Keterbukaan di Era Media Sosial

image source: qubole.com

"Data is a precious thing and will last longer than systems themselves"
-- Tim Berners-Lee

Hidup di masa sekarang, di era digital, mau tidak mau berkompromi dengan yang namanya internet. Kebutuhan akan hal tersebut seolah menjadi kebutuhan pokok yang cukup sulit diabaikan. Bergabung dengan dunia internet berarti menjadi bagian dari masyarakat digital, dengan segala kemudahan akses informasi dan sebagainya. Memilih untuk tidak bergabung, berarti... ya kalian akan tertinggal dengan banyak hal (kecuali kalian memang menginginkannya).

Jika dirunut, banyak sekali aspek kehidupan yang sudah terhubung dengan internet. Kita bergerak menuju masyarakat dimana data adalah unsur penting. Data pembelian, pilihan produk, minat, komunitas, tren, lokasi, dan sebagainya, itu semua terkumpul menjadi satu kesatuan data yang sungguh luar biasa besarnya. Manfaatnya pun besar bagi kepentingan dan kemudahan masyarakat beraktivitas.

Saya baru merenungi masalah data tersebut setelah membaca sebuah novel karangan Dave Eggers yang berjudul "The Circle". Novel ini pernah diangkat ke layar lebar, dibintangi Emma Watson dan Tom Hanks. Saya pernah menontonnya, dan tidak merasa tergugah dengan apa yang coba disampaikan si pembuat film. Entah, mungkin ini perasaan saya saja, tapi filmnya terkesan terburu-buru, tidak maksimal dalam menyampaikan pesan. Ulasan yang diterima film ini pun kurang memuaskan.

Beberapa bulan setelah menonton film itu, pikiran saya kembali terusik dengan tema yang tersaji di sana. Benak saya menanyakan sesuatu yang sulit dijawab, dan saya yakin itu ada hubungannya dengan apa yang dipaparkan di film. Ingin menonton filmnya lagi, terasa malas. Menyadari bahwa film itu disadur dari novel, saya segera mencarinya untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam. Saya ingin menyelami jalan pikiran sang penulis. Beruntunglah saya menemukannya.


image source: agent8.co.uk
Gambar di atas hanyalah sampel (yang saya miliki adalah e-book, sehingga sulit ditunjukkan bukti fisiknya). Saya ingin memperlihatkan logo The Circle yang terpampang di sana. Buku ini bercerita mengenai Mae Holland, seorang gadis yang bekerja di perusahaan teknologi bernama Circle, dengan harapan mendapat kehidupan lebih makmur. Seperti logo di atas, Circle banyak berhubungan dengan data yang saling terhubung satu sama lain, kesemuanya seolah membentuk satu lingkaran sempurna. Mereka memiliki media sosial bernama Zing, dan diceritakan juga bahwa Circle menguasai mayoritas mesin pencarian di internet. Kantor pusatnya disebut "kampus", dengan beragam fasilitas menarik.

Mae sangat senang bekerja di sana. Dia ditempatkan di bagian Customer Experience, menangani pelanggan yang menjadi mitra pengiklan, menjawab pertanyaan dan memberi umpan balik terkait kepuasan pelanggan. Setiap harinya Mae akan diberi skor tertentu berdasarkan tingkat kepuasan pelanggan, untuk menunjukkan kinerjanya. Karena bekerja dengan gigih, Mae sering mendapat skor nyaris sempurna.

Sayangnya, bekerja di Circle bukanlah semata bekerja sesuai job description. Berhubung Circle adalah perusahaan teknologi dan menguasai media sosial, maka "bersosialisasi" juga menjadi unsur penting, sehingga setiap karyawan diharapkan partisipasinya dalam acara sosial kantor, juga melalui media sosial yang dimiliki. Mae yang cenderung tertutup awalnya terkejut dengan "tuntutan" tersebut. Dia bahkan sempat ditegur oleh bagian SDM mengenai media sosialnya yang dibiarkan kosong selama masa-masa awal bekerja. Teguran berikutnya terkait partisipasi dia dalam acara kantor, yang bisa dibilang minim. Menurut bagian HRD, Mae adalah "enigma", dan "diselubungi misteri".

Menyadari bahwa setiap karyawan akan diberi "PartiRank" atau semacam ranking yang menunjukkan sejauh mana mereka telah berpartisipasi secara sosial, Mae tidak ingin mengecewakan perusahaan. Dengan gigih dia mengejar ketertinggalannya, dengan mengikuti acara yang diselenggarakan perusahaan, mengisi media sosial dengan berbagai postingan, mengunggah tautan, memberi komentar di postingan orang lain, mengikuti petisi online, bergerilya memberi icon semacam smile, frown dan semacamnya untuk postingan yang dia temui, demikian seterusnya hingga dirasa PartiRank-nya membaik.

Kemudian, sebuah insiden terkait kerahasiaan dan cara berkomunikasi yang menimpanya membuat Mae berpikir mengenai transparansi. Dia merasa bersalah akibat insiden tersebut, dan berkat dukungan Bailey, mentor sekaligus salah satu petinggi perusahaan, Mae menerapkan konsep yang membuat hidupnya berubah, yakni menjadikan identitas dirinya terbuka untuk dunia. Mae dibekali sebuah kamera kecil yang dia bawa kemana-mana dan disiarkan langsung melalui internet ke seluruh dunia, sehingga hidupnya terus dipantau melalui kamera tersebut.

Hmm... benarkah yang dilakukan Mae mengubah semuanya menjadi lebih baik?

"It's dangerous when people are willing to give up their privacy" -- Noam Chomsky

Membaca "The Circle" membuat saya merinding, betapa apa yang diramalkan dalam novel tersebut bisa saja terjadi di masa depan, mengingat saat ini dunia menuju kesatuan tunggal masyarakat internet. Dunia semakin bergerak nyaris tanpa filter sosial, tanpa malu mengumbar berita palsu, mencaci maki dengan akun anonim, menghakimi tanpa paham kejadian utuh, membagikan data pribadi tanpa sadar konsekuensinya, mengetahui kehidupan orang yang tidak benar-benar kita kenal secara pribadi, dan semacam itu.

Kompleks. Itu kata yang cocok menggambarkan kumpulan data yang ada di internet. Dengan mudah perilaku kita akan dianalisis oleh semacam mesin pintar, kemudian menghasilkan kajian menarik mengenai perilaku pembelian, minat, pola pikir, dan semacamnya. Di satu sisi, hal itu bermanfaat untuk memetakan kebutuhan bagi beberapa pihak tertentu, dan sebagai pengguna akhir, kita juga diuntungkan dengan segala kemudahan yang menyertainya. Namun, di sisi lain, itu semacam perangkap tanpa akhir. Dunia maya akan selalu lapar, rakus akan data.

Sekarang, pertanyaannya adalah: Apakah keterbukaan di era digital sebagai sesuatu yang positif atau negatif?

Mengenai pertanyaan tersebut, saya akan menampilkan beberapa dialog dalam novel "The Circle", antara Bailey (petinggi perusahaan) dan Mae, untuk dijadikan bahan renungan. Saya memotong beberapa bagian agar relevan dan singkat, tapi intinya tetap bermakna sama (halaman 344):

Mae     : Tetapi, saya masih berpikir bahwa ada hal-hal, meskipun hanya sedikit, yang ingin kita simpan sendiri. Maksud saya, semua orang melakukan hal-hal pribadi, atau di kamar tidur, yang membuat mereka malu.

Bailey  : Oke, terhadap hal-hal seperti itu akan ada dua hal yang akhirnya terjadi. Pertama, kita akan menyadari bahwa perilaku apa pun yang kita rahasiakan itu sebenarnya sangat tersebar luas dan tidak merugikan sehingga tidak perlu menjadi rahasia. Atau yang kedua, jika kita semua, sebagai masyarakat, memutuskan bahwa ini adalah perilaku yang lebih baik tidak kita lakukan, akan mencegah perilaku ini dilakukan.

Bailey  : Mae, pernahkah kau punya rahasia yang menggerogotimu dari dalam, dan begitu rahasia itu terbongkar, kau merasa lebih baik?
Mae     : Pernah.
Bailey  : Aku juga. Begitulah sifat rahasia. Rahasia itu seperti kanker jika disimpan di dalam, tetapi tidak berbahaya setelah dikeluarkan.
Mae     : Jadi, Anda mengatakan tidak boleh ada rahasia.
Bailey  : Aku sudah memikirkan hal ini selama bertahun-tahun, dan aku belum menemukan skenario ketika rahasia lebih bermanfaat ketimbang merugikan. Rahasia memungkinkan perilaku antisosial, amoral, dan destruktif.


