Itu Cuma Gurauan Kok, Jangan Baper, Ah!

sumber gambar: wiseworkplace.com.au

"Take chances, makes mistakes. That's how you grow" -- Mary Tyler Moore

Sandra Bullock... Oh, Sandra Bullock!

Entah kenapa, ada beberapa film yang saat ditonton ulang untuk kedua kalinya, justru terasa lebih "mengena".

Kasusnya terjadi pada film "Loving Vincent" (yang telah saya ulas di artikel sebelumnya). Kini, kasus kedua adalah film "The Blind Side". Sebenarnya saya sudah pernah menonton film ini bertahun-tahun yang lalu, saat gegap gempita Academy Award 2010 berkembang, dimana sang aktris utama, Sandra Bullock, sukses memperoleh piala Oscar untuk pertama kali melalui perannya di sana. Satu nominasi lagi diperoleh untuk kategori paling bergengsi, Best Motion Picture of The Year alias Film Terbaik, meski harus kalah dari "The Hurt Locker". 

Saat pertama kali menonton, saya tidak menemukan kekuatan drama yang disuguhkan, entah apa yang salah dengan pikiran saya saat itu. Haha. Tipe film perjuangan from zero to hero seperti ini sudah sering dibuat oleh Hollywood, dengan beragam judul dan genre. Jujur, saya tidak terlalu menyukai apa yang disuguhkan "The Blind Side", dengan jalinan kisah standar dan kurang menggigit.

Jadi, saat mencoba menonton ulang, saya memasang ekspektasi rendah, dan terkesima dengan hasilnya! Ternyata, film ini adalah kisah nyata yang diangkat ke layar lebar. Hal yang paling menyentuh saya adalah motif perjuangan Sandra Bullock. Memerankan seorang ibu bernama Leigh Anne Tuohy, dia membuka hatinya untuk menerima keberadaan seorang pemuda kulit hitam, Michael "Big Mike" Oher, pemuda yang dari segi apapun tampak tidak menjanjikan kehidupan berarti. Serius. Leigh Anne sudah memiliki karir sukses, keluarga mapan (seorang suami dan dua anak), namun hati kecilnya menyatakan ada sesuatu yang spesial di dalam diri Michael, sehingga diputuskanlah untuk mengadopsinya sebagai anak. 

Benar, sebagai anak, alias sebagai bagian dari keluarga Tuohy. 

Keputusan tersebut jelas mendapat pertentangan, terlebih dari teman-teman Leigh Anne, yang mencibir tanpa ragu. Jangan lupa, masyarakat Amerika masih bersinggungan dengan isu ras, apalagi keluarga Tuohy dianggap "keluarga berkelas". Meski demikian, Leigh Anne tetap pada pendiriannya, malah dia memasukkan Michael ke dalam klub football, keputusan berani yang akhirnya mengubah hidup pemuda tersebut. 

Oh Sandra Bullock... saya ingin mengucapkan terima kasih. Kekuatan peranmu membuat film ini sungguh terasa personal, karena saya tahu benar bagaimana kegigihan seorang ibu memperjuangan masa depan anaknya.


Salah satu adegan dalam film The Blind Side, dimana Leigh Anne (diperankan Sandra Bullock) sedang mengarahkan Michael bagaimana caranya bermain football yang benar
sumber gambar: cnn.com

"If you are not willing to take the unusual, you will have to settle for the ordinary
-- Jim Rohn


Astaga, Kamu yang Seharusnya Lebih Malu!

Jadi, apa sebenarnya motif Leigh Anne dalam mengadopsi Michael? jawabannya muncul dalam salah satu adegan, dimana ada dialog yang melibatkan Leigh Anne dan teman-temannya (Beth dan Elaine), kurang lebih begini:

Beth            : Menurutku apa yang kamu lakukan itu hebat. Membuka rumahmu untuknya... honey, kau telah mengubah hidup anak itu.

Leigh Anne  : Tidak, dialah yang telah mengubah hidupku.

Elaine         : (tertawa menghina) Dan itu bagus untukmu. Tapi cobalah serius, Leigh Anne, tidakkah kamu cemas pada Collins (putrimu sendiri)? Maksudku, dia adalah gadis cantik berkulit putih, dan dia (Michael) berbadan besar dan berkulit hitam.

Leigh Anne  : Shame on you!

Ungkapan "Shame on you" yang dilemparkan Leigh Anne bisa diartikan menjadi "Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri!" atau "Dasar kau tak tahu malu!", kurang lebih demikian. Dari percakapan di atas, Elaine menganggap bahwa Leigh Anne seharusnya tidak mencampur seorang anak laki-laki berkulit hitam dengan putrinya sendiri yang berkulit putih dalam satu rumah. Elaine khawatir putri Leigh Anne akan merasa terintimidasi dan terhina.

Lihat? Teman Leigh Anne masih terjebak dalam pola pikir rasial, yang dianggapnya benar demi menjaga keutuhan kelas sosial, sementara Leigh Anne tahu kalau pandangan semacam itu salah. Tanpa lempar argumen lebih lanjut, Leigh Anne hanya merespon dengan satu kalimat menusuk: "Shame on you!"

Apakah akhirnya Leigh Anne menyerah? Tidak, sama sekali tidak. Dengan gigih dia memberi Michael pendidikan layak, kebutuhan sandang dan pangan mencukupi, hingga kesempatan bergabung dalam klub football. Mengacu pada dialog di atas, bisa dipahami mungkin saja yang membuat Leigh Anne berjuang mati-matian adalah karena sesungguhnya bukan dirinya yang mengubah Michael, melainkan Michael-lah yang mengubah dia.


sumber gambar: highperformanceadvocates.com
"Nobody can stop you but you. And shame on you if you're the one who stops yourself"
-- Damon Wayans

Serangan Verbal (Menggunakan Kata-Kata) Dalam Suasana Informal Sehari-hari

Melihat karakter Leigh Anne yang dengan berani melemparkan kalimat, "Shame on you!" kepada orang yang telah menghinanya, saya jadi malu pada diri sendiri. Saya belum sampai taraf seperti itu. Kebanyakan serangan verbal yang mengarah ke saya dibalut dalam bentuk gurauan, sehingga seolah tidak serius, padahal bisa saja itu serius. Jika saya langsung melontarkan kalimat, "Dasar, lo ngga tahu malu!" maka pasti balasannya adalah: "Ya elah... gue cuma becanda, bro! Baper amat."

Nah, begitulah. Jadi serangan verbal yang mengarah kepada saya selalu dianggap gurauan, sehingga saya memilih tersenyum miris, atau ikut bergurau. Untuk kasus yang lebih serius, saya memilih tersenyum saja atau diam. Biasanya respon ini lebih ampuh untuk membuat orang tersebut tidak lagi melontarkan serangan verbal seperti itu.

Saya tertarik mengangkat pengalaman seorang teman di kantornya. Jadi begini. Dia adalah seorang karyawan yang berusaha mengeluarkan usaha terbaik dalam pekerjaan. Saat dia terlihat tekun bekerja sementara orang lain memilih malas-malasan di jam kerja (bermain game, mengobrol panjang lebar dengan orang lain, merokok, dan semacamnya), ada seorang karyawan usil berkata, "Kerja itu ngga usah terlalu serius, gaji gue juga ngga jauh beda sama lo, santai aja kali. Masih ada besok!"

Seperti mayoritas serangan verbal dalam kantor, kalimat itu tentu saja dianggap gurauan, sehingga mengundang beberapa teman lain ikut tertawa. Saya sendiri mungkin akan tertawa miris saat diserang seperti itu, namun tidak dengan teman satu ini. Dia langsung membalas, "Yang penting gue kerja bener, ngga makan gaji buta."

Nah, hal-hal seperti itu yang bisa disamakan dengan ungkapan "Shame on you!" milik Leigh Anne. Dalam "The Blind Side", Leigh Anne mendapat serangan verbal berupa rasisme, yang mana itu tampak berat dan serius, sehingga dia melontarkan serangan verbal balasan, bukti keteguhan hatinya membela sikap. 

Oke. Kita selalu menganggap kalau tema SARA adalah tema berat dan tidak seharusnya dijadikan gurauan, namun... hei, bukankah dalam keseharian kita, begitu banyak serangan verbal dalam bentuk gurauan dalam obrolan informal? Tidak berupa SARA kok. Coba saja perhatikan. Apakah kalian familiar dengan gurauan terkait kondisi fisik, selera akan sesuatu hal, jabatan, harta, keturunan, pilihan pendidikan, tingkat kecerdasan dan lain sebagainya? Pokoknya, yang tidak dianggap "berat" dan menggunakan pembelaan "cuma gurauan". 

Bagi para pelontar gurauan, sebagian besar menganggap itu cuma sepele, jadi mereka tidak berharap para korbannya serius menanggapi, apalagi memasukkannya dalam hati. Astaga, apakah saya baru saja menggunakan istilah "korban"? Hm, sepertinya berat sekali ya, tapi memang kenyataanya begitu kok. Meski dalam suasana informal, tetap saja ada pelaku serangan verbal dan ada pula korban serangan verbal. Jujur, saya sendiri pernah berada di kedua sisi tersebut, sebagai pelaku dan juga korban, hehe. Hal-hal semacam itu sudah lumrah soalnya, jadi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, saya jadi merasa bersalah sendiri kepada mereka-mereka yang pernah saya serang secara verbal.

Kenapa saya mengangkat isu ini? Karena beberapa waktu belakangan, saya pernah menjadi korban dalam sebuah serangan verbal bertubi-tubi yang cukup menusuk perasaan. Ironisnya, sang pelaku tidak merasa saya terluka (mungkin karena saya tertawa kikuk saat itu), sehingga dia bebas mengoceh sesuka hati. Setelah saya analisa mendalam, ternyata si pelaku ini kerap melontarkan serangan verbal juga ke orang lain, dan dia tidak menganggapnya serius. Analisa lebih lanjut didapat sebuah kesimpulan: bisa jadi ini karma bagi saya, karena dulu pernah mengoceh sesuka hati kepada beberapa orang, menganggapnya sebagai gurauan, padahal bisa saja orang itu terluka secara batin.

