Stres Bekerja? Coba Renungkan Baik-Baik...


sumber gambar: pinterest.com

Curhat Mengenai Pekerjaan Menjadi Sebuah Kebutuhan

Semua orang, dalam suatu masa, pasti pernah curhat mengenai pekerjannya, kepada siapapun itu.

Bahkan, bisa dibilang curhat mengenai pekerjaan adalah jenis curhat yang tidak akan pernah ada habisnya. Selalu akan ada sesuatu yang tidak disukai, tidak diharapkan, atau tidak beres mengenai apapun pekerjaan yang kita lakukan. Khususnya karyawan kantor, yang mencakup banyak profesi di dalamnya, mulai dari administrasi, marketing, sekretaris, keuangan, auditor, legal, appraisal, pengacara, dan lain sebagainya. Itu baru jenis pekerjaan kerah putih, padahal banyak profesi di luar itu yang juga bisa tersandung masalah ketidakberesan pekerjaan.

Tidak perlu disebutkan satu persatu, terlalu banyak.

Intinya, kita semua pernah mengeluh. Saya tidak mengecualikan diri sendiri lho, karena saya termasuk bagian dari sebuah sistem organisasi yang disebut perusahaan, dimana banyak peraturan yang harus ditaati, termasuk tanggung jawab yang harus diemban. Rasanya semakin bertambah masa kerja saya, bukannya semakin mahir menyelesaikan masalah, malah semakin tenggelam dalam masalah. Mengingat setiap tahun pasti akan ada tuntutan untuk perusahaan tumbuh semakin maju, maka disitulah muncul "tantangan-tantangan" untuk semua karyawan perusahaan, yakni tantangan untuk terus memaksimalkan potensi diri demi kesuksesan bersama. 

Kalau sudah berada dalam situasi demikian, keluhan sudah pasti bermunculan. Haha.

Oke. Berhenti dulu. Astaga, baru kalimat pembuka saja saya sudah langsung curhat...

Jadi begitulah. Semua yang menjalani sebuah profesi pasti mengalami pasang surut emosi dalam mengemban tanggung jawabnya. Rasanya tidak ada orang yang tidak menemui masalah dalam pekerjaannya, sekecil apapun itu. Jika sudah menemui masalah dan masuk ke sesi curhat mengenai pekerjaan, wah... kita pasti akan mencari seseorang yang mampu menampung segala keluh kesah, sekaligus memberi pembelaan dan solusi, atau sekedar mendengarkan apa yang kita bicarakan. Benar, kan?

Perilaku tersebut tidak salah kok, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. KIta memiliki keinginan untuk didengar dan dilihat orang lain. Harus ada tempat pelampiasan untuk mengeluarkan keluh kesah. Itulah mengapa media sosial menjadi tempat paling populer saat ini untuk menyampaikan keluh kesah, mengingat kemudahan fasilitas "sharing"-nya, ditambah jaringan yang luas. 

Curhat seolah menjadi sebuah kebutuhan di era modern.



Teguran "Halus" dari Fumio Sasaki

Bicara mengenai keluhan pekerjaan, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas mengenai pekerjaan itu sendiri. Sebelum membicarakan hal itu, saya akan menguraikan dulu alasan saya menulis.

Jadi begini. Saya sedang membaca sebuah buku berjudul "Goodbye, Things" karya penulis Jepang, Fumio Sasaki. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bisa dengan mudah kalian temui di toko buku besar, atau jika sulit mencarinya, silahkan pesan saja melalui online store atau membaca versi e-book-nya.


sumber gambar: ebooks.gramedia.com
Sebenarnya, isi buku tersebut lebih banyak menceritakan mengenai bagaimana caranya kita melepas ketergantungan dari benda-benda milik pribadi dan menjadi sosok minimalis. Fumio tidak langsung menggebrak dengan langkah-langkah menjadi seorang minimalis, namun dia memberi paparan terlebih dahulu mengapa kita gemar menimbun barang. Buku ini sungguh bagus. Meski saya sedang dalam proses menamatkannya, tapi tangan ini gatal ingin segera menuangkan ide yang tercetus begitu membaca beberapa halaman bukunya. Berhubung banyak sekali kalimat yang bisa dijadikan ide tulisan, maka saya mengambil beberapa bagian terlebih dahulu disini, untuk kemudian dibahas lagi di artikel lain.

Apa kiranya kalimat Fumio Sasaki yang berhasil menggerakkan saya untuk kembali membuka laptop dan menyerbu www.blogger.com? Kalimat itu merupakan pemaparan singkat mengenai bagaimana kebutuhan kita sebenarnya sudah tercukupi, namun keinginan untuk mendapatkan hal yang lain akan selalu ada. Uniknya, Fumio mengambil contoh dalam hal pekerjaan.

Begini penggalan kalimatnya, saya ambil dari halaman 30:

"Namun, ingatlah saat kita betul-betul ingin diterima bekerja. Budaya pekerjaan mungkin tidak sesuai harapan. Atasan kita menyebalkan, atau bahkan seluruh jajaran manajemen sudah bobrok. Hal-hal ini tidak mengubah fakta bahwa kita pernah mengirim lamaran kerja, pernah muncul di wawancara -- bukan karena terpaksa, tapi karena ingin. Dengan begitu, sebetulnya, keinginan kita bekerja di perusahaan itu sudah terkabul. Pasti kita juga pernah merasa senang, walaupun hanya sesaat, ketika menerima surat pernyataan diterima bekerja."

Kalimat itu saya baca tepat saat istirahat makan siang di kantor. Entah kenapa waktunya bisa pas sekali, karena di hari itu, tepatnya di pagi hari, saya baru saja mengalami masalah pelik di kantor, terkait dengan angka laporan yang membuat kepala ini terasa pecah.

Apa yang ditulis oleh Fumio Sasaki seolah mengingatkan saya pada masa-masa awal bekerja. Saya ingat persis, saat itu saya sedang di ambang kehancuran (secara fisik dan mental) karena bekerja di sebuah perusahaan properti, nyaris terus-menerus tanpa henti. Rasanya seperti zombi saja. Hampir seluruh sendi kehidupan saya hancur perlahan. Kemudian, datanglah tawaran untuk menjadi staf akuntansi di perusahaan dagang (tempat saya bekerja saat ini). CV dikirim, wawancara dijadwalkan, tes kesehatan dilalui, dan... pada suatu hari, saya menerima kabar menggembirakan itu. Saya diterima bekerja di tempat baru!

Yeah!

Hm... kalau diingat lagi sekarang, memang saya sempat berteriak gembira saat itu (tidak terang-terangan, tentu saja, karena saya masih berada di kantor lama). Rasanya seperti dibebaskan dari penjara (ups, bukan berarti kantor lama saya mirip penjara atau bagaimana, itu hanya kiasan) dan bisa menghirup angin segar. Senyum lebar terpampang kemana saja saya pergi. Tidak sabar untuk segera bekerja di kantor baru. 



Politik Kantor: Mitos atau Fakta?

Tahun demi tahun saya lalui bekerja di perusahaan baru. Jelas, bidang pekerjaan saya berbeda dengan kantor sebelumnya, dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa beradaptasi. Seiring berjalannya waktu, masalah terus muncul, tanggung jawab semakin besar dan sederet rintangan lainnya. Apakah saya mengeluh? Tentu saja, layaknya semua karyawan lain yang mengalami hari-hari berat di kantor. Apakah saya sempat memutuskan untuk resign? Oh, tidak usah ditanya lagi, hal semacam itu sempat menghantui saya bertahun-tahun, hingga saya bingung sendiri apakah masih layak untuk bekerja atau tidak.

Kini, selama satu tahun ke belakang, saya sadar bahwa mengeluh tidak ada gunanya. Bukan berarti saya berhenti mengeluh. Tetap saja saya curhat kepada beberapa orang tertentu, namun diimbangi dengan tindakan nyata untuk membereskan masalah yang menimpa. Tidak mudah memang, bahkan beberapa masih belum beres. Untungnya, saya menemukan kesibukan lain yang menyenangkan, untuk sekedar membebaskan diri dari tekanan pekerjaan. 

Selain itu, saya mulai menyeleksi siapa saja yang bisa saya ajak bicara dan menghabiskan waktu bersama di kantor. Bergaul dengan semua orang di lingkungan kantor memang hal yang bagus, untuk menambah relasi dan semacamnya, tapi "menghabiskan waktu bersama dan bertukar pikiran secara personal"... nah menurut saya, itu yang harus diseleksi. Lingkungan kantor bukan lagi lingkungan sekolah yang dramanya seputar kisah cinta remaja, guru yang menyebalkan atau tumpukan PR, namun sudah dibalut dengan politik kantor. Dramanya mengerikan.

