Benda-Benda yang Kamu Miliki Bisa Berkata Banyak Mengenai Citra Diri, Lho!

sumber gambar: kqed.org
Fumio Sasaki dan Rak Buku

Siapa itu Fumio Sasaki? Ada apa dengan rak buku?

Jadi, di artikel sebelumnya (berjudul Stres Bekerja? Coba Renungkan Baik-Baik...), saya sempat membahas mengenai sebuah buku berjudul "Goodbye, Things" karya Fumio Sasaki. Dia adalah penulis asal Jepang yang sudah menerapkan prinsip hidup minimalis sehari-hari. Hidupnya yang dulu berantakan berangsur membaik setelah dia membuang sebagian besar barang dari apartemennya. Kini, Fumio Sasaki hidup hanya dengan segelintir barang yang memang sangat esensial saja.

Nih, silahkan lihat penampakan bagian dalam apartemennya:
sumber gambar: japantimes.co.jp
Buku "Goodbye, Things" ini terasa personal, karena memang ditulis dari sudut pandang orang pertama, yakni seorang minimalis yang dulu berkubang dengan banyak barang, banyak masalah dan banyak stres. Fumio merelakan sebagian besar barang tersebut pergi (baca: dijual, dibuang, atau didonasikan), dan berani mengklaim dirinya menjadi pribadi yang jauh lebih terbuka dan tidak stres setelahnya.

Terdengar menyenangkan? Pasti. Saya juga ingin seperti itu, tapi... mengurangi kepemilikian barang menjadi seperti Fumio rasanya... sungguh berat, hehe. Bukan berarti itu tidak bisa dilakukan, lho. Butuh komitmen kuat.

Isi buku ini begitu bagus hingga saya merekomendasikan kalian untuk membacanya. Jika kalian pernah membaca buku fenomenal "The Life-Changing Magic of Tidying Up" karya Marie Kondo (yang masih satu negara dengan Fumio Sasaki) dan menyukainya, maka kalian tidak akan kesulitan menemukan kenikmatan membaca "Goodbye, Things".

Fumio menulis lebih banyak hal mengenai mengapa kita terikat dengan benda, atau materi fisik. Dalam perangkap dunia kapitalis seperti saat ini, mudah ditemukan iklan produk yang membuat kita ingin terus membeli dan menumpuk barang. Belum lagi pusat perbelanjaan, baik offline maupun online. Jadilah rumah kita seperti tempat penampungan barang. Jika harus dibereskan, bingung sendiri mulai dari mana. Iya kan?
Pasti ada saja alasan seperti: "Nanti juga masih kepake, sayang ah kalo dibuang" untuk barang-barang yang semestinya dibuang. 

Ckckck. 

Fumio Sasaki tidak akan menoleransi alasan lemah semacam itu. Mungkin saja dia akan menceramahi kalian tentang pentingnya hidup minimalis dan berpisah dengan barang. Entahlah, bisa jadi seperti itu. Atau tidak sama sekali. Saya kan tidak tahu perangai Fumio seperti apa, hehe. 

Well, lagipula artikel ini tidak sedang membicarakan mengenai bagaimana menjadi seorang minimalis. Biarlah Fumio Sasaki yang menjelaskannya kepada kalian sendiri (itu juga jika kalian tertarik membaca bukunya). Saya tergerak untuk mengambil beberapa bagian dari buku tersebut (untuk kedua kalinya, dan di artikel mendatang mungkin masih akan ada beberapa pengambilan lagi, mengingat BANYAK sekali kutipan menarik) dan menuliskannya di blog.

Oh ya, tentang rak buku Fumio Sasaki. 


Maaf, malah jadi lupa tujuan awal paruh pertama ini. Oke. Ada salah satu judul subbab dalam buku "Goodbye, Things" yang langsung membuat perhatian saya tersedot: Rak buku adalah etalase diri sayaNah lho, apa itu maksudnya? Saya menemukan kalimat menarik dari halaman 48 (telah diedit untuk kepraktisan tampilan):

Dulu, saya gemar menumpuk buku di rak yang memakan ruang di lorong sempit apartemen saya. Padahal, rasanya saya tidak pernah membaca satu pun buku itu. Meski begitu, bukannya dibaca baik-baik, sebagian besar hanya saya sentuh sepintas.

Kini, saya bisa melihat dengan jelas alasan saya menyimpan buku-buku itu, tidak pernah membuang satu pun meski saya tahu tidak akan dibaca. Saya begitu ingin menyampaikan nilai diri melalui buku itu. Buku-buku itu ada untuk mengkomunikasikan satu pesan:

Saya sudah membaca begitu banyak buku. 

Sebagaimana terlihat oleh siapa pun yang melihat rak buku itu, saya punya minat yang beragam. Saya juga punya rasa ingin tahu yang tinggi. Saya mungkin terlihat seperti pria yang sangat biasa, tapi sebenarnya saya penuh dengan pengetahuan yang luar biasa. Mungkin saya bisa disebut sebagai orang yang terpelajar dan berpikiran mendalam.


sumber gambar: circlein.com.au
Berusaha Menunjukkan Citra Diri 

Setelah membaca isi subbab itu, saya terpekur. Apa yang disampaikan Fumio sungguh benar. Coba baca saja kelanjutannya: 


Melalui begitu banyaknya buku yang saya miliki, saya sedang berusaha menunjukkan nilai diri. Alasan tersebut juga melatari koleksi CD dan DVD yang menggunung, benda-benda antik, foto-foto nyeni yang menghiasi dinding, peralatan makan, dan koleksi kamera. Nyaris semua benda ini tak pernah saya gunakan. 

Kalimat Fumio jelas menusuk saya begitu mendalam, karena memang demikianlah yang saya lakukan selama ini. Uhuk! Saya memiliki rak buku yang diberi penutup kaca, alias bisa dilihat siapa saja. Koleksi saya terpampang dengan penuh sukacita di sana, bagaikan etalase pribadi. 


Saya tidak bohong bahwa saya memang bangga dengan koleksi tersebut. Kenapa? Karena saya mendapatkannya dengan susah payah. Sekitar 95 persen koleksi tersebut saya beli dengan hasil keringat sendiri. Sejak kecil saya adalah seorang anak yang gemar membaca, namun memiliki sumber daya finansial terbatas untuk memuaskan hobi tersebut. Perpustakaan sekolah menjadi tempat pelarian yang pas. Maka, bertahun-tahun kemudian, setelah mendapatkan penghasilan sendiri, saya seperti balas dendam. Buku-buku yang terlihat memenuhi selera, dan memang sanggup dibeli, akan saya beli.

Baca jugaMaaf Buku-Buku di Rak, E-book Ternyata Lebih Praktis

Saya ingin membangun semacam perpustakaan pribadi, dan sepertinya impian tersebut tidak akan pernah surut, mengingat banyaknya jumlah buku yang terus saya koleksi sampai sekarang.