"Once you've lost your privacy, you realize you've lost an extremely valuable thing"
-- Billy Graham

Novel "The Circle" memuat banyak sekali kalimat-kalimat yang layak untuk didiskusikan lebih mendalam. Kalimat itu mengkritisi masyarakat modern, dimana semua data diri dengan mudahnya mengalir masuk ke dalam sebuah sistem pengolahan data raksasa, tanpa benar-benar bisa dikelola secara mandiri. Saya tidak bisa membahasnya satu persatu di sini, hanya mengambil tema intinya saja, yang diketengahkan oleh Dave Eggers, sang penulis, yaitu:

1. Rahasia adalah kebohongan.
2. Berbagi berarti peduli.
3. Privasi adalah pencurian.

Dave Eggers menulis kritik mengenai rahasia di halaman 354: "Ketika ada sesuatu yang dirahasiakan, terjadi dua hal. Yang pertama adalah bahwa hal itu memungkinkan terjadinya kejahatan. Kita bertingkah lebih buruk ketika perbuatan kita tidak perlu dipertanggungjawabkan. Itu sudah jelas. Dan, yang kedua, rahasia menimbulkan spekulasi. Ketika tidak tahu apa yang disembunyikan, kita menebak-nebak, kita mengarang jawabannya."

Hmm. Rahasia memang terdengar mengerikan, karena unsur misteri yang meliputinya. Namun jika kita dituntut untuk mempublikasikan semua hal tanpa terkecuali (meniadakan rahasia) dan sebagai konsekuensinya, mengetahui semua yang terjadi terhadap seseorang setiap detiknya, menurut saya itu bukanlah gagasan yang baik. Dave dengan cermat mengkritisi perilaku masyarakat Circle yang sangat tergantung dengan media sosial dan segala macam pernak-pernik di dalamnya. Bagi dunia ideal versi Circle, masyarakat sudah semestinya memberikan semua hal yang mereka ketahui kepada masyarakat lain melalui internet, baik itu pengalaman pribadi, tempat-tempat menarik, hasil karya, dan semacamnya. Tidak ada lagi rahasia. 

Dengan berbagi hal tersebut, maka masyarakat telah menerapkan konsep kepedulian terhadap sesama. Bisa saja ada orang-orang yang tidak bisa mendaki gunung, merasakan pengalaman melihat gunung melalui video milik orang lain yang didokumentasikan, sehingga semua pihak senang. Itu yang dimaksud dengan "berbagi berarti peduli". Seperti yang tertulis dalam novel: "Menyembunyikan sesuatu yang indah, perjalanan yang menyenangkan di atas air, cahaya bulan yang bersinar, bintang jatuh... itu hanya karena egois. Itu egois dan tidak lebih."

Menurut dunia ideal versi Circle, menyembunyikan suatu hal yang kita lihat, ketahui, dengar, cium dan rasakan adalah keegoisan pribadi. Bagi mereka, sudah semestinya hal-hal tersebut didokumentasikan dan dibagikan kepada orang lain, karena semua orang berhak tahu apa yang kita tahu. Tidak boleh ada rahasia di antara orang lain. Rahasia itu sendiri justru menimbulkan perilaku yang merusak bagi tatanan masyarakat sosial.

Lebih lanjut, Dave Eggers memberi sindiran terhadap privasi. Dia membuat seorang tokoh dalam novel menyatakan bahwa ketika kita tidak memberikan pengalaman seperti yang kita alami kepada teman, atau kepada mereka yang memiliki keterbatasan fisik, pada dasarnya kita mencuri dari mereka. Kita mengingkari hak mereka. Pengetahuan adalah hak asasi yang mendasar. Akses setara terhadap semua kemungkinan pengalaman manusia adalah hak asasi manusia.


"Friends don't spy, true friendship is about privacy, too" -- Stephen King

Lika-liku konflik yang dituangkan dalam novel The Circle menyadarkan saya bahwa masyarakat yang hidup dalam era keterbukaan informasi tidak sepenuhnya sempurna. Apa yang semula dipandang sebagai demokrasi, nyatanya tidak semanis itu. Pihak yang memegang kendali penuh atas semua informasi masyarakat bisa menggunakannya untuk kepentingan mereka, menjatuhkan lawan politik dan hal-hal mengerikan yang justru melenceng dari konsep demokrasi. Transparansi data digunakan sebagai simbol kepedulian, padahal justru hal itu mendorong masyarakat semakin terjebak dalam sebuah lingkaran sempurna. Layaknya bentuk lingkaran yang tidak memiliki lubang keluar, demikian juga segala asupan informasi yang kita berikan. Terjebak dalam lingkaran. Yang membuatnya ironis adalah, kita tanpa sadar telah terjebak.

Tidak ada jalan keluar. Semua berhak tahu. Semua berhak menghakimi. Semua berhak diberitahukan kepada semua orang, tanpa terkecuali. Hidup yang semula damai tanpa banyak notifikasi, mendadak menjadi riuh karena semua orang melihat apa yang orang lain lihat, padahal belum tentu mereka mengenal orang tersebut secara personal. Bersosialisasi dengan media sosial yang awalnya didengung-dengungkan dengan gencar, justru cenderung menimbulkan sikap antisosial itu sendiri. 

Mengenai dampak ini, Dave Eggers menyinggungnya di halaman 311. Melalui seorang tokoh teman Mae, Dave menulis sebagai berikut: "...Kau mengikatkan diri secara sukarela. Dan, dengan sukarela kau menjadikan dirimu autis secara sosial. Kau tidak lagi mengerti isyarat komunikasi mendasar manusia. Kau berada di meja bersama tiga manusia, yang semuanya berusaha memandangmu dan berusaha bicara denganmu, dan kau malah memandangi layar. Yang menjadi paradoks adalah, kau mengira menjadi pusat dunia, dan itu membuat pendapatmu lebih berharga, tetapi dirimu sendiri menjadi kurang hidup."

Begitulah. Masyarakat dalam konsep Circle adalah masyarakat yang didorong untuk terus-menerus terbuka dalam hal informasi. Berikan kepada dunia, maka kamu akan dianggap peduli. Jangan pernah menyimpan rahasia, karena itu bisa mengarah pada kejahatan. Dengan sendirinya, individu yang tidak cocok dengan konsep Circle, akan terdesak keluar dari sistem, dan mereka adalah anomali sosial.

Wow. Konsep itu terdengar mengerikan bagi saya. Duh, bisa jadi saya adalah individu yang tidak cocok dengan konsep Circle. Kecuali untuk melihat beberapa akun berita, saya terhitung jarang sekali melihat linimasa media sosial dalam segala bentuknya, memposting sesuatu, dan semacamnya. Melihat linimasa media sosial kerap menimbulkan stres jika tidak disertai mental yang kuat. Saya masih mengandalkan keberadaan teman dekat untuk berbagi segalanya. Saya percaya mereka bisa menghakimi dengan tulus, bukan penghakiman sepihak yang marak terjadi di dunia maya akhir-akhir ini, padahal yang mereka hakimi belum dikenal secara pribadi.

Novel The Circle menekankan bahwa privasi adalah kejahatan. Itu adalah sindiran yang sangat telak. Untuk beberapa kasus khusus, menjaga privasi memang bisa menimbulkan tindakan merusak norma sosial. Misalnya, saat seorang koruptor gigih melindungi data percakapannya dengan pihak lain dalam kasus korupsi. Hal-hal seperti itu kerap menimbulkan konflik sosial. Dave Eggers pun seolah menggantungkan permasalahan ini, tidak memberi solusi. Bisa jadi Dave ingin membiarkan pembaca menginterpretasikan sendiri, apakah tindakan menjaga ketat privasi untuk mereka yang melakukan tindak kejahatan termasuk "kejahatan", atau bukan.

Oke. Coba kesampingkan hal tersebut. Saya tidak ingin mengomentari lebih lanjut, isunya terlalu sensitif. Mari bahas mengenai orang-orang yang kerap kita temui dalam jalur pertemanan media sosial. Orang-orang yang dengan bantuan teknologi, menjadi terhubung dengan kita, entah itu di Facebook, Twitter, Path, Instagram dan sebagainya. Entahlah dengan kalian, tapi bagi saya, melihat dengan akses penuh kehidupan orang lain, terutama yang tidak kita kenal secara pribadi, bukanlah hal yang menyenangkan. Saya tidak berhak mengawasi setiap gerak-gerik manusia.

Ada orang yang mengatur media sosialnya agar hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang dia kenal, atau hanya mengikuti akun yang memang benar-benar "temannya". Mereka tidak mau dijejali linimasa yang penuh dengan postingan orang-orang yang tidak mereka kenal secara pribadi. Media sosial sendiri pun menyediakan fitur untuk mengakomodir hal-hal semacam itu. Artinya, masih ada kepedulian dari pembuat aplikasi untuk menghargai privasi. Dalam dunia ideal Circle, hal-hal seperti itu tidak diperkenankan. Mereka tidak menerima tindakan mengunci, mengosongkan atau menghapus hal-hal yang telah diunggah. Jika data yang telah tersimpan di penyimpanan awan dihapus, artinya mencederai konsep transparansi yang diagung-agungkan. Tindakan demikian dianggap anomali. Lingkaran tidak akan terbentuk sempurna jika masih ada potensi kebocoran di dalamnya.


