Membalas Jasa Seseorang

Image source: livingroomdesignideas.blogspot.com

"We can't help everyone, but everyone can help someone" -- Ronald Reagan

John Grisham adalah novelis asal Mississippi, Amerika Serikat yang sudah banyak menelurkan karya best seller. Tulisannya cerdas, tajam, megah, bermuatan banyak intrik, berani, dan "menggigit". Salah satu novelnya yang punya kesan "menggigit" adalah A Time to Kill, novel pertamanya sekaligus yang paling dia sukai.

Butuh usaha ekstra untuk menamatkan novel setebal 906 halaman ini, terutama karena saya hanya menyisihkan sekitar satu jam setiap hari untuk membacanya, tidak membaca dalam full effort. Secara ringkas, A Time to Kill bercerita mengenai seorang pria kulit hitam yang diadili karena menembak mati dua orang kulit putih yang telah memperkosa anak perempuannya. Pemerkosaan dibalas dengan nyawa, tapi apakah nyawa harus dibalas dengan nyawa? Apalagi yang diadili adalah seorang kulit hitam, ras yang dipandang "kelas bawah" oleh masyarakat Amerika. 

Banyak isu mencuat di novel ini, mulai dari rasisme yang masih kental di Amerika Serikat, teror Ku Klux Klan (kelompok rasis ekstrem), keadilan yang semu, dan pembelaan hati nurani. John Grisham dengan cerdas mempertontonkan sepak terjang langkah para pengacara dari pihak terdakwa dan pembela, bagaimana mereka bersilat lidah, menghadapi pers, melakukan riset melelahkan, dan mencari celah dalam sistem peradilan guna memenangkan kasus.

Brilian, saya benar-benar terpukau setelah menamatkan novelnya. Ada banyak versi cover novelnya yang beredar, ini salah satunya:


Image source: bukalapak.com

Saya tertarik mengambil beberapa bagian dalam novel yang menurut saya patut dibahas. Ada dialog yang menarik di halaman 112. Diceritakan bahwa Carl Lee, si pria kulit hitam yang diadili karena menembak dua orang pemerkosa putrinya, mendapatkan senapan dari teman lamanya, Cat Bruster. Cat dengan senang hati memberikan senapan dengan gratis. Kenapa? Berikut saya kutip dialog mereka:

Carl Lee : Aku ambil

Cat        : Seribu dolar untuk orang lain, tapi tidak untukmu, Big man

Carl Lee : Berapa?

Cat        : Cuma-cuma, Carl Lee, cuma-cuma. Aku berutang padamu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang

Percakapan tersebut membuat saya termenung. Cat Bruster memberikan sesuatu dengan gratis sebagai balas budi kebaikan temannya. Hmm, apakah saya mampu melakukannya juga? Saya kira demikian. Apalagi ada beberapa orang yang sudah berjasa dalam kehidupan saya, dan jasa mereka tidak dapat dinilai dengan uang. Pertanyaan tersebut terus berkecamuk dalam benak sehingga saya pikir lebih baik menguraikannya di blog demi ketenangan. 

"Your life will become better by making other lives better" -- Will Smith

Terlepas dari masalah etika dalam berbalas budi, sudah sepatutnya kita menolong orang lain yang berada dalam kesulitan, sepanjang tindakan yang kita lakukan adalah kebaikan. Apakah harus mengharap pamrih? Tanyakan kepada nurani masing-masing. Bukankah saat kita menolong orang lain, ada semacam perasaan yang menyelimuti kita, menenteramkan kita, membuat kita merasa damai. Perasaan semacam itu yang tidak bisa dinilai dengan uang, bukan? Mengetahui bahwa tindakan kita dapat membuat hidup orang lain lebih baik itu jelas membawa efek baik dalam diri kita. Lalu, apakah kita harus mengharap tindakan itu akan "dibayar balik"?

Tidak. Mencari pamrih sama saja menagih hutang, hal yang paling saya jauhi. Saya merasa tidak nyaman jika harus menagih hutang. Lebih baik memberi dengan ikhlas ketimbang mendata pihak mana saja yang harus kita "tagih". 

"One of the most important things you can do on this earth is to let people know they are not alone" -- Shannon L. Alder

Memberi kebahagiaan kepada orang lain menjadi tidak baik tatkala kita mengungkitnya di kemudian hari dan menggunakannya untuk tujuan tertentu. Klaim tagih-menagih kebaikan ini telah digambarkan John Grisham dalam novel A Time to Kill. Di halaman 408, terdapat dialog antara Lucien, seorang mantan pengacara, dengan Bass, seorang ahli psikiater:

Lucien   : Kau mengatakan akan membantuku. Tuhan tahu kau berutang budi padakuBerapa perceraian yang kutangani untukmu?

Bass       : Tiga. Dan tiap kali aku diperas habis

Lucien    : Berapa banyak klien, atau pasien, yang pernah kukirimkan kepadamu selama bertahun-tahun?

Dialog di atas jelas sebuah tuntutan untuk membalas budi. Lucien memaparkan kebaikan dia untuk mendapatkan balas budi si Bass. Kebaikan yang diungkit oleh diri sendiri semacam itu menurut saya telah melunturkan esensi kebaikannya. Rasanya tidak pantas kalau kita menagih balas budi secara terang-terangan, seolah kita mengharap pamrih. Jika kalian pernah melakukannya, silahkan kalian renungkan sendiri, apakah balas budi yang nantinya didapat berlandaskan keikhlasan, atau sebuah keterpaksaan?

Mendapat bantuan dari orang lain yang dilandasi keterpaksaan sama saja bohong. Jika saya dalam posisi seperti itu, akan saya tolak. Jauh lebih bermakna saat mendapatkan kebaikan yang dilandasi keikhlasan. Lalu, kapan kebaikan tulus itu akan kita dapatkan? Kapan saat yang tepat mengetahui orang lain akan memberi sesuatu dengan tulus? 

Well, mengapa harus menunggu? Mengapa tidak kita sendiri yang menciptakannya? 

Mari, tidak usah menunggu orang lain memberikan kebaikan dengan tulus. Jadilah malaikat kecil untuk orang lain. Berikanlah bantuan sebisa yang kita lakukan, meski hanya seulas senyum sekalipun. Ikhlaslah dalam melakukannya, dan rasakan manfaatnya. Ikhlas membawa dampak baik bagi tubuh dan pikiran. Dunia boleh carut-marut, namun berilah harapan kepada orang lain bahwa masih ada kebaikan tulus di dunia ini, dan kita sendiri yang menciptakannya. Diri kita sendiri. Pasti ada alasannya kenapa Allah SWT menyuruh kita untuk tolong-menolong satu sama lain, ya kan?

Bangkit dan tebarlah kebaikan, tidak hanya kepada orang yang telah berjasa kepada kita, tapi kepada semua orang.

-Bayu-



Note: Cukup putar musik Regina Spektor dan seketika mood menjadi bagus. Diambil dari album What We Saw From The Cheap Seats, lagu "Don't Leave Me (Ne Me Quitte Pas)" menemani saya dalam menulis artikel ini. Entah harus mengkategorikan lagu ini dalam genre pop, folk atau alternative, tapi yang pasti musik Regina Spektor jelas mengagumkan. Di lagu yang super indah ini, Regina dengan ceria membawa pendengar menyusuri kota New York dan berakhir di Paris. Beautiful song
Image source: rollingstone.com
READ MORE - Membalas Jasa Seseorang

Hadiah Itu Bernama "Waktu"

Image source: abstract.desktopnexus.com
The greatest give you can give someone is your time, because when you give your time, you are giving a portion of your life that you will never get back.