Waduh. Jadi ini semacam pembalasan sepertinya, sebuah pengingat dari Tuhan.

Oke. Melalui artikel ini, saya ingin berterima kasih kepada si pelaku serangan verbal ke saya itu (tidak perlu diumbar identitasnya), karena atas jasamu, saya merasakan sendiri pedihnya hati diiris oleh lisan. Serius. Butuh waktu lama untuk kembali memompa semangat positif dan bangkit. Kini, saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya berusaha tidak akan melontarkan serangan verbal ke orang lain, meski sebatas gurauan (batasnya sendiri masih agak kabur, jadi saya dalam tahap belajar juga). Saya akan berusaha memproses semua dulu dalam otak, sebelum terlontar oleh lisan. 

Bagi saya, pilihan hidup orang lain adalah pilihan mereka sendiri, selama mereka yakin dan teguh akan pendiriannya. Termasuk mereka-mereka yang percaya diri akan kondisi fisiknya, selera memilih sesuatu, pola pikir, asmara, finansial, dan pernik hidup lain. Saya memandang orang demikian dengan hormat, tidak berani mencampuri lebih dalam urusan hidupnya kecuali diizinkan untuk menyumbang saran. Tidak perlu menghakimi dengan membabi buta pula juga, karena saya sendiri pun masih bergulat dengan permasalahan hidup sendiri.

Well, sebagai penutup, mari kembali lagi ke pembahasan karakter Leigh Anne dalam film "The Blind Side". Beranikah kita seperti dirinya yang melontarkan kalimat "Shame on you" pada mereka yang mencibir? Leigh Anne yakin bahwa tindakannya benar dan manusiawi, saat orang lain justru mempertanyakan "ketidaknormalan perilakunya". Saya sendiri sih belum berani, hehe, karena ya itu tadi... serangan verbal yang diterima lebih sering berada dalam suasana informal, sehingga jika saya melontarkan serangan balasan semacam: "Dasar, lo ngga tahu malu udah ngomong begitu!" maka dapat dipastikan jawabannya adalah...

"Ya elah, baper amat sih lu! Gue cuma bercanda kali..."

Begitulah. Lagipula, mayoritas serangan verbal yang mengarah ke saya sepertinya gurauan semata kok, jadi... ya sudahlah. Untuk saat ini, bertahan dari serangan verbal tampaknya lebih mudah ketimbang melontarkan balasan berupa, "Shame on you!" 

Hm... atau mungkin di masa mendatang, saat serangan verbal tersebut sudah masuk ranah yang berat, saya akan mengingat karakter Leigh Anne dan mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan, "Shame on you!". Dengan demikian, saya bisa tahu bagaimana rasanya setelah melemparkan balasan semacam itu.

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Vladimir John Ondrasik III atau dikenal dengan nama panggungnya, Five For Fighting, kerap menghasilkan musik-musik alternative soft rock dengan iringan piano yang kental, disertai lirik indah. Salah satu karya dari musisi asal Amerika Serikat ini berjudul "Chances", lagu bernapaskan pop rock yang lebih dulu muncul di album Slice, sebelum akhirnya diboyong ke dalam album soundtrack "The Blind Side". Lagu ini muncul saat credit title bergulir di akhir film. Lirik dan aransemennya yang menyentuh membuat saya terus-menerus memutarnya sepanjang proses menulis. 

sumber gambar: movieinsider.com
READ MORE - Itu Cuma Gurauan Kok, Jangan Baper, Ah!

Jangankan Memperjuangkan Minat, Menemukannya Saja Belum Tentu Berhasil

Salah satu sudut dalam museum Van Gogh di Amsterdam, Belanda
sumber gambar: pinterest.com
"What would life be if we had no courage to attempt anything?" -- Vincent Van Gogh

Film Animasi "Loving Vincent" yang Dibuat dengan Kreatifitas Tinggi

Film animasi selalu menarik perhatian saya.

Dari semua film animasi yang pernah saya tonton, baru ada satu film yang mampu menyihir saya sedemikian rupa saat melihat adegan demi adegannya, yakni film "Loving Vincent". Adegannya dibuat menggunakan LUKISAN TANGAN DENGAN CAT MINYAK! Saya paham bahwa melukis satu kanvas penuh saja butuh proses yang tidak sebentar. Bayangkan jika kita harus melukis setiap adegan demi adegan film!

Nyatanya, itulah yang dilakukan 125 pelukis profesional dari berbagai penjuru dunia (sayangnya, dari Indonesia tidak ada) di studio Loving Vincent di Polandia dan Yunani. Mereka memilih 120 karya asli Vincent Van Gogh untuk ide dasar adegan demi adegan. Setelah itu, aktor dan aktris terpilih akan memerankan tiap adegan dalam studio berlatar green screen. Hasil pengambilan gambarnya akan dipoles oleh bantuan CGI (Computer-Generated Imagery) untuk detail lokasi, properti dan lainnya. Kemudian, proses kreatif nan melelahkan pun dimulai: menyerahkan hasil adegan film kepada para pelukis, untuk dilukis setiap pergerakan adegannya dengan lukisan cat minyak, manual! Hasil kerja keras tersebut menghasilkan 65.000 frame yang menjadi dasar pergerakan animasi.

Ckck. Bukankah itu bisa disebut sebuah proyek ambisius dan penuh perjuangan? Hebatnya lagi, semua adegan dilukis menggunakan gaya khas sapuan kuas Vincent Van Gogh, karena memang film ini didedikasikan untuk mengenang dirinya.

Proses melelahkan para pelukis di dalam studio untuk film "Loving Vincent"
sumber gambar: nightflight.com
Saya mengetahui film ini pertama kali melalui ajang Academy Awards (Oscar) 2018, karena film tersebut dinominasikan dalam kategori "Best Animated Feature Film". Saat menontonnya di bioskop pun saya hanya tertarik akan pergerakan animasinya. Indah sekali. Jujur, saya tidak mengenal siapa itu Vincent Van Gogh. Hehe. Yang saya tahu, dia adalah salah satu pelukis terkenal di dunia. Itu saja. 
Dari kiri ke kanan: Perbandingan karya asli ("Portrait of Armand Roulin" - 1888), tampilan di adegan dan foto pemeran di studio green screen
sumber gambar: aintitcool.com
Saat ditonton, alur film cukup membosankan , pokoknya tidak terlalu spesial. Di beberapa adegan bahkan saya tertidur (mungkin pengaruh menonton di malam hari juga). Entahlah, seperti ada sesuatu yang kurang. Saya menikmatinya sebatas melihat keindahan tampilan lukisannya saja, tidak lebih. Kenapa juri Oscar menganggapnya menarik?

Beberapa bulan kemudian, tanpa sengaja saya menemukan e-book "Lust For Life" saat sedang mencari buku untuk dibaca. Novel karya Irving Stone yang terbit di tahun 1934 ini mengisahkan tentang kehidupan Vincent Van Gogh. Saya jadi teringat salah satu adegan dalam film "Loving Vincent", saat Marguerite Gatchet (diperankan Saoirse Ronan) berkata pada Armand Roulin (diperankan Douglas Booth): "Kau ingin tahu lebih banyak tentang kematiannya (Vincent Van Gogh), tapi apa yang kamu ketahui tentang kehidupannya?"

Benar sekali. Bisa jadi saya tidak memahami film "Loving Vincent" karena saya tidak mengenal siapa itu Vincent Van Gogh, mengetahui satu karyanya pun belum pernah. Jadi, apa salahnya mencoba mencari tahu? Saya pun bertekad mengenal siapa sebenarnya pelukis itu melalui novel "Lust For Life". Hasilnya? Sukses menjungkirbalikkan emosi saya, dalam artian positif! Novel ini sungguh menyentuh. Akhirnya, saya menonton ulang "Loving Vincent" dan... tersenyum senang karena mulai bisa mengikuti alurnya, sekaligus memahami adegan demi adegan. Ah, terasa sangat indah begitu ditonton kedua kalinya.

sumber gambar: ebooks.gramedia.com
"Great things are done by a series of a small things brought together" 
-- Vincent Van Gogh

Untuk Memahami Seseorang, Kita Harus Mengenal Lebih Dalam Tentang Kehidupannya

Vincent Willem Van Gogh adalah seorang pelukis beraliran pasca-impresionis asal Belanda. Di dalam novel, kita diajak menyelami kehidupannya, mulai dari penyalur karya seni di London (Inggris), sebagai misionaris Kristen di Borinage (Belgia), keterlibatan penuh awal sebagai pelukis di Etten (Belanda), pembelajaran melukis dan percobaan dengan cat minyak di Den Haag (Belanda), ketekunan melukis di Nuenen (Belanda), perkenalan dengan para pelukis lain di Paris (Perancis), eksperimen dengan warna cerah di Arles (Perancis), masa depresi di Saint Remy (Perancis) hingga masa akhir hidupnya yang kelam di Auvers (Perancis).

Ada satu poin yang menarik untuk dibahas dari novel ini, yakni passion atau minat. Setelah menggeluti beberapa profesi, Vincent akhirnya sadar bahwa dunianya berwarna cerah saat dirinya melukis. Awalnya, dia hanya iseng membuat sketsa para penambang batu bara di Borinage. Ledakan gairahnya itulah yang akhirnya membuat dia sadar akan minatnya: menangkap ekspresi dan nyawa semua yang terlihat oleh matanya, menjadi sebuah lukisan.

Berikut saya kutip perkataan Vincent kepada adiknya, Theo, mengenai minat melukis ini (halaman 136):

"...Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku. Tapi kini aku telah mengerti satu hal dimana aku tidak akan pernah gagal."

