Asyiknya Mengomentari Adegan Dalam Sebuah Film

image source: peoplestrategy.com
Penonton Bioskop Yang Banyak Berkomentar

(1) "Ini film apaan ya tadi judulnya? Bakal seru ngga ya kira-kira?"
(2) "Kok kelihatannya agak kuno ya tampilannya?"
(3) "Ih, anak yang paling kecil lucu ya, mirip si Kakak"
(4) "Gambarnya bagus ya, kreatif pastinya dia"
(5) "Ya Allah, berani amat sih itu anak kecil ngambil dadu sendirian"
(6) "Bentar lagi ada yang ngagetin nih! Ah, bentar lagi ada yang ngagetin nih...!"

Potongan dialog di atas memang acak, namun saya berusaha menuliskan semuanya secara apa adanya, karena memang demikianlah yang saya dengar. Kedua telinga saya harus "rela" menangkap semua celotehan seorang ibu-ibu dan suaminya yang sedang menonton film "Marrowbone". 

Jujur, saat saya membeli tiket film "Marrowbone", saya sama sekali tidak tahu apakah dua kursi di sebelah kanan akan ditempati orang atau tidak. Kondisi bioskop saat itu sendiri cukup penuh, bisa jadi penonton sudah kenyang menonton "Justice League" atau muak menontonnya atau sekedar cari alternatif tontonan selain itu, sehingga kursi-kursi terlihat banyak ditempati orang. Tidak masalah bagi saya, asalkan semua penonton yang memadati teater bersikap "wajar".

Hingga kemudian lampu dimatikan, tanda pemutaran film akan segera dimulai.

Beberapa saat setelah itu, datanglah sepasang suami istri (sebut saja si Bapak-Ibu) berumur sekitar enam puluh tahun yang tampak ramah, bergerak cukup perlahan, meminta maaf sembari mencari celah untuk lewat di depan saya, dan duduk dengan manis di sebelah kanan. Saya melemparkan senyum sopan saat mereka berdua kembali meminta maaf karena telah menginterupsi. Ah tidak apa-apa, lagipula filmya belum diputar kurang dari semenit.

Kemudian, dengan tenang si Ibu mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya, entah apa itu, tapi si Bapak tampak senang (berseru tertahan, "Nah, ini nih...") dan langsung merobeknya. Ternyata cemilan kacang kulit garing, karena setelah itu mereka berdua heboh membuka kulit kacang, suara yang cukup mengganggu. Saya mencoba mengabaikan, hingga datanglah komentar pertama dari si Ibu, seperti yang tertulis di atas: "Ini film apaan ya tadi judulnya? Bakal seru ngga ya kira-kira?"

Si Bapak hanya merespon dengan dengusan pelan sembari menikmati cemilannya, bisa jadi dia sendiri lupa judul filmnya apa. Sekedar informasi, "Marrowbone" adalah sebuah film horor/thriller yang mengambil tema perjuangan empat kakak beradik menghadapi teror rumah berhantu dan teror psikologis. Istilah rumah "berhantu" sepertinya kurang cocok, mengingat inti ceritanya lebih dalam dari sekedar teror kaget-kagetan. "Marrowbone" bisa dibilang sebuah tontonan menyegarkan bagi saya sebagai pecinta jenis film seperti ini.

Oke. Kembali ke kisah si Bapak-Ibu penikmat cemilan kacang kulit itu. Setelah bertanya judul film, tidak butuh waktu lama bagi si Ibu untuk kembali mengeluarkan komentar berikutnya (lihat kembali dialog di atas): "Kok kelihatannya agak kuno ya tampilannya?" yang dibalas dengan tawa ringan oleh si Bapak. Adegan dalam film terus bergulir, dan komentar si Ibu makin ramai. Si Bapak terlihat sabar meladeni, karena memang ocehan mereka sambung menyambung.

Ternyata ada beberapa orang yang merasa terganggu, kemudian memberi teguran, "Sstt!!" kepada si Bapak-Ibu. Kedua orangtua itu hanya merespon dengan, "Maaf ya" sembari tertawa sopan. Tapi itu tak menyurutkan niat mereka untuk terus berkomentar rupanya. Mereka sadar telah mengganggu ketenangan, namun tetap melanjutkan berkomentar dengan memelankan suara.

image source: danroam.com
"What do people go to the theatre for? An emotional exercise" -- Mary Pickford

Pengalaman Pribadi Berkomentar Saat Menonton Film

Pengalaman menonton di sebelah kedua orangtua itu memberi ide untuk postingan ini. Saya jadi teringat diri saya sendiri yang kerap berkomentar saat menonton ramai-ramai di rumah. Menonton sembari menikmati cemilan ringan juga kerap saya lakukan. Apakah saya merasa terganggu? Ternyata tidak juga. Menonton film secara bersama-sama juga mengasyikkan, bisa tertawa dan berkomentar sesuka hati.

Saya juga teringat momen beberapa minggu belakangan ini, saat mengajak kedua orangtua saya untuk menonton film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" di bioskop, sebagai momen penyegaran bagi mereka dan juga quality time. Kedua orangtua saya selalu senang sekali saat diajak menonton film Indonesia di bioskop, khususnya saat film tersebut sangat menyentuh secara emosional bagi mereka, seperti film "Siti", "9 Summers 10 Autumns", atau "Ibu, Maafkan Aku" dimana begitu ada adegan Christine Hakim menangis, di saat itu pulalah ibu saya turut menangis. Di film "Kartini" pun demikian.

Saat menonton film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" pun kedua orangtua saya turut berkomentar tentang adegan di dalam film, mulai dari lokasi, penggunaan dialek Indonesia Timur yang kental, sosok Marsha Timothy, musik yang indah, dan sebagainya. Wah, pokoknya seru sekali, kami bertiga bagai pengamat film saja. Untungnya saat itu kondisi bioskop tidak penuh terisi, mungkin karena masyarakat kurang suka tontonan semacam ini, atau demam Justice League yang terlalu mewabah. Apakah saya terganggu dengan komentar kedua orangtua saya? Ternyata tidak. Jika mereka tidak berkomentar justru "tanda bahaya", itu berarti filmnya terasa membosankan, karena mereka pasti akan segera terkantuk-kantuk atau bahkan tertidur pulas.

Mengomentari adegan demi adegan yang berkesan adalah usaha mereka menikmati film, sama seperti saya saat memutuskan menonton film beramai-ramai di rumah atau bioskop, atau saat saya fokus menonton sendiri, itu juga usaha menikmati film. Pernah sekali saya menegur kedua orangtua karena terlalu ribut, khawatir mengganggu kenyamanan penonton lain. Mereka memang terdiam setelah itu, namun saya melihat ada "luka" di mata mereka, mungkin kesal karena anaknya tidak memahami cara mereka menikmati film.