"It takes discipline not to let social media steal your time" -- Alexis Ohanian

Saya juga paham, media sosial berdampak positif terhadap masyarakat modern, mulai dari menemukan teman lama, berinteraksi dengan kenalan baru, mendapat jejaring luas untuk bisnis, atau sekedar mendalami hobi. Tidak masalah. Semua memiliki kebutuhan masing-masing. Data diri saya juga tidak sepenuhnya tertutup kok, sebagian telah terunggah ke internet. Seperti yang saya bilang di atas, internet seolah sudah menjadi kebutuhan yang sulit diabaikan. Menggunakannya dengan berhati-hati dan semata untuk tujuan positif tidak ada salahnya. Jangan sampai berlebihan, itu yang tidak baik. Berbijaklah dalam menggunakannya.

Mungkin hanya blog ini yang masih saya anggap media yang "sesuai" dengan minat dan kebutuhan. Tanpa sadar, saya telah menumpahkan beberapa keluh kesah dan opini tertentu dalam blog selama ini, dan bisa saja itu disalahartikan. Kekhawatiran tersebut malah menimbulkan perasaan cemas tak berdasar, sehingga saya memandang sinis blog sendiri. Ditambah faktor malas menulis, membuat saya melupakan blog. Semua orang bisa mengurus hidup masing-masing tanpa saya harus ikut campur tangan memberi opini publik. Itu yang saya pikir.

Kenyataan berkata lain. Saat vakum menulis, dunia seolah tidak bersahabat terhadap saya. Tidak ada unsur excitement. Datar. Nyaris tak berwarna. Saya beraktivitas dengan kejemuan maksimal. Hiburan sederhana semacam buku, musik dan film tidak terlalu diminati lagi. Saya tenggelam dalam arus dunia dengan segala tuntutannya. Gejolak pikiran yang dulu biasa saya tumpahkan lewat tulisan seringkali terpendam dalam benak tanpa berani dikeluarkan. Saya kurung mereka dalam sudut tergelap. 

Saat semua terasa muram, novel The Circle itu hadir sebagai kejutan dan memberi warna tersendiri dalam aktivitas sehari-hari. Kejutan kedua datang dari seorang rekan bloger, Yoga Akbar Sholihin, yang mengirim email menanyakan perihal absennya saya dalam dunia blog. Yoga merupakan salah satu pembaca setia yang kerap meletakkan komentar di banyak artikel saya. Sejak itu saya terhenyak, menyadari bahwa identitas bloger tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Bloger memang bukan profesi saya, namun menulis sudah pasti menjadi salah satu hal yang bisa membuat hidup saya terasa lebih hidup. Beberapa kali saya vakum, dan efeknya selalu sama: hidup nyaris tak berwarna lagi.

Setelah itu, beberapa teman memberi semangat untuk kembali menulis di blog. Butuh dorongan mental luar biasa bagi saya untuk kembali membuka blogger.com dan masuk ke akun pribadi. Tulisan ini sendiri mengalami bongkar pasang tak terhitung banyaknya. Saya hampir lupa bagaimana pola menulis yang biasa. Sempat timbul keraguan, apakah ini langkah yang benar. Saya pendam tulisan ini dalam draft selama beberapa waktu dan kembali dibongkar pasang lagi tanpa henti. Sepertinya ini adalah proses edit artikel blog paling melelahkan yang pernah saya alami.

Kemudian saya tersadar, betapa panjangnya tulisan ini! Proses edit kembali bergulir, hingga di satu titik, saya menyerah. Lagipula, ini bukan jenis artikel yang mensyaratkan jumlah kata dan semacamnya. Saya hanya ingin menulis.

Saya juga tidak peduli jika artikel ini hanya dibaca oleh satu orang, atau bahkan tidak ada sama sekali, alias saya sendiri yang membaca. Tak apalah. Kenapa? Karena saya memperoleh hadiah yang teramat luar biasa dalam beberapa bulan terakhir ini, yakni perasaan lega. Ya, saya lega bisa menumpahkan lagi pemikiran dalam benak. Saya lega dan tersenyum lebar melihat beberapa komentar yang masuk ke artikel-artikel sebelumnya, meski sampai saat ini ada yang belum sempat saya balas dan mengunjungi balik (terima kasih kepada para bloger yang telah berkomentar di postingan saya ya).

Bicara mengenai postingan, saya jadi membayangkan jika hidup dalam masyarakat versi ideal Circle, sebuah masyarakat yang dituntut melaporkan (mem-posting) apapun ke media sosial: kemana kita pergi, apa yang kita pikirkan, apa yang kita makan, apa yang dikenakan, jenis hiburan apa yang baru saja dialami, dan sebagainya. Beruntunglah pemerintah tidak menuntut saya rajin mengunggah apapun ke media sosial semacam Facebook, Twitter, Instagram, Path dan sejenisnya, atau menuntut saya untuk melihat linimasa seluruh media sosial tersebut, demi mengemban "misi berpartisipasi". Jika itu terjadi, maka saya dipastikan langsung tereliminasi dari sistem sosial. Serius. Saya akan menyerah, tidak sanggup memenuhi hal tersebut.

Hmm... jika dipikir-pikir, meski saya tidak aktif membagikan apapun ke media sosial, tetap saja teknologi mampu "membaca" dan "melacak" saya, berdasarkan data-data yang telah saya unggah ke internet. Semua data itu dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Jadi, meski saya berpegang pada prinsip "privasi adalah prioritas", bisa jadi saat ini internet sedang menertawakan saya, sembari berkata, "Lo itu ngga sepenuhnya suci, bro! Internet bisa tahu tentang lo dalam sekejap mata."

Well, semoga masyarakat ideal yang diharapkan dalam novel The Circle hanya terjadi di dalam novel, tidak di masa depan. Selama saya masih bergelut dengan internet di kehidupan sehari-hari, sebisa mungkin saya berusaha bijak saat mengunggah apapun ke dalamnya. Kita tidak akan tahu apakah unggahan kita saat ini bisa berbalik menyerang kita di masa mendatang, bukan?


-Bayu-


Catatan selama proses menulis:

Film "Garden State" membuat saya mengenal sebuah band asal Amerika Serikat bernama The Shins. Di film itu, sang tokoh utama yang diperankan Natalie Portman mengatakan bahwa "musik ini akan merubah hidupmu..." dan memang itulah aura yang diusung The Shins melalui lagu "New Slang". Lagu bernapaskan folk ballad yang lembut ini menemani saya sepanjang proses menulis, memacu mood untuk terus bergerak positif.


image source: amazon.com

READ MORE - Keterbukaan di Era Media Sosial

Membaca, Cikal Bakal Menulis


image source: productivitybytes.com
"If you don't have time to read, you don't have the time (or the tools) to write. Simple as that" -- Stephen King

Kutipan dari Stephen King (penulis yang terkenal dengan novel thriller-nya) di atas memang benar. Jika kita tidak memiliki waktu untuk membaca, maka kita tidak akan memiliki waktu (atau alat) untuk menulis. Banyak pihak yang menyatakan bahwa membaca terkait erat dengan menulis. Bisa membaca belum tentu bisa menghasilkan sebuah tulisan, namun gemar membaca identik dengan kemampuan menulis.

Mari kita bahas mengenai aktivitas membaca terlebih dahulu. Jika ingin dihitung, mungkin sulit sekali menjumlahkan berapa banyak buku yang telah terbit hingga saat ini di seluruh dunia. Referensi atas segenap bidang ilmu pengetahuan telah beredar sejak lama, dan terus-menerus bertambah setiap saat. Sadar atau tidak sadar, dunia kita dipenuhi dengan buku. Perpustakaan paling besar sekalipun saya yakin tidak sanggup menampung banyaknya koleksi buku yang telah diterbitkan.

Nah, jika fakta berkata demikian, apakah lantas masyarakat menjadikannya sebagai bahan bacaan? Tidak juga. Well, tidak perlu saya sebutkan statistik mengenai budaya membaca masyarakat Indonesia yang rendah. Saya tahu bahwa membaca dan menulis bukan hal yang dianggap "seksi" di Indonesia, bahkan generasi milenial menganggap "membaca linimasa dan menebar postingan di media sosial" jauh lebih seksi. 

Tidak banyak orang yang menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli buku. Jangankan membeli buku, mungkin banyak yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Buku menjadi nomor kesekian untuk dipenuhi, atau justru tidak sama sekali masuk ke dalam daftar kebutuhan. Bahkan sampai sekarang saya masih menemukan orang yang dengan mudahnya berkata, "Ngapain pergi ke toko buku? Mendingan nongkrong di mana kek, lebih seru."