"The Self Portrait" (1889), salah satu karya terkenal dari Vincent Van Gogh, sekaligus menunjukkan potret dirinya sendiri
sumber gambar: en.wikipedia.org
Itulah yang membuat Vincent akhirnya melukis bagai kesetanan, dalam artian dia melukis seolah tidak akan ada hari lain. Dengan gigih dia menggoreskan sketsa demi sketsa; mempelajari teknik melukis melalui pelukis lain dan juga hasil lukisan mereka; menuangkan apa yang dilihatnya ke atas kanvas; bereksperimen dengan guratan, emosi subyek, sapuan warna, teknik pencahayaan; juga menanamkan kepercayaan pada dirinya sendiri bahwa lukisannya akan semakin baik dari hari ke hari.

Berikut kutipan pemikiran Vincent yang saya ambil dari halaman 442:

"... Dia tidak puas dengan dirinya sendiri dan apa yang sedang dilakukannya, tetapi dia tetap memiliki sedikit harapan bahwa akhirnya itu akan lebih baik."

"...Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya.

Ada kalanya Vincent memang sempat menyerah saat mengetahui hasil lukisannya tidak mengalami kemajuan, namun berkat dorongan motivasi sang adik, akhirnya dia kembali bangkit dan meneruskan disiplinnya dalam melukis. Menyerah dan bangkit. Terus melukis tanpa lelah. Mungkin itulah sebabnya dia menjadi seorang pelukis sejati.

Vincent hidup untuk melukis, bukan melukis untuk hidup, karena -- seperti yang tertera di novel -- keadaan finansialnya tidak bagus. Sepanjang hidupnya, Vincent hanya berhasil menjual satu karya! Kerap kali dia menahan lapar berhari-hari karena tidak memiliki uang untuk sekedar membeli roti atau kopi hitam. Itu semua tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melukis, hebat sekali.

Coba simak kutipan di bawah ini (halaman 442):

"Hasrat untuk sukses telah meninggalkan Vincent. Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya."

"...dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya -- kekuatan dan kemampuan untuk mencipta."

Wah. Jika saya menjadi Vincent, mungkin saya sudah menyerah dengan kondisi yang ada. Haha. Oh, jangan lupakan satu kendala lagi: Vincent sudah kenyang mendapat cibiran dari orang lain terkait kecintaannya pada melukis dan kemelaratan yang dia derita. Dia bahkan dicap aneh, gila, pengangguran liar dan semacamnya.

Apakah Vincent gentar? Tidak, karena masih ada satu orang di dunia yang menganggapnya hebat dan sepenuhnya waras, yakni Theo, adiknya sendiri sekaligus malaikat penyelamat. Jadi, banjiran makian tidak menjadi masalah selama Theo masih menyiraminya dengan kasih sayang. Theo sendiri bisa dibilang sebagai satu-satunya orang yang setia mendukung Vincent secara finansial maupun emosional sepanjang hayatnya. Theo menjadi satu titik kelemahan terbesar Vincent, yang pada akhirnya justru menyeret dia ke dalam jurang depresi saat mengetahui sang adik tertimpa cobaan hidup. Theo ibarat matahari bagi Vincent. Vincent boleh saja terpuruk, namun matahari akan selalu dapat menyinarinya. Justru saat sinar matahari meredup, Vincent otomatis kehilangan arah.

Ah, saya merinding sendiri saat menuliskan artikel ini. Novel "Lust For Life" sungguh bagus, menyajikan kisah pilu Vincent Van Gogh. Ternyata tidak semua pelukis besar benar-benar "berjaya" di masa hidupnya ya. Saya pikir Vincent Van Gogh menuai kesuksesan saat dia hidup, nyatanya tidak. Hidup Vincent bisa dibilang "menyakitkan dan tragis". Saat membaca bagian dimana Vincent mendapat kebahagiaan, saya ikut merasa bahagia, sementara saat Vincent ditimpa kemalangan, saya ikut sedih. Ini terdengar konyol, namun itulah yang saya rasakan. 

Mungkin memang benar bahwa untuk memahami seseorang, kita harus menyelami kehidupannya terlebih dahulu. Bisa jadi kita menganggap seseorang bodoh dan kikuk, padahal nyatanya dia berwawasan luas. Lihat apa yang terjadi pada nama harum Vincent Van Gogh kini. Dia dianggap sebagai pelukis besar aliran pasca-impresionis, dan harga lukisannya bisa mencapai triliunan rupiah! Sebuah museum didirikan untuk mengabadikan karyanya, dan banyak pelukis menjadikannya idola. Luar biasa. 

Kegigihan memperjuangkan minatlah yang membawa Vincent hingga sejaya ini. Ironisnya, semua dia peroleh setelah dirinya meninggal dunia.

"I put my heart and my soul into my work, and have lost my mind in the process"
-- Vincent Van Gogh
"The Starry Night" (1889), salah satu karya paling terkenal dari Vincent Van Gogh yang banyak diperbincangkan dan dianalisis pecinta seni
sumber gambar: en.wikipedia.org

"Life always brings difficulties, that is true, but the good side of it is that it gives energy"
-- Vincent Van Gogh

Apa Minat Kamu dalam Hidup?

Oh, itu pertanyaan membingungkan. Saya sendiri pasti akan susah menjawabnya. Saya menyukai hal-hal seperti menonton film, membaca buku, menulis dan hal-hal yang terkait dengan unsur kreatifitas, tapi jika harus disimpulkan menjadi sebuah minat, ehm... saya sendiri belum yakin. Apakah menulis adalah minat saya? Bisa jadi, soalnya saat menulis sebuah artikel, saya merasa tenggelam dalam dunia lain, dunia dimana hanya saya saja yang bisa menikmatinya.

Oke, jika memang menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan dan menyebarkan manfaat ke orang lain adalah minat saya, lalu mengapa saya masih merasa kurang percaya diri menunjukkannya ke orang lain? Menurut saya, minat akan membuat kita berseri-seri saat memberitahukannya ke orang lain. Bagi saya, tidak demikian. Seringkali saya menutup rapat tulisan yang saya buat, bahkan tidak menginginkan sembarang orang melihatnya. Konyol memang, apalagi media ini adalah blog, dimana penyebarannya melalui internet, dan internet bisa diakses siapa saja. Haha. Ditambah, saya juga belum berniat memonetisasi minat ini.

Begitulah. Intinya, saya sendiri masih meragukan minat dalam hal tulis-menulis. Mungkin saya harus menyerap semangat Vincent Van Gogh dalam memperjuangkan minat, agar saya menjadi penulis yang konsisten dan terus belajar memperbaiki diri, tak peduli hujatan orang lain, dan memang berkarya karena sudah menjadi kewajiban.

Atau... jangan-jangan ini memang minat saya, namun saya tidak berani mengakuinya? Mungkin tekanan internal dalam diri yang mengkerdilkan minat ini. Jika Vincent Van Gogh saja mau berusaha melukis setiap hari, setiap saat, bahkan dalam keadaan lapar sekalipun... akankah saya melakukan hal yang sama dalam menulis? Apakah saya berani memperjuangkan keinginan ini dan terus maju, apapun resikonya? 

Entahlah. Saya harus berkontemplasi lebih dalam jika menyangkut masalah minat, masih terus mencari. Saya pernah membaca bahwa menemukan minat adalah proses yang harus melibatkan kejujuran diri sendiri, dan tidak ada satu orang pun yang dapat menerka minat orang lain selain orang itu sendiri. Tes secanggih apapun hanya akan mencoba mengarahkan, bukan memutuskan. Artinya, pencarian minat adalah murni perjalanan ke dalam diri sendiri, menanyakan pertanyaan sama terus-menerus: apa sesungguhnya minat saya dalam menjalani hidup?

Aduh, berat sekali ya pertanyaannya. Jangankan berkontemplasi mencari minat dalam hidup, kebanyakan kita justru memikirkan isu lain, mulai dari remeh hingga besar, bukan? Akui saja, pencarian minat sepertinya bukan sesuatu yang penting di masyarakat kita. Sedari kecil, kadang kita menemukan hal-hal menarik dari sebuah aktivitas, yang mungkin saja berawal dari hobi, dan menjurus ke arah minat untuk dijadikan profesi suatu saat... namun seiring pendewasaan diri, tidak semuanya berhasil mempertahankan minat tersebut. 

Atau lebih tepatnya, tidak semua orang diperbolehkan mengikuti kata hati untuk meneruskan minat tersebut sebagai profesi. Pola pikir masyarakat kita masih berkutat pada profesi-profesi yang dianggap menguntungkan secara finansial dan berada dalam zona aman, tidak benar-benar profesi yang sejalan dengan minat kita. Lagipula, siapa yang mau repot-repot mencari tahu minat diri sendiri saat setiap hari harus disibukkan mengurus masalah sandang, pangan dan papan?

Pada akhirnya, sebagian besar dari kita menyerah pada keadaan, mengikuti arus, mengekang minat ke dalam penjara terdalam di hati. Minat tersebut, yang benihnya bisa saja muncul sejak kanak-kanak, menjadi lemah karena tidak dipupuk setiap hari. Dan... jadilah sebuah masyarakat seperti yang jamak kita lihat saat ini, dimana hidup sekedar untuk memastikan sandang, pangan dan papan terpenuhi, karena memang itulah yang selalu menjadi isu paling penting dalam hidup. Perjuangan untuk memenuhi standar ekonomi masyarakat, bukan perjuangan memenuhi minat. Akan selalu ada seribu alasan untuk menyalahkan berbagai pihak, bukan malah merenungkan kenapa minat tersebut tidak diperjuangkan.

Jadi, pertanyaan yang lebih tepat saya ajukan sekarang bukanlah "Apa minat kamu dalam hidup?" melainkan: "Apakah kamu sudah menemukan minat kamu dalam hidup, dan berani memperjuangkannya?"

-Bayu-





Catatan selama proses menulis:


Saya mendengarkan album soundtrack "Loving Vincent" yang berisikan materi komposisi karya Clint Mansell selama proses menulis artikel di atas.