Kalimat itu saya dapatkan dari internet, saat sedang mencari-cari kutipan menarik untuk diletakkan di salah satu postingan blog. Saya terdiam sejenak saat membacanya. Otak saya langsung menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menjadi: "Hadiah terbesar yang bisa kau berikan ke seseorang adalah waktumu. Karena ketika kau memberikan waktumu, kau sedang memberikan bagian dari hidupmu yang tidak akan bisa kau peroleh lagi". Hm... interesting fact. Simple but meaningful.

Kutipan menarik itu terus saya simpan sampai suatu hari, ada momen spesial yang membuat saya memutuskan untuk mengeluarkannya kembali. Saya tertarik untuk mengupasnya lebih dalam. Ini kali keempat saya membahas mengenai waktu di blog, karena tema yang satu ini sangat menarik untuk dibahas.


Baca juga: Dimensi Waktu: Masa Lalu, Masa Sekarang, dan Masa Depan

Kita hidup dalam himpitan waktu selama dua puluh empat jam setiap harinya, berkutat dengan segudang kegiatan yang menguras pikiran, fisik dan emosi. Menarik untuk digarisbawahi bahwa setiap detik waktu yang kita habiskan, sama saja dengan setiap detik semakin dekat menuju waktu... kematian kita. Oke, saya tidak akan mendramatisirnya. Hanya ingin mengingatkan, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Untuk itu, dibutuhkan perencanaan yang matang mengenai waktu yang kita miliki. 

Lalu, sudahkah kita merencanakannya dengan matang? Jujur, saya sendiri belum bisa melakukannya. Masih banyak pencapaian yang belum saya raih, masih banyak waktu yang saya sia-siakan, dan masih banyak pula waktu yang saya sendiri bingung bagaimana memanfaatkannya. Menjadi dewasa tidak berarti kita bisa matang memikirkan waktu, karena manusia tetap terbelah dalam dua kubu besar: mereka yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik, dan mereka yang tidak.

"Yesterday is the past, tomorrow is the future, but today is a gift. That's why it's called the present" -- Bill Keane 

Allah SWT memberi jumlah waktu yang sama kepada manusia setiap harinya, antar individu tidak ada yang berbeda hingga ke detiknya sekalipun. Semua sama. Bedanya, apakah kita bisa memanfaatkannya dengan baik atau tidak. Waktu menjadi berkah yang tidak kita sadari. Itu adalah anugerah yang diberikan Allah SWT kepada kita. Sebuah nikmat, atau dengan kata lain... sebuah hadiah. Tentu kita terus menginginkan hadiah itu, bukan? Kita tetap menginginkan bangun keesokan harinya, demikian seterusnya. 

Jika demikian adanya, apakah kita sudah bersyukur akan karunia ini? Pasti ada alasannya sampai detik ini Allah SWT masih menginginkan kita berada di dunia.

"No matter how busy you are, you must take time to make the other person feel important" -- Mary Kay Ash

Waktu yang berlalu, tidak akan bisa kembali. Yang dapat kita lakukan dengan waktu adalah merencanakan penggunaannya sebaik mungkin, dan menjadikan "saat ini" diisi dengan kegiatan yang bermakna, agar bermanfaat dan dapat dikenang. Dengan sempitnya waktu yang kita miliki, apakah kita rela memberikannya kepada orang lain? Bukan secara harfiah "memberikan", namun lebih kepada "menghabiskan waktu bersama orang lain di saat kita bisa melakukan aktivitas lain".

Baca juga: Setiap Saat Adalah Istimewa

Apakah kita rela saat menunggu orang yang sakit demi kesembuhannya, sementara kita harus mengejar transaksi bisnis? Apakah kita rela menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta, saat kita masih dikejar tuntutan pekerjaan? Apakah kita mau merelakan waktu untuk menghibur teman yang berduka/sedih? Apakah kita mau merelakan waktu untuk sekedar berbincang dengan orang lain?

Begitulah. Selalu ada pertentangan dengan waktu. Kita memiliki aktivitas terjadwal, dan butuh penyesuaian saat dihadapkan dengan konflik kepentingan: haruskah kita meluangkan waktu untuk orang lain? Apakah orang lain juga rela memberikan waktunya untuk kita? Tidak, jangan berpikiran seperti itu. Manusia butuh bersosialisasi, dan menghabiskan waktu bersama dengan orang lain adalah sebuah kebutuhan tak terelakkan. 

"Time is a created thing. To say "I don't have time" is to say "I don't want to" -- Lao Tzu

Kembali ke kutipan di awal. Hadiah terbesar yang bisa kita berikan ke seseorang adalah waktu, karena bagaimanapun juga, ada konsekuensi yang timbul saat melakukannya: kita kehilangan waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal-hal lain. Tapi, kita jarang memikirkan hal itu, bukan? Bagus, karena jika kita memikirkannya, terasa aneh. Malah sebaiknya tidak usah dipikirkan. Tidak ada ruginya menghabiskan waktu bersama orang lain, sepanjang kita berniat baik. Mereka tentu senang jika kita dapat hadir menemani, hadir memberi penghiburan, hadir memberi semangat, atau sekedar hadir untuk bertukar pikiran.

Memang, ada kalanya kita akan terperangkap dalam tuntutan ini itu sehingga sulit meluangkan waktu untuk sekedar berbincang dengan orang lain (saya pun terkadang demikian), tapi sadarilah, bahwa tanpa interaksi dengan orang lain, hidup akan terasa hampa. Hidup akan jauh lebih terasa menyenangkan saat kita memiliki quality time bersama orang lain. Bukan masalah banyak atau tidak waktu yang kita luangkan, tapi lebih kepada kualitasnya. 

Mari luangkan waktu bersama orang tercinta, bersama keluarga, bersama sahabat atau teman. Buat janji temu dengan orang yang sudah lama tidak kita jumpai, dan kita akan menemukan hal-hal tidak terduga sepanjang pertemuan, hal-hal baik yang selama ini tidak kita sadari keberadaannya. Saat orang lain membutuhkan keberadaan kita untuk menghiburnya disaat dia terpuruk, jangan ragu untuk melakukannya. Siapa tahu "waktu" yang kita luangkan untuk mereka justru menjadi momen terindah yang bisa mereka kenang. Momen dimana mereka sadar bahwa mereka masih memiliki kita sebagai orang yang bisa meluangkan waktu. Momen yang dengan ikhlas kita berikan, dan dengan demikian kita menjadi pribadi yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukankah itu terdengar menyenangkan?

Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari hanya karena tidak dapat meluangkan waktu untuk orang lain, hanya karena kita tidak dapat berjumpa dengan seseorang yang sangat membutuhkan kehadiran kita. Jangan sampai kita menyesal bahwa di saat kita sedang berkutat dengan aktivitas super sibuk, di saat itu pula orang yang kita sayangi meregang nyawa, dan kita belum sempat bertemu terakhir kali dengannya.

Hmh...

Ingat, setiap detik yang berlalu, tidak akan pernah bisa kembali. Semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Bukan hanya waktu untuk diri sendiri, namun juga waktu untuk orang lain. Mari berikan waktu yang kita miliki untuk sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, yaitu waktu yang akan dikenang oleh mereka sebagai waktu berkualitas, dan dengan demikian kita telah memberikan kepastian kepada mereka bahwa kita adalah orang yang dapat diandalkan untuk berbagi waktu bersama.

-Bayu-


Note: Lagu-lagu The S.I.G.I.T selalu sukses menjadi mood booster, khususnya dalam album "Visible Idea of Perfection". Band lokal yang satu ini memang patut membanggakan Indonesia di kancah internasional. Lagu mereka yang berjudul "All The Time" saya putar terus-menerus sepanjang proses menulis. 