Tidak banyak yang menyadari hal ini memang, karena sebagian karyawan melalui hari-harinya dengan halus, atau bahkan membantah hal-hal semacam itu. Politik kantor bukan barang baru, semua kantor memilikinya, dari yang paling halus sampai keji sekalipun. Saat manusia dihadapkan dengan kekuasaan dan uang, rasanya tidak ada yang namanya "rekan kerja sebagai teman atau sahabat", yang berlaku adalah "siapa yang menang dan siapa yang kalah". Apa kita bisa tidak terlibat hal-hal semacam itu? Bisa saja, dengan menjadi karyawan normal. Jangan mendengar gosip apapun. Jangan terlibat dengan kegiatan apapun selain pekerjaan. Berlaku sopan. Datang tepat waktu, pulang tepat waktu juga. Selesai.

Sayangnya, saya tidak bisa seperti itu, meski menginginkannya berkali-kali. Selalu saja ada momen tidak menyenangkan yang membuat saya berada di "medan pertempuran ego", dimana saya harus jeli memilih siapa yang bisa dijadikan kawan atau lawan. Bukan hal yang mudah untuk memikirkan semuanya secara bijaksana dan profesional. Itulah yang menyebabkan stres.

Hal-hal semacam ini sayangnya tidak diajarkan di bangku kuliah. Kita akan tahu jika sudah mengalaminya langsung. Jika kita salah langkah memilih bertukar pikiran dengan orang yang lisannya tidak bisa dipercaya (misalnya), jangan kaget jika omongan kita disebarkan dan faktanya diputar balik, menghancurkan kredibilitas kita. Oh, saya pernah mengalaminya pada masa awal bekerja dan butuh waktu lama untuk membereskan hal-hal semacam ini. Itu baru satu contoh, padahal masih banyak lagi. 

Jadi, menyeleksi dengan siapa saja kita bertukar pikiran terkait pekerjaan di kantor itu perlu. Saya merasa bersyukur memiliki beberapa rekan kerja yang memang saya percaya untuk menuangkan keluh kesah.





"You write your life story by the choices you make" -- Helen Mirren


sumber gambar: blogs.edweek.org
Pilihan Profesi Adalah Pilihan Kita Sendiri

Saya berani menaruh kalimat di atas karena memang demikianlah adanya. Banyak orang yang mengeluh mengenai pekerjaan, merasa dirinya tidak diberi pilihan dalam hidup, sehingga harus menekuni pekerjaan yang tidak dia sukai. Itulah cikal bakal ketidakberesan dalam pekerjaan kita: tidak adanya gairah dalam menekuni profesi.

Ah, kembali lagi ke masalah klasik: passion. Saya pernah menulis mengenai ini di artikel sebelumnya, dan saat itu saya merasa sebagai korban dari kemauan orang tua. Ilmu yang saya peroleh di bangku kuliah, sekaligus profesi yang saya jalankan saat ini merupakan pilihan yang disodorkan oleh keluarga. Pilihan tersebut mereka ambil dengan landasan rekam jejak saya di ilmu tersebut. Diharapkan, dengan lebih mendalaminya di bangku kuliah, maka saya akan lebih mudah memperoleh pekerjaan nantinya.

Setelah enam tahun mendalami ilmu tersebut (tiga tahun jalur diploma, tiga tahun jalur strata... oh, tolong jangan tanyakan kenapa harus dua kali kuliah dan bisa selama itu, karena saya tipe mahasiswa yang sulit fokus akan skripsi dengan dalih "sibuk"), akhirnya memang saya mendapatkan pekerjaan yang diimpi-impikan keluarga: menjadi karyawan kantor di sebuah perusahaan, memperoleh gaji setiap bulan. Sesederhana itu. Diharapkan, jenjang karir saya mulus, hingga kemudian berhasil menjadi "orang", demikian istilah yang biasa saya dengar (istilah yang lucu sebenarnya, karena bukankah selama ini kita semua adalah orang?).

Bertahun-tahun saya menjalani profesi ini, jika ada masalah dalam pekerjaan, di dalam hati saya selalu menyalahkan pilihan yang diberikan keluarga. Seolah mereka harus menanggung kejadian buruk yang saya alami. Datang pagi pulang malam, lembur di weekend, tumpukan dokumen tanpa pernah berhenti, pola makan yang kadang tidak teratur, mata yang sudah amburadul jarak pandangnya (hei layar komputer, kamu penyebabnya!) dan seabrek masalah lain. Oh belum lagi ditambah masalah politik kantor. Tumpukan stres.

Jika dipikirkan lebih seksama, sebenarnya peran keluarga sudah tidak ada lagi selama saya menjalani profesi ini, jadi kenapa saya harus menyalahkan mereka? Benar kata Fumio Sasaki: "Hal-hal ini tidak mengubah fakta bahwa kita pernah mengirim lamaran kerja, pernah muncul di wawancara -- bukan karena terpaksa, tapi karena ingin". 

Itu semua pilihan pribadi saya juga sebenarnya. Saya memilih untuk mengikuti kata keluarga, memilih untuk tidak menyakiti hati mereka, memilih untuk tidak berani ambil resiko dengan memberontak, memilih untuk mendamaikan situasi dengan menjalani ini semua. Jika menemui masalah, ya seharusnya sayalah yang harus disalahkan, kenapa berani memilih jalan seperti ini? Begitu, kan?



Tanggung Jawab Menjalani Pilihan

Nah, ini segmen terakhir dari artikel saya, sekaligus menjadi kunci untuk memikirkan pilihan yang kita ambil terkait profesi. Jika tadi saya bicara mengenai pilihan pribadi, kini setelah kalian memahami bahwa itu semua murni kehendak kalian, selanjutnya yang dibutuhkan adalah: tanggung jawab.

Eng ing eng. Sampailah kita ke kalimat yang bisa membuat orang mendesah kesal. Tanggung jawab. Kenapa harus ada tanggung jawab di bagian akhir? Karena tanpa adanya hal itu, maka saya jamin kalian akan terus-menerus melakukan curhat mengenai pekerjaan seraya menyalahkan situasi. Saya tidak melarang kalian curhat sama sekali. Curhat terkait pekerjaan itu menurut saya perlu, karena kita butuh didengar (karena saya sendiri pun masih melakukannya). Kalau ada yang bisa mengatasi masalah pekerjaan tanpa curhat dalam bentuk apapun (melalui teman, media sosial, keluarga, orang tersayang, atau melalui ibadah) dan tetap bertahan, wah... berarti hebat sekali. Mungkin saja ada, tapi saya sendiri belum pernah menemui yang seperti itu.

Begini. Coba kalian pikir. Jika masalah pekerjaan dipendam, justru merusak emosi, menggerogoti jiwa dari dalam, kemudian bisa mendorong kita bertindak yang paling terburuk. Pernah mendengar ada orang depresi karena pekerjaan hingga bunuh diri, kan? Atau depresi karena pekerjaan hingga gila, atau bahkan melukai secara fisik orang-orang terdekat? Jangan main-main dengan kondisi kejiwaan seperti ini.

Yang ingin saya tekankan disini adalah tentang curhat yang berakhir dengan menyalahkan situasi, misalnya, "Coba gue ga ngambil kerjaan tambahan ini, jadi ngga kelar-kelar kerjaannya!", "Coba gue dulu ambil kuliah hukum aja!" "Ini semua gara-gara si A!" dan lainnya.

Bagi kalian yang pernah melontarkan kalimat semacam itu, coba tenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam dan sebaiknya cerna kembali apa yang diutarakan Fumio Sasaki di bukunya. Tenang, masih ada waktu untuk membenahi diri.

Ingat, kalian bekerja saat ini awalnya adalah dari pilihan sadar kalian sendiri untuk melakukannya. Tekanan pihak lain mungkin ada, tapi kalian sebenarnya bisa memilih untuk menolak hal tersebut. Tidak berani menolak karena takut menyakiti perasaan berbagai pihak? Berarti kalian berada dalam posisi yang sama seperti saya saat itu, sehingga pilihan yang bisa diambil adalah "berdamai dengan situasi". Dengan demikian, maka kita harus berani menanggung segala resiko yang ada.

Tidak ingin berdamai dengan situasi? Ya sudah, jangan lakukan apapun. Merajuklah, merengeklah, menangislah, atau apapun itu agar pihak lain mengabulkan permintaan kalian. Selalu ada cara untuk menyelesaikan sebuah masalah, dan pilihan ada di tangan kalian. Jika sudah bisa memilih, maka selanjutnya bertanggung jawablah atas pilihan tersebut, tidak perlu menyalahkan situasi jika kenyataannya tidak seindah harapan.

Sulit? Memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Saya sendiri juga belum sempurna dalam menerapkannya. Tapi setidaknya Fumio Sasaki telah memberi saya pencerahan. Terima kasih, Fumio!

Kini, saat tenggelam dalam masalah pekerjaan, saya akan mencoba kembali mengingat untuk apa tepatnya alasan saya memilih bekerja di tempat ini pertama kalinya. Tanpa sebuah alasan yang kuat, dengan mudah kita akan terombang-ambing dengan keadaan.

Ingat, semua ini adalah pilihan kita sendiri. Dedikasikan diri dalam pilihan yang telah kita buat. Belum ada kata terlambat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sedikit demi sedikit merubah pola pikir, daripada tidak sama sekali.

