Membaca, Cikal Bakal Menulis


image source: productivitybytes.com
"If you don't have time to read, you don't have the time (or the tools) to write. Simple as that" -- Stephen King

Kutipan dari Stephen King (penulis yang terkenal dengan novel thriller-nya) di atas memang benar. Jika kita tidak memiliki waktu untuk membaca, maka kita tidak akan memiliki waktu (atau alat) untuk menulis. Banyak pihak yang menyatakan bahwa membaca terkait erat dengan menulis. Bisa membaca belum tentu bisa menghasilkan sebuah tulisan, namun gemar membaca identik dengan kemampuan menulis.

Mari kita bahas mengenai aktivitas membaca terlebih dahulu. Jika ingin dihitung, mungkin sulit sekali menjumlahkan berapa banyak buku yang telah terbit hingga saat ini di seluruh dunia. Referensi atas segenap bidang ilmu pengetahuan telah beredar sejak lama, dan terus-menerus bertambah setiap saat. Sadar atau tidak sadar, dunia kita dipenuhi dengan buku. Perpustakaan paling besar sekalipun saya yakin tidak sanggup menampung banyaknya koleksi buku yang telah diterbitkan.

Nah, jika fakta berkata demikian, apakah lantas masyarakat menjadikannya sebagai bahan bacaan? Tidak juga. Well, tidak perlu saya sebutkan statistik mengenai budaya membaca masyarakat Indonesia yang rendah. Saya tahu bahwa membaca dan menulis bukan hal yang dianggap "seksi" di Indonesia, bahkan generasi milenial menganggap "membaca linimasa dan menebar postingan di media sosial" jauh lebih seksi. 

Tidak banyak orang yang menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli buku. Jangankan membeli buku, mungkin banyak yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Buku menjadi nomor kesekian untuk dipenuhi, atau justru tidak sama sekali masuk ke dalam daftar kebutuhan. Bahkan sampai sekarang saya masih menemukan orang yang dengan mudahnya berkata, "Ngapain pergi ke toko buku? Mendingan nongkrong di mana kek, lebih seru."

Sayang sekali. Mungkin dia belum memahami kesenangan yang diperoleh dari membaca, sehingga tidak menganggap pergi ke toko buku itu menyenangkan. Tidak masalah. Semua orang memiliki kegemaran masing-masing, bukan? Semoga mereka akhirnya menyadari bahwa membaca bukanlah hal yang membosankan. Pergi ke toko buku juga bukanlah hal yang memalukan.

Lagipula, banyak sekali bahan bacaan yang beredar di sekeliling kita, tidak harus dalam bentuk buku kok. Koran, majalah, buletin, dan sebagainya, semua mengandung tulisan yang bisa dibaca. Tulisan yang memiliki kandungan informasi tersendiri. Tidak perlu susah payah membeli buku di toko buku, cukup beli e-book, maka kalian bisa menikmati bacaan langsung di gadget kesayangan. Tidak perlu ragu juga untuk menikmati banyak sekali artikel yang tersebar di internet, menunggu untuk kalian baca.

Pertanyaannya adalah: apakah kalian mau menyisihkan waktu untuk membaca semua asupan informasi tersebut? Apakah membeli buku menjadi salah satu kebutuhan kalian?

"Writing comes from reading, and reading is the finest teacher of how to write
-- Annie Proulx

Sekarang beralih ke aktivitas menulis. Di zaman modern ini, alat elektronik telah merevolusi pola menulis, dari semula menggunakan alat tulis dan kertas, menjadi "hanya" menggerakkan jemari di atas keyboard komputer atau smartphone. Menulis menjadi hal yang sangat mudah dilakukan. Menyenangkan sekali.

Jika mudah, mengapa tidak banyak yang melakukannya? Hm, alasan paling kuat bisa jadi adalah "kebiasaan". Mengambil kutipan Annie Proulx yang berwarna biru di atas, bisa dilihat bahwa "aktivitas menulis muncul dari aktivitas membaca". Jika tidak terbiasa membaca, maka dunia tulis menulis tidaklah terlihat menarik. Sesederhana itu. 

Mari tarik kasusnya lebih dalam lagi. Tidak perlu menyinggung profesi penulis dan semacamnya. Coba kita tengok para pelajar. Jika tidak tertarik membaca buku pelajaran untuk menunjang aktivitas belajar, maka tidak perlu heran mengapa sulit sekali mengerjakan tugas yang berhubungan dengan menulis. Jadi, tidak perlu heran juga mengapa masih ada mahasiswa yang gemar melakukan copy paste artikel untuk tugas makalahnya, bukan?

Oke, saya tahu membaca buku pelajaran memang bukan aktivitas menyenangkan, tidak seperti membaca novel atau semacamnya. Ada pelajar/mahasiswa yang gemar membaca novel namun sulit membaca ratusan halaman materi pelajaran. Itu hanya masalah kebiasaan dan pengemasan. Bisa jadi materi pelajaran yang dibaca tidak dikemas dengan menarik oleh penulisnya. Deretan kata-kata sulit, dalam ratusan halaman membosankan. Jika demikian, maka cobalah kemas sendiri dengan menarik. Berpikir secara kreatif. Buat rangkuman versi pribadi mengenai materi tersebut, sehingga nyaman untuk dibaca berulang kali. Awalnya memang berat, namun proses "mengemas ulang"-nya hanya terjadi di awal kok. Selebihnya, tinggal dinikmati sebagai rangkuman materi pelajaran yang menyenangkan. Jika dilakukan terus-menerus, bisa menjadi kebiasaan yang positif.

Apakah saran tersebut masih terlalu sulit dilakukan? Masih juga malas membuka lembaran materi pelajaran dan menulisnya ulang dengan versi pribadi? Ya sudah. Jangan bersedih dan kecewa jika nilai kalian tidaklah setinggi mereka yang belajar dengan giat. Atau, kalian lebih tertarik menggunakan jalan pintas, mencontek pekerjaan orang lain demi sebuah nilai? Mungkin awalnya terlihat memuaskan, namun jika kebiasaan itu dipupuk, maka akan merugikan diri kalian sendiri di masa mendatang.


image source: washingtonpost.com
"The scariest moment is always just before you start" -- Stephen King

Kembali ke dunia menulis. Jika kalian gemar membaca, maka dengan sendirinya akan tertarik untuk menulis, setidaknya menulis buah pikiran pribadi, tidak melulu harus novel dan sebagainya. Persepsi pribadi adalah harta karun yang tidak ada duanya lho. Asupan informasi mungkin sama antar satu penulis dan penulis lain, tapi sudut pandang dalam melihat informasi tersebut tidaklah seratus persen sama. 

Misalnya, dua orang penulis dihadapkan pada sebuah kertas kosong dan diminta untuk mendeskripsikan apa yang mereka lihat dalam bentuk tulisan. Begini hasilnya:

Penulis 1: "Kertas ini berwarna putih polos, tanpa tulisan apapun. Bentuknya persegi panjang vertikal. Ukurannya mungkin A4. Kertas ini diletakkan di atas sebuah meja." 

Penulis 2: "Di hadapan saya ada sebuah kertas putih yang tampak bersih. Dari ukurannya, bisa dibilang ini adalah kertas A4, kertas yang cocok digunakan untuk membuat laporan dan sejenisnya. Tidak ada coretan apapun di kertas ini. Jika diperbolehkan, saya akan mengisinya dengan tulisan pribadi."

Lihat? Itulah perbedaan sudut pandang. Kedua penulis sama-sama menjelaskan deskripsi mengenai kertas, namun gaya menulis mereka berbeda. Blogger pun demikian. Asupan informasi yang diterima oleh tiap blogger bisa jadi sama, tapi masing-masing menulisnya dengan cara berbeda. Ada yang diselipi humor, disertai narasi detil, disisipi pengalaman dan lain sebagainya. Tidak masalah, sepanjang itu semua berasal dari benak pribadi. Seperti yang saya bilang, persepsi pribadi adalah harta karun, karena hanya kalian sendiri yang bisa menuangkannya, bukan orang lain. Gaya menulisnya pun hanya milik kalian seorang. The one and only in the world. Bukankah itu menakjubkan? 