Sayang sekali. Mungkin dia belum memahami kesenangan yang diperoleh dari membaca, sehingga tidak menganggap pergi ke toko buku itu menyenangkan. Tidak masalah. Semua orang memiliki kegemaran masing-masing, bukan? Semoga mereka akhirnya menyadari bahwa membaca bukanlah hal yang membosankan. Pergi ke toko buku juga bukanlah hal yang memalukan.

Lagipula, banyak sekali bahan bacaan yang beredar di sekeliling kita, tidak harus dalam bentuk buku kok. Koran, majalah, buletin, dan sebagainya, semua mengandung tulisan yang bisa dibaca. Tulisan yang memiliki kandungan informasi tersendiri. Tidak perlu susah payah membeli buku di toko buku, cukup beli e-book, maka kalian bisa menikmati bacaan langsung di gadget kesayangan. Tidak perlu ragu juga untuk menikmati banyak sekali artikel yang tersebar di internet, menunggu untuk kalian baca.

Pertanyaannya adalah: apakah kalian mau menyisihkan waktu untuk membaca semua asupan informasi tersebut? Apakah membeli buku menjadi salah satu kebutuhan kalian?

"Writing comes from reading, and reading is the finest teacher of how to write
-- Annie Proulx

Sekarang beralih ke aktivitas menulis. Di zaman modern ini, alat elektronik telah merevolusi pola menulis, dari semula menggunakan alat tulis dan kertas, menjadi "hanya" menggerakkan jemari di atas keyboard komputer atau smartphone. Menulis menjadi hal yang sangat mudah dilakukan. Menyenangkan sekali.

Jika mudah, mengapa tidak banyak yang melakukannya? Hm, alasan paling kuat bisa jadi adalah "kebiasaan". Mengambil kutipan Annie Proulx yang berwarna biru di atas, bisa dilihat bahwa "aktivitas menulis muncul dari aktivitas membaca". Jika tidak terbiasa membaca, maka dunia tulis menulis tidaklah terlihat menarik. Sesederhana itu. 

Mari tarik kasusnya lebih dalam lagi. Tidak perlu menyinggung profesi penulis dan semacamnya. Coba kita tengok para pelajar. Jika tidak tertarik membaca buku pelajaran untuk menunjang aktivitas belajar, maka tidak perlu heran mengapa sulit sekali mengerjakan tugas yang berhubungan dengan menulis. Jadi, tidak perlu heran juga mengapa masih ada mahasiswa yang gemar melakukan copy paste artikel untuk tugas makalahnya, bukan?

Oke, saya tahu membaca buku pelajaran memang bukan aktivitas menyenangkan, tidak seperti membaca novel atau semacamnya. Ada pelajar/mahasiswa yang gemar membaca novel namun sulit membaca ratusan halaman materi pelajaran. Itu hanya masalah kebiasaan dan pengemasan. Bisa jadi materi pelajaran yang dibaca tidak dikemas dengan menarik oleh penulisnya. Deretan kata-kata sulit, dalam ratusan halaman membosankan. Jika demikian, maka cobalah kemas sendiri dengan menarik. Berpikir secara kreatif. Buat rangkuman versi pribadi mengenai materi tersebut, sehingga nyaman untuk dibaca berulang kali. Awalnya memang berat, namun proses "mengemas ulang"-nya hanya terjadi di awal kok. Selebihnya, tinggal dinikmati sebagai rangkuman materi pelajaran yang menyenangkan. Jika dilakukan terus-menerus, bisa menjadi kebiasaan yang positif.

Apakah saran tersebut masih terlalu sulit dilakukan? Masih juga malas membuka lembaran materi pelajaran dan menulisnya ulang dengan versi pribadi? Ya sudah. Jangan bersedih dan kecewa jika nilai kalian tidaklah setinggi mereka yang belajar dengan giat. Atau, kalian lebih tertarik menggunakan jalan pintas, mencontek pekerjaan orang lain demi sebuah nilai? Mungkin awalnya terlihat memuaskan, namun jika kebiasaan itu dipupuk, maka akan merugikan diri kalian sendiri di masa mendatang.


image source: washingtonpost.com
"The scariest moment is always just before you start" -- Stephen King

Kembali ke dunia menulis. Jika kalian gemar membaca, maka dengan sendirinya akan tertarik untuk menulis, setidaknya menulis buah pikiran pribadi, tidak melulu harus novel dan sebagainya. Persepsi pribadi adalah harta karun yang tidak ada duanya lho. Asupan informasi mungkin sama antar satu penulis dan penulis lain, tapi sudut pandang dalam melihat informasi tersebut tidaklah seratus persen sama. 

Misalnya, dua orang penulis dihadapkan pada sebuah kertas kosong dan diminta untuk mendeskripsikan apa yang mereka lihat dalam bentuk tulisan. Begini hasilnya:

Penulis 1: "Kertas ini berwarna putih polos, tanpa tulisan apapun. Bentuknya persegi panjang vertikal. Ukurannya mungkin A4. Kertas ini diletakkan di atas sebuah meja." 

Penulis 2: "Di hadapan saya ada sebuah kertas putih yang tampak bersih. Dari ukurannya, bisa dibilang ini adalah kertas A4, kertas yang cocok digunakan untuk membuat laporan dan sejenisnya. Tidak ada coretan apapun di kertas ini. Jika diperbolehkan, saya akan mengisinya dengan tulisan pribadi."

Lihat? Itulah perbedaan sudut pandang. Kedua penulis sama-sama menjelaskan deskripsi mengenai kertas, namun gaya menulis mereka berbeda. Blogger pun demikian. Asupan informasi yang diterima oleh tiap blogger bisa jadi sama, tapi masing-masing menulisnya dengan cara berbeda. Ada yang diselipi humor, disertai narasi detil, disisipi pengalaman dan lain sebagainya. Tidak masalah, sepanjang itu semua berasal dari benak pribadi. Seperti yang saya bilang, persepsi pribadi adalah harta karun, karena hanya kalian sendiri yang bisa menuangkannya, bukan orang lain. Gaya menulisnya pun hanya milik kalian seorang. The one and only in the world. Bukankah itu menakjubkan? 

Jadi, untuk kalian para blogger, mulai sekarang tidak perlu berkecil hati untuk menuangkan tulisan, apapun itu. Ingat, setiap blogger memiliki senjata berharga, melekat dalam diri, yakni persepsi pribadi. Modal dasar yang tidak bisa diganggu gugat. Sekarang, coba poles persepsi tersebut dengan gaya menulis masing-masing. Gunakan referensi dan kosakata yang menarik. Tidak tahu mesti menulis dengan gaya apa? Tidak tahu harus menggunakan kalimat apa untuk memulai? Jangan panik. Itu tandanya kalian harus lebih banyak membaca.

Dengan membaca, kita membuka kemungkinan untuk menyerap informasi, kosakata, alur, pemahaman terselubung, deskripsi menyeluruh, kata kunci, ide, dan sebagainya. Bebaskan pikiran kalian untuk "memakan" informasi tersebut, dan rasakan manfaat yang didapat. Entah disadari atau tidak, bukan hanya tubuh kita saja yang butuh asupan energi, namun otak juga butuh asupan tersebut, dan salah satunya didapat dari aktivitas membaca. 

Tidak ada lagi kesulitan mencari ide. Tidak ada lagi rasa cemas karena hasil tulisan tidak menarik, bahkan tidak akan ada lagi ketertarikan untuk copy paste artikel milik blogger lain secara penuh dan terang-terangan. Ketertarikan membaca akan mengantar kalian menikmati itu semua. Kebiasaan sederhana justru akan menjadi modal yang luar biasa. 

Artikel ini sekaligus sebagai self reminder bagi saya, bahwa kesulitan menulis yang dirasakan akhir-akhir ini mungkin karena kurang banyak membaca. Kini, saya sedang menyelesaikan membaca sebuah buku, dan dampaknya langsung terasa. Membuka laman blogger untuk menuangkan pikiran menjadi pilihan menyenangkan di hari libur ini hehe.

Menanamkan budaya membaca di mata masyarakat Indonesia memang tidak mudah, namun jika tidak dimulai dari sendiri dan tidak dimulai saat ini juga, kapan lagi?

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Saya sangat berterima kasih kepada Spotify yang telah mengenalkan sebuah lagu bernapaskan dance pop dan house berjudul "You Don't Know Me" karya DJ asal Inggris, Jax Jones, menggandeng Raye di bagian vokal. Jax Jones mengambil sampel bassline dari lagu "Body Language" milik M.A.N.D.Y vs Booka Shade, menghasilkan komposisi musik yang enerjik, cocok untuk menaikkan mood. Lagu ini saya putar terus-menerus selama proses menulis artikel.

