Semua Pekerjaan Membutuhkan Ilmu

Image source: minimalissimple.com

"The only way to do great work is to love what you do" -- Steve Jobs

Saat kecil, tentu banyak diantara kita yang menginginkan sebuah profesi yang membanggakan: presiden, pilot, dokter, polisi, tentara, dan lain sebagainya. Kenangan masa kecil menyatakan bahwa guru adalah profesi yang saya inginkan saat itu, kemudian berangsur bertambah menjadi jurnalis, psikolog, arsitek, seniman atau arkeolog (namanya impian tidak bisa kita kekang kemunculannya, kan?). One thing for surememimpikan suatu profesi dan mewujudkan keinginan tersebut adalah dua hal yang jelas berbeda, meskipun tindakan "mewujudkan" bisa bersumber dari "keinginan" yang kuat. Realita kehidupan bisa membuat kita terpaksa "menyesuaikan" semua impian masa kecil dengan keadaan. 

Bukan berarti semua orang terpaksa menyesuaikan lho. Ada yang masih terus bertahan dengan keinginannya, dan sejalan dengan kegigihannya mewujudkan keinginan itu, maka akhirnya dia pun mendapatkan profesi yang dia inginkan. Selamat untuk mereka yang berhasil mendapatkannya. Dalam kasus saya, saya adalah pihak yang tidak seberuntung itu. Kondisi keuangan membuat saya harus "menyesuaikan" jenjang pendidikan yang ditempuh, dan membanting setir ke arah profesi yang tidak sesuai dengan minat, yakni akuntansi. Kenapa harus akuntansi? Karena setelah dipertimbangkan dengan masak oleh keluarga (orang tua dan kakak), ilmu itu yang "katanya" cocok untuk saya.

Keluarga berharap bahwa pendidikan yang saya tempuh akan memudahkan saya mencari pekerjaan di ibukota yang katanya kejam ini, ibukota yang selalu menjadi tolak ukur bagi daerah lain. Hipotesa mereka ada benarnya, tapi satu formula ajaib harus ditambahkan ke dalam hipotesa tersebut, yakni "mencintai ilmu yang digeluti".

"If you happy in what you're doing, you'll like yourself, you'll have inner peace" -- Johnny Carson

Lagi-lagi, saya tidak seberuntung mereka yang benar-benar mempelajari akuntansi atas dasar rasa suka (apa sih asyiknya menghitung dan mengolah laporan keuangan sedemikian rupa, pikir saya saat itu). Saya mendalami ilmu untuk jangka pendek, untuk sekedar lolos UTS atau UAS (kampus saya tergolong ketat dalam menjaga nilai mahasiswa, dan ancaman DO membayangi jika kita lengah), tapi tidak menginginkannya untuk jangka panjang, sehingga ujian yang berhasil saya lalui selama beberapa semester hanya mampu dirasakan manisnya beberapa saat, setelah itu banyak yang hilang. Ilmu yang saya raih tidak semuanya saya simpan dalam memori jangka panjang.

Alhasil, saat berjuang mencari pekerjaan dengan menyandang status "fresh graduate", saya kalah dengan teman-teman seangkatan yang dengan cepatnya memperoleh tempat di perkantoran yang menghiasi ibukota, dan banyak yang sudah dipekerjakan oleh sebuah perusahaan sebelum mahasiswa itu sempat melempar toga ke udara, atau bahkan ada yang sudah dilirik oleh perusahaan sebelum mahasiswa itu tahu betapa menakutkan dan melelahkannya mengikuti sidang akhir! (iri hati jelas menghampiri saya saat itu). Saya tidak seperti mereka.

Butuh usaha ekstra keras hingga akhirnya nama saya dimasukkan ke dalam daftar nama karyawan sebuah perusahaan. Saya sungguh senang, meskipun pekerjaan awal saya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Terima dan jalani dulu saja, pikir saya saat itu. Menjalani pekerjaan awal itu membuat saya mendapat banyak pengalaman berharga seputar "rimba" dunia kerja, khususnya dunia kantor, yang mana sikut-menyikut antar karyawan terjadi dan dipertontonkan dengan cerdas dan licik. Semua orang ingin dipandang, hampir semua orang mengedepankan ego masing-masing, sama seperti yang sering ditulis oleh Sidney Sheldon dalam novel-novelnya yang penuh tipu muslihat, atau novel hukum karangan John Grisham. Uang mampu merobohkan norma etis. Jujur, saya tidak sanggup mengikutinya. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari pekerjaan lain. 

"You are always a student, never a master. You have to keep moving forward" -- Conrad Hall

Moving forward. Itulah yang saya lakukan. Alhamdulillah kantor berikutnya (kantor saya saat ini) menyediakan (hampir) segala hal yang sesuai dengan landasan agama, juga sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Apakah lantas pekerjaannya mudah? Tentu tidak. Pada masa-masa awal bekerja, saya menyadari bahwa saya belum menguasai logika ilmu yang seharusnya dikuasai. Saya merasa bodoh. Mengolah laporan keuangan tidak lagi untuk kepentingan lolos ujian akhir semata, melainkan berpengaruh pada pihak yang membacanya untuk kepentingan bisnis. This one is real, man! You can't just skip something that you don't know, but you have to face it, for real! Kalau dalam ujian, kita bisa melewati soal-soal yang sulit, tapi kali ini tidak! 