Jadi, untuk kalian para blogger, mulai sekarang tidak perlu berkecil hati untuk menuangkan tulisan, apapun itu. Ingat, setiap blogger memiliki senjata berharga, melekat dalam diri, yakni persepsi pribadi. Modal dasar yang tidak bisa diganggu gugat. Sekarang, coba poles persepsi tersebut dengan gaya menulis masing-masing. Gunakan referensi dan kosakata yang menarik. Tidak tahu mesti menulis dengan gaya apa? Tidak tahu harus menggunakan kalimat apa untuk memulai? Jangan panik. Itu tandanya kalian harus lebih banyak membaca.

Dengan membaca, kita membuka kemungkinan untuk menyerap informasi, kosakata, alur, pemahaman terselubung, deskripsi menyeluruh, kata kunci, ide, dan sebagainya. Bebaskan pikiran kalian untuk "memakan" informasi tersebut, dan rasakan manfaat yang didapat. Entah disadari atau tidak, bukan hanya tubuh kita saja yang butuh asupan energi, namun otak juga butuh asupan tersebut, dan salah satunya didapat dari aktivitas membaca. 

Tidak ada lagi kesulitan mencari ide. Tidak ada lagi rasa cemas karena hasil tulisan tidak menarik, bahkan tidak akan ada lagi ketertarikan untuk copy paste artikel milik blogger lain secara penuh dan terang-terangan. Ketertarikan membaca akan mengantar kalian menikmati itu semua. Kebiasaan sederhana justru akan menjadi modal yang luar biasa. 

Artikel ini sekaligus sebagai self reminder bagi saya, bahwa kesulitan menulis yang dirasakan akhir-akhir ini mungkin karena kurang banyak membaca. Kini, saya sedang menyelesaikan membaca sebuah buku, dan dampaknya langsung terasa. Membuka laman blogger untuk menuangkan pikiran menjadi pilihan menyenangkan di hari libur ini hehe.

Menanamkan budaya membaca di mata masyarakat Indonesia memang tidak mudah, namun jika tidak dimulai dari sendiri dan tidak dimulai saat ini juga, kapan lagi?

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Saya sangat berterima kasih kepada Spotify yang telah mengenalkan sebuah lagu bernapaskan dance pop dan house berjudul "You Don't Know Me" karya DJ asal Inggris, Jax Jones, menggandeng Raye di bagian vokal. Jax Jones mengambil sampel bassline dari lagu "Body Language" milik M.A.N.D.Y vs Booka Shade, menghasilkan komposisi musik yang enerjik, cocok untuk menaikkan mood. Lagu ini saya putar terus-menerus selama proses menulis artikel.

Notable lyric of this song:
"I mean, we could shapes together, but it doesn't mean you're in my circles, yeah..."
image source: en.wikipedia.org

READ MORE - Membaca, Cikal Bakal Menulis

Bekerja Secara Kreatif

image source: spring.org.uk
"Art, freedom and creativity will change society faster than politics
-- Victor Pinchuk

Saya senang sekali menonton di bioskop, baik beramai-ramai maupun sendiri. Ada sensasi menyenangkan yang timbul saat sebuah film diputar, lalu kita terhanyut dalam jalinan kisahnya, hingga credit title bergulir di akhir. Mungkin karena suasananya dibuat gelap sedemikian rupa, hingga memaksa penonton untuk hanya melihat layar di depan mereka, fokus menonton. Jika ada yang ribut saat menonton, yah... itu lain cerita.

Sayangnya, tiket menonton di bioskop tidaklah semurah membeli tiket commuter line. Mungkin jika menontonnya hanya sesekali, tidak terlalu membebani pengeluaran. Jika banyak film bagus yang sedang diputar dan kita berniat menonton semuanya, barulah "pengeluaran" itu akan sangat terasa. Maka dari itu, saya benar-benar memilih film apa yang akan ditonton di bioskop, dipilah sesuai minat dan kebutuhan. Jika dituruti, bisa-bisa saya menonton semua film yang dirilis, tapi mengingat keterbatasan dana, harus ditekan sedemikian rupa.

Nah, ada satu kejadian unik yang saya temui saat menonton sebuah film di bioskop. Saya memilih jadwal pemutaran pukul 21.20 WIB, karena hanya itu yang bisa saya usahakan sehabis bekerja seharian di kantor. Saya memang berniat melepas stres, kebetulan filmnya juga bagus. 

Jadi begini. Ketika masuk ke dalam studio, saya melihat dua petugas dari gerai makanan menawarkan cemilan dalam kotak khusus yang mereka bawa. Isinya beragam, dari popcorn hingga minuman. Karena saya sudah membeli di luar, maka tawaran mereka terpaksa ditolak. Saya lihat, beberapa penonton lain juga menolak dengan halus, entah apakah mereka sudah membeli di luar juga, atau memang tidak tertarik sama sekali.

Beberapa saat kemudian, layar bioskop mulai menampilkan iklan dan film-film yang akan diputar dalam waktu dekat. Sementara, di sudut studio, kedua petugas dari gerai makanan itu masih setia berdiri, menawarkan makanan dan minuman kepada penonton yang baru masuk. Begitu seterusnya, hingga layar bioskop berhenti menampilkan iklan. Suasana pun hening. Dalam jeda sekian detik sebelum film diputar, entah mengapa kedua petugas gerai makanan malah berbincang, begini saya rangkum pembicaraan mereka:

Petugas 1: Kok jualan kita sepi ya, tumben.
Petugas 2: Tahu nih, emang pada ga mau nyemil apa?
Petugas 1: Capek kan berdiri gini, malah ga ada yang beli. Emang ini film tentang apaan sih? Bukannya lama ya durasinya?
Petugas 2: Ngga tahu deh, kayaknya drama gitu. Eh, ini kita balik aja apa gimana?
Petugas 1: Iya lah, orang ga ada hasilnya juga. Udah yuk!

Setelah mereka pergi, beberapa penonton langsung terkikik geli mendengar percakapan spontan tersebut, termasuk saya. Mungkin kedua petugas itu tidak sadar suara mereka terdengar sangat jelas di dalam studio, atau malah mereka sengaja mengeraskan suara agar barang dagangannya dibeli?

"Creativity takes courage" - Henri Matisse

Kejadian tersebut sudah berlangsung cukup lama, namun baru muncul lagi dalam benak. Saya memikirkannya cukup serius. Jika kedua petugas itu sengaja mengeraskan volume suara, itu bukan tindakan bijak, karena malah seolah menghakimi penonton yang tidak mau membeli barang dagangan mereka. Di satu sisi, jika mereka tidak sengaja berbicara seperti itu, saya malah merasa miris. Kenapa? Karena begitu rendahnya semangat bekerja dalam diri mereka.

Saya tidak tahu protokol standar dalam menjual makanan dan minuman dalam bioskop. Menjual langsung dengan menempatkan petugas di dalam studio jelas inovasi menarik, karena penonton yang tidak sempat membeli bisa menikmati cemilan saat itu juga. Di lain waktu di bioskop berbeda (masih satu grup), saya pernah melihat petugasnya malah langsung mendatangi bangku penonton dari atas hingga bawah selama iklan diputar, menawarkan dengan ramah. Itu juga bentuk kreativitas, entah menjadi standar atau tidak. Di bioskop yang lebih besar lagi, justru tidak ditemukan bentuk kreativitas semacam itu, bahkan tidak ada petugas gerai makanan sama sekali yang ditempatkan di studio.

Hal ini mengusik pikiran saya. Jika satu grup bioskop saja bisa berbeda-beda cara melayani pelanggan, berarti masing-masing menerapkan bentuk kreativitas sendiri, atau sebenarnya sudah ada aturan standar namun tidak diterapkan maksimal. Entah mana yang benar, satu hal sudah pasti: Siapa yang kreatif, dia yang memenangkan hati pelanggan.

Benar kata Henri Matisse seperti yang saya kutip dalam kalimat berwarna hijau di atas: Kreativitas butuh keberanian. Jika tidak berani bertindak di luar kebiasaan, maka hasilnya tidak akan maksimal. Kembali ke kisah dua petugas yang bercakap-cakap itu. Mereka sama sekali tidak berbuat maksimal dalam menjual barang dagangan, berdiri begitu saja, berharap ada yang membeli. Jika mau berinisiatif, mereka bisa saja mendatangi penonton satu persatu, mungkin jika didatangi langsung, yang awalnya menolak halus, akan tertarik membeli. 