Sejak itu saya tidak pernah lagi menegur mereka jika terlalu ribut. Saya sadar mereka menikmati film bukan untuk benar-benar fokus, namun harus diselipi komentar. Jalan termudah membiarkan mereka mengomentari film tanpa khawatir mengganggu penonton lain adalah dengan menempati kursi yang kemungkinan lumayan jauh dari lokasi penonton lain, dan untungnya berhasil sampai saat ini.

"It is not how much we have, but how much we enjoy, that makes happiness"
-- Charles Spurgeon

Seyum Lega Setelah Menonton "Marrowbone"

Jika ingin fokus, saya memilih menonton film sendirian, namun jika ingin mendapatkan hiburan atau semata melepas penat dan quality time bersama siapapun yang bersedia meluangkan waktu, saya memilih menonton bersama orang lain. Saat menonton untuk fokus, saya benar-benar mencari tahu tentang film yang akan saya tonton, mulai dari rating, ulasan, trailer, sutradara, hingga jajaran pemain. Saya sudah membawa segenap ekspektasi sebelum menikmati film tersebut.

Berbeda halnya dengan saat menonton untuk mendapatkan hiburan semata. Saya tidak terlalu peduli dengan ulasan. Yang saya cari adalah kepuasan menonton apapun yang disajikan si pembuat film, ditambah quality time dengan orang lain. Jika bagus, alhamdulillah. Jika buruk, ya sudah langsung lupakan saja, tidak perlu disesali, hehe. Saya pun menyadari bahwa ada kalanya saya butuh berkomentar saat menonton film, terutama jika saya dan rekan menonton saya memang menggemari film tersebut.

Kini, setelah saya pikir secara mendalam, di dalam bioskop pun pasti akan SELALU ada orang-orang yang berkomentar saat melihat satu adegan dalam film, entah dalam bisikan halus atau celetukan kencang yang terdengar penonton lain. Sebuah film sejatinya dibuat untuk menjadi hiburan, dan ada kalanya suatu adegan benar-benar membuat kita tergelitik untuk berkomentar, sesingkat apapun itu, misalnya, "Masya Allah", "Astaga", "Waduh", "Anjir!" dan semacamnya, atau bahkan sekedar tawa ringan atau pekik tertahan.

Kita sekedar bereaksi atas apa yang dilihat, itu normal menurut saya. Hanya saja, reaksi tersebut yang harus dikendalikan jika berhadapan dengan situasi yang menuntut kita untuk memahami kepentingan orang lain. Jika menonton film bersama-sama di rumah atau di suatu tempat yang tidak terlalu ramai, kita bisa bebas mengekspresikan apapun. Terserah. Beda halnya dengan menonton di bioskop, yang notabene merupakan lokasi publik, sehingga reaksi yang muncul saat melihat suatu adegan di film harus kita pertimbangkan masak-masak.

Jika kalian masih tetap ingin berkomentar di dalam bioksop tanpa memedulikan kehadiran orang lain yang mungkin sedang ingin fokus menonton, well... bersiap-siaplah dengan resiko yang timbul. Sama seperti si Bapak-Ibu penikmat cemilan kacang kulit itu, yang berkali-kali diberi teguran, "Sstt!" namun masih terus berkomentar tanpa henti, meski dengan suara pelan.

Ah, tampaknya mereka menikmati momen menonton dengan cara demikian. Saat credit title bergulir dan lampu bioskop dinyalakan tanda film telah usai, si Bapak-Ibu kembali tersenyum ramah kepada saya dan meminta izin untuk berjalan keluar melewati sisi depan saya. Kedua wajah mereka menunjukkan kehangatan dan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan. "Marrowbone" jelas memberi mereka pengalaman menonton yang menyenangkan. Bisa jadi mereka akan tetap menonton film-film lain di bioskop ke depannya, masih dengan celetukan-celetukan sama, dan akan memelankan suara jika ada yang menegur. 

"Learn to enjoy every minute of your life. Be happy now" -- Earl Nightingale

Saat melihat kedua orangtua itu berlalu pergi, saya menyadari sesuatu. Pantas saja saya tidak terlalu mempermasalahkan ocehan mereka sepanjang film, bahkan saya menjadikan itu bagian dalam menikmati film, karena mereka mengingatkan saya akan sesuatu. Ini cukup aneh, karena biasanya jika sedang menonton sendiri, saya cukup terganggu dengan komentar-komentar penonton lain yang muncul. Tapi tidak dengan yang satu ini.

Ya, ternyata mereka mengingatkan saya kepada kedua orangtua sendiri, yang juga akan bersikap sama seperti mereka saat menikmati sebuah film. Haha. Sebelas dua belas lah. Saya bersyukur tidak ikut menyuruh si Bapak-Ibu diam saat mereka berceloteh riang. Jika itu terjadi, besar kemungkinan saya akan merusak momen menikmati film yang mereka bangun.

Oke, kali ini saya merasa gagal sebagai penonton yang menjunjung tinggi etika dalam menonton di bioskop, tapi di satu sisi, entah kenapa, saya lega membiarkan si Bapak-Ibu menikmati momen mereka menonton film. Saya pun bisa tersenyum lepas saat melangkahkan kaki keluar dari bioskop.

-Bayu-




Catatan selama proses menulis:

The power of 60's. Mengusung musik era tahun 60-an mungkin bukan perkara mudah karena faktor komersial, namun sebuah band indie lokal bernama Indische Party terlihat tidak peduli. Dengan musik yang diracik sedemikian kreatifnya, band beranggotakan jebolan kampus IKJ ini berhasil mencuri perhatian untuk kalangan tertentu. Saya mendengarkan lagu mereka yang berjudul "No More" terus-menerus selama proses menulis artikel di atas. Musik Indische Party membawa nuansa tersendiri yang menyenangkan.


Notable lyric of this song:

All your love is a lie
You've got to take it away, my friend
image source: provoke-online.com
READ MORE - Asyiknya Mengomentari Adegan Dalam Sebuah Film

"Kejutan" Dari Sebuah Rencana Yang Dibuat Mendadak

image source: uiwater.com


"Genuine happiness comes from within, and often it comes in spontaneous feelings of joy"
-- Andrew Weil

Di beberapa artikel sebelumnya, saya sempat menyatakan bahwa salah satu hobi saya adalah menonton film, khususnya di bioskop. Masuk ke dalam teater bioskop adalah sebuah pengalaman yang sangat mengasyikkan, seolah kita dibawa menuju "dunia" lain, sejenak keluar dari dunia nyata. Di dalam bioskop, imajinasi kita diatur sedemikian rupa, menghasilkan efek berbeda untuk setiap penonton.