Selamat bekerja!

-Bayu-





Catatan selama proses menulis:

Saya mendengarkan lagu Kacey Musgraves yang berjudul
  "Lonely Weekend" (diambil dari album Golden Hourselama proses menulis artikel ini. 


Begitu mengetahui album Golden Hour memenangi kategori paling bergengsi di Grammy Award 2019 (yakni Album of The Year), maka tidak butuh waktu lama bagi saya untuk segera mencarinya di Spotify dan langsung jatuh hati, karena telinga saya sudah familiar dan menyukai genre pop-country seperti ini. Album ini mengingatkan saya akan karya Taylor Swift di album-album awal kemunculannya. Lagu Lonely Weekend sendiri sangat ear cathcy, jenis country yang dibalut dengan pop lembut (malah terkesan sangat pop), metode ampuh untuk menjaring banyak pendengar di luar sana, yang biasanya akan langsung mengernyit begitu mendengar kata "country" (khususnya di negara ini).

Notable lyric of this song:

Even if you got somebody in your mind
It's alright to be alone sometimes
sumber gambar: en.wikipedia.org

READ MORE - Stres Bekerja? Coba Renungkan Baik-Baik...

Seri Traveling #1: Bandara dan Pesawat Terbang

sumber gambar: rd.com
Ini adalah tulisan berseri mengenai traveling, atau lebih tepatnya pengalaman terkait traveling yang berhasil mengubah pola pikir saya. Tulisan ini bukan titipan pihak lain, sehingga jika ada nama produk yang tertulis, murni keinginan saya. Tulisan ini juga tidak serta merta merubah blog ini menjadi travel blog, mengingat di seri ini dan ke depannya, tidak akan ditemukan hal-hal semacam "panduan mengunjungi tempat A" atau "10 tips traveling di tempat B". Tidak akan seperti itu. Saya tetap akan menulis dengan cara saya sendiri, murni tulisan seorang Bayu Rohmantika Yamin. Selamat membaca.


"Jalan-Jalan" Itu Merepotkan, Melelahkan dan Mengerikan!

Apa enaknya sih "jalan-jalan"?

Itu pertanyaan yang sering saya ajukan dulu, sejak mengenyam pendidikan formal hingga menginjak tahun-tahun awal masa bekerja. Jika ada yang mengajak bepergian, saya cenderung berkutat dengan sejuta pertanyaan, semisal: "Apa yang akan saya lakukan di sana?" "Siapa saja yang ikut?" "Apa enaknya pergi ke sana?"

Semua pertanyaan itu muncul di dalam hati, bersama dengan setumpuk kekhawatiran mengenai transportasi, uang yang harus dibawa, teman mengobrol, tema percakapan, kecanggungan sosial dan semacamnya. Saya adalah seorang introvert, sehingga tidak mudah untuk keluar dari cangkang zona nyaman menuju medan-pertempuran-interaksi- sosial bernama "jalan-jalan".

Uh, mendengarkan kata itu diucapkan saja sudah membuat merinding.

Saya memiliki banyak pengalaman tidak enak dengan "jalan-jalan", mulai dari tidak memegang banyak uang, teman perjalanan yang kurang menyenangkan (terutama jika dilakukan dalam grup besar yang belum dikenal, oh itu adalah bencana besar!), kecanggungan yang harus dihadapi dengan beragam jadwal pergi yang tidak sesuai minat, deretan pose mengerikan nan melelahkan yang harus saya lakukan jika ada yang berteriak, "Eh foto yuk!" hingga acara santai yang berujung dengan kesendirian, mengingat hampir tidak ada yang sanggup mengobrol dengan saya karena kurangnya rasa antusias dalam diri ini.

Begitulah. 

"Jalan-jalan" tidak pernah ada dalam agenda hidup saya. Jika dilakukan, itu berarti saya terpaksa, atau memang saya pergi dengan orang-orang terdekat saja, karena saya bebas bertindak tanpa takut dihakimi (oke, ini lain cerita). Jadi, jika orang lain akan berteriak gembira saat ada pengumuman semacam "employee gathering" atau "family gathering" di daerah A atau B, saya mungkin satu-satunya orang yang mengerang kecewa seolah beban berat diletakkan di pundak. Terbayang sudah interaksi sosial canggung yang HARUS saya hadapi.

Fiuh. Saya memang seperti itu.

Salah satu sudut Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta
sumber gambar: tripzilla.id


Bandara yang membuat terkesima

Jika "jalan-jalan" dikaitkan dengan pengalaman mengerikan, lain lagi dengan bandar udara, atau lebih dikenal dengan sebutan bandara. Itu adalah tempat asing bagi saya, sama asingnya dengan rumah sakit. Saya menganggap bandara bukan tempat untuk saya datangi, karena saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan di sana, dengan begitu banyak papan pengumuman dan orang berlalu-lalang. Saya tidak tahu kemana kaki ini harus melangkah, kemana mata ini harus diarahkan, dan semacamnya. Lagipula, saya tidak memiliki alasan yang jelas mengapa harus naik pesawat terbang, dan jika diajak pergi ke bandara pun saya selalu menolak. Ya, saya memang seperti itu, hehe.

Ternyata, Tuhan berkehendak lain. Saat itu, tahun 2015 di kantor saya, ada semacam program keuangan baru yang harus disosialisasikan ke kantor-kantor cabang di luar Jakarta. Bukan main terkejutnya saat saya terkena jeratan tugas bernama "perjalanan dinas". Selama ini saya selalu mengira yang bisa melakukan perjalan dinas hanya divisi marketing, internal audit, IT, umum, HRD, dan level kepala unit hingga Direksi. Saya tidak mengira jika divisi Akunting akan terkena dampaknya. 

Mungkin sang bos tidak akan mengira reaksi yang muncul saat saya pertama kali diberi tanggung jawab melakukan perjalanan dinas. Saya ingat saat itu spontan bereaksi, "Ha? Saya? Kenapa saya?" begitu sang bos memberi perintah: "Kamu minggu ini pergi ke Surabaya ya, untuk ngasih sosialisasi program kas kecil."

Apalagi, perintah berikutnya adalah: "Kamu koordinasi dengan bagian sekretariat untuk tiket pesawatnya ya." Tunggu dulu, pesawat? Saya akan naik PESAWAT TERBANG? Tidak pernah terlintas di benak ini bahwa saya akan menaiki burung besi tersebut. Bayangkan, berada di awan, terjebak dalam mesin besar bersama penumpang lain. Oke, melihat pesawat dari kejauhan memang terlihat menyenangkan, tapi berada di dalamnya kan lain hal! Lagipula, saya belum pernah pergi ke bandara, dan saya tidak tahu HARUS melakukan apa!

Tenang, Bayu, ini kan hanya bandara. Hanya pesawat terbang. Semua orang bepergian dengan pesawat setiap hari dan tidak ada masalah. Oke, memang pernah tercatat kecelakaan yang menimpa, penumpang yang hilang di lautan dan semacamnya... tapi hei, lihat garis besarnya. Akhirnya saya diberi kesempatan naik pesawat terbang, bukan? Secara gratis, pula, karena dibiayai kantor. Pengalaman terbang pertama saya kala itu menggunakan maskapai Batik Air, yang masih satu grup dengan Lion Air (kita semua tahu bagaimana reputasi si singa udara ini, bukan?), jadi wajar jika perasaan takut lebih besar ketimbang kegembiraan. Di kemudian hari, saya menemukan fakta bahwa Batik Air jauh lebih baik daripada Lion Air (beda segmentasi), jadi saya cukup beruntung pengalaman pertama saya naik pesawat terbang, ya menggunakan maskapai tersebut, gratis pula.

Baiklah. Singkat cerita, setelah diberi motivasi dari orang-orang terdekat mengenai pengalaman terbang dan membaca sana-sini, akhirnya saya memberanikan diri melakukan perjalanan dinas (jika saya menolak, kemungkinan besar karir saya akan stagnan) ke Surabaya. Saya tidak membawa koper, hanya sebuah backpack berukuran sedang, sementara tiga rekan seperjalanan saya (dari divisi berbeda) menggunakan koper dan tas berbagai macam ukuran. Saya jadi merasa seperti orang konyol yang baru pertama kali naik pesawat terbang, hehe.

Ada satu hal yang langsung menyita perhatian saya saat tiba di bandara saat itu. Wow, betapa kayanya bandara akan beragam jenis manusia: bapak-bapak, ibu-ibu, wanita muda, pria bersetelan rapi, anak-anak kecil, rombongan keluarga besar yang berisik, dan semacamnya. Memang hal semacam ini bisa ditemukan juga di terminal ataupun stasiun, namun di bandara auranya berbeda! Dan pengumuman mengenai jadwal penerbangan itu! Pengumuman tersebut begitu khas, memberi informasi mengenai penerbangan dan lain hal. Ah, belum lagi deretan toko yang menjual barang-barang keren. Memasuki lebih dalam bagian bandara, terlihat lalu-lalang manusia yang menyeret koper, menenteng koran, bersetelan rapi, menyesap kopi di tangan, menelepon, memegang boarding pass...

