Rahasia: Harus Diungkapkan Atau Tidak?


Image source: detecting365.com

Semua orang pasti punya rahasia pribadi.

Ya kan? Pasti kalian punya, sekecil dan sebesar apapun itu.

Tidak mungkin tidak. Rahasia akan selalu timbul karena tidak semua hal pantas untuk dipublikasikan ke semua orang, tidak semua hal pantas untuk diketahui, juga tidak semua hal akan diterima dengan baik. Bagaimana tanggapan orang-orang kalau mengetahui si A ternyata begini? Apakah masa lalu si B pantas untuk diketahui semua orang? dan sederet pertanyaan lainnya. Ada norma yang mengatur kehidupan kita (agama, kesopanan, hukum, kesusilaan), sehingga perilaku kita akan dituntut untuk mengikuti norma-norma tersebut.

Akan selalu ada bermacam alasan kita untuk menyimpan sebuah rahasia, entah itu karena kita malu untuk mengungkapkan suatu hal, atau karena kita takut dimarahi karena telah berbuat sesuatu yang di luar batas, atau alasan lainnya. Itu semua sah-sah saja, hak kita sebagai individu untuk menyimpan semua rahasia pribadi.

Bagaimana dengan tanggapan setiap orang saat punya suatu rahasia pribadi? Ada yang merasa terbebani, terutama jika rahasia tersebut dianggap "sangat top secret". Mereka akan selalu memikirkan hal itu dan berusaha menutupinya dari orang lain. Ada pula yang akan berpikir, "Ya udah sih, abaikan aja, biarin tetep jadi rahasia. Ga usah dibawa jadi beban. Santai bro." It's fine, really. Sekali lagi, itu semua sah-sah saja, hak tiap orang mau memikirkan apa pun, khususnya mengenai rahasia mereka.

Yang bermasalah adalah jika rahasia itu menggerogoti mental kita terus-menerus. Ada sebuah penelitian unik yang dipimpin oleh Michael Slepian, Ph. D dari Coumbia Business School (dilansir dari Business Insider), yang membagi dua kelompok partisipan:
A. Partisipan yang ditanya mengenai rahasia apa yang sering mereka pikirkan dan sangat   membebani mereka.
B. Partisipan yang ditanya mengenai rahasia yang jarang dipikirkan dan mereka merasa tidak terbebani akan hal itu.

Kedua kelompok partisipan tersebut kemudian diminta untuk menilai kecuraman dari sebuah bukit. Hasilnya, partisipan A menilai bukitnya lebih curam daripada yang dipikirkan partisipan B. Peneliti menyimpulkan bahwa ini terjadi karena partisipan A "terbebani" dengan rahasia mereka dan akan berusaha menutup-nutupinya sehingga melihat si bukit sulit didaki, berbeda dengan partisipan B.

Kata Michael Slepian: "Terkadang orang-orang berpikir bahwa jalan terbaik adalah dengan menyimpan rahasia, padahal dengan melakukan hal itu, kita mungkin akan terjebak dalam konsekuensi negatif."

Hal ini akan berpengaruh besar manakala orang-orang yang memendam rahasia besar dihubungkan dengan pekerjaan. Mereka cenderung tidak produktif, karena memiliki segudang usaha untuk menutupi hal tersebut. Misal, dua orang karyawan yang memiliki affair di suatu kantor dan berusaha menutupi info tersebut, pasti akan memikirkan segala cara agar tidak ketahuan dan malah tidak fokus terhadap pekerjaannya. 

Lebih lanjut, Michael Slepian menyatakan bahwa bisa jadi cara terbaik mencegah sebuah rahasia agar tidak mempengaruhi kinerja kita di kantor adalah dengan mengungkapkannya. Idealnya, kita bercerita pada orang lain yang kita percayai, misal seseorang di departemen lain. Jika tidak, Michael menyarankan agar kita mempublikasikannya di forum online atau yang paling mendasar: menuliskannya di jurnal pribadi.

Well, itu saran Michael Slepian. Dia menekankan pentingnya melepaskan perasaan terbebani dari menyimpan rahasia untuk "meraih kembali fokus dan produktivitas bekerja".

Tips si Michael ini tidak harus untuk kita yang bekerja, bisa diterapkan secara universal kok. Intinya kan jangan sampai sebuah rahasia malah menggerogoti mental kita untuk melakukan aktivitas secara produktif. Jadi lebih baik mengungkapkannya. Kalau kita malu untuk ngomong ke orang lain, ya tuangin aja ke jurnal pribadi, mau online atau offline (siapa tahu masih ada yang nulis diary sampe sekarang?). Semoga aja perasaan terbebaninya berangsur menghilang atau... bisa jadi malah nemu solusi dan akhirnya rahasia tersebut tidak menjadi sebuah rahasia lagi? Mungkin saja. 