Image source: en.wikipedia.org








READ MORE - Hadiah Itu Bernama "Waktu"

Kenapa Enggan Mengakui Keunggulan Orang Lain?

Image source: pinterest.com
"Honesty is the first chapter in the book of wisdom" -- Thomas Jefferson

Apakah kalian pernah merasa iri dengan pencapaian orang lain?

Jika iya, maka kalian sama dengan saya. Iri sudah ada dalam kamus saya sejak kecil, mengingat saya dididik oleh kurikulum yang seolah mengajarkan bahwa siapa terpintar, dialah yang menguasai hampir semua bidang. Mayoritas guru saya selalu mengagung-agungkan siswa yang memiliki peringkat satu dan mereka akan mengatakan sesuatu seperti, "Coba kalian contoh si A, dia pintar, bla bla bla..." Lambat laun apresiasi khusus kepada yang pintar terpatri dalam benak dan menjadikan saya kerap memandang iri pencapaian orang lain.

Mungkin akan lain ceritanya jika mereka mengatakan, "Kalian semua bisa seperti si A. Kalian adalah kumpulan siswa pintar. Mari berprestasi lebih baik." Saya percaya masih ada guru baik di luar sana yang akan berkata demikian ke murid-muridnya, bukannya memojokkan yang tidak pintar dan menganak emaskan yang berprestasi.

Apakah rasa iri ini wajar? Saya kira iya, dan saya yakin semua orang pernah merasakannya, meskipun kadarnya berbeda-beda. Ada yang bisa meminimalisir rasa iri hingga menjadi tidak iri sama sekali, atau sebaliknya, justru tidak dapat mengontrol rasa iri yang timbul, sehingga pembawaannya selalu saja kesal.

Jika rasa iri sudah bercokol dalam diri, bisa dipastikan kita akan sulit memandang baik pencapaian orang lain. Bukannya mengapresiasi mereka, justru kita malah sibuk mencari kelemahannya, seolah keunggulan mereka bukanlah sesuatu yang patut dibicarakan. Pikiran kita sudah terkontaminasi dengan negative thinking, dan jika terus dibiarkan, bisa dipastikan akan menggerogoti nurani. Artinya, kita tidak bisa ikhlas mengakui keunggulan orang lain dan malah mencela mereka sebisa mungkin.

"Be honest to those who are honest, and be also honest to those who are not honest" -- Lao Tzu

Saya memiliki kisah tersendiri terkait ini. Sewaktu kuliah, saya dan teman sekelas pernah diminta untuk membentuk kelompok presentasi dengan materi yang sudah ditetapkan oleh dosen. Di akhir setiap presentasi, kami semua diminta untuk memberi skor pada setiap kelompok. Kelompok terbaik adalah yang mendapatkan skor paling tinggi, yang mana itu berarti seluruh mahasiswa mendukung mereka.

Presentasi berjalan dengan gegap gempita. Setiap kelompok berusaha menampilkan yang terbaik, termasuk kelompok saya. Selama berminggu-minggu kami mempersiapkan semuanya dengan matang hingga hari H. Saat tampil di depan, kelompok saya menampilkan materi dengan penuh percaya diri. Ada lima kelompok saat itu, dengan rata-rata anggota enam orang. Anggap saja kelompok saya bernama kelompok A. Kelompok saya bersaing ketat dengan kelompok B. Kami berdua menampilkan materi yang sesuai dengan kemauan dosen, dan beliau mengatakan bahwa kami berdua adalah pesaing terkuat, dan hasil akhir akan diputuskan oleh suara terbanyak.

Dosen saya kemudian mempublikasikan kertas penilaian, demi transparansi hasil. Betapa terkejutnya kelompok saya saat mengetahui bahwa seluruh anggota kelompok B (pesaing) memberikan nilai rata-rata di bawah lima (skala satu sampai sepuluh) pada kelompok kami, sementara kelompok lain rata-rata memberi nilai sempurna pada kelompok kami. Lho kok? Padahal kelompok saya memberikan nilai baik pada kelompok B lho. Kami semua di kelompok A mencoba menilai dengan jujur. Kami mengakui kelompok B tampil dengan baik, sehingga mereka layak diberi nilai baik.

Saya tidak meminta balas budi nilai. Saya hanya ingin berkompetisi dengan sehat. Well, bisa saja sih kami tidak tampil sempurna dan buruk, namun kenapa kelompok lain menyatakan sebaliknya? Dosen pun menyatakan kami tampil dengan baik. Lantas, kenapa kelompok B berbeda, memberi nilai buruk? Apakah mereka berambisi menjadi kelompok terbaik sehingga berusaha menjegal? Apakah mereka iri? Saat itu saya hanya dapat memendam kesal dan tanda tanya. Meskipun hasilnya tetap menyatakan kelompok kami yang menang (alhamdulillah), saya mendapat sebuah pelajaran tersendiri terkait apresiasi akan keunggulan.

Baca juga: Apresiasi Itu Sangat Penting

"Appreciation is a wonderful thing: it makes what is excellent in others belong to us as well" -- Voltaire

Apresiasi terhadap keunggulan adalah sesuatu yang indah, dapat membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri. Sayang, tidak semua apresiasi diberikan dengan tulus. Kisah terkait kelompok presentasi yang saya jelaskan di atas adalah satu dari sekian kisah yang saya miliki terkait iri hati. Seiring waktu, saya menemukan banyak kasus yang menunjukkan bahwa tidak semua orang menyukai keunggulan orang lain. Dalam dunia kerja, memiliki rekan yang iri pada kita lebih menakutkan ketimbang dimarahi atasan. Jika dimarahi atasan, kita masih dapat berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Lain halnya dengan rekan kerja yang iri. Mereka kerap tidak menampilkannya secara terang-terangan, namun dapat melakukan hal-hal buruk yang tidak kita duga. Karir justru dapat terancam oleh orang-orang yang merasa iri terhadap keberhasilan kita.

Saya sendiri pernah merasa iri akan rekan kerja yang hasil pekerjaannya sungguh brilian. Namun, setelah saya bekerja bersamanya secara lebih intens, saya menyadari bahwa memang benar dia adalah seseorang yang cekatan, cerdas dan memiliki visi kuat. Saya tidak ragu mengubah iri hati menjadi kagum. Saya pun mengambil banyak pelajaran dari dirinya. Saat itulah saya memarahi diri sendiri. Iri hati boleh saja, namun jadikan iri hati itu menjadi pemicu untuk menjadi lebih baik, bukan lantas menjatuhkan orang lain.

Oke, mungkin saja rekan kerja yang memiliki pencapaian bagus menampilkan karakter yang menyebalkan, sombong, bossy, dan sebagainya, tapi bukan berarti kita berhak mencela pencapaiannya.

Mengakui keunggulan orang lain memang tidak mudah. Sampai saat ini saya pun masih berusaha mencoba mengapresiasi dengan baik. Saya pernah membaca di suatu artikel bahwa kunci utama mengakui pencapaian orang lain adalah ikhlas dan berpikiran terbuka. Pikiran sempit hanya menghasilkan dengki, selalu melihat kejelekan orang lain, hasut-menghasut, kesal, dan stres. Tidak ikhlas juga menghasilkan banyak penyakit hati.

