Teringat atau Sengaja Memikirkan?

image source: chronicle.com

"If you spend too much time thinking about a thing, you'll never get it done

-- Bruce Lee

Otak. Semua orang menggunakan organ tersebut untuk berpikir, namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah semua orang menggunakannya dengan cara yang sama? Jika demikian, tentu semua bisa menjadi ilmuwan, bisa menemukan teknologi terbaru, bisa membuat karya seni berkualitas, bisa menghasilkan apapun yang ingin dihasilkan. Benar, bukan? Saya tidak bisa membayangkan keadaan dunia jika semua berpikir secara sama. 

Well... kalian tidak perlu memikirkan sejauh itu. Tenang saja. Lagipula, itu hanya sekelumit pemikiran menakutkan yang saya bangun. Entahlah, terkadang otak saya ini gemar melakukan aktivitas yang sulit diabaikan: terlalu sering memikirkan sesuatu. Apakah yang dipikirkan? Apa saja. Melihat kerumunan orang, membaca tulisan yang menggugah jiwa, mendengarkan musik yang mengalun indah, mendengarkan percakapan atau cerita seseorang, menonton film yang membuat terpana. Hal-hal semacam itu selalu mengaktifkan radar dalam otak untuk segera melakukan satu hal: MARI PIKIRKAN HAL INI SECARA SEKSAMA!

Saya sengaja menulis kalimat tersebut dalam huruf kapital untuk menggambarkan betapa besarnya pengaruh hal itu dalam kehidupan sehari-hari. Juga, betapa melelahkannya! Mungkin untuk beberapa kesempatan, hal itu membantu saya menjadi pribadi yang produktif. Misal, menemukan solusi atas permasalahan di lingkup pekerjaan yang sudah sangat memusingkan (dalam pekerjaan saya sekarang, selisih satu angka yang timbul bisa menimbulkan perang urat syaraf antar berbagai pihak), meluncurkan tutur kata yang baik kepada orang lain, atau untuk menulis artikel di blog ini. Saya akui, saya senang melakukannya.

Masalah timbul jika kegiatan "memikirkan terlalu dalam" tersebut merambah sisi kehidupan saya yang lain: hubungan sosial, hubungan asmara, prinsip hidup, hingga selera dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Saya tidak tahan untuk tidak mencoba memikirkan kenapa si A berkata kasar, kenapa si B mencela saya, kenapa film itu sungguh buruk, kenapa musik ini terlalu sulit dicerna, kenapa saya dianggap menyedihkan jika memilih menonton di bioskop sendirian, hingga kenapa saya HARUS mengenakan seragam kantor selama tiga kali dalam satu minggu?

Fiuh.

"Stop thinking, and end your problems" -- Lao Tzu

Semua pertanyaan yang terngiang mengenai segala sesuatu di dalam otak saya lebih banyak mendekam begitu saja daripada ditemukan jawabannya. Hm, kenyataan menyedihkan. Jikapun jawabannya muncul, terkadang masih tidak sesuai, sehingga proses berpikir mendalam terpaksa dilakukan lagi. 

Kini, dengan bangga saya mengatakan kalau keberadaan blog ini sebenarnya sungguh membantu saya dalam menguraikan apa yang kusut dalam pikiran. Semua "sampah" pemikiran yang mengendap dengan teratur coba dipilah dan disusun ulang, sehingga terbitlah beberapa artikel. Terkadang, saat tengah malam, saya mencoba membaca lagi beberapa tulisan di blog ini, dan hasilnya membuat saya tersenyum lega. Haha. Apa jadinya jika semua artikel saya di blog ini masih terpendam dalam pikiran? 

Ya, setidaknya masih ada media yang sanggup menampung hal tersebut, daripada dipendam dan menjadi bangkai yang tak beraturan, khawatir menambah stres. Itulah sebabnya saya selalu merasa bahagia sekali sehabis menulis. Sayang, diri ini kerap terjebak dalam faktor malas, sehingga melupakan betapa bahagianya perasaan setelah menulis. Apapun itu, menulis tetaplah merupakan sebuah kegiatan spesial bagi saya, juga sebuah kegiatan "bersih-bersih pikiran" yang cukup ampuh menenangkan emosi.

Entahlah dengan kalian, tapi jika saya berada dalam kondisi emosi tinggi, ternyata menulis merupakan salah satu terapi efektif untuk menenangkan diri (selain mendengarkan musik, menonton film, dan hal-hal semacam itu). Mungkin terasa menyebalkan pada awalnya, namun fokus dalam meluncurkan kata demi kata menjadi sebuah tulisan sanggup mengalihkan pikiran sejenak, dan hasilnya... sebuah artikel! Menguntungkan, bukan? Di saat orang lain mungkin memaki-maki tanpa henti, atau membuang benda-benda ke segala arah, terapi menenangkan emosi bagi saya adalah dengan menulis.

Terapi berikutnya yang terasa ampuh adalah dengan bercerita ke orang lain. Ternyata, cukup menceritakan kepada seseorang, efeknya luar biasa ya. Apa yang mengendap di pikiran, terlampiaskan begitu saja dan ditangkap telinga orang lain. Lega. Sayang sekali, lain halnya dengan menulis, terapi "bercerita ke orang lain" ini sulit saya lakukan, mengingat saya cukup selektif memilih teman untuk bercerita. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, namun saya tidak peduli masalah kuantitas. Saya menjunjung kualitas, sehingga berbicara dengan orang-orang tersebut terbukti ampuh menenangkan emosi.

"...There is no point in sitting around thinking about all the ifs, ands and buts
-- Amy Winehouse

Deretan kalimat yang sudah saya tuangkan di atas bisa dikategorikan sebagai kegiatan "sengaja memikirkan", karena memang saya mencurahkan segenap waktu dan usaha untuk berpikir. Oya, terkait hal ini, ada satu hal yang menarik. 
Beberapa saat yang lalu saya melakukan blogwalking ke salah satu artikel di blog Icha Hairunnisa yang ini, dan saya tersenyum sendiri membaca paragraf-paragraf terakhir yang dia tulis. Icha adalah salah satu dari beberapa blogger yang saya kagumi cara penulisannya yang lancar, dan di penutup artikel tersebut dia menceritakan mengenai menulis di malam hari, dimana menurutnya (saya kutip):

"Termasuk lebih terbuka pada diri sendiri. Berdiskusi pada diri sendiri, bertanya pada diri sendiri."

That's it. Itu juga yang saya alami hampir setiap malam. Saya terdiam khusus untuk "sengaja memikirkan" aktivitas di hari itu, kenapa bisa A dan bisa B, demikian seterusnya hingga tertidur. Saya berdiskusi dengan diri sendiri, memikirkan rencana keesokan hari, padahal bisa saja yang terjadi tidaklah sesuai rencana. Well, manusia hanya bisa merencanakan, bukan?

Lalu, bagaimana jika kalimatnya diganti menjadi "tidak sengaja memikirkan"? Nah ini juga kasus khusus. Bahasa lainnya adalah "kepikiran". Saya tidak tahu istilah resminya apa, tapi saya akan menggunakan kata "teringat" saja. Berbeda dengan "sengaja memikirkan", kasus "teringat" terjadi jika kita sedang melakukan suatu hal tertentu, kemudian mendadak datanglah ingatan itu. BUM! Apa saja bisa masuk. Biasanya hal-hal yang mengusik kita, mulai dari masalah pekerjaan, asmara, keluarga, dan sebagainya. Bisa pula sesuatu yang menyenangkan, seperti wajah kekasih, atau ingatan akan kegiatan positif yang akan dilakukan ke depannya. Secara ringkasnya, seperti dirangkum oleh Icha (masih dikutip dari artikel yang saya tautkan di atas), kita menjadi bertanya-tanya: "Kenapa aku kepikiran hal yang itu-itu terus sih?"