Saya... bagaimana ya? Saya senang memiliki koleksi tersebut karena... hmm...

Benarkah saya juga ingin dianggap terlihat cerdas? Inikah yang membuat saya kalap setiap kali melihat diskon buku? Karena ingin koleksi bertambah? Inikah juga yang menjelaskan mengapa saya sulit sekali menyingkirkan koleksi tersebut?

Jika demikian adanya, wah... ada yang salah dengan diri saya! Tampaknya saya perlu lebih banyak berkontemplasi. Saya harus benar-benar meyakinkan diri, apa alasan terkuat untuk tetap mempertahankan koleksi tersebut, yang jelas-jelas sudah memakan banyak tempat!



"We use objects to tell people just how valuable we are" -- Fumio Sasaki

Kita Semua Ingin Menunjukkan Citra Diri Setiap Saat

Jika setelah membaca buku "The Life-Changing Magic of Tidying Up" karya Marie Kondo saya langsung tertarik membenahi barang untuk menampilkan apa-apa saja yang terlihat menyenangkan bagi saya (atau istilah Marie Kondo adalah "spark joy"), maka beda ceritanya dengan buku "Goodbye, Things". Setelah membacanya, saya jadi sulit tidur. Bukan karena saya keranjingan membaca hingga tengah malam (dalam beberapa kasus sih iya, tapi tidak sering kok), namun lebih karena saya terus-menerus dihantui kalimat demi kalimat dalam buku tersebut. Mengingat saya ini tipe yang selalu memikirkan suatu hal (argh, sungguh menyiksa memang!), jadilah tangan saya gatal untuk menulis di blog, menumpahkan semuanya.

Benak saya tidak sanggup menampung ini semua.

Hingga di satu titik, saya merasa mendapat semacam kesadaran. Ya, justru setelah menuliskannya di blog ini, kesadaran itu muncul. Jika saya saja sampai membeli buku dalam jumlah banyak dan bangga menampilkannya, maka bisa jadi dalam sisi lain, di kehidupan pribadi kita, aksi menampilkan citra diri ini sungguh penting.

Kita? Iya, saya, kamu dan semua orang di dunia ini. Seperti yang dituliskan Fumio Sasaki di halaman 155: "Kita semua, dalam skala yang berbeda-beda, selalu mengasosiasikan diri dengan barang-barang kita".

Itulah yang menjelaskan mengapa kita senang sekali membeli benda-benda yang seolah memancarkan aura "inilah jati dirimu". Bahkan tanpa disadari pun, memang demikianlah adanya. Kita membeli pakaian, tas, sepatu, kendaraan, properti, gadget, dan masih banyak lagi.

Tapi kan saya membeli ponsel canggih untuk menunjang pekerjaan saya, karena fiturnya bla bla bla. Mungkin itu alasan kita membeli iPhone generasi terbaru, atau wearable device semacam smartwatch merk tertentu yang harganya selangit. Lalu kita akan membela diri dengan kecanggihan fiturnya, dan bagaimana desain benda itu yang menarik, berapapun harganya, pasti dibeli.

Jika dibawa ke keramaian pun, sebuah iPhone generasi terbaru jelas menunjukkan prestise tersendiri, bukan ponsel dari pabrikan yang kurang terkenal. Okelah jika memang kebutuhan kalian tercukupi dengan fitur terbaru di ponsel, itu masih rasional. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak mengetahui kecanggihannya?

Saya punya cerita nyata. Ada orang yang gemar mengganti ponsel dengan merk terkenal keluaran terbaru, padahal dia seseorang yang gagap teknologi. Bisa dipastikan ponsel tersebut juga dimaksimalkan hanya untuk telepon dan melancarkan serangan pesan instan WhatsApp. Oh, dan media sosial tentunya. Tapi begitu ditanya mengapa harus generasi terbaru, dengan enteng dia akan menjawab, "Karena gue bos."

Oke. Jadi status "bos"-nya itu membuat dia melegalkan pembelian ponsel merk terkenal, paling gres di pasaran, dengan fitur yang mungkin dia tidak akan gunakan. Belum lagi kendaraan dan properti yang dia miliki. Kinclong. Semua miliknya seolah meneriakkan kalimat: "Lihat nih, gue seorang bos".

Itulah citra diri yang dia ingin tampilkan.


sumber gambar: pergikuliner.com
Mari perluas isu ke arah pusat-pusat perbelanjaan, dengan deretan gerai-gerai merk terkenal. Pasti kita pernah (atau sering) ke tempat semacam ini, bukan? Banyak yang keluar masuk, melihat deretan barang di etalase, membeli, kemudian... JRENG, keluar dengan tentengan seabrek. Saat iseng, akan melipir ke salah satu kedai kopi internasional untuk sekedar melepas dahaga dan melepas lelah sejenak. Tidak bisa dipungkiri, meski kalian sangat menyukai racikan kedai kopi tersebut sekalipun atau dipaksa berkumpul di tempat itu, tetap saja akan ada semacam citra diri yang langsung melekat, seolah memasang papan pengumuman: "Wow, gue ada di tempat nongkrong ini, guys!"

Bukan berarti saya pembenci kedai kopi tersebut. Tidak. Saya justru menyukainya kok, hehe. Jadi bisa dibilang citra tersebut juga yang ingin saya tampilkan, tanpa sadar. Melalui blog ini malah baru saya sadar sepenuhnya. Pantas saja perasaan saya selalu senang dan... apa ya istilahnya? Pokoknya, selalu merasa spesial jika bisa membuka pintu kedai kopi itu dan berhasil menikmati salah satu produknya. Menjadi bagian dari orang-orang di dalamnya.

Sepertinya, itu menjelaskan fenomena mengapa barang-barang mewah dihargai selangit dan selalu ada yang akan membelinya. Para produsen barang mewah itu tahu bahwa produknya diasosiasikan dengan prestise tertentu, atau kategori high class, sehingga pembelinya pasti akan dilabeli demikian. Oke, di luar faktor bahwa barang bermerk selalu mengunggulkan kualitas tinggi (saya percaya ini), pasti akan selalu ada faktor label "premium" dan "eksklusif" di dalamnya. Belum wah rasanya kalau belum menggunakan baju rancangan A, menggunakan kendaraan tipe B, menggunakan ponsel tipe C, tinggal di properti daerah D, dan sederet wah wah yang lainnya. Para penjual akan memasang harga selangit untuk menekankan kualitas dan prestise, lalu... hore, meraup keuntungan dari praktik demikian.

Sial. Jebakan kapitalisme dan citra diri. Sempurna. Jadi inilah yang ditentang oleh Fumio Sasaki.


Pentingkah Citra Diri?

