Akui Saja, Kita Semua Memang Punya Masalah Hidup Masing-Masing

Samudera yang luas terlihat indah dari permukaan, namun tidak ada yang tahu seberapa kelam isinya. Kurang lebih seperti itulah kehidupan seseorang.
sumber gambar: videezy.com
"It is better to offer no excuse than a bad one" -- George Washington


Fenomena Serial Drama "Big Little Lies"

Saya tidak terlalu banyak menonton serial televisi, baik lokal maupun internasional. 

Menurut saya, menonton film lebih mengasyikkan, karena ceritanya langsung dapat dipastikan habis dalam durasi pemutaran yang dibatasi jam. Yah, meskipun ada film yang memiliki akhir cerita menggantung, setidaknya jika kita membicarakan judul satu film, kita tahu bahwa ceritanya berkisar tentang apa saja yang terjadi sepanjang durasinya, tidak lebih. Hal berbeda jika kita membicarakan serial televisi. Sudah menjadi petunjuk tak tertulis bahwa kita harus menonton keseluruhan episode dalam serial tersebut untuk dapat memahami inti ceritanya.

Begitulah. Itu yang menyebabkan saya kurang tertarik mengikuti serial televisi, khawatir tidak konsisten mengikuti perkembangannya. Jadi, saat Emmy Award 2017 tahun lalu mengumumkan deretan pemenangnya untuk kategori komedi, drama, seri terbatas dan film untuk televisi, saya hanya membacanya sepintas lalu, tidak seantusias melihat nama pemenang Oscar atau Grammy. Jika kalian belum tahu, Emmy Award adalah penghargaan untuk insan pertelevisian di Amerika Serikat. Gengsinya setara dengan Oscar (untuk film), Grammy (untuk musik), dan Tony (untuk teater). Sehingga, jika ada orang yang bisa memenangi keempat piala tersebut sepanjang hidupnya (disebut EGOT, gabungan dari inisial keempat acara), bisa dipastikan dia memiliki bakat emas di bidang hiburan.

Kembali ke Emmy Award 2017. Saya membaca deretan pemenangnya. Veep, The Crown, Saturday Night Live, Big Little Lies, Atlanta, The Handmaid's Tale... ah, oke. Saat itu sebenarnya saya sudah menangkap pola unik: banyak pemenang dari "The Handmaid's Tale", juga "Big Little Lies". Oke. Sampai disitu saja. Tidak ada keinginan dan kebutuhan untuk mencari tahu tentang kedua serial tersebut.

Nyatanya.... semua berubah saat saya mendengar lagu Michael Kiwanuka berjudul "Cold Little Heart" melalui Spotify suatu hari. Saya sungguh menyukainya, dan penasaran mencari tahu lebih lanjut. Ada satu fakta menarik yang saya temukan: Lagu ini menjadi lagu pembuka di serial "Big Little Lies"! Ingatan saya langsung kembali ke hasil pemenang Emmy Award. Wah, saya cukup terkejut lagu "Cold Little Heart" bisa ditempatkan menjadi lagu pembuka. Bukan meremehkan, hanya saja melalui poster "Big Little Lies" yang ada di internet, saya merasa serial itu berisikan drama antar wanita yang mungkin memuat dialog-dialog panjang (termasuk gosip) dan permainan emosi melalui teriakan dan makian. Ini poster yang saya maksud:


sumber gambar: pinterest.com
Ketiga mata wanita di dalam poster (dari kiri ke kanan: Nicole Kidman, Reese Witherspoon dan Shailene Woodley) terlihat misterius, terutama Nicole Kidman. Jelas bukan deretan pemain biasa, kalau boleh dibilang. Dua diantaranya adalah aktris papan atas, yaitu Nicole dan Reese, yang sudah pernah mencicipi kebahagiaan membawa pulang piala Oscar. 

Jika lagu "Cold Little Heart" yang bernuansa sedikit kelam dipasang sebagai pembuka serial dengan poster di atas, pikiran saya langsung menyimpulkan sesuatu: sepertinya ini bukan serial televisi biasa saja. Sorot mata mereka pasti menyimpan sesuatu, apalagi tagline-nya adalah: "Kehidupan yang sempurna berarti kebohongan yang sempurna". Nah lho, apa maksudnya itu? Sedikit demi sedikit, penasaran mulai merasuk dalam benak, dan akhirnya saya mendapat fakta menarik: lima pemain serial ini dinominasikan dalam Emmy Award dan Golden Globe Award, dengan hasil tiga pemain berhasil memperoleh piala di kedua ajang tersebut: yakni Nicole Kidman (Lead Actress), Alexander Skarsgard (Supporting Actor) dan Laura Dern (Supporting Actress). Dua lainnya harus puas hanya masuk nominasi, yakni Reese Witherspoon (Lead Actress) dan Shailene Woodley (Supporting Actress).

Ditambah, serial ini memenangkan Emmy Award untuk kategori "Outstanding Limited Series", artinya Serial Terbatas/Miniseri Terbaik. Apakah saya harus menontonnya? Hm... Entahlah.

Seolah menggoda saya, kanal HBO Signature suatu hari menayangkan seluruh episode "Big Little Lies" lengkap, maraton selama dua hari untuk total tujuh episode. Apakah ini semacam tantangan? Bisa jadi. Saya mengatur waktu untuk menonton semua episodenya, dan sungguh terkesima. Ternyata menonton tanpa ekspektasi apa pun bisa membuat saya terkejut akan hasilnya.

Penelusuran lebih lanjut melalui internet membuahkan hasil lagi: serial ini ternyata diadaptasi dari novel laris karya Liane Moriarty, penulis asal Australia yang karyanya telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Novel "Big Little Lies" berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan kemudian diangkat menjadi serial televisi populer. Ah, saya selalu suka pada materi film/serial yang diangkat dari bahan tulisan. Tertarik untuk menelusuri kisah aslinya, saya akhirnya membaca buku tersebut.

sumber gambar: ebooks.gramedia.com

"The mistake ninety-nine percent of humanity made, was being ashamed of what they were, lying about it, trying to be somebody else"
-- J.K. Rowling

Hati-Hati, Satu Masalah yang Disembunyikan Erat Bisa Menjadi Sebuah Bom Waktu

Inilah yang bisa saya rangkum setelah membaca novel dan menonton serial "Big Little Lies". Kisahnya berpusat pada tiga wanita utama, sesuai poster di atas: Celeste (diperankan Nicole Kidman), Madeline (diperankan Reese Witherspoon) dan Jane (diperankan Shailene Woodley). Ketiga wanita tersebut adalah ibu dari anak-anak yang masih duduk di bangku TK. 

Kita akan disuguhi kisah Madeline yang cerewet, penuntut dan emosional menghadapi keluarganya dan keluarga mantan suaminya; kisah Jane yang pendiam dengan masa lalu kelam, serta harus berjuang membuktikan anaknya bukanlah seorang perisak (pelaku bullying); dan terakhir... kisah Celeste. Dari ketiga wanita utama, mungkin Celeste adalah sosok yang paling terlihat sempurna dari luar: cantik, pintar, kaya, suami tampan, tidak sombong, kedua anak kembar yang sehat... bisa dibilang sempurna, bukan?

Ternyata, kesempurnaan Celeste itu justru menyimpan banyak luka. Yang tidak disadari Madeline dan Jane, Celeste harus berjuang menghadapi suaminya yang berperilaku sopan di luar, namun saat di rumah... bisa bertindak kejam (ini bukan spoiler, karena ending twist-nya lebih mengejutkan). Celeste lihai menutupi semuanya, bahkan dari sahabatnya sendiri. Saat kejadian demi kejadian terus merusak jiwa dan fisiknya, Celeste mulai meragukan kehidupan pernikahan dia sendiri. Demi melindungi kedua putranya, Celeste merencanakan sesuatu, sebuah rencana yang tanpa disangka malah menyeret Madeline dan Jane ke dalam pusaran konflik yang lebih menakutkan, karena berujung pada hilangnya nyawa seseorang. Wow.