Tuntutan tetap ada, pressure semakin muncul seiring berkembangnya perusahaan, dan mau tidak mau saya harus menyesuaikan diri, atau tersingkir dengan yang lebih pintar. Saya pernah berada dalam kondisi dimana saya hampir menyerah total karena tidak sanggup menguraikan masalah dengan logika saya yang tidak secemerlang logika atasan, membuat saya terpuruk dan bekerja setengah hati. Saya memimpikan profesi lain yang terlihat lebih indah. Apakah saya salah memilih jurusan? Apakah saya seharusnya banting setir lagi mendalami ilmu lain dan beralih profesi?

Pilihan saya hanya ada dua: bertahan atau keluar. Bertahan adalah pilihan aman, namun saya harus mencari cara agar bertahan tanpa rasa kesal. Saya teringat film "The Devil Wears Prada", dimana si cantik Anne Hathaway harus berjuang menjadi asisten seorang editor in chief majalah fashion terkemuka. Anne berhasil menemukan formula jitu menghadapi tekanan pekerjaan, yakni menjadi "bagian" dari lingkungan kantor itu, memahami ilmunya dan pantang menyerah. 

Saya mulai mencoba mendalami logika yang sebelumnya tidak saya kuasai melalui diktat kuliah, mencari via internet, dan berdiskusi dengan rekan kerja. Saya juga memberanikan diri berkonsultasi dengan atasan mengenai permasalahan yang ada. Saya selalu khawatir jika dia akan menganggap saya bodoh, namun kini saya kesampingkan segala pikiran negatif itu. Biarlah dianggap bodoh awalnya, toh saya mencari solusi. Perjuangannya cukup sulit, namun kini sedikit demi sedikit menampakkan hasilnya. Deretan angka masih menjadi hal yang memusingkan dan membuat stres, namun saya tahu beberapa trik untuk mengolahnya. Mungkin beberapa rekan kerja menganggap saya mencari muka atau memandang sinis pencapaian saya, namun semua pekerjaan ada risikonya. 

Begitulah. Ternyata dengan mendalami ilmu terkait pekerjaan saat ini, saya merasa menjadi "bagian" yang penting dalam tim, dan itu membantu saya untuk menyukai profesi yang saya jalani saat ini.

Mendalami ilmu, dalam bidang apapun yang sedang kita tekuni saat ini, adalah sebuah faktor krusial untuk perkembangan diri ke depannya. Bagaimana kita mau merengkuh kesuksesan kalau tidak mengetahui ilmunya? Banyak cara memperoleh ilmu saat ini, entah melalui perantara orang lain secara langsung atau perantara media internet. Apapun itu, yakinlah bahwa menuntut ilmu tidak akan sia-sia. Untuk kalian yang masih menjalani proses menempa ilmu melalui jalur pendidikan resmi, jangan pernah sia-siakan kesempatan emas tersebut. Untuk yang sudah tidak lagi mengenyam pendidikan resmi, masih ada jalan lain untuk memperoleh ilmu, apa saja, melalui apa pun.

Seorang teman pernah berkata kepada saya: "Setiap pekerjaan yang tidak didasari dengan ilmu, ngga akan berhasil." Ya, kutipan dia sungguh benar. Kita adalah generasi yang disediakan teknologi untuk menunjang segala kegiatan, termasuk menuntut ilmu. Jangan pikirkan dulu apakah ilmu itu akan berguna untuk profesi kita saat ini, karena apa yang kita anggap remeh sekarang, belum tentu remeh untuk masa depan. Ilmu tidak akan pernah sia-sia, dan teman saya itu pun kembali menegaskan dengan sebuah pernyataan: "Kalo punya ilmu, ngga usah takut jadi orang susah."

Gunakan semua celah untuk menuntut ilmu. Untuk kalian yang belum mendapatkan profesi yang sesuai, perdalamlah ilmu di bidang yang kalian geluti, atau justru bidang lain yang kalian senangi. Cari sisi menarik dari ilmu/profesi yang sedang kalian jalani, apapun itu. Ambil kursus tertentu untuk menambah skill. Saya tidak membeda-bedakan profesi kantor dan non-kantor, karena profesi kantor pun tidak menjamin kesuksesan menaklukkan ibukota. Semua profesi adalah bagus sepanjang tidak merusak norma yang ada. 

"Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever" -- Mahatma Gandhi

Menjadi seorang blogger juga bukan berarti menyepelekan ilmu di baliknya. Blog yang saya bangun ini pun masih dalam proses belajar, dan tanpa sadar, semua blogger di luar sana menjadi mentor saya, baik secara langsung maupun tidak, dari awal hingga sekarang. Jadi, melalui artikel ini, saya ingin berterima kasih kepada kalian semua :-)

Mari, jangan pernah berhenti belajar!