Mengingat film "Loving Vincent" adalah sebuah persembahan indah dan penuh seni dari ratusan pelukis dunia dan pengagum karya Vincent Van Gogh, maka musik pengiringnya pun dibuat dengan baik untuk mengiringi adegan demi adegan. Dari 14 musik score yang ada di album, saya sengaja memutar dua lagu terus-menerus, yakni "The Night Cafe" dan "The Yellow House", karena musiknya sungguh menenangkan dan menghanyutkan. Daya magisnya sanggup membuat saya menulis nyaris tanpa henti.

Saya tidak tahu apa saja yang menjadi inspirasi Clint Mansell saat menyusun komposisi kedua musik score tersebut, tapi yang pasti keduanya mengalun indah dengan caranya masing-masing.
sumber gambar: amazon.com

READ MORE - Jangankan Memperjuangkan Minat, Menemukannya Saja Belum Tentu Berhasil

Akui Saja, Kita Semua Memang Punya Masalah Hidup Masing-Masing

Samudera yang luas terlihat indah dari permukaan, namun tidak ada yang tahu seberapa kelam isinya. Kurang lebih seperti itulah kehidupan seseorang.
sumber gambar: videezy.com
"It is better to offer no excuse than a bad one" -- George Washington


Fenomena Serial Drama "Big Little Lies"

Saya tidak terlalu banyak menonton serial televisi, baik lokal maupun internasional. 

Menurut saya, menonton film lebih mengasyikkan, karena ceritanya langsung dapat dipastikan habis dalam durasi pemutaran yang dibatasi jam. Yah, meskipun ada film yang memiliki akhir cerita menggantung, setidaknya jika kita membicarakan judul satu film, kita tahu bahwa ceritanya berkisar tentang apa saja yang terjadi sepanjang durasinya, tidak lebih. Hal berbeda jika kita membicarakan serial televisi. Sudah menjadi petunjuk tak tertulis bahwa kita harus menonton keseluruhan episode dalam serial tersebut untuk dapat memahami inti ceritanya.

Begitulah. Itu yang menyebabkan saya kurang tertarik mengikuti serial televisi, khawatir tidak konsisten mengikuti perkembangannya. Jadi, saat Emmy Award 2017 tahun lalu mengumumkan deretan pemenangnya untuk kategori komedi, drama, seri terbatas dan film untuk televisi, saya hanya membacanya sepintas lalu, tidak seantusias melihat nama pemenang Oscar atau Grammy. Jika kalian belum tahu, Emmy Award adalah penghargaan untuk insan pertelevisian di Amerika Serikat. Gengsinya setara dengan Oscar (untuk film), Grammy (untuk musik), dan Tony (untuk teater). Sehingga, jika ada orang yang bisa memenangi keempat piala tersebut sepanjang hidupnya (disebut EGOT, gabungan dari inisial keempat acara), bisa dipastikan dia memiliki bakat emas di bidang hiburan.

Kembali ke Emmy Award 2017. Saya membaca deretan pemenangnya. Veep, The Crown, Saturday Night Live, Big Little Lies, Atlanta, The Handmaid's Tale... ah, oke. Saat itu sebenarnya saya sudah menangkap pola unik: banyak pemenang dari "The Handmaid's Tale", juga "Big Little Lies". Oke. Sampai disitu saja. Tidak ada keinginan dan kebutuhan untuk mencari tahu tentang kedua serial tersebut.

Nyatanya.... semua berubah saat saya mendengar lagu Michael Kiwanuka berjudul "Cold Little Heart" melalui Spotify suatu hari. Saya sungguh menyukainya, dan penasaran mencari tahu lebih lanjut. Ada satu fakta menarik yang saya temukan: Lagu ini menjadi lagu pembuka di serial "Big Little Lies"! Ingatan saya langsung kembali ke hasil pemenang Emmy Award. Wah, saya cukup terkejut lagu "Cold Little Heart" bisa ditempatkan menjadi lagu pembuka. Bukan meremehkan, hanya saja melalui poster "Big Little Lies" yang ada di internet, saya merasa serial itu berisikan drama antar wanita yang mungkin memuat dialog-dialog panjang (termasuk gosip) dan permainan emosi melalui teriakan dan makian. Ini poster yang saya maksud:


sumber gambar: pinterest.com
Ketiga mata wanita di dalam poster (dari kiri ke kanan: Nicole Kidman, Reese Witherspoon dan Shailene Woodley) terlihat misterius, terutama Nicole Kidman. Jelas bukan deretan pemain biasa, kalau boleh dibilang. Dua diantaranya adalah aktris papan atas, yaitu Nicole dan Reese, yang sudah pernah mencicipi kebahagiaan membawa pulang piala Oscar. 

Jika lagu "Cold Little Heart" yang bernuansa sedikit kelam dipasang sebagai pembuka serial dengan poster di atas, pikiran saya langsung menyimpulkan sesuatu: sepertinya ini bukan serial televisi biasa saja. Sorot mata mereka pasti menyimpan sesuatu, apalagi tagline-nya adalah: "Kehidupan yang sempurna berarti kebohongan yang sempurna". Nah lho, apa maksudnya itu? Sedikit demi sedikit, penasaran mulai merasuk dalam benak, dan akhirnya saya mendapat fakta menarik: lima pemain serial ini dinominasikan dalam Emmy Award dan Golden Globe Award, dengan hasil tiga pemain berhasil memperoleh piala di kedua ajang tersebut: yakni Nicole Kidman (Lead Actress), Alexander Skarsgard (Supporting Actor) dan Laura Dern (Supporting Actress). Dua lainnya harus puas hanya masuk nominasi, yakni Reese Witherspoon (Lead Actress) dan Shailene Woodley (Supporting Actress).

Ditambah, serial ini memenangkan Emmy Award untuk kategori "Outstanding Limited Series", artinya Serial Terbatas/Miniseri Terbaik. Apakah saya harus menontonnya? Hm... Entahlah.

Seolah menggoda saya, kanal HBO Signature suatu hari menayangkan seluruh episode "Big Little Lies" lengkap, maraton selama dua hari untuk total tujuh episode. Apakah ini semacam tantangan? Bisa jadi. Saya mengatur waktu untuk menonton semua episodenya, dan sungguh terkesima. Ternyata menonton tanpa ekspektasi apa pun bisa membuat saya terkejut akan hasilnya.

Penelusuran lebih lanjut melalui internet membuahkan hasil lagi: serial ini ternyata diadaptasi dari novel laris karya Liane Moriarty, penulis asal Australia yang karyanya telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Novel "Big Little Lies" berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan kemudian diangkat menjadi serial televisi populer. Ah, saya selalu suka pada materi film/serial yang diangkat dari bahan tulisan. Tertarik untuk menelusuri kisah aslinya, saya akhirnya membaca buku tersebut.

sumber gambar: ebooks.gramedia.com

"The mistake ninety-nine percent of humanity made, was being ashamed of what they were, lying about it, trying to be somebody else"
-- J.K. Rowling

Hati-Hati, Satu Masalah yang Disembunyikan Erat Bisa Menjadi Sebuah Bom Waktu

Inilah yang bisa saya rangkum setelah membaca novel dan menonton serial "Big Little Lies". Kisahnya berpusat pada tiga wanita utama, sesuai poster di atas: Celeste (diperankan Nicole Kidman), Madeline (diperankan Reese Witherspoon) dan Jane (diperankan Shailene Woodley). Ketiga wanita tersebut adalah ibu dari anak-anak yang masih duduk di bangku TK. 

Kita akan disuguhi kisah Madeline yang cerewet, penuntut dan emosional menghadapi keluarganya dan keluarga mantan suaminya; kisah Jane yang pendiam dengan masa lalu kelam, serta harus berjuang membuktikan anaknya bukanlah seorang perisak (pelaku bullying); dan terakhir... kisah Celeste. Dari ketiga wanita utama, mungkin Celeste adalah sosok yang paling terlihat sempurna dari luar: cantik, pintar, kaya, suami tampan, tidak sombong, kedua anak kembar yang sehat... bisa dibilang sempurna, bukan?

Ternyata, kesempurnaan Celeste itu justru menyimpan banyak luka. Yang tidak disadari Madeline dan Jane, Celeste harus berjuang menghadapi suaminya yang berperilaku sopan di luar, namun saat di rumah... bisa bertindak kejam (ini bukan spoiler, karena ending twist-nya lebih mengejutkan). Celeste lihai menutupi semuanya, bahkan dari sahabatnya sendiri. Saat kejadian demi kejadian terus merusak jiwa dan fisiknya, Celeste mulai meragukan kehidupan pernikahan dia sendiri. Demi melindungi kedua putranya, Celeste merencanakan sesuatu, sebuah rencana yang tanpa disangka malah menyeret Madeline dan Jane ke dalam pusaran konflik yang lebih menakutkan, karena berujung pada hilangnya nyawa seseorang. Wow.

Oke, dari beberapa isu yang coba diangkat Liane Moriarty di dalam novel (dan kesemuanya merupakan isu berbobot, harus diakui), saya tertarik membahas mengenai citra diri. Isu ini mungkin tidak sesanter isu lainnya jika membicarakan "Big Little Lies", namun cukup menggelitik saya. Mengapa? Karena sedemikian dekatnya isu ini dengan kehidupan sehari-hari, dan mungkin cenderung dianggap remeh.

Selain itu, saya coba memfokuskan hanya pada karakter Celeste, sebuah karakter yang membuktikan bahwa penampilan seseorang tidaklah mencerminkan kondisi kehidupan pribadinya. Celeste selalu mengalihkan pikirannya dari masalah dengan menganggapnya enteng. Dia merasa bahwa apa yang dialaminya banyak dialami orang lain juga, hanya sebuah masalah biasa dalam pernikahan. Baik Celeste maupun suaminya, Perry, sama-sama ingin menampakkan yang baik-baik saja di luar. Celeste tidak ingin orang lain mengasihani dan mengetahui masalah yang dia alami, karena... sekali lagi, bisa saja semua orang mengalaminya juga. Bukan masalah besar.