Efek setelah menonton itulah yang menimbulkan sensasi ketagihan. Saya selalu ingin kembali ke dalam bioskop, menikmati deretan film lainnya. Andaikan selembar tiket menonton dihargai semurah tiket TransJakarta, mungkin saya akan selalu menonton setiap film yang diputar. Khusus untuk film yang memang sudah ditunggu sejak lama kemunculannya, saya akan memastikan diri ini menjadi salah satu penontonnya.

Rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari untuk menonton sebuah film terkadang tidaklah sesuai kenyataan. Bisa saja ada kegiatan mendadak yang harus dilakukan, menghadiri sebuah acara yang tidak bisa ditolak, atau sekadar terbentur deadline pekerjaan (ini yang sungguh menyedihkan). Dari sekian rencana yang sudah tersusun rapi, justru sebagian tidak terlaksana sempurna. Kebahagiaan menikmati film harus kalah oleh tuntutan hidup.

Nah, beberapa waktu lalu, saya sempat terjerat oleh masalah dalam pekerjaan. Sebenarnya masih bisa ditangani, namun otak saya terasa macet. Sulit menemukan solusi atas beberapa permasalahan yang timbul. Sepanjang pagi hingga siang, saya merasa tidak melakukan banyak hal yang berarti. Saat lelah muncul, saya memaksakan diri beristirahat sejenak. Iseng saya membuka aplikasi sebuah jaringan bioskop lokal melalui ponsel, dan terhenyak saat melihat ada satu film horor yang sudah saya nantikan kehadirannya sedang diputar.

Kemudian ide spontan itu datang: saya ingin mengajak dua orang lain yang saya tahu penggemar film horor juga. Pasti akan seru sekali. Kami biasa menonton bersama film semacam itu, dan menonton di bioskop jelas pilihan yang menarik! Saya tidak tahu apakah mereka bersedia atau tidak (berhubung aktivitas keduanya juga sama-sama sibuk), tapi saya coba dulu saja, jika ditolak, itu urusan belakangan.

Undangan mendadak tersebut ternyata direspon dengan baik oleh mereka, dan akhirnya kami menonton di jam pemutaran malam, waktu terbaik yang bisa dipilih. Film horor yang ditonton saat malam hari memang selalu mengasyikkan, aura kengeriannya terasa. Memang itulah yang saya incar. Syukurlah, kami mendapat suguhan film yang tidak mengecewakan. 


"I guess sometimes the greatest memories are made in the most unlikely of places, further proof that spontaneity is more rewarding than a meticulously planned life"
-- J. A. Redmerski 

Saya tidak akan mengulas filmnya. Karena acara menonton tersebut berawal dari sebuah ide spontan, maka saya tertarik membahas mengenai spontanitas. Oke, saya tahu bahwa hidup ini penuh dengan perencanaan. Saya belum pernah menemukan seseorang yang tidak merencanakan apapun dalam hidupnya. Tidak usah bicara muluk-muluk mengenai perencanaan menikah, memiliki anak dan rencana besar lainnya. Lihat saja hal-hal remeh semacam makan apa, pergi kemana, menelepon siapa, dan sebagainya. Semua memiliki unsur "perencanaan" di dalamnya, dan kita pasti pernah terlibat dalam hal-hal semacam itu, bukan?

Rencana bisa berubah. Perubahannya bisa muncul kapan saja, dimana saja. Saat kita sedang bepergian dengan teman-teman ke satu tempat misalnya, awalnya berencana naik mobil bersama, namun akhirnya malah memilih naik kereta api atau bis. Saat ingin makan di suatu restoran, akhirnya menjadi makan di pinggir jalan. Terkadang perubahan semacam itu yang menjadikan perjalanan semakin seru.

Apakah perubahan rencana bisa ditemukan dalam aktivitas lainnya? Tentu saja. Saya kerap merencanakan janji temu dengan beberapa teman, jadwal telah dibuat, namun ada saja perubahan mendadak, berujung gagal. Akhirnya kami sepakat bahwa perencanaan tidak perlu dibuat, jika memungkinkan, dilakukan secara spontan saja. Hasilnya? Justru rencana spontan lebih sering terlaksana daripada rencana yang tersusun rapi. Haha.

Atau lihat saja contoh kasus menonton film yang saya paparkan di atas. Itu termasuk spontanitas. Saya yakin, jika rencananya sudah disusun beberapa hari sebelumnya, kemungkinan untuk terlaksana adalah 50:50. Dalam rencana spontan, ada unsur "kejutan" dan mungkin ini yang membuat rencana tersebut justru terasa menyenangkan. Ya kan? Bisa jadi diantara kami sebenarnya ada yang terbentur dengan beberapa urusan, namun karena ada "kejutan spontan", maka diabaikan sementara. Bukan kejutan tidak menyenangkan ya, itu lain cerita. Saya memfokuskan pada rencana positif. Unsur kejutan itu juga yang membuat otak kita seolah memprosesnya sebagai hadiah kecil, dan hadiah erat kaitannya dengan kebahagiaan.

Nah, momen-momen seperti itulah yang membahagiakan. Bukan momen besar kok, cuma sekedar menonton film bersama, namun berawal dari rencana mendadak. Saya sendiri tidak menyangka bahwa hari itu akan berakhir dengan menonton bersama, padahal sedari pagi saya berniat untuk bekerja lembur. Perubahan mendadak justru membuat hidup lebih berwarna.


image source: pixabay.com
"No matter how many plans you make or how much in control you are, life is always winging it"
-- J.D. Salinger

Nah, dalam setiap rencana yang telah disusun, apakah semuanya berjalan mulus? Tentu tidak. Pasti ada saja masalah yang datang menghampiri, baik dalam skala kecil hingga besar, yang menyebabkan rencana tersebut setengah terlaksana, atau bahkan gagal total. 

Beginilah hidup.

Kalimat itu yang sering saya dengar dari seseorang manakala rencana hidupnya buyar karena beberapa alasan. Manusia boleh saja merencanakan sesuatu, namun Allah yang akan mengatur semuanya. Kalimat itu juga sering saya dengar. Sayangnya, tidak semua bisa memaknai kalimat tersebut dengan sungguh-sungguh. Jika rencana besar dalam hidupnya gagal, ada beberapa orang yang justru tenggelam dalam kesedihan berlarut, tanpa sadar bahwa semua itu sebenarnya telah diatur oleh Allah.

Oke, saya tidak akan banyak menceramahi tentang hikmah dari ujian hidup dan semacamnya, karena saya sendiri kerap bergelimang dalam masalah satu itu, haha. Saya hanya ingin memberi contoh bahwa tidak semua rencana dalam hidup yang kita susun itu akan terlaksana sempurna. Akan selalu ada penyesuaian di dalamnya. 