-Bayu-



Note: Kekuatan musik The S.I.G.I.T mampu membangkitkan semangat dan membuat otak saya mengatur susunan kata demi kata. Cadas sekaligus indah dalam waktu yang bersamaan. Band lokal pengusung garage rock asal Bandung ini memiliki single berjudul "No Hook" yang sungguh tidak mudah dilupakan dalam jangka waktu lama. Lagu ini mengiringi saya dalam proses menulis.

Image source: en.wikipedia.org


44 komentar

  1. Gue kok ketawa pas baca ini, ya: "Apa sih asyiknya menghitung dan mengolah laporan keuangan sedemikian rupa, pikir saya saat itu."

    Soalnya dari dulu emang nggak suka Akuntansi. Mending gue disuruh jualan deh. Malu-malu nawarin ke orang-orang, daripada ngitung begitu. :D

    Anjir, Devil Wears Prada kan film jadul banget. Gue aja lupa jalan ceritanya. XD

    Well, semua ilmu emang bermanfaat. Tapi nggak semua ilmu perlu kita kuasai. Ehehe. Hm... gue juga masih belajar nih jadi blogger yang tulisannya bisa bermanfaat buat orang lain. Apalagi sekarang lagi memulai dari awal dengan domain yang baru. Masih aja promosi, Yog! Wqwq.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, begitulah Yog. Jujur, dulu gua nganggep ilmu akuntansi sebegitunya. Tapi sekarang ngga lagi, dan gua yakin semua ilmu akan ada gunanya, apapun itu.

      Kalo lo malah mending disuruh jualan ya daripada belajar akuntansi? Haha. Gua malah lemah di jualan Yog, ngga jago nawarin ke orang-orang :p

      Belom terlalu jadul kok filmnya haha. Pesan positif di film itu bisa diaplikasiin untuk di dunia karir.

      Kalo seorang Yoga aja masih dalam proses belajar, apalagi gua yang masih awam ini, ya? :D Sip deh, seluk-beluk dunia blog emang mesti terus diperdalam, terutama ilmu menulis. Wah, langsung diaplikasiin nih ilmu jualannya (promosi blog) haha. Tahu kok, tahu, domain barunya akbaryoga(dot)com, kan? Memulai dari awal cuma proses yang mesti lo laluin kok Yog, yakin deh ke depannya blog lo itu bisa lebih sukses dari domain yang sebelumnya. Semangat! :D

      Hapus
  2. saya setuju, semua yang dilakukan tanpa ilmu akan berujung pada bencana, misalnya naek motor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, kalo ngga punya ilmunya malah bisa merusak apa yang seharusnya lancar. Dalam kasus ekstrem, bisa berujung bencana, kayak contoh yang lo kemukain: naek motor. Kalo ngga ada ilmunya mah udah pasti bencana :p

      Hapus
  3. bener banget bro, setiap pekerjaan butuh ilmu dandisitu kita bisa ambil hikmah bahwa pekerjaan sekecil apapun atau se sederhana apapun butuh juga yang namanya ilmu. Kita tidak bisa langsung praktekkan hanya dengan bilang "ahh, itu mah gampang" tanpamemikirkan bagaimana caranya.

    Saya setuju sekali dengan pemikiran lu sob, saya suka gaya penulisan dan ide tulisan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Bim, sesederhana apapun pekerjaan itu, butuh yang namanya ilmu. Kalo ngga ngedalemin, ya kita ngga akan tahu sebenernya apa yang sedang kita lakuin. Memikirkan "how to" itu emang penting banget ya, dan sumbernya pun bisa dari mana aja.

      Wah, alhamdulillah. Thanks Bimo, gaya penulisan lo di blog juga keren kok :D

      Hapus
  4. Andai aku baca ini pas masi jadi professional, beugggghhh bakal nampol kenceng di hati wkwkkwk...yang kamu uraikan bener banget bayu,..sumpah ampe keabisan kata kata saking brilliantnya kamu menyampaikan opini ini

    Ah lagi2 gue terpesona dengan artikel ala motivasi yang seharusnya nongkrong di kolom motivator sebuah harian ibu kota..atau yang kayak di majalah bisnis tempat gue kerja,.,cucok banget ini mah hihihi

    Mimpi memang sejatinya tidak akan pernahbmau terkekang. Ia bebas bermetamorfose seuai dengan sikon dan perkembangan diri seseorang. Ya meski ada yang ideal saklek harus kudu jadi profesi 'ini' dan akhirnya kesampean..

    Tapi kebanyakan dari kita, utamanya yang masi pada daun-muda ini pada kenyataannya akan dicemplungkan dulu ke bidang yang seolah-olah baru sebatas latian...
    Kerasnya lingkungan kerja kudu kita selami sehingga pada proses selanjutnya mental kita bakal ketempa, kokoh, walo kadang kalo nemu lingkungan yang bener bener memuakkan pada akhirnya ga tahan juga, xixixiix

    Dan bener banget apa kata kamu, semua pekerjaan akan selalu butuh ilmunya, even itu pekerjaan yang dijalankan oleh si 'kerah biru'. Dan akhir akhir ini aku jadi makin paham kehidupan bahkan penjahitpun bisa jadi sesukses itu dan mendapatkan banyak pelanggan ya karena nguasain ilmunya

    Petani semangka, bisa panen raya trus sukses dagang juga ada seni ilmunya dalam hal bercocok tanem...even montor, teknisi,,,semuanya dah ahahaha

    Dan pada akhirnya semakin kita tahu kenyataan itu semakin pula kita menjadi ilmu padi, yang makin berisi, makin itu pula dia menunduk..