Jika hasilnya tetap sama, tidak ada salahnya mencoba, bukan? Sebelum dicoba, peluangnya masih 50:50 kok. Itulah mengapa saya miris. Mereka memilih lisan untuk digunakan mengeluh, bukannya memilih otak untuk mencari solusi.


image source: meistertask.com
"Creativity is allowing yourself to make mistakes. Art is knowing which ones to keep"
-- Scott Adams

Bukan berarti saya tidak pernah mengeluh selama bekerja. Saya bukanlah seorang panutan sempurna. Mengeluh itu satu cara untuk mengeluarkan aura negatif, namun bukan berarti terus-menerus. Saya juga kerap mengeluh tentang tekanan pekerjaan ke beberapa rekan tertentu, tapi setidaknya saya tahu bahwa hanya mengeluh saja tidak menyelesaikan masalah, harus diimbangi dengan pemecahan masalah.

Hm, tapi tunggu dulu. Siapa tahu saya yang terlalu berprasangka buruk ya. Bisa jadi kedua petugas gerai makanan itu sekedar mengeluh, kemudian pada tugas berikutnya, mereka lebih aktif melayani penonton. Well, jika memang demikian, berarti luar biasa. Semoga benar. Jika ternyata keluh kesahnya tidak ditindak lanjuti dengan aksi yang lebih baik, ini baru yang tidak bisa diterima. Semoga kalian juga tidak terjebak dalam kondisi demikian. 

Saya tahu bahwa apapun kegiatan yang kita lakukan saat ini, baik sebagai karyawan swasta, pegawai negeri, pelajar, wirausaha dan semacamnya, memiliki kriteria tersendiri mengenai tanggung jawab. Karyawan swasta bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaannya, begitu pula pegawai negeri. Para pelajar bertanggung jawab menyelesaikan pendidikannya, begitu pula wirausaha, dengan setumpuk tanggung jawab mandiri yang harus mereka lakukan. 

Sekarang coba pikirkan. Apakah pekerjaan kalian tidak menyediakan ruang untuk kreativitas? Untuk sekedar merubah pola? Atau memunculkan pola baru? Jika sedemikian ketat untuk perubahan, setidaknya kalian bisa menemukan celah untuk menyukai pekerjaan, dan membangun mood positif dalam melakukannya.

Seorang teman pernah memberi pesan kepada saya, "Kalo lo ngeluh mulu ama kerjaan, ya resign aja. Kebanyakan ngeluh bisa jadi karena lo ngga suka ama tu kerjaan. Kalo suka, pasti bisa lo jalanin apapun rintangannya. Kalo ga mau resign, ya mau ga mau lo mesti nemuin cara untuk suka ama kerjaan itu."

Hmm.

Untunglah saat ini saya bisa menemukan sisi unik dalam pekerjaan sekarang, sehingga jika menemukan rintangan, setidaknya saya bisa meresapi sisi unik tersebut dan kembali bersemangat menjalani hari demi hari. Ada kalanya jenuh menghampiri, namun bisa disiasati dengan melakukan kegiatan yang membangun mood positif di luar jam kerja, misalnya membaca, menulis atau menonton film. Kegiatan kecil semacam membeli makanan atau minuman ringan sebagai hadiah untuk diri sendiri saat berhasil memenuhi target juga bisa membangun mood positif. Apapun itu, silahkan kalian kembangkan sendiri. 

Jika kita stres menjalani pekerjaan, lalu masih ditambah stres untuk kegiatan di luar pekerjaan, lalu apa manfaatnya bagi diri sendiri? Coba renungkan secara mendalam. Temukan sisi lain dalam pekerjaan yang sedang kalian jalani sekarang. Temukan pola baru dalam menjalaninya. Jika tidak bisa, maka coba temukan hal-hal menarik dan unik dengan memperluas wawasan seputar pekerjaan. Tekuni hobi untuk membangun aura positif. Mengeluh sesekali boleh saja, namun harus diimbangi dengan pemecahan masalah.

Tidak ada salahnya mencoba, bukan?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Saat mengenal musiknya melalui lagu "The A Team", saya tidak pernah menyangka Ed Sheeran akan menjadi musisi terkenal seperti saat ini. Dia adalah seorang musisi yang bisa dibilang jenius menelurkan banyak lagu bagus. Tidak sekedar mengikuti selera pasar, Ed Sheeran mengembangkan ciri khas melalui setiap lagunya yang bernapaskan pop, folk, rock dan sentuhan genre lain. Khusus untuk menemani proses menulis artikel di atas, saya memutar lagu "Castle On The Hill" dan "Shape Of You", dua lagu yang entah bagaimana bisa mengalun indah dengan ciri khas masing-masing.

Kedua lagu itu sendiri dirilis bersamaan, dimana "Castle On The Hill" mewakili sisi horizontal dan "Shape Of You" mewakili dua titik vertikal. Jika digabung, kedua lambang tersebut membentuk simbol pembagian, atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Divide, yang menjadi nama untuk album ketiga.

Kreatif sekaligus cerdas.
image source: independent.co.uk
READ MORE - Bekerja Secara Kreatif

Buka Pikiran Dengan Traveling atau Membaca



image source: theodysseyonline.com
"It is a narrow mind which can not look at a subject from various points of view"
-- George Eliot

Pernahkah kalian beradu pendapat dengan seseorang yang seolah merasa pendapatnya yang paling benar, selalu meremehkan pendapat orang lain, tidak mau menerima kritik, tidak mau mengakui pendapatnya salah dan memandang segala sesuatu hanya dari satu sisi?

Atau, pernahkah bertemu dengan seseorang yang kerap meremehkan aktivitas positif yang kita lakukan, melabelinya dengan perilaku "aneh dan tidak biasa", segan menerima perubahan, tidak mau berpikir di luar kebiasaan umum dan mudah terpancing emosinya oleh hal-hal remeh?

Jujur saja, banyak orang dengan paduan beberapa hal di atas, atau mungkin sekaligus (astaga, pasti hidupnya runyam), bisa jadi. Jika kebetulan sedang berinteraksi dengan tipe demikian, sebisa mungkin saya membatasi diri untuk tidak bicara terlalu banyak. Mengumbar hasil pemikiran akan membuat saya rentan diserang tipe orang dengan pola pikir sempit, sehingga jalan terbaik adalah menanggapinya dengan santai, mencoba mengalihkan topik pembicaraan, diam atau menjauh pergi.

Pengalaman mengajarkan saya bahwa TIDAK ADA GUNANYA berdebat dengan orang berpola pikir sempit. Mereka kerap memandang apa yang diyakini adalah paling benar, sehingga mengabaikan pendapat lain. Tidak jarang juga orang terjebak dengan persepsi masing-masing, penafsiran bebas bahkan kerap tak bertanggung jawab akan suatu hal. Isu A bisa dipelintir sedemikian rupa menjadi isu B yang negatif. Penafsiran yang salah kaprah berujung masalah.

Apa yang kita pikir, kita ucapkan, kita lakukan, bisa berbeda satu sama lain, karena manusia memang diciptakan berbeda-beda. Pasti ada hikmah luar biasa mengapa Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda, bukan? Pernahkah itu terlintas dalam benak kalian?

image source: linkedin.com
Mungkin sebagian dari kalian pernah melihat gambar di atas. Dua orang beradu argumen, menyatakan angka yang benar, di satu sisi angka enam, di sisi lain angka sembilan. Jika tidak dilerai, mereka berdua akan terus berdebat sampai kiamat, padahal tidak ada yang salah. Semua hanya masalah persepsi. Itulah mengapa di beberapa artikel blog ini, saya kerap menyatakan bahwa "Selalu ada dua sisi lain dalam suatu hal", menandakan bahwa jangan pernah memandang semuanya hanya dari satu sisi

Tidak mencoba membuka pikiran untuk menelaah sisi lain suatu hal menyebabkan kita menganggap diri ini paling benar. Parahnya, inilah yang menjangkiti masyarakat: aksi perang urat syaraf membela satu sisi yang dianggap lebih benar dari sisi lain. Padahal, jika kita mau "melihat" kedua sisi dengan pikiran terbuka, semestinya kita tidak akan terprovokasi oleh isu-isu yang begitu mudah diputar balikkan. Berpikirlah secara bijak.

"Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. Coming back to where you started is not the same as never leaving"
-- Terry Pratchett

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang menikmati membaca deretan seri buku The Naked Traveler karya Trinity, sang travel blog fenomenal. Meskipun terhitung telat mengetahui, kini saya benar-benar jatuh hati pada tulisannya! Ringan, unik dan terasa personal. Saya sangat merekomendasikan buku-buku tersebut untuk kalian baca (atau kunjungi saja blog The Naked Traveler untuk menikmati tulisan Trinity), dan mohon dipahami bahwa tulisan ini murni kehendak pribadi.

Yang membuat saya kagum adalah sudut pandang mengenai traveling yang ada di buku tersebut. Dibesarkan di lingkungan dengan berbagai suku dan agama, Trinity memahami makna perbedaan. Modal dasar inilah yang membuat dirinya berpikiran terbuka, berani menjelajahi pelosok bumi dengan rasa haus akan tantangan dan pengalaman baru yang begitu tinggi. 

Berikut saya kutip beberapa manfaat traveling versi Trinity (diambil dari salah satu bukunya):
1. Pengetahuan dan wawasan tentu bertambah, begitu juga soft skills.
2. Semakin tinggi rasa toleransinya karena harus berhubungan dengan manusia dengan beragam latar belakang.
3. Semakin merasa dekat dengan Sang Pencipta karena menyaksikan keajaiban dan keindahan alam.

Hm, coba bayangkan jika seluruh masyarakat Indonesia bepergian ke luar dari zona nyamannya dan mendapat manfaat seperti Trinity di atas, wah bisa jadi negara ini sungguh makmur. Bagaimana jika sudah bepergian namun masih tidak merasa manfaat berarti? Well... tandanya masih ada yang salah dengan "memaknai proses bepergiannya". Misalnya, orang yang pergi ke Lombok untuk mendapatkan ketenangan batin dan menikmati alam dengan khidmat, tentu hasilnya berbeda dengan mereka yang pergi ke pulau tersebut hanya sekedar untuk berbelanja, berfoto narsis dan memajangnya di media sosial. 

Jika kalian bertemu seseorang yang sering traveling namun ternyata dia masih berpikiran sempit, sungguh disayangkan. Pikirannya diperbudak oleh kesenangan duniawi atau tuntutan profesional semata, tidak dibiarkan berkelana bebas untuk mencoba memaknai perjalanan dan manfaatnya bagi perkembangan mental.

"I read, i travel, i become" -- Derek Walcott

Bagaimana jika tidak mampu bepergian namun tetap ingin berpikiran terbuka? Jangan khawatir, kalian masih bisa memperolehnya lewat membaca. Ya, membaca adalah gerbang menuju apa saja, benar-benar apa saja. Jika melalui traveling, pikiran dan tubuh kita dibiarkan berkelana, maka di dalam proses membaca, hanya pikiran saja yang akan diajak berkeliling.

Bahan bacaannya bisa beragam: novel, cerpen, majalah, koran, berita, non fiksi, dan sebagainya. Jika mau dirunut, banyak sekali di sekitar kita. Tinggal bagaimana cara memanfaatkannya dengan bijak. Melalui bahan bacaan, kita membuka pikiran untuk menerima beragam unsur baru, beragam kesenangan, beragam emosi, beragam makna, hingga beragam bahasa. Itulah indahnya perbedaan, bukan?

Lagi lagi, pertanyaannya adalah: Bagaimana jika sudah banyak membaca namun masih berpikiran sempit?

Hmm... jika ada seseorang yang demikian, coba telaah mulai dari bahan bacaan apa yang sudah dibaca dan bagaimana memaknai bacaan tersebut. Bisa jadi bahan bacaannya memuat unsur negatif pada pemikiran, dan dirinya tidak sanggup menyaring itu semua sehingga terbentuklah pola pikir sempit. Atau, bahan bacaannya memang banyak, namun bobot tulisannya belum bisa dikatakan "berisi".

Duh, saya sebenarnya bingung menuangkan masalah bobot bahan bacaan dalam artikel ini, karena lagi-lagi persepsi yang dikedepankan. Ada yang menganggap novel Tere Liye sebagai bacaan berbobot namun ada juga yang mengkritiknya terlalu sentimentil. Ada yang mendewakan serial Supernova sebagai sastra indah, namun dirinya tidak tertarik membaca selembar pun tulisan Pramoedya Ananta Toer. Ada yang menganggap novel terjemahan terlalu kaku dan kurang menarik, sehingga memutuskan untuk membaca teenlit lokal yang lebih "berwarna".

Saya tidak tertarik mendebat selera bacaan seseorang. Yang bisa saya katakan adalah: untuk mendapatkan makna membaca yang lebih jauh lagi, tantang diri kalian. Jika terbiasa membaca novel populer, coba membaca novel drama klasik, sastra, science fiction, kumpulan puisi, buku motivasi, atau biografi tokoh dunia. 

Rasakan setiap kata yang teruntai di buku-buku tersebut. Serap maknanya secara lebih dalam, jika perlu baca berulang kali agar paham. Memang awalnya menyebalkan, tidak seringan bacaan yang biasa kalian baca, namun justru disinilah poin pentingnya: Buka pikiran. Beri kesempatan pikiran untuk berkelana lebih jauh. Jangan dikekang di tempat yang sama. Sedikit demi sedikit kalian akan menemukan kesenangan saat membacanya.

"A mind is like a parachute. It doesn't work if it is not open" -- Frank Zappa

Jika kalian berpikir bahwa bahan bacaan tergantung selera dan tidak bisa dipaksakan, saya paham kok. Setidaknya cobalah untuk keluar dari zona nyaman dan mulai membaca bahan bacaan lain. Jika ternyata tidak sesuai selera, berarti kalian hanya belum menemukan kunci kenikmatan saat membacanya. Masih ingin berpetualang dengan pikiran? Coba lagi dengan jenis bacaan lain. Begitu seterusnya, hingga menemukan gairah membaca.

Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil menamatkan buku yang bukan selera pribadi, memahami maknanya, kemudian tertarik membaca lebih banyak varian lagi. Berilah sayap pada pikiran kalian, agar dia bisa berkelana menjelajah kemanapun, tidak berkutat pada satu jenis bacaan saja. Jangan mengeluh, jangan banyak pertimbangan. Pada akhirnya, kalian akan tersenyum bangga bisa menemukan "makna tersembunyi" dalam hampir setiap bahan bacaan, karena dengan sendirinya pikiran akan terasah untuk menjelajah setiap sudut paragraf, kalimat, dan kata. 

Apakah harus dipaksakan? Tidak. Itu semua murni kehendak pribadi, jangan memaksa diri. Jika kalian sudah berniat membuka pikiran seluas-luasnya, menurut saya "melahap" bacaan yang beragam justru menjadi sebuah tantangan dan kenikmatan, sama seperti seorang traveler yang lebih memilih bepergian ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, daripada pergi ke tempat yang ramai. Tidak akan ada kesan terpaksa, karena mereka memang benar-benar menginginkannya.

Satu lagi dan ini yang terpenting, jadikan membaca sebatas hobi dan untuk menambah wawasan, jangan untuk mencari kesan pintar. Memamerkan bahan bacaan agar mendapat kesan pintar bukanlah tindakan bijak. Alangkah baiknya jika kalian membagi pemikiran sendiri dengan memaknai bahan bacaan, bukan sekedar memamerkannya. 

"Read! You'll absorb it. Then write. If it's good, you'll find out" -- William Faulkner

Sama halnya seperti buku, artikel sebuah blog juga bisa dijadikan bahan bacaan. Ada yang populer dan menarik banyak pengunjung, ada juga yang kurang populer. Ada yang lebih menyukai tulisan ringan dan menghibur, daripada tulisan panjang dan penuh kalimat yang membuat kening berkerut. Tidak masalah jika tulisan ini dimasukkan ke kategori terakhir. Tidak masalah pula jika ada yang langsung menutup artikel ini begitu melihat panjangnya tulisan.

Saya tidak menulis untuk memuaskan banyak pembaca. Untunglah tidak ada tuntutan seperti itu, sehingga apa yang saya kemukakan murni kehendak pribadi untuk menuangkan pendapat. Jika ada yang menyukai tulisan saya dan mendapat manfaat dari artikel semacam ini, terima kasih banyak. Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur, karena itu hadiah tak ternilai bagi seorang penulis. 