Ya Tuhan, saya jatuh hati pada bandara. Terdengar aneh dan norak, namun itulah yang saya rasakan. Mata saya berbinar-binar menyaksikan keriuhan situasi bandara. Kemana saja saya selama ini?

Di kemudian hari, saya menemukan kebahagiaan dalam beberapa hal yang melekat pada bandara: lalu-lalang manusia segala jenis (ras, umur, bahasa, agama, jenis kelamin), toko-toko cantik yang berjejer menampilkan barang dagangan, lantai marmer, lantai berlapis karpet, desain taman-taman buatan, desain interior dengan segala tema eksotis hingga etnis, kursi pijat gratis, toilet bersih, deretan troli, area entertainment, air minum gratis, papan pengumuman jadwal pesawat terbang, papan informasi dan suara pengumuman dalam bermacam bahasa. 

Ah, bahasa-bahasa itu! Mulai dari bahasa daerah hingga bahasa asing, meluncur dari segala macam mulut, menciptakan simfoni indah yang tidak semua orang bisa rasakan. Mungkin terdengar gila, tapi entahlah... semua keriuhan tersebut selalu membuat saya tersenyum lebar. Meski jadwal pesawat terkendala gangguan (delay dan semacamnya), saya tetap mencoba melihat hal-hal unik dalam bandara, dan itu cukup mengenyahkan pikiran dari kekecewaan.

Hm, mungkin penilaian saya akan berubah jika menginjakkan kaki di bandara yang terletak di daerah terpencil. Entahlah. Bisa jadi justru saya juka menyukainya. Sampai saat itu tiba, saya tetap akan menyatakan bahwa "saya suka bandara". 

sumber gambar: videoblocks.com

Aura Magis Kabin Pesawat Terbang

Saya harus mengapresiasi setinggi mungkin usaha Orville Wright dan Wilbur Wright (atau lebih dikenal dengan Wright Bersaudara) dalam menciptakan pesawat terbang dan berhasil melakukan percobaannya di tahun 1903. Sejak itu, banyak sekali perubahan yang telah dilakukan dengan mesin pesawat terbang, hingga seperti yang kita kenal sekarang ini. 

Pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di dalam kabin pesawat adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Mungkin beda rasanya jika saya menggunakan maskapai berbiaya rendah, tapi intinya, saya bersyukur bisa merasakan aura kabin pesawat, sebuah pengalaman yang sulit dideskripsikan. Saat orang lain sibuk menata barang bawaan di dalam bagasi kabin (berebut tempat satu sama lain), sibuk memasang sabuk pengaman, sibuk mencari tempat duduk (bahkan ada yang sengaja duduk di sebelah jendela padahal nomor kursinya tidak di situ, dengan harapan tempat tersebut tidak diduduki orang lain, dan beberapa menit kemudian dia harus menanggung resikonya, alias dipindah paksa), sibuk meminta ini itu kepada pramugari, sibuk bermain dengan perangkat genggam masing-masing, sibuk membolak-balik bahan bacaan, sibuk mengobrol dan semacamnya, yang saya lakukan saat itu adalah... duduk tenang selama sekitar sepuluh menit, benar-benar menikmati suasananya.

Mencoba khidmat menikmati pengalaman baru.

Untuk kedua kalinya di hari itu, saya merasa jatuh hati lagi, kali ini pada kabin pesawat terbang! Saya menyukai suasana di dalamnya, bagaimana semua penumpang diletakkan di tempat tertutup ini, siap diterbangkan di angkasa, menuju satu tujuan bersama. Saya suka bagaimana cara pramugari memeragakan prosedur keselamatan, bagaimana pilot memberitahukan posisi pesawat, bagaimana suara mesin menderu, bagaimana megahnya bentangan sayap pesawat dilihat dari jendela, bagaimana ramahnya pramugari melayani penumpang, bagaimana bunyi notifikasi sabuk pengaman untuk dikencangkan, dan hal-hal kecil semacam itu.

Oh, di kemudian hari bahkan saya suka sekali menikmati bahan bacaan di dalam pesawat (majalah dan koran yang disediakan); menikmati hidangan yang disajikan (bahkan dalam kelas ekonomi sekalipun, hidangannya lengkap dan cukup mengenyangkan); menikmati sajian entertainment lengkap dalam layar yang ditempel ke kursi di hadapan kita; menikmati pengalaman ke kamar kecil di atas ketinggian; menikmati deretan kursi 2-2, 3-3 atau 3-4-3; hingga menikmati fasilitas yang mau tidak mau saya kenakan saat harus menempuh perjalanan berjam-jam lintas negara.


Pesawat Terbang: Jika Indah Dikagumi, Jika Rusak Dicaci

Entahlah dengan orang lain, namun bagi saya, merasakan sekelumit pengalaman di dalam kabin pesawat sungguh menyenangkan, berbeda dengan jenis transportasi lain (saya belum pernah mencoba kapal pesiar atau transportasi mewah lain, mungkin pengalamannya lebih maksimal). Turbulensi yang dirasakan saat berada di ketinggian memang bukan pengalaman indah (saya bahkan terpaksa menutup mata saat melihat kilasan petir di kejauhan saat pesawat mengalami turbulensi lumayan hebat di penerbangan tengah malam dan pilot terus-menerus memberi instruksi untuk tetap memasang sabuk pengaman), namun suka tidak suka, turbulensi adalah bagian dari terbang itu sendiri. Jadi, cukup berdoa dan percayakan pada kemampuan sang pilot. Apapun yang terjadi, itu semua sudah kehendak Allah SWT. 

Lagipula, apakah kalian tahu bahwa moda transportasi teraman adalah pesawat terbang? Serius. Lalu, moda transportasi apa yang menyumbang kecelakaan terbesar? Mobil. Sekarang perhatikan saja, masih banyak orang nekat bepergian dengan mobil setiap harinya, dan mereka tidak terlalu heboh berada di dalam mobil seakan-akan setiap menit akan terjadi kecelakaan, berbeda dengan pesawat terbang yang bagi sebagian orang... merupakan tempat yang sangat mengerikan. Saat satu pesawat terbang mengalami kecelakaan, beritanya setara dengan kecelakaan alam semacam tsunami atau gempa bumi.

Secara logika, jika kita saja tidak terlalu panik berada dalam mobil yang mencatat jumlah kecelakaan terbesar, kenapa harus panik berada di dalam kabin pesawat terbang yang notabene menjadi moda transportasi teraman? Oke, mungkin karena pesawat terbang berada di atas ketinggian, sementara mobil tetap di darat, sehingga kita tidak terlalu panik berada di dalam mobil yang melaju. Ibaratnya, mau meninggal sekalipun, kemungkinan terbesar tetap berada di darat. Jika menggunakan pesawat terbang, resikonya lebih menakutkan karena ada potensi meledak di udara, hilang dari radar, hingga jatuh di lautan, begitu?

Oke. Sekali lagi saya tekankan: Apapun yang terjadi, itu semua sudah kehendak Allah SWT. Jika kita berdiam diri di rumah sekalipun, apakah kita bisa menjamin tidak akan ada nasib buruk yang menimpa? Tidak bisa, bukan?

Saya jadi teringat ucapan seorang teman saat berita kecelakaan Lion Air JT 610 baru-baru ini menjadi heboh di masyarakat. Saat itu dengan santainya dia mengatakan, "Oke, kesimpulannya, kita ga perlu naik pesawat terbang lagi. Kemana-mana pake angkutan laen aja lah." Wow. Bayangkan jika ratusan juta masyarakat Indonesia berpikiran sama seperti dia, bisa bangkrut maskapai penerbangan lokal kita! Menyalahkan satu kecelakaan pesawat terbang dan melakukan generalisasi pada keseluruhan moda transportasi itu bukanlah tindakan bijak. Menurut saya, tidak perlu bereaksi demikian. Kita semua sudah dewasa, berpendidikan dan mampu mengambil keputusan dengan data yang matang. 

Jika misalnya kita tidak menginginkan lagi bepergian menggunakan maskapai A karena reputasinya buruk dan semacamnya, menurut saya itu masih wajar, toh itu semua pilihan hidup, bukan? Atau jika merasa takut berlebihan pada pesawat terbang, cukup menjadi konsumsi sendiri saja. Tidak bijak rasanya jika melakukan penilain negatif secara keseluruhan dan menghembuskan isu-isu panik.

Semoga kalian tidak demikian.


"Discovering you by traveling to new places" -- Rene Suhardono

Perjalanan yang Merubah Pola Pikir

Demikianlah pengalaman pertama saya bepergian dengan pesawat terbang, dimana akhirnya saya malah jatuh hati pada bandara dan pesawat terbang itu sendiri. Ternyata kehendak Tuhan justru mengantarkan saya melihat sudut pandang baru. Setelah Surabaya, akhirnya saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan dinas ke beberapa tempat di luar pulau Jawa menggunakan pesawat terbang. Pekerjaan yang saya lakukan di tempat tujuan memang tidak bisa dibilang menyenangkan (bahkan terkadang sangat menguras tenaga dan emosi), namun sebisa mungkin saya mencoba menikmati perjalanan menggunakan pesawat terbang. Hanya itu yang bisa saya nikmati, hehe.