Notable lyric of this song:
"I mean, we could shapes together, but it doesn't mean you're in my circles, yeah..."
image source: en.wikipedia.org

READ MORE - Membaca, Cikal Bakal Menulis

Bekerja Secara Kreatif

image source: spring.org.uk
"Art, freedom and creativity will change society faster than politics
-- Victor Pinchuk

Saya senang sekali menonton di bioskop, baik beramai-ramai maupun sendiri. Ada sensasi menyenangkan yang timbul saat sebuah film diputar, lalu kita terhanyut dalam jalinan kisahnya, hingga credit title bergulir di akhir. Mungkin karena suasananya dibuat gelap sedemikian rupa, hingga memaksa penonton untuk hanya melihat layar di depan mereka, fokus menonton. Jika ada yang ribut saat menonton, yah... itu lain cerita.

Sayangnya, tiket menonton di bioskop tidaklah semurah membeli tiket commuter line. Mungkin jika menontonnya hanya sesekali, tidak terlalu membebani pengeluaran. Jika banyak film bagus yang sedang diputar dan kita berniat menonton semuanya, barulah "pengeluaran" itu akan sangat terasa. Maka dari itu, saya benar-benar memilih film apa yang akan ditonton di bioskop, dipilah sesuai minat dan kebutuhan. Jika dituruti, bisa-bisa saya menonton semua film yang dirilis, tapi mengingat keterbatasan dana, harus ditekan sedemikian rupa.

Nah, ada satu kejadian unik yang saya temui saat menonton sebuah film di bioskop. Saya memilih jadwal pemutaran pukul 21.20 WIB, karena hanya itu yang bisa saya usahakan sehabis bekerja seharian di kantor. Saya memang berniat melepas stres, kebetulan filmnya juga bagus. 

Jadi begini. Ketika masuk ke dalam studio, saya melihat dua petugas dari gerai makanan menawarkan cemilan dalam kotak khusus yang mereka bawa. Isinya beragam, dari popcorn hingga minuman. Karena saya sudah membeli di luar, maka tawaran mereka terpaksa ditolak. Saya lihat, beberapa penonton lain juga menolak dengan halus, entah apakah mereka sudah membeli di luar juga, atau memang tidak tertarik sama sekali.

Beberapa saat kemudian, layar bioskop mulai menampilkan iklan dan film-film yang akan diputar dalam waktu dekat. Sementara, di sudut studio, kedua petugas dari gerai makanan itu masih setia berdiri, menawarkan makanan dan minuman kepada penonton yang baru masuk. Begitu seterusnya, hingga layar bioskop berhenti menampilkan iklan. Suasana pun hening. Dalam jeda sekian detik sebelum film diputar, entah mengapa kedua petugas gerai makanan malah berbincang, begini saya rangkum pembicaraan mereka:

Petugas 1: Kok jualan kita sepi ya, tumben.
Petugas 2: Tahu nih, emang pada ga mau nyemil apa?
Petugas 1: Capek kan berdiri gini, malah ga ada yang beli. Emang ini film tentang apaan sih? Bukannya lama ya durasinya?
Petugas 2: Ngga tahu deh, kayaknya drama gitu. Eh, ini kita balik aja apa gimana?
Petugas 1: Iya lah, orang ga ada hasilnya juga. Udah yuk!

Setelah mereka pergi, beberapa penonton langsung terkikik geli mendengar percakapan spontan tersebut, termasuk saya. Mungkin kedua petugas itu tidak sadar suara mereka terdengar sangat jelas di dalam studio, atau malah mereka sengaja mengeraskan suara agar barang dagangannya dibeli?

"Creativity takes courage" - Henri Matisse

Kejadian tersebut sudah berlangsung cukup lama, namun baru muncul lagi dalam benak. Saya memikirkannya cukup serius. Jika kedua petugas itu sengaja mengeraskan volume suara, itu bukan tindakan bijak, karena malah seolah menghakimi penonton yang tidak mau membeli barang dagangan mereka. Di satu sisi, jika mereka tidak sengaja berbicara seperti itu, saya malah merasa miris. Kenapa? Karena begitu rendahnya semangat bekerja dalam diri mereka.

Saya tidak tahu protokol standar dalam menjual makanan dan minuman dalam bioskop. Menjual langsung dengan menempatkan petugas di dalam studio jelas inovasi menarik, karena penonton yang tidak sempat membeli bisa menikmati cemilan saat itu juga. Di lain waktu di bioskop berbeda (masih satu grup), saya pernah melihat petugasnya malah langsung mendatangi bangku penonton dari atas hingga bawah selama iklan diputar, menawarkan dengan ramah. Itu juga bentuk kreativitas, entah menjadi standar atau tidak. Di bioskop yang lebih besar lagi, justru tidak ditemukan bentuk kreativitas semacam itu, bahkan tidak ada petugas gerai makanan sama sekali yang ditempatkan di studio.

Hal ini mengusik pikiran saya. Jika satu grup bioskop saja bisa berbeda-beda cara melayani pelanggan, berarti masing-masing menerapkan bentuk kreativitas sendiri, atau sebenarnya sudah ada aturan standar namun tidak diterapkan maksimal. Entah mana yang benar, satu hal sudah pasti: Siapa yang kreatif, dia yang memenangkan hati pelanggan.

Benar kata Henri Matisse seperti yang saya kutip dalam kalimat berwarna hijau di atas: Kreativitas butuh keberanian. Jika tidak berani bertindak di luar kebiasaan, maka hasilnya tidak akan maksimal. Kembali ke kisah dua petugas yang bercakap-cakap itu. Mereka sama sekali tidak berbuat maksimal dalam menjual barang dagangan, berdiri begitu saja, berharap ada yang membeli. Jika mau berinisiatif, mereka bisa saja mendatangi penonton satu persatu, mungkin jika didatangi langsung, yang awalnya menolak halus, akan tertarik membeli. 

Jika hasilnya tetap sama, tidak ada salahnya mencoba, bukan? Sebelum dicoba, peluangnya masih 50:50 kok. Itulah mengapa saya miris. Mereka memilih lisan untuk digunakan mengeluh, bukannya memilih otak untuk mencari solusi.


image source: meistertask.com
"Creativity is allowing yourself to make mistakes. Art is knowing which ones to keep"
-- Scott Adams

Bukan berarti saya tidak pernah mengeluh selama bekerja. Saya bukanlah seorang panutan sempurna. Mengeluh itu satu cara untuk mengeluarkan aura negatif, namun bukan berarti terus-menerus. Saya juga kerap mengeluh tentang tekanan pekerjaan ke beberapa rekan tertentu, tapi setidaknya saya tahu bahwa hanya mengeluh saja tidak menyelesaikan masalah, harus diimbangi dengan pemecahan masalah.

Hm, tapi tunggu dulu. Siapa tahu saya yang terlalu berprasangka buruk ya. Bisa jadi kedua petugas gerai makanan itu sekedar mengeluh, kemudian pada tugas berikutnya, mereka lebih aktif melayani penonton. Well, jika memang demikian, berarti luar biasa. Semoga benar. Jika ternyata keluh kesahnya tidak ditindak lanjuti dengan aksi yang lebih baik, ini baru yang tidak bisa diterima. Semoga kalian juga tidak terjebak dalam kondisi demikian. 

Saya tahu bahwa apapun kegiatan yang kita lakukan saat ini, baik sebagai karyawan swasta, pegawai negeri, pelajar, wirausaha dan semacamnya, memiliki kriteria tersendiri mengenai tanggung jawab. Karyawan swasta bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaannya, begitu pula pegawai negeri. Para pelajar bertanggung jawab menyelesaikan pendidikannya, begitu pula wirausaha, dengan setumpuk tanggung jawab mandiri yang harus mereka lakukan. 

Sekarang coba pikirkan. Apakah pekerjaan kalian tidak menyediakan ruang untuk kreativitas? Untuk sekedar merubah pola? Atau memunculkan pola baru? Jika sedemikian ketat untuk perubahan, setidaknya kalian bisa menemukan celah untuk menyukai pekerjaan, dan membangun mood positif dalam melakukannya.

Seorang teman pernah memberi pesan kepada saya, "Kalo lo ngeluh mulu ama kerjaan, ya resign aja. Kebanyakan ngeluh bisa jadi karena lo ngga suka ama tu kerjaan. Kalo suka, pasti bisa lo jalanin apapun rintangannya. Kalo ga mau resign, ya mau ga mau lo mesti nemuin cara untuk suka ama kerjaan itu."

Hmm.

Untunglah saat ini saya bisa menemukan sisi unik dalam pekerjaan sekarang, sehingga jika menemukan rintangan, setidaknya saya bisa meresapi sisi unik tersebut dan kembali bersemangat menjalani hari demi hari. Ada kalanya jenuh menghampiri, namun bisa disiasati dengan melakukan kegiatan yang membangun mood positif di luar jam kerja, misalnya membaca, menulis atau menonton film. Kegiatan kecil semacam membeli makanan atau minuman ringan sebagai hadiah untuk diri sendiri saat berhasil memenuhi target juga bisa membangun mood positif. Apapun itu, silahkan kalian kembangkan sendiri. 