Semua kembali pada pilihan kita sebagai pribadi. Mau diungkapkan atau tidak?

-Bray-


Note: Diambil dari album Curiouser and Curiouser, lagu Santamonica yang "Ribbons And Tie" mengalun indah mengiringi penulisan kali ini. Musisi lokal yang satu ini punya segudang lagu bagus untuk didengerin.

33 komentar

  1. Kalau rahasia itu mengganggu memang lebih baik bila diceritakan saja tapi tentunya pada orang yang kita percaya :) Nice post! Salam kenal!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, cerita tentang rahasia sama orang yang emang udah kita percayai itu lebih baik, at least perasaan terbebaninya sedikit berkurang.

      Salam kenal juga :-)

      Hapus
  2. Huwaha. Kalo ada hubungan antar karyawan emang suka disembunyiin gitu yak, apalagi kalo karyawan dan bos. Makin rumit. :/

    Duh, gue malah keseringan cerita atau beberapa rahasia di blog. Diary malah nggak pernah punya. XD
    Kalo yang top secret, ya paling ke 1-2 sahabat baik aja. Kalo dipendem sendiri soalnya sakit. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Affair antar orang kantor: bisa antar karyawan, bisa bos sama sekretaris... tapi kantor pun ga jauh dari arena gosip. Kadang udah jadi rahasia umum malah hehe.

      Blog juga jadi salah satu sarana efektif untuk numpahin unek-unek, termasuk rahasia. It's okay, sepanjang masih taraf wajar & bisa bikin perasaan plong.

      Yang top secret ini ibaratnya yang level dewa ya? Emang kalo ga ke sahabat ya ke keluarga deket yang bisa jaga rahasia. He-eh, ga enak kalo dipendem Yog, bisa-bisa malah kepikiran terus bawaannya hehe. Tapi semua kembali ke diri masing-masing sih, mau tetep disimpen apa ngga.

      Hapus
  3. Hmm gue tipe yang ga gampang percaya orang. Jadi kalo ada rahasia gue milih disimpen aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, emang banyak pertimbangan untuk bisa nyeritain satu masalah (terutama rahasia) ke orang lain, kalo ngga ke orang yang dipercaya banget, bisa jadi bumerang ke kitanya.

      Silahkan, toh pilihan kembali ke diri pribadi :)

      Hapus
  4. kalo rahasianya antara dua orang sih, mending jujur aja biarpun itu menyakitkan, itu kata senior gue dan dia bener nerapin gt. gue, mencoba banyak belajar dari dia jg, dan gue perlahan gak cerita rahasia ke orang lain, tapi malah langsung aja ke yang bersangkutan.
    sesimpel itu aja kok! kalo gak suka ya ngomong didepannya, bukan dibelakang. naif, iya sih. tapi mencoba lebih baik.. daripada menghindar dari masalah dengan menyimpan rahasia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini dalam kasus rahasia antara dua orang ya, straight to the point langsung ke orangnya. Mencoba jujur kadang emang nyakitin, tapi dengan jujur biasanya masalah selesai, daripada menghindar, atau ngomongin di belakang. Mantap.

      Hapus
  5. mengenai RAHASIA terlalu sensitif bila di ungkapin apalagi mengenai pribadi sendiri tapi menurut saya di ungkapin melalui tulisan di diary atau pun di online. oiya salam kenal ya,,, follow me ,,, ok!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well, itulah sebuah rahasia, apalagi rahasia pribadi, pasti tingkat sensitifitasnya tinggi. Disadari atau ngga, kita semua punya rahasia. Kalo diungkapin melalui tulisan di diary atau online (blog, dll) bisa melegakan perasaan, that's good.

      Salam kenal juga :)

      Hapus
    2. iya bener banget,,, menulis sebuah cerita yang mewakili hati di sebuah blog dll bisa buat hati lega,,,

      Hapus
  6. Masalah percintaan juga kadang menjadi sangat top secret :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bener, kalo udah ngomongin topik yang satu ini, susah dilepasin dari unsur rahasia hehe.

      Hapus
  7. tergantung rahasi'a juga
    kalo rahasi yang merugikan kita mending gak usah di ungkap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rahasia yang merugikan itu berarti yang bisa bikin hidup kacau ya kalo ketahuan? Hehe. Yang kayak begitu susah untuk diomongin biasanya, pengaruhnya bisa kemana-mana.

      Semua kembali ke pilihan masing-masing, tetep mau disimpen atau diungkapkan.