Kalian pasti pernah mengalaminya, kan? Atau justru sering? "Teringat" menyebabkan diri kita gundah atau senang, tergantung konteksnya. Hal seperti itu muncul tak terduga, dan seringkali menjadi faktor naik turunnya mood. Saat kita memiliki masalah dengan sesuatu, kita akan terus "teringat" sehingga menyebabkan segala hal tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Atau, jika kita terus-menerus "teringat" akan seseorang yang spesial, wah bisa dipastikan segala sesuatunya juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Haha. Jadi, baik positif atau negatif, tetap saja "teringat" akan membuat sebuah anomali dalam beraktivitas, bukan? Tapi itu juga tergantung besar kecilnya "teringat" tersebut.

Nah, bagaimana jika "teringat" kemudian berlanjut "sengaja memikirkan"? Bingo! Mengalami "teringat" saja sudah menimbulkan sensasi tersendiri, ditambah lagi "sengaja memikirkan"! Combo. Untuk kasus positif, mungkin tidak terasa melelahkan. Misal, kalian teringat seseorang yang spesial, kemudian memutuskan untuk memikirkannya sepanjang hari untuk memotivasi diri. It's fine, semua orang mengalaminya. Jika yang "teringat" adalah sebuah masalah, paket combo itu sungguh menguras energi. Serius. Sangat melelahkan. Percayalah, sebaiknya hindari paket tersebut, karena saya kerap melakukannya saat "teringat" sebuah masalah pelik, dan sungguh sulit keluar dari jeratan itu. Sudah "teringat" akan suatu masalah, dipikirkan secara mendalam pula. Duh.

Jika kalian memiliki masalah yang mengusik pikiran, kemudian bisa memaksa diri untuk melupakan semua kasus "teringat" yang timbul dari hal tersebut, mencoba mengenyahkannya mentah-mentah, dan melanjutkan aktivitas normal, maka saya ucapkan selamat. Itu hal yang sulit dilakukan bagi saya. Mungkin ini pula yang menyebabkan saya terkadang iri pada mereka yang terlihat easy going, karena saya tidak bisa seperti itu.

Sekali lagi, saya merasa beruntung bisa mengenal dunia blog. Media ini sungguh efektif menampung semua pemikiran yang melompat-lompat di kepala setiap saat. Saya setuju dengan kalimat yang muncul di halaman awal saat kita mengetik www.blogger.com, yaitu: "Publish Your Passion, Your Way". Ah, Google memang benar. I love writing, and this blog is a good start to publish my passion, with my own way :D

Happy blogging.

-Bayu-



Note: Musik yang saya dengarkan kali ini untuk menemani proses menulis adalah lagu "All You Had To Do Was Stay" milik Taylor Swift, diambil dari album 1989. Taylor Swift adalah musisi yang sudah kenyang mendapat kritik terkait banyaknya lirik lagu yang seolah membeberkan kisah asmara dia tanpa malu ke publik. I don't care about it. Saya menyukai musiknya, dan perolehan dua piala Grammy Awards untuk kategori bergengsi Album of The Year (tahun 2010 dan 2016) seharusnya sudah cukup membungkam mereka-mereka yang meragukan musikalitas si gadis pirang cantik ini. 

Saya menyukai setiap kata yang ditorehkan Taylor Swift dalam lagu ini, khususnya bagian: "People like you always want back the love they pushed aside, but people like me are gone forever when you say goodbye". 

Oh yeah, Taylor knows it so well.
image source: en.wikipedia.org
READ MORE - Teringat atau Sengaja Memikirkan?

Begitu Mudah Diingat

image source: likeable.com

"A person who never made a mistake never tried anything new"

-- Albert Einstein

Jika di beberapa artikel sebelumnya saya sempat menulis mengenai penghargaan Grammy Awards, kini saya akan menyinggung sedikit mengenai acara penghargaan bergengsi lain, yakni Academy Awards, atau lebih dikenal dengan nama Oscars. Acara tersebut khusus untuk menghargai segenap talenta di bidang perfilman dunia, mayoritas bersumber dari Hollywood, Amerika Serikat. Edisi ke-89 yang diselenggarakan pada Minggu malam (26 Februari 2017 atau di Indonesia tepat di Senin pagi, 27 Februari 2017) lalu telah usai, menyisakan gegap gempita bagi para pemenang dan di sisi lain, kekecewaan di sisi yang kalah.

Kemenangan dan kekalahan adalah hal yang biasa ditemui pada acara-acara penghargaan semacam itu. Kali ini saya tidak tertarik mengupas detil pemenang dan detil acara dari awal hingga akhir (kalian bisa mencarinya sendiri di internet), melainkan mengenai satu hal menarik yang menjadi buah bibir dimana-mana: kesalahan pengumuman nama pemenang kategori tertinggi.

Warren Beatty dan Faye Dunaway (aktor dan aktris dari film "Bonnie and Clyde") mungkin tak pernah menyangka bahwa malam penganugerahan tersebut akan berakhir bencana. Mereka ditugaskan menjadi presenter untuk membacakan nama pemenang kategori Best Picture (Film Terbaik). Malang tak dapat disangkal, amplop yang diberikan kepada mereka salah! Amplop itu untuk kategori Best Actress In A Leading Role, bukan Best Picture. Yang tertera di amplop adalah: "Emma Stone (La La Land)". Piala Oscar untuk Emma Stone sendiri sudah diserahkan sebelum pengumuman kategori Best Picture, jadi seharusnya tidak mungkin dua kali diserahkan, dan tidak mungkin juga amplop Best Actress In A Leading Role dibacakan dua kali.

Sebenarnya, Warren sudah mencium gelagat ketidakberesan tersebut, namun dia hanya mampu terdiam bingung dan menyerahkan amplop itu pada Faye. Alih-alih terlihat bingung seperti Warren, Faye malah dengan cepat berkata, "La La Land" (entah apakah dia sadar ada kategori Best Actress In A Leading Role tertera di sana), dan di detik itulah kekacauan yang lebih besar terjadi. Begitu tahu filmnya "diumumkan menang", seluruh pihak yang terlibat dalam film La La Land naik ke atas panggung dengan gembira. Selama kurang lebih dua menit mereka memberikan pidato kemenangan, sebelum akhirnya panitia Oscar (dibantu produser "La La Land", pembawa acara, juga Warren) membereskan kekacauan yang terjadi. Film "Moonlight" diumumkan sebagai pemenang sesungguhnya.

What a disaster night!


"Freedom is not worth having if it does not include the freedom to make mistakes"
-- Mahatma Gandhi


Itu adalah kejadian "memalukan" yang bisa terjadi di acara bergengsi semacam Oscar, apalagi yang diumumkan adalah penghargaan tertinggi. Kejadian tersebut tak pelak menjadi santapan media massa, yang menyebutnya dengan istilah envelope gate (dan beberapa sebutan lain). Banyak kritik pedas berdatangan, tudingan muncul disana-sini, mencari siapa yang sesungguhnya bersalah. Akhirnya, kesalahan harus ditanggung oleh dua akuntan dari salah satu kantor jasa akuntansi terbesar dunia, PricewaterhouseCoopers (PwC), yaitu Brian Cullinan dan Martha Ruiz.

Kenapa malah dua akuntan itu yang bersalah? Well, ternyata merekalah yang bertanggung jawab atas penghitungan hasil voting untuk pemenang, membuat daftar, membawa amplop ke acara, hingga menyerahkannya ke presenter satu per satu. PwC menganggap bahwa Brian Cullinan keliru menyerahkan amplop cadangan untuk Best Actress In A Leading Role, bukan amplop asli untuk Best Picture. Jadi, memang untuk setiap kategori, selalu ada dua amplop: asli dan cadangan. PwC juga menyebutkan bahwa protokol standar untuk mengantisipasi kesalahan semacam itu tidak dilaksanakan dengan cepat oleh Brian Cullinan maupun Martha Ruiz, sehingga keputusan terbaik adalah "menghentikan" mereka untuk tidak terlibat lagi dalam acara Oscars ke depannya. 

Itulah resiko yang harus ditanggung. End of story.

Nasi telah menjadi bubur. Pil pahit harus ditelan oleh PwC, yang merupakan kantor jasa akuntansi bergengsi. Beberapa analis menilai bahwa reputasi PwC bisa saja tercoreng, padahal mereka sudah bekerjasama dengan pihak Oscars selama puluhan tahun. Kekuatan perusahaan jasa adalah kepercayaan, dan sekalinya kepercayaan itu diselewengkan, maka bisa dibilang runtuhlah reputasi mengagumkan yang dibangun.