Jadi, mari membuka pikiran untuk wawasan seluas-luasnya. Jangan ragu pula untuk menuangkan dalam bentuk tulisan. Dunia ini luas dan masih sangat pantas untuk dijelajahi, baik dengan traveling ataupun membaca. Buang semua pikiran negatif dan pertimbangan ini itu. Rencanakan perjalanan dengan matang. Perbanyak pengalaman bepergian dan temukan maknanya. Jika belum sanggup, segera pergi ke toko buku dan investasikan uang kalian pada bacaan menarik, atau pergi ke perpustakaan. Gunakan gadget untuk menambah atau menyebar wawasan, jangan sebatas mengumbar harta dan keluh kesah. 

Intinya, bukalah pikiran untuk menerima hal-hal berbeda dan baru. Tidak melulu harus dari traveling atau membaca kok, masih ada cara lain yang bisa dilakukan, misal menonton film atau bergaul dengan orang-orang yang berwawasan luas. Hidup kalian masih sangat layak untuk diperjuangkan menjadi lebih baik lagi. Percayalah.

Ayo, langkah untuk memulai sesuatu yang lebih baik bisa dimulai dari sekarang!

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Bagi saya, mendengarkan genre EDM (Electronic Dance Music) selalu memberikan sensasi menyenangkan yang sulit diungkapkan. Khusus untuk musik tanpa lirik, jelas EDM memberikan ruang bagi para musisi untuk bereksplorasi. Demi menunjang penulisan artikel di atas, saya mendengarkan musik berjudul "Castles In The Air" milik duo EDM asal Australia, yakni Bag Raiders. Persembahan instrumentalia upbeat yang kaya akan unsur dance pop dan electropop ini membuat tangan saya bergerak lincah menyusun kata demi kata.
image source: en.wikipedia.org


READ MORE - Buka Pikiran Dengan Traveling atau Membaca

Teringat atau Sengaja Memikirkan?

image source: chronicle.com

"If you spend too much time thinking about a thing, you'll never get it done

-- Bruce Lee

Otak. Semua orang menggunakan organ tersebut untuk berpikir, namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah semua orang menggunakannya dengan cara yang sama? Jika demikian, tentu semua bisa menjadi ilmuwan, bisa menemukan teknologi terbaru, bisa membuat karya seni berkualitas, bisa menghasilkan apapun yang ingin dihasilkan. Benar, bukan? Saya tidak bisa membayangkan keadaan dunia jika semua berpikir secara sama. 

Well... kalian tidak perlu memikirkan sejauh itu. Tenang saja. Lagipula, itu hanya sekelumit pemikiran menakutkan yang saya bangun. Entahlah, terkadang otak saya ini gemar melakukan aktivitas yang sulit diabaikan: terlalu sering memikirkan sesuatu. Apakah yang dipikirkan? Apa saja. Melihat kerumunan orang, membaca tulisan yang menggugah jiwa, mendengarkan musik yang mengalun indah, mendengarkan percakapan atau cerita seseorang, menonton film yang membuat terpana. Hal-hal semacam itu selalu mengaktifkan radar dalam otak untuk segera melakukan satu hal: MARI PIKIRKAN HAL INI SECARA SEKSAMA!

Saya sengaja menulis kalimat tersebut dalam huruf kapital untuk menggambarkan betapa besarnya pengaruh hal itu dalam kehidupan sehari-hari. Juga, betapa melelahkannya! Mungkin untuk beberapa kesempatan, hal itu membantu saya menjadi pribadi yang produktif. Misal, menemukan solusi atas permasalahan di lingkup pekerjaan yang sudah sangat memusingkan (dalam pekerjaan saya sekarang, selisih satu angka yang timbul bisa menimbulkan perang urat syaraf antar berbagai pihak), meluncurkan tutur kata yang baik kepada orang lain, atau untuk menulis artikel di blog ini. Saya akui, saya senang melakukannya.

Masalah timbul jika kegiatan "memikirkan terlalu dalam" tersebut merambah sisi kehidupan saya yang lain: hubungan sosial, hubungan asmara, prinsip hidup, hingga selera dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Saya tidak tahan untuk tidak mencoba memikirkan kenapa si A berkata kasar, kenapa si B mencela saya, kenapa film itu sungguh buruk, kenapa musik ini terlalu sulit dicerna, kenapa saya dianggap menyedihkan jika memilih menonton di bioskop sendirian, hingga kenapa saya HARUS mengenakan seragam kantor selama tiga kali dalam satu minggu?

Fiuh.

"Stop thinking, and end your problems" -- Lao Tzu

Semua pertanyaan yang terngiang mengenai segala sesuatu di dalam otak saya lebih banyak mendekam begitu saja daripada ditemukan jawabannya. Hm, kenyataan menyedihkan. Jikapun jawabannya muncul, terkadang masih tidak sesuai, sehingga proses berpikir mendalam terpaksa dilakukan lagi. 

Kini, dengan bangga saya mengatakan kalau keberadaan blog ini sebenarnya sungguh membantu saya dalam menguraikan apa yang kusut dalam pikiran. Semua "sampah" pemikiran yang mengendap dengan teratur coba dipilah dan disusun ulang, sehingga terbitlah beberapa artikel. Terkadang, saat tengah malam, saya mencoba membaca lagi beberapa tulisan di blog ini, dan hasilnya membuat saya tersenyum lega. Haha. Apa jadinya jika semua artikel saya di blog ini masih terpendam dalam pikiran? 

Ya, setidaknya masih ada media yang sanggup menampung hal tersebut, daripada dipendam dan menjadi bangkai yang tak beraturan, khawatir menambah stres. Itulah sebabnya saya selalu merasa bahagia sekali sehabis menulis. Sayang, diri ini kerap terjebak dalam faktor malas, sehingga melupakan betapa bahagianya perasaan setelah menulis. Apapun itu, menulis tetaplah merupakan sebuah kegiatan spesial bagi saya, juga sebuah kegiatan "bersih-bersih pikiran" yang cukup ampuh menenangkan emosi.

Entahlah dengan kalian, tapi jika saya berada dalam kondisi emosi tinggi, ternyata menulis merupakan salah satu terapi efektif untuk menenangkan diri (selain mendengarkan musik, menonton film, dan hal-hal semacam itu). Mungkin terasa menyebalkan pada awalnya, namun fokus dalam meluncurkan kata demi kata menjadi sebuah tulisan sanggup mengalihkan pikiran sejenak, dan hasilnya... sebuah artikel! Menguntungkan, bukan? Di saat orang lain mungkin memaki-maki tanpa henti, atau membuang benda-benda ke segala arah, terapi menenangkan emosi bagi saya adalah dengan menulis.

Terapi berikutnya yang terasa ampuh adalah dengan bercerita ke orang lain. Ternyata, cukup menceritakan kepada seseorang, efeknya luar biasa ya. Apa yang mengendap di pikiran, terlampiaskan begitu saja dan ditangkap telinga orang lain. Lega. Sayang sekali, lain halnya dengan menulis, terapi "bercerita ke orang lain" ini sulit saya lakukan, mengingat saya cukup selektif memilih teman untuk bercerita. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, namun saya tidak peduli masalah kuantitas. Saya menjunjung kualitas, sehingga berbicara dengan orang-orang tersebut terbukti ampuh menenangkan emosi.

"...There is no point in sitting around thinking about all the ifs, ands and buts
-- Amy Winehouse

Deretan kalimat yang sudah saya tuangkan di atas bisa dikategorikan sebagai kegiatan "sengaja memikirkan", karena memang saya mencurahkan segenap waktu dan usaha untuk berpikir. Oya, terkait hal ini, ada satu hal yang menarik. 
Beberapa saat yang lalu saya melakukan blogwalking ke salah satu artikel di blog Icha Hairunnisa yang ini, dan saya tersenyum sendiri membaca paragraf-paragraf terakhir yang dia tulis. Icha adalah salah satu dari beberapa blogger yang saya kagumi cara penulisannya yang lancar, dan di penutup artikel tersebut dia menceritakan mengenai menulis di malam hari, dimana menurutnya (saya kutip):

"Termasuk lebih terbuka pada diri sendiri. Berdiskusi pada diri sendiri, bertanya pada diri sendiri."