Sejak saat itu, saya selalu berusaha mengelola iri hati dengan baik. Saya enggan membiarkan iri hati berkembang menjadi dendam. Dalam kultur organisasi dimana iri hati dijadikan dasar menjatuhkan orang lain, bisa dipastikan organisasinya tidak akan berkembang menjadi sehat. Bersainglah dengan sehat. Fair play. Ya, iri hati memang kerap timbul saat melihat pencapaian orang lain, saya pun masih merasakannya, namun jangan beri makan iri hati dengan ego. Jangan mengagung-agungkan si iri. Dia akan senang menggerogoti pikiran jernih kita dan membuat kita selalu memandang remeh pencapaian orang lain, contohnya seperti ini:

1) "Jelas aja dia dipromosiin, orang dia anak kesayangannya si bos..."
2) "Sok banget sih dia kerjanya paling sempurna, selalu lembur. Palingan juga pencitraan..."
3) "Lihat aja mobil barunya. Jangan-jangan dia ngakalin duit kantor!"
4) "Kok dia bisa dapet bonus gede sih? Perasaan kerjanya juga ga becus!"
5) "Dasar penjilat atasan, selalu aja dapet proyek baru. Lihat aja, kalo dia minta tolong sama gua, ga bakal gua ladenin. Biarin aja dia kerja sendiri."

Astaghfirullah. Untuk kalian yang telah merasakan dunia kerja, pasti pernah menemukan beberapa kalimat di atas, atau setidaknya menyerupai. Untuk kalian yang belum merasakan dunia kerja, jangan khawatir. Tidak semua karyawan bermulut tajam kok. Budaya dalam setiap organisasi juga berbeda. Kitalah yang harus pintar memposisikan diri, apakah mengikuti arus negatif atau arus positif. Seorang karyawan yang profesional seharusnya mengikuti arus positif. 

"We always love those who admire us..." -- Francois de La Rochefoucauld

Berusahalah merubah rasa iri menjadi kagum. Apresiasi setiap keunggulan orang lain. Mereka bisa tampil lebih baik dari kita tentu ada usaha mencapainya. Oke, mungkin saja mereka melakukan hal-hal tidak etis dalam pencapaiannya, tapi jangan pernah pikiran negatif itu mengendap dalam pikiran. Tidak ada gunanya, justru akan menggerogoti nurani kita. 

Kenapa kita tidak suka melihat orang lain sukses? Apakah kita tidak ingin sukses juga seperti mereka? Jika iya, kenapa harus iri tanpa melakukan perbaikan diri? Kenapa berusaha menjatuhkan orang lain? 

Sama saja untuk dunia blog. Mungkin saja kita iri melihat blogger lain yang lebih sukses dengan pencapaian ini itu, namun bukan berarti kita harus meremehkannya. Justru kita mesti belajar banyak dari pencapaian dia, dan berusaha memperbaiki diri. Saya justru senang melihat tulisan blogger lain yang pemaparannya lancar dan menyenangkan untuk dibaca, membuat saya selalu tersenyum-senyum membayangkan bagaimana mereka melakukannya.

Pengakuan akan keunggulan orang lain harus datang dari hati. Dengan melakukannya, kita telah membiarkan pikiran terbuka atas segala kemungkinan, dan Insya Allah akhirnya menemukan resep jitu untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Now, the last question is: maukah kita mengakui keunggulan orang lain?

-Bayu-



Note: Isak tangis bahagia Meghan Trainor yang keluar saat dia menerima penghargaan Best New Artist di ajang Grammy tahun ini menjadi bukti bahwa dia tidak menyangka karirnya di kancah musik dapat berbuah manis sebuah piala Grammy. Saya juga tidak menyangka musiknya ternyata enak untuk didengar berulang-ulang. Lagunya yang berjudul "No" menemani saya saat menulis artikel ini. Jelas, Meghan Trainor adalah seorang musisi yang patut diperhitungkan dalam genre pop.
Image source: idolator.com

READ MORE - Kenapa Enggan Mengakui Keunggulan Orang Lain?

Privasi dalam Persepsi Pribadi

Image source: nitsak.com
"Privacy is something you can sell, but you can't buy it back" -- Bob Dylan

Pernahkah kalian mencoba mengetik nama kalian sendiri di internet? Bagaimana perasaan kalian saat melihat hasilnya?

Jujur, banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak saya tatkala mencoba mengetik nama lengkap saya sendiri melalui mesin pencari populer sejagat. Hasilnya di luar dugaan. Bukan berarti banyak tautan yang tertampil (tidak, saya bukanlah seseorang yang terkenal), tapi kemunculan tautan tersebut yang membuat saya khawatir. Betapa internet menyimpan data tentang diri saya, and honestly... that scared the hell out of me.

Suara dalam benak berkata, "Bay, kalo mau privasi, ya ngga usah berinteraksi di internet. Gitu aja kok repot!" Saya merenungkan pemikiran tersebut dan menghela napas berat. Benar. Jika kita tidak ingin internet mengetahui kita, ya sebaiknya tidak meletakkan identitas kita di internet. Sekali memiliki akun media sosial yang memuat identitas pribadi, saat itu pulalah kita telah menjual "data diri" kita. Itu baru satu akun media sosial. Bagaimana jika kita memiliki lebih dari satu? Saya pun memiliki lebih dari satu, dan sering merasa tidak nyaman jika melihatnya terpampang di internet. Ah, saya memang aneh. Memiliki akun media sosial berisi data diri (yang jelas-jelas diletakkan di internet), tapi tidak mau identitasnya tersebar. Kenapa pula saya tidak menjadi anonim saja? Haha, saya yakin pemikiran ini absurd. Saya hanya dapat tertawa miris mengetahui fakta itu. Seperti kutipan Bob Dylan di atas, privasi adalah sesuatu yang bisa kita jual, tapi tidak bisa kita beli kembali.

Bukan berarti kita harus menutup diri dari dunia maya lho. Perkembangan zaman menuntut kita untuk berubah, salah satunya adalah berbaur menjadi masyarakat internet. Banyak manfaat positif yang kita dapat dari internet, hanya saja internet menyerap sesuatu yang membuat kita terlena. Internet berkembang menjadi media yang menyimpan privasi, celah yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang.

"All human beings have three lives: public, private, and secret" -- Gabriel Garcia Marquez

Saya membuat blog personal dengan motif untuk menyehatkan kondisi emosi saya yang dahulu sering naik turun tidak menentu. Saya kerap minder dan tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari diri sendiri. Saya berharap, dengan menulis, maka emosi saya menjadi lebih tertata. Seperti namanya, blog personal menyediakan semua yang dibutuhkan untuk kepentingan pribadi: sebuah media dimana kita dapat menyuarakan hal secara personal. Fungsinya sama seperti akun media sosial lain, namun sebuah blog lebih bersifat eksklusif, dan -- ini yang selalu saya tekankan -- lebih elegan. Jadi, sudah sewajarnya kan jika saya menggunakannya untuk menuangkan informasi pribadi, namun... saya tidak ingin melakukannya. Kenapa? Well, jawabannya sederhana: karena saya tidak terbiasa bercerita mengenai hal-hal pribadi kepada orang lain.

Baca juga: Bagaimana Jika Blog Kita Dibaca oleh Orang yang Dikenal?

Jujur, setiap kali membaca blog orang lain dan mendapati sebuah pengisahan pribadi di sana, saya selalu takjub. Serius. Para blogger tersebut dapat menceritakan pengalaman pribadi (curhatan) mereka dengan runut dan indah (bahkan kerap dibumbui humor segar), seperti membaca sebuah novel, dan saya tidak bisa melakukannya. Apakah curhat melalui blog itu salah? Tidak, jelas tidak. Itu hak kita untuk bercerita, sepanjang tidak mengandung SARA. Saya punya daftar pribadi berisikan blog-blog yang mana saya selalu senang membacanya (tidak perlu saya publikasikan disini). Mereka dapat mengolah curhatan dengan baik, dan saya tidak habis pikir bagaimana mereka bisa mengolah dan meramunya sedemikian rupa. Luar biasa. Jika saya menulis tentang hal-hal pribadi, saya yakin hasilnya akan kacau dan tidak jelas. Ah, blogger personal macam apa saya ini? Hehe.