Saya punya seorang teman yang jika melakukan perjalanan ke luar kota untuk liburan, jarang menyusun rencana hingga detil. Baginya, yang perlu dia ketahui adalah bahwa dia memiliki uang cukup saat dalam perjalanan. Dua hal yang dipersiapkan sebelumnya hanya tiket transportasi dan hotel, itu juga terkadang mendadak. Masalah pergi kemana, makan dimana, bertemu siapa dan sebagainya, benar-benar mengandalkan spontanitas. Justru banyak ide bermunculan saat sedang dalam perjalanan, sehingga dia benar-benar membuka pikiran seluas-luasnya akan ide spontan yang masuk.

"Hidup ini udah ribet, ngga usah terlalu dibikin ribet lah menikmati perjalanannya," demikian kata teman saya tatkala ditanya bagaimana dia bisa setenang itu merencakan perjalanan. 

Ya, benar juga. Justru konsep seperti itu yang membuat dia terlihat tenang-tenang saja kalau ada masalah datang. Bukan berarti dia mengabaikan masalah, hanya saja dia menganggapnya sebagai "bagian" dari hidup, bukan kerikil penghalang atau bahkan batu besar. Bagi orang-orang seperti dia, rencana hidup memang penting, namun bukan berarti harus berjalan demikian adanya. Jika di tengah jalan muncul perubahan, ya dinikmati saja proses perubahan tersebut.

Itulah mengapa teman saya sangat menikmati bepergian tanpa rencana detil. Dalam ide spontan yang muncul sepanjang perjalanan, justru bisa ditemukan keseruan-keseruan lain yang mengarah pada kebahagiaan. Jika kita tidak membuka pikiran untuk ide-ide spontan yang hadir, mungkin malah akan berujung pada kecemasan atau stres saat menjalaninya.

Bagaimana dengan saya? Wah, saya bukan tipe demikian sayangnya, hehe. Saya terkadang masih merasa cemas dan panik saat rencana yang sudah disusun sejak awal menjadi berantakan, dan otak saya kurang tanggap memproses semua ide mengenai penyesuaiannya. Tapi jika bicara mengenai hal-hal sederhana semacam rencana menonton film secara mendadak, saya harus akui, itu memang menyenangkan kok. Seperti yang saya bilang sebelumnya, ada unsur "kejutan" dalam rencana spontan semacam itu, dan jika kejutannya menyenangkan, otak saya akan menganggapnya sebagai "hadiah kecil". 

Manusia bisa merencanakan apapun sepuasnya, namun pada akhirnya, kita tidak akan pernah tahu hasil akhirnya akan jadi seperti apa. Seperti hari ini, saya sama sekali tidak berencana untuk mempublikasikan artikel di blog (masih ada beberapa aktivitas lain yang ingin saya kerjakan), namun pada kenyataannya, malam ini juga saya malah merombak draft dan merilis sebuah artikel. Hasilnya? Pikiran saya menjadi lebih rileks, dan saya bisa tersenyum lega menutup akhir pekan ini dengan sebuah tulisan.

Bagaimana dengan kalian? Adakah rencana mendadak yang justru bisa mendatangkan kebahagiaan?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Untuk mendapatkan mood positif, saya mengobrak-abrik koleksi playlist dan menemukan satu lagu yang mengusung ambience fun, yaitu "Laid" yang dinyanyikan oleh Matt Nathanson. Sebenarnya ini adalah lagu milik band Inggris bernama James, namun didaur ulang oleh Matt Nathanson untuk dimasukkan ke album kompilasi soundtrack "American Pie: The Wedding". Lagu ini sendiri ditempatkan di awal film, langsung menggebrak dengan penuh semangat, untuk membuka keliaran khas Amerika yang ditunjukkan sepanjang durasi.


Notable lyric of this song:

I found you sleeping next to me, i thought i was alone
You're driving me crazy, when are you coming home?
image source: amazon.com
READ MORE - "Kejutan" Dari Sebuah Rencana Yang Dibuat Mendadak

Mengapa Menjadi Hitam Diantara Mayoritas Putih Kerap Diremehkan?

image source: freepptbackgrounds.net
"Black is not sad... black is poetic" -- Ann Demeulemeester

Di blog ini, beberapa waktu lalu saya sempat membahas mengenai keindahan hitam dan putih, bagaimana kedua warna itu merupakan warna yang indah saat digabung. Banyak yang mengincar warna lebih menarik daripada hitam dan putih, misalnya merah, kuning, hijau, biru dan masih banyak lagi. Sama seperti warna kehidupan, yang selalu dicari adalah yang berwarna-warni, agar penuh semangat positif, padahal warna hitam dan putih yang hadir pun bisa memberikan kenyamanan tersendiri. Kira-kira itulah sekelumit isi tulisan saya terdahulu.

Kini, saya ingin memfokuskan pada sisi warna hitam. Kita ibaratkan saja sisi putih adalah sisi positif, warna suci dan kebaikan, sementara sisi hitam adalah sisi negatif, warna muram dan jahat. Noda yang melumuri kebaikan. Intinya, hitam kerap dikonotasikan tidak baik. Musibah yang menimpa seseorang sering disebut "masa-masa tergelap dalam hidup". Saat kematian menyapa, seluruh orang yang hadir di pemakaman mendadak mengenakan busana hitam.

Gelap. Suram. Pesimis.

Bagaimana dengan warna putih? Tidak usah diragukan lagi, kemilau putih selalu memberikan nuansa positif dimanapun dia berada. Warna busana para muslim saat menunaikan ibadah haji atau umroh, warna kertas kosong standar, dan warna-warna lain untuk menggambarkan kesucian sesuatu, pastilah putih. Putih si baik, sementara hitam si jahat. Selalu demikian.

Apakah memang hitam seburuk itu? Atau sekedar simbol? Jika demikian, malang benar nasib si hitam, menanggung kesan negatif, hanya untuk memperlihatkan bahwa si putih selalu suci jika disandingkan bersebelahan dengannya. Masyarakat cenderung menilai apa yang dianggap sama oleh masyarakat lain, sehingga sisi hitam bisa dipastikan tidak sepopuler putih dalam hal-hal yang positif.

Di dalam artikel ini, saya mengibaratkan hitam dan putih adalah warna yang sejajar, bukan menandakan putih adalah suci sementara hitam adalah kotor. Tidak, saya tidak membicarakan kebaikan dan kejahatan. Saya menekankan masalah perbedaan. Jadi, sampai tulisan ini berakhir, yang dimaksud sisi hitam di sini adalah sisi berbeda dari kondisi yang ada. Saya meletakkan putih sebagai warna utama, sementara hitam sebagai warna pembeda diantara putih.