That's it. Itu juga yang saya alami hampir setiap malam. Saya terdiam khusus untuk "sengaja memikirkan" aktivitas di hari itu, kenapa bisa A dan bisa B, demikian seterusnya hingga tertidur. Saya berdiskusi dengan diri sendiri, memikirkan rencana keesokan hari, padahal bisa saja yang terjadi tidaklah sesuai rencana. Well, manusia hanya bisa merencanakan, bukan?

Lalu, bagaimana jika kalimatnya diganti menjadi "tidak sengaja memikirkan"? Nah ini juga kasus khusus. Bahasa lainnya adalah "kepikiran". Saya tidak tahu istilah resminya apa, tapi saya akan menggunakan kata "teringat" saja. Berbeda dengan "sengaja memikirkan", kasus "teringat" terjadi jika kita sedang melakukan suatu hal tertentu, kemudian mendadak datanglah ingatan itu. BUM! Apa saja bisa masuk. Biasanya hal-hal yang mengusik kita, mulai dari masalah pekerjaan, asmara, keluarga, dan sebagainya. Bisa pula sesuatu yang menyenangkan, seperti wajah kekasih, atau ingatan akan kegiatan positif yang akan dilakukan ke depannya. Secara ringkasnya, seperti dirangkum oleh Icha (masih dikutip dari artikel yang saya tautkan di atas), kita menjadi bertanya-tanya: "Kenapa aku kepikiran hal yang itu-itu terus sih?"

Kalian pasti pernah mengalaminya, kan? Atau justru sering? "Teringat" menyebabkan diri kita gundah atau senang, tergantung konteksnya. Hal seperti itu muncul tak terduga, dan seringkali menjadi faktor naik turunnya mood. Saat kita memiliki masalah dengan sesuatu, kita akan terus "teringat" sehingga menyebabkan segala hal tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Atau, jika kita terus-menerus "teringat" akan seseorang yang spesial, wah bisa dipastikan segala sesuatunya juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Haha. Jadi, baik positif atau negatif, tetap saja "teringat" akan membuat sebuah anomali dalam beraktivitas, bukan? Tapi itu juga tergantung besar kecilnya "teringat" tersebut.

Nah, bagaimana jika "teringat" kemudian berlanjut "sengaja memikirkan"? Bingo! Mengalami "teringat" saja sudah menimbulkan sensasi tersendiri, ditambah lagi "sengaja memikirkan"! Combo. Untuk kasus positif, mungkin tidak terasa melelahkan. Misal, kalian teringat seseorang yang spesial, kemudian memutuskan untuk memikirkannya sepanjang hari untuk memotivasi diri. It's fine, semua orang mengalaminya. Jika yang "teringat" adalah sebuah masalah, paket combo itu sungguh menguras energi. Serius. Sangat melelahkan. Percayalah, sebaiknya hindari paket tersebut, karena saya kerap melakukannya saat "teringat" sebuah masalah pelik, dan sungguh sulit keluar dari jeratan itu. Sudah "teringat" akan suatu masalah, dipikirkan secara mendalam pula. Duh.

Jika kalian memiliki masalah yang mengusik pikiran, kemudian bisa memaksa diri untuk melupakan semua kasus "teringat" yang timbul dari hal tersebut, mencoba mengenyahkannya mentah-mentah, dan melanjutkan aktivitas normal, maka saya ucapkan selamat. Itu hal yang sulit dilakukan bagi saya. Mungkin ini pula yang menyebabkan saya terkadang iri pada mereka yang terlihat easy going, karena saya tidak bisa seperti itu.

Sekali lagi, saya merasa beruntung bisa mengenal dunia blog. Media ini sungguh efektif menampung semua pemikiran yang melompat-lompat di kepala setiap saat. Saya setuju dengan kalimat yang muncul di halaman awal saat kita mengetik www.blogger.com, yaitu: "Publish Your Passion, Your Way". Ah, Google memang benar. I love writing, and this blog is a good start to publish my passion, with my own way :D

Happy blogging.

-Bayu-



Note: Musik yang saya dengarkan kali ini untuk menemani proses menulis adalah lagu "All You Had To Do Was Stay" milik Taylor Swift, diambil dari album 1989. Taylor Swift adalah musisi yang sudah kenyang mendapat kritik terkait banyaknya lirik lagu yang seolah membeberkan kisah asmara dia tanpa malu ke publik. I don't care about it. Saya menyukai musiknya, dan perolehan dua piala Grammy Awards untuk kategori bergengsi Album of The Year (tahun 2010 dan 2016) seharusnya sudah cukup membungkam mereka-mereka yang meragukan musikalitas si gadis pirang cantik ini. 

Saya menyukai setiap kata yang ditorehkan Taylor Swift dalam lagu ini, khususnya bagian: "People like you always want back the love they pushed aside, but people like me are gone forever when you say goodbye". 

Oh yeah, Taylor knows it so well.
image source: en.wikipedia.org
READ MORE - Teringat atau Sengaja Memikirkan?

Begitu Mudah Diingat

image source: likeable.com

"A person who never made a mistake never tried anything new"

-- Albert Einstein

Jika di beberapa artikel sebelumnya saya sempat menulis mengenai penghargaan Grammy Awards, kini saya akan menyinggung sedikit mengenai acara penghargaan bergengsi lain, yakni Academy Awards, atau lebih dikenal dengan nama Oscars. Acara tersebut khusus untuk menghargai segenap talenta di bidang perfilman dunia, mayoritas bersumber dari Hollywood, Amerika Serikat. Edisi ke-89 yang diselenggarakan pada Minggu malam (26 Februari 2017 atau di Indonesia tepat di Senin pagi, 27 Februari 2017) lalu telah usai, menyisakan gegap gempita bagi para pemenang dan di sisi lain, kekecewaan di sisi yang kalah.

Kemenangan dan kekalahan adalah hal yang biasa ditemui pada acara-acara penghargaan semacam itu. Kali ini saya tidak tertarik mengupas detil pemenang dan detil acara dari awal hingga akhir (kalian bisa mencarinya sendiri di internet), melainkan mengenai satu hal menarik yang menjadi buah bibir dimana-mana: kesalahan pengumuman nama pemenang kategori tertinggi.

Warren Beatty dan Faye Dunaway (aktor dan aktris dari film "Bonnie and Clyde") mungkin tak pernah menyangka bahwa malam penganugerahan tersebut akan berakhir bencana. Mereka ditugaskan menjadi presenter untuk membacakan nama pemenang kategori Best Picture (Film Terbaik). Malang tak dapat disangkal, amplop yang diberikan kepada mereka salah! Amplop itu untuk kategori Best Actress In A Leading Role, bukan Best Picture. Yang tertera di amplop adalah: "Emma Stone (La La Land)". Piala Oscar untuk Emma Stone sendiri sudah diserahkan sebelum pengumuman kategori Best Picture, jadi seharusnya tidak mungkin dua kali diserahkan, dan tidak mungkin juga amplop Best Actress In A Leading Role dibacakan dua kali.

Sebenarnya, Warren sudah mencium gelagat ketidakberesan tersebut, namun dia hanya mampu terdiam bingung dan menyerahkan amplop itu pada Faye. Alih-alih terlihat bingung seperti Warren, Faye malah dengan cepat berkata, "La La Land" (entah apakah dia sadar ada kategori Best Actress In A Leading Role tertera di sana), dan di detik itulah kekacauan yang lebih besar terjadi. Begitu tahu filmnya "diumumkan menang", seluruh pihak yang terlibat dalam film La La Land naik ke atas panggung dengan gembira. Selama kurang lebih dua menit mereka memberikan pidato kemenangan, sebelum akhirnya panitia Oscar (dibantu produser "La La Land", pembawa acara, juga Warren) membereskan kekacauan yang terjadi. Film "Moonlight" diumumkan sebagai pemenang sesungguhnya.

What a disaster night!


"Freedom is not worth having if it does not include the freedom to make mistakes"
-- Mahatma Gandhi


Itu adalah kejadian "memalukan" yang bisa terjadi di acara bergengsi semacam Oscar, apalagi yang diumumkan adalah penghargaan tertinggi. Kejadian tersebut tak pelak menjadi santapan media massa, yang menyebutnya dengan istilah envelope gate (dan beberapa sebutan lain). Banyak kritik pedas berdatangan, tudingan muncul disana-sini, mencari siapa yang sesungguhnya bersalah. Akhirnya, kesalahan harus ditanggung oleh dua akuntan dari salah satu kantor jasa akuntansi terbesar dunia, PricewaterhouseCoopers (PwC), yaitu Brian Cullinan dan Martha Ruiz.