Oke, dari beberapa isu yang coba diangkat Liane Moriarty di dalam novel (dan kesemuanya merupakan isu berbobot, harus diakui), saya tertarik membahas mengenai citra diri. Isu ini mungkin tidak sesanter isu lainnya jika membicarakan "Big Little Lies", namun cukup menggelitik saya. Mengapa? Karena sedemikian dekatnya isu ini dengan kehidupan sehari-hari, dan mungkin cenderung dianggap remeh.

Selain itu, saya coba memfokuskan hanya pada karakter Celeste, sebuah karakter yang membuktikan bahwa penampilan seseorang tidaklah mencerminkan kondisi kehidupan pribadinya. Celeste selalu mengalihkan pikirannya dari masalah dengan menganggapnya enteng. Dia merasa bahwa apa yang dialaminya banyak dialami orang lain juga, hanya sebuah masalah biasa dalam pernikahan. Baik Celeste maupun suaminya, Perry, sama-sama ingin menampakkan yang baik-baik saja di luar. Celeste tidak ingin orang lain mengasihani dan mengetahui masalah yang dia alami, karena... sekali lagi, bisa saja semua orang mengalaminya juga. Bukan masalah besar.

Berikut kutipan yang diambil dari halaman 429 mengenai isu di atas:


Perry sudah memasang foto mereka memakai kostum di Facebook. Itu akan membuat mereka terlihat sebagai orang yang mempunyai selera humor, lucu, menyenangkan, tidak terlalu serius, serta peduli terhadap sekolah dan masyarakat setempat. Foto itu melengkapi foto-foto lain yang dipasang tentang perjalanan mereka ke luar negeri serta acara-acara kebudayaan yang mahal. Malam kuis di sekolah adalah acara yang tepat untuk pencitraan saja.

Kutipan lain diambil dari halaman 71:

Celeste tidak perlu berpura-pura senang. Apa pun yang suaminya pilih pasti sempurna. Ia selalu bangga dirinya mampu memilih kado dengan tepat, tetapi Perry lebih jago lagi. Saat terakhir kali pergi ke luar negeri, Perry menemukan tutup botol sampanye pink yang sangat menyolok. "Aku melihatnya sekilas dan langsung teringat Madeline," katanya. Tentu saja Madeline menyukainya. Hari ini akan sempurna dalam segala hal. Foto-foto Facebook tidak akan berbohong. Penuh suka cita. Hidup Celeste penuh suka cita. Itu fakta.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Celeste menanamkan kepercayaan bahwa hidupnya penuh suka cita. Hidupnya sempurna, seperti terpampang pada foto-foto di Facebook yang Perry pasang. Celeste menghindari pemikiran negatif mengenai perilaku kejam suaminya, tidak menceritakannya kepada orang lain, menanggung semua luka sendiri.

Celeste tidak sadar, bahwa permasalahan yang disembunyikannya bisa jadi adalah... sebuah bom waktu. Tik tok. Tik tok.

Jejak di pasir bisa dihapus, namun tidak dengan kenangan atau trauma, apalagi yang terkelam
sumber gambar: dreamstime.com


"The rules are simple: they lie to us, we know they're lying, they know we know they're lying, but they keep lying to us, and we keep pretending to believe them"

-- Elena Gorokhova


Semua Orang Punya Masalah, Termasuk Diri Saya Sendiri

Meski Celeste tahu kehidupannya bermasalah, dia memasang tameng pertahanan, yang akhirnya membentuk aturan tak tertulis mengenai citra diri dia di depan publik: "Tampilkan yang baik, jangan biarkan mereka melihat sisi rapuh dan buruk diri saya. Jangan beri mereka bahan untuk bergunjing."

Coba kalian simak dialog di bawah ini (ada di dalam salah satu episodenya yang berjudul "Burning Love"), dimana saat itu Celeste sedang berbincang dengan konselor pernikahan, yang terkejut mendapati Celeste baru paham mengenai tingkah laku suaminya:

Konselor: Aku tidak mengerti mengapa kamu baru menyadarinya sekarang, karena aku jelas merasakannya. Apakah kamu telah memberi tahu orang lain mengenai penyerangan ini?

Celeste: Tidak.
Konselor: Kenapa tidak?
Celeste: Aku tidak tahu.
Konselor: Coba cari tahu jawabannya.
Celeste: Mungkin harga diriku muncul dari bagaimana orang lain melihatku.
Konselor: (tertawa kecil) Maaf. Aku hanya kagum pada pasien yang memiliki kesadaran diri yang besar di balik cangkang keras penolakan.

Nah, itu dia. Kalimat yang berwarna biru menunjukkan jawaban mengapa Celeste menyimpan semua masalahnya sendiri. Celeste tidak ingin orang lain tahu bahwa dirinya bermasalah, bahwa rumah tangganya hancur dari dalam, bahwa dirinya sama rapuh seperti orang lain, bahwa kehidupannya tidak sempurna seperti yang orang lain kira. Semua itu tersembunyi dalam selubung cangkang nyaman.

Celeste tidak ingin harga dirinya hancur, itu saja.

Apakah membangun cangkang kerahasiaan ini bagus? Bisa iya bisa tidak. Bagus untuk kepentingan menyembunyikan rahasia, karena rahasia tidak seharusnya diumbar begitu saja. Buruk jika kita menyimpannya terlalu lama dan tidak pernah dikeluarkan dalam cara yang sehat. Hal tersebut bisa menggerogoti kita dari dalam, dan sampai saatnya tiba, semua akan pecah meluap, menimbulkan konflik lain. Mungkin ada baiknya coba disalurkan dengan cara yang sehat, bisa dengan menemui mereka yang lebih paham, atau sekedar bercerita kepada orang terpercaya. Bisa juga mendekatkan diri pada ajaran agama, karena bisa jadi jiwa kita sedang butuh penyegaran dan tuntunan batin. 

Jika disambungkan dengan kehidupan orang lain di sekeliling kita, mudah menemukan cangkang-cangkang semacam itu, bukan? Karena saya yakin, hampir semua orang melakukannya. Kita bersembunyi di cangkang aman masing-masing. Yang membedakan hanya ketebalannya saja. Mereka yang bersembunyi di cangkang lemah cenderung lebih terbuka pada orang lain, tahu pasti kapan harus bercerita, kapan harus disimpan. Sementara yang memiliki cangkang tebal, bisa dipastikan akan menutup diri rapat-rapat, hanya orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya. Sisi ekstrem dari cangkang tebal adalah stres mendalam, karena terlalu menutupi fakta yang ada, tanpa mencari pemecahan solusinya.

Begitulah. Sebaiknya kalian mulai menganalisa sendiri, cangkang mana yang baik untuk kondisi kesehatan jiwa kita. Hanya kita yang tahu persis bagaimana rasanya mengalami sebuah peristiwa tidak nyaman dalam hidup. Penolakan, kematian, perpisahan, pengkhianatan dan hal-hal semacam itu... semua bisa menimbulkan masalah jika kita tidak menanganinya dengan baik. Hal pertama yang sebaiknya dilakukan saat bertemu dengan masalah adalah: mengakui kepada diri sendiri bahwa kita memiliki masalah. Mungkin terdengar sepele, namun jika kita tidak mengakuinya, kita seolah membangun tembok semu yang bertuliskan "Ah, aku baik-baik saja, kok" padahal kenyataannya tidak. Itulah awal mula bom waktu permasalahan. Setelah berani mengakui kepada diri sendiri, langkah selanjutnya adalah menemukan solusi, yang mana penanganannya bisa berbeda satu sama lain.


Tentang Rasa Sakit Emosional dan Pengaruh Pikiran

Saya jadi teringat muatan buku "The Subtle Art of Not Giving A F**k" (diterjemahkan menjadi "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat") karangan Mark Manson. Di halaman 179, dia menulis mengenai derita adalah bagian dari proses, demikian tulisannya: Seperti halnya seseorang yang mengalami rasa sakit fisik untuk membentuk tulang dan otot yang lebih kuat, seseorang harus mengalami sakit emosional untuk mengembangkan ketangguhan emosional yang lebih besar, rasa percaya diri yang lebih kuat, belas kasih yang meningkat, dan secara umum hidup yang lebih bahagia.