Berikut kutipan yang diambil dari halaman 429 mengenai isu di atas:


Perry sudah memasang foto mereka memakai kostum di Facebook. Itu akan membuat mereka terlihat sebagai orang yang mempunyai selera humor, lucu, menyenangkan, tidak terlalu serius, serta peduli terhadap sekolah dan masyarakat setempat. Foto itu melengkapi foto-foto lain yang dipasang tentang perjalanan mereka ke luar negeri serta acara-acara kebudayaan yang mahal. Malam kuis di sekolah adalah acara yang tepat untuk pencitraan saja.

Kutipan lain diambil dari halaman 71:

Celeste tidak perlu berpura-pura senang. Apa pun yang suaminya pilih pasti sempurna. Ia selalu bangga dirinya mampu memilih kado dengan tepat, tetapi Perry lebih jago lagi. Saat terakhir kali pergi ke luar negeri, Perry menemukan tutup botol sampanye pink yang sangat menyolok. "Aku melihatnya sekilas dan langsung teringat Madeline," katanya. Tentu saja Madeline menyukainya. Hari ini akan sempurna dalam segala hal. Foto-foto Facebook tidak akan berbohong. Penuh suka cita. Hidup Celeste penuh suka cita. Itu fakta.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Celeste menanamkan kepercayaan bahwa hidupnya penuh suka cita. Hidupnya sempurna, seperti terpampang pada foto-foto di Facebook yang Perry pasang. Celeste menghindari pemikiran negatif mengenai perilaku kejam suaminya, tidak menceritakannya kepada orang lain, menanggung semua luka sendiri.

Celeste tidak sadar, bahwa permasalahan yang disembunyikannya bisa jadi adalah... sebuah bom waktu. Tik tok. Tik tok.

Jejak di pasir bisa dihapus, namun tidak dengan kenangan atau trauma, apalagi yang terkelam
sumber gambar: dreamstime.com


"The rules are simple: they lie to us, we know they're lying, they know we know they're lying, but they keep lying to us, and we keep pretending to believe them"

-- Elena Gorokhova


Semua Orang Punya Masalah, Termasuk Diri Saya Sendiri

Meski Celeste tahu kehidupannya bermasalah, dia memasang tameng pertahanan, yang akhirnya membentuk aturan tak tertulis mengenai citra diri dia di depan publik: "Tampilkan yang baik, jangan biarkan mereka melihat sisi rapuh dan buruk diri saya. Jangan beri mereka bahan untuk bergunjing."

Coba kalian simak dialog di bawah ini (ada di dalam salah satu episodenya yang berjudul "Burning Love"), dimana saat itu Celeste sedang berbincang dengan konselor pernikahan, yang terkejut mendapati Celeste baru paham mengenai tingkah laku suaminya:

Konselor: Aku tidak mengerti mengapa kamu baru menyadarinya sekarang, karena aku jelas merasakannya. Apakah kamu telah memberi tahu orang lain mengenai penyerangan ini?

Celeste: Tidak.
Konselor: Kenapa tidak?
Celeste: Aku tidak tahu.
Konselor: Coba cari tahu jawabannya.
Celeste: Mungkin harga diriku muncul dari bagaimana orang lain melihatku.
Konselor: (tertawa kecil) Maaf. Aku hanya kagum pada pasien yang memiliki kesadaran diri yang besar di balik cangkang keras penolakan.

Nah, itu dia. Kalimat yang berwarna biru menunjukkan jawaban mengapa Celeste menyimpan semua masalahnya sendiri. Celeste tidak ingin orang lain tahu bahwa dirinya bermasalah, bahwa rumah tangganya hancur dari dalam, bahwa dirinya sama rapuh seperti orang lain, bahwa kehidupannya tidak sempurna seperti yang orang lain kira. Semua itu tersembunyi dalam selubung cangkang nyaman.

Celeste tidak ingin harga dirinya hancur, itu saja.

Apakah membangun cangkang kerahasiaan ini bagus? Bisa iya bisa tidak. Bagus untuk kepentingan menyembunyikan rahasia, karena rahasia tidak seharusnya diumbar begitu saja. Buruk jika kita menyimpannya terlalu lama dan tidak pernah dikeluarkan dalam cara yang sehat. Hal tersebut bisa menggerogoti kita dari dalam, dan sampai saatnya tiba, semua akan pecah meluap, menimbulkan konflik lain. Mungkin ada baiknya coba disalurkan dengan cara yang sehat, bisa dengan menemui mereka yang lebih paham, atau sekedar bercerita kepada orang terpercaya. Bisa juga mendekatkan diri pada ajaran agama, karena bisa jadi jiwa kita sedang butuh penyegaran dan tuntunan batin. 

Jika disambungkan dengan kehidupan orang lain di sekeliling kita, mudah menemukan cangkang-cangkang semacam itu, bukan? Karena saya yakin, hampir semua orang melakukannya. Kita bersembunyi di cangkang aman masing-masing. Yang membedakan hanya ketebalannya saja. Mereka yang bersembunyi di cangkang lemah cenderung lebih terbuka pada orang lain, tahu pasti kapan harus bercerita, kapan harus disimpan. Sementara yang memiliki cangkang tebal, bisa dipastikan akan menutup diri rapat-rapat, hanya orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya. Sisi ekstrem dari cangkang tebal adalah stres mendalam, karena terlalu menutupi fakta yang ada, tanpa mencari pemecahan solusinya.

Begitulah. Sebaiknya kalian mulai menganalisa sendiri, cangkang mana yang baik untuk kondisi kesehatan jiwa kita. Hanya kita yang tahu persis bagaimana rasanya mengalami sebuah peristiwa tidak nyaman dalam hidup. Penolakan, kematian, perpisahan, pengkhianatan dan hal-hal semacam itu... semua bisa menimbulkan masalah jika kita tidak menanganinya dengan baik. Hal pertama yang sebaiknya dilakukan saat bertemu dengan masalah adalah: mengakui kepada diri sendiri bahwa kita memiliki masalah. Mungkin terdengar sepele, namun jika kita tidak mengakuinya, kita seolah membangun tembok semu yang bertuliskan "Ah, aku baik-baik saja, kok" padahal kenyataannya tidak. Itulah awal mula bom waktu permasalahan. Setelah berani mengakui kepada diri sendiri, langkah selanjutnya adalah menemukan solusi, yang mana penanganannya bisa berbeda satu sama lain.


Tentang Rasa Sakit Emosional dan Pengaruh Pikiran

Saya jadi teringat muatan buku "The Subtle Art of Not Giving A F**k" (diterjemahkan menjadi "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat") karangan Mark Manson. Di halaman 179, dia menulis mengenai derita adalah bagian dari proses, demikian tulisannya: Seperti halnya seseorang yang mengalami rasa sakit fisik untuk membentuk tulang dan otot yang lebih kuat, seseorang harus mengalami sakit emosional untuk mengembangkan ketangguhan emosional yang lebih besar, rasa percaya diri yang lebih kuat, belas kasih yang meningkat, dan secara umum hidup yang lebih bahagia.

Benar. Sakit emosional akan selalu datang menghampiri, dalam segala kondisi. Tidak ada satu orang pun yang mengalami momen "baik-baik saja" sepanjang hidupnya, karena kita semua memiliki masalah. Semua orang pasti menjalani ujian kehidupan dari Tuhan. Sama seperti kisah Celeste. Boleh saja kita tidak membiarkan orang lain tahu, tapi itu hanya akan menggerogoti diri kita perlahan. Mengesampingkan masalah justru membuat masalah itu semakin membesar sedikit demi sedikit. 

Bos saya pernah berkata, "Jangan pernah nyimpen bom waktu masalah. Kalo masih bisa diselesaikan segera, selesaikan." Tentu saja bos saya mengacu pada permasalahan dalam pekerjaan, namun saran tersebut bisa diaplikasikan dalam permasalahan hidup apa saja. Ironisnya, bom waktu itulah yang sempat saya alami beberapa waktu belakangan ini, haha. Itulah sebabnya mengapa kisah "Big Little Lies" menjadi semacam pengingat, bahwa saya tidak boleh lagi menyimpan masalah terlalu rapat. Saya berulang kali mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak. 

Saya pun mulai berpikir mengenai bom waktu yang saya pendam. Ugh, rasanya sama sekali tidak mengenakkan. Terasa menyesakkan setiap kali teringat. Entah karena pengaruh "Big Little Lies" atau apa, suatu hari saya memberanikan diri bercerita ke orang lain (dalam hal ini kakak pertama saya, yang selalu dapat melihat jika ada sesuatu yang tidak beres dalam diri ini). Saya mengakui masalah yang membebani pikiran. Setelah bercerita, saya tersadar. Astaga, pikiran adalah sumber segala masalah! Semua ketakutan hanya ada di pikiran. Saya tahu tentang ini (bahkan saya pernah menuliskannya, duh), namun tidak berani mengakuinya. Selalu begitu.

Biang keladi pola pikir ini sama seperti yang ditulis Mamon dalam bukunya yang berjudul "Bahagia Itu Sederhana" (halaman 39), yaitu: Jarak antara kesedihan dan kebahagiaan hanyalah pikiran. Pikiran adalah hal yang ajaib, ia dapat mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan, begitu juga sebaliknya. Ah, benar sekali. Pikiran memang hal yang ajaib, sangat ajaib kalau boleh dibilang. Seseorang boleh saja ditempatkan dalam situasi paling merana dalam hidup, namun saat dia tidak membiarkan pikirannya memproduksi buah pikiran negatif, maka dengan sendirinya dia tidak terjatuh dalam lubang kesedihan. Seajaib itu.