    Good article di minggu siang jelang senin Bay,,,,, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, baca comment ini kok berasa melayang ke langit ketujuh :D
      Makasih Nit, toh tulisan ini semata nuangin apa yang ada di kepala, syukur-syukur bisa dijadiin perenungan atau diambil hikmahnya ama pembaca.

      Wow, gua setuju sama pemikiran lo Nit. Ada lho yang memilih profesi harus yang "A", ngga bisa yang "B", soalnya yang "A" itu tuntutan orangtua, atau tuntutan lingkungan. Kalo ngga ikut lingkungan, kesannya mengecewakan. Begitulah. Padahal di zaman modern ini begitu banyak pintu sukses terbuka untuk orang-orang yang memang tahu celahnya mencari sukses, bukan semata ikut profesi yang sering wara-wiri ditawarkan di kolom lowongan kerja. Gua akan salut sama orang-orang yang memang paham perkembangan zaman dan mengambil untung dari situ, celah yang belum semua orang ambil. Gua punya temen yang kayak begitu.

      Dunia kerja (khususnya kerah putih) itu emang "wah" banget deh untuk menempa mental seseorang, dari dunia kerja kita tahu rasanya mencari duit dan bersosialisasi dengan orang-orang yang juga mencari duit. Selanjutnya adalah proses eliminasi alami, dimana yang bertahan akan maju dan yang ngga bertahan akan berhenti atau mencari peruntungan lain. Apapun itu, toh semua pekerjaan ada jalur suksesnya sendiri, mau kerah putih atau kerah biru.

      Bener Nit, penjahit pun kalo nguasain ilmunya, bisa sukses ngembangin bisnis. Bukan semata ilmu menjahit, tapi dia mesti mendalami ilmu pemasaran, keuangan, komunikasi, dan sebagainya. Atau kayak contoh-contoh yang lo kemukain: petani semangka, teknisi, dll...

      Ah bener Nit, ilmu padi itu mesti diterapin kalo kita semakin mendalami ilmu, karena ilmu itu luas banget banget, baik ilmu dunia maupun akhirat.

      Thanks Nit, thank you very much for your comment :D

      Hapus
  5. Yaaa alloh komenku banyak typonya, wkwkwkkw,,,hapunten bay, ngetiknya pake tablet dan saking antusiasnya buat komen xixixiix

    BalasHapus
    Balasan
    1. It's okay Nit... haha, saking antusiasnya ya? Duh, what an effort... thank you :D

      Hapus
  6. Iya bener Bay, bokap gue juga begitu "semua ilmu pasti ada manfaatnya" kalo enggak sekarang insya allah nanti pasti ke pake kok :)

    Kejam memang dunia karir, gue juga liat dengan mata kepala gue sendiri temen sekantor gue saling sikut satu sama lain meskipun dengan cara yang paling alus, walhasil membuahkan salah satu temen gue itu resign :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Vir, kalo misalnya itu ilmu ngga kerasa manfaatnya sekarang, yakin aja suatu saat pasti akan bermanfaat. Jadi memang punya suatu ilmu ngga akan sia-sia deh.

      Haha, begitulah Vir dunia karir, especially white collar, atau kerah putih. Hmh, kalo sikut menyikut gitu suka miris ya ngelihatnya, gua ngga ngebayangin apa rasanya "menyikut" orang dalam dunia kerja, apa iya dia ngga merasa bersalah?
      Duh, kasihan juga Vir temen lo itu ampe resign gara-gara kena "sikut" :(
      Semoga kita masih tetep bisa ngejalanin prinsip kerja yang beretika ya.

      Hapus
  7. Bener, Bay. Memimpikan dan mewujudkan itu beda. Dan alangkah beruntungnya orang yang bisa mewujudkan yang dia impikan, bukan menyesuaikan diri dengan realita kehidupan. Hiks. Ngetik kalimat barusan, aku jadi rada sedih. Banyak impian yang terpaksa gagal diwujudkan karena menyesuaikan diri. :(

    Dulu aku waktu kerja juga ngerasa down, Bay. Kerjaan nggak sesuai sama passion. Alhasil kerjanya jadi setengah hati. Tapi ngelihat dari teman kerjanya yang baik-baik, yaudah aku betah-betahin. Belajar terus. Baca perjuangan kamu dalam menghadapi kesulitan kerja bikin aku jadi keingat waktu masih kerja dulu. Lebih baik begitu ya, Bay. Nggak diam aja kebingungan sendiri. Lebih baik dikasih tau pas kita bertanya, daripada dikasih tau pas kita ngelakuin kesalahan. Dikasih tau pas ngelakuin kesalahan tambah bikin kita kelihatan bodoh daripada bertanya. Aku sering banget dikasih tau karena salah soalnya. Huhuhuhuhu.