"I value my privacy and my personal life" -- Scarlett Johansson

Setiap blogger memiliki persepsi masing-masing terkait privasi, dan saya menghargainya. Saya tidak menghakimi siapapun disini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya adalah tipe yang jarang bercerita mengenai hal-hal pribadi kepada orang lain. Jika ingin bercerita, saya akan mendatangi beberapa orang tertentu. Dalam rentang perjalanan hidup saya hingga kini, tercatat hanya segelintir orang (jumlahnya pun tidak lebih banyak dari jumlah jari tangan) yang membuat saya nyaman dan merasa terbuka untuk bercerita mengenai apapun. Faktor penentu jika saya sudah merasa nyaman dan percaya kepada seseorang adalah saat saya menceritakan mengenai kehidupan pribadi, pengalaman, jalan pemikiran, hobi, ide, karya serta visi saya ke depan. Itu semata-mata karena saya tahu mereka akan mendengarkan dan menilai saya dengan tulus. Saya akan merasa senang jika dapat bertukar pikiran dengan mereka, dan saya merasa beruntung kenal dengan mereka.

"...privacy makes things last longer, i feel" -- Brandy Norwood

Banyak yang menyatakan bahwa dalam era digital seperti sekarang, privasi sudah menjadi barang langka. Internet mengetahui siapa kita lebih dari yang kita bayangkan. Itu berarti setiap orang dapat mengetahui fakta diri kita tanpa bertemu langsung. Beberapa informasi dapat disalahartikan lho, tergantung persepsi setiap orang saat melihat atau membacanya. Bisa saja kita ingin bercerita mengenai sesuatu, namun orang lain mengartikannya secara berbeda, dan jadilah perang dunia maya, sebuah perang lisan dalam bentuk tulisan.

Maaf, sekali lagi saya tidak menghakimi siapapun disini. Jika kalian merasa nyaman bercerita mengenai apa pun di media sosial, itu hak kalian. Saya menghormatinya. Siapa lah saya jika harus menghakimi tindakan semua orang? Saya yakin pembaca blog ini sudah dewasa dan mampu memahami resiko dalam setiap tindakan yang diambil.

Hmh, itulah sekelumit pemikiran saya mengenai privasi. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, apakah saya yang terlalu berlebihan dalam menanggapi isu ini, apakah jalan pemikiran saya aneh (saya kerap mendapat komentar seperti ini), apakah saya tipe pribadi yang tidak umum, apakah itu berarti saya terlalu tertutup dan tidak jujur, atau... apakah saya yang tidak cocok menjadi masyarakat internet (dunia dimana semua hal mampu disebarluaskan dalam hitungan sepersekian detik)?

Entahlah. Bagaimana menurut kalian?

-Bayu-


Note: Hasil memainkan playlist secara acak sebelum menulis adalah munculnya sebuah lagu bernuansa pop dengan sentuhan alternative rock milik Michelle Branch yang berjudul "All You Wanted". Lagu ini sukses memutar kembali kenangan akan masa remaja. Dengan lirik dan chorus yang memorable, Michelle Branch menyajikan sebuah musik pop berkarakter yang sanggup membuat saya memainkannya secara terus-menerus sepanjang proses menulis. 


Image source: en.wikipedia.org
READ MORE - Privasi dalam Persepsi Pribadi

Kebiasaan Saat Menulis di Blog dan Blogwalking


Image source: picjumbo.com

Kebiasaan lahir akibat adanya sebuah tindakan yang berulang.

Banyak kegiatan yang dilakukan sama oleh setiap orang, contohnya adalah makan, minum, berjalan, membaca, berbicara, dan lain sebagainya. Inti kegiatannya memang sama, tapi apakah sama persis satu sama lain? Tidak. Contohnya saja saat kita makan. Ada yang makan menggunakan sendok garpu, menggunakan tangan, menggunakan sumpit, dan sebagainya. Atau saat berjalan, ada yang berjalan dengan langkah cepat, ada yang pelan, ada yang sembari melihat layar smartphone, dan sebagainya. 

Uniknya, perbedaan tersebut muncul karena adanya kebiasaan yang diterapkan dalam diri seseorang. Sadar atau tidak, kita akan mengembangkan semacam pola tertentu dalam mengerjakan sesuatu, apapun itu. Mulai dari bangun tidur sampai akan tertidur lagi, semua pola tersebut telah tertanam dalam benak, siap untuk dilanjutkan lagi keesokan harinya. Jika polanya rusak, kita akan segera beradaptasi dengan mengembangkan pola baru atau berusaha memperbaiki pola yang rusak tersebut.

"We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit" -- Aristotle

Saya tertarik membahas ini karena saya menyadari bahwa beberapa kebiasaan saya ternyata ada yang (mungkin) tidak semua orang lakukan. Saya tidak akan menuliskan semuanya disini, hanya mengerucut pada aktivitas seputar blog saja, yaitu menulis artikel dan blogwalking.

Menulis adalah sebuah proses yang tidak mudah, tidak juga sulit. Kemampuan setiap orang dalam menuangkan hasil pikiran ke dalam sebuah tulisan juga beragam. Dimulai dari menangkap ide. Ide tulisan bagi seorang penulis tentulah sebuah harta karun mentah, yang mana harus diolah dulu sebelum akhirnya menjadi sebuah tulisan. Ide dikembangkan di otak, dan proses menangkapnya adalah sebuah usaha tersendiri. Mudah? Tergantung situasi dan kondisi. Bagi saya pribadi, ide bisa datang dari mana saja, biasanya dari tiga produk budaya populer: musik, film dan buku.

Saat mendapat ide tulisan, rasanya seperti ada yang menyalakan "lampu" di kepala saya. Imajinasi saya langsung mengambil alih, dan mengembangkan ide tersebut sedemikian rupa, sehingga terkadang saya harus menenangkan jantung yang berdegup keras karena terlampau girangnya mendapat ide. Dulu ide tersebut tidak pernah didokumentasikan, namun sejak saya tahu bahwa otak saya tidak mampu menyimpan banyak ide, maka sekarang saya selalu menulis ide apapun yang terlintas. Saya menyimpannya di smartphone agar lebih praktis.

Ide yang diendap tidak akan ada gunanya jika tidak diolah menjadi bentuk lain, dalam hal ini tulisan. Memulai aktivitas menulis bagi sebagian orang adalah hal yang berat, namun ada yang menganggapnya ringan. Saya adalah tipe pertama, yang setiap kali memulai menulis, seolah ada beban di pundak yang berat sekali, dan suara-suara dalam pikiran yang selalu berkata, "Udah, ngerjain yang lain aja, ngapain sih nulis? Ribet amat mesti buka-buka laptop segala." Begitulah. Pantas saja kalau saya ini mengkategorikan diri sebagai blogger yang tidak produktif menulis haha.

Jika tiba saatnya menulis, untuk melancarkan prosesnya, saya biasanya menyiapkan cemilan atau minuman favorit, dan mempersiapkan kondisi ruangan senyaman mungkin. Musik selalu menjadi pilihan utama untuk membangkitkan semangat menulis, sehingga saya selalu menetapkan satu lagu tertentu untuk didengarkan terus-menerus selama proses menulis. Pada masa-masa awal menulis di blog, saya menganggapnya hanya sebagai selingan belaka. Lama kelamaan, itu menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan. Saya merasa sulit menuangkan kata demi kata jika tidak mendengarkan lagu favorit. Proses selanjutnya adalah menentukan tema tulisan dan mencari referensi terkait artikel yang akan saya tulis (quote, istilah, gambar, hingga sejarah singkat lagu yang sedang saya dengarkan), kemudian barulah menyatukan semuanya dalam satu artikel.