Oke, tampaknya saya harus terus melatih pikiran untuk tidak terlalu memikirkan yang macam-macam. Jangan sampai pikiran ini membuat trik lagi untuk menjatuhkan diri saya ke lubang gelap. Bukankah itu yang dilakukan semua orang setiap harinya, bergelut dengan pikirannya masing-masing? Yang bisa menjinakkan pikiran negatifnya akan menang dan menyunggingkan senyum bahagia, sementara bagi yang kalah... harus bersiap ditindas pikirannya sendiri. Mana yang kalian pilih?

-Bayu-






Catatan tambahan:


Saya harus jujur. Awalnya, artikel ini adalah buah pemikiran kacau balau yang saya hasilkan beberapa minggu belakangan. Pernah diterbitkan seminggu yang lalu, namun menyadari bahwa pemaparannya amburadul (terima kasih kepada kakak saya yang telah mengingatkan), saya menyimpannya lagi dalam draf, dan setelah berpikir jernih, mulai menambal sulam di sana-sini. Keberanian untuk mempublikasikan ulang muncul saat seorang rekan blogger sekaligus salah satu pembaca setia blog ini, Yoga Akbar Sholihin, menanyakan tentang "hilangnya" artikel tersebut dari daftar isi blog. Hehe. Maaf, Yog. Itu semacam ledakan emosional sesaat, dan artikel revisinya sudah terbit ulang. Terima kasih telah mengingatkan :-)


Catatan terkait proses menulis artikel:

Saya mendengarkan lagu "Cold Little Heart" yang dinyanyikan oleh Michael Kiwanuka sepanjang proses menulis artikel di atas. Awalnya saya tidak terlalu menaruh perhatian pada lagu ini, namun setelah didengarkan berkali-kali, ternyata dapat membawa aura magis tersendiri dalam memantik ide menulis.

Micahel Kiwanuka adalah seorang musisi asal Inggris, pengusung genre soul, blues rock dan folk rock. Entah bagaimana dia memasukkan semua atau sebagian dari genre tersebut dalam sebuah lagu, yang pasti "Cold Little Heart" adalah suguhan musik soul dan rock yang menenangkan untuk telinga saya. Lagu ini sukses ditempatkan menjadi musik pembuka untuk miniseri "Big Little Lies" produksi HBO.

Lirik menarik yang ada di dalam lagu:
Did you ever notice
I've been ashamed all my life
I've been playing games

sumber gambar: radiowoodstock.com



Catatan lain: Tidak ada. Sudah cukup banyak!

READ MORE - Akui Saja, Kita Semua Memang Punya Masalah Hidup Masing-Masing

Maaf Buku-buku di Rak, E-Book Ternyata Lebih Praktis

sumber gambar: pcmag.com
*PERINGATAN AWAL: Karena ini artikel pertama saya di tahun 2018 setelah vakum selama kurang lebih empat bulan, maka saya hampir tidak bisa menghentikan kata demi kata yang terus mengalir keluar dari benak saat mencoba kembali menulis. Bisa jadi mode edit yang saya miliki belum sempurna, jadi mohon maaf kalau artikelnya panjang lebar. Untuk kalian yang tidak suka artikel panjang, silahkan ditutup saja, masih banyak artikel di blog lain yang mungkin sesuai dengan selera kalian. Bagi kalian yang tetap ingin lanjut membaca... terima kasih banyak.*

"You can't buy happiness, but you can buy a book, and that's kind of the same thing
-- Anonymous


Hobi: Membaca Buku

Nama saya Bayu, dan saya suka membaca buku.

Jika ada deretan pertanyaan umum yang selalu ditanyakan di selembar kertas atau media apapun tentang jati diri kita, dan kebetulan ada bagian "Hobi", maka tanpa ragu saya selalu menulis "membaca buku". Harus diakui, itu bukan jenis hobi yang terlihat jantan atau membuat orang langsung memberi label "orang keren" pada kita.

Berdasarkan pengalaman, setelah saya mengatakan bahwa hobi saya membaca buku, atau saat orang lain kebetulan mengetahui saya suka membaca buku, kebanyakan akan langsung mengaitkan dengan penampilan saya, ditambah kacamata yang bertengger, kemudian terbitlah sebuah kesimpulan sederhana di pikiran mereka (terlihat dari sorot matanya, sangat jelas), seolah berkata: "Oh... kutu buku."

Begitulah.

Tapi tidak masalah. Untuk apa saya harus berbohong mengenai hobi yang satu itu? Lagipula, itu bukan sesuatu yang bisa dipamerkan ke semua orang dengan mata berbinar-binar sembari berkata, "Lihat nih, gue mah sukanya baca buku. Keren, kan? Lo kayak gitu juga ngga?" Tidak, tidak! Bagi saya, membaca lebih kepada kebutuhan kok, sama seperti makan. Rasanya ada yang kurang kalau sehari saja tidak membuka buku untuk dibaca, meski hanya satu atau dua halaman. Apakah kalian memamerkan diri ke semua orang jika bisa makan setiap hari? Tidak seperti itu, kan?

Keanggunan Sebuah Buku Berbentuk Fisik

Begitu melihat deretan buku di rak perpustakaan, toko buku atau rak-rak buku pribadi di rumah seseorang, selalu muncul kekaguman tersendiri. Seperti melihat harta karun saja rasanya. Saya senang sekali menelusuri setiap rak, memandangi beragam buku yang tertata disana dengan desain sampul berbeda-beda, kemudian menyentuhkan jemari ke salah satu buku untuk merasakan teksturnya. Gelombang kekaguman tersebut semakin menjadi tatkala saya meraih salah satu buku dan membuka halaman demi halaman. Khusus buku-buku yang masih terbitan baru, ada semacam bau khusus yang menjadi penanda, dan aromanya menyenangkan.

Oke, tampaknya deskripsi tersebut terlalu berlebihan jika dibaca oleh orang-orang yang tidak terlalu menggemari buku. Bisa jadi mereka akan berkata, "Eh buset, buku begini aja apa bagusnya? Bukannya sama aja ya tiap buku?"

Sepintas, memang tampak sama, dengan bentuknya yang kotak dan memuat berlembar-lembar halaman. Cenderung kaku dan membosankan. Namun, ada beberapa perbedaan yang mungkin hanya bisa disadari dan dikagumi oleh orang-orang yang menggemari aktivitas membaca buku. Mungkin di antara kalian ada yang juga mengalami sensasi memegang buku fisik sama seperti yang saya rasakan.

Bertahun-tahun saya menjadi penggemar buku fisik. Saya membeli novel atau buku non fiksi yang menarik perhatian, meminjam di perpustakaan atau sekedar meminjam melalui teman (dalam hal ini, terkendala masalah finansial, alias tidak sanggup membeli). Minat saya pada buku berbentuk fisik melahirkan sebuah ide tersendiri yang kemudian pernah saya tuangkan dalam sebuah artikel di blog ini, berjudul "Nyaman Membaca Buku yang Memiliki Fisik". Artikel itu seolah menjadi sebuah pernyataan keras dan tegas bahwa saya, Bayu Rohmantika Yamin, menyukai dan selalu akan menyukai buku yang berbentuk fisik. 

"The art challenges the technology, and the technology inspire the art" 
-- John Lasseter
sumber gambar: libguides.library.cityu.edu.hk
Buku Digital, Sang Penantang Yang Merusak Tatanan

Perubahan akan selalu terjadi, tak terkecuali untuk indutri buku. Begitu teknologi menyeruak dalam kehidupan masyarakat hampir di semua sektor, hal itu merubah beberapa tatanan yang awalnya adalah sebuah pola turun-temurun, berubah menjadi pola baru yang... bisa dianggap membawa manfaat, bisa juga dianggap membahayakan. Saya menggunakan istilah "anggapan" karena menurut saya, hasil dari perkembangan teknologi sejatinya akan menimbulkan pro kontra, dan itu semua kembali kepada persepsi masing-masing.

Nah, untuk kasus buku, perkembangan teknologi yang hadir menghasilkan sebuah perubahan radikal: lembaran buku diubah menjadi bentuk digital (e-book). Ribuan hingga jutaan lembar bisa masuk ke dalam satu media tertentu, dan ditampilkan melalui satu layar. Bahkan, untuk semakin membuatnya mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan, buku pun bisa dibuat versi audio-nya (audio book), alias lembaran tersebut tidak perlu dibaca, tapi hanya perlu telinga untuk mendengarkan versi sadurannya. Jenis ini berguna untuk mereka yang mengalami masalah pada indra penglihatan.

Saya akan menekankan pada e-book saja di artikel ini. Apakah membaca e-book bisa disamakan dengan pengalaman membaca buku fisiknya langsung? Kemudahan akses jelas menjadi incaran, dimana hanya melalui satu layar saja, semua lembaran buku bisa dibaca. Tidak perlu repot-repot membawa buku yang tebal. Cukup siapkan media elektronik. Semudah itu.

Oke, saya memang sempat memandang aneh pada mereka-mereka yang mengkonsumsi buku dalam bentuk e-book, meski saya tahu bahwa itu semua pilihan masing-masing. Saya sempat berpikir, mereka-mereka yang menikmati e-book itu seperti... apa ya? Seperti melihat berbagai tempat di belahan dunia lain dengan Google Street View, tapi tidak merasakan langsung tempatnya. Tidak merasakan sensasi traveling. Nah, rasanya seperti itu. Sama-sama melihat, namun tidak benar-benar merasakan.

Dalam hati, saya mengikrarkan kesetiaan pada buku fisik, sampai kapan pun. Dalam hal musik, saya boleh saja mulai menyukai versi digitalnya ketimbang versi fisik (CD, kaset dan semacamnya), namun untuk urusan buku... saya tetap mencintai versi fisik. Itulah yang saya tanamkan kuat-kuat dalam benak bertahun-tahun lamanya.