"The only man who never makes a mistake is the man who never does anything"
-- Theodore Roosevelt


Tulisan ini tidak untuk memperkeruh suasana. Saya hanya penikmat film, dan mengikuti perkembangan berita mengenai kasus tersebut sungguh terasa miris. Kenapa? Karena saya malah mencoba menempatkan diri sebagai Brian Cullinan yang bersalah. Saya tahu rasanya:
1. Membuat kesalahan besar (sengaja atau tidak disengaja),
2. Menjadi pihak yang dituding bersalah dari segala sisi,
3. Menjadi pihak yang harus siap menerima konsekuensi atas kesalahan,
4. Menjadi pihak yang tidak dipercaya lagi memegang suatu pekerjaan karena pernah bersalah sebelumnya, dan
5. Menerima semua makian atas kesalahan yang dibuat tanpa sekalipun mendapat apresiasi atas usaha yang dilakukan.

Saya pernah merasakan itu semua. Mungkin kalian juga pernah mengalami beberapa poin di atas atau semuanya sekaligus, bisa saja. Yes, welcome to the club. Haha. Kita hanyalah manusia biasa, bukan? Kesalahan tak pernah luput dilakukan, meski segala usaha terbaik sudah dikerahkan. Bagian paling menyebalkan saat melihat adanya kesalahan adalah akan muncul pihak yang saling menuding, tidak mau disalahkan, atau saat tudingan itu malah berujung pada diri kita sendiri. Mengerikan. Bermain "lepas tangan", kabur dari masalah, tidak mengakui kesalahan, membuat alibi seenaknya, berbohong... itu semua adalah bumbu pahit yang kerap ditemukan saat ada masalah. Selalu demikian, dan siapa saja bisa melakukannya.

Benar, bukan?

Saya juga kerap merenungkan mengenai satu hal: mengapa keburukan begitu mudah diingat ya, ketimbang kebaikan? Saya tidak bisa menemukan jawaban yang memuaskan. Kita cenderung lebih mudah mengingat kesalahan yang pernah dilakukan seseorang ketimbang kebaikannya pada kita. Entah bagaimana pikiran ini bekerja. Mungkin yang lebih sesuai adalah mengingat keburukan tersebut agar kita tidak mengalaminya lagi di masa depan. Mungkin.

Dalam kondisi emosi kalut, pikiran kita cenderung negatif, sehingga jalan terbaik adalah menetralkannya dengan sisi positif. Seorang teman pernah mengingatkan saya bahwa jika kita kesal dengan seseorang, lakukanlah terapi kecil, yaitu menuliskan hal-hal baik yang bisa kita pikirkan mengenai orang tersebut. Apa saja, bisa dari hasil pemikirannya, hal-hal unik mengenai tingkah lakunya, bantuan dan hadiah yang pernah diberikan atau sekedar senyumnya yang ramah. Tulis dan renungkan.

Mungkin akan sulit pada awalnya, namun jika kita mau menyendiri sejenak dan melakukannya dengan penuh penghayatan, hal tersebut bukan tidak mungkin. Saya sudah melakukannya beberapa kali. Well, bisa jadi pengaruhnya memang tidak signifikan pada hubungan yang terjalin ke depannya, tapi setidaknya kita tidak membiarkan diri ini terjebak dalam emosi negatif yang berujung dendam.

Saya percaya, bahwa dalam setiap tindakan manusia pasti ada alasan tertentu yang melatarbelakanginya, namun kita kerap melupakan unsur tersebut. Setiap orang pun akan menanggapi masalah dengan cara berbeda, saya juga tahu. Pada akhirnya, keputusan ada di tangan kalian, karena kalian sendiri yang bisa merasakan, mana yang sesuai dengan hati nurani.

-Bayu-





Note: Musik EDM (Electronic Dance Music) selalu menjadi penyemangat untuk menulis, khususnya bagi saya. Kali ini, saya memilih lagu Basement Jaxx (duo EDM dari Inggris) berjudul "Mermaid of Salinasuntuk menemani proses menulis. Lagu ini sungguh unik karena memadukan dance dengan nuansa Latin yang ceria. 
image source: pitchfork.com
READ MORE - Begitu Mudah Diingat

Teka-Teki Tingkah Laku

image source: edutopia.org

"Each person is an enigma. You're a puzzle not only to yourself but also to everyone else..."
-- Theodore Zeldin

Saya setuju dengan kalimat "setiap orang unik". Tidak ada yang sama satu sama lain, bahkan orang kembar sekalipun, meski tidak terlalu mencolok. Setiap orang yang ada di muka bumi ini memiliki setiap pola tersendiri, mulai dari tata bahasa, tingkah laku, cara berjalan, cara berpikir dan sebagainya. Mungkin di dalam suatu komunitas beberapa orang tampak sama, namun percayalah, selalu ada unsur unik dalam diri mereka.

Manusia itu sendiri menurut saya tidaklah stabil, dalam artian bisa berubah mengikuti perkembangan yang ada. Misal, jika dulu kita tidak mengerti teknologi dan dianggap gaptek, setelah mempelajarinya perlahan, maka bisa berubah menjadi sadar teknologi. Masih banyak contoh perubahan lainnya, tak terbatas pada segi kebendaan saja, bisa mencakup ideologi, tata bahasa dan unsur non fisik lainnya. 

Lalu, jika memang bisa mengikuti perubahan, berarti setiap orang bisa selalu tak sama sesuai perkiraan? Nah, inilah uniknya. Justru karena kemampuan beradaptasi itulah, maka setiap orang bisa menjadi pribadi yang tak tertebak. Abstrak. Hm, mungkin istilah abstrak terlalu rumit, saya sendiri tidak tahu harus menggunakan kata apalagi. Intinya, jangan pernah meremehkan kemampuan beradaptasi seseorang. Kita tidak tahu, orang yang terlihat pendiam dan tertutup, di masa depan menjadi presiden atau tokoh publik terkenal.

"Human psychology is the most mysterious thing in the world" -- Munia Khan

Kemampuan adaptasi itulah yang membuat sosok setiap orang "bisa tak tertebak". Apakah kalian pernah merasakan menghadiri acara reuni sekolah, dimana pasti ada beberapa orang yang terlihat berbeda dengan sebelumnya? Yang dulunya pemalas menjadi berwibawa, yang dulunya alim menjadi lebih terbuka dengan ideologi liberal, yang dulunya pendiam tiba-tiba menjadi banyak bicara dan berpenampilan menarik. 

Bisakah kita menebak dari awal, semua orang tersebut akan menjadi demikian pada akhirnya? Tidak. Bahkan dalam lingkup keluarga dekat atau sahabat sejati sekalipun, tidak ada yang bisa menebak akan seperti apa perkembangan setiap individu yang terlibat. Setiap orang bisa merubah perannya masing-masing, memainkannya dengan lihai, tergantung kemampuan beradaptasi mereka. 

Sebagian besar perubahan peran tersebut muncul seiring faktor kedewasaan, dimana semakin bertambahnya usia, kita seolah dituntut untuk mengikuti perubahan, menjadi sosok yang bisa menyatu dengan masyarakat. Peran menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak, peran menjadi pasangan ideal bagi seseorang, peran menjadi menantu yang baik di mata mertua, peran menjadi rekan kerja yang baik di kantor, dan masih banyak lagi.

Kita tidak bisa mengelak dari kenyataan itu, pilihannya hanya berusaha menjadi sosok ideal sesuai tuntutan (dengan cara membaur menjalani peran) atau memberontak dan membentuk peran tersendiri, lain daripada yang lain. Setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing, namun setiap sisi dunia menyimpan resikonya sendiri, bukan? Jadi mau tidak mau akan terus menghadapi hal-hal semacam itu.