Jika kita stres menjalani pekerjaan, lalu masih ditambah stres untuk kegiatan di luar pekerjaan, lalu apa manfaatnya bagi diri sendiri? Coba renungkan secara mendalam. Temukan sisi lain dalam pekerjaan yang sedang kalian jalani sekarang. Temukan pola baru dalam menjalaninya. Jika tidak bisa, maka coba temukan hal-hal menarik dan unik dengan memperluas wawasan seputar pekerjaan. Tekuni hobi untuk membangun aura positif. Mengeluh sesekali boleh saja, namun harus diimbangi dengan pemecahan masalah.

Tidak ada salahnya mencoba, bukan?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Saat mengenal musiknya melalui lagu "The A Team", saya tidak pernah menyangka Ed Sheeran akan menjadi musisi terkenal seperti saat ini. Dia adalah seorang musisi yang bisa dibilang jenius menelurkan banyak lagu bagus. Tidak sekedar mengikuti selera pasar, Ed Sheeran mengembangkan ciri khas melalui setiap lagunya yang bernapaskan pop, folk, rock dan sentuhan genre lain. Khusus untuk menemani proses menulis artikel di atas, saya memutar lagu "Castle On The Hill" dan "Shape Of You", dua lagu yang entah bagaimana bisa mengalun indah dengan ciri khas masing-masing.

Kedua lagu itu sendiri dirilis bersamaan, dimana "Castle On The Hill" mewakili sisi horizontal dan "Shape Of You" mewakili dua titik vertikal. Jika digabung, kedua lambang tersebut membentuk simbol pembagian, atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Divide, yang menjadi nama untuk album ketiga.

Kreatif sekaligus cerdas.
image source: independent.co.uk
READ MORE - Bekerja Secara Kreatif

Buka Pikiran Dengan Traveling atau Membaca



image source: theodysseyonline.com
"It is a narrow mind which can not look at a subject from various points of view"
-- George Eliot

Pernahkah kalian beradu pendapat dengan seseorang yang seolah merasa pendapatnya yang paling benar, selalu meremehkan pendapat orang lain, tidak mau menerima kritik, tidak mau mengakui pendapatnya salah dan memandang segala sesuatu hanya dari satu sisi?

Atau, pernahkah bertemu dengan seseorang yang kerap meremehkan aktivitas positif yang kita lakukan, melabelinya dengan perilaku "aneh dan tidak biasa", segan menerima perubahan, tidak mau berpikir di luar kebiasaan umum dan mudah terpancing emosinya oleh hal-hal remeh?

Jujur saja, banyak orang dengan paduan beberapa hal di atas, atau mungkin sekaligus (astaga, pasti hidupnya runyam), bisa jadi. Jika kebetulan sedang berinteraksi dengan tipe demikian, sebisa mungkin saya membatasi diri untuk tidak bicara terlalu banyak. Mengumbar hasil pemikiran akan membuat saya rentan diserang tipe orang dengan pola pikir sempit, sehingga jalan terbaik adalah menanggapinya dengan santai, mencoba mengalihkan topik pembicaraan, diam atau menjauh pergi.

Pengalaman mengajarkan saya bahwa TIDAK ADA GUNANYA berdebat dengan orang berpola pikir sempit. Mereka kerap memandang apa yang diyakini adalah paling benar, sehingga mengabaikan pendapat lain. Tidak jarang juga orang terjebak dengan persepsi masing-masing, penafsiran bebas bahkan kerap tak bertanggung jawab akan suatu hal. Isu A bisa dipelintir sedemikian rupa menjadi isu B yang negatif. Penafsiran yang salah kaprah berujung masalah.

Apa yang kita pikir, kita ucapkan, kita lakukan, bisa berbeda satu sama lain, karena manusia memang diciptakan berbeda-beda. Pasti ada hikmah luar biasa mengapa Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda, bukan? Pernahkah itu terlintas dalam benak kalian?

image source: linkedin.com
Mungkin sebagian dari kalian pernah melihat gambar di atas. Dua orang beradu argumen, menyatakan angka yang benar, di satu sisi angka enam, di sisi lain angka sembilan. Jika tidak dilerai, mereka berdua akan terus berdebat sampai kiamat, padahal tidak ada yang salah. Semua hanya masalah persepsi. Itulah mengapa di beberapa artikel blog ini, saya kerap menyatakan bahwa "Selalu ada dua sisi lain dalam suatu hal", menandakan bahwa jangan pernah memandang semuanya hanya dari satu sisi

Tidak mencoba membuka pikiran untuk menelaah sisi lain suatu hal menyebabkan kita menganggap diri ini paling benar. Parahnya, inilah yang menjangkiti masyarakat: aksi perang urat syaraf membela satu sisi yang dianggap lebih benar dari sisi lain. Padahal, jika kita mau "melihat" kedua sisi dengan pikiran terbuka, semestinya kita tidak akan terprovokasi oleh isu-isu yang begitu mudah diputar balikkan. Berpikirlah secara bijak.

"Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. Coming back to where you started is not the same as never leaving"
-- Terry Pratchett

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang menikmati membaca deretan seri buku The Naked Traveler karya Trinity, sang travel blog fenomenal. Meskipun terhitung telat mengetahui, kini saya benar-benar jatuh hati pada tulisannya! Ringan, unik dan terasa personal. Saya sangat merekomendasikan buku-buku tersebut untuk kalian baca (atau kunjungi saja blog The Naked Traveler untuk menikmati tulisan Trinity), dan mohon dipahami bahwa tulisan ini murni kehendak pribadi.

Yang membuat saya kagum adalah sudut pandang mengenai traveling yang ada di buku tersebut. Dibesarkan di lingkungan dengan berbagai suku dan agama, Trinity memahami makna perbedaan. Modal dasar inilah yang membuat dirinya berpikiran terbuka, berani menjelajahi pelosok bumi dengan rasa haus akan tantangan dan pengalaman baru yang begitu tinggi. 

Berikut saya kutip beberapa manfaat traveling versi Trinity (diambil dari salah satu bukunya):
1. Pengetahuan dan wawasan tentu bertambah, begitu juga soft skills.
2. Semakin tinggi rasa toleransinya karena harus berhubungan dengan manusia dengan beragam latar belakang.
3. Semakin merasa dekat dengan Sang Pencipta karena menyaksikan keajaiban dan keindahan alam.

Hm, coba bayangkan jika seluruh masyarakat Indonesia bepergian ke luar dari zona nyamannya dan mendapat manfaat seperti Trinity di atas, wah bisa jadi negara ini sungguh makmur. Bagaimana jika sudah bepergian namun masih tidak merasa manfaat berarti? Well... tandanya masih ada yang salah dengan "memaknai proses bepergiannya". Misalnya, orang yang pergi ke Lombok untuk mendapatkan ketenangan batin dan menikmati alam dengan khidmat, tentu hasilnya berbeda dengan mereka yang pergi ke pulau tersebut hanya sekedar untuk berbelanja, berfoto narsis dan memajangnya di media sosial. 

Jika kalian bertemu seseorang yang sering traveling namun ternyata dia masih berpikiran sempit, sungguh disayangkan. Pikirannya diperbudak oleh kesenangan duniawi atau tuntutan profesional semata, tidak dibiarkan berkelana bebas untuk mencoba memaknai perjalanan dan manfaatnya bagi perkembangan mental.

"I read, i travel, i become" -- Derek Walcott

Bagaimana jika tidak mampu bepergian namun tetap ingin berpikiran terbuka? Jangan khawatir, kalian masih bisa memperolehnya lewat membaca. Ya, membaca adalah gerbang menuju apa saja, benar-benar apa saja. Jika melalui traveling, pikiran dan tubuh kita dibiarkan berkelana, maka di dalam proses membaca, hanya pikiran saja yang akan diajak berkeliling.

Bahan bacaannya bisa beragam: novel, cerpen, majalah, koran, berita, non fiksi, dan sebagainya. Jika mau dirunut, banyak sekali di sekitar kita. Tinggal bagaimana cara memanfaatkannya dengan bijak. Melalui bahan bacaan, kita membuka pikiran untuk menerima beragam unsur baru, beragam kesenangan, beragam emosi, beragam makna, hingga beragam bahasa. Itulah indahnya perbedaan, bukan?

Lagi lagi, pertanyaannya adalah: Bagaimana jika sudah banyak membaca namun masih berpikiran sempit?

Hmm... jika ada seseorang yang demikian, coba telaah mulai dari bahan bacaan apa yang sudah dibaca dan bagaimana memaknai bacaan tersebut. Bisa jadi bahan bacaannya memuat unsur negatif pada pemikiran, dan dirinya tidak sanggup menyaring itu semua sehingga terbentuklah pola pikir sempit. Atau, bahan bacaannya memang banyak, namun bobot tulisannya belum bisa dikatakan "berisi".