Nah, ini pertanyaan yang agak sulit dijelaskan, saya sendiri cukup ragu menyampaikan hal ini dalam tataran logis dan wajar. Jadi, ini sepenuhnya adalah opini saya, jika kalian memiliki pandangan berbeda, tidak apa-apa, silahkan utarakan. Lagipula hei, semua artikel dalam blog saya adalah opini pribadi kok, bukan sesuatu yang menjadi acuan atau apalah. Saya hanya seorang personal bloger. Berbeda pendapat itu wajar.

Bagi saya pribadi, citra diri itu penting. Mengapa? Karena dengan citra diri, kita memberi kepastian kepada dunia, sosok seperti apa kita ini. Tanpa itu, kita cenderung tidak mampu menggapai tujuan hidup. 

Tapi eh tetapi... ada yang mengusik pikiran saya. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, bukan? Nah, citra diri memang penting, namun jika penerapannya sudah menjadi sebuah tuntutan dan malah membuat kita stres, itulah sisi buruknya. Hal itu pula yang mendasari Fumio Sasaki menulis seperti ini (halaman 156): "Ada hal-hal yang sangat kita sukai sampai-sampai terasa sebagai bagian dari diri kita. Hal-hal itu lalu membentuk citra yang harus dipertahankan."

Yang coba diuraikan Fumio Sasaki adalah bagaimana lepas dari tuntutan pemenuhan citra diri tersebut dengan cara melepas barang-barang yang kita miliki. Misal, kita mengaku sebagai penggemar berat musik sehingga terbebani untuk terus menampilkan sosok penggemar musik sejati (misal mengoleksi banyak CD, poster, peralatan musik, dan semacamnya), maka coba lepaskanlah barang-barang yang berhubungan dengan musik. Berani lepaskan dengan ikhlas, dan rasakan bahwa tuntutan citra diri tersebut meredup. Ke depannya, saat menikmati musik, diharapkan kita tidak akan terdorong untuk tampil sebagai "penggemar garis keras" yang harus tahu semua hal ("Oh gue punya album itu" atau "Musisi A? Gue baru aja nonton konsernya kemaren, bla bla bla"), tapi lebih ke menikmati apa adanya.

Fumio pun berkata (halaman 155): "Sekarang, saya tak lagi pusing tentang jumlah film yang ditonton. Saya bukan lagi "penggemar berat film", tapi sekadar seseorang yang menyaksikan film yang menarik minatnya".

Tampilkan apa adanya, tidak perlu terlalu terbebani. Itulah pesannya. Menurut saya, bukan berarti menghilangkan pentingnya citra diri itu sendiri. Fumio Sasaki sendiri pastinya sekarang dilabeli seorang yang minimalis, sehingga citra diri itu akan melekat kemanapun dia pergi. Tapi karena telah mencapai derajat "seorang minimalis", maka dia tidak tertarik untuk berpura-pura menampilkannya, karena memang itulah yang dia jalani sehari-hari.


Fumio tidak seperti Marie Kondo yang dengan baik hati memberi tips bagaimana merapikan banyak barang. Saran Fumio cukup sederhana: kurangi kepemilikan barang, hingga yang ada hanyalah yang benar-benar dibutuhkan. Jika kita hanya membutuhkan tiga kemeja, kenapa pula harus membeli dua lagi hanya karena harganya sedang didiskon? (Omong-omong, Fumio Sasaki memiliki sedikit pakaian lho, seperti yang dijabarkan di bagian Tentang Penulis, yaitu: Fumio Sasaki adalah seorang penulis tiga puluh tahunan yang tinggal di apartemen kecil di Tokyo dengan tiga kemeja, empat celana panjang, empat pasang kaus kaki, dan sedikit benda lainnya -- luar biasa, ya?).

Bisakah kita melakukannya? Tentu saja bisa, namun dengan keberanian berubah dan komitmen penuh. Sesuai dengan kaidah Fumio Sasaki, maka itu semua bisa dimulai dengan membuang (baca: jual, buang atau donasi) barang-barang milik pribadi yang tidak dibutuhkan. Jika dijalankan dengan benar, maka sedikit demi sedikit pemenuhan tuntutan akan citra diri sempurna mulai meredup. Lagipula, tidak ada manusia yang sempurna. Akan melelahkan kalau kita berpura-pura sempurna.

Dengan adanya tuntutan, maka kita cenderung membeli produk untuk menampilkan citra diri yang positif, mengabaikan kewajaran dan kondisi finansial. Nah, itu yang menjadi sisi buruknya! Dalam tataran wajar, manusia normal pasti menginginkan barang kok, namun dalam motif untuk keberlangsungan hidup. Jika motifnya diselimuti oleh tuntutan sosial berlebih, Itu yang tidak disukai Fumio Sasaki. Jebakan itu yang dijamin akan membuat kita hidup dengan penuh tekanan. 

Fumio menginginkan kita merdeka dari segala tuntutan citra diri.

Hm... Oke, oke.

Saya mungkin tidak bisa mengikuti total gaya hidup seorang Fumio Sasaki (hanya menyisakan tiga kemeja saja? come on...), namun saya bisa menerapkan filosofinya ke dalam berbagai segi kehidupan, dalam level yang sanggup saya jalankan. Beberapa penerapan sudah memberikan manfaatnya kok. Tapi, saya pun tahu bahwa tuntutan citra diri ini sangat penting di era modern, apalagi dengan kehadiran media sosial (wah, khusus untuk isu citra diri di media sosial, mungkin saya akan menuliskannya di artikel terpisah, mengingat bisa jadi banyak yang perlu dikupas lebih dalam). 

Jadi, butuh tekad kuat untuk menampilkan citra diri yang wajar. Bahkan, apa yang kita anggap wajar, belum tentu dianggap wajar di mata orang lain. Jebakan persepsi. Semua kembali pada kehendak masing-masing. Saya tidak memaksakan opini. Pada akhirnya, diri kitalah yang menjalankan hidup dan mempertanggung jawabkan pilihan yang kita ambil.

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Pilihan lagu untuk menemani menulis kali ini adalah "Sit Next to Me" karya Foster The People. Sudah lama saya tidak mendengarkan musik mereka. Vokal Mark Foster yang khas mengingatkan saya akan kejayaan album pertama, Torches. Artikel di internet menyebutkan bahwa genre lagu ini adalah indie-pop, neo-psychedelia dan funk. Campur aduk. Entah apa penjelasan dari masing-masing genre tersebut, tapi racikan kesemuanya membuat lagu ini begitu nyaman untuk didengarkan berulang-ulang, khususnya di bagian intro.