Hm, jika berbaur menjalani peran, apa bedanya dengan menggunakan topeng? Saat menghadiri jamuan makan malam untuk urusan pekerjaan resmi, kita akan memasang topeng "wibawa dan bermatabat", melempar senyum dan tawa (yang mungkin saja palsu). Di lain pihak, saat menghadiri pertemuan antar keluarga besar, kita memasang topeng "ramah dan terbuka", menebar pesona pribadi yang baik-baik saja. Belum lagi topeng-topeng lain yang harus dipasang untuk acara pertemuan dengan rekan kerja, bertemu teman-teman dari pasangan, keluarga besar, klien, guru dari anak kita, dan semacamnya.

"Words like mysterious mermaids..." -- Sanober Khan

Seperti yang sudah saya singgung di atas, setiap orang bisa menjadi pribadi yang tak tertebak. Banyak alasan mendasari hal tersebut, bisa dari faktor lingkungan, juga pengaruh masa lalu dan sebagainya. Jika kita tidak mampu menebak perilaku seseorang di masa depan, bisakah kita menebak perilaku mereka di masa sekarang, saat ini juga? Coba lihat siapapun yang ada di dekat kalian. Bisakah kalian menebak apa yang sedang dia pikirkan? Apa peran yang sedang dia tampilkan? Tulus atau berpura-pura? 

Jika mereka terlihat murung dan kalian melemparkan pertanyaan, "Apakah kamu baik-baik saja?" kemudian dijawab dengan, "Saya baik-baik saja," apakah dengan demikian kalian bisa simpulkan bahwa dia memang baik-baik saja? Belum tentu. Selalu ada misteri yang melingkupi seseorang, sekalipun orang tersebut terlihat berkepribadian terbuka. Jadi, apakah jawaban "Saya baik-baik saja" tersebut bermakna sebaliknya? Tidak juga, bisa jadi memang dia benar. Haha. Aneh juga ya teorinya.

Kalian mengerti maksud saya? Bahkan dalam sebuah kalimat sederhana semacam "baik-baik saja", ada banyak aspek yang bisa dikupas. Benarkah dia baik-baik saja padahal terlihat muram? Apakah dia tidak ingin dikasihani? Apakah dia tidak ingin masalahnya terungkap? Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan, itupun jika kita peka. Jika tidak, maka jawabannya akan kita terima begitu saja secara harfiah.

Justru, seringkali kita melakukannya, bukan? Mengatakan A padahal maksudnya B dan seterusnya. Apakah kita berharap bahwa orang yang kita ajak bicara memahami maknanya? Jika dia tidak paham, lalu apa gunanya mengatakan A? Apakah semua demi kesejahteraan bersama? Demi tidak memancing konflik lebih lanjut? Atau sekedar gengsi? Well, inilah keunikan dan kerumitan manusia. Kita seolah memberikan semacam kode dalam segenap perilaku, kode yang bisa saja disalahartikan oleh orang lain, meski kita tidak bermaksud demikian.

Lalu, siapa pihak yang salah disini? Yang melakukan suatu tindakan dengan segenap kode terkait, atau subjek yang menerima perlakuan tersebut? Tidak ada yang salah dan benar. Masing-masing menggunakan persepsi dalam bersikap dan menerima sikap. Misal, saat seseorang memaki dengan kata kasar, orang lain yang dibesarkan dalam lingkungan penuh sopan santun akan mendengarnya sebagai penghinaan terbesar, sementara orang lain yang dibesarkan di lingkungan yang kerap berkata kasar, maka makian tersebut mungkin dianggap wajar.

Begitu banyak bahan rujukan sebagai sumber ilmu mengenai kode dalam perilaku manusia, mulai dari ucapan, gerak tubuh, cara berjalan, cara menulis dan lainnya. Jika kita menguasai semuanya, apakah dengan demikian kita bisa menebak makna tingkah laku seseorang? Tidak secara total, karena manusia itu sendiri penuh dengan unsur tak terduga, sehingga itulah letak kesulitannya. Kita hanya bisa menerka, tapi makna aslinya hanya si subjek itu sendiri yang tahu. Jika orang lain berusaha memahami tingkah laku kita, misalnya, mungkin terkaannya hanya benar beberapa. Selebihnya, kita sendirilah yang tahu apa makna aslinya. Benar, kan?

Bagaimana, apakah terdengar rumit? Itulah yang kita temui setiap harinya kok, sadar atau tidak sadar. Mungkin pikiran saya saja yang terlampau berlebihan sehingga menulis artikel semacam ini. Hehe.

"Never underestimate the social awareness and sense of reality in a quiet person..." 
-- Criss Jami

Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa jangan pernah meremehkan kemampuan seseorang dalam menghadapi perubahan hidupnya. Kita tidak pernah tahu secara persis apa yang dia alami, karena memang kita tidak akan pernah bisa menyelami pikiran seseorang. Jika kita merasa bahwa kita tahu seluk-beluk mengenai orang tersebut, juga mendengar langsung dari yang bersangkutan, tetap saja itu semua tidak memadai untuk memberikan penilaian. Mereka bisa saja menyimpan sesuatu yang kita tidak tahu.

Selalu ada misteri dalam diri setiap orang, selalu ada alasan di balik tingkah mereka, sejahat apapun itu. Jika kita tidak memahaminya, lebih baik biarkan. Masih banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan ketimbang berusaha menebak kenapa si A berkata demikian, kenapa si B bersikap demikian dan semacamnya. Memikirkannya sekali dua kali tidak masalah, namun jangan sampai terjerumus dalam pikiran negatif mengenai seseorang. Hal seperti itu akan terasa sangat melelahkan, percayalah.

Kenapa kita mudah mengingat tingkah buruk seseorang, padahal bisa saja dia pernah berbuat baik kepada kita? Siapakah kita, pribadi yang sok melabeli seseorang, pribadi yang mudah mengatakan "dia jahat", padahal bisa saja kita pernah melakukan tindak "kejahatan" itu kepada orang lain di masa lalu? Pernahkah hal itu terlintas dalam pikiran?

Saya tidak sedang membicarakan penjahat yang membunuh manusia lain atau kegiatan keji semacam itu. Beda topik. Saya mengetengahkan mengenai hal-hal biasa yang terjadi di keseharian, hal-hal yang sering menjadi ajang pergunjingan satu sama lain, dimana kita dengan mudahnya akan menilai si A demikian dan si B demikian, sebagian besar negatif. 

Hm, jika kita dengan mudahnya menghakimi tingkah seseorang dengan label negatif seperti itu, apakah kita sendiri sudah merasa menjadi malaikat yang tak berdosa? Bukankah pada akhirnya semua manusia kerap melakukan kesalahan? Ironis, bukan?

-Bayu-




Note: Jika membicarakan mengenai misteri dan teka-teki, musik Lana del Rey cocok menemani proses menulis. Lagunya yang berjudul "West Coast" sarat dengan unsur dark psychedelic soft rock, aneh namun elegan. Suara khas Lana del Rey sungguh menghanyutkan. Lagu ini sanggup memancing tangan saya bergerak lincah di atas keyboard laptop. Oh Lana, you're rock, girl!
image source: myspace
READ MORE - Teka-Teki Tingkah Laku

Grammy Awards Ke-59, Part 3: "Kesempatan"

image source: deepjams.net
BAGIAN KETIGA DARI TRILOGI CATATAN MENGENAI GRAMMY AWARDS KE-59

"Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds can not change anything"
-- George Bernard Shaw

Di dua artikel sebelumnya, saya mengupas mengenai album Lemonade milik Beyonce dan bagaimana kontroversi tercipta di malam penganugerahan. Bagian penutup ini akan saya gunakan untuk menuangkan beberapa hal yang mungkin belum banyak orang tahu mengenai ajang Grammy Awards tahun 2017.

Selalu ada perubahan yang terjadi di dunia ini, tak terkecuali dalam bidang musik. Kita menjadi saksi sejarah bahwa sebuah musik bisa didengarkan dalam bentuk digital, tidak lagi kaset, CD atau bahkan vinil. Banyak perangkat cerdas bisa menampung ribuan hingga jutaan lagu, membuat hidup kita makin berwarna. Perubahan terus terjadi, dimana beberapa periode belakangan ini, streaming music mewabah. Segelintir perusahaan besar mulai terjun ke bisnis tersebut, dan muncullah media yang mewadahi streaming music melalui operating system smartphone, sebut saja Apple Music, Amazon Music, Google Play Music, Spotify, Pandora, Tidal, Tune In Radio, dan semacamnya.