Duh, saya sebenarnya bingung menuangkan masalah bobot bahan bacaan dalam artikel ini, karena lagi-lagi persepsi yang dikedepankan. Ada yang menganggap novel Tere Liye sebagai bacaan berbobot namun ada juga yang mengkritiknya terlalu sentimentil. Ada yang mendewakan serial Supernova sebagai sastra indah, namun dirinya tidak tertarik membaca selembar pun tulisan Pramoedya Ananta Toer. Ada yang menganggap novel terjemahan terlalu kaku dan kurang menarik, sehingga memutuskan untuk membaca teenlit lokal yang lebih "berwarna".

Saya tidak tertarik mendebat selera bacaan seseorang. Yang bisa saya katakan adalah: untuk mendapatkan makna membaca yang lebih jauh lagi, tantang diri kalian. Jika terbiasa membaca novel populer, coba membaca novel drama klasik, sastra, science fiction, kumpulan puisi, buku motivasi, atau biografi tokoh dunia. 

Rasakan setiap kata yang teruntai di buku-buku tersebut. Serap maknanya secara lebih dalam, jika perlu baca berulang kali agar paham. Memang awalnya menyebalkan, tidak seringan bacaan yang biasa kalian baca, namun justru disinilah poin pentingnya: Buka pikiran. Beri kesempatan pikiran untuk berkelana lebih jauh. Jangan dikekang di tempat yang sama. Sedikit demi sedikit kalian akan menemukan kesenangan saat membacanya.

"A mind is like a parachute. It doesn't work if it is not open" -- Frank Zappa

Jika kalian berpikir bahwa bahan bacaan tergantung selera dan tidak bisa dipaksakan, saya paham kok. Setidaknya cobalah untuk keluar dari zona nyaman dan mulai membaca bahan bacaan lain. Jika ternyata tidak sesuai selera, berarti kalian hanya belum menemukan kunci kenikmatan saat membacanya. Masih ingin berpetualang dengan pikiran? Coba lagi dengan jenis bacaan lain. Begitu seterusnya, hingga menemukan gairah membaca.

Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil menamatkan buku yang bukan selera pribadi, memahami maknanya, kemudian tertarik membaca lebih banyak varian lagi. Berilah sayap pada pikiran kalian, agar dia bisa berkelana menjelajah kemanapun, tidak berkutat pada satu jenis bacaan saja. Jangan mengeluh, jangan banyak pertimbangan. Pada akhirnya, kalian akan tersenyum bangga bisa menemukan "makna tersembunyi" dalam hampir setiap bahan bacaan, karena dengan sendirinya pikiran akan terasah untuk menjelajah setiap sudut paragraf, kalimat, dan kata. 

Apakah harus dipaksakan? Tidak. Itu semua murni kehendak pribadi, jangan memaksa diri. Jika kalian sudah berniat membuka pikiran seluas-luasnya, menurut saya "melahap" bacaan yang beragam justru menjadi sebuah tantangan dan kenikmatan, sama seperti seorang traveler yang lebih memilih bepergian ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, daripada pergi ke tempat yang ramai. Tidak akan ada kesan terpaksa, karena mereka memang benar-benar menginginkannya.

Satu lagi dan ini yang terpenting, jadikan membaca sebatas hobi dan untuk menambah wawasan, jangan untuk mencari kesan pintar. Memamerkan bahan bacaan agar mendapat kesan pintar bukanlah tindakan bijak. Alangkah baiknya jika kalian membagi pemikiran sendiri dengan memaknai bahan bacaan, bukan sekedar memamerkannya. 

"Read! You'll absorb it. Then write. If it's good, you'll find out" -- William Faulkner

Sama halnya seperti buku, artikel sebuah blog juga bisa dijadikan bahan bacaan. Ada yang populer dan menarik banyak pengunjung, ada juga yang kurang populer. Ada yang lebih menyukai tulisan ringan dan menghibur, daripada tulisan panjang dan penuh kalimat yang membuat kening berkerut. Tidak masalah jika tulisan ini dimasukkan ke kategori terakhir. Tidak masalah pula jika ada yang langsung menutup artikel ini begitu melihat panjangnya tulisan.

Saya tidak menulis untuk memuaskan banyak pembaca. Untunglah tidak ada tuntutan seperti itu, sehingga apa yang saya kemukakan murni kehendak pribadi untuk menuangkan pendapat. Jika ada yang menyukai tulisan saya dan mendapat manfaat dari artikel semacam ini, terima kasih banyak. Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur, karena itu hadiah tak ternilai bagi seorang penulis. 

Jadi, mari membuka pikiran untuk wawasan seluas-luasnya. Jangan ragu pula untuk menuangkan dalam bentuk tulisan. Dunia ini luas dan masih sangat pantas untuk dijelajahi, baik dengan traveling ataupun membaca. Buang semua pikiran negatif dan pertimbangan ini itu. Rencanakan perjalanan dengan matang. Perbanyak pengalaman bepergian dan temukan maknanya. Jika belum sanggup, segera pergi ke toko buku dan investasikan uang kalian pada bacaan menarik, atau pergi ke perpustakaan. Gunakan gadget untuk menambah atau menyebar wawasan, jangan sebatas mengumbar harta dan keluh kesah. 

Intinya, bukalah pikiran untuk menerima hal-hal berbeda dan baru. Tidak melulu harus dari traveling atau membaca kok, masih ada cara lain yang bisa dilakukan, misal menonton film atau bergaul dengan orang-orang yang berwawasan luas. Hidup kalian masih sangat layak untuk diperjuangkan menjadi lebih baik lagi. Percayalah.

Ayo, langkah untuk memulai sesuatu yang lebih baik bisa dimulai dari sekarang!

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Bagi saya, mendengarkan genre EDM (Electronic Dance Music) selalu memberikan sensasi menyenangkan yang sulit diungkapkan. Khusus untuk musik tanpa lirik, jelas EDM memberikan ruang bagi para musisi untuk bereksplorasi. Demi menunjang penulisan artikel di atas, saya mendengarkan musik berjudul "Castles In The Air" milik duo EDM asal Australia, yakni Bag Raiders. Persembahan instrumentalia upbeat yang kaya akan unsur dance pop dan electropop ini membuat tangan saya bergerak lincah menyusun kata demi kata.
image source: en.wikipedia.org


READ MORE - Buka Pikiran Dengan Traveling atau Membaca

Teringat atau Sengaja Memikirkan?

image source: chronicle.com

"If you spend too much time thinking about a thing, you'll never get it done

-- Bruce Lee

Otak. Semua orang menggunakan organ tersebut untuk berpikir, namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah semua orang menggunakannya dengan cara yang sama? Jika demikian, tentu semua bisa menjadi ilmuwan, bisa menemukan teknologi terbaru, bisa membuat karya seni berkualitas, bisa menghasilkan apapun yang ingin dihasilkan. Benar, bukan? Saya tidak bisa membayangkan keadaan dunia jika semua berpikir secara sama. 

Well... kalian tidak perlu memikirkan sejauh itu. Tenang saja. Lagipula, itu hanya sekelumit pemikiran menakutkan yang saya bangun. Entahlah, terkadang otak saya ini gemar melakukan aktivitas yang sulit diabaikan: terlalu sering memikirkan sesuatu. Apakah yang dipikirkan? Apa saja. Melihat kerumunan orang, membaca tulisan yang menggugah jiwa, mendengarkan musik yang mengalun indah, mendengarkan percakapan atau cerita seseorang, menonton film yang membuat terpana. Hal-hal semacam itu selalu mengaktifkan radar dalam otak untuk segera melakukan satu hal: MARI PIKIRKAN HAL INI SECARA SEKSAMA!

Saya sengaja menulis kalimat tersebut dalam huruf kapital untuk menggambarkan betapa besarnya pengaruh hal itu dalam kehidupan sehari-hari. Juga, betapa melelahkannya! Mungkin untuk beberapa kesempatan, hal itu membantu saya menjadi pribadi yang produktif. Misal, menemukan solusi atas permasalahan di lingkup pekerjaan yang sudah sangat memusingkan (dalam pekerjaan saya sekarang, selisih satu angka yang timbul bisa menimbulkan perang urat syaraf antar berbagai pihak), meluncurkan tutur kata yang baik kepada orang lain, atau untuk menulis artikel di blog ini. Saya akui, saya senang melakukannya.

Masalah timbul jika kegiatan "memikirkan terlalu dalam" tersebut merambah sisi kehidupan saya yang lain: hubungan sosial, hubungan asmara, prinsip hidup, hingga selera dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Saya tidak tahan untuk tidak mencoba memikirkan kenapa si A berkata kasar, kenapa si B mencela saya, kenapa film itu sungguh buruk, kenapa musik ini terlalu sulit dicerna, kenapa saya dianggap menyedihkan jika memilih menonton di bioskop sendirian, hingga kenapa saya HARUS mengenakan seragam kantor selama tiga kali dalam satu minggu?