Benar. Sakit emosional akan selalu datang menghampiri, dalam segala kondisi. Tidak ada satu orang pun yang mengalami momen "baik-baik saja" sepanjang hidupnya, karena kita semua memiliki masalah. Semua orang pasti menjalani ujian kehidupan dari Tuhan. Sama seperti kisah Celeste. Boleh saja kita tidak membiarkan orang lain tahu, tapi itu hanya akan menggerogoti diri kita perlahan. Mengesampingkan masalah justru membuat masalah itu semakin membesar sedikit demi sedikit. 

Bos saya pernah berkata, "Jangan pernah nyimpen bom waktu masalah. Kalo masih bisa diselesaikan segera, selesaikan." Tentu saja bos saya mengacu pada permasalahan dalam pekerjaan, namun saran tersebut bisa diaplikasikan dalam permasalahan hidup apa saja. Ironisnya, bom waktu itulah yang sempat saya alami beberapa waktu belakangan ini, haha. Itulah sebabnya mengapa kisah "Big Little Lies" menjadi semacam pengingat, bahwa saya tidak boleh lagi menyimpan masalah terlalu rapat. Saya berulang kali mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak. 

Saya pun mulai berpikir mengenai bom waktu yang saya pendam. Ugh, rasanya sama sekali tidak mengenakkan. Terasa menyesakkan setiap kali teringat. Entah karena pengaruh "Big Little Lies" atau apa, suatu hari saya memberanikan diri bercerita ke orang lain (dalam hal ini kakak pertama saya, yang selalu dapat melihat jika ada sesuatu yang tidak beres dalam diri ini). Saya mengakui masalah yang membebani pikiran. Setelah bercerita, saya tersadar. Astaga, pikiran adalah sumber segala masalah! Semua ketakutan hanya ada di pikiran. Saya tahu tentang ini (bahkan saya pernah menuliskannya, duh), namun tidak berani mengakuinya. Selalu begitu.

Biang keladi pola pikir ini sama seperti yang ditulis Mamon dalam bukunya yang berjudul "Bahagia Itu Sederhana" (halaman 39), yaitu: Jarak antara kesedihan dan kebahagiaan hanyalah pikiran. Pikiran adalah hal yang ajaib, ia dapat mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan, begitu juga sebaliknya. Ah, benar sekali. Pikiran memang hal yang ajaib, sangat ajaib kalau boleh dibilang. Seseorang boleh saja ditempatkan dalam situasi paling merana dalam hidup, namun saat dia tidak membiarkan pikirannya memproduksi buah pikiran negatif, maka dengan sendirinya dia tidak terjatuh dalam lubang kesedihan. Seajaib itu.

Oke, tampaknya saya harus terus melatih pikiran untuk tidak terlalu memikirkan yang macam-macam. Jangan sampai pikiran ini membuat trik lagi untuk menjatuhkan diri saya ke lubang gelap. Bukankah itu yang dilakukan semua orang setiap harinya, bergelut dengan pikirannya masing-masing? Yang bisa menjinakkan pikiran negatifnya akan menang dan menyunggingkan senyum bahagia, sementara bagi yang kalah... harus bersiap ditindas pikirannya sendiri. Mana yang kalian pilih?

-Bayu-






Catatan tambahan:


Saya harus jujur. Awalnya, artikel ini adalah buah pemikiran kacau balau yang saya hasilkan beberapa minggu belakangan. Pernah diterbitkan seminggu yang lalu, namun menyadari bahwa pemaparannya amburadul (terima kasih kepada kakak saya yang telah mengingatkan), saya menyimpannya lagi dalam draf, dan setelah berpikir jernih, mulai menambal sulam di sana-sini. Keberanian untuk mempublikasikan ulang muncul saat seorang rekan blogger sekaligus salah satu pembaca setia blog ini, Yoga Akbar Sholihin, menanyakan tentang "hilangnya" artikel tersebut dari daftar isi blog. Hehe. Maaf, Yog. Itu semacam ledakan emosional sesaat, dan artikel revisinya sudah terbit ulang. Terima kasih telah mengingatkan :-)


Catatan terkait proses menulis artikel:

Saya mendengarkan lagu "Cold Little Heart" yang dinyanyikan oleh Michael Kiwanuka sepanjang proses menulis artikel di atas. Awalnya saya tidak terlalu menaruh perhatian pada lagu ini, namun setelah didengarkan berkali-kali, ternyata dapat membawa aura magis tersendiri dalam memantik ide menulis.

Micahel Kiwanuka adalah seorang musisi asal Inggris, pengusung genre soul, blues rock dan folk rock. Entah bagaimana dia memasukkan semua atau sebagian dari genre tersebut dalam sebuah lagu, yang pasti "Cold Little Heart" adalah suguhan musik soul dan rock yang menenangkan untuk telinga saya. Lagu ini sukses ditempatkan menjadi musik pembuka untuk miniseri "Big Little Lies" produksi HBO.

Lirik menarik yang ada di dalam lagu:
Did you ever notice
I've been ashamed all my life
I've been playing games

sumber gambar: radiowoodstock.com



Catatan lain: Tidak ada. Sudah cukup banyak!

READ MORE - Akui Saja, Kita Semua Memang Punya Masalah Hidup Masing-Masing

Maaf Buku-buku di Rak, E-Book Ternyata Lebih Praktis

sumber gambar: pcmag.com
*PERINGATAN AWAL: Karena ini artikel pertama saya di tahun 2018 setelah vakum selama kurang lebih empat bulan, maka saya hampir tidak bisa menghentikan kata demi kata yang terus mengalir keluar dari benak saat mencoba kembali menulis. Bisa jadi mode edit yang saya miliki belum sempurna, jadi mohon maaf kalau artikelnya panjang lebar. Untuk kalian yang tidak suka artikel panjang, silahkan ditutup saja, masih banyak artikel di blog lain yang mungkin sesuai dengan selera kalian. Bagi kalian yang tetap ingin lanjut membaca... terima kasih banyak.*

"You can't buy happiness, but you can buy a book, and that's kind of the same thing
-- Anonymous


Hobi: Membaca Buku

Nama saya Bayu, dan saya suka membaca buku.

Jika ada deretan pertanyaan umum yang selalu ditanyakan di selembar kertas atau media apapun tentang jati diri kita, dan kebetulan ada bagian "Hobi", maka tanpa ragu saya selalu menulis "membaca buku". Harus diakui, itu bukan jenis hobi yang terlihat jantan atau membuat orang langsung memberi label "orang keren" pada kita.

Berdasarkan pengalaman, setelah saya mengatakan bahwa hobi saya membaca buku, atau saat orang lain kebetulan mengetahui saya suka membaca buku, kebanyakan akan langsung mengaitkan dengan penampilan saya, ditambah kacamata yang bertengger, kemudian terbitlah sebuah kesimpulan sederhana di pikiran mereka (terlihat dari sorot matanya, sangat jelas), seolah berkata: "Oh... kutu buku."

Begitulah.

Tapi tidak masalah. Untuk apa saya harus berbohong mengenai hobi yang satu itu? Lagipula, itu bukan sesuatu yang bisa dipamerkan ke semua orang dengan mata berbinar-binar sembari berkata, "Lihat nih, gue mah sukanya baca buku. Keren, kan? Lo kayak gitu juga ngga?" Tidak, tidak! Bagi saya, membaca lebih kepada kebutuhan kok, sama seperti makan. Rasanya ada yang kurang kalau sehari saja tidak membuka buku untuk dibaca, meski hanya satu atau dua halaman. Apakah kalian memamerkan diri ke semua orang jika bisa makan setiap hari? Tidak seperti itu, kan?

Keanggunan Sebuah Buku Berbentuk Fisik

Begitu melihat deretan buku di rak perpustakaan, toko buku atau rak-rak buku pribadi di rumah seseorang, selalu muncul kekaguman tersendiri. Seperti melihat harta karun saja rasanya. Saya senang sekali menelusuri setiap rak, memandangi beragam buku yang tertata disana dengan desain sampul berbeda-beda, kemudian menyentuhkan jemari ke salah satu buku untuk merasakan teksturnya. Gelombang kekaguman tersebut semakin menjadi tatkala saya meraih salah satu buku dan membuka halaman demi halaman. Khusus buku-buku yang masih terbitan baru, ada semacam bau khusus yang menjadi penanda, dan aromanya menyenangkan.