Perjalanan mandiri dengan dana pribadi baru saya berani lakukan saat mendapat rezeki tambahan dari kantor. Waktu itu saya memutuskan pergi ke salah satu kawasan wisata di daerah Indonesia Tengah, dan benar-benar menikmati setiap detiknya. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat menggembirakan, terus terasa hingga saat ini. Pikiran dan jiwa saya seolah tercerahkan lagi, dan entah kenapa, rasa penasaran dan ketagihan itu terus muncul.

Astaga, saya ingin terus bepergian!

Rencana baru pun disusun. Saya mulai membeli koper, beberapa pakaian yang pantas untuk bepergian, sepatu nyaman untuk berjalan jauh, buku panduan traveling (dari e-book hingga buku fisik), menonton vlog-vlog mengenai traveling, merancang destinasi impian, dan yang tak kalah pentingnya... menabung untuk tujuan traveling berikutnya. Saya bukanlah karyawan yang digaji dengan nominal fantastis untuk posisi yang saya emban saat ini, namun saya harus bersyukur karena masih diberi rezeki. Jadi, sebisa mungkin setiap pemasukan dan pengeluaran saya perhitungkan secara masak, agar misi traveling saya terpenuhi.

Ah, rasanya tidak cukup semua hal mengenai traveling ini saya uraikan dalam satu artikel. Untuk itulah saya membuatnya menjadi semacam seri, karena masih banyak poin-poin yang bisa dibahas dalam sudut pandang saya: mengenai tujuan traveling, paspor, kebutuhan finansial, destinasi impian, hingga oleh-oleh. 

Saya memberi subjudul terakhir dengan "Perjalanan yang Merubah Pola Pikir" karena memang demikian adanya. Ingat, dulu saya sangat tidak suka dengan yang namanya "jalan-jalan". Ya, sekarang jika masih ada yang mengajak bepergian pun, sepertinya saya masih akan tetap menimbang ini-itu sih (sangat menyeleksi teman seperjalanan), tapi bukan berarti saya lantas berdiam diri. Jika dulu saya hanya menolak tegas dan kembali ke rutinitas, kini saya dengan bangga langsung menyusun rencana jalan-jalan versi pribadi, karena destinasi impian saya bisa saja berbeda dengan orang lain, dan bagi saya tidak masalah jika harus bepergian sendiri sekalipun. Bisa dipastikan gelora "introvert" dalam diri saya lah yang bertugas mengambil alih dalam kasus demikian.

Intinya, jika orang lain memiliki jadwal liburan ke tempat A atau B, saya juga punya kok. Saya bukan lagi Bayu yang mengurung diri dalam kamar dengan tumpukan buku karena tidak suka bepergian. Saya bukan lagi Bayu yang hanya bisa mengernyit pada orang-orang yang berlibur ke tempat-tempat wisata menarik (saat itu saya tidak iri, tapi merasa bingung apa asyiknya traveling).

Bahkan, bisa jadi destinasi liburan saya tidak terpikirkan oleh teman-teman yang lain lho. Kenapa? Karena pilihan destinasi traveling merupakan privasi bagi saya, sehingga saya nyaris menutup rapat semuanya. Ini memang aneh dan tidak wajar, tapi ya... beginilah saya, hehe. Mohon dimaklumi.

"Kenapa juga traveling aja dirahasiain sih? Takut dikira sombong? Emang ngga update di medsos? Atau malu ketahuan pergi kemana?" Hm... jawabannya tidak sesederhana itu, rasanya butuh artikel tersendiri untuk dituangkan. Saya akan mencoba menuliskannya di seri-seri traveling selanjutnya saja ya. 

Artikel ini sudah terlalu panjang, astaga! Haha. Beginilah jika sudah lama tidak menulis, inginnya semua ide ditumpahkan dalam satu tulisan. Bagi kalian yang bertanya-tanya apakah genre blog saya sudah berubah menjadi travel blog, mohon simpan pikiran tersebut, karena saya tetaplah personal bloger yang menulis apa saja yang terlintas dalam benak, sepanjang hal tersebut bisa dimaknai lebih mendalam. 

Saya akan menutup artikel ini dengan kutipan menarik dari Claudia Kaunang dalam bukunya yang berjudul "Traveling Is Possible!", yaitu: "Pergilah melihat dunia, karena dengan cara itulah kita baru bisa menghargai negeri sendiri".

Sampai jumpa di artikel seri traveling berikutnya. 

-Bayu-





Catatan selama proses menulis:


Saya memutar lagu 
Enya yang berjudul "Orinoco Flow" terus-menerus selama proses
menulis. Entahlah dengan orang lain, tapi bagi saya, lagu ini sungguh memikat dengan cara yang sulit dijelaskan. Enya adalah penyanyi berdarah Irlandia yang mengusung genre new age, celtic dan pop. Lagu "Orinoco Flow" adalah komposisi musik new age yang sungguh membuai dan membuat ide-ide di kepala saya menari riang.

Notable lyric of this song:

From Peru to Cebu, feel the power of Babylon
From Bali to Cali, far beneath the Coral Sea


sumber gambar: open.spotify.com


READ MORE - Seri Traveling #1: Bandara dan Pesawat Terbang

Itu Cuma Gurauan Kok, Jangan Baper, Ah!

sumber gambar: wiseworkplace.com.au

"Take chances, makes mistakes. That's how you grow" -- Mary Tyler Moore

Sandra Bullock... Oh, Sandra Bullock!

Entah kenapa, ada beberapa film yang saat ditonton ulang untuk kedua kalinya, justru terasa lebih "mengena".

Kasusnya terjadi pada film "Loving Vincent" (yang telah saya ulas di artikel sebelumnya). Kini, kasus kedua adalah film "The Blind Side". Sebenarnya saya sudah pernah menonton film ini bertahun-tahun yang lalu, saat gegap gempita Academy Award 2010 berkembang, dimana sang aktris utama, Sandra Bullock, sukses memperoleh piala Oscar untuk pertama kali melalui perannya di sana. Satu nominasi lagi diperoleh untuk kategori paling bergengsi, Best Motion Picture of The Year alias Film Terbaik, meski harus kalah dari "The Hurt Locker". 

Saat pertama kali menonton, saya tidak menemukan kekuatan drama yang disuguhkan, entah apa yang salah dengan pikiran saya saat itu. Haha. Tipe film perjuangan from zero to hero seperti ini sudah sering dibuat oleh Hollywood, dengan beragam judul dan genre. Jujur, saya tidak terlalu menyukai apa yang disuguhkan "The Blind Side", dengan jalinan kisah standar dan kurang menggigit.

Jadi, saat mencoba menonton ulang, saya memasang ekspektasi rendah, dan terkesima dengan hasilnya! Ternyata, film ini adalah kisah nyata yang diangkat ke layar lebar. Hal yang paling menyentuh saya adalah motif perjuangan Sandra Bullock. Memerankan seorang ibu bernama Leigh Anne Tuohy, dia membuka hatinya untuk menerima keberadaan seorang pemuda kulit hitam, Michael "Big Mike" Oher, pemuda yang dari segi apapun tampak tidak menjanjikan kehidupan berarti. Serius. Leigh Anne sudah memiliki karir sukses, keluarga mapan (seorang suami dan dua anak), namun hati kecilnya menyatakan ada sesuatu yang spesial di dalam diri Michael, sehingga diputuskanlah untuk mengadopsinya sebagai anak. 

Benar, sebagai anak, alias sebagai bagian dari keluarga Tuohy. 

Keputusan tersebut jelas mendapat pertentangan, terlebih dari teman-teman Leigh Anne, yang mencibir tanpa ragu. Jangan lupa, masyarakat Amerika masih bersinggungan dengan isu ras, apalagi keluarga Tuohy dianggap "keluarga berkelas". Meski demikian, Leigh Anne tetap pada pendiriannya, malah dia memasukkan Michael ke dalam klub football, keputusan berani yang akhirnya mengubah hidup pemuda tersebut. 

Oh Sandra Bullock... saya ingin mengucapkan terima kasih. Kekuatan peranmu membuat film ini sungguh terasa personal, karena saya tahu benar bagaimana kegigihan seorang ibu memperjuangan masa depan anaknya.


Salah satu adegan dalam film The Blind Side, dimana Leigh Anne (diperankan Sandra Bullock) sedang mengarahkan Michael bagaimana caranya bermain football yang benar
sumber gambar: cnn.com

"If you are not willing to take the unusual, you will have to settle for the ordinary
-- Jim Rohn


Astaga, Kamu yang Seharusnya Lebih Malu!

Jadi, apa sebenarnya motif Leigh Anne dalam mengadopsi Michael? jawabannya muncul dalam salah satu adegan, dimana ada dialog yang melibatkan Leigh Anne dan teman-temannya (Beth dan Elaine), kurang lebih begini:

Beth            : Menurutku apa yang kamu lakukan itu hebat. Membuka rumahmu untuknya... honey, kau telah mengubah hidup anak itu.