Kenapa malah dua akuntan itu yang bersalah? Well, ternyata merekalah yang bertanggung jawab atas penghitungan hasil voting untuk pemenang, membuat daftar, membawa amplop ke acara, hingga menyerahkannya ke presenter satu per satu. PwC menganggap bahwa Brian Cullinan keliru menyerahkan amplop cadangan untuk Best Actress In A Leading Role, bukan amplop asli untuk Best Picture. Jadi, memang untuk setiap kategori, selalu ada dua amplop: asli dan cadangan. PwC juga menyebutkan bahwa protokol standar untuk mengantisipasi kesalahan semacam itu tidak dilaksanakan dengan cepat oleh Brian Cullinan maupun Martha Ruiz, sehingga keputusan terbaik adalah "menghentikan" mereka untuk tidak terlibat lagi dalam acara Oscars ke depannya. 

Itulah resiko yang harus ditanggung. End of story.

Nasi telah menjadi bubur. Pil pahit harus ditelan oleh PwC, yang merupakan kantor jasa akuntansi bergengsi. Beberapa analis menilai bahwa reputasi PwC bisa saja tercoreng, padahal mereka sudah bekerjasama dengan pihak Oscars selama puluhan tahun. Kekuatan perusahaan jasa adalah kepercayaan, dan sekalinya kepercayaan itu diselewengkan, maka bisa dibilang runtuhlah reputasi mengagumkan yang dibangun.


"The only man who never makes a mistake is the man who never does anything"
-- Theodore Roosevelt


Tulisan ini tidak untuk memperkeruh suasana. Saya hanya penikmat film, dan mengikuti perkembangan berita mengenai kasus tersebut sungguh terasa miris. Kenapa? Karena saya malah mencoba menempatkan diri sebagai Brian Cullinan yang bersalah. Saya tahu rasanya:
1. Membuat kesalahan besar (sengaja atau tidak disengaja),
2. Menjadi pihak yang dituding bersalah dari segala sisi,
3. Menjadi pihak yang harus siap menerima konsekuensi atas kesalahan,
4. Menjadi pihak yang tidak dipercaya lagi memegang suatu pekerjaan karena pernah bersalah sebelumnya, dan
5. Menerima semua makian atas kesalahan yang dibuat tanpa sekalipun mendapat apresiasi atas usaha yang dilakukan.

Saya pernah merasakan itu semua. Mungkin kalian juga pernah mengalami beberapa poin di atas atau semuanya sekaligus, bisa saja. Yes, welcome to the club. Haha. Kita hanyalah manusia biasa, bukan? Kesalahan tak pernah luput dilakukan, meski segala usaha terbaik sudah dikerahkan. Bagian paling menyebalkan saat melihat adanya kesalahan adalah akan muncul pihak yang saling menuding, tidak mau disalahkan, atau saat tudingan itu malah berujung pada diri kita sendiri. Mengerikan. Bermain "lepas tangan", kabur dari masalah, tidak mengakui kesalahan, membuat alibi seenaknya, berbohong... itu semua adalah bumbu pahit yang kerap ditemukan saat ada masalah. Selalu demikian, dan siapa saja bisa melakukannya.

Benar, bukan?

Saya juga kerap merenungkan mengenai satu hal: mengapa keburukan begitu mudah diingat ya, ketimbang kebaikan? Saya tidak bisa menemukan jawaban yang memuaskan. Kita cenderung lebih mudah mengingat kesalahan yang pernah dilakukan seseorang ketimbang kebaikannya pada kita. Entah bagaimana pikiran ini bekerja. Mungkin yang lebih sesuai adalah mengingat keburukan tersebut agar kita tidak mengalaminya lagi di masa depan. Mungkin.

Dalam kondisi emosi kalut, pikiran kita cenderung negatif, sehingga jalan terbaik adalah menetralkannya dengan sisi positif. Seorang teman pernah mengingatkan saya bahwa jika kita kesal dengan seseorang, lakukanlah terapi kecil, yaitu menuliskan hal-hal baik yang bisa kita pikirkan mengenai orang tersebut. Apa saja, bisa dari hasil pemikirannya, hal-hal unik mengenai tingkah lakunya, bantuan dan hadiah yang pernah diberikan atau sekedar senyumnya yang ramah. Tulis dan renungkan.

Mungkin akan sulit pada awalnya, namun jika kita mau menyendiri sejenak dan melakukannya dengan penuh penghayatan, hal tersebut bukan tidak mungkin. Saya sudah melakukannya beberapa kali. Well, bisa jadi pengaruhnya memang tidak signifikan pada hubungan yang terjalin ke depannya, tapi setidaknya kita tidak membiarkan diri ini terjebak dalam emosi negatif yang berujung dendam.

Saya percaya, bahwa dalam setiap tindakan manusia pasti ada alasan tertentu yang melatarbelakanginya, namun kita kerap melupakan unsur tersebut. Setiap orang pun akan menanggapi masalah dengan cara berbeda, saya juga tahu. Pada akhirnya, keputusan ada di tangan kalian, karena kalian sendiri yang bisa merasakan, mana yang sesuai dengan hati nurani.

-Bayu-





Note: Musik EDM (Electronic Dance Music) selalu menjadi penyemangat untuk menulis, khususnya bagi saya. Kali ini, saya memilih lagu Basement Jaxx (duo EDM dari Inggris) berjudul "Mermaid of Salinasuntuk menemani proses menulis. Lagu ini sungguh unik karena memadukan dance dengan nuansa Latin yang ceria. 
image source: pitchfork.com
READ MORE - Begitu Mudah Diingat

Teka-Teki Tingkah Laku

image source: edutopia.org

"Each person is an enigma. You're a puzzle not only to yourself but also to everyone else..."
-- Theodore Zeldin

Saya setuju dengan kalimat "setiap orang unik". Tidak ada yang sama satu sama lain, bahkan orang kembar sekalipun, meski tidak terlalu mencolok. Setiap orang yang ada di muka bumi ini memiliki setiap pola tersendiri, mulai dari tata bahasa, tingkah laku, cara berjalan, cara berpikir dan sebagainya. Mungkin di dalam suatu komunitas beberapa orang tampak sama, namun percayalah, selalu ada unsur unik dalam diri mereka.

Manusia itu sendiri menurut saya tidaklah stabil, dalam artian bisa berubah mengikuti perkembangan yang ada. Misal, jika dulu kita tidak mengerti teknologi dan dianggap gaptek, setelah mempelajarinya perlahan, maka bisa berubah menjadi sadar teknologi. Masih banyak contoh perubahan lainnya, tak terbatas pada segi kebendaan saja, bisa mencakup ideologi, tata bahasa dan unsur non fisik lainnya. 

Lalu, jika memang bisa mengikuti perubahan, berarti setiap orang bisa selalu tak sama sesuai perkiraan? Nah, inilah uniknya. Justru karena kemampuan beradaptasi itulah, maka setiap orang bisa menjadi pribadi yang tak tertebak. Abstrak. Hm, mungkin istilah abstrak terlalu rumit, saya sendiri tidak tahu harus menggunakan kata apalagi. Intinya, jangan pernah meremehkan kemampuan beradaptasi seseorang. Kita tidak tahu, orang yang terlihat pendiam dan tertutup, di masa depan menjadi presiden atau tokoh publik terkenal.

"Human psychology is the most mysterious thing in the world" -- Munia Khan

Kemampuan adaptasi itulah yang membuat sosok setiap orang "bisa tak tertebak". Apakah kalian pernah merasakan menghadiri acara reuni sekolah, dimana pasti ada beberapa orang yang terlihat berbeda dengan sebelumnya? Yang dulunya pemalas menjadi berwibawa, yang dulunya alim menjadi lebih terbuka dengan ideologi liberal, yang dulunya pendiam tiba-tiba menjadi banyak bicara dan berpenampilan menarik. 