Oke, tampaknya deskripsi tersebut terlalu berlebihan jika dibaca oleh orang-orang yang tidak terlalu menggemari buku. Bisa jadi mereka akan berkata, "Eh buset, buku begini aja apa bagusnya? Bukannya sama aja ya tiap buku?"

Sepintas, memang tampak sama, dengan bentuknya yang kotak dan memuat berlembar-lembar halaman. Cenderung kaku dan membosankan. Namun, ada beberapa perbedaan yang mungkin hanya bisa disadari dan dikagumi oleh orang-orang yang menggemari aktivitas membaca buku. Mungkin di antara kalian ada yang juga mengalami sensasi memegang buku fisik sama seperti yang saya rasakan.

Bertahun-tahun saya menjadi penggemar buku fisik. Saya membeli novel atau buku non fiksi yang menarik perhatian, meminjam di perpustakaan atau sekedar meminjam melalui teman (dalam hal ini, terkendala masalah finansial, alias tidak sanggup membeli). Minat saya pada buku berbentuk fisik melahirkan sebuah ide tersendiri yang kemudian pernah saya tuangkan dalam sebuah artikel di blog ini, berjudul "Nyaman Membaca Buku yang Memiliki Fisik". Artikel itu seolah menjadi sebuah pernyataan keras dan tegas bahwa saya, Bayu Rohmantika Yamin, menyukai dan selalu akan menyukai buku yang berbentuk fisik. 

"The art challenges the technology, and the technology inspire the art" 
-- John Lasseter
sumber gambar: libguides.library.cityu.edu.hk
Buku Digital, Sang Penantang Yang Merusak Tatanan

Perubahan akan selalu terjadi, tak terkecuali untuk indutri buku. Begitu teknologi menyeruak dalam kehidupan masyarakat hampir di semua sektor, hal itu merubah beberapa tatanan yang awalnya adalah sebuah pola turun-temurun, berubah menjadi pola baru yang... bisa dianggap membawa manfaat, bisa juga dianggap membahayakan. Saya menggunakan istilah "anggapan" karena menurut saya, hasil dari perkembangan teknologi sejatinya akan menimbulkan pro kontra, dan itu semua kembali kepada persepsi masing-masing.

Nah, untuk kasus buku, perkembangan teknologi yang hadir menghasilkan sebuah perubahan radikal: lembaran buku diubah menjadi bentuk digital (e-book). Ribuan hingga jutaan lembar bisa masuk ke dalam satu media tertentu, dan ditampilkan melalui satu layar. Bahkan, untuk semakin membuatnya mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan, buku pun bisa dibuat versi audio-nya (audio book), alias lembaran tersebut tidak perlu dibaca, tapi hanya perlu telinga untuk mendengarkan versi sadurannya. Jenis ini berguna untuk mereka yang mengalami masalah pada indra penglihatan.

Saya akan menekankan pada e-book saja di artikel ini. Apakah membaca e-book bisa disamakan dengan pengalaman membaca buku fisiknya langsung? Kemudahan akses jelas menjadi incaran, dimana hanya melalui satu layar saja, semua lembaran buku bisa dibaca. Tidak perlu repot-repot membawa buku yang tebal. Cukup siapkan media elektronik. Semudah itu.

Oke, saya memang sempat memandang aneh pada mereka-mereka yang mengkonsumsi buku dalam bentuk e-book, meski saya tahu bahwa itu semua pilihan masing-masing. Saya sempat berpikir, mereka-mereka yang menikmati e-book itu seperti... apa ya? Seperti melihat berbagai tempat di belahan dunia lain dengan Google Street View, tapi tidak merasakan langsung tempatnya. Tidak merasakan sensasi traveling. Nah, rasanya seperti itu. Sama-sama melihat, namun tidak benar-benar merasakan.

Dalam hati, saya mengikrarkan kesetiaan pada buku fisik, sampai kapan pun. Dalam hal musik, saya boleh saja mulai menyukai versi digitalnya ketimbang versi fisik (CD, kaset dan semacamnya), namun untuk urusan buku... saya tetap mencintai versi fisik. Itulah yang saya tanamkan kuat-kuat dalam benak bertahun-tahun lamanya.

"What's cheaper than a gallon of gas? An e-book. Save a dollar, stay home and read!" 
-- Shandy L. Kurth
Menjilat Ludah Sendiri

Saat membeli sebuah buku, saya cenderung melihat prosesnya sebagai bentuk investasi di masa depan. Bukan berarti buku bisa sebagai aset investasi (mungkin dalam kasus khusus, bisa), namun lebih kepada "membeli dulu, bisa dibaca kemudian, sebelum stoknya kehabisan" (apakah kalian juga seperti ini?). Pola konsumtif tersebut menyebabkan saya menumpuk banyak buku di rumah, sebagian besar masih dikemas sampul plastik versi toko alias belum dibuka sama sekali. Bukan sebuah kebiasaan yang baik tentu saja, apalagi dampaknya secara finansial bisa membuat stres, hehe.

Tumpukan buku tersebut semakin menjadi saat saya mulai bingung mengatur waktu membaca di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari. Tingkat pembelian buku lebih tinggi ketimbang tingkat menamatkan membaca buku. Belum lagi kalau bukunya tebal, bisa memakan waktu lama untuk menamatkannya, sementara saat membeli sebuah buku, setebal apapun itu, hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan transaksinya. Di satu titik, saya merasa kewalahan dan hampir putus asa. Bagaimana ini? Sampai tua renta mungkin saya tidak akan sanggup menyelesaikannya jika pola terkutuk itu terus berulang!

Suatu hari, saat saya memandangi dengan merana ke arah tumpukan buku di rak yang sebagian besar belum tersentuh itu, saya berpikir bagaimana caranya agar semua bisa terbaca, sekaligus menekan hasrat untuk membeli yang baru. Saya pernah mencoba untuk menerapkan prinsip membaca cepat, namun hasilnya berantakan. Susah sekali. Akhirnya, saya memutuskan untuk membuat jadwal membaca, minimal satu hari satu bab, atau setidaknya empat sampai lima halaman, dan ini sebuah keharusan. Untuk buku baru, pembelian hanya yang benar-benar dibutuhkan (atau, seri novel yang digemari). 

Setelah menjalaninya selama beberapa minggu, rencana tersebut langsung menemui kegagalan karena begitu sampai di rumah setelah lelah bekerja seharian, saya sama sekali melupakan buku yang harus dibaca. Atau saat harus dibawa di dalam tas, ujung-ujungnya malah tidak dibaca, hanya menambah beban saja. Alasan klasik: malas (sama seperti menulis di blog ini, ups). Jika dulu saya selalu mengagung-agungkan "membaca bagai kebutuhan" dan sebagainya, ternyata saya tersandung masalah tak terelakkan: minat baca saya mulai berkurang! Astaga, ini tidak boleh dibiarkan. Saya harus mengembalikannya ke keadaan semula.

Setelah melakukan analisa kembali pada pola aktivitas sehari-hari yang saya lakukan, sepertinya saya butuh sesuatu yang praktis untuk dibawa sekaligus dinikmati jika menyangkut bahan bacaan, khususnya buku. Pilihan jatuh kepada ponsel pintar, yang memang bisa memuat sebuah buku, namun dalam bentuk e-book.

AH, TIDAK!!!

Bagaimana mungkin saya berpaling ke e-book? Tidak, tidak, tidak! Setelah bergulat dengan pemikiran ini selama berhari-hari, saya akhirnya merelakan diri mencoba membaca e-book. Tidak ada salahnya dicoba. Penasaran juga kenapa ada orang yang mau membeli e-book. Ternyata pembelian sebuah e-book cukup mudah juga ya, kita dapat menemukannya melalui ponsel pintar, tinggal pilih saja opsi pembayarannya. Bagai mengunjungi toko buku, namun tanpa benar-benar melihat buku fisiknya. Hm... di beberapa bagian pun koleksinya tidak selengkap toko buku. Oke, mungkin ke depannya akan semakin lengkap, semoga saja.