Leigh Anne  : Tidak, dialah yang telah mengubah hidupku.

Elaine         : (tertawa menghina) Dan itu bagus untukmu. Tapi cobalah serius, Leigh Anne, tidakkah kamu cemas pada Collins (putrimu sendiri)? Maksudku, dia adalah gadis cantik berkulit putih, dan dia (Michael) berbadan besar dan berkulit hitam.

Leigh Anne  : Shame on you!

Ungkapan "Shame on you" yang dilemparkan Leigh Anne bisa diartikan menjadi "Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri!" atau "Dasar kau tak tahu malu!", kurang lebih demikian. Dari percakapan di atas, Elaine menganggap bahwa Leigh Anne seharusnya tidak mencampur seorang anak laki-laki berkulit hitam dengan putrinya sendiri yang berkulit putih dalam satu rumah. Elaine khawatir putri Leigh Anne akan merasa terintimidasi dan terhina.

Lihat? Teman Leigh Anne masih terjebak dalam pola pikir rasial, yang dianggapnya benar demi menjaga keutuhan kelas sosial, sementara Leigh Anne tahu kalau pandangan semacam itu salah. Tanpa lempar argumen lebih lanjut, Leigh Anne hanya merespon dengan satu kalimat menusuk: "Shame on you!"

Apakah akhirnya Leigh Anne menyerah? Tidak, sama sekali tidak. Dengan gigih dia memberi Michael pendidikan layak, kebutuhan sandang dan pangan mencukupi, hingga kesempatan bergabung dalam klub football. Mengacu pada dialog di atas, bisa dipahami mungkin saja yang membuat Leigh Anne berjuang mati-matian adalah karena sesungguhnya bukan dirinya yang mengubah Michael, melainkan Michael-lah yang mengubah dia.


sumber gambar: highperformanceadvocates.com
"Nobody can stop you but you. And shame on you if you're the one who stops yourself"
-- Damon Wayans

Serangan Verbal (Menggunakan Kata-Kata) Dalam Suasana Informal Sehari-hari

Melihat karakter Leigh Anne yang dengan berani melemparkan kalimat, "Shame on you!" kepada orang yang telah menghinanya, saya jadi malu pada diri sendiri. Saya belum sampai taraf seperti itu. Kebanyakan serangan verbal yang mengarah ke saya dibalut dalam bentuk gurauan, sehingga seolah tidak serius, padahal bisa saja itu serius. Jika saya langsung melontarkan kalimat, "Dasar, lo ngga tahu malu!" maka pasti balasannya adalah: "Ya elah... gue cuma becanda, bro! Baper amat."

Nah, begitulah. Jadi serangan verbal yang mengarah kepada saya selalu dianggap gurauan, sehingga saya memilih tersenyum miris, atau ikut bergurau. Untuk kasus yang lebih serius, saya memilih tersenyum saja atau diam. Biasanya respon ini lebih ampuh untuk membuat orang tersebut tidak lagi melontarkan serangan verbal seperti itu.

Saya tertarik mengangkat pengalaman seorang teman di kantornya. Jadi begini. Dia adalah seorang karyawan yang berusaha mengeluarkan usaha terbaik dalam pekerjaan. Saat dia terlihat tekun bekerja sementara orang lain memilih malas-malasan di jam kerja (bermain game, mengobrol panjang lebar dengan orang lain, merokok, dan semacamnya), ada seorang karyawan usil berkata, "Kerja itu ngga usah terlalu serius, gaji gue juga ngga jauh beda sama lo, santai aja kali. Masih ada besok!"

Seperti mayoritas serangan verbal dalam kantor, kalimat itu tentu saja dianggap gurauan, sehingga mengundang beberapa teman lain ikut tertawa. Saya sendiri mungkin akan tertawa miris saat diserang seperti itu, namun tidak dengan teman satu ini. Dia langsung membalas, "Yang penting gue kerja bener, ngga makan gaji buta."

Nah, hal-hal seperti itu yang bisa disamakan dengan ungkapan "Shame on you!" milik Leigh Anne. Dalam "The Blind Side", Leigh Anne mendapat serangan verbal berupa rasisme, yang mana itu tampak berat dan serius, sehingga dia melontarkan serangan verbal balasan, bukti keteguhan hatinya membela sikap. 

Oke. Kita selalu menganggap kalau tema SARA adalah tema berat dan tidak seharusnya dijadikan gurauan, namun... hei, bukankah dalam keseharian kita, begitu banyak serangan verbal dalam bentuk gurauan dalam obrolan informal? Tidak berupa SARA kok. Coba saja perhatikan. Apakah kalian familiar dengan gurauan terkait kondisi fisik, selera akan sesuatu hal, jabatan, harta, keturunan, pilihan pendidikan, tingkat kecerdasan dan lain sebagainya? Pokoknya, yang tidak dianggap "berat" dan menggunakan pembelaan "cuma gurauan". 

Bagi para pelontar gurauan, sebagian besar menganggap itu cuma sepele, jadi mereka tidak berharap para korbannya serius menanggapi, apalagi memasukkannya dalam hati. Astaga, apakah saya baru saja menggunakan istilah "korban"? Hm, sepertinya berat sekali ya, tapi memang kenyataanya begitu kok. Meski dalam suasana informal, tetap saja ada pelaku serangan verbal dan ada pula korban serangan verbal. Jujur, saya sendiri pernah berada di kedua sisi tersebut, sebagai pelaku dan juga korban, hehe. Hal-hal semacam itu sudah lumrah soalnya, jadi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, saya jadi merasa bersalah sendiri kepada mereka-mereka yang pernah saya serang secara verbal.

Kenapa saya mengangkat isu ini? Karena beberapa waktu belakangan, saya pernah menjadi korban dalam sebuah serangan verbal bertubi-tubi yang cukup menusuk perasaan. Ironisnya, sang pelaku tidak merasa saya terluka (mungkin karena saya tertawa kikuk saat itu), sehingga dia bebas mengoceh sesuka hati. Setelah saya analisa mendalam, ternyata si pelaku ini kerap melontarkan serangan verbal juga ke orang lain, dan dia tidak menganggapnya serius. Analisa lebih lanjut didapat sebuah kesimpulan: bisa jadi ini karma bagi saya, karena dulu pernah mengoceh sesuka hati kepada beberapa orang, menganggapnya sebagai gurauan, padahal bisa saja orang itu terluka secara batin.

Waduh. Jadi ini semacam pembalasan sepertinya, sebuah pengingat dari Tuhan.

Oke. Melalui artikel ini, saya ingin berterima kasih kepada si pelaku serangan verbal ke saya itu (tidak perlu diumbar identitasnya), karena atas jasamu, saya merasakan sendiri pedihnya hati diiris oleh lisan. Serius. Butuh waktu lama untuk kembali memompa semangat positif dan bangkit. Kini, saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya berusaha tidak akan melontarkan serangan verbal ke orang lain, meski sebatas gurauan (batasnya sendiri masih agak kabur, jadi saya dalam tahap belajar juga). Saya akan berusaha memproses semua dulu dalam otak, sebelum terlontar oleh lisan. 

Bagi saya, pilihan hidup orang lain adalah pilihan mereka sendiri, selama mereka yakin dan teguh akan pendiriannya. Termasuk mereka-mereka yang percaya diri akan kondisi fisiknya, selera memilih sesuatu, pola pikir, asmara, finansial, dan pernik hidup lain. Saya memandang orang demikian dengan hormat, tidak berani mencampuri lebih dalam urusan hidupnya kecuali diizinkan untuk menyumbang saran. Tidak perlu menghakimi dengan membabi buta pula juga, karena saya sendiri pun masih bergulat dengan permasalahan hidup sendiri.

Well, sebagai penutup, mari kembali lagi ke pembahasan karakter Leigh Anne dalam film "The Blind Side". Beranikah kita seperti dirinya yang melontarkan kalimat "Shame on you" pada mereka yang mencibir? Leigh Anne yakin bahwa tindakannya benar dan manusiawi, saat orang lain justru mempertanyakan "ketidaknormalan perilakunya". Saya sendiri sih belum berani, hehe, karena ya itu tadi... serangan verbal yang diterima lebih sering berada dalam suasana informal, sehingga jika saya melontarkan serangan balasan semacam: "Dasar, lo ngga tahu malu udah ngomong begitu!" maka dapat dipastikan jawabannya adalah...

"Ya elah, baper amat sih lu! Gue cuma bercanda kali..."

Begitulah. Lagipula, mayoritas serangan verbal yang mengarah ke saya sepertinya gurauan semata kok, jadi... ya sudahlah. Untuk saat ini, bertahan dari serangan verbal tampaknya lebih mudah ketimbang melontarkan balasan berupa, "Shame on you!" 

Hm... atau mungkin di masa mendatang, saat serangan verbal tersebut sudah masuk ranah yang berat, saya akan mengingat karakter Leigh Anne dan mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan, "Shame on you!". Dengan demikian, saya bisa tahu bagaimana rasanya setelah melemparkan balasan semacam itu.