Bisakah kita menebak dari awal, semua orang tersebut akan menjadi demikian pada akhirnya? Tidak. Bahkan dalam lingkup keluarga dekat atau sahabat sejati sekalipun, tidak ada yang bisa menebak akan seperti apa perkembangan setiap individu yang terlibat. Setiap orang bisa merubah perannya masing-masing, memainkannya dengan lihai, tergantung kemampuan beradaptasi mereka. 

Sebagian besar perubahan peran tersebut muncul seiring faktor kedewasaan, dimana semakin bertambahnya usia, kita seolah dituntut untuk mengikuti perubahan, menjadi sosok yang bisa menyatu dengan masyarakat. Peran menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak, peran menjadi pasangan ideal bagi seseorang, peran menjadi menantu yang baik di mata mertua, peran menjadi rekan kerja yang baik di kantor, dan masih banyak lagi.

Kita tidak bisa mengelak dari kenyataan itu, pilihannya hanya berusaha menjadi sosok ideal sesuai tuntutan (dengan cara membaur menjalani peran) atau memberontak dan membentuk peran tersendiri, lain daripada yang lain. Setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing, namun setiap sisi dunia menyimpan resikonya sendiri, bukan? Jadi mau tidak mau akan terus menghadapi hal-hal semacam itu.

Hm, jika berbaur menjalani peran, apa bedanya dengan menggunakan topeng? Saat menghadiri jamuan makan malam untuk urusan pekerjaan resmi, kita akan memasang topeng "wibawa dan bermatabat", melempar senyum dan tawa (yang mungkin saja palsu). Di lain pihak, saat menghadiri pertemuan antar keluarga besar, kita memasang topeng "ramah dan terbuka", menebar pesona pribadi yang baik-baik saja. Belum lagi topeng-topeng lain yang harus dipasang untuk acara pertemuan dengan rekan kerja, bertemu teman-teman dari pasangan, keluarga besar, klien, guru dari anak kita, dan semacamnya.

"Words like mysterious mermaids..." -- Sanober Khan

Seperti yang sudah saya singgung di atas, setiap orang bisa menjadi pribadi yang tak tertebak. Banyak alasan mendasari hal tersebut, bisa dari faktor lingkungan, juga pengaruh masa lalu dan sebagainya. Jika kita tidak mampu menebak perilaku seseorang di masa depan, bisakah kita menebak perilaku mereka di masa sekarang, saat ini juga? Coba lihat siapapun yang ada di dekat kalian. Bisakah kalian menebak apa yang sedang dia pikirkan? Apa peran yang sedang dia tampilkan? Tulus atau berpura-pura? 

Jika mereka terlihat murung dan kalian melemparkan pertanyaan, "Apakah kamu baik-baik saja?" kemudian dijawab dengan, "Saya baik-baik saja," apakah dengan demikian kalian bisa simpulkan bahwa dia memang baik-baik saja? Belum tentu. Selalu ada misteri yang melingkupi seseorang, sekalipun orang tersebut terlihat berkepribadian terbuka. Jadi, apakah jawaban "Saya baik-baik saja" tersebut bermakna sebaliknya? Tidak juga, bisa jadi memang dia benar. Haha. Aneh juga ya teorinya.

Kalian mengerti maksud saya? Bahkan dalam sebuah kalimat sederhana semacam "baik-baik saja", ada banyak aspek yang bisa dikupas. Benarkah dia baik-baik saja padahal terlihat muram? Apakah dia tidak ingin dikasihani? Apakah dia tidak ingin masalahnya terungkap? Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan, itupun jika kita peka. Jika tidak, maka jawabannya akan kita terima begitu saja secara harfiah.

Justru, seringkali kita melakukannya, bukan? Mengatakan A padahal maksudnya B dan seterusnya. Apakah kita berharap bahwa orang yang kita ajak bicara memahami maknanya? Jika dia tidak paham, lalu apa gunanya mengatakan A? Apakah semua demi kesejahteraan bersama? Demi tidak memancing konflik lebih lanjut? Atau sekedar gengsi? Well, inilah keunikan dan kerumitan manusia. Kita seolah memberikan semacam kode dalam segenap perilaku, kode yang bisa saja disalahartikan oleh orang lain, meski kita tidak bermaksud demikian.

Lalu, siapa pihak yang salah disini? Yang melakukan suatu tindakan dengan segenap kode terkait, atau subjek yang menerima perlakuan tersebut? Tidak ada yang salah dan benar. Masing-masing menggunakan persepsi dalam bersikap dan menerima sikap. Misal, saat seseorang memaki dengan kata kasar, orang lain yang dibesarkan dalam lingkungan penuh sopan santun akan mendengarnya sebagai penghinaan terbesar, sementara orang lain yang dibesarkan di lingkungan yang kerap berkata kasar, maka makian tersebut mungkin dianggap wajar.

Begitu banyak bahan rujukan sebagai sumber ilmu mengenai kode dalam perilaku manusia, mulai dari ucapan, gerak tubuh, cara berjalan, cara menulis dan lainnya. Jika kita menguasai semuanya, apakah dengan demikian kita bisa menebak makna tingkah laku seseorang? Tidak secara total, karena manusia itu sendiri penuh dengan unsur tak terduga, sehingga itulah letak kesulitannya. Kita hanya bisa menerka, tapi makna aslinya hanya si subjek itu sendiri yang tahu. Jika orang lain berusaha memahami tingkah laku kita, misalnya, mungkin terkaannya hanya benar beberapa. Selebihnya, kita sendirilah yang tahu apa makna aslinya. Benar, kan?

Bagaimana, apakah terdengar rumit? Itulah yang kita temui setiap harinya kok, sadar atau tidak sadar. Mungkin pikiran saya saja yang terlampau berlebihan sehingga menulis artikel semacam ini. Hehe.

"Never underestimate the social awareness and sense of reality in a quiet person..." 
-- Criss Jami

Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa jangan pernah meremehkan kemampuan seseorang dalam menghadapi perubahan hidupnya. Kita tidak pernah tahu secara persis apa yang dia alami, karena memang kita tidak akan pernah bisa menyelami pikiran seseorang. Jika kita merasa bahwa kita tahu seluk-beluk mengenai orang tersebut, juga mendengar langsung dari yang bersangkutan, tetap saja itu semua tidak memadai untuk memberikan penilaian. Mereka bisa saja menyimpan sesuatu yang kita tidak tahu.

Selalu ada misteri dalam diri setiap orang, selalu ada alasan di balik tingkah mereka, sejahat apapun itu. Jika kita tidak memahaminya, lebih baik biarkan. Masih banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan ketimbang berusaha menebak kenapa si A berkata demikian, kenapa si B bersikap demikian dan semacamnya. Memikirkannya sekali dua kali tidak masalah, namun jangan sampai terjerumus dalam pikiran negatif mengenai seseorang. Hal seperti itu akan terasa sangat melelahkan, percayalah.

Kenapa kita mudah mengingat tingkah buruk seseorang, padahal bisa saja dia pernah berbuat baik kepada kita? Siapakah kita, pribadi yang sok melabeli seseorang, pribadi yang mudah mengatakan "dia jahat", padahal bisa saja kita pernah melakukan tindak "kejahatan" itu kepada orang lain di masa lalu? Pernahkah hal itu terlintas dalam pikiran?

Saya tidak sedang membicarakan penjahat yang membunuh manusia lain atau kegiatan keji semacam itu. Beda topik. Saya mengetengahkan mengenai hal-hal biasa yang terjadi di keseharian, hal-hal yang sering menjadi ajang pergunjingan satu sama lain, dimana kita dengan mudahnya akan menilai si A demikian dan si B demikian, sebagian besar negatif. 

Hm, jika kita dengan mudahnya menghakimi tingkah seseorang dengan label negatif seperti itu, apakah kita sendiri sudah merasa menjadi malaikat yang tak berdosa? Bukankah pada akhirnya semua manusia kerap melakukan kesalahan? Ironis, bukan?

-Bayu-




Note: Jika membicarakan mengenai misteri dan teka-teki, musik Lana del Rey cocok menemani proses menulis. Lagunya yang berjudul "West Coast" sarat dengan unsur dark psychedelic soft rock, aneh namun elegan. Suara khas Lana del Rey sungguh menghanyutkan. Lagu ini sanggup memancing tangan saya bergerak lincah di atas keyboard laptop. Oh Lana, you're rock, girl!
image source: myspace
READ MORE - Teka-Teki Tingkah Laku
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.