    Devil Wears Prada keren ya. Aku suka banget sama akting Meryl Streep. Nggak perlu ngeluarin omelan dengan suara cempreng ala ibu-ibu di sinetron, dia udah nampilin kecerewetan ala wanita karier dengan nada bicara slow-nya. Belum lagi sama sifat perfeksionisnya yang tinggi. Huhuhu. Sedih banget jadi Anne Hathaway.

    Aku jadi ingat tontonan dulu. Judulnya The Apprentice Asia. Mungkin kamu udah pernah nonton atau bahkan suka. Acara itu bikin semangat buat menyukai pekerjaanku, buat bertahan dengan persaingan, buat nggak cengeng dalam ngehadapin kerasnya dunia kerja yang nggak pandang umur. Di tiap episodenya banyak ilmu yang bisa didapat para peserta dan para penonton juga. Dan bener, kalau punya ilmu, nggak usah takut jadi orang susah. Kalau orang kaya tapi nggak berilmu, hartanya pasti cepat atau lambat bakalan habis untuk hal-hal yang nggak berguna. Nggak bisa mengelola kekayaannya dengan baik.

    Postingan yang memotivasi, Bay. Juga bertaburan banyak quote keren. :) Untuk lagu, aku belum pernah dengar. Cuman akhirnya aku makin yakin, kalau kamu itu memang pecinta musik sejati. Omnivora lagu kalau kata aku. Semua jenis musik dilahap :D Oh iya, wawasan kamu yang luas akan musik, film, dan novel juga menjadi hal yang berguna. Khususnya buat aku. Ilmu itu nggak harus dalam bentuk akademik, tapi juga dari hal-hal kayak gitu. Ilmu itu beragam bentuk dan kegunaannya. Eh iya nggak sih. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. The SIGIT itu musik cadas, Cha. Wajar kalo cewek nggak tau. XD

      Hapus
    2. Eh iya ya, Yog? Bahaha. Aku makin yakin kalau aku cewek tulen sejati anggun karena nggak tau The SIGIT :'D

      Hapus
    3. Comment lo mantep Cha, jadi tambah bahagia :D

      Memimpikan dan mewujudkan mimpi. Hmh, pasti banyak kok Cha yang belum bisa mewujudkan impian, gua sendiri pun begitu. Tapi Allah masih memberi kita umur, artinya Allah masih mau kita berusaha mewujudkan impian itu. Yakin. Jangan sedih Cha :)

      Wah, samaan dong kita ya. Pernah ngerasain kerja setengah hati. Sumpah, itu kondisi yang ngga enak banget. Gua malah pernah didiemin sekitar satu bulan, ngga dapet kerjaan apa-apa dari bos, cuma disuruh "beradaptasi" dulu, sementara rekan yang lain berjibaku dengan pekerjaan eksklusif mereka, dan kadang gua cuma disuruh "fotokopi, nganterin dokumen, nyiapin kertas di printer, dll" :(
      Iya Cha, malu bertanya sesat di jalan itu bener banget. Gua selalu kuat-kuatin mental kalo udah dilirik sama atasan atau rekan kerja pas gua nanya sesuatu yang seharusnya gua tahu. Mereka mungkin mikir, "ini orang kayak begini aja ngga tahu?"

      Tenang Cha, untuk dijadiin pelajaran aja berarti pengalaman lo. Melakukan kesalahan itu sama aja dapet ilmu baru: bahwa kesalahan itu tidak seharusnya terjadi, dan pasti ada solusinya :)

      Iya, akting Meryl Streep di film itu oke banget. Dia bisa menunjukkan kekuasaannya lewat mimik muka yang menyatakan, "I'm the boss here, you're just my staff, so do what i say!"

      Haha, duh, gua malah belom pernah ngikutin The Apprentice Asia :p keren ya acaranya?
      Yap, kalo punya ilmu ngga usah takut jadi orang susah. Analogi "orang kaya" yang lo kemukain bener tuh.

      Thank you Cha :D
      Haha, omnivora lagu ya... sebatas yang gua suka & dengerin aja kok Cha, masih banyak yang belom gua eksplor.
      The SIGIT itu keren aliran musik rock-nya, keren banget malah. Mereka pun udah go international.
      Hehe, duh jadi makin bahagia baca comment lo ini. Iya Cha, kurang lebih begitu. Menurut gua, ilmu ngga harus dalam segi akademis, karena wawasan umum pun ilmu juga. Tulisan lo di blog pun juga menyampaikan ilmu kok, banyak wawasan budaya populer yang lo share di sana :D

      Hapus
    4. Yoga: Haha, cadasnya elegan Yog, ngga yang "dark" banget, jadi The SIGIT ini kerennya luar biasa. Iya sih, dari semua cewek yang gua temuin, yang tahu The SIGIT bisa dihitung pake jari :p

      Hapus
    5. Icha: Haha, untuk The SIGIT mungkin lo ngga tahu, tapi lo tahu Skrillex, keren itu :D

      Hapus
  8. Wow iya betul mas segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas pasti harus dibarengi dengan ilmu kalau tidak yang hasilnya juga tidak akan sesuai dengan keingginan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yo'i, akan sangat bermanfaat kalau kita melakukan aktivitas didasari dengan ilmu, yang mana hasilnya pun akan sesuai dengan keinginan kita :)

      Hapus
  9. BUset... THE SIGIT bisa nambah kreativitas lo yu? Keren.... Musik keras gitu bisa, ya? Emang bener, setiap orang punya cara tersendiri untuk bisa melakukan sesuatu dengan senang.