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Vladimir John Ondrasik III atau dikenal dengan nama panggungnya, Five For Fighting, kerap menghasilkan musik-musik alternative soft rock dengan iringan piano yang kental, disertai lirik indah. Salah satu karya dari musisi asal Amerika Serikat ini berjudul "Chances", lagu bernapaskan pop rock yang lebih dulu muncul di album Slice, sebelum akhirnya diboyong ke dalam album soundtrack "The Blind Side". Lagu ini muncul saat credit title bergulir di akhir film. Lirik dan aransemennya yang menyentuh membuat saya terus-menerus memutarnya sepanjang proses menulis. 

sumber gambar: movieinsider.com
READ MORE - Itu Cuma Gurauan Kok, Jangan Baper, Ah!

Jangankan Memperjuangkan Minat, Menemukannya Saja Belum Tentu Berhasil

Salah satu sudut dalam museum Van Gogh di Amsterdam, Belanda
sumber gambar: pinterest.com
"What would life be if we had no courage to attempt anything?" -- Vincent Van Gogh

Film Animasi "Loving Vincent" yang Dibuat dengan Kreatifitas Tinggi

Film animasi selalu menarik perhatian saya.

Dari semua film animasi yang pernah saya tonton, baru ada satu film yang mampu menyihir saya sedemikian rupa saat melihat adegan demi adegannya, yakni film "Loving Vincent". Adegannya dibuat menggunakan LUKISAN TANGAN DENGAN CAT MINYAK! Saya paham bahwa melukis satu kanvas penuh saja butuh proses yang tidak sebentar. Bayangkan jika kita harus melukis setiap adegan demi adegan film!

Nyatanya, itulah yang dilakukan 125 pelukis profesional dari berbagai penjuru dunia (sayangnya, dari Indonesia tidak ada) di studio Loving Vincent di Polandia dan Yunani. Mereka memilih 120 karya asli Vincent Van Gogh untuk ide dasar adegan demi adegan. Setelah itu, aktor dan aktris terpilih akan memerankan tiap adegan dalam studio berlatar green screen. Hasil pengambilan gambarnya akan dipoles oleh bantuan CGI (Computer-Generated Imagery) untuk detail lokasi, properti dan lainnya. Kemudian, proses kreatif nan melelahkan pun dimulai: menyerahkan hasil adegan film kepada para pelukis, untuk dilukis setiap pergerakan adegannya dengan lukisan cat minyak, manual! Hasil kerja keras tersebut menghasilkan 65.000 frame yang menjadi dasar pergerakan animasi.

Ckck. Bukankah itu bisa disebut sebuah proyek ambisius dan penuh perjuangan? Hebatnya lagi, semua adegan dilukis menggunakan gaya khas sapuan kuas Vincent Van Gogh, karena memang film ini didedikasikan untuk mengenang dirinya.

Proses melelahkan para pelukis di dalam studio untuk film "Loving Vincent"
sumber gambar: nightflight.com
Saya mengetahui film ini pertama kali melalui ajang Academy Awards (Oscar) 2018, karena film tersebut dinominasikan dalam kategori "Best Animated Feature Film". Saat menontonnya di bioskop pun saya hanya tertarik akan pergerakan animasinya. Indah sekali. Jujur, saya tidak mengenal siapa itu Vincent Van Gogh. Hehe. Yang saya tahu, dia adalah salah satu pelukis terkenal di dunia. Itu saja. 
Dari kiri ke kanan: Perbandingan karya asli ("Portrait of Armand Roulin" - 1888), tampilan di adegan dan foto pemeran di studio green screen
sumber gambar: aintitcool.com
Saat ditonton, alur film cukup membosankan , pokoknya tidak terlalu spesial. Di beberapa adegan bahkan saya tertidur (mungkin pengaruh menonton di malam hari juga). Entahlah, seperti ada sesuatu yang kurang. Saya menikmatinya sebatas melihat keindahan tampilan lukisannya saja, tidak lebih. Kenapa juri Oscar menganggapnya menarik?

Beberapa bulan kemudian, tanpa sengaja saya menemukan e-book "Lust For Life" saat sedang mencari buku untuk dibaca. Novel karya Irving Stone yang terbit di tahun 1934 ini mengisahkan tentang kehidupan Vincent Van Gogh. Saya jadi teringat salah satu adegan dalam film "Loving Vincent", saat Marguerite Gatchet (diperankan Saoirse Ronan) berkata pada Armand Roulin (diperankan Douglas Booth): "Kau ingin tahu lebih banyak tentang kematiannya (Vincent Van Gogh), tapi apa yang kamu ketahui tentang kehidupannya?"

Benar sekali. Bisa jadi saya tidak memahami film "Loving Vincent" karena saya tidak mengenal siapa itu Vincent Van Gogh, mengetahui satu karyanya pun belum pernah. Jadi, apa salahnya mencoba mencari tahu? Saya pun bertekad mengenal siapa sebenarnya pelukis itu melalui novel "Lust For Life". Hasilnya? Sukses menjungkirbalikkan emosi saya, dalam artian positif! Novel ini sungguh menyentuh. Akhirnya, saya menonton ulang "Loving Vincent" dan... tersenyum senang karena mulai bisa mengikuti alurnya, sekaligus memahami adegan demi adegan. Ah, terasa sangat indah begitu ditonton kedua kalinya.

sumber gambar: ebooks.gramedia.com
"Great things are done by a series of a small things brought together" 
-- Vincent Van Gogh

Untuk Memahami Seseorang, Kita Harus Mengenal Lebih Dalam Tentang Kehidupannya

Vincent Willem Van Gogh adalah seorang pelukis beraliran pasca-impresionis asal Belanda. Di dalam novel, kita diajak menyelami kehidupannya, mulai dari penyalur karya seni di London (Inggris), sebagai misionaris Kristen di Borinage (Belgia), keterlibatan penuh awal sebagai pelukis di Etten (Belanda), pembelajaran melukis dan percobaan dengan cat minyak di Den Haag (Belanda), ketekunan melukis di Nuenen (Belanda), perkenalan dengan para pelukis lain di Paris (Perancis), eksperimen dengan warna cerah di Arles (Perancis), masa depresi di Saint Remy (Perancis) hingga masa akhir hidupnya yang kelam di Auvers (Perancis).

Ada satu poin yang menarik untuk dibahas dari novel ini, yakni passion atau minat. Setelah menggeluti beberapa profesi, Vincent akhirnya sadar bahwa dunianya berwarna cerah saat dirinya melukis. Awalnya, dia hanya iseng membuat sketsa para penambang batu bara di Borinage. Ledakan gairahnya itulah yang akhirnya membuat dia sadar akan minatnya: menangkap ekspresi dan nyawa semua yang terlihat oleh matanya, menjadi sebuah lukisan.

Berikut saya kutip perkataan Vincent kepada adiknya, Theo, mengenai minat melukis ini (halaman 136):

"...Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku. Tapi kini aku telah mengerti satu hal dimana aku tidak akan pernah gagal."

"The Self Portrait" (1889), salah satu karya terkenal dari Vincent Van Gogh, sekaligus menunjukkan potret dirinya sendiri
sumber gambar: en.wikipedia.org
Itulah yang membuat Vincent akhirnya melukis bagai kesetanan, dalam artian dia melukis seolah tidak akan ada hari lain. Dengan gigih dia menggoreskan sketsa demi sketsa; mempelajari teknik melukis melalui pelukis lain dan juga hasil lukisan mereka; menuangkan apa yang dilihatnya ke atas kanvas; bereksperimen dengan guratan, emosi subyek, sapuan warna, teknik pencahayaan; juga menanamkan kepercayaan pada dirinya sendiri bahwa lukisannya akan semakin baik dari hari ke hari.

Berikut kutipan pemikiran Vincent yang saya ambil dari halaman 442:

"... Dia tidak puas dengan dirinya sendiri dan apa yang sedang dilakukannya, tetapi dia tetap memiliki sedikit harapan bahwa akhirnya itu akan lebih baik."

"...Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya.

Ada kalanya Vincent memang sempat menyerah saat mengetahui hasil lukisannya tidak mengalami kemajuan, namun berkat dorongan motivasi sang adik, akhirnya dia kembali bangkit dan meneruskan disiplinnya dalam melukis. Menyerah dan bangkit. Terus melukis tanpa lelah. Mungkin itulah sebabnya dia menjadi seorang pelukis sejati.

Vincent hidup untuk melukis, bukan melukis untuk hidup, karena -- seperti yang tertera di novel -- keadaan finansialnya tidak bagus. Sepanjang hidupnya, Vincent hanya berhasil menjual satu karya! Kerap kali dia menahan lapar berhari-hari karena tidak memiliki uang untuk sekedar membeli roti atau kopi hitam. Itu semua tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melukis, hebat sekali.

Coba simak kutipan di bawah ini (halaman 442):

"Hasrat untuk sukses telah meninggalkan Vincent. Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya."