Akhirnya, sebuah e-book pun berhasil terbeli. Setelah mengumpulkan niat penuh, saya mencoba mulai membaca buku elektronik tersebut. Pada awalnya, mata saya lelah menatap ponsel terus-menerus, dan saat membacanya, semua terasa palsu, dibuat-buat. Membuka lembaran e-book tidak memiliki sensasi menyenangkan seperti membuka sebuah lembaran buku. Tidak ada bau buku yang khas, tidak ada tekstur yang bisa disentuh dengan tangan, tidak ada suara saat membolak-balik halaman dengan cepat, dan yang terpenting: tidak ada kepuasan saat memegangnya. Semua e-book bentuknya sama, ya itu-itu saja: digital. Kenapa bentuk seperti ini bisa laku di pasaran, ya?

Seorang bijak pernah berkata, bahwa sebuah kebiasaan timbul dari melakukan hal secara berulang-ulang, meskipun itu tidak terasa menyenangkan awalnya. Jika ingin membiasakan hal-hal positif, maka lakukan rutinitas tersebut secara konsisten, dan kita akan terperangah melihat hasilnya. Sepertinya, itulah yang terjadi pada saya. E-book yang awalnya saya pandang remeh (melihatnya saja sudah tidak tahan), lama-lama menimbulkan kecanduan tersendiri.

Benar, kecanduan. E-book merevolusi cara berpikir saya akan aktivitas membaca. Mudah sekali membuka e-book di tengah keramaian, tidak seperti buku fisik, khususnya yang berukuran tebal. Tidak perlu memakan banyak tempat di tas, bahkan bisa dimasukkan kantong, karena menyatu dengan ponselnya. Orang-orang juga tidak akan terlalu peduli apa yang saya lihat di layar ponsel, mungkin mereka berpikir saya sedang melihat linimasa media sosial, padahal saya sedang membaca e-book

Tidak butuh pengaturan macam-macam pada e-book (mungkin sedikit pengaturan warna latar belakang, ukuran huruf dan semacamnya yang merupakan pengaturan minor). Cukup membuka ponsel pintar, kemudian membuka aplikasi khusus (saya menggunakan Google Play Books), pilih buku yang diinginkan, dan silahkan dibaca. Seperti memasuki perpustakaan pribadi, namun dalam versi yang sangat praktis.

Oya, satu hal lagi: harga e-book lebih murah daripada harga normal buku fisik, dan jika ada diskon menarik untuk pembelian e-book, membeli tiga e-book bisa setara satu buah harga buku fisik, dengan kapasitas yang tidak membutuhkan banyak tempat. Bandingkan dengan membeli obralan buku fisik. Meskipun saya bisa mendapatkan tiga buku fisik obralan setara harga satu buku normal, tetap saja butuh tempat untuk ketiga buku baru tersebut. E-book tidak seperti itu. Hanya dibutuhkan kapasitas memori dalam ponsel untuk menampungnya. Jika kita bisa berhemat dalam penggunaan memori, maka menempatkan banyak e-book dalam satu ponsel tidak menjadi kendala besar.

Astaga, rasanya benar-benar seperti membawa perpustakaan berjalan! Kemana saja saya selama ini, ya?

Sentilan dari Novel Karya Fredrik Backman

Ide mengenai tema artikel kali ini mulanya muncul setelah membaca novel karya Fredrik Backman berjudul "My Grandmother Asked Me To Tell You She's Sorry". Saya mendapatkan e-book ini dari Google Play Books. Novel ini sungguh bagus. Saya tidak menyesal membelinya. Lagipula, harga e-book-nya lebih murah dari versi buku fisik, tentu saja, hehe. Itu baru harga normal e-book-nya ya, belum lagi jika ada diskon, bisa sangat murah tentunya.

Ah, sebuah suguhan penuh kehangatan dan ketulusan yang diracik oleh Fredrik Backman, novelis asal Swedia ini, sanggup membuat saya tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Novel ini bercerita mengenai Elsa, gadis berumur tujuh tahun yang mengalami kesedihan saat Nenek kesayangannya meninggal. Bukan meninggalkan benda berharga untuk Elsa, sang Nenek malah meninggalkan sepucuk surat yang berisikan misi khusus, dimana sang Nenek meminta Elsa untuk menyampaikan permintaan maaf wanita tua tersebut kepada beberapa orang yang tertera dalam surat.

Misi mudah? Tidak, karena surat tersebut tidak mudah ditemukan, masing-masing seperti kepingan puzzle yang harus disusun. Disinilah letak petualangannya. Novel ini bukan novel anak-anak biasa yang berisikan keceriaan dan petualangan manis, namun lebih ke pencarian makna kehidupan. Ya, saya sendiri heran betapa pintarnya Fredrik Backman menyelipkan banyak makna hidup melalui jalan pikiran seorang gadis kecil. Tidak terkesan menggurui, namun mengalir lancar begitu saja. Alurnya sungguh menarik untuk diikuti, dan ada semacam perasaan hangat yang mengalir di dada begitu menemukan beberapa pesan "mendalam" yang kerap ditemukan di beberapa bab.

sumber gambar: goodreads.com
Saya tidak akan menceritakan lebih lanjut, atau mendeskripsikan ulasan mendalam, karena -- jika kalian mengenal saya melalui tulisan-tulisan sebelumnya -- hal itu tidak akan saya lakukan, mengingat blog ini bukan blog ulasan apa pun. Saya hanya tertarik mengambil beberapa bagian unik dari sebuah hal yang saya temukan. Kali ini, di novel "My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry" (astaga, judulnya panjang sekali ya), ada satu bagian menarik yang kemudian memantik ide untuk menulis.

Di bab 17 berjudul "Roti Kayu Manis", Elsa berhasil menemukan salah satu subyek penerima pesan sang Nenek, yaitu seorang wanita berprofesi psikoterapis. Elsa dibawa masuk ke ruangan wanita itu dan dia menemukan dinding kantornya dipenuhi rak buku. Hal itulah yang membuatnya takjub sekaligus heran, karena Elsa seorang pecinta buku juga, namun dia memilikinya dalam iPad, alias dalam bentuk e-book.

Berikut saya tampilkan beberapa dialog yang ada di bab 17 tersebut, saat Elsa akhirnya mengutarakan keterkejutannya melihat rak penuh buku (kutipan ini disadur dengan beberapa edit tampilan untuk memudahkan pemahaman):

Elsa     : Aku tidak pernah melihat begitu banyak buku, ini hampir sinting. Memangnya kau tidak pernah mendengar iPad?
Wanita : Aku menyukai buku.
Elsa      : Kau pikir aku tidak suka buku? Kau bisa menyimpan bukumu di iPad. Kau tidak perlu menaruh jutaan buku di kantormu.
Wanita  : Aku menyukai buku fisik.
Elsa      : Kau bisa memiliki semua jenis buku di iPad.
Wanita  : Bukan itu yang kumaksud dengan 'buku'. Maksudku 'buku' dengan jaket, kover, halaman...
Elsa      : Sebuah buku adalah teks. Dan, kau bisa membaca teks di iPad!
Wanita  : Aku suka memegang buku ketika membaca.
Elsa      : Kau bisa memegang iPad.
Wanita  : Maksudku aku suka membuka halamannya.
Elsa      : Kau bisa membuka halaman di iPad.
...
Elsa      : Tapi, kau tahu, lakukan apa yang kau suka! Milikilah jutaan buku! Aku hanya bertanya. Sebuah buku tetaplah buku jika kau membacanya di iPad. Sup tetaplah sup dalam mangkuk apa pun.

Nah, itulah sekelumit dialog yang ada di bab 17. Saya membacanya sembari tersenyum-senyum sendiri, membayangkan apa yang diutarakan oleh si wanita, sama persis seperti yang saya rasakan dulu. Saya menyukai buku fisik, itu saja intinya. Argumen yang saya punya kurang lebih sama seperti milik si wanita. Saya menyukai buku dengan cover, dengan halaman kertas, dan sensasi memegang sebuah buku, bukan media elektronik. 