"Looking at the world of streaming, it's become very attractive and important to the consumer and music fan in a big way
-- Neil Potrnow, CEO The Recording Academy

Terhitung untuk perhelatan ke-59 kemarin, The Recording Academy mengubah peraturan tertentu untuk menjawab perubahan yang terjadi di pasar musik. Salah satu perubahannya adalah mengizinkan musik digital yang didistribusikan melalui layanan streaming music masuk ke meja penjurian. Mengutip berita dari laman kompas.com: "Selama ini calon peraih Grammy terbatas pada lagu-lagu yang dirilis lewat CD atau yang bisa diunduh dari internet tapi bukan layanan langsung atau streaming."

Akhirnya para musisi yang hanya memasarkan musiknya lewat layanan streaming bisa bernapas lega, memperoleh pengakuan dari The Recording Academy. Musisi yang langsung memanfaatkan perubahan itu adalah Chancelor Johnathan Bennett atau yang lebih dikenal dengan Chance The Rapper. Musisi rap tersebut mendaftarkan album Coloring Book yang hanya dirilis eksklusif lewat Apple Music ke meja penjurian, dan... ternyata masuk nominasi! Album itu menjadi album streaming pertama yang sukses diakui Grammy Awards.

"It's really more about trying to stay ahead of changes in a very dynamic industry"
-- Bill Freimuth, The Recording Academy Senior Vice President

Jika demikian, apakah semua musik yang dirilis lewat streaming bisa diakui Grammy? Sayangnya tidak, karena peraturannya adalah: pendistribusian HARUS melalui platform streaming music berbayar, dengan katalog penuh, dan melayani wilayah Amerika Serikat setidaknya setahun penuh sebelum deadline pendaftaran. Ini berarti, siapapun yang memasukkan karyanya ke internet dan bisa diakses secara streaming, tapi tidak melalui platform musik berbayar, tidak akan diakui Grammy.

Alasannya, selain untuk memastikan musisi diakui dan dibayar layak, mungkin akan butuh waktu bertahun-tahun bagi para juri Grammy untuk menilai setiap musik atau performance yang muncul di Youtube (misalnya), jika mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri. Entahlah, mungkin ke depannya akan ada perubahan peraturan lagi mengenai platform streaming video terbesar tersebut.

Lalu, apakah masuknya Chance The Rapper ke ajang Grammy hanya sebagai gimmick belaka, untuk melengkapi nominasi? Tidak. Faktanya, Chance The Rapper bisa tersenyum lebar. Kenapa? Karena dia berhasil membawa pulang tiga piala Grammy, lewat Best New Artist, Best Rap Performance (melalui lagu "No Problem") dan Best Rap Album (mengalahkan Kanye West dan Drake)!

Chance The Rapper tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya saat menerima piala Grammy
image source: themalaymailonline.com
Beberapa kontroversi dan hal unik lainnya terkait perhelatan Grammy Awards ke-59, diantaranya adalah:

1. Boikot yang dilakukan Justin Bieber dengan tidak menghadiri malam penganugerahan, karena alasan Grammy tidak relevan, tidak adil, terlalu subjektif, khususnya bagi musisi muda. Entah siapa saja yang dia maksud. Lagipula, dia sendiri sudah mendapat pengakuan dengan masuk ke tiga nominasi bergengsi (apa masih kurang?). Boikot juga dilakukan Kanye West. Drake pun tidak datang karena terbentur tur (sengaja?). Bahkan, musisi Frank Ocean telat mendaftarkan albumnya ke Grammy dan mengancam boikot karena Grammy tidak mewakili dengan baik. Entah siapa yang benar. Well, biarlah mereka bersikeras dengan pandangan masing-masing. Toh Chance The Rapper bisa tersenyum senang tanpa harus memboikot.

2. Twenty One Pilots naik ke panggung Grammy untuk menerima penghargaan Best Pop/Duo Group Performance (melalui lagu "Stressed Out") dengan celana pendek, demi memenuhi janji masa lalu, yaitu jika suatu saat mereka menerima Grammy, mereka akan menggunakan celana pendek saja. Pesan unik yang juga mereka usung adalah bahwa siapa saja bisa menerima Grammy, tanpa terbentur isu ras, etnis, gender, dan sebagainya.

Hm, sebenarnya masih ada beberapa kasus dan keunikan lain, namun saya sudahi saja. Artikel ini terlalu panjang. Haha. Saya berterima kasih jika kalian tuntas membaca keseluruhan bagian trilogi mengenai Grammy Awards ke-59 ini. Semoga apa yang saya sampaikan bisa menambah sedikit wawasan kalian. Saya bukan kritikus musik. Saya hanya penggemar musik awam yang menikmati perkembangan Grammy Awards, dan akan terus menantikan perhelatan besar itu untuk tahun-tahun ke depannya.

-Bayu-



Note: Anderson .Paak memulai karir di tahun 2012 melalui album O.B.E Vol.1 menggunakan nama Breezy Lovejoy. Barulah melalui album keempatnya, Malibu, yang rilis di tahun 2016, dia mendapat sorotan Grammy, masuk nominasi Best New Artist, sekaligus nominasi di Best Urban Contemporary Album. Salah satu lagunya yang berjudul "Come Down" mengiringi saya sepanjang proses menulis artikel ini.
image source: en.wikipedia.org
READ MORE - Grammy Awards Ke-59, Part 3: "Kesempatan"

Grammy Awards Ke-59, Part 2: "Kontroversi"

image source: metorchestramusicians

BAGIAN KEDUA
DARI TRILOGI CATATAN MENGENAI GRAMMY AWARDS KE-59


"Music by definition is very inclusive, very diverse" 
-- Neil Portnow, CEO The Recording Academy

Di artikel sebelumnya, saya menulis mengenai album Lemonade milik Beyonce. Album itu sendiri merupakan visual album, yang berarti ditunjang dengan visual, dalam hal ini sebuah film yang dirilis di HBO, pada April 2016.

Oke, di bagian kedua ini saya akan membahas mengenai kontroversi nominasi Grammy yang diraih (dan tidak diraih) Beyonce, hingga pengumuman pemenang Album of The Year, termasuk kontroversi yang dilakukan Adele (seolah acara penghargaan harus selalu menuai kontroversi).

Di Grammy Awards ke-59, Beyonce masuk nominasi ke empat genre sekaligus, yakni Pop, Rock, R&B dan Rap. Jika tidak salah, ini adalah pertama kalinya ada musisi yang masuk ke empat genre dalam satu perhelatan. Well deserved for her. Untuk Pop, R&B dan Rap (lagipula, Beyonce berkolaborasi dengan rapper, bukan berarti menyanyi rap), mudah dimaklumi, namun saya cukup terkejut begitu mendapati nama Beyonce di jajaran nominasi Best Rock Performance, melalui lagu "Don't Hurt Yourself". Banyak pihak juga terkejut ada nama Beyonce di kategori rock, seolah dunia sudah jungkir balik, padahal baik-baik saja.

Saya mencoba mencerna lagu tersebut perlahan. Memuat sampel dari lagu "When The Levee Breaks" milik Led Zeppelin, Beyonce membawakan lagu "Don't Hurt Yourself" dengan penuh penjiwaan (ditunjang bantuan vokal dan talenta Jack White, musisi rock kaliber Grammy). Berhubung lagunya mengenai kekesalan dia akan suaminya yang "dianggap selingkuh", maka lagu ini penuh dengan amarah, bentakan, suara parau dan kata-kata makian. Lagunya saja sudah dibuka dengan kalimat:

Who the fuck do you think i am?
You ain't married to no average bitch, boy
You can watch my fat ass twist, boy
As i bounce to the next dick, boy

Wow. Saya tidak akan menerjemahkannya, silakan kalian mencari tahu sendiri. Kata-kata makian masih diumbar sepanjang lagu. Hm, entah kenapa album ini tidak dilabeli logo "Parental Advisory". Oke, jadi dengan aransemen kuat, suara parau, bantuan Jack White, jelaslah kenapa lagu tersebut diakui di kategori rock performance. Lagunya bagus, bahkan menjadi favorit saya. Lagu tersebut lebih terasa unsur rock-nya dibandingkan "Heathens" milik Twenty One Pilots yang bersaing dengan Beyonce di kategori sama. Well, meski banyak pihak kurang setuju, toh juri Grammy sudah kenyang dengan kontroversi terkait pengkotak-kotakkan genre, jadi mereka pasti punya alasan tersendiri.