"...dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya -- kekuatan dan kemampuan untuk mencipta."

Wah. Jika saya menjadi Vincent, mungkin saya sudah menyerah dengan kondisi yang ada. Haha. Oh, jangan lupakan satu kendala lagi: Vincent sudah kenyang mendapat cibiran dari orang lain terkait kecintaannya pada melukis dan kemelaratan yang dia derita. Dia bahkan dicap aneh, gila, pengangguran liar dan semacamnya.

Apakah Vincent gentar? Tidak, karena masih ada satu orang di dunia yang menganggapnya hebat dan sepenuhnya waras, yakni Theo, adiknya sendiri sekaligus malaikat penyelamat. Jadi, banjiran makian tidak menjadi masalah selama Theo masih menyiraminya dengan kasih sayang. Theo sendiri bisa dibilang sebagai satu-satunya orang yang setia mendukung Vincent secara finansial maupun emosional sepanjang hayatnya. Theo menjadi satu titik kelemahan terbesar Vincent, yang pada akhirnya justru menyeret dia ke dalam jurang depresi saat mengetahui sang adik tertimpa cobaan hidup. Theo ibarat matahari bagi Vincent. Vincent boleh saja terpuruk, namun matahari akan selalu dapat menyinarinya. Justru saat sinar matahari meredup, Vincent otomatis kehilangan arah.

Ah, saya merinding sendiri saat menuliskan artikel ini. Novel "Lust For Life" sungguh bagus, menyajikan kisah pilu Vincent Van Gogh. Ternyata tidak semua pelukis besar benar-benar "berjaya" di masa hidupnya ya. Saya pikir Vincent Van Gogh menuai kesuksesan saat dia hidup, nyatanya tidak. Hidup Vincent bisa dibilang "menyakitkan dan tragis". Saat membaca bagian dimana Vincent mendapat kebahagiaan, saya ikut merasa bahagia, sementara saat Vincent ditimpa kemalangan, saya ikut sedih. Ini terdengar konyol, namun itulah yang saya rasakan. 

Mungkin memang benar bahwa untuk memahami seseorang, kita harus menyelami kehidupannya terlebih dahulu. Bisa jadi kita menganggap seseorang bodoh dan kikuk, padahal nyatanya dia berwawasan luas. Lihat apa yang terjadi pada nama harum Vincent Van Gogh kini. Dia dianggap sebagai pelukis besar aliran pasca-impresionis, dan harga lukisannya bisa mencapai triliunan rupiah! Sebuah museum didirikan untuk mengabadikan karyanya, dan banyak pelukis menjadikannya idola. Luar biasa. 

Kegigihan memperjuangkan minatlah yang membawa Vincent hingga sejaya ini. Ironisnya, semua dia peroleh setelah dirinya meninggal dunia.

"I put my heart and my soul into my work, and have lost my mind in the process"
-- Vincent Van Gogh
"The Starry Night" (1889), salah satu karya paling terkenal dari Vincent Van Gogh yang banyak diperbincangkan dan dianalisis pecinta seni
sumber gambar: en.wikipedia.org

"Life always brings difficulties, that is true, but the good side of it is that it gives energy"
-- Vincent Van Gogh

Apa Minat Kamu dalam Hidup?

Oh, itu pertanyaan membingungkan. Saya sendiri pasti akan susah menjawabnya. Saya menyukai hal-hal seperti menonton film, membaca buku, menulis dan hal-hal yang terkait dengan unsur kreatifitas, tapi jika harus disimpulkan menjadi sebuah minat, ehm... saya sendiri belum yakin. Apakah menulis adalah minat saya? Bisa jadi, soalnya saat menulis sebuah artikel, saya merasa tenggelam dalam dunia lain, dunia dimana hanya saya saja yang bisa menikmatinya.

Oke, jika memang menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan dan menyebarkan manfaat ke orang lain adalah minat saya, lalu mengapa saya masih merasa kurang percaya diri menunjukkannya ke orang lain? Menurut saya, minat akan membuat kita berseri-seri saat memberitahukannya ke orang lain. Bagi saya, tidak demikian. Seringkali saya menutup rapat tulisan yang saya buat, bahkan tidak menginginkan sembarang orang melihatnya. Konyol memang, apalagi media ini adalah blog, dimana penyebarannya melalui internet, dan internet bisa diakses siapa saja. Haha. Ditambah, saya juga belum berniat memonetisasi minat ini.

Begitulah. Intinya, saya sendiri masih meragukan minat dalam hal tulis-menulis. Mungkin saya harus menyerap semangat Vincent Van Gogh dalam memperjuangkan minat, agar saya menjadi penulis yang konsisten dan terus belajar memperbaiki diri, tak peduli hujatan orang lain, dan memang berkarya karena sudah menjadi kewajiban.

Atau... jangan-jangan ini memang minat saya, namun saya tidak berani mengakuinya? Mungkin tekanan internal dalam diri yang mengkerdilkan minat ini. Jika Vincent Van Gogh saja mau berusaha melukis setiap hari, setiap saat, bahkan dalam keadaan lapar sekalipun... akankah saya melakukan hal yang sama dalam menulis? Apakah saya berani memperjuangkan keinginan ini dan terus maju, apapun resikonya? 

Entahlah. Saya harus berkontemplasi lebih dalam jika menyangkut masalah minat, masih terus mencari. Saya pernah membaca bahwa menemukan minat adalah proses yang harus melibatkan kejujuran diri sendiri, dan tidak ada satu orang pun yang dapat menerka minat orang lain selain orang itu sendiri. Tes secanggih apapun hanya akan mencoba mengarahkan, bukan memutuskan. Artinya, pencarian minat adalah murni perjalanan ke dalam diri sendiri, menanyakan pertanyaan sama terus-menerus: apa sesungguhnya minat saya dalam menjalani hidup?

Aduh, berat sekali ya pertanyaannya. Jangankan berkontemplasi mencari minat dalam hidup, kebanyakan kita justru memikirkan isu lain, mulai dari remeh hingga besar, bukan? Akui saja, pencarian minat sepertinya bukan sesuatu yang penting di masyarakat kita. Sedari kecil, kadang kita menemukan hal-hal menarik dari sebuah aktivitas, yang mungkin saja berawal dari hobi, dan menjurus ke arah minat untuk dijadikan profesi suatu saat... namun seiring pendewasaan diri, tidak semuanya berhasil mempertahankan minat tersebut. 

Atau lebih tepatnya, tidak semua orang diperbolehkan mengikuti kata hati untuk meneruskan minat tersebut sebagai profesi. Pola pikir masyarakat kita masih berkutat pada profesi-profesi yang dianggap menguntungkan secara finansial dan berada dalam zona aman, tidak benar-benar profesi yang sejalan dengan minat kita. Lagipula, siapa yang mau repot-repot mencari tahu minat diri sendiri saat setiap hari harus disibukkan mengurus masalah sandang, pangan dan papan?

Pada akhirnya, sebagian besar dari kita menyerah pada keadaan, mengikuti arus, mengekang minat ke dalam penjara terdalam di hati. Minat tersebut, yang benihnya bisa saja muncul sejak kanak-kanak, menjadi lemah karena tidak dipupuk setiap hari. Dan... jadilah sebuah masyarakat seperti yang jamak kita lihat saat ini, dimana hidup sekedar untuk memastikan sandang, pangan dan papan terpenuhi, karena memang itulah yang selalu menjadi isu paling penting dalam hidup. Perjuangan untuk memenuhi standar ekonomi masyarakat, bukan perjuangan memenuhi minat. Akan selalu ada seribu alasan untuk menyalahkan berbagai pihak, bukan malah merenungkan kenapa minat tersebut tidak diperjuangkan.

Jadi, pertanyaan yang lebih tepat saya ajukan sekarang bukanlah "Apa minat kamu dalam hidup?" melainkan: "Apakah kamu sudah menemukan minat kamu dalam hidup, dan berani memperjuangkannya?"

-Bayu-





Catatan selama proses menulis:


Saya mendengarkan album soundtrack "Loving Vincent" yang berisikan materi komposisi karya Clint Mansell selama proses menulis artikel di atas.

Mengingat film "Loving Vincent" adalah sebuah persembahan indah dan penuh seni dari ratusan pelukis dunia dan pengagum karya Vincent Van Gogh, maka musik pengiringnya pun dibuat dengan baik untuk mengiringi adegan demi adegan. Dari 14 musik score yang ada di album, saya sengaja memutar dua lagu terus-menerus, yakni "The Night Cafe" dan "The Yellow House", karena musiknya sungguh menenangkan dan menghanyutkan. Daya magisnya sanggup membuat saya menulis nyaris tanpa henti.

Saya tidak tahu apa saja yang menjadi inspirasi Clint Mansell saat menyusun komposisi kedua musik score tersebut, tapi yang pasti keduanya mengalun indah dengan caranya masing-masing.
sumber gambar: amazon.com

READ MORE - Jangankan Memperjuangkan Minat, Menemukannya Saja Belum Tentu Berhasil
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.