CATATAN TAMBAHAN: Berarti bisa dibilang, bagian "catatan selama proses menulis" ini juga menunjukkan kalau saya ingin dianggap sebagai pendengar musik dengan genre tertentu. Apakah ini semacam jebakan citra diri? Sayang sekali, benar. Ah biarlah, hehe. Satu hal yang pasti: saya memang tidak bisa menulis tanpa ditemani musik. Dan saya memang mendengarkan lagu Foster The People ini berulang-ulang. Jika boleh membela diri, ini adalah bentuk ciri khas yang ingin saya pertahankan.😁

Penggalan lirik yang menarik:
And now it's over, we're sober
Symptoms of the culture
And the night ain't getting younger


sumber gambar: en.wikipedia.org




READ MORE - Benda-Benda yang Kamu Miliki Bisa Berkata Banyak Mengenai Citra Diri, Lho!

Tenang, Tenang... Persiapkan Mental Sebelum Berekspektasi Tinggi

sumber gambar: pickclick.com.au

Ekspektasi yang Melambung Tinggi untuk Film "Midsommar"

"Sutradara Ari Aster ngeluarin film baru? Thriller??!!"
"Coba baca sinopsisnya dulu..."
"Wah, reviewnya oke!!!"

Itu adalah penggalan dialog yang terjadi di dalam kepala saya, sejak info penayangan film berjudul "Midsommar" terpampang di berbagai media. Menyandang label thriller, sepaket dengan nama sutradara & penulis naskah Ari Aster (sang jenius di balik film horor "Hereditary"), otak saya tidak mampu lagi menampung gejolak eskpektasi.
sumber gambar: amazon.com
"FILM THRILLER KARYA ARI ASTER ADA LAGI! GILA!!"

Kalau bisa berteriak, mungkin itu yang akan saya teriakkan lantang. Namun, saya mencoba tenang dan bersabar. Benar-benar bersabar karena nyatanya, bulan Agustus yang sempat dijadwalkan menjadi bulan penayangan bergeser menjadi September, setelah melalui proses "penyesuaian" di Lembaga Sensor Film (LSF). Entah bagian mana yang mereka sensor.

Jadi, begitu filmnya resmi tayang di Indonesia, keinginan yang sudah menggebu-gebu ini langsung terlampiaskan. Tiket sudah di tangan, jadwal sudah dikosongkan (sebisa mungkin tidak ada urusan mendadak) dan bergerak mantap menuju lokasi studio bioskop untuk menikmati sajiannya.

------------------------------------------- ENG ING ENG--------------------------------------------------

Apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Oke, bagi kalian yang belum mengenal saya, perlu diketahui bahwa saya adalah pecinta film horor/thriller/gore dan semacamnya. Genre itu pula yang menjadi penyelamat mood kala jatuh. Genre itu yang selalu mampu menghembuskan semangat menonton, mengalirkan adrenalin deras kala adegan jump scare atau kisah yang mengerikan.

Sebelum menonton "Midsommar", saya sudah membayangkan adegan thriller yang mencekam dan semacamnya. Hati saya sudah terpikat saat mengetahui film ini mengenai sekelompok orang yang pergi menikmati perayaan musim panas di Swedia, dan perjalanan yang dianggap mulus berubah menjadi mimpi buruk. Alur yang normal untuk sebuah film thriller, bukan?

Well...

Bagi otak seorang Ari Aster, alurnya tidak sesederhana itu. Kali ini dia membawa penonton ke atmosfer thriller dalam artian... lain. Sebuah sajian yang cukup absurd dan bercita rasa seni. Ya, ini film thriller penuh penjiwaan seni. Sinematografinya brilian, begitu pula naskahnya. Pengeksekusian misterinya tidak mengikuti pakem film sejenis yang banyak beredar di pasar (Ari Aster sebelumnya sudah bermain dengan eksekusi absurd semacam ini di "Hereditary").

Filmnya memang bagus dalam artian tertentu, tapi... tapi saya menginginkan adrenalin deras! Dan saya tidak mendapatkannya di film ini. Itulah sebabnya saya cukup termenung sejenak saat credit title bergulir di akhir film. "What The F***?!" adalah makian singkat yang tercetus di benak, dalam dua hal: 
* WTF untuk naskah dan sinematografi
* WTF untuk eksekusi thriller-nya

Oke. Ari Ester, kau memang "gila". Otakmu mungkin dijejali beragam jenis logika absurd saat tumbuh dewasa. Entah gabungan referensi apa yang ditontonmu bertahun-tahun hingga mampu menghasilkan sajian sekelas "Midsommar" ini. Bukan jenis film thriller biasa. Punya kelasnya sendiri. Bravo! Tapi tetap saja... kau tidak mampu membuat saya nyaris berhenti bernapas, sensasi yang saya cari saat menonton film seram. Jantung ini tidak berdebar-debar ngeri. Saya cukup kecewa. Justru otak saya yang hancur lebur mencerna serbuan "ide absurd nan jenius" milikmu!

Atau tunggu dulu. Jangan-jangan ini akibat sensor LSF sehingga saya tidak bisa menikmati "Midsommar" dalam sajian polosnya? Hm... ya, bisa jadi demikian. Saya membaca info bahwa adegan yang dipotong bisa mencapai durasi sembilan menit. Ha?! Oke, tampaknya saya harus menonton film "Midsommar" dalam versi lengkapnya, agar bisa mendapat persepsi berbeda.

Ekspektasi awal: Lezat dan menggigit
Hasil akhir: Asam, asin, manis dan pahit. Lezat yang aneh. Menggigit pelan.



Ekspektasi yang Rendah untuk Film "Tully"

Nah, sekarang coba kalian perhatikan poster film "Tully" di bawah ini:
sumber gambar: amazon.com
Sama-sama memiliki wajah seorang wanita yang menutupi mayoritas posternya (sudah pasti si karakter utama), dengan ornamen khas film. Jika "Midsommar" menampilkan rangkaian daun dan bunga di kepala si karakter utama, maka "Tully" menampilkan stiker-stiker lucu dan unik yang menempel di wajah (tampak seperti permainan anak kecil). Ya, "Tully" memang film yang berlatar dunia ibu dan anak, sementara "Midsommar" berlatar di alam liar (luar ruang).

Oke. Sebelum menonton film "Tully", saya tidak tahu bagaimana posternya, termasuk alur seperti apa yang akan disajikan. Yang saya tahu, film ini bercerita mengenai seorang ibu yang menghadapi kelahiran anak ketiganya, dan bagaimana dia berjuang dengan sindrom pasca melahirkan. Oya, saya tahu mengenai film ini dari riuh penghargaan Golden Globe di awal tahun 2019, dimana sang aktris utama, Charlize Theron, memperoleh nominasi "Best Performance by an Actress in Motion Picture - Musical or Comedy". Meski tidak menang dan bahkan tidak masuk dalam radar nominasi juri Oscar, kemunculan Charlize Theron dalam sebuah film terbaru membuat saya penasaran.