Kontroversi berikutnya datang dari lagu "Daddy Lessons", mengusung sentuhan country (good job, Bey!), berisikan lirik mengenai pelajaran hidup yang Beyonce dapat dari sang ayah. Oke. Saya suka musik country, dan lagu ini menurut saya adalah usaha luar biasa Beyonce mengusung genre tersebut. Di acara Country Music Awards (CMA), Beyonce bahkan diundang tampil membawakan lagu ini bersama dengan Dixie Chicks (grup country kaliber Grammy), dan sambutannya meriah. Itu berarti, lagunya diakui di komunitas country.

Sayang, tanpa alasan yang jelas, lagu ini ditolak juri Grammy masuk ke kategori country, padahal pihak Beyonce sudah mencoba mendaftarkannyaEntah apa yang harus Beyonce lakukan untuk membuatnya terdengar lebih country, semoga ini bukan masalah ras, karena mayoritas musisi country adalah kulit putih. Beyonce harus puas "hanya" diakui di empat genre. Mungkin beberapa tahun mendatang Beyonce tertarik masuk kategori... jazz? dance? latin? Who knows?

Baiklah. Secara keseluruhan, album Lemonade mengusung beragam genre, tema dan pesan, mayoritas adalah perjuangan kulit hitam, isu sosial, juga pergulatan personal. Mengutip ulasan dari Rolling Stone Indonesia (oleh Agun Wiriadisasra), Lemonade adalah "...album yang personal, jujur, politis, kontroversial, menantang dan berani." 


"No, i don't think there's a race problem at all. We do the best we can
-- Neil Portnow, CEO The Recording Academy

Sehebat apapun kritikus memuji album Lemonade, nyatanya pada pengumuman pemenang di tanggal 12 Februari lalu, nama Adele yang keluar sebagai pemenang Album of The Year, melalui album ketiganya, "25". Banyak protes merebak, menuding The Recording Academy tidak memihak Beyonce, malah memihak kulit putih. Jika melihat sejarah Grammy, memang tidak banyak musisi kulit hitam yang mendapat piala Album of The Year, terakhir adalah Herbie Hancock di tahun 2008.

Neil Portnow selaku CEO The Recording Academy, seperti yang saya kutip di kalimat bertanda kuning di atas, menampik tudingan tersebut. Menurutnya, juri Grammy (voter) telah memilih yang terbaik. Neil juga menekankan bahwa hasil pemenang bukan keputusan segelintir orang, melainkan hasil voting dari sekitar 13.000 (bayangkan, 13.000 orang!) anggota The Recording Academy dari segala lapisan ahli musik. Jika Adele menang, artinya banyak voter yang memilih dia. 

Dari ulasan yang saya baca, banyak pihak menilai bahwa juri Grammy masih berkutat pada traditional voter, yakni mereka-mereka yang berpegang teguh pada unsur musik alami. Jujur, album Adele memang luar biasa, jelas memegang teguh prinsip tersebut, dimana keseluruhan album 25 menyajikan pop ballad dengan soul kuat, penuh elegan, hal yang tidak didapat di Lemonade. Bukan berarti Lemonade tidak elegan, hanya saja Adele menampilkan musiknya lebih "tradisional". Entahlah, mungkin juri Grammy belum siap memenangkan album eksperimental semacam Lemonade sebagai Album of The Year.

Sebagai gantinya, juri Grammy memberi "hadiah" untuk Beyonce berupa dua piala Grammy, satu untuk Best Urban Contemporary Album dan Best Music Video (untuk video klip "Formation"). Dua piala dari sembilan nominasi mungkin terkesan sepele, tapi itulah yang harus puas Beyonce raih. 


"What the fuck does she (Beyonce) has to do to win Album of The Year?" -- Adele

Sejarah tercipta di perhelatan Grammy Awards ke-59 ini, dimana untuk pertama kalinya ada musisi yang berhasil meraih tiga kategori bergengsi (Album of The Year, Record of The Year dan Song of The Year) untuk kedua kalinya. Adele adalah musisi fenomenal pendobrak rekor tersebut. Di tahun 2012, dia melakukannya melalui album 21 dan lagu andalan "Rolling In The Deep", sementara di tahun 2017 ini dia memborong piala melalui album 25 dan lagu andalan "Hello".

Sekedar informasi, di dalam Grammy Awards ada yang namanya General Field (The Big Four, yaitu: Record of The Year, Song of The Year, Best New Artist, dan paling tinggi Album of The Year), kategori "umum" yang presitisus, tidak mudah masuk ke empat nominasi bergengsi tersebut. Banyak musisi akan melonjak kegirangan begitu masuk nominasi (baru sebatas nominasi), apalagi memenangkan satu. Adele tidak hanya memenangkan satu, tapi tiga piala. Tidak hanya sekali, tapi dua kali! Tak heran jika di malam kemenangannya, banyak orang melakukan standing applause untuknya, menghormati pencapaian emas tersebut. Khusus untuk Best New Artist, Adele sendiri pernah memenangkannya di tahun 2009. Complete.

Ada satu hal yang menyentuh. Bukannya membanggakan pencapain itu, di atas panggung saat menerima piala Album of The Year (setelah diselingi tangis haru), Adele dengan lantang justru memberi kredit tersendiri untuk Beyonce. Berikut kutipan pidatonya:

"...But i can't possibly accept this award. And i'm very humbled and i'm very grateful and gracious. But my artist of my life is Beyonce. And this album to me, the Lemonade album, is just so monumental."

Tidak berhenti sampai disitu, Adele bahkan merusak piala Grammy yang diraihnya, membelahnya menjadi dua bagian, berharap bisa mewakili perasaannya bahwa satu bagian milik Beyonce. Atau dengan kata lain, Lemonade dan 25 sama baiknya. Apapun itu, intinya Adele ingin menyuarakan "pemberontakan kecil-kecilan", bahwa di balik segala kontroversi yang timbul terkait pengumuman pemenang, Beyonce adalah sang juara.

Nasi telah menjadi bubur. Piala telah diserahkan kepada para pemenang di 84 kategori yang dirilis. Pro kontra selalu ada dalam setiap keputusan yang dibuat, namun pada akhirnya, semua dikembalikan ke pribadi masing-masing, menerima atau menolak. 

Oya, saya masih memiliki artikel penutup di postingan berikutnya, karena ini adalah semacam trilogi catatan. Terima kasih jika kalian masih membaca sampai bagian ini, dan saya pun akan sangat menghargai jika artikel berikutnya juga turut dibaca.

-Bayu-



Note: Sturgill Simpson bukan musisi sembarangan. Musik yang diusungnya bernapaskan country rock, alt country dan soul. Albumnya masuk ke kategori bergengsi Album of The Year di ajang Grammy 2017. Salah satu lagu dari album tersebut, yaitu "Brace for Impact (Live a Little)", menemani saya dalam menulis artikel ini.