Kini, argumen tersebut luntur seiring ketertarikan saya pada e-book. Membeli e-book semakin mudah berkat kerjasama beberapa operator telekomunikasi Indonesia dengan Google, dimana saya tidak perlu memasukkan nomor kartu kredit atau nomor voucher untuk membeli sebuah e-book. Cukup sediakan pulsa memadai, pilih buku yang ingin dibeli (bahkan kita bisa mengunduh beberapa halaman awalnya dulu secara gratis, untuk mendapat gambaran mengenai isi buku), kemudian tinggal pilih beli. Karena saya telah mengatur pembelian menggunakan pulsa telepon, maka saya cukup memasukkan password akun di Google, kemudian... e-book siap diunduh versi lengkapnya. Saya kerap menggunakan jaringan wi-fi saat mengunduh, demi kelancaran proses tersebut. Dalam sekejap (tidak ada semenit jika jaringan kuat dan bukunya tidak memuat banyak halaman), saya sudah bisa menikmati e-book tersebut.

Mudah, bukan?

Kini, saya membeli e-book khusus untuk buku-buku yang tidak berada dalam daftar "wajib punya". Buku-buku yang berada di dalam daftar itu berisikan novel-novel dari penulis favorit, seri favorit, atau buku luar biasa yang menggugah pemahaman saya akan sesuatu secara drastis. Itu yang saya maksudkan dengan buku wajib punya. Di luar kategori itu, saya memilih membeli e-book-nya saja (saya tidak merekomendasikan kalian untuk mengunduh versi bajakannya ya, mari budayakan mengapresiasi jerih-payah penulis). Selain lebih murah, menghemat tempat juga, karena rak buku saya di rumah sepertinya sudah mengibarkan bendera putih, tanda menyerah harus menampung buku-buku hasil perilaku konsumtif saya. 

Lucunya, selama menjalani pola baru membaca e-book ini, saya mendapati bahwa lebih cepat menamatkan sebuah e-book daripada buku fisik, karena e-book lebih sering dibaca sepanjang jam-jam yang tidak produktif, juga di waktu-waktu dimana saya bisa mencuri waktu (saat antre misalnya). Kalau saya sedang bersama orang lain saat situasi tersebut muncul, saya cenderung mengisi waktu dengan berbincang-bincang. Namun, lain halnya saat sendiri. Tangan saya akan refleks mengeluarkan ponsel pintar dan membaca e-book.

Jadi, disaat orang lain lebih memilih melihat linimasi media sosial (khususnya Instagram, yang hampir sebagian besar itulah yang saya lihat saat melirik sekilas ke layar ponsel orang lain, ups), bercakap-cakap dengan lempar-melempar emoji melalui pesan instan, bermain game, mengambil foto selfie, mengutak-atik playlist di Spotify, atau aktivitas apa pun yang bisa mereka lakukan dengan ponsel pintarnya, saya memilih membaca e-book saja.

Bahagia itu sederhana. Benar kok.

Dilema muncul saat saya justru lebih memfokuskan pada e-book daripada buku fisik yang ada di rak. Saya merasa seperti sedang berselingkuh. Saya mengkhianati mereka. Dulu saya mengagung-agungkan buku fisik, kini mengabaikan begitu saja. Buku-buku fisik yang ada di rak pasti cemburu karena saya jarang menjamah mereka lagi. Situasi ini pernah memunculkan semacam perasaan bersalah dalam diri saya, sehingga dalam beberapa bulan terakhir, saya kembali menjadwalkan membaca buku fisik, minimal dua atau tiga lembar setiap harinya, lebih sering di malam hari sebelum tidur atau saat jeda sejenak dari pekerjaan yang memusingkan di kantor. Meski kecepatan menamatkannya tidak seperti e-book, yah... setidaknya saya tidak menelantarkan buku-buku fisik tersebut. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, bukan?

Jadi, Buku Fisik atau E-Book?

Setelah panjang lebar menguraikan pengalaman membaca dengan buku fisik dan e-book di atas, sampailah kita pada segmen terakhir dari artikel ini: lebih pilih mana, buku fisik atau e-book nih? 

Hm. Semua kembali kepada pilihan tiap individu. Teknologi muncul sejatinya untuk memudahkan manusia dalam beraktivitas, sehingga perubahan radikal yang dihasilkannya dalam berbagai bidang, harus dipandang sebagai jalan menuju peradaban manusia modern yang efektif dan efisien. Bisnis musik dalam bentuk fisik telah berdarah-darah menghadapi gempuran musik digital, bahkan sebagian besar tokonya memilih tutup, memberi jalan toko musik digital merajalela. Kini, toko musik digital harus kembali menghadapi tantangan baru: layanan streaming, dimana masyarakat tidak perlu lagi membeli musik digital satu per satu, melainkan disediakan langsung akses penuh ke layanan perpustakaan musiknya (alias bisa memutar lagu apa pun yang mereka mau, secara legal!), cukup dengan membayar biaya berlangganan, atau bahkan bisa dinikmati secara gratis dengan risiko susupan iklan. 

Sama halnya dengan buku digital, yang mulai menancapkan kukunya pada peta industri perbukuan. Mungkin di masa mendatang kita akan jarang menemui lagi toko buku fisik, digantikan toko buku online. Duh, untuk prediksi yang ini, semoga tidak terjadi ya, karena saya masih mencintai toko buku dengan segala sensasi menyenangkannya.

Sekali lagi, perubahan akan selalu terjadi, dan kembali ke diri kita sendiri, maukah menerima perubahan tersebut dan menikmati hasilnya? Saya akui, buku fisik memang tak tergantikan, namun karena saya tidak sanggup menanggung beban untuk membawanya kemana-mana, kini saya lebih memilih e-book yang praktis untuk kebutuhan mayoritas buku bacaan, sementara buku fisik menempati posisi kedua. Bahkan, mungkin saja di masa mendatang saya tertarik mencoba mendengarkan audio book. Siapa tahu?

Jadi, jawaban saya apa nih? Mana yang lebih bagus, buku fisik atau e-book? Jawabannya... buku fisik. E-book boleh saja menawarkan seluruh kepraktisan yang bisa disodorkannya, namun untuk urusan kenyamanan tingkat tinggi, tetap buku fisik jagoannya. Jadi, untuk segi praktis, e-book juara, tapi dari segi kenyamanan, buku fisik juaranya, sehingga jika harus dirangkum menjadi sebuah pertanyaan "Bagus mana?" saya akan menjawab, "Bagus buku fisik, lah!"

Mungkin saat ini buku-buku fisik yang ada di rak buku saya sedang bersuka cita dan tersenyum senang mengetahui hal ini. Tapi, bisa jadi juga mereka bersungut, "Tadi awalnya kekeuh banget ama buku fisik, terus berpaling ke e-book yang lebih murah meriah, eh ujung-ujungnya ternyata masih suka buku fisik. Gimana sih? Konsisten dong ama pilihan. Kalo suka buku fisik, ya dibaca dong buku-buku fisiknya, jangan baca e-book mulu! Sempit tahu lemari ini!"

Fiuh. Untunglah dialog itu semua hanya ada di dalam imajinasi saya saja ya, hehe. Eh... tapi, kok saya jadi merinding ya melihat tumpukan buku-buku di rak? Seperti sedang diawasi saja. Apakah mereka benar-benar marah telah ditelantarkan? Tapi saya masih tetap membaca mereka kok, meski cuma beberapa halaman per hari. Serius. Tidak ada alasan bagi mereka untuk marah, kan?

Ah, sudahlah. Kenapa akhirnya malah melantur begini?

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Tidak perlu waktu lama untuk memilih musik apa yang cocok didengarkan untuk menjaga mood tetap muncul sepanjang proses menulis artikel di atas, karena sebuah sajian musik indie rock milik Castlecomer berjudul "Fire Alarm" jelas memenuhi kriteria yang saya butuhkan. Tak disangka, lagu yang dibawakan oleh band asal Australia ini ternyata dengan mudah membuat saya menggali ide menulis dan melancarkan proses mengetik huruf demi huruf di atas keyboard laptop.

Penggalan lirik yang menarik dari lagu ini:
Try to make a little conversation, with the demons in my mind
Everybody has a first word problem, taking up their precious time

sumber gambar: qobuz.com

READ MORE - Maaf Buku-buku di Rak, E-Book Ternyata Lebih Praktis

Senang Kalau Ada Konflik?

sumber gambar: storiesfromschoolaz.org
Kisah "Drama" Kecil Dalam Proses Mengantre

Saya tidak suka mengantre.