    Apa yang lo tulis ini gue setuju semua. Karena, jelas ini berurusan dengan Pengalaman. Gue yang masih baru taman bulan kemaren, tentu pengalamannya masih cetek banget dan harus banyak belajar.

    Ya, mungkin dengan membaca ini gue jadi belajar bahwa : Apapun ilmunya, jangan lihat tentang fungsinya, tapi lihat ia akan dibutuhkan di masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya nih Her, entah kenapa musiknya The SIGIT malah bisa bikin gua lancar dalam merangkai kata kali ini. Toh musiknya masih nyaman untuk dicerna kuping, jadinya enak aja didengerin sambil nulis. Yap, setiap orang emang punya cara tersendiri untuk melakukan sesuatu dengan senang :)

      Wah, thanks atas persetujuannya. Ah, pengalaman gua masih minim, tapi ya... at least gua udah ngalamin pahitnya, jadi gua bisa share di sini. Entah ke depannya kejutan apa yang akan gua alamin.
      Oya ya, lo kan baru jadi Sarjana Pertanian. Congratulation! :D
      Gua pun masih dalam proses belajar kok, selalu, ngga pernah berhenti, karena perkembangan zaman menuntut kita untuk terus belajar beradaptasi, khususnya di profesi gua saat ini.

      Wow, keren quote-nya: jangan lihat fungsinya, karena mau gimana pun juga, sebuah ilmu pasti akan berguna bagi kita :D

      Hapus
  10. Bener juga yah bro,,, tapi kayaknya kalau Saya pribadi masih nyari - nyari,, belum pas, mau apa dan pengen apa,,, yah masih ikut - ikutan orang... xexexe,,,
    Memang ilmu itu penting,, apalagi sekarang katanya orang asing bisa bebas bekerja ke indo,, yah tentunya SDM nya juga harus oke dan siap bersainglah.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan Kang dicari-cari dulu apa yang bisa membuat kita nyaman dalam hal pekerjaan. Meskipun awalnya ikut-ikutan orang, tapi semoga ke depannya udah bisa mantepin hati untuk milih mana yang cocok sama kita. Selalu ada sisi unik dalam suatu hal, kalo bisa kita temuin sisi unik itu dan kita menyelaminya secara ikhlas, insya allah semuanya lancar deh :D

      Iya, saat ini persaingan makin ketat dalam memperebutkan lapangan pekerjaan. Saingannya bukan lagi SDM lokal, tapi melebar ke SDM internasional, paling deket adalah negara-negara tetangga sendiri. So, kita mesti bersiap untuk itu :)

      Hapus
  11. Astagaaaa. Baca ini aku jadi ngerasa kena tampar bang. :(
    Aku ngerasa nyesal udah menyia-nyiakan ilmu yg aku pelajari selama 3 tahun. Memang sih, waktu SMK aku masuk di jurusan itu atas dorongan keluarga. Akhirnya aku terpaksa berada di tengah-tengah orang yang memang jago di jurusan IT.
    Aku sama sekali nggak menikmati ilmu itu. Apa yang disampaikan guru, hanya sekedar aku hafal mati untuk persiapan jawaban ujian. Hanya itu. Huhuuuu

    Tiga tahun yang sia-sia.
    Untungnya saat ini aku kerja sebagai adm. Di pekerjaan aku yg skrg ini nggak terlalu menerapkan ilmu IT yg aku pelajari saat sekolah dulu.
    Soalnya waktu sekolah, IT yg aku pelajari itu 70% hardware komputer.

    Alhamdulillah saat ini aku sedang kuliah di jurusan yang sama dengan pekerjaan yang aku geluti.

    Bener-bener deh ini tulisan. :)) Bikin aku sadar dan semakin semangat untuk kerja juga kuliah.

    Terenyuh bang. Beneeer banget. Semua pekerjaan membutuhkan ilmu. Nggak boleh nganggap remeh ilmu :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, sampe ngerasa kena tampar, Lan? :p
      Jangan nyesel, ayo, lo masih muda, perjalanan masa depan masih terbentang di depan. Masih banyak waktu untuk lebih memperdalam ilmu yang pernah kita kuasai. Apalagi IT kan dibutuhin banget di zaman modern gini, pasti ilmu itu akan berguna suatu saat :)

      Samaan berarti sama yang gua alamin pas kuliah ya Lan, sebatas untuk melewati ujian semata, ngga memperdalamnya untuk jangka panjang.