Entah apakah album luar biasa pemenang Best Country Album ini akan masuk ke pasar Indonesia atau tidak.
image source: pitchfork.com









READ MORE - Grammy Awards Ke-59, Part 2: "Kontroversi"

Grammy Awards Ke-59, Part 1: "Lemonade"

image source: rollingstone.co.id
"I usually don't shout out artists, but if you look at Beyonce, you see a rock performance, a rap-sung performance, a music film, a video, urban contemporary, song of the year
-- Neil Portnow, CEO The Recording Academy

BAGIAN PERTAMA DARI TRILOGI CATATAN MENGENAI GRAMMY AWARDS KE-59

Artikel ini adalah sebuah anomali, berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Saya termasuk penggemar musik yang mencoba mengikuti hype penghargaan paling besar di bidang musik setiap tahunnya, yaitu Grammy Awards. Prosesnya dimulai dari pengumuman nominasi di bulan Desember 2016 hingga pengumuman pemenang di tanggal 12 Februari 2017 lalu. Biasanya, saya akan mencoba mendengarkan beberapa lagu dan keseluruhan album (sebisanya) yang masuk ke nominasi, untuk memperoleh gambaran umum.

Kini, saatnya saya menumpahkan pemikiran mengenai apa yang dirasa, didengar, dilihat dan tentu saja, dipikirkan selama ini. Blog ini adalah jalan keluar terbaik untuk menuangkannya. Jika kalian tidak suka membacanya, silahkan ditutup, it's okay, hehe. Jika kalian mau membacanya hingga tuntas, saya sangat menghargai, karena tulisan ini akan lumayan panjang.

Baiklah. Ide menulis bagian pertama muncul seiring dengan kekaguman akan sebuah musik, yang mampu meruntuhkan tembok "selera" saya. Musik tersebut datang dari album berjudul "Lemonade", milik Beyonce. Seperti kalian lihat dari cover album di atas, hanya ada satu kata, yakni Lemonade, tanpa embel-embel nama artis (bahkan artisnya sendiri tidak mau menampakkan wajah!). Begitu kita melihat sisi belakang albumnya, barulah muncul kalimat: Executive Producer Beyonce Knowles Carter, dan wajah Beyonce terlihat dari samping.

Hm, apakah tanpa penampilan wajah dan nama artis, masyarakat akan menyadari album siapa ini? Well, jika menyangkut musisi kaliber internasional, menurut saya sah-sah saja tidak menampakkan wajah dan nama artis di cover album, seperti yang Beyonce lakukan di Lemonade. Lagipula, this is Beyonce we're talking about! She is a phenomenal.

Meski fenomenal, saya bukanlah penggemarnya, kurang mengikuti sepak terjangnya, dan tidak terlalu antusias akan musik dia selama ini, baik sejak kiprahnya di Destiny's Child hingga bersolo karir. Oke, beberapa lagunya memang ada yang bagus, namun tidak ada yang masuk ke playlist pribadi.


"Never underestimate or mock people" -- Boris Trajkovski

Benar. Jangan pernah meremehkan orang lain, bukan? Biar bagaimanapun juga, Beyonce adalah seorang musisi yang sudah malang melintang di dunia hiburan, menguasai panggung Grammy (dengan raihan piala Grammy segudang), menelurkan beberapa album yang bertengger di tangga lagu populer, menikah dengan musisi kaliber juga, well... so what? Itu semua pencapaian fantastis memang, namun tidak menarik perhatian saya.

Kejutan muncul saat nominasi Grammy Awards ke-59 diumumkan Desember 2016 lalu. Beyonce "The Queen Bey" memperoleh sembilan nominasi (terbanyak), termasuk tiga nominasi di kategori utama, yakni Record of The Year, Song of The Year, hingga yang paling prestisius, Album of The Year (selanjutnya sebut saja AOTY). Album Beyonce sempat masuk dua kali ke nominasi AOTY sebelumnya, namun kalah oleh Taylor Swift di tahun 2010 dan kedua kalinya kalah oleh Beck di tahun 2015.

Masuknya Beyonce untuk ketiga kalinya ke nominasi AOTY bukan tanpa prediksi. Banyak kritikus musik telah menjagokannya, hanya saja saya masih tidak menaruh minat. Barulah mata saya terbuka saat juri Grammy resmi memasukkan Lemonade ke nominasi bergengsi, bersaing dengan Adele, Justin Bieber, Drake dan Sturgill Simpson. Mata saya makin terbuka saat mengetahui bahwa majalah Rolling Stone menasbihkan album Lemonade sebagai album terbaik di tahun 2016, mengalahkan David Bowie, Radiohead, hingga Rolling Stones!

What the...?


"...Those who make music tend to have greatly opened their minds to diversity -- whether it's gender or genre or generation or ethnicity"
-- Neil Portnow

Neil Portnow adalah Presiden/CEO dari The Recording Academy, yaitu lembaga yang menaungi musisi, produser, recording engineer dan profesional lain yang bekerja untuk produk rekaman di Amerika. Lembaga tersebut bertanggung jawab mengelola penghargaan bergengsi di bidang musik, yakni Grammy Awards. Neil Portnow jelas tidak main-main dengan kalimat yang saya kutip di atas. Mereka yang membuat musik cenderung membuka pikirannya akan keberagaman, entah itu jenis kelamin, jenis musik, generasi atau etnis (meski sayangnya, masih ada saja pihak yang membuat musik tidak dengan hati). 

Karena banyak kritikus memuji album Lemonade, maka saya penasaran. Saya pun membulatkan tekad untuk membeli album tersebut di toko musik. Untung masih tersisa satu stok saat itu. Wow, inilah pertama kalinya saya membeli album Beyonce! Awalnya saya menyangka akan disuguhi musik R&B, pop dan soul, genre yang kerap diusungnya. Saat pertama kali mendengarnya, saya tertegun.

Kenapa album ini banyak menuai pujian ya? Entahlah. Musiknya memang unik, bisa menyasar mainstream dan non mainstream juga (saya sendiri bingung), beberapa liriknya kasar, dan aransemennya... unik, bahkan kening saya berkerut di beberapa lagu. Serius. Beyonce bermain dengan eksperimennya sendiri. Pengalaman pertama mendengarkan albumnya tidak bisa dibilang menyenangkan, karena musiknya bukan selera saya.


"Beyonce shut everyone else down this year with a soul-on-fire masterpiece..." 
-- Rolling Stone Magazine

Apakah berhenti sampai disitu? Tidak. Saya mencoba mendengarkan album ini kembali untuk kedua kali, ketiga, keempat dan seterusnya. Saya membaca lirik demi lirik. Saya percaya bahwa jika kita membiasakan mendengar musik berulang kali, pasti akan menemui satu pola, bisa berujung musik bagus atau malah buruk, tergantung selera. Itulah yang sering saya lakukan selama ini, dan kini saya terapkan ke Lemonade. Jujur, setelah didengarkan beberapa kali, saya bisa tersenyum dan berkata, "Album ini bagus!" 

Luar biasa. Saya pun sadar telinga ini ternyata disuguhi pop, blues, rock, R&B, hip hop, soul, funk, hingga country (dan mungkin beberapa genre unik yang tidak dikenal), semuanya campur aduk dalam satu album. Tidak berantakan dan tetap rapi. Pantas saja kritik positif membanjirinya.

Kata "bagus" mungkin terlalu standar. Saya akan melabelinya "outstanding, also exceed expectation". Untuk saya yang tidak menggemari musik Beyonce sebelumnya, mendengarkan album Lemonade jelas sebuah pengalaman langka. Kini, otak saya sudah terbiasa dengan musiknya yang unik sekaligus indah. Serius, mendengarkan Lemonade bagai mendengar Beyonce menuturkan kisah pribadi dan pemikirannya. Jelas ini bukan album yang bisa diterima telinga banyak orang, namun ada sisi kreatif yang diusungnya. Eksploratif. Itulah yang membuatnya bagus.

Pengalaman mendengarkan musik adalah sebuah pengalaman yang memiliki kisah tersendiri di baliknya, dan mendengarkan Lemonade jelas menyenangkan. Saya masih akan melanjutkan catatan ini di bagian kedua, karena masih banyak yang perlu saya tuangkan. Jika kalian berkenan membacanya, silahkan lanjut ke postingan selanjutnya: Grammy Awards Ke-59, Part 2: "Kontroversi"

-Bayu-


Note: Ada dua lagu yang saya putar terus menerus sepanjang menulis artikel ini, yang pertama adalah "Don't Hurt Yourself" featuring Jack White, dimana Beyonce mengeluarkan kata-kata makian dengan begitu santainya (Haha!). Lagu kedua adalah "Formation", sebuah lagu yang entah bagaimana menggambarkan esensinya. 