"If you are going to achieve excellence in big things, you develop the habit in little matters" -- Colin Powell

Lain proses menulis artikel, lain pula proses blogwalking. Berkomentar di blog orang lain bagi saya juga merupakan kegiatan menulis, sehingga prosesnya pun mesti spesial. Saya menemukan sebuah fakta: blogwalking di PC/laptop jauh lebih nyaman ketimbang via smartphone. Fakta ini menjadi kelemahan saya, dimana banyak blogger lain yang rajin blogwalking dengan media apapun dan dimanapun, sementara saya harus menunggu momen yang tepat untuk melakukannya. Jadi, mohon maaf untuk semua teman blogger di luar sana yang blog-nya kerap telat saya kunjungi (saya sangat berterima kasih jika kalian sudah berkunjung kemari dan meninggalkan jejak). Bukan bermaksud menyombong, murni karena saya ingin membaca postingan kalian dan berkomentar sepenuh hati dengan nyaman dalam suasana yang nyaman pula. Berbeda dengan proses menulis artikel, jika blogwalking, lagu yang saya dengarkan adalah lagu-lagu koleksi pribadi, tidak terbatas pada satu lagu saja.

Gustyanita Pratiwi (Nita) melalui postingannya yang berjudul "Supaya Pembaca dan Komentator Tidak Kapok Main ke Blog Kita" pernah menulis mengenai isu terkait pembaca dan komentator di blog:

...Perlakukan mereka sebaik mungkin, balas setiap komen yang masuk, dan jangan lupa berkunjung balik jika ada waktu luang.

Ah, kalimat itu sungguh benar adanya. Saya termasuk blogger yang tidak secepat kilat membalas setiap komentar yang masuk dan berkunjung balik, tapi jika waktu memungkinkan, saya pasti akan melakukannya. Akan tetapi, manusia tetaplah manusia, yang pelupa. Bisa saja ada blog yang saya lupa mengunjunginya. Sekali lagi, mohon maaf untuk itu. Saya akan berusaha menerapkan cara Nita menjamu komentatornya yang luar biasa banyak. Serius, saya selalu berdecak kagum manakala mengunjungi blognya dan mendapati komentar yang masuk sudah banyak sekali. Luar biasa. 

Kebiasaan berikutnya saat blogwalking adalah membaca artikel yang sedang saya baca lebih dari sekali, karena saya tertarik pada kalimat-kalimat yang unik dan menarik. Saya gembira jika mendapatkan kalimat yang saya cari, dan saya akan mengomentarinya dengan antusias, seantusias saya saat membaca balasan atas komentar tersebut. Ah, senang sekali rasanya ya jika komentar kita dibalas hehe. Setelah berkomentar, saya selalu mencatat di buku tersendiri, tanggal dimana saya melakukan blogwalking, berikut alamat blog dan judul artikel. Entahlah, apakah ada diantara kalian yang pernah melakukan hal serupa, atau jangan-jangan saya sendiri yang memiliki kebiasaan ini? :p

"If you create an act, you create a habit. If you create a habit, you create a character. If you create a character, you create a destiny" -- Andre Maurois

Itulah sekelumit kebiasaan terkait menulis di blog dan blogwalking yang saya lakukan. Bagaimana dengan kalian?

-Bayu-




Note: Musik jazz tidak selamanya harus dianggap "berat", karena ada subgenre jazz yang bisa coba kita nikmati sembari santai, salah satunya adalah smooth jazz. Tom Grant adalah salah satu musisi pengusung ini. Single-nya yang berjudul "Happy Feet" sangat cocok didengarkan sembari santai, dan lagu ini pula yang mengiringi saya selama menulis. Musik instrumental semacam ini sanggup membuat pikiran lebih tenang.
Image source: musicstack.com

READ MORE - Kebiasaan Saat Menulis di Blog dan Blogwalking

Semua Pekerjaan Membutuhkan Ilmu

Image source: minimalissimple.com

"The only way to do great work is to love what you do" -- Steve Jobs

Saat kecil, tentu banyak diantara kita yang menginginkan sebuah profesi yang membanggakan: presiden, pilot, dokter, polisi, tentara, dan lain sebagainya. Kenangan masa kecil menyatakan bahwa guru adalah profesi yang saya inginkan saat itu, kemudian berangsur bertambah menjadi jurnalis, psikolog, arsitek, seniman atau arkeolog (namanya impian tidak bisa kita kekang kemunculannya, kan?). One thing for surememimpikan suatu profesi dan mewujudkan keinginan tersebut adalah dua hal yang jelas berbeda, meskipun tindakan "mewujudkan" bisa bersumber dari "keinginan" yang kuat. Realita kehidupan bisa membuat kita terpaksa "menyesuaikan" semua impian masa kecil dengan keadaan. 

Bukan berarti semua orang terpaksa menyesuaikan lho. Ada yang masih terus bertahan dengan keinginannya, dan sejalan dengan kegigihannya mewujudkan keinginan itu, maka akhirnya dia pun mendapatkan profesi yang dia inginkan. Selamat untuk mereka yang berhasil mendapatkannya. Dalam kasus saya, saya adalah pihak yang tidak seberuntung itu. Kondisi keuangan membuat saya harus "menyesuaikan" jenjang pendidikan yang ditempuh, dan membanting setir ke arah profesi yang tidak sesuai dengan minat, yakni akuntansi. Kenapa harus akuntansi? Karena setelah dipertimbangkan dengan masak oleh keluarga (orang tua dan kakak), ilmu itu yang "katanya" cocok untuk saya.

Keluarga berharap bahwa pendidikan yang saya tempuh akan memudahkan saya mencari pekerjaan di ibukota yang katanya kejam ini, ibukota yang selalu menjadi tolak ukur bagi daerah lain. Hipotesa mereka ada benarnya, tapi satu formula ajaib harus ditambahkan ke dalam hipotesa tersebut, yakni "mencintai ilmu yang digeluti".

"If you happy in what you're doing, you'll like yourself, you'll have inner peace" -- Johnny Carson

Lagi-lagi, saya tidak seberuntung mereka yang benar-benar mempelajari akuntansi atas dasar rasa suka (apa sih asyiknya menghitung dan mengolah laporan keuangan sedemikian rupa, pikir saya saat itu). Saya mendalami ilmu untuk jangka pendek, untuk sekedar lolos UTS atau UAS (kampus saya tergolong ketat dalam menjaga nilai mahasiswa, dan ancaman DO membayangi jika kita lengah), tapi tidak menginginkannya untuk jangka panjang, sehingga ujian yang berhasil saya lalui selama beberapa semester hanya mampu dirasakan manisnya beberapa saat, setelah itu banyak yang hilang. Ilmu yang saya raih tidak semuanya saya simpan dalam memori jangka panjang.

Alhasil, saat berjuang mencari pekerjaan dengan menyandang status "fresh graduate", saya kalah dengan teman-teman seangkatan yang dengan cepatnya memperoleh tempat di perkantoran yang menghiasi ibukota, dan banyak yang sudah dipekerjakan oleh sebuah perusahaan sebelum mahasiswa itu sempat melempar toga ke udara, atau bahkan ada yang sudah dilirik oleh perusahaan sebelum mahasiswa itu tahu betapa menakutkan dan melelahkannya mengikuti sidang akhir! (iri hati jelas menghampiri saya saat itu). Saya tidak seperti mereka.