Charlize Theron termasuk salah satu aktris favorit saya. Dia dapat bermain dalam film genre apa saja dan menghidupkan karakter tipe apa saja, mulai dari politikus handal di "Long Shot", wanita badass nan keren di "Mad Max: Fury Road" (wah perannya sungguh keren di film ini!), hingga peran antagonis dingin dan keji di "Prometheus" dan masih banyak lagi. Oh, jangan lupakan pula peran fenomenalnya di film "Monster", dimana dia memperoleh piala Oscar untuk Aktris Terbaik di tahun 2004.

Jika "Midsommar" membuat saya penasaran karena faktor sutradara dan penulis naskah, maka "Tully" lebih ke faktor pemeran utamanya. Saat mengetahui sinopsis filmnya mengenai drama keluarga ibu dan anak, saya tidak memasang ekspektasi tinggi. Terlampau rendah malah. Pikir saya saat itu: "Ah, mari biarkan otak santai sejenak, relaks menonton tanpa harapan apapun. Nikmati saja peran Charlize Theron." Bukan mendiskriminasikan genre drama keluarga, namun memang otak saya tidak bisa diajak kompromi berekspektasi tinggi. Lagipula, filmnya diputar di salah satu kanal televisi berbayar, jadi cukup matikan saja jika alurnya ternyata membosankan. Hehe.

------------------------------------------- ENG ING ENG---------------------------------------------------

Saya terpukau. Diablo Cody, sang penulis naskah, tahu benar memanfaatkan drama seputar sindrom pasca melahirkan. Setelah ditelisik lebih lanjut, Diablo Cody sebelumnya pernah menangani naskah film "Juno" yang mengantarkannya mendapat piala Oscar. Luar biasa.

Film "Tully" jelas bukan sekedar drama picisan. Kita akan diperkenalkan pada sang karakter utama, Marlo (Charlize Theron), yang tampak kewalahan menghadapi status barunya sebagai ibu tiga anak. Merasa tidak mampu mengurus semua hal, dia menyewa seorang pengasuh. Tugasnya adalah menggantikan peran Marlo di malam hari, hanya itu. Jika bayinya menangis, maka si pengasuh akan membawakannya ke Marlo untuk segera disusui. Sisanya, Marlo dapat beristirahat dengan nyenyak. Pengasuh itu bernama Tully, seorang gadis muda yang mengingatkan Marlo akan dirinya di masa muda.

Tidak hanya mengasuh bayi di malam hari, Tully juga memberikan jasa membereskan rumah dan membuat kue. Marlo benar-benar terbantu dengan kehadirannya. Hidup Marlo perlahan kembali ke jalur yang benar. Tidak ada lagi stres. Tully pun merupakan seorang teman bicara yang menarik. Mereka berdua kerap berbincang santai tentang bermacam hal. 

Lalala. Life goes on. Sekilas memang tampak seperti drama biasa. Saya pikir klimaksnya tertebak, namun ternyata paruh akhir cerita menyimpan alur yang sama sekali tidak disangka! Begitu klimaks terungkap, saya terhenyak, dan kembali mengumpat pelan: "What The F***?!" Diri saya bagai dialiri semacam pemahaman baru, dan itu adalah perasaan yang didapat jika kita menonton film berkualitas.

Sungguh sebuah karya indah dari sutradara Jason Reitman dan penulis naskah Diablo Cody. Saya sama sekali tidak menyangka "Tully" akan disajikan demikian. Tanpa sadar, saya menyunggingkan senyum bahagia. 

Ekspektasi awal: Ringan. Hambar. Manis seperti permen lolipop.
Hasil akhir: Kejutan. Indah. Berkualitas. Lezat seperti semangkuk es krim Haagen-Dasz.


sumber gambar: oliviadecor.com
Beginilah Kenyataan, Silahkan Terima atau Tidak

Dua contoh film di atas tepat menggambarkan apa yang sering kita alami dalam hidup, bukan? Saya yakin tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mampu menebak akan seperti apa tepatnya perjalanan hidup ke depan. Apakah saya sendiri masih akan hidup di dunia ini sepuluh tahun ke depan? Saya tidak tahu. 

Entah sudah berapa banyak pikiran buruk yang terlintas dalam benak saya setiap harinya, hanya untuk menghadapi hasil bahwa kenyataannya tidak demikian buruk kok. Ekspektasi buruk pada aktivitas A ternyata menghasilkan hasil positif B dan sebaliknya. Tapi saya tidak pernah jera. Selalu saja memikirkan hal-hal buruk yang BELUM terjadi. Susah sekali mengatur pikiran saya ini untuk santai dan menikmati gejolak hidup demikian adanya. 

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku bagus berjudul "Seni Hidup Bersahaja" karangan Shunmyo Masuno, seorang pendeta utama di kuil Buddhis Zen di Jepang. Di bab 87 (halaman 180) yang berjudul "Menerima Realitas Apa Adanya", tertulis sebagai berikut:

Kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi dalam hidup, tetapi kita berdaya untuk memutuskan bagaimana kita akan menghadapi apa yang terjadi. Ini adalah soal menyiapkan diri. Artinya, soal menerima realitas apa adanya. 

Lihatlah segalanya apa adanya. Terimalah segalanya apa adanya. Mungkin ini terdengar seperti menyerah, tetapi sebenarnya justru sebaliknya.

Entah sudah berapa kali saya terpuruk hanya karena ekspektasi akan suatu hal yang terlampau tinggi. Sedemikian tingginya sampai saya tidak sadar telah memasang target muluk. Banyak orang yang bilang bahwa target tinggi itu bagus demi kemajuan hidup, namun jika realitas tidak sesuai ekspektasi, apakah semua orang sudah menyiapkan mental untuk menerima hal tersebut? Jika belum siap, saya tidak heran banyak orang yang stres. Cukup ironis bahwa sebagian besar permasalahan hidup berakar pada produk pikiran kita sendiri, bukan?

Hell yeah. Beginilah kenyataan hidup. Silahkan diterima atau tidak.

Ah, saya tidak ingin terlampau banyak mengoceh. Kalian semua adalah pembaca yang sudah dewasa dan matang dalam berpikir. Rencana awal saya hanya ingin menulis mengenai film "Midsommar" kok, namun malah melantur ke hal lain. Hehe. Jujur, saya hanya ingin melatih kembali jemari ini bergerak untuk menulis di blog, yang entah sudah berapa lama saya tinggalkan (penyakit inkonsistensi yang selalu hinggap). Cukup canggung juga mencoba menulis, namun setelah berkali-kali dipaksa mengetik, alhamdulillah polanya muncul perlahan-lahan, meski proses mengeditnya terbilang melelahkan.