Fiuh.

"Stop thinking, and end your problems" -- Lao Tzu

Semua pertanyaan yang terngiang mengenai segala sesuatu di dalam otak saya lebih banyak mendekam begitu saja daripada ditemukan jawabannya. Hm, kenyataan menyedihkan. Jikapun jawabannya muncul, terkadang masih tidak sesuai, sehingga proses berpikir mendalam terpaksa dilakukan lagi. 

Kini, dengan bangga saya mengatakan kalau keberadaan blog ini sebenarnya sungguh membantu saya dalam menguraikan apa yang kusut dalam pikiran. Semua "sampah" pemikiran yang mengendap dengan teratur coba dipilah dan disusun ulang, sehingga terbitlah beberapa artikel. Terkadang, saat tengah malam, saya mencoba membaca lagi beberapa tulisan di blog ini, dan hasilnya membuat saya tersenyum lega. Haha. Apa jadinya jika semua artikel saya di blog ini masih terpendam dalam pikiran? 

Ya, setidaknya masih ada media yang sanggup menampung hal tersebut, daripada dipendam dan menjadi bangkai yang tak beraturan, khawatir menambah stres. Itulah sebabnya saya selalu merasa bahagia sekali sehabis menulis. Sayang, diri ini kerap terjebak dalam faktor malas, sehingga melupakan betapa bahagianya perasaan setelah menulis. Apapun itu, menulis tetaplah merupakan sebuah kegiatan spesial bagi saya, juga sebuah kegiatan "bersih-bersih pikiran" yang cukup ampuh menenangkan emosi.

Entahlah dengan kalian, tapi jika saya berada dalam kondisi emosi tinggi, ternyata menulis merupakan salah satu terapi efektif untuk menenangkan diri (selain mendengarkan musik, menonton film, dan hal-hal semacam itu). Mungkin terasa menyebalkan pada awalnya, namun fokus dalam meluncurkan kata demi kata menjadi sebuah tulisan sanggup mengalihkan pikiran sejenak, dan hasilnya... sebuah artikel! Menguntungkan, bukan? Di saat orang lain mungkin memaki-maki tanpa henti, atau membuang benda-benda ke segala arah, terapi menenangkan emosi bagi saya adalah dengan menulis.

Terapi berikutnya yang terasa ampuh adalah dengan bercerita ke orang lain. Ternyata, cukup menceritakan kepada seseorang, efeknya luar biasa ya. Apa yang mengendap di pikiran, terlampiaskan begitu saja dan ditangkap telinga orang lain. Lega. Sayang sekali, lain halnya dengan menulis, terapi "bercerita ke orang lain" ini sulit saya lakukan, mengingat saya cukup selektif memilih teman untuk bercerita. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, namun saya tidak peduli masalah kuantitas. Saya menjunjung kualitas, sehingga berbicara dengan orang-orang tersebut terbukti ampuh menenangkan emosi.

"...There is no point in sitting around thinking about all the ifs, ands and buts
-- Amy Winehouse

Deretan kalimat yang sudah saya tuangkan di atas bisa dikategorikan sebagai kegiatan "sengaja memikirkan", karena memang saya mencurahkan segenap waktu dan usaha untuk berpikir. Oya, terkait hal ini, ada satu hal yang menarik. 
Beberapa saat yang lalu saya melakukan blogwalking ke salah satu artikel di blog Icha Hairunnisa yang ini, dan saya tersenyum sendiri membaca paragraf-paragraf terakhir yang dia tulis. Icha adalah salah satu dari beberapa blogger yang saya kagumi cara penulisannya yang lancar, dan di penutup artikel tersebut dia menceritakan mengenai menulis di malam hari, dimana menurutnya (saya kutip):

"Termasuk lebih terbuka pada diri sendiri. Berdiskusi pada diri sendiri, bertanya pada diri sendiri."

That's it. Itu juga yang saya alami hampir setiap malam. Saya terdiam khusus untuk "sengaja memikirkan" aktivitas di hari itu, kenapa bisa A dan bisa B, demikian seterusnya hingga tertidur. Saya berdiskusi dengan diri sendiri, memikirkan rencana keesokan hari, padahal bisa saja yang terjadi tidaklah sesuai rencana. Well, manusia hanya bisa merencanakan, bukan?

Lalu, bagaimana jika kalimatnya diganti menjadi "tidak sengaja memikirkan"? Nah ini juga kasus khusus. Bahasa lainnya adalah "kepikiran". Saya tidak tahu istilah resminya apa, tapi saya akan menggunakan kata "teringat" saja. Berbeda dengan "sengaja memikirkan", kasus "teringat" terjadi jika kita sedang melakukan suatu hal tertentu, kemudian mendadak datanglah ingatan itu. BUM! Apa saja bisa masuk. Biasanya hal-hal yang mengusik kita, mulai dari masalah pekerjaan, asmara, keluarga, dan sebagainya. Bisa pula sesuatu yang menyenangkan, seperti wajah kekasih, atau ingatan akan kegiatan positif yang akan dilakukan ke depannya. Secara ringkasnya, seperti dirangkum oleh Icha (masih dikutip dari artikel yang saya tautkan di atas), kita menjadi bertanya-tanya: "Kenapa aku kepikiran hal yang itu-itu terus sih?"

Kalian pasti pernah mengalaminya, kan? Atau justru sering? "Teringat" menyebabkan diri kita gundah atau senang, tergantung konteksnya. Hal seperti itu muncul tak terduga, dan seringkali menjadi faktor naik turunnya mood. Saat kita memiliki masalah dengan sesuatu, kita akan terus "teringat" sehingga menyebabkan segala hal tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Atau, jika kita terus-menerus "teringat" akan seseorang yang spesial, wah bisa dipastikan segala sesuatunya juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Haha. Jadi, baik positif atau negatif, tetap saja "teringat" akan membuat sebuah anomali dalam beraktivitas, bukan? Tapi itu juga tergantung besar kecilnya "teringat" tersebut.

Nah, bagaimana jika "teringat" kemudian berlanjut "sengaja memikirkan"? Bingo! Mengalami "teringat" saja sudah menimbulkan sensasi tersendiri, ditambah lagi "sengaja memikirkan"! Combo. Untuk kasus positif, mungkin tidak terasa melelahkan. Misal, kalian teringat seseorang yang spesial, kemudian memutuskan untuk memikirkannya sepanjang hari untuk memotivasi diri. It's fine, semua orang mengalaminya. Jika yang "teringat" adalah sebuah masalah, paket combo itu sungguh menguras energi. Serius. Sangat melelahkan. Percayalah, sebaiknya hindari paket tersebut, karena saya kerap melakukannya saat "teringat" sebuah masalah pelik, dan sungguh sulit keluar dari jeratan itu. Sudah "teringat" akan suatu masalah, dipikirkan secara mendalam pula. Duh.

Jika kalian memiliki masalah yang mengusik pikiran, kemudian bisa memaksa diri untuk melupakan semua kasus "teringat" yang timbul dari hal tersebut, mencoba mengenyahkannya mentah-mentah, dan melanjutkan aktivitas normal, maka saya ucapkan selamat. Itu hal yang sulit dilakukan bagi saya. Mungkin ini pula yang menyebabkan saya terkadang iri pada mereka yang terlihat easy going, karena saya tidak bisa seperti itu.

Sekali lagi, saya merasa beruntung bisa mengenal dunia blog. Media ini sungguh efektif menampung semua pemikiran yang melompat-lompat di kepala setiap saat. Saya setuju dengan kalimat yang muncul di halaman awal saat kita mengetik www.blogger.com, yaitu: "Publish Your Passion, Your Way". Ah, Google memang benar. I love writing, and this blog is a good start to publish my passion, with my own way :D

Happy blogging.

-Bayu-



Note: Musik yang saya dengarkan kali ini untuk menemani proses menulis adalah lagu "All You Had To Do Was Stay" milik Taylor Swift, diambil dari album 1989. Taylor Swift adalah musisi yang sudah kenyang mendapat kritik terkait banyaknya lirik lagu yang seolah membeberkan kisah asmara dia tanpa malu ke publik. I don't care about it. Saya menyukai musiknya, dan perolehan dua piala Grammy Awards untuk kategori bergengsi Album of The Year (tahun 2010 dan 2016) seharusnya sudah cukup membungkam mereka-mereka yang meragukan musikalitas si gadis pirang cantik ini. 

Saya menyukai setiap kata yang ditorehkan Taylor Swift dalam lagu ini, khususnya bagian: "People like you always want back the love they pushed aside, but people like me are gone forever when you say goodbye". 

Oh yeah, Taylor knows it so well.
image source: en.wikipedia.org
READ MORE - Teringat atau Sengaja Memikirkan?
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.