"None of us are just black and white, or never wrong and always right. No one."
-- Suzy Kassem

Hitam juga identik dengan noda, seolah menjadi sesuatu yang harus segera dibersihkan saat muncul, bahkan keberadaannya tidak diinginkan. Sama seperti noda kesalahan dalam hidup. Jika selama ini kita melakukan sesuatu sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, maka dianggap menjadi bagian dari "putih", sama seperti orang lain (padahal belum tentu putihnya alami, bisa saja dipalsukan). Nah, begitu ada kesalahan yang dilakukan, saat itulah noda hitam muncul, mencemari sisi putih yang telah kita refleksikan.

Semua orang bisa dan pernah melakukan kesalahan, sekecil apapun itu. Kesalahan tersebut kita anggap saja noda hitam. Nah, bagaimana masyarakat memperlakukan si noda hitam inilah yang membuat saya bingung. Ada sebagian yang bisa memahami dan memberikan toleransi, namun sebagian besar malah memandangnya hina. Bagi mereka yang memandang sinis, noda hitam tersebut bagai racun yang menempel, seolah harus segera dibersihkan.

Saya sendiri pernah melakukan kesalahan, kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Sebelum menulis artikel, saya berusaha merenung cukup lama mengenai reaksi orang-orang saat mengetahui saya berbuat salah selama ini. Jika diingat-ingat, ada yang bisa memahami dan memaafkan, ada yang mengkritik habis-habisan, ada yang diam saja, dan yang paling menyakitkan adalah mereka yang langsung mencoret saya dari daftar "orang yang bisa dipercaya", alias hilang sudah reputasi putih yang saya bangun selama ini. Hubungan komunikasi pun rusak.

Mungkin kalian juga pernah mengalami beberapa diantaranya. Betapa sebuah noda hitam dapat merusak kemilau putih yang selama ini terpancar. Benar kata pepatah, "Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga". Dulu saya tidak terlalu menganggapnya serius, kini saya merasakan sendiri makna pepatah tersebut. Hidup ini memang unik ya, sesaat kita merasa berada di atas angin, sesaat kemudian terjun bebas ke bawah.

Apakah dari sebuah kesalahan yang menodai kesucian putih itu ada hikmahnya? Tentu saja ada. Butuh kejelian dan kepekaan dari setiap individu untuk memahami makna di balik kejadian tersebut. Bagi yang tidak memahami maknanya, cenderung bergelimang dalam kesedihan mendalam dan frustasi berlebih, berujung melakukan hal-hal yang malah lebih merusak diri sendiri. Lagipula, dari kesalahan yang merusak hubungan dengan manusia tersebut bisa saja Allah SWT sedang mengingatkan kita untuk berbenah diri.

image source: deviantart.com
"We've all got both light and dark inside us. What matters is the part we choose to act on. That's who we really are
-- J. K. Rowling


Oke, dari pembahasan di atas kita tahu bahwa warna hitam dikonotasikan tidak suci. Noda dalam hidup pun bisa dianggap warna hitam. Kini mari bahas ke arah yang lebih luas lagi, mengenai hidup dalam masyarakat yang terbagi dalam kelompok putih (mayoritas) dan hitam (minoritas). Teori yang berlaku di sebagian besar masyarakat adalah "hiduplah seperti kelompok mayoritas putih, sebaiknya tidak perlu menjadi hitam untuk tampil berbeda". Menjadi kelompok putih berarti menjadi bagian masyarakat yang ideal, setidaknya demikianlah yang ada di benak setiap orang. Untuk apa menjadi sisi yang berseberangan (hitam) jika menjadi putih adalah jalan terbaik?

Coba perhatikan orang-orang yang kerap kita jumpai setiap hari, yang berinteraksi dengan kita, secara langsung maupun tidak langsung. Saya yakin semua tidak sempurna. Selalu ada kelemahan dalam diri setiap orang. Lagipula, definisi sempurna itu sendiri seperti apa? Apakah yang memiliki ciri fisik seperti seorang supermodel dan berkelakuan baik bisa dibilang panutan sempurna?

Pertanyaan utamanya adalah: sempurna yang dimaksud ini, sempurna versi siapa?

Apakah mereka-mereka yang terlahir dengan cacat fisik bukanlah orang yang sempurna, dan tidak berhak mendapat fasilitas seperti orang lain yang terlahir tidak seperti mereka? Jika memang mereka dianggap tidak sempurna, lalu mengapa Allah SWT memberi kehidupan padanya? Jika ditanyakan kepada orang-orang yang terlahir cacat, mereka juga tidak berharap terlahir demikian. Bagaimana jika diri kita berada dalam posisi mereka? Masihkah berbangga menjadi pribadi yang sempurna, sama seperti orang lain?

Apakah jika kita terlihat sama seperti orang kebanyakan, yang memiliki fisik sempurna, pekerjaan impian, rumah impian, keluarga impian dan sebagainya, maka kita bisa tersenyum lega? Apakah itu definisi sejati dari kesempurnaan hidup? Lalu, bagaimana nasibnya orang-orang yang tidak memiliki kriteria tersebut? Ada dua kemungkinan: mereka akan berusaha menjadi seperti sosok sempurna lainnya (berusaha menjadi kelompok putih), atau mereka akan mencari jalan untuk menjadi diri sendiri, tidak termakan arus utama (menjadi kelompok hitam).
Jika kemungkinan pertama yang diambil, alias "berusaha menjadi seperti sosok sempurna lainnya", maka dalam perjalanan mencapai hal tersebut, bisa saja mereka melakukan segala cara, bahkan melanggar norma-norma dalam masyarakat. Kalau sudah demikian, berarti mereka memasukkan noda hitam dalam kehidupan hanya untuk tampil menjadi sisi putih, dong? Mengerti maksud saya? Berarti kesempurnaan yang diusung hanyalah semu. Mereka hanya ingin menjadi bagian dari sisi putih, agar terlihat sama seperti putih lainnya. Mereka tidak ingin dianggap berbeda. Bagi mereka, berbeda berarti anomali, dan menjadi anomali di tengah kelompok putih adalah hal yang menyedihkan.

Saya justru salut dengan mereka-mereka yang memilih opsi "mencari jalan untuk menjadi diri sendiri, tidak termakan arus utama". Mereka memilih menjadi sisi hitam dari masyarakat yang tampak putih. Bisa saja mereka memiliki persyaratan menjadi kelompok putih, namun tidak dilakukan. Kenapa? Karena bagi mereka, tidak selamanya menjadi putih di antara putih adalah kesempurnaan hidup. Mereka telah menemukan makna dari perbedaan itu sendiri. 

Perbedaan itu indah, dan penuh makna. Coba saja lihat angsa hitam dan angsa putih. Jika angsa putih terlihat menawan dan anggun dengan bulu-bulu putihnya, lalu mengapa harus ada angsa berwarna hitam? Tengok lagi hewan lainnya. Jika seekor kuda terlihat gagah dengan surainya yang indah, lalu mengapa ada hewan seperti keledai yang tampak lemah? Kenapa tidak diciptakan saja lebih banyak kuda, dan menghilangkan keledai? masih banyak pertanyaan lainnya yang semestinya kita renungkan.