Well, kita sampai pada bagian akhir. Nah lho, kenapa saya jadi bingung untuk mengakhirinya ya? Haha. Bagi kalian yang tergerak untuk meninggalkan komentar di artikel ini atau artikel-artikel sebelumnya, baik itu bloger lama yang sudah saya kenal atau pengunjung baru, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk bertukar pikiran. Saya apresiasi dan membaca semua satu persatu, meski tidak langsung dibalas. 

Sampai jumpa di artikel berikutnya.

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Saya mendengarkan lagu Noah yang berjudul  "Mendekati Lugu" 
(diambil dari album Keterkaitan Keterikatanselama proses menulis artikel. Masih terkait dengan tema "ekspektasi", saya tidak menyangka album Noah yang terbaru akan menyajikan sebuah lagu yang unik semacam ini. Pencampuran antara alternatif dan pop. Segar.


Notable lyric of this song:
Dia cerita sendu
Mendekati lugu
Dia menjaga cinta
Lebih dari hatinya

sumber gambar: shopee.co.id

READ MORE - Tenang, Tenang... Persiapkan Mental Sebelum Berekspektasi Tinggi

Stres Bekerja? Coba Renungkan Baik-Baik...


sumber gambar: pinterest.com

Curhat Mengenai Pekerjaan Menjadi Sebuah Kebutuhan

Semua orang, dalam suatu masa, pasti pernah curhat mengenai pekerjannya, kepada siapapun itu.

Bahkan, bisa dibilang curhat mengenai pekerjaan adalah jenis curhat yang tidak akan pernah ada habisnya. Selalu akan ada sesuatu yang tidak disukai, tidak diharapkan, atau tidak beres mengenai apapun pekerjaan yang kita lakukan. Khususnya karyawan kantor, yang mencakup banyak profesi di dalamnya, mulai dari administrasi, marketing, sekretaris, keuangan, auditor, legal, appraisal, pengacara, dan lain sebagainya. Itu baru jenis pekerjaan kerah putih, padahal banyak profesi di luar itu yang juga bisa tersandung masalah ketidakberesan pekerjaan.

Tidak perlu disebutkan satu persatu, terlalu banyak.

Intinya, kita semua pernah mengeluh. Saya tidak mengecualikan diri sendiri lho, karena saya termasuk bagian dari sebuah sistem organisasi yang disebut perusahaan, dimana banyak peraturan yang harus ditaati, termasuk tanggung jawab yang harus diemban. Rasanya semakin bertambah masa kerja saya, bukannya semakin mahir menyelesaikan masalah, malah semakin tenggelam dalam masalah. Mengingat setiap tahun pasti akan ada tuntutan untuk perusahaan tumbuh semakin maju, maka disitulah muncul "tantangan-tantangan" untuk semua karyawan perusahaan, yakni tantangan untuk terus memaksimalkan potensi diri demi kesuksesan bersama. 

Kalau sudah berada dalam situasi demikian, keluhan sudah pasti bermunculan. Haha.

Oke. Berhenti dulu. Astaga, baru kalimat pembuka saja saya sudah langsung curhat...

Jadi begitulah. Semua yang menjalani sebuah profesi pasti mengalami pasang surut emosi dalam mengemban tanggung jawabnya. Rasanya tidak ada orang yang tidak menemui masalah dalam pekerjaannya, sekecil apapun itu. Jika sudah menemui masalah dan masuk ke sesi curhat mengenai pekerjaan, wah... kita pasti akan mencari seseorang yang mampu menampung segala keluh kesah, sekaligus memberi pembelaan dan solusi, atau sekedar mendengarkan apa yang kita bicarakan. Benar, kan?

Perilaku tersebut tidak salah kok, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. KIta memiliki keinginan untuk didengar dan dilihat orang lain. Harus ada tempat pelampiasan untuk mengeluarkan keluh kesah. Itulah mengapa media sosial menjadi tempat paling populer saat ini untuk menyampaikan keluh kesah, mengingat kemudahan fasilitas "sharing"-nya, ditambah jaringan yang luas. 

Curhat seolah menjadi sebuah kebutuhan di era modern.



Teguran "Halus" dari Fumio Sasaki

Bicara mengenai keluhan pekerjaan, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas mengenai pekerjaan itu sendiri. Sebelum membicarakan hal itu, saya akan menguraikan dulu alasan saya menulis.

Jadi begini. Saya sedang membaca sebuah buku berjudul "Goodbye, Things" karya penulis Jepang, Fumio Sasaki. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bisa dengan mudah kalian temui di toko buku besar, atau jika sulit mencarinya, silahkan pesan saja melalui online store atau membaca versi e-book-nya.


sumber gambar: ebooks.gramedia.com
Sebenarnya, isi buku tersebut lebih banyak menceritakan mengenai bagaimana caranya kita melepas ketergantungan dari benda-benda milik pribadi dan menjadi sosok minimalis. Fumio tidak langsung menggebrak dengan langkah-langkah menjadi seorang minimalis, namun dia memberi paparan terlebih dahulu mengapa kita gemar menimbun barang. Buku ini sungguh bagus. Meski saya sedang dalam proses menamatkannya, tapi tangan ini gatal ingin segera menuangkan ide yang tercetus begitu membaca beberapa halaman bukunya. Berhubung banyak sekali kalimat yang bisa dijadikan ide tulisan, maka saya mengambil beberapa bagian terlebih dahulu disini, untuk kemudian dibahas lagi di artikel lain.

Apa kiranya kalimat Fumio Sasaki yang berhasil menggerakkan saya untuk kembali membuka laptop dan menyerbu www.blogger.com? Kalimat itu merupakan pemaparan singkat mengenai bagaimana kebutuhan kita sebenarnya sudah tercukupi, namun keinginan untuk mendapatkan hal yang lain akan selalu ada. Uniknya, Fumio mengambil contoh dalam hal pekerjaan.

Begini penggalan kalimatnya, saya ambil dari halaman 30:

"Namun, ingatlah saat kita betul-betul ingin diterima bekerja. Budaya pekerjaan mungkin tidak sesuai harapan. Atasan kita menyebalkan, atau bahkan seluruh jajaran manajemen sudah bobrok. Hal-hal ini tidak mengubah fakta bahwa kita pernah mengirim lamaran kerja, pernah muncul di wawancara -- bukan karena terpaksa, tapi karena ingin. Dengan begitu, sebetulnya, keinginan kita bekerja di perusahaan itu sudah terkabul. Pasti kita juga pernah merasa senang, walaupun hanya sesaat, ketika menerima surat pernyataan diterima bekerja."

Kalimat itu saya baca tepat saat istirahat makan siang di kantor. Entah kenapa waktunya bisa pas sekali, karena di hari itu, tepatnya di pagi hari, saya baru saja mengalami masalah pelik di kantor, terkait dengan angka laporan yang membuat kepala ini terasa pecah.