Butuh usaha ekstra keras hingga akhirnya nama saya dimasukkan ke dalam daftar nama karyawan sebuah perusahaan. Saya sungguh senang, meskipun pekerjaan awal saya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Terima dan jalani dulu saja, pikir saya saat itu. Menjalani pekerjaan awal itu membuat saya mendapat banyak pengalaman berharga seputar "rimba" dunia kerja, khususnya dunia kantor, yang mana sikut-menyikut antar karyawan terjadi dan dipertontonkan dengan cerdas dan licik. Semua orang ingin dipandang, hampir semua orang mengedepankan ego masing-masing, sama seperti yang sering ditulis oleh Sidney Sheldon dalam novel-novelnya yang penuh tipu muslihat, atau novel hukum karangan John Grisham. Uang mampu merobohkan norma etis. Jujur, saya tidak sanggup mengikutinya. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari pekerjaan lain. 

"You are always a student, never a master. You have to keep moving forward" -- Conrad Hall

Moving forward. Itulah yang saya lakukan. Alhamdulillah kantor berikutnya (kantor saya saat ini) menyediakan (hampir) segala hal yang sesuai dengan landasan agama, juga sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Apakah lantas pekerjaannya mudah? Tentu tidak. Pada masa-masa awal bekerja, saya menyadari bahwa saya belum menguasai logika ilmu yang seharusnya dikuasai. Saya merasa bodoh. Mengolah laporan keuangan tidak lagi untuk kepentingan lolos ujian akhir semata, melainkan berpengaruh pada pihak yang membacanya untuk kepentingan bisnis. This one is real, man! You can't just skip something that you don't know, but you have to face it, for real! Kalau dalam ujian, kita bisa melewati soal-soal yang sulit, tapi kali ini tidak! 

Tuntutan tetap ada, pressure semakin muncul seiring berkembangnya perusahaan, dan mau tidak mau saya harus menyesuaikan diri, atau tersingkir dengan yang lebih pintar. Saya pernah berada dalam kondisi dimana saya hampir menyerah total karena tidak sanggup menguraikan masalah dengan logika saya yang tidak secemerlang logika atasan, membuat saya terpuruk dan bekerja setengah hati. Saya memimpikan profesi lain yang terlihat lebih indah. Apakah saya salah memilih jurusan? Apakah saya seharusnya banting setir lagi mendalami ilmu lain dan beralih profesi?

Pilihan saya hanya ada dua: bertahan atau keluar. Bertahan adalah pilihan aman, namun saya harus mencari cara agar bertahan tanpa rasa kesal. Saya teringat film "The Devil Wears Prada", dimana si cantik Anne Hathaway harus berjuang menjadi asisten seorang editor in chief majalah fashion terkemuka. Anne berhasil menemukan formula jitu menghadapi tekanan pekerjaan, yakni menjadi "bagian" dari lingkungan kantor itu, memahami ilmunya dan pantang menyerah. 

Saya mulai mencoba mendalami logika yang sebelumnya tidak saya kuasai melalui diktat kuliah, mencari via internet, dan berdiskusi dengan rekan kerja. Saya juga memberanikan diri berkonsultasi dengan atasan mengenai permasalahan yang ada. Saya selalu khawatir jika dia akan menganggap saya bodoh, namun kini saya kesampingkan segala pikiran negatif itu. Biarlah dianggap bodoh awalnya, toh saya mencari solusi. Perjuangannya cukup sulit, namun kini sedikit demi sedikit menampakkan hasilnya. Deretan angka masih menjadi hal yang memusingkan dan membuat stres, namun saya tahu beberapa trik untuk mengolahnya. Mungkin beberapa rekan kerja menganggap saya mencari muka atau memandang sinis pencapaian saya, namun semua pekerjaan ada risikonya. 

Begitulah. Ternyata dengan mendalami ilmu terkait pekerjaan saat ini, saya merasa menjadi "bagian" yang penting dalam tim, dan itu membantu saya untuk menyukai profesi yang saya jalani saat ini.

Mendalami ilmu, dalam bidang apapun yang sedang kita tekuni saat ini, adalah sebuah faktor krusial untuk perkembangan diri ke depannya. Bagaimana kita mau merengkuh kesuksesan kalau tidak mengetahui ilmunya? Banyak cara memperoleh ilmu saat ini, entah melalui perantara orang lain secara langsung atau perantara media internet. Apapun itu, yakinlah bahwa menuntut ilmu tidak akan sia-sia. Untuk kalian yang masih menjalani proses menempa ilmu melalui jalur pendidikan resmi, jangan pernah sia-siakan kesempatan emas tersebut. Untuk yang sudah tidak lagi mengenyam pendidikan resmi, masih ada jalan lain untuk memperoleh ilmu, apa saja, melalui apa pun.

Seorang teman pernah berkata kepada saya: "Setiap pekerjaan yang tidak didasari dengan ilmu, ngga akan berhasil." Ya, kutipan dia sungguh benar. Kita adalah generasi yang disediakan teknologi untuk menunjang segala kegiatan, termasuk menuntut ilmu. Jangan pikirkan dulu apakah ilmu itu akan berguna untuk profesi kita saat ini, karena apa yang kita anggap remeh sekarang, belum tentu remeh untuk masa depan. Ilmu tidak akan pernah sia-sia, dan teman saya itu pun kembali menegaskan dengan sebuah pernyataan: "Kalo punya ilmu, ngga usah takut jadi orang susah."

Gunakan semua celah untuk menuntut ilmu. Untuk kalian yang belum mendapatkan profesi yang sesuai, perdalamlah ilmu di bidang yang kalian geluti, atau justru bidang lain yang kalian senangi. Cari sisi menarik dari ilmu/profesi yang sedang kalian jalani, apapun itu. Ambil kursus tertentu untuk menambah skill. Saya tidak membeda-bedakan profesi kantor dan non-kantor, karena profesi kantor pun tidak menjamin kesuksesan menaklukkan ibukota. Semua profesi adalah bagus sepanjang tidak merusak norma yang ada. 

"Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever" -- Mahatma Gandhi

Menjadi seorang blogger juga bukan berarti menyepelekan ilmu di baliknya. Blog yang saya bangun ini pun masih dalam proses belajar, dan tanpa sadar, semua blogger di luar sana menjadi mentor saya, baik secara langsung maupun tidak, dari awal hingga sekarang. Jadi, melalui artikel ini, saya ingin berterima kasih kepada kalian semua :-)

Mari, jangan pernah berhenti belajar!

-Bayu-



Note: Kekuatan musik The S.I.G.I.T mampu membangkitkan semangat dan membuat otak saya mengatur susunan kata demi kata. Cadas sekaligus indah dalam waktu yang bersamaan. Band lokal pengusung garage rock asal Bandung ini memiliki single berjudul "No Hook" yang sungguh tidak mudah dilupakan dalam jangka waktu lama. Lagu ini mengiringi saya dalam proses menulis.

Image source: en.wikipedia.org


READ MORE - Semua Pekerjaan Membutuhkan Ilmu

Dunia Maha Luas dalam Benak

Image source: contractiq.com
Ide awal menulis ini datang saat lelah akibat bekerja melanda. Pekerjaan yang saya geluti saat ini sering menuntut saya untuk menguras kemampuan otak dan fisik hingga maksimal, karena bukan hanya mengejar deadline laporan yang selalu membuat otak jungkir balik, fisik pun terkuras karena kerap bekerja melebihi jam kerja normal. Saya tahu mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, untuk itulah saya mencari pelarian lain. Blog sudah pasti menjadi pelarian indah untuk sejenak melupakan penatnya pekerjaan kantor, meskipun mengurus blog akhir-akhir ini sama sulitnya seperti menyelesaikan target pekerjaan saya (bahkan untuk sekedar blogwalking melalui smartphone).