Mereka semua, makhluk-makhluk yang kita anggap terlihat buruk, tidak sempurna dan semacamnya, bisa dibilang menjadi sisi hitam. Tidak selamanya hewan-hewan tampil dengan bentuk sempurna. Bahkan kucing pun, yang menjadi peliharaan manusia, dibekali dengan warna bulu beragam, tidak melulu satu warna.

Lalu, mengapa manusia kerap meremehkan perbedaan fisik yang ada? Jika dari hal sederhana semacam itu saja kita belum mampu memberi toleransi, bagaimana bisa menyikapi perbedaan dalam pola pikir, bahasa, budaya, atau tujuan hidup? Kenapa misalnya, pilihan mengambil kuliah di kampus swasta diremehkan, harus mengambil kuliah di kampus negeri? Atau contoh lainnya, kenapa bekerja di perusahaan besar selalu diagung-agungkan, sembari meremehkan mereka yang bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko ritel?

Jadi, menjadi hitam diantara kerumunan putih bukanlah pilihan buruk. Banyak bukti di sekeliling kita, bukti ciptaan Allah SWT, bahwa berbeda tidak selamanya buruk. Allah SWT selalu memperhatikan setiap makhluk tanpa terkecuali. 

Saya tidak memaksa kalian untuk langsung berganti haluan menjadi sisi anti mainstream. Saya sendiri berusaha mengimbangi kedua hal tersebut, meski sulit. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa tidak selamanya menjadi sisi putih selalu benar. Jangan sampai kita begitu terobsesi menjadi seperti mereka-mereka yang tampak dominan di kelompok putih, padahal mencapai taraf hidup seperti mereka tidak sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Atau, bisa jadi taraf hidup mereka tidak sesuai dengan norma yang kita anut. Tidak selamanya yang kita lihat pada diri orang lain itu sesuai apa adanya.

Saya juga ingin mengingatkan bahwa sah-sah saja menjadi bagian kelompok putih, asalkan tidak meremehkan keberadaan kelompok hitam, kelompok yang berbeda dengan putih. Jika kita memiliki penghasilan tinggi, keluarga lengkap, properti banyak, dan pencapaian lain, apa gunanya meremehkan mereka yang tidak seperti itu? Saya tahu bahwa uang adalah hal penting, namun mengagung-agungkan pencapaian hidup berdasarkan standar uang bukanlah sesuatu yang bijak. Pada akhirnya, yang kita dapatkan hanya sebatas kepuasan ego, bukan kepuasan batin yang menenangkan. Apakah kita masih mengutamakan ego saat menyadari bahwa diri ini hanyalah butiran debu di tengah luasnya angkasa luar?

Lagipula, apakah mengejar urusan dunia adalah tuntutan hidup mutlak yang harus dipenuhi? Apakah dengan memiliki harta berlimpah dan pencapaian ini itu, hidup kita lantas menjadi sempurna? Sekali lagi, sempurna versi siapa? Versi manusia atau versi Allah SWT?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Saya mendengarkan berulang-ulang lagu Alabama Shakes yang berjudul "Joe" selama proses menulis. "Joe" adalah bonus track di album Sound & Color. Saya mendengarkan versi live mereka di Austin City Limits, yang terasa menyentuh sekali saat didengarkan. Suara sang vokalis, Brittany Howard, sungguh membuat lagu bernapaskan alternative rock & soul ballad ini sangat bernyawa. Emosi saya campur aduk setiap kali mendengarnya.

Notable lyric of this song:
What am i to do? I been all around this world
Looking for someone like you
image source: nerdist.com



READ MORE - Mengapa Menjadi Hitam Diantara Mayoritas Putih Kerap Diremehkan?

Menulis Blog dengan Nyaman

image source: businessinsider.com

"Lock up libraries if you like, but there is no gate, no lock, no bolt that you can set upon the freedom of my mind" 

-- Virginia Woolf

Jika di artikel sebelumnya saya sempat membahas mengenai pentingnya membaca bagi kelancaran proses menulis, kini saya mencoba membahas mengenai proses menulis itu sendiri. Sebenarnya, ini bukanlah artikel pertama mengenai tulis-menulis yang saya buat, namun entah kenapa, saya ingin menekankan lagi mengenai prosesnya. Benak saya sempat memuat pikiran seperti ini, "Jika gaya menulis saja berbeda antar satu penulis dan lainnya (atau bloger dalam hal ini), apakah proses menulisnya juga berbeda?"

Mungkin tidak seratus persen berbeda, karena setahu saya penuangan tulisan hanya melalui tulisan tangan atau alat elektronik, itu saja. Jika melalui alat elektronik, pilihannya bisa beragam, apalagi dengan segala kecanggihan teknologi saat ini. Nah, keberagaman itulah yang setidaknya memunculkan kecenderungan berbeda antar satu penulis dan lainnya. Kesemuanya bertujuan sama: mendapatkan kenyamanan dalam menulis.


Bicara mengenai kenyamanan, tampaknya hal itu penting untuk diketengahkan. Sebuah aktivitas, jika tidak dilakukan dengan nyaman, maka hasilnya bisa jadi tidak akan maksimal. Begitu pula menulis. Untuk mendapatkan unsur kenyamanan itu sendiri, menurut saya tidak ada patokan khusus, harus seperti ini dan seperti itu. We create our own style, own pattern. 


"We make patterns, we share moments" -- Jenny Downham

Saya sedih melihat betapa sedikitnya artikel yang saya tulis sepanjang tahun 2017 ini. Saya tahu menjadi seorang bloger bukanlah profesi yang saya pilih, karena menulis di blog saya anggap "hanya" sebagai aktivitas sampingan, menyalurkan hobi. Tapi itu bukanlah pembelaan diri yang baik. Saya memang pemalas dan tidak konsisten. Sepertinya tidak ada kalimat lain untuk menggambarkannya secara tepat selain itu.

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel di internet yang menyatakan bahwa, jika kita mulai dilanda kebosanan dan kemalasan dalam menulis, maka hal pertama yang harus ditanamkan dalam benak adalah: "Apa tujuan awal kamu menulis?" Itu sungguh sebuah cambuk yang semestinya sanggup menghalau rasa malas.

Menjawab pertanyaan itu, jawaban saya adalah: aktualisasi diri. Dari dulu, memang itu yang saya incar dari aktivitas tulis-menulis ini, dan menjadi pemicu untuk membuat blog pribadi. Saya ingin menjadikan menulis sebagai kebutuhan yang harus dilengkapi. Saya ingin meninggalkan jejak di dunia ini, setidaknya dalam sebuah tulisan sederhana. Orang lain bisa saja mengembangkan potensi masing-masing dalam bidang politik, hukum, ilmu pengetahuan, seni dan sebagainya. Bagaimana dengan saya? Well, saya ingin menyumbangkan tulisan dan berharap bisa melakukan perubahan, meski dalam skala kecil sekalipun. 