Apa yang ditulis oleh Fumio Sasaki seolah mengingatkan saya pada masa-masa awal bekerja. Saya ingat persis, saat itu saya sedang di ambang kehancuran (secara fisik dan mental) karena bekerja di sebuah perusahaan properti, nyaris terus-menerus tanpa henti. Rasanya seperti zombi saja. Hampir seluruh sendi kehidupan saya hancur perlahan. Kemudian, datanglah tawaran untuk menjadi staf akuntansi di perusahaan dagang (tempat saya bekerja saat ini). CV dikirim, wawancara dijadwalkan, tes kesehatan dilalui, dan... pada suatu hari, saya menerima kabar menggembirakan itu. Saya diterima bekerja di tempat baru!

Yeah!

Hm... kalau diingat lagi sekarang, memang saya sempat berteriak gembira saat itu (tidak terang-terangan, tentu saja, karena saya masih berada di kantor lama). Rasanya seperti dibebaskan dari penjara (ups, bukan berarti kantor lama saya mirip penjara atau bagaimana, itu hanya kiasan) dan bisa menghirup angin segar. Senyum lebar terpampang kemana saja saya pergi. Tidak sabar untuk segera bekerja di kantor baru. 



Politik Kantor: Mitos atau Fakta?

Tahun demi tahun saya lalui bekerja di perusahaan baru. Jelas, bidang pekerjaan saya berbeda dengan kantor sebelumnya, dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa beradaptasi. Seiring berjalannya waktu, masalah terus muncul, tanggung jawab semakin besar dan sederet rintangan lainnya. Apakah saya mengeluh? Tentu saja, layaknya semua karyawan lain yang mengalami hari-hari berat di kantor. Apakah saya sempat memutuskan untuk resign? Oh, tidak usah ditanya lagi, hal semacam itu sempat menghantui saya bertahun-tahun, hingga saya bingung sendiri apakah masih layak untuk bekerja atau tidak.

Kini, selama satu tahun ke belakang, saya sadar bahwa mengeluh tidak ada gunanya. Bukan berarti saya berhenti mengeluh. Tetap saja saya curhat kepada beberapa orang tertentu, namun diimbangi dengan tindakan nyata untuk membereskan masalah yang menimpa. Tidak mudah memang, bahkan beberapa masih belum beres. Untungnya, saya menemukan kesibukan lain yang menyenangkan, untuk sekedar membebaskan diri dari tekanan pekerjaan. 

Selain itu, saya mulai menyeleksi siapa saja yang bisa saya ajak bicara dan menghabiskan waktu bersama di kantor. Bergaul dengan semua orang di lingkungan kantor memang hal yang bagus, untuk menambah relasi dan semacamnya, tapi "menghabiskan waktu bersama dan bertukar pikiran secara personal"... nah menurut saya, itu yang harus diseleksi. Lingkungan kantor bukan lagi lingkungan sekolah yang dramanya seputar kisah cinta remaja, guru yang menyebalkan atau tumpukan PR, namun sudah dibalut dengan politik kantor. Dramanya mengerikan.

Tidak banyak yang menyadari hal ini memang, karena sebagian karyawan melalui hari-harinya dengan halus, atau bahkan membantah hal-hal semacam itu. Politik kantor bukan barang baru, semua kantor memilikinya, dari yang paling halus sampai keji sekalipun. Saat manusia dihadapkan dengan kekuasaan dan uang, rasanya tidak ada yang namanya "rekan kerja sebagai teman atau sahabat", yang berlaku adalah "siapa yang menang dan siapa yang kalah". Apa kita bisa tidak terlibat hal-hal semacam itu? Bisa saja, dengan menjadi karyawan normal. Jangan mendengar gosip apapun. Jangan terlibat dengan kegiatan apapun selain pekerjaan. Berlaku sopan. Datang tepat waktu, pulang tepat waktu juga. Selesai.

Sayangnya, saya tidak bisa seperti itu, meski menginginkannya berkali-kali. Selalu saja ada momen tidak menyenangkan yang membuat saya berada di "medan pertempuran ego", dimana saya harus jeli memilih siapa yang bisa dijadikan kawan atau lawan. Bukan hal yang mudah untuk memikirkan semuanya secara bijaksana dan profesional. Itulah yang menyebabkan stres.

Hal-hal semacam ini sayangnya tidak diajarkan di bangku kuliah. Kita akan tahu jika sudah mengalaminya langsung. Jika kita salah langkah memilih bertukar pikiran dengan orang yang lisannya tidak bisa dipercaya (misalnya), jangan kaget jika omongan kita disebarkan dan faktanya diputar balik, menghancurkan kredibilitas kita. Oh, saya pernah mengalaminya pada masa awal bekerja dan butuh waktu lama untuk membereskan hal-hal semacam ini. Itu baru satu contoh, padahal masih banyak lagi. 

Jadi, menyeleksi dengan siapa saja kita bertukar pikiran terkait pekerjaan di kantor itu perlu. Saya merasa bersyukur memiliki beberapa rekan kerja yang memang saya percaya untuk menuangkan keluh kesah.





"You write your life story by the choices you make" -- Helen Mirren


sumber gambar: blogs.edweek.org
Pilihan Profesi Adalah Pilihan Kita Sendiri

Saya berani menaruh kalimat di atas karena memang demikianlah adanya. Banyak orang yang mengeluh mengenai pekerjaan, merasa dirinya tidak diberi pilihan dalam hidup, sehingga harus menekuni pekerjaan yang tidak dia sukai. Itulah cikal bakal ketidakberesan dalam pekerjaan kita: tidak adanya gairah dalam menekuni profesi.

Ah, kembali lagi ke masalah klasik: passion. Saya pernah menulis mengenai ini di artikel sebelumnya, dan saat itu saya merasa sebagai korban dari kemauan orang tua. Ilmu yang saya peroleh di bangku kuliah, sekaligus profesi yang saya jalankan saat ini merupakan pilihan yang disodorkan oleh keluarga. Pilihan tersebut mereka ambil dengan landasan rekam jejak saya di ilmu tersebut. Diharapkan, dengan lebih mendalaminya di bangku kuliah, maka saya akan lebih mudah memperoleh pekerjaan nantinya.

Setelah enam tahun mendalami ilmu tersebut (tiga tahun jalur diploma, tiga tahun jalur strata... oh, tolong jangan tanyakan kenapa harus dua kali kuliah dan bisa selama itu, karena saya tipe mahasiswa yang sulit fokus akan skripsi dengan dalih "sibuk"), akhirnya memang saya mendapatkan pekerjaan yang diimpi-impikan keluarga: menjadi karyawan kantor di sebuah perusahaan, memperoleh gaji setiap bulan. Sesederhana itu. Diharapkan, jenjang karir saya mulus, hingga kemudian berhasil menjadi "orang", demikian istilah yang biasa saya dengar (istilah yang lucu sebenarnya, karena bukankah selama ini kita semua adalah orang?).