      Jangan bilang sia-sia Lan. Ngga ada ilmu yang sia-sia, inget. Lo cuma belom sadar kegunaannya :)
      Wah, kalo sekarang lo kuliah di jurusan yang sama ama pekerjaan yang lo geluti, itu udah sinyal baik tersendiri. Tinggal menikmati proses menimba ilmunya.

      Thanks Lan. You know what? Baca comment lo gua jadi senyum-senyum sendiri kegirangan. Alhamdulillah kalo tulisan gua bisa buat lo semangat kerja & kuliah :D

      Sip, ngga boleh menganggap remeh ilmu :)

      Hapus
  12. hmm.. menarik artikelnya maz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, thank you bro. Thanks juga udah mampir kemari :D

      Hapus
  13. Artikel yang begitu sangat menarik, hayu " carilah ilmu walaupun sampai ke negeri china "

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Kang

      Yap, bener itu: carilah ilmu walaupun sampai ke negeri China. Mau diartiin secara harfiah atau tidak pun, intinya menuntut ilmu harus terus kita jadiin aktivitas sepanjang hidup.

      Hapus
  14. Artikelnya menarik bro ,
    Bicara seputar ilmu emang mantep deh...
    Dan gua setuju sama tulisan yg dicetak tebal tuh "Menuntut Ilmu Tidak Akan sia-sia",,,

    Ngomong" blog lu udah banyak pembaca setianya ya , tuh terbukti koment uda banyak bgt...hahaha...
    Good job buat blog lu ya...


    Oh iya sama satu lagi gua pesen , kalo di ibukota itu ga kejam ,tapi kitanya yg terlalu lemah...

    Hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, thanks Rio :D
      "Menuntut ilmu tidak akan sia-sia" itu sengaja gua cetak tebel untuk menekankan bahwa kalimat itu emang penting. Yakin deh, ngga akan ada yang sia-sia kalo kita punya sebuah ilmu. Tinggal bagaimana kita menggunakannya aja untuk kepentingan yang bermanfaat.

      Alhamdulillah kalo blog ini punya pembaca setia, tapi belom sebanyak blogger-blogger laen kok haha. Blognya Nita (Gustyanita Pratiwi) malah lebih banyak lagi menampung visitor & komentator. Gua salut gimana dia bisa mengelola komentar sebanyak itu :D
      *two thumbs up for Nita*

      Wah sip, thank you bro. Semangat juga buat kelancaran blog lo! :D

      Hapus
  15. Artikelnya menarik bro ,
    Bicara seputar ilmu emang mantep deh...
    Dan gua setuju sama tulisan yg dicetak tebal tuh "Menuntut Ilmu Tidak Akan sia-sia",,,

    Ngomong" blog lu udah banyak pembaca setianya ya , tuh terbukti koment uda banyak bgt...hahaha...
    Good job buat blog lu ya...


    Oh iya sama satu lagi gua pesen , kalo di ibukota itu ga kejam ,tapi kitanya yg terlalu lemah...

    Hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar lo yang pas kalimat terakhir gua bales di sini aja ya hehe.

      Ah iya bener Rio, setuju deh. Bukan ibukotanya yang kejam ya, tapi kitanya yang terlalu lemah :p Hmh, dulu waktu awal-awal kerja gua selalu mendoktrin bahwa Jakarta itu kejam, padahal kenyataannya Jakarta ya tetap Jakarta, hanya saja warganya yang terus berjibaku mengais-ngais rezeki di dalamnya. Jakarta hanya lokasi yang diciptakan warganya dengan peraturan ini itu untuk ngejamin keteraturan, dan situasi inilah yang membuatnya berbeda, membuatnya jadi cantik, megah, mewah, elegan, sekaligus rusak. Bagi mereka-mereka yang tidak bisa bertahan akan situasi ciptaan tersebut, maka Jakarta adalah "rimba ibukota yang kejam", padahal kenyataannya... Jakarta is still Jakarta. Sebuah kota.

      Banyak kok ya yang bisa sukses di Jakarta, meski banyak pula yang gagal. Ah, comment lo membuat gua merenung sejenak nih.

      Thanks for the comment bro :D

      Hapus
  16. Balasan
    1. Ya benar sekali, sebuah ilmu itu tidak akan pernah habis, mempelajarinya pun seolah tidak ada habisnya, terus-menerus dipelajari.

      Hapus
  17. Wah salut buat ka bayu, ka bayu kuat ngitung dan ngolah angka sebegitu banyaknya, gue nggak kuat ngitung ka makanya masuk jurusan bahasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, first of all, please panggil gua "Bayu" aja Gung, ngga usah pake sebutan "Ka", biar lebih nyaman :)

      Makasih. Yah beginilah, sebenernya kuat ngga kuat, tapi mesti dikuat-kuatin hehe, karena mau ngga mau profesi hitung-menghitung dan mengolah angka inilah yang menghidupi gua sampe saat ini. Toh hitungannya pun bukan yang ngejelimet kayak rumus-rumus matematika, fisika, dan teman-temannya itu :p kalo ketemu sama produk ilmu eksakta macem begitu, gua juga give up haha.