Ternyata, menulis memiliki dampak luar biasa bagi diri pribadi. Saya merasa apa yang memberontak dalam benak bisa dipilah satu demi satu menjadi kelompok pemikiran, yang mana bisa saya lihat dan ambil kapan pun dibutuhkan. Istilahnya, semua menjadi terorganisir. Selain itu, menulis juga membuat saya mengapresiasi pencapaian diri sendiri. Jadi, saat orang lain memandang remeh dan mempertanyakan standar hidup saya yang berbeda dengan kebanyakan orang (ini kerap terjadi), dalam hati saya bisa menjawab, "Tidak usah rendah diri, Bayu. Semua hal sudah diatur oleh Allah. Setidaknya saya pernah menghasilkan tulisan untuk dibaca orang lain, bukan sekedar hidup untuk mengikuti arus dan mengkritik orang lain yang tidak mengikuti arus dengan benar".

image source: thecoffeeminimalist.com

"Write what you know. That should leave you with a lot of free time"
-- Howard Nemerov



Nah, setelah meresapi tujuan awal menulis, langkah berikutnya yang saya lakukan adalah menemukan pola menulis yang nyaman. Saya pernah mencoba menulis dengan pena atau pensil di selembar kertas, juga sebuah buku tulis. Hasilnya? Tidak karuan. Tulisan tangan saya malah kerap tak beraturan, belum lagi jika harus mengeditnya, kertas akan penuh dengan coretan. Tidak bersih.

Prinsip kebersihan dan kenyamanan menjadi sesuatu yang saya jadikan pedoman. Lagipula, untuk keperluan artikel di blog, menulis dengan tangan akan berakhir juga menjadi tulisan versi digital, bukan? Kenapa tidak sekalian saja menulis dalam format tersebut? Jadilah saya memantapkan diri menulis menggunakan perangkat elektronik. Pilihan jatuh pada laptop. Pertama, perangkat tersebut sungguh praktis dan tidak memakan tempat. Kedua, layarnya cukup lega, tidak sesempit smartphone. Saya sengaja memilih laptop yang memiliki lebar layar di atas 12 inchi, demi kenyamanan melihat hasil tulisan. Ketiga, keyboard-nya lebar dan empuk, tidak sekecil keyboard di smartphone.


Dengan menggunakan laptop untuk menulis, saya bisa mengedit hasil tulisan dengan mudah, tidak meninggalkan bekas coretan seperti di kertas. Saya bisa menulis sembari mencari gambar dan kutipan menarik melalui situs pencarian di internet. Dan yang terpenting, saya bisa memutar lagu favorit untuk menemani proses menulis. Bagi kalian yang belum familiar dengan tulisan saya, di setiap bagian bawah artikel, saya akan selalu meletakkan "catatan" tersendiri selama proses menulis, yang berisikan info mengenai lagu apa yang didengarkan. Itu bukan sekedar pemanis atau bentuk kesombongan diri (mohon jangan dianggap seperti itu), tapi memang unsur penting dalam menunjang tulisan, sehingga saya merasa harus menuliskannya.

image source: austinmusictherapy.com
Jadi begini. Musik merupakan elemen penting dalam menulis bagi saya, karena alunan musik tertentu bisa membangkitkan ide-ide yang terkubur dalam sudut benak. Ide tersebut akan diolah sedemikian rupa berkat bantuan musik, dan tanpa sadar aura yang saya masukkan ke dalam tulisan ikut terpengaruh seiring nada yang mengalun. Begitu besarnya pengaruh musik, sehingga saya merasa harus mengapresiasi setiap musisi yang "tanpa sadar" membantu saya menghasilkan tulisan, yakni dalam bentuk catatan kaki. Bisa dibilang, di balik semua tulisan yang saya hasilkan hingga detik ini, selalu ada musik yang mendukung di baliknya. Entah apakah saya sendiri yang merasakan hal ini atau kalian juga bisa terpengaruh oleh lagu saat menulis.

Bukan berarti saya tidak pernah mencoba menulis tanpa musik. Saya pernah kok melakukannya, dan hasilnya sama tidak karuannya saat menulis dengan tulisan tangan! Kacau. Meskipun laptop sudah menyediakan unsur penting sebagai bahan tulisan, tetap saja jemari saya terasa kikuk. Apa yang saya tulis selalu terasa tidak sinkron. Ada saja bagian yang salah, belum lagi otak ini sungguh sulit menemukan kalimat yang tepat. Apa yang salah dengan diri saya? Ternyata obatnya adalah musik. Begitulah. Terkadang, hal sederhana justru menimbulkan ketergantungan yang luar biasa.

Laptop, internet, musik. Itu adalah kombinasi cocok saat melakukan kegiatan menulis di blog, dan akhirnya saya menemukan kenyamanan versi pribadi. Yeah. Saat ketiga hal itu bersatu, maka saya bisa menuangkan tulisan dengan bebas, dan tersenyum bahagia saat selesai. Kepuasan yang didapat setelah kita menulis tidak ada duanya, saya yakin kalian para bloger merasakan apa yang saya rasakan ini. Benar, kan?

Tapi tunggu dulu. Menemukan pola menulis yang nyaman saja belum tentu bisa menghasilkan sebuah tulisan, karena unsur konsistensi diperlukan. Duh, ini kelemahan saya. Haha. Yah, setidaknya dengan menemukan konsep nyaman versi pribadi, seharusnya diri kita akan tertantang untuk menggerakkan jemari dan menulis. Kenyamanan tersebut selanjutnya menuntun kita untuk terhanyut dalam proses menulis. Pada akhirnya, blog pun akan terisi dengan hasil tulisan yang siap terbit, bukan lagi tersimpan di draft. 

Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian telah menemukan pola yang nyaman sendiri dalam menulis?

-Bayu-



Catatan selama proses menulis:

Saya mendengarkan lagu Beck yang berjudul "Country Down" untuk mengiringi penulisan artikel di atas. Sayang sekali, nama Beck tidaklah terlalu dikenal dunia, padahal musiknya dikemas dengan rapi dan berkelas. Album "Morning Phase" yang dirilis pada tahun 2014 membawanya masuk ke nominasi Album Of The Year di ajang Grammy Awards ke-57 tahun 2015, dan siapa sangka? Album bernapaskan folk rock ini memenangkan penghargaan paling bergengsi itu, dan membuat seluruh kritikus terhenyak. Good job, Beck!