      Hapus
  8. bener bro,
    rahasia yg kita punyai kadang menjadi beban mental
    tapi sampai saat ini ane masih belom berani untuk sharing pun pada orang yg sudah ane percaya
    maybe, something are better left unsaid :D
    btw, ente top secretnya apa bro?
    bhahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beban mental yang terus dibawa kemana-mana ya :p

      Kalo belom berani sharing, mungkin pilihan "menuliskannya di satu tempat" bisa dicoba, siapa tahu ada perasaan lega setelah itu *eh tapi kalo tulisan yang isinya rahasia itu dibaca orang lain, udah laen cerita hehe*

      Top secret gua sendiri? Haha, as you said, some things are better left unsaid... :)

      Hapus
  9. Rahasia terbesar saya adalah ngga tahan dengan godaan makanan. gampang lapar tengah malam dan ngga bisa kontrol diri kalau liat postingan makanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, sip sip... makanan adalah si objek utamanya ya. It's okay, toh "rahasia" yang satu ini begitu dikembangin di blog malah jadi sesuatu yang positif kan? ;D

      Hapus
  10. Kalo rahasia banget mendingan cerita ke keluarga sendiri sih..

    Rada trauma ceritain rahasia ke sahabat sekalipun.. ckckk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya kalau keluarga itu ibarat "penjaga benteng terdepan" ya, mereka akan sanggup jaga rahasia.

      Faktor trauma emang sulit dihilangin kalo pernah ngalamin sesuatu yang buruk terkait ini, tapi sebenernya seorang sahabat akan bisa jaga rahasia juga.

      Hapus
  11. Segala beban memang kudu dienyahkan ya biar mau ngapa ngpain terasa enteng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener itu, beban-beban yang ngeganggu kudu dienyahkan. Faktor penimbul beban salah satunya adalah sibuk menjaga rahasia supaya ngga ketahuan. Kalo menurut studi yang gua tuangin di atas, solusinya adalah diungkapin.

      Tapi lagi-lagi, semua kembali ke pilihan masing-masing hehe.

      Hapus
    2. Takutnya jadi jerawat......

      Hapus
  12. Sebenarnya pilihan yang sulit. Terutama untuk beberapa hal yang seandainya diungkapkan akan mendatangkan konsekuensi yang sangat besar. Saya sendiri belum tahu hendak memilih apa yang akan dilakukan jika memang dihadapkan dengan kondisi tersebut. Sejauh ini sih keputusan saya untuk mengungkapkannya jika itu terjadi. Nggak tahu deh tapi kalo benar kejadian, pasti akan sulit memutuskan pilihannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sulit, tapi itulah yang ditawarkan dari sebuah "rahasia": konsekuensi besar dan kecil yang harus dihadapi kalau terbongkar ke orang lain. Sebagian orang malah ada yang menganggap rahasia sebagai "tantangan dan bumbu kehidupan", jadi mereka akan memperlakukan rahasia mereka sebagai sesuatu yang "misterius dan ekskusif" hehe.

      Well, semoga ga dihadapkan sama pilihan sulit yang punya konsekuensi besar ya...

      Hapus
  13. baru tau kalau... rahasia bisa mempengaruhi produktifitas karyawan. gitu kan? tapi, saya setuju. tidak semua hal pantas diketahui orang lain. karena emang beberapa hal privacy itu nggak pantas buat di publikasikan... kalau mental jadi hancur gara-gara rahasia itu kayaknya sengsara juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalo menurut riset begitu.

      Bener, ngga semua hal pantas diketahui orang lain, dan setiap orang pasti punya cara-cara tersendiri untuk nutupin rahasia. Kalo ketahuan... ya emang risikonya mental jadi down.

      Hapus
  14. Bay, yang susah itu cari "ember yang nggak bolong" buat cerita semua rahasia kita orang. Folder Diary di PC (dipassword) sepertinya masih jadi pilihan terbaik buat gue.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Prinsip sebuah ember nyatanya untuk menampung, tapi kalo bolong, malah jadi jatoh semua isi di dalemnya ya? Haha, bener bro. Nyari "ember"nya itu sesuatu yang harus dipertimbangkan masak-masak.

      Nulis sesuatu di komputer yang di-password juga bisa jadi pilhan bagus tuh, meski rentan di-hack, tapi at least bisa nuangin keluh kesah.

      Hapus
    2. Ya kalo di hack, tu namanya "hacker kepo" Hahahaha

      Hapus
  15. Rahasia harus diungkapkan atau tidak tergantung dari rahasianya sendiri, apakah pantas diceritakan ataukah tidak. Menurutku rahasia belum tentu permasalahan yang membebani pikiran kita. Tapi emang sih kebanyakan demikian. Soalnya permasalahan-permasalahan tersebut kita menganggapnya aman jika dirahasiakan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung dari rahasianya dan tergantung dari kemauan si penyimpan rahasia itu sendiri. Ya, setuju, terima kasih masukannya. Belum tentu sebuah rahasia membebani pikiran, tapi biasanya sesuatu yang diusahakan disimpan rapat-rapat... akan menyebabkan effort tersendiri yang akhirnya (sebagian besar) membebani pikiran.

      Thanks comment-nya :-)

      Hapus

 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.