Sayangnya, banyak hal dalam hidup ini yang mengharuskan terbentuknya kegiatan mengantre, mulai dari mengantre perizinan ini itu, mengantre naik kendaraan umum, hingga mengantre mendapatkan pelayanan makanan di restoran. Saya ingin menceritakan sedikit "drama" terkait proses mengantre yang sempat saya lihat beberapa saat lalu.

Saat itu, saya sedang mengantre untuk membayar di sebuah minimarket. Saya antre di urutan keempat, begini urutan antreannya agar kalian mendapat gambaran utuh:

Pengantre pertama: seorang laki-laki, mungkin mahasiswa (dia yang sedang dilayani kasir, kebetulan belanjaannya cukup banyak sehingga proses pembayaran agak lama)
Pengantre kedua: Bapak A
Pengantre ketiga: seorang ibu-ibu dengan anak laki-laki kecil
Pengantre keempat: saya
Pengantre kelima: Bapak B

Karena kasir yang melayani hanya satu dan antrian terlihat cukup panjang, salah satu staf minimarket berinisiatif membuka satu layanan kasir lagi untuk membantu. Melihat peluang tersebut, si ibu-ibu dengan anak laki-lakinya (yang mana merupakan pengantre ketiga) langsung bergerak ke kasir kedua, sembari meletakkan barang belanjaannya di meja kasir. Jujur, saya salut dengan kecepatannya membaca peluang, bahkan sebelum si kasir kedua sempat berkata, "Silahkan, bisa disini bayarnya."

Merasa tersalip, pengantre kedua (si Bapak A) kesal. Kurang lebih begini percakapan yang terjadi:
Bapak A : Bu, antre dong, kan harusnya saya duluan!
Ibu         : Saya buru-buru, Pak. Lagian kenapa Bapak ngga bergerak duluan? 
Bapak A : Lha, mana saya tahu kalo mas-masnya buka? (maksudnya, membuka layanan kasir kedua) Mas-nya juga, saya duluan mestinya ini!
Mas Kasir : Maaf Pak, udah terlanjur saya input (sembari tersenyum kikuk).
Ibu          : Ya udah sih Pak, nah tuh udah selesai si mas-masnya (maksudnya, pengantre pertama telah selesai dilayani sehingga si Bapak A bisa membayar di kasir pertama).

Si Bapak A hanya bisa bersungut-sungut kesal. Saya diam saja, tidak berusaha membela pihak manapun. Mungkin seharusnya saya membela si Bapak A, tapi buat apa saya ikut campur lebih lanjut, lagipula kedua-duanya telah dilayani oleh kasir. Saya tahu bahwa si Bapak A kesal karena dua hal: (1) budaya antre harus ditegakkan (2) egonya terluka karena disalip antrean oleh orang lain, sehingga dia berusaha menyelamatkan wibawanya.

Jujur, jika saya berada di posisi si Bapak A, saya mungkin akan diam saja, karena antriannya hanya tinggal satu. Lagipula, sulit rasanya beradu argumen dengan tipe ibu-ibu seperti itu. Lebih baik mengalah, meski seharusnya saya menghormati proses mengantre. Biarlah. Ada kalanya adu argumen tidak akan membuahkan hasil baik jika kita jeli melihat situasi. Menurut saya, akhirnya semua hanya berporos pada satu hal: membela kepentingan diri sendiri, membela ego masing-masing. Konflik akan selalu muncul jika setiap orang maunya menang membela ego.


"Conflict is drama, and how people deal with conflict shows you the kind of people they are
-- Stephen Moyer

Konflik Seperti Terangkum Dalam Film "Night Bus"

Bicara mengenai konflik, saya jadi ingat sebuah film Indonesia berjudul "Night Bus" yang sempat saya tonton belum lama ini. Film ini pernah diputar di layar terbatas saat rilis awalnya di bulan April 2017, namun berkat kemenangannya sebagai Film Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2017, film tersebut kembali dirilis ke publik untuk meraih perhatian lebih banyak orang. Sayang, pemutarannya terbatas. Beruntung saya mendapatkan kesempatan menonton di salah satu bioskop dekat kantor.

Oke. Secara ringkas, "Night Bus" adalah film drama-thriller, bercerita mengenai bus Babad yang membawa supir, kondektur dan sekelompok penumpang warga sipil menuju kota Sampar. Mereka bisa pergi ke sana setelah mengantongi izin berangkat, karena sebelumnya Sampar sempat diselimuti konflik bersenjata antara tentara pemerintah dan kelompok Samerka (Sampar Merdeka). Mereka semua berharap situasi sudah membaik. Saat di tengah jalan, bis disusupi oleh seseorang yang terluka dan mengaku membawa pesan untuk kelompok Samerka. Sejak detik itulah nuansa film bergerak mencekam, dan perjalanan para penumpang bis menjadi perjalanan menembus malam yang tidak sama seperti biasanya, karena kini mereka harus berjuang mempertahankan nyawa.


sumber gambar: sinopsisfilmbioskopterbaru.com
Jika film ini hanya terjebak dalam pakem thriller, mungkin tak ubahnya film slasher/gore kebanyakan. Untunglah sang pembuat film memasukkan unsur drama yang menyuntikkan "nyawa" ke dalam pembangunan film secara keseluruhan. Diadaptasi dari cerpen "Selamat" karya Teuku Rifnu Wikana (yang merangkap sebagai produser, aktor, dan penulis naskah sekaligus, dimana ketiga-tiganya berbuah piala Citra untuknya!), film berdurasi 135 menit ini menjadi sebuah gelaran luar biasa yang menyorot satu tema: konflik.

Konflik digelar sedemikian padat dan tumpang tindih, seakan-akan terus memborbardir penonton dengan nuansa mencekam. Ironisnya, ada saja pihak yang mengambil keuntungan dari konflik semacam itu, sehingga mereka kerap "memeliharanya", berharap agar konflik tidak pernah usai. Film ini menyajikan gambaran demikian.

Selepas menonton "Night Bus", saya jadi bertanya-tanya sendiri: Kenapa ada pihak yang merasa senang kalau ada konflik ya? Kenapa senang kalau ada orang lain bertengkar?



"An eye for an eye will only make the whole world blind"  -- Mahatma Gandhi

Adu Kuat Argumen Dalam Media Apapun

Menurut buku "How To Win Friends & Influence People In The Digital Age" karya Dale Carnegie & Associates (ini adalah penyempurnaan dari buku laris berjudul How To Win Friends & Influence People karya Dale Carnegie di tahun 1936), salah satu cara mendapatkan dan menjaga kepercayaan orang lain adalah: "Hindari argumen"
sumber gambar: peopledynamic.com

Berikut saya kutip salah satu paragraf di halaman 115: "Berdebat dengan orang lain jarang sekali membuahkan hasil untuk Anda, biasanya perdebatan berakhir dengan salah satu pihak semakin yakin dengan kebenarannya. Mungkin Anda benar, amat sangat benar, tapi berdebat sama sia-sianya jika Anda memiliki pendapat yang salah."

Adu argumen bukanlah keahlian saya. Itulah sebabnya saya tidak menyukai tawar-menawar dalam sebuah transaksi perdagangan. Pernah sekali saya menawar harga sebuah barang setelah perang sengit beberapa menit dengan si penjual. Kebetulan barang itu sangat saya inginkan, sehingga saya bersikukuh mempertahankan harga versi pribadi. Merasa bangga bisa menang dalam tawar-menawar harga awal (sebuah kasus yang jarang terjadi bagi saya), kejayaan tersebut luluh seketika saat seorang teman berkata, "Ya elah Bay, lu yang digoblokkin! Gue pernah dapet tu barang lebih murah dari yang lu dapet. Pantesan aja tu penjual mau, masih untung banyak dia."

Hiks. Sejak saat itu, saya tidak terlalu peduli lagi dengan proses tawar-menawar jika memang tidak terpaksa. Saya sadar bahwa diri ini tidak ahli dalam urusan demikian. Contoh lain lagi nih. Jika ada tes psikologi yang memuat sesi penilaian "debat terbuka", saya selalu panik dan berkeringat dingin. Tes tersebut biasanya menyajikan contoh kasus yang harus dipecahkan, dan semua peserta tes HARUS beradu argumen mempertahankan jawaban masing-masing. Bisa dipastikan saya hanya menjadi peserta dengan argumen terlemah, sementara peserta lain sangat berapi-api mempertahankan pendapat.