Bertahun-tahun saya menjalani profesi ini, jika ada masalah dalam pekerjaan, di dalam hati saya selalu menyalahkan pilihan yang diberikan keluarga. Seolah mereka harus menanggung kejadian buruk yang saya alami. Datang pagi pulang malam, lembur di weekend, tumpukan dokumen tanpa pernah berhenti, pola makan yang kadang tidak teratur, mata yang sudah amburadul jarak pandangnya (hei layar komputer, kamu penyebabnya!) dan seabrek masalah lain. Oh belum lagi ditambah masalah politik kantor. Tumpukan stres.

Jika dipikirkan lebih seksama, sebenarnya peran keluarga sudah tidak ada lagi selama saya menjalani profesi ini, jadi kenapa saya harus menyalahkan mereka? Benar kata Fumio Sasaki: "Hal-hal ini tidak mengubah fakta bahwa kita pernah mengirim lamaran kerja, pernah muncul di wawancara -- bukan karena terpaksa, tapi karena ingin". 

Itu semua pilihan pribadi saya juga sebenarnya. Saya memilih untuk mengikuti kata keluarga, memilih untuk tidak menyakiti hati mereka, memilih untuk tidak berani ambil resiko dengan memberontak, memilih untuk mendamaikan situasi dengan menjalani ini semua. Jika menemui masalah, ya seharusnya sayalah yang harus disalahkan, kenapa berani memilih jalan seperti ini? Begitu, kan?



Tanggung Jawab Menjalani Pilihan

Nah, ini segmen terakhir dari artikel saya, sekaligus menjadi kunci untuk memikirkan pilihan yang kita ambil terkait profesi. Jika tadi saya bicara mengenai pilihan pribadi, kini setelah kalian memahami bahwa itu semua murni kehendak kalian, selanjutnya yang dibutuhkan adalah: tanggung jawab.

Eng ing eng. Sampailah kita ke kalimat yang bisa membuat orang mendesah kesal. Tanggung jawab. Kenapa harus ada tanggung jawab di bagian akhir? Karena tanpa adanya hal itu, maka saya jamin kalian akan terus-menerus melakukan curhat mengenai pekerjaan seraya menyalahkan situasi. Saya tidak melarang kalian curhat sama sekali. Curhat terkait pekerjaan itu menurut saya perlu, karena kita butuh didengar (karena saya sendiri pun masih melakukannya). Kalau ada yang bisa mengatasi masalah pekerjaan tanpa curhat dalam bentuk apapun (melalui teman, media sosial, keluarga, orang tersayang, atau melalui ibadah) dan tetap bertahan, wah... berarti hebat sekali. Mungkin saja ada, tapi saya sendiri belum pernah menemui yang seperti itu.

Begini. Coba kalian pikir. Jika masalah pekerjaan dipendam, justru merusak emosi, menggerogoti jiwa dari dalam, kemudian bisa mendorong kita bertindak yang paling terburuk. Pernah mendengar ada orang depresi karena pekerjaan hingga bunuh diri, kan? Atau depresi karena pekerjaan hingga gila, atau bahkan melukai secara fisik orang-orang terdekat? Jangan main-main dengan kondisi kejiwaan seperti ini.

Yang ingin saya tekankan disini adalah tentang curhat yang berakhir dengan menyalahkan situasi, misalnya, "Coba gue ga ngambil kerjaan tambahan ini, jadi ngga kelar-kelar kerjaannya!", "Coba gue dulu ambil kuliah hukum aja!" "Ini semua gara-gara si A!" dan lainnya.

Bagi kalian yang pernah melontarkan kalimat semacam itu, coba tenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam dan sebaiknya cerna kembali apa yang diutarakan Fumio Sasaki di bukunya. Tenang, masih ada waktu untuk membenahi diri.

Ingat, kalian bekerja saat ini awalnya adalah dari pilihan sadar kalian sendiri untuk melakukannya. Tekanan pihak lain mungkin ada, tapi kalian sebenarnya bisa memilih untuk menolak hal tersebut. Tidak berani menolak karena takut menyakiti perasaan berbagai pihak? Berarti kalian berada dalam posisi yang sama seperti saya saat itu, sehingga pilihan yang bisa diambil adalah "berdamai dengan situasi". Dengan demikian, maka kita harus berani menanggung segala resiko yang ada.

Tidak ingin berdamai dengan situasi? Ya sudah, jangan lakukan apapun. Merajuklah, merengeklah, menangislah, atau apapun itu agar pihak lain mengabulkan permintaan kalian. Selalu ada cara untuk menyelesaikan sebuah masalah, dan pilihan ada di tangan kalian. Jika sudah bisa memilih, maka selanjutnya bertanggung jawablah atas pilihan tersebut, tidak perlu menyalahkan situasi jika kenyataannya tidak seindah harapan.

Sulit? Memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Saya sendiri juga belum sempurna dalam menerapkannya. Tapi setidaknya Fumio Sasaki telah memberi saya pencerahan. Terima kasih, Fumio!

Kini, saat tenggelam dalam masalah pekerjaan, saya akan mencoba kembali mengingat untuk apa tepatnya alasan saya memilih bekerja di tempat ini pertama kalinya. Tanpa sebuah alasan yang kuat, dengan mudah kita akan terombang-ambing dengan keadaan.

Ingat, semua ini adalah pilihan kita sendiri. Dedikasikan diri dalam pilihan yang telah kita buat. Belum ada kata terlambat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sedikit demi sedikit merubah pola pikir, daripada tidak sama sekali.

Selamat bekerja!

-Bayu-





Catatan selama proses menulis:

Saya mendengarkan lagu Kacey Musgraves yang berjudul
  "Lonely Weekend" (diambil dari album Golden Hourselama proses menulis artikel ini. 


Begitu mengetahui album Golden Hour memenangi kategori paling bergengsi di Grammy Award 2019 (yakni Album of The Year), maka tidak butuh waktu lama bagi saya untuk segera mencarinya di Spotify dan langsung jatuh hati, karena telinga saya sudah familiar dan menyukai genre pop-country seperti ini. Album ini mengingatkan saya akan karya Taylor Swift di album-album awal kemunculannya. Lagu Lonely Weekend sendiri sangat ear cathcy, jenis country yang dibalut dengan pop lembut (malah terkesan sangat pop), metode ampuh untuk menjaring banyak pendengar di luar sana, yang biasanya akan langsung mengernyit begitu mendengar kata "country" (khususnya di negara ini).

Notable lyric of this song:

Even if you got somebody in your mind
It's alright to be alone sometimes
sumber gambar: en.wikipedia.org

READ MORE - Stres Bekerja? Coba Renungkan Baik-Baik...
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.