondisi mental lemah, bisa-bisa yang ada negative thinking mulu bawaannya. Padahal belum tentu kan orang yang kita remehkan itu bersikap demikian, bisa jadi memang dia mencapai keunggulan berkat perjuangan keras :)

      Hapus
  12. Gua koment ah...
    Hahahaha....


    Emang bener IRI bisa menggerogoti pikiran, tapi disamping itu IRI juga bisa memacu motivasi bro...

    Good luck....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, gua setuju sama lo, di sisi lain, iri bisa memicu motivasi. Iri pasti dateng kok, cuma sekarang tugas kita kan mengubahnya menjadi hal positif, menjadi motivasi untuk bisa lebih baik. Harus terus dipupuk sama pikiran positif. Be a better person. :)

      Good luck to you too, Rio. Makasih udah mampir & comment disini :D

      Hapus
  13. Daripada Ber iri ria, mengapa kita tidak menganggap seseorang yang lebih pintar itu bukan merupakan hal yang istimewa. Bisa jadi kita dalam bidang lain bisa unggul daripada dia yang kita irikan.
    Karena Einstein (Kalo nggak salah) pernah bilang, kalo sebenernya nggak ada orang yang paling pintar. Semua orang pintar, namun dari berbagai sisi. Tinggal kita mau mengasah kemampuan kita.

    Mungkin si A jago Matematika sedangkan kita tidak, namun kita jago dalam urusan Asmara, sedangkan si A Jomblo dari rahim. Kan siapa tau.
    Orang unggul di satu sisi, dan lemah disisi lainnya.
    Muehehe, itu sih prinsip gue biar nggak gampang irian Bay.

    Untuk masalah kelompok B itu bener2 parah dah, mereka nggak pernah belajar arti kata sportif dan apresiasi apa.
    Kalo punya temen kek gitu, mending putus pertemanan deh. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Ka, setuju. Bisa jadi dalam bidang lain, kita lebih unggul daripada orang lain yang bisa bikin kita iri.

      Quote dari Einstein itu keren... dia yang udah terbukti cerdas aja bilang begitu ya. Semua orang pintar, namun dari berbagai sisi. Nah, tugas kitalah untuk nemuin sisi keunggulan masing-masing. Allah Maha Adil kok, semua manusia diberi kesempatan sama untuk berkembang dengan jalannya masing-masing.

      Iya Ka, iya, siapa tahu haha. Analogi lo bener kok. Bisa aja orang lain yang kita anggap sosok paling kompeten, mereka punya sesuatu yang "kurang". Namanya manusia kan ada plus minusnya :D
      Prinsip lo oke juga nih, biar meredam rasa iri lebih lanjut.

      Semua orang di kelompok B gua yakin tahu tentang sportifitas dan apresiasi, sayangnya mereka dibutakan sama nilai dan penghargaan lain. Jadi ya... begitulah. Haha, waduh, ngga usah sampe putus pertemanan Ka :p

      Hapus
  14. Duh, menjatuhkan kelompok lain dengan memberikan nilai buruk? that's not fair enough for me. Bukan begitu seharusnya sih. Kalau saya berada di posisi dosen saat itu, mutlak penghargaan pemenang akan saya berikan kepada kelompok A. Jelas dan tidak bisa diganggu gugat hehehe.

    Ewh, begitu ya mas kalau di dunia kerja? Hm mungkin karena sejatinya hidup ini selalu menghadirkan perlombaan. Berlomba dalam hal kebaikan. Ingin menjadi yang terbaik. Namun yang sangat disayangkan adalah apabila "the way to achieve" nya salah, maka hal tersebut bernilai sia-sia menurut saya.

    Kalau saya pribadi, mau. Suatu ketika pernah menjadikannya rasa kagum sebagaimana yang Mas Bayu katakan di atas. Saya malah termotivasi untuk bisa meraih hal yang sama bahkan kalau bisa lebih dari apa yang telah diraihnya.

    Keep inspiring, Mas Bayu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah Diw. Mungkin mereka pikir dengan memberi nilai buruk, mereka bisa jadi yang terbaik. Tak apalah, semoga mereka ngga melakukannya ke orang lain di masa mendatang :)

      Iya, dunia kerja kurang lebih begitu, setiap tempat berbeda bentuk "iri"nya, tapi konsepnya sama kok haha. Kadang kita ga bisa yakin bener siapa yang bisa kita percaya. Kadang justru setelah masuk dunia kerja, ada orang-orang yang berubah mengikuti alur tidak baik tersebut. Tapi masih ada orang baik kok di luar sana, tenang aja... dan alhamdulillah sih saat ini gua bisa nemu beberapa temen di kantor yang bisa dipercaya. Langka, tapi masih ada kok :)

      Bagus kalo lo mau. Sip, paling baik emang menjadikannya rasa kagum dan motivasi untuk lebih maju, kalo ditimbun jadi rasa iri... wah, susah urusannya.

      Sip, makasih ya udah mau mampir dan comment disini :D

      Hapus
  15. iri adalah salah satu dari sifat dasar manusia.

    tak selalu berkonotasi negatif, memang. misalnya karena dimaksudkan untuk men-challenge diri sendiri sekaligus trigger untuk mau beraksi sehingga bisa memperoleh seperti apa yang telah diraih oleh sesiapa yang di-iri-nya tadi.

    dan itu wajar.

    yang tidak boleh adalah dengki. menaruh amarah dan rasa benci karena perasaan iri yang teramat sangat atas apa yang diperoleh orang lain.

    enggan mengakui keunggulan orang lain ini bisa termasuk salah satu cirinya.

    artikel yang sangat bagus bray.. i like it.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Bener banget bro. Iri adalah salah satu sifat dasar manusia. Mungkin terlihat buruk, namun sebenarnya justru menjadi pemicu semangat untuk terus maju, dengan catatan iri tersebut bisa dikelola dengan baik.

      Setuju. "Men-challenge diri sendiri sekaligus trigger untuk mau beraksi..." wah, keren nih kalimatnya :D
      Ini bisa dibilang bentuk iri yang positif. Apakah kita bisa mewujudkannya? Semoga.

      Dengki itu sisi buruknya. Sayang, inilah yang membawa aura negatif di tengah masyarakat ya. Jika satu orang merasa iri pada orang lain, maka dipastikan aura yang ditimbulkan akan selalu bermuatan negatif.

      Thank you bro. Makasih banget udah mampir kemari. Gua baru menyempatkan diri ngelirik blog lagi nih hehe :p

      Btw, kok susah ya nemu kotak comment di blog prajuritkecil? Apa dinonaktifkan?

      Hapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.