Unik. Eksperimental. Jenius. Kedua lagu itu sungguh indah dengan cara mereka masing-masing.
image source: rollingstone.co.id
READ MORE - Grammy Awards Ke-59, Part 1: "Lemonade"

Kekuatan Sebuah Tekad Untuk Pembuktian Diri

image source: sporthotelideal.at
"The secret of genius is to carry the spirit of the child into old age, which means never losing your enthusiasm" -- Aldous Huxley

Salah satu genre favorit saya untuk kategori film adalah animasi, baik itu 2D maupun 3D, khususnya produksi Walt Disney Animation Studios (sebut saja Disney), atau saat Disney bekerjasama dengan Pixar Animation Studios. Film animasi keluaran rumah produksi tersebut biasanya menyajikan cerita yang tidak hanya sekedar menampilkan gambar indah animasi, melainkan memiliki roh berupa kekuatan naskah (saya jadi tertarik membahas mengenai hal ini khusus di sebuah artikel tersendiri).

Di artikel ini, saya akan mencoba membahas makna film animasi terbaru keluaran Disney, berjudul Moana. Terinspirasi dari sejarah klasik Kepulauan Pasifik kuno, Disney menyajikan kisah Moana, seorang gadis keturunan kepala suku di Motunui, yang tergerak untuk menyelamatkan desanya, saat desa tersebut dirundung gagal panen. Berbekal keping jantung dewi kepulauan bernama Te Fiti, Moana tertantang berkelana mencari Maui, manusia setengah dewa, satu-satunya harapan tersisa. Moana bertekad meminta Maui untuk mengembalikan keping jantung tersebut ke Te Fiti, agar kondisi menjadi stabil. Bisakah dia melakukannya?

Sepanjang film, kita akan disuguhkan kegigihan Moana untuk menjalankan misi tersebut, sebuah misi yang tampaknya mustahil dilaksanakan, mengingat Moana masih remaja, dan dirinya belum paham mengenai ganasnya laut lepas. Well, seperti layaknya animasi Disney lain, tak ada kata mustahil selama kita memiliki tekad kuat untuk melaksanakannya. Inilah yang ingin saya bahas.
Salah satu poster film Moana
image source: teaser-trailer.com
Pilihan untuk menonton film ini sungguh tepat, karena lagi-lagi saya dibuat terpana oleh kekuatan naskah film animasi produksi Disney. Film ini mampu memberi pesan tanpa terlihat menggurui. Penonton dibawa mengikuti petualangan Moana mengarungi samudera luas dan tanpa sadar diperlihatkan pesan terselubung: kekuatan tekad untuk pembuktian diri. Sebagai remaja, Moana tentu ingin mencoba sesuatu yang berbeda, namun selalu terbentur tekanan sang Ayah. Di tengah kebimbangan mengikuti kata hati dan melakukan hal yang benar demi kesejahteraan bersama, Moana bersikukuh membuktikan dirinya mampu.

"A dream doesn't become reality through magic, it takes sweat, determination and hard work" -- Colin Powell

Kutipan Colin Powell di atas benar adanya. Sebuah mimpi tidak akan menjadi nyata melalui keajaiban semata, namun membutuhkan keringat, tekad dan kerja keras. Moana sadar dirinya tidak mahir berlayar, namun dia mau belajar. Moana sadar misinya terdengar mustahil, namun dia tetap yakin dan membulatkan tekad. Semangat membara tersebut terus dipupuknya. Biarlah orang lain mencibir tindakannya, yang pasti Moana tetap yakin pada kemampuan diri sendiri.

"Don't be disabled in spirit as well as physically" -- Stephen Hawking

Fisik kita boleh saja tidak sempurna, namun jangan sampai semangat kita lemah, kurang lebih itulah yang coba diutarakan Stephen Hawking melalui kutipan di atas. Kita tahu Stephen Hawking adalah ilmuwan fisika teoritis yang populer, telah menelurkan teori penting dalam bidang fisika kuantum. Penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang menyerang Stephen membuatnya lumpuh total. Hebatnya, otak Stephen masih mampu melahirkan banyak gagasan cemerlang. Stephen Hawking telah membuktikan bahwa tekad kuat mengalahkan keterbatasan fisik. 

Sekarang, coba tengok diri kita sendiri. Sudahkah kita memaksimalkan potensi diri yang diberikan Tuhan? Apakah kita masih memiliki mimpi? Mimpi yang benar-benar akan membuktikan siapa diri kita sebenarnya? Coba dipikirkan kembali. Kalian tentu pernah bermimpi akan suatu hal. Katakanlah kalian bermimpi menjadi pengusaha sukses, lalu sudah sampai mana semangat mengejarnya? Saya beri contoh lain. Misalkan kalian bermimpi menjadi penulis. Apakah tekad kalian bulat untuk mewujudkannya? 

Ah, untuk apa bermimpi muluk-muluk. Setelah satu dua percobaan, ternyata hasilnya gagal, lalu dengan mudahnya kita berhenti mengejar mimpi. Terdengar familiar? Bagi saya iya, karena memang kalimat tersebut menampar diri pribadi haha. Saya ingin menjadi penulis, namun sampai saat ini saya tidak berusaha mewujudkannya sepenuh hati, alias setengah-setengah. Oh, jangan paksa saya membeberkan mimpi lainnya, mimpi yang bahkan saya sendiri bingung mengapa terlintas dalam benak.

Hm... jika dipikir-pikir lagi, kenapa pula harus saya kubur mimpi tersebut? Justru orang-orang yang "besar" menjadi diri mereka sekarang berkat kegigihan mengejar mimpi, bukan? Jika kita tidak memiliki mimpi sama sekali, lalu apa esensi menjalani hidup? Apakah menjadi dewasa berarti kita harus mengubur mimpi semasa kecil? Jangan-jangan, mimpi yang kita kubur tersebut justru akan membuktikan kepada orang lain, siapa sesungguhnya kita. 

"Never go backward. Attempt, and do it with all your might. Determination is power" -- Charles Simmons

Saat credit title bergulir setelah film Moana selesai dan sebagian besar penonton di dalam bioskop tertawa, tersenyum atau sibuk dengan urusan masing-masing, saya malah terpaku sejenak di kursi, termenung. Ada yang mengatakan kalau esensi menonton film bagi setiap orang akan berbeda, tergantung persepsi dan motivasi menonton. Entahlah bagaimana tanggapan orang lain, tapi bagi saya, apa yang baru saja disaksikan di layar bioksop adalah sebuah pelajaran mengenai semangat mengejar tujuan. Kekuatan sebuah tekad untuk pembuktian diri.

Beberapa gumam beragam yang saya dengar dari penonton lain adalah, "Filmnya bagus"; "Ih, ternyata biasa aja ya"; "Keren ya filmnya" atau "Gua ketiduran di tengah-tengah film tadi". Well, selalu ada pro dan kontra. Biarlah orang lain menganggap film ini sesuai persepsi mereka, namun bagi saya pribadi, Moana adalah sebuah film animasi dengan naskah bagus dan hikmah baik. Bahkan, sampai saat ini, saya masih tersenyum membayangkan pengalaman menonton yang saya dapatkan. Amazing experience.

Now, after you read this article, i want to ask one question: Maukah kita berusaha untuk mengejar mimpi? 

-Bayu-



Note: Soundtrack Moana selain berisikan musik-musik pop Disney, juga menyisipkan beberapa sentuhan musik khas Oceania ke dalamnya, yang penuh semangat dan ceria. Sebuah lagu berjudul "Logo Te Pate" yang dibawakan oleh Olivia Foa'i, Opetaia Foa'i dan Talaga Steve Sale membuktikannya. Lagu ini khusus saya putar terus-menerus sepanjang proses menulis artikel. Hebatnya, lagu ini membawa imajinasi saya mengembara ke adegan dalam film Moana. What a lovely song.
image source: amazon.com
READ MORE - Kekuatan Sebuah Tekad Untuk Pembuktian Diri
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.