      Setiap orang punya kelebihannya tersendiri di suatu bidang kok. Mungkin lo ngga kuat ngitung, tapi kuat di bahasa, dan masuk jurusan yang sesuai. Pertahankan benefit tersebut, tekuni, dan lo akan merasakan banyak manfaat di masa mendatang :D

      Hapus
  18. Sempet sedih ketika cita-cita waktu kecil ingin jadi dokter tidak kesampaian sampai sekarang, tapi tidak menyalahkan juga sih saya tahu dengan keadaan saya yang tidak memungkinkan untuk bisa mewujudkannya sendirian. Dan sampai akhirnya sekarang saya jadi seorang penulis di website, blogger dan seorang staf marketing juga hahaha jauh banget dari keinginan tapi bersyukur juga karena banyak baca cerita orang yang berhasil dari blogger.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ternyata Wida pengen jadi dokter? Hebat. Impian masa kecil emang ngga bisa dibendung ya, dibebasin sebebas-bebasnya. Ngga apa-apa Wid, "banting setir" bukan berarti akhir dari segalanya kok, justru kita mesti anggep itu sebagai awal kesuksesan kita sendiri.

      "Penulis di website, blogger dan seorang staff marketing" --> menurut gua itu semua keren, dan kalo memang bisa dijalani dan ditekuni dengan ikhlas, yakin deh semua bidang yang sedang lo jalani sekarang bisa menghasilkan manfaat masing-masing.

      Yap bener banget, menjadi blogger bisa mendatangkan kesuksesan, dan banyak yang sudah mendulang banyak hal dari dunia blog. Happy blogging :D

      Hapus
  19. Bener banget kak bay,semua ilmu ada manfaatnya, mungkin saya adalah salah satu dari sekian banyak pekerja diliuar sana yang bekerja bukan berdasarkan jurusan yang awalnya kita ambil saat memutuskan untuk kuliah, saat ditengah2 jalan saya ambil program diploma jurusan manajemen informatika saya ditawari untuk bekerja dibagian yang sangat berbanding terbalik yaitu akunting ( like you kak bay hahahahaha ). Oke…pada saat itu saya baru semester 2 dan saya harus belajar banyak tentang bahasa pemrograman, buat program ini itu lah dan saya harus belajar tentang ilmu akuntansi untuk menunjang pekerjaan saya, beruntungnya saya mendapatkan teman - teman kantor yang sangat mendukung saya untuk menyelesaikan kuliah saya dan juga membantu saya dalam hal pekerjaan. Mungkin saya lemah dalam hal akuntansi, beruntung rekan kerja saya sangat mau membantu saya untuk menyelesaikan tugas dari atasan yang kadang pake bahasa “akunting” banget yang kadang saya nggak paham apa yang beliau maksud. Saya hanya harus pintar – pintar memanage waktu untuk kuliah dan bekerja dengan tetap serius. Dan saya merasakan bagaimana saat tugas akhir yang selalu ditagih oleh atasan saya dan harus lulus ditahun itu juga (Itu sangat tidak mengenakkan, enaknya bisa ambil data perusahaan saja untuk bahan tugas akhir hahahahaha…). Ilmu yang saya peroleh pada saat kuliah mungkin tidak banyak terpakai untuk pekerjaan saya, tapi saya harus bisa mengaplikasikan ilmu itu dengan pekerjaan saya, walau kadang cara itu tidak masuk akal, yang sama dari bahasa pemrograman dan akunting adalah kita bisa berfikir dengan logika “Jika kita mau mendapatkan hasil yang maksimal kita harus melakukan planning yang benar, begitu pula dengan bahasa pemrograman asal kita dapat menuliskan bahasa/logika yang benar maka program tersebut akan berjalan sesuai rencana“ (mungkin sedikit gak nyambung, saya sudah agak lupa dengan bahasa – bahasa itu, itu hanya hal yang bisa saya tangkap ketika saya belajar keduanya ) . Tetap semangat untuk mencari ilmu, dan bagikan ilmu itu kepada orang lain  .
    Saat mereview jounal terlihat gak menarik dibandingkan membaca artikel ini dan meninggalkan komen seadaanya…

    A.U. Fadli

    BalasHapus
  20. Aku sempet ambil akuntansi tapi cuma sampe D3. Dan pas lanjutin S1, lgs banting setir ke jurusan business admin :D. Aku juga ga suka mengolah angka2 gitu mas. Pusing, walopun dalam kehidupan sehari2, angka udh pasti ditemuin trs, juga dalam kerjaanku skr. Tapi bedalah kalo hanya sekedar menghitung plus minus, ama bikin laporan keuangan lengkap ;p.. Walopun, aku tau gaji akuntan, setidaknya di kantorku kerja, itu lumayan gede :D sebanding ama ribetnya kerjaan mereka sih.

    Tapi ya itu tadi, gaji gede, tapi kalo ngelakuinnya ga dari hati, kayaknya ga bisa kalo aku.. mending cari kerjaan yg memang sesuai ama kemampuan dan keinginan juga, biar kerjanya ttp semangat :) ..

    BalasHapus
  21. Ilmu gak cuma membuat pekerjaan menjadi lebih mudah tapi ilmu juga membantu kita menjadi lebih bijak...

    BalasHapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.