Kini, setelah membaca buku Dale Carnegie, saya yakin bahwa tidak selamanya sebuah konflik harus memuat adegan lempar argumen. Jika bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan solusi yang lebih beradab (tidak ada perang urat syaraf), kenapa tidak? Pertanyaannya adalah: Bisakah kita menyelesaikannya dengan cara itu? Hm, mungkin pertanyaannya bukan "bisakah", melainkan "maukah...?"

Ah, konflik selalu muncul dimana saja, bukan? Di jalan raya, di sekolah, di kampus, di kantor, di rumah, dan sebagainya. Ada saja pemicunya, dari yang remeh hingga pelik. Di era digital seperti sekarang, konflik bahkan sudah merambah ke dunia maya. Begitu banyak adu argumen yang mengalir deras di internet atas sebuah berita, video, tweet, postingan dan semacamnya, memicu dampak viral di dunia yang katanya tidak dibatasi oleh apapun itu. Terkait hal ini, buku "How To Win Friends & Influence People In The Digital Age" menyinggungnya di halaman 115:

"Kita menghabiskan begitu banyak waktu di internet dengan berdebat atau memberikan argumen."

"Karena adu argumen di dunia digital itu terselubung dan kekurangan konsekuensi yang jelas berupa konfrontasi yang nyata, kedua belah pihak bisa lolos dengan serangan-serangan personal yang sengit serta ketidakjelasan yang pasif -- alat yang paling tidak efektif dalam hubungan manusia."

Bermodalkan selubung anonimitas, banyak orang di internet yang melemparkan argumen ini itu, kerap tanpa disaring dengan akal sehat terlebih dahulu. Yang menggunakan identitas asli pun demikian, mudah sekali melemparkan pernyataan yang memancing konflik, dengan dalih kebebasan berpendapat. Ada saja komentar negatif tentang ini itu, bahkan seorang teman pernah berkata, "Internet mah tempatnya buat nyinyir! Mana ada yang peduli tentang moral? Kan pada ngga tatapan muka."

Untungnya apa ya? Apakah setelah mengeluarkan pernyataan "nyinyir", kita akan dihinggapi perasaan lega karena merasa menjadi pihak yang benar? Jika "nyinyir"-nya ke pihak yang kita kenal, mungkin lain cerita, misalnya ke teman sendiri. Nah, jika "nyinyir"-nya ke orang yang belum dikenal secara pribadi, apa manfaat yang didapat? Mempertahankan kebenaran?


"There's no story if there isn't some conflict" -- Wes Anderson

Memelihara Konflik

Mengacu kasus "drama antre di minimarket" pada contoh di atas, saya jadi bertanya-tanya sendiri, bagaimana kiranya jika si Bapak A dan si ibu tidak melemparkan sindiran satu sama lain? Mungkin proses pembayaran akan berlangsung damai. Atau, bagaimana jika salah satu diantara mereka mengalah? Si Bapak A menahan emosi sejenak, atau si ibu meminta maaf dan mempersilahkan si Bapak A untuk membayar terlebih dahulu? Skenario apapun yang diambil, sepertinya bisa membuat situasi tidak memanas.

Sayangnya, kedua orang itu sudah memasang mode "ego di atas segalanya" terlebih dahulu. Saat si Bapak A merasa tersalip antreannya, dia langsung menegur dengan kesal, karena egonya tersakiti (tegurannya pun bukan secara baik-baik). Si ibu juga tidak mau kalah. Sadar egonya sedang dipertaruhkan, dia balas menegur kesal, padahal ada anak kecil yang sedang menjadikannya panutan keseharian. Ckck. 

Kasus sederhana itu menyadarkan saya bahwa di sekeliling kita, akan selalu ada pihak yang senang membela sampai titik darah penghabisan saat egonya dilukai. Kita cenderung tidak suka merasa kalah, sehingga "pasang badan dulu, logika belakangan" menjadi hal lumrah. Jika demikian, konflik pun tak terelakkan, bahkan untuk hal remeh sekalipun. Ada saja yang dipermasalahkan.

Di dalam film "Night Bus" bahkan lebih parah lagi, diceritakan ada sekelompok orang yang senang memelihara konflik. Benar. Mereka tidak ingin konflik selesai, karena mereka meraup untung banyak dari pecahnya konflik. Itu kondisi dalam film, bagaimana dengan kehidupan nyata? Well, sudah menjadi rahasia umum bahwa di dunia ini, ada saja pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan konflik di negara-negara perang demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Timur tengah dan gerakan-gerakan separatis lain di seluruh penjuru dunia menjadi bukti nyata bahwa konflik HARUS terus ada.

Ah, kenapa topiknya jadi berat begini? Saya bukan ahli politik, hubungan internasional atau semacamnya, namun satu hal yang saya tahu: konflik sering memakan korban tak berdosa (dalam film "Night Bus", tagline-nya adalah "Conflict Doesn't Choose Its Victims"). Dalam kasus "antre di minimarket", si anak kecil tanpa sadar telah menjadi korban, mendapat pemahaman dari ibunya sendiri bahwa "menyalip antrian itu benar dan jika ditegur, pertahankan argumen!"

Itukah yang kita ingin lihat dari generasi mendatang?

Ya sudahlah, semua orang memiliki pendapat masing-masing. Ini pendapat pribadi saya, yang hanya bisa diam melihat perlakuan semacam itu. Mungkin seharusnya saya melerai mereka, dan memberi pemahaman yang baik tentang antre dan adu argumen, sehingga semua merasa tenteram. Tapi karena khawatir masalah akan semakin runyam jika saya turut campur (bisa-bisa si bapak dan ibu malah ganti menceramahi saya), maka saya menggunakan salah satu prinsip yang ditulis Dale Carnegie: Hindari argumen. As simple as that. Hehe.

Jadi, saya menghindari argumen saat itu, keluar dari minimarket dengan sejuta pertanyaan di benak, mengolahnya menjadi ide tulisan, dan inilah hasilnya yang sedang kalian baca. Mungkin saya pengecut karena kabur dari "medan perang adu mulut di kasir minimarket", namun setidaknya saya bisa menyuarakannya lewat tulisan. Lagipula, benar kata Wes Anderson seperti kutipan berwarna hijau di atas: "There's no story if there isn't some conflict". Berkat konflik kecil di minimarket itu, saya malah mendapat bahan untuk menulis artikel di blog.

Hahaha.

Eh tunggu dulu, kalau dipikir-pikir... apakah ini artinya saya ternyata menjadi pihak yang memanfaatkan konflik?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Jika ada musisi yang memiliki kemampuan bermusik dalam tataran "genius", ditunjang dengan keterbatasan fisik yang membuatnya semakin "luar biasa", nama Ray Charles patut dimasukkan ke daftar. Musisi pengusung genre soul yang menggabungkan blues, R&B dan gospel ke dalam musiknya ini berkecimpung di era tahun 1950-an. Meski buta sejak berusia tujuh tahun, Ray secara ajaib diberkahi telinga dan daya tangkap musik yang sangat baik, sehingga dirinya mampu menelurkan banyak karya, salah satunya adalah "Hit The Road Jack", dengan sentuhan R&B dan jazz yang indah. Walaupun ditulis oleh Percy Mayfield, namun Ray berhasil mempopulerkan lagu tersebut ke khalayak umum kala itu, tentu saja dengan sentuhan "musikalitasnya yang ajaib". Saya mendengarkan lagu ini sepanjang proses menulis artikel di atas untuk memperlancar ide.


Kisah hidup dan perjuangan bermusik seorang Ray Charles sudah pernah dibuatkan film tersendiri dengan judul "Ray", dibintangi oleh Jamie Foxx, dimana dia berhasil mendapat piala Oscar untuk kategori Best Performance by an Actor in a Leading Role.


Notable lyric of this song:

Don't you treat me this way
Cause i'll be back on my feet someday
sumber gambar: genius.com











READ MORE - Senang Kalau Ada Konflik?
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.