Saat kesempatan datang untuk mengurus blog, saya tertegun membaca beberapa comment dari postingan terakhir saya. Ada blogger yang datang ke blog saya sehabis membaca postingan di blognya Icha Hairunnisa, dan saya sungguh bahagia. Jemari ini langsung mempersiapkan diri untuk meluncur ke blognya Icha, dan mendapati bahwa saya sudah ketinggalan membaca beberapa postingan di sana (maaf Cha hehe :p). Ada postingan Icha (klik disini) yang sanggup membuat saya melakukan sesuatu untuk mengusir penat. Kalimat pembukanya sangat eye catching"Ngedengarin lagu secara acak itu seru juga."

Benar juga ya. Sudah lama saya tidak mengaktifkan shuffle mode di media player saya. Akhirnya, saya pun membiarkan player mengambil alih susunan playlist secara acak. Saya tidak tahu lagu apa yang akan diputar selanjutnya, dan saat intro sebuah lagu yang sudah lama tidak saya dengarkan terputar, saya meresapi liriknya dan menjadi tergugah. Lagu dahsyat itu dipersembahkan oleh Alanis Morissette yang berjudul "Precious Illusions", diambil dari album Under Rug Swept, rilisan tahun 2002.

Inilah penggalan lirik dalam lagu Alanis yang membuat saya merenung:

But this won't work now the way it once did
And i won't keep it up even though i would love to
...
These precious illusions in my head
Did not let me down when i was defenseless
And parting with them is like parting with invisible best friends

Lagunya sendiri kurang lebih bercerita tentang konflik antara idealisme dan realitas, dimana romantisme indah yang dia bangun dalam benaknya sejak kecil, harus berhadapan dengan realitas yang terjadi saat dewasa. Ilusi berharga, itulah yang Alanis tekankan. Ilusi dalam benak Alanis tidak akan membiarkan dia terpuruk saat dirinya tidak berdaya. Berpisah dengan ilusi berharga tersebut sama saja berpisah dengan sahabat khayalan. Saat hubungan asmaranya berjalan tidak sesuai harapan, Alanis tidak menyerah dan memanfaatkan ilusi yang dia ciptakan untuk membantunya bangkit. Alanis tidak ingin menjadi korban dari keadaan.

Postingan Icha pun kebetulan membahas juga mengenai imajinasinya yang ternyata sangat luar biasa, dan saya tertarik mengembangkan apa yang saya tangkap dari lagunya Alanis yang menyinggung masalah produk pikiran. Sebelumnya saya sudah pernah membahas mengenai imajinasi di Imajinasi Bergerak Tanpa Batas, namun kali ini yang ingin saya ingin menekankan mengenai efek imajinasi untuk perubahan yang positif.

"Imagination is the golden-eyed monster that never sleeps. It must be fed, it cannot be ignored" -- Patricia A. McKillip


Saya jadi teringat sesuatu. Sejak kecil, saya adalah tipe yang gemar menciptakan dunia tersendiri dalam benak. Jika membaca sebuah cerita, baik itu dalam novel, cerpen, dan sebagainya, imajinasi saya akan bermain seliar-liarnya, mengembangkan jalan cerita yang bahkan mungkin tidak terpikirkan oleh penulisnya sendiri. Saya selalu membayangkan setiap detil tokoh yang saya baca, dan bagaimana jika dia benar-benar ada dalam dunia nyata. Bahkan, dulu saya kerap membuat ending cerita versi saya sendiri karena tidak puas dengan versi si penulis. Kini kebiasaan itu sudah menghilang, karena saya yakin imajinasi setiap orang berbeda, dan menikmati hasil imajinasi yang dituangkan orang lain lebih menyenangkan ketimbang membuat hasil tandingan.

Imajinasi tidak dapat diabaikan, justru jika kita dapat mengendalikannya dengan baik, akan menjadi sesuatu yang baik juga. Contohnya, kita mampu membuat sebuah cerita berdasarkan imajinasi yang ada dalam benak, atau dalam kasus Icha, dia kerap membuat postingan di blog yang ditulis dengan lancar, tak lupa menyisipkan imajinasinya. Bayangkan saja, jika imajinasi menghilang dari hidup kita, mungkin dunia ini tidak akan berjalan dengan baik, karena banyak sekali produk imajinasi yang ada di sekeliling kita, dan membantu kita menjalani hidup.

"Imagination is the only weapon in the war against reality-- Lewis Carroll

Realitas kehidupan memang tidak selamanya indah, misal: pendidikan yang tidak kunjung kelar, pekerjaan yang sulit didapat, pasangan yang overprotektif, bos yang perfeksionis, teman yang kerap menjatuhkan reputasi kita, keinginan orang tua yang tidak sejalan dengan keinginan pribadi, kota yang bising dan macet, kondisi finansial yang carut marut, dan semacamnya. Apakah kita mau menjadi korban semua kondisi tersebut? Bangkit dan tegaskan pada diri masing-masing, bahwa kebahagiaan itu murni ada dalam pikiran kita sendiri. Jika kita menganggap detik ini indah, maka detik ini akan menjadi indah, sekaligus detik-detik berikutnya. Begitu pula sebaliknya. Kenapa kebahagiaan masa kecil yang kerap bermain dengan imajinasi harus terkikis saat menghadapi realitas hidup? Menjadi dewasa memang menuntut sebuah tanggung jawab, namun bukan berarti menghilangkan kebahagiaan yang sudah ditanam sejak kecil.

Saya kembali teringat film "Bridge to Terabithia", dimana sang tokoh utama bertemu dengan sosok baru dalam hidupnya, dan mereka berdua membuat sebuah dunia imajiner bernama Terabithia, yang berlokasi di hutan tidak jauh dari rumah mereka. Dari luar, mungkin tampak seperti hutan biasa, namun di benak mereka, hutan itu merupakan sebuah negeri dongeng, dimana mereka memasukkan banyak makhluk-makhluk aneh yang hanya mampu mereka bayangkan. Terabithia mampu mengusir problematika mereka, dan itu semua merupakan hasil yang didapat dari kekuatan imajinasi.

"You must give everything to make your life as beautiful as the dreams that dance in your imagination" -- Roman Payne

Sekarang, semua tergantung pilihan kita sendiri. Maukah kita melepaskan imajinasi dalam benak sebebas mungkin untuk membuat perubahan positif dalam hidup (atau setidaknya untuk melepas penat), atau justru membunuhnya perlahan? Hidup ini terlalu indah jika tidak diisi dengan imajinasi. Jika imajinasi itu disertai dengan aksi nyata untuk perubahan lebih baik, maka sempurnalah sudah tugas si imajinasi. Dia akan menari kegirangan jika produk olahannya justru membuat hidup kita menjadi lebih indah.

Orang lain atau sebuah keadaan boleh saja menekan fisik kita, tapi tidak akan ada yang mampu menekan pikiran kita hingga total (saya tidak ingin menyangkut-pautkan dengan "cuci otak" disini). Jadi, jika bukan kita yang merawat pikiran ini dengan baik, masihkah kita berharap keadaan akan mengikuti apa yang kita inginkan? Justru dalam keadaan seburuk apapun, pikiran positif kitalah yang seharusnya menjadi penyelamat.

Untuk Icha, thanks ya atas idenya. :D

-Bayu-


Note: Mendengarkan koleksi lagu lama memang bisa mengembalikan memori akan sebuah kenangan, dan lagu-lagu Alanis Morissette berhasil melakukannya. Mendengarkan "Precious Illusions" sangat memanjakan kuping. Lagu ini saya putar sepanjang proses menulis untuk membantu merangkai seluruh kalimat dalam postingan ini.


Image source: en.wikipedia.org
READ MORE - Dunia Maha Luas dalam Benak
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.