"What's cheaper than a gallon of gas? An e-book. Save a dollar, stay home and read!" 
-- Shandy L. Kurth
Menjilat Ludah Sendiri

Saat membeli sebuah buku, saya cenderung melihat prosesnya sebagai bentuk investasi di masa depan. Bukan berarti buku bisa sebagai aset investasi (mungkin dalam kasus khusus, bisa), namun lebih kepada "membeli dulu, bisa dibaca kemudian, sebelum stoknya kehabisan" (apakah kalian juga seperti ini?). Pola konsumtif tersebut menyebabkan saya menumpuk banyak buku di rumah, sebagian besar masih dikemas sampul plastik versi toko alias belum dibuka sama sekali. Bukan sebuah kebiasaan yang baik tentu saja, apalagi dampaknya secara finansial bisa membuat stres, hehe.

Tumpukan buku tersebut semakin menjadi saat saya mulai bingung mengatur waktu membaca di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari. Tingkat pembelian buku lebih tinggi ketimbang tingkat menamatkan membaca buku. Belum lagi kalau bukunya tebal, bisa memakan waktu lama untuk menamatkannya, sementara saat membeli sebuah buku, setebal apapun itu, hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan transaksinya. Di satu titik, saya merasa kewalahan dan hampir putus asa. Bagaimana ini? Sampai tua renta mungkin saya tidak akan sanggup menyelesaikannya jika pola terkutuk itu terus berulang!

Suatu hari, saat saya memandangi dengan merana ke arah tumpukan buku di rak yang sebagian besar belum tersentuh itu, saya berpikir bagaimana caranya agar semua bisa terbaca, sekaligus menekan hasrat untuk membeli yang baru. Saya pernah mencoba untuk menerapkan prinsip membaca cepat, namun hasilnya berantakan. Susah sekali. Akhirnya, saya memutuskan untuk membuat jadwal membaca, minimal satu hari satu bab, atau setidaknya empat sampai lima halaman, dan ini sebuah keharusan. Untuk buku baru, pembelian hanya yang benar-benar dibutuhkan (atau, seri novel yang digemari). 

Setelah menjalaninya selama beberapa minggu, rencana tersebut langsung menemui kegagalan karena begitu sampai di rumah setelah lelah bekerja seharian, saya sama sekali melupakan buku yang harus dibaca. Atau saat harus dibawa di dalam tas, ujung-ujungnya malah tidak dibaca, hanya menambah beban saja. Alasan klasik: malas (sama seperti menulis di blog ini, ups). Jika dulu saya selalu mengagung-agungkan "membaca bagai kebutuhan" dan sebagainya, ternyata saya tersandung masalah tak terelakkan: minat baca saya mulai berkurang! Astaga, ini tidak boleh dibiarkan. Saya harus mengembalikannya ke keadaan semula.

Setelah melakukan analisa kembali pada pola aktivitas sehari-hari yang saya lakukan, sepertinya saya butuh sesuatu yang praktis untuk dibawa sekaligus dinikmati jika menyangkut bahan bacaan, khususnya buku. Pilihan jatuh kepada ponsel pintar, yang memang bisa memuat sebuah buku, namun dalam bentuk e-book.

AH, TIDAK!!!

Bagaimana mungkin saya berpaling ke e-book? Tidak, tidak, tidak! Setelah bergulat dengan pemikiran ini selama berhari-hari, saya akhirnya merelakan diri mencoba membaca e-book. Tidak ada salahnya dicoba. Penasaran juga kenapa ada orang yang mau membeli e-book. Ternyata pembelian sebuah e-book cukup mudah juga ya, kita dapat menemukannya melalui ponsel pintar, tinggal pilih saja opsi pembayarannya. Bagai mengunjungi toko buku, namun tanpa benar-benar melihat buku fisiknya. Hm... di beberapa bagian pun koleksinya tidak selengkap toko buku. Oke, mungkin ke depannya akan semakin lengkap, semoga saja.

Akhirnya, sebuah e-book pun berhasil terbeli. Setelah mengumpulkan niat penuh, saya mencoba mulai membaca buku elektronik tersebut. Pada awalnya, mata saya lelah menatap ponsel terus-menerus, dan saat membacanya, semua terasa palsu, dibuat-buat. Membuka lembaran e-book tidak memiliki sensasi menyenangkan seperti membuka sebuah lembaran buku. Tidak ada bau buku yang khas, tidak ada tekstur yang bisa disentuh dengan tangan, tidak ada suara saat membolak-balik halaman dengan cepat, dan yang terpenting: tidak ada kepuasan saat memegangnya. Semua e-book bentuknya sama, ya itu-itu saja: digital. Kenapa bentuk seperti ini bisa laku di pasaran, ya?

Seorang bijak pernah berkata, bahwa sebuah kebiasaan timbul dari melakukan hal secara berulang-ulang, meskipun itu tidak terasa menyenangkan awalnya. Jika ingin membiasakan hal-hal positif, maka lakukan rutinitas tersebut secara konsisten, dan kita akan terperangah melihat hasilnya. Sepertinya, itulah yang terjadi pada saya. E-book yang awalnya saya pandang remeh (melihatnya saja sudah tidak tahan), lama-lama menimbulkan kecanduan tersendiri.

Benar, kecanduan. E-book merevolusi cara berpikir saya akan aktivitas membaca. Mudah sekali membuka e-book di tengah keramaian, tidak seperti buku fisik, khususnya yang berukuran tebal. Tidak perlu memakan banyak tempat di tas, bahkan bisa dimasukkan kantong, karena menyatu dengan ponselnya. Orang-orang juga tidak akan terlalu peduli apa yang saya lihat di layar ponsel, mungkin mereka berpikir saya sedang melihat linimasa media sosial, padahal saya sedang membaca e-book

Tidak butuh pengaturan macam-macam pada e-book (mungkin sedikit pengaturan warna latar belakang, ukuran huruf dan semacamnya yang merupakan pengaturan minor). Cukup membuka ponsel pintar, kemudian membuka aplikasi khusus (saya menggunakan Google Play Books), pilih buku yang diinginkan, dan silahkan dibaca. Seperti memasuki perpustakaan pribadi, namun dalam versi yang sangat praktis.

Oya, satu hal lagi: harga e-book lebih murah daripada harga normal buku fisik, dan jika ada diskon menarik untuk pembelian e-book, membeli tiga e-book bisa setara satu buah harga buku fisik, dengan kapasitas yang tidak membutuhkan banyak tempat. Bandingkan dengan membeli obralan buku fisik. Meskipun saya bisa mendapatkan tiga buku fisik obralan setara harga satu buku normal, tetap saja butuh tempat untuk ketiga buku baru tersebut. E-book tidak seperti itu. Hanya dibutuhkan kapasitas memori dalam ponsel untuk menampungnya. Jika kita bisa berhemat dalam penggunaan memori, maka menempatkan banyak e-book dalam satu ponsel tidak menjadi kendala besar.

Astaga, rasanya benar-benar seperti membawa perpustakaan berjalan! Kemana saja saya selama ini, ya?

Sentilan dari Novel Karya Fredrik Backman

Ide mengenai tema artikel kali ini mulanya muncul setelah membaca novel karya Fredrik Backman berjudul "My Grandmother Asked Me To Tell You She's Sorry". Saya mendapatkan e-book ini dari Google Play Books. Novel ini sungguh bagus. Saya tidak menyesal membelinya. Lagipula, harga e-book-nya lebih murah dari versi buku fisik, tentu saja, hehe. Itu baru harga normal e-book-nya ya, belum lagi jika ada diskon, bisa sangat murah tentunya.

Ah, sebuah suguhan penuh kehangatan dan ketulusan yang diracik oleh Fredrik Backman, novelis asal Swedia ini, sanggup membuat saya tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Novel ini bercerita mengenai Elsa, gadis berumur tujuh tahun yang mengalami kesedihan saat Nenek kesayangannya meninggal. Bukan meninggalkan benda berharga untuk Elsa, sang Nenek malah meninggalkan sepucuk surat yang berisikan misi khusus, dimana sang Nenek meminta Elsa untuk menyampaikan permintaan maaf wanita tua tersebut kepada beberapa orang yang tertera dalam surat.

Misi mudah? Tidak, karena surat tersebut tidak mudah ditemukan, masing-masing seperti kepingan puzzle yang harus disusun. Disinilah letak petualangannya. Novel ini bukan novel anak-anak biasa yang berisikan keceriaan dan petualangan manis, namun lebih ke pencarian makna kehidupan. Ya, saya sendiri heran betapa pintarnya Fredrik Backman menyelipkan banyak makna hidup melalui jalan pikiran seorang gadis kecil. Tidak terkesan menggurui, namun mengalir lancar begitu saja. Alurnya sungguh menarik untuk diikuti, dan ada semacam perasaan hangat yang mengalir di dada begitu menemukan beberapa pesan "mendalam" yang kerap ditemukan di beberapa bab.

sumber gambar: goodreads.com
Saya tidak akan menceritakan lebih lanjut, atau mendeskripsikan ulasan mendalam, karena -- jika kalian mengenal saya melalui tulisan-tulisan sebelumnya -- hal itu tidak akan saya lakukan, mengingat blog ini bukan blog ulasan apa pun. Saya hanya tertarik mengambil beberapa bagian unik dari sebuah hal yang saya temukan. Kali ini, di novel "My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry" (astaga, judulnya panjang sekali ya), ada satu bagian menarik yang kemudian memantik ide untuk menulis.

Di bab 17 berjudul "Roti Kayu Manis", Elsa berhasil menemukan salah satu subyek penerima pesan sang Nenek, yaitu seorang wanita berprofesi psikoterapis. Elsa dibawa masuk ke ruangan wanita itu dan dia menemukan dinding kantornya dipenuhi rak buku. Hal itulah yang membuatnya takjub sekaligus heran, karena Elsa seorang pecinta buku juga, namun dia memilikinya dalam iPad, alias dalam bentuk e-book.

Berikut saya tampilkan beberapa dialog yang ada di bab 17 tersebut, saat Elsa akhirnya mengutarakan keterkejutannya melihat rak penuh buku (kutipan ini disadur dengan beberapa edit tampilan untuk memudahkan pemahaman):

Elsa     : Aku tidak pernah melihat begitu banyak buku, ini hampir sinting. Memangnya kau tidak pernah mendengar iPad?
Wanita : Aku menyukai buku.
Elsa      : Kau pikir aku tidak suka buku? Kau bisa menyimpan bukumu di iPad. Kau tidak perlu menaruh jutaan buku di kantormu.
Wanita  : Aku menyukai buku fisik.
Elsa      : Kau bisa memiliki semua jenis buku di iPad.
Wanita  : Bukan itu yang kumaksud dengan 'buku'. Maksudku 'buku' dengan jaket, kover, halaman...
Elsa      : Sebuah buku adalah teks. Dan, kau bisa membaca teks di iPad!
Wanita  : Aku suka memegang buku ketika membaca.
Elsa      : Kau bisa memegang iPad.
Wanita  : Maksudku aku suka membuka halamannya.
Elsa      : Kau bisa membuka halaman di iPad.
...
Elsa      : Tapi, kau tahu, lakukan apa yang kau suka! Milikilah jutaan buku! Aku hanya bertanya. Sebuah buku tetaplah buku jika kau membacanya di iPad. Sup tetaplah sup dalam mangkuk apa pun.

Nah, itulah sekelumit dialog yang ada di bab 17. Saya membacanya sembari tersenyum-senyum sendiri, membayangkan apa yang diutarakan oleh si wanita, sama persis seperti yang saya rasakan dulu. Saya menyukai buku fisik, itu saja intinya. Argumen yang saya punya kurang lebih sama seperti milik si wanita. Saya menyukai buku dengan cover, dengan halaman kertas, dan sensasi memegang sebuah buku, bukan media elektronik. 

Kini, argumen tersebut luntur seiring ketertarikan saya pada e-book. Membeli e-book semakin mudah berkat kerjasama beberapa operator telekomunikasi Indonesia dengan Google, dimana saya tidak perlu memasukkan nomor kartu kredit atau nomor voucher untuk membeli sebuah e-book. Cukup sediakan pulsa memadai, pilih buku yang ingin dibeli (bahkan kita bisa mengunduh beberapa halaman awalnya dulu secara gratis, untuk mendapat gambaran mengenai isi buku), kemudian tinggal pilih beli. Karena saya telah mengatur pembelian menggunakan pulsa telepon, maka saya cukup memasukkan password akun di Google, kemudian... e-book siap diunduh versi lengkapnya. Saya kerap menggunakan jaringan wi-fi saat mengunduh, demi kelancaran proses tersebut. Dalam sekejap (tidak ada semenit jika jaringan kuat dan bukunya tidak memuat banyak halaman), saya sudah bisa menikmati e-book tersebut.

Mudah, bukan?

Kini, saya membeli e-book khusus untuk buku-buku yang tidak berada dalam daftar "wajib punya". Buku-buku yang berada di dalam daftar itu berisikan novel-novel dari penulis favorit, seri favorit, atau buku luar biasa yang menggugah pemahaman saya akan sesuatu secara drastis. Itu yang saya maksudkan dengan buku wajib punya. Di luar kategori itu, saya memilih membeli e-book-nya saja (saya tidak merekomendasikan kalian untuk mengunduh versi bajakannya ya, mari budayakan mengapresiasi jerih-payah penulis). Selain lebih murah, menghemat tempat juga, karena rak buku saya di rumah sepertinya sudah mengibarkan bendera putih, tanda menyerah harus menampung buku-buku hasil perilaku konsumtif saya. 

Lucunya, selama menjalani pola baru membaca e-book ini, saya mendapati bahwa lebih cepat menamatkan sebuah e-book daripada buku fisik, karena e-book lebih sering dibaca sepanjang jam-jam yang tidak produktif, juga di waktu-waktu dimana saya bisa mencuri waktu (saat antre misalnya). Kalau saya sedang bersama orang lain saat situasi tersebut muncul, saya cenderung mengisi waktu dengan berbincang-bincang. Namun, lain halnya saat sendiri. Tangan saya akan refleks mengeluarkan ponsel pintar dan membaca e-book.

Jadi, disaat orang lain lebih memilih melihat linimasi media sosial (khususnya Instagram, yang hampir sebagian besar itulah yang saya lihat saat melirik sekilas ke layar ponsel orang lain, ups), bercakap-cakap dengan lempar-melempar emoji melalui pesan instan, bermain game, mengambil foto selfie, mengutak-atik playlist di Spotify, atau aktivitas apa pun yang bisa mereka lakukan dengan ponsel pintarnya, saya memilih membaca e-book saja.

Bahagia itu sederhana. Benar kok.

Dilema muncul saat saya justru lebih memfokuskan pada e-book daripada buku fisik yang ada di rak. Saya merasa seperti sedang berselingkuh. Saya mengkhianati mereka. Dulu saya mengagung-agungkan buku fisik, kini mengabaikan begitu saja. Buku-buku fisik yang ada di rak pasti cemburu karena saya jarang menjamah mereka lagi. Situasi ini pernah memunculkan semacam perasaan bersalah dalam diri saya, sehingga dalam beberapa bulan terakhir, saya kembali menjadwalkan membaca buku fisik, minimal dua atau tiga lembar setiap harinya, lebih sering di malam hari sebelum tidur atau saat jeda sejenak dari pekerjaan yang memusingkan di kantor. Meski kecepatan menamatkannya tidak seperti e-book, yah... setidaknya saya tidak menelantarkan buku-buku fisik tersebut. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, bukan?

Jadi, Buku Fisik atau E-Book?

Setelah panjang lebar menguraikan pengalaman membaca dengan buku fisik dan e-book di atas, sampailah kita pada segmen terakhir dari artikel ini: lebih pilih mana, buku fisik atau e-book nih? 

Hm. Semua kembali kepada pilihan tiap individu. Teknologi muncul sejatinya untuk memudahkan manusia dalam beraktivitas, sehingga perubahan radikal yang dihasilkannya dalam berbagai bidang, harus dipandang sebagai jalan menuju peradaban manusia modern yang efektif dan efisien. Bisnis musik dalam bentuk fisik telah berdarah-darah menghadapi gempuran musik digital, bahkan sebagian besar tokonya memilih tutup, memberi jalan toko musik digital merajalela. Kini, toko musik digital harus kembali menghadapi tantangan baru: layanan streaming, dimana masyarakat tidak perlu lagi membeli musik digital satu per satu, melainkan disediakan langsung akses penuh ke layanan perpustakaan musiknya (alias bisa memutar lagu apa pun yang mereka mau, secara legal!), cukup dengan membayar biaya berlangganan, atau bahkan bisa dinikmati secara gratis dengan risiko susupan iklan. 

Sama halnya dengan buku digital, yang mulai menancapkan kukunya pada peta industri perbukuan. Mungkin di masa mendatang kita akan jarang menemui lagi toko buku fisik, digantikan toko buku online. Duh, untuk prediksi yang ini, semoga tidak terjadi ya, karena saya masih mencintai toko buku dengan segala sensasi menyenangkannya.

Sekali lagi, perubahan akan selalu terjadi, dan kembali ke diri kita sendiri, maukah menerima perubahan tersebut dan menikmati hasilnya? Saya akui, buku fisik memang tak tergantikan, namun karena saya tidak sanggup menanggung beban untuk membawanya kemana-mana, kini saya lebih memilih e-book yang praktis untuk kebutuhan mayoritas buku bacaan, sementara buku fisik menempati posisi kedua. Bahkan, mungkin saja di masa mendatang saya tertarik mencoba mendengarkan audio book. Siapa tahu?

Jadi, jawaban saya apa nih? Mana yang lebih bagus, buku fisik atau e-book? Jawabannya... buku fisik. E-book boleh saja menawarkan seluruh kepraktisan yang bisa disodorkannya, namun untuk urusan kenyamanan tingkat tinggi, tetap buku fisik jagoannya. Jadi, untuk segi praktis, e-book juara, tapi dari segi kenyamanan, buku fisik juaranya, sehingga jika harus dirangkum menjadi sebuah pertanyaan "Bagus mana?" saya akan menjawab, "Bagus buku fisik, lah!"

Mungkin saat ini buku-buku fisik yang ada di rak buku saya sedang bersuka cita dan tersenyum senang mengetahui hal ini. Tapi, bisa jadi juga mereka bersungut, "Tadi awalnya kekeuh banget ama buku fisik, terus berpaling ke e-book yang lebih murah meriah, eh ujung-ujungnya ternyata masih suka buku fisik. Gimana sih? Konsisten dong ama pilihan. Kalo suka buku fisik, ya dibaca dong buku-buku fisiknya, jangan baca e-book mulu! Sempit tahu lemari ini!"

Fiuh. Untunglah dialog itu semua hanya ada di dalam imajinasi saya saja ya, hehe. Eh... tapi, kok saya jadi merinding ya melihat tumpukan buku-buku di rak? Seperti sedang diawasi saja. Apakah mereka benar-benar marah telah ditelantarkan? Tapi saya masih tetap membaca mereka kok, meski cuma beberapa halaman per hari. Serius. Tidak ada alasan bagi mereka untuk marah, kan?

Ah, sudahlah. Kenapa akhirnya malah melantur begini?

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

Tidak perlu waktu lama untuk memilih musik apa yang cocok didengarkan untuk menjaga mood tetap muncul sepanjang proses menulis artikel di atas, karena sebuah sajian musik indie rock milik Castlecomer berjudul "Fire Alarm" jelas memenuhi kriteria yang saya butuhkan. Tak disangka, lagu yang dibawakan oleh band asal Australia ini ternyata dengan mudah membuat saya menggali ide menulis dan melancarkan proses mengetik huruf demi huruf di atas keyboard laptop.

Penggalan lirik yang menarik dari lagu ini:
Try to make a little conversation, with the demons in my mind
Everybody has a first word problem, taking up their precious time

sumber gambar: qobuz.com

READ MORE - Maaf Buku-buku di Rak, E-Book Ternyata Lebih Praktis
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.