Notable lyric of this song:
What's the use of being found? You can lose yourself in sunken ground
image source: en.wikipedia.org

READ MORE - Menulis Blog dengan Nyaman

Keterbukaan di Era Media Sosial

image source: qubole.com

"Data is a precious thing and will last longer than systems themselves"
-- Tim Berners-Lee

Hidup di masa sekarang, di era digital, mau tidak mau berkompromi dengan yang namanya internet. Kebutuhan akan hal tersebut seolah menjadi kebutuhan pokok yang cukup sulit diabaikan. Bergabung dengan dunia internet berarti menjadi bagian dari masyarakat digital, dengan segala kemudahan akses informasi dan sebagainya. Memilih untuk tidak bergabung, berarti... ya kalian akan tertinggal dengan banyak hal (kecuali kalian memang menginginkannya).

Jika dirunut, banyak sekali aspek kehidupan yang sudah terhubung dengan internet. Kita bergerak menuju masyarakat dimana data adalah unsur penting. Data pembelian, pilihan produk, minat, komunitas, tren, lokasi, dan sebagainya, itu semua terkumpul menjadi satu kesatuan data yang sungguh luar biasa besarnya. Manfaatnya pun besar bagi kepentingan dan kemudahan masyarakat beraktivitas.

Saya baru merenungi masalah data tersebut setelah membaca sebuah novel karangan Dave Eggers yang berjudul "The Circle". Novel ini pernah diangkat ke layar lebar, dibintangi Emma Watson dan Tom Hanks. Saya pernah menontonnya, dan tidak merasa tergugah dengan apa yang coba disampaikan si pembuat film. Entah, mungkin ini perasaan saya saja, tapi filmnya terkesan terburu-buru, tidak maksimal dalam menyampaikan pesan. Ulasan yang diterima film ini pun kurang memuaskan.

Beberapa bulan setelah menonton film itu, pikiran saya kembali terusik dengan tema yang tersaji di sana. Benak saya menanyakan sesuatu yang sulit dijawab, dan saya yakin itu ada hubungannya dengan apa yang dipaparkan di film. Ingin menonton filmnya lagi, terasa malas. Menyadari bahwa film itu disadur dari novel, saya segera mencarinya untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam. Saya ingin menyelami jalan pikiran sang penulis. Beruntunglah saya menemukannya.


image source: agent8.co.uk
Gambar di atas hanyalah sampel (yang saya miliki adalah e-book, sehingga sulit ditunjukkan bukti fisiknya). Saya ingin memperlihatkan logo The Circle yang terpampang di sana. Buku ini bercerita mengenai Mae Holland, seorang gadis yang bekerja di perusahaan teknologi bernama Circle, dengan harapan mendapat kehidupan lebih makmur. Seperti logo di atas, Circle banyak berhubungan dengan data yang saling terhubung satu sama lain, kesemuanya seolah membentuk satu lingkaran sempurna. Mereka memiliki media sosial bernama Zing, dan diceritakan juga bahwa Circle menguasai mayoritas mesin pencarian di internet. Kantor pusatnya disebut "kampus", dengan beragam fasilitas menarik.

Mae sangat senang bekerja di sana. Dia ditempatkan di bagian Customer Experience, menangani pelanggan yang menjadi mitra pengiklan, menjawab pertanyaan dan memberi umpan balik terkait kepuasan pelanggan. Setiap harinya Mae akan diberi skor tertentu berdasarkan tingkat kepuasan pelanggan, untuk menunjukkan kinerjanya. Karena bekerja dengan gigih, Mae sering mendapat skor nyaris sempurna.

Sayangnya, bekerja di Circle bukanlah semata bekerja sesuai job description. Berhubung Circle adalah perusahaan teknologi dan menguasai media sosial, maka "bersosialisasi" juga menjadi unsur penting, sehingga setiap karyawan diharapkan partisipasinya dalam acara sosial kantor, juga melalui media sosial yang dimiliki. Mae yang cenderung tertutup awalnya terkejut dengan "tuntutan" tersebut. Dia bahkan sempat ditegur oleh bagian SDM mengenai media sosialnya yang dibiarkan kosong selama masa-masa awal bekerja. Teguran berikutnya terkait partisipasi dia dalam acara kantor, yang bisa dibilang minim. Menurut bagian HRD, Mae adalah "enigma", dan "diselubungi misteri".

Menyadari bahwa setiap karyawan akan diberi "PartiRank" atau semacam ranking yang menunjukkan sejauh mana mereka telah berpartisipasi secara sosial, Mae tidak ingin mengecewakan perusahaan. Dengan gigih dia mengejar ketertinggalannya, dengan mengikuti acara yang diselenggarakan perusahaan, mengisi media sosial dengan berbagai postingan, mengunggah tautan, memberi komentar di postingan orang lain, mengikuti petisi online, bergerilya memberi icon semacam smile, frown dan semacamnya untuk postingan yang dia temui, demikian seterusnya hingga dirasa PartiRank-nya membaik.

Kemudian, sebuah insiden terkait kerahasiaan dan cara berkomunikasi yang menimpanya membuat Mae berpikir mengenai transparansi. Dia merasa bersalah akibat insiden tersebut, dan berkat dukungan Bailey, mentor sekaligus salah satu petinggi perusahaan, Mae menerapkan konsep yang membuat hidupnya berubah, yakni menjadikan identitas dirinya terbuka untuk dunia. Mae dibekali sebuah kamera kecil yang dia bawa kemana-mana dan disiarkan langsung melalui internet ke seluruh dunia, sehingga hidupnya terus dipantau melalui kamera tersebut.

Hmm... benarkah yang dilakukan Mae mengubah semuanya menjadi lebih baik?

"It's dangerous when people are willing to give up their privacy" -- Noam Chomsky

Membaca "The Circle" membuat saya merinding, betapa apa yang diramalkan dalam novel tersebut bisa saja terjadi di masa depan, mengingat saat ini dunia menuju kesatuan tunggal masyarakat internet. Dunia semakin bergerak nyaris tanpa filter sosial, tanpa malu mengumbar berita palsu, mencaci maki dengan akun anonim, menghakimi tanpa paham kejadian utuh, membagikan data pribadi tanpa sadar konsekuensinya, mengetahui kehidupan orang yang tidak benar-benar kita kenal secara pribadi, dan semacam itu.

Kompleks. Itu kata yang cocok menggambarkan kumpulan data yang ada di internet. Dengan mudah perilaku kita akan dianalisis oleh semacam mesin pintar, kemudian menghasilkan kajian menarik mengenai perilaku pembelian, minat, pola pikir, dan semacamnya. Di satu sisi, hal itu bermanfaat untuk memetakan kebutuhan bagi beberapa pihak tertentu, dan sebagai pengguna akhir, kita juga diuntungkan dengan segala kemudahan yang menyertainya. Namun, di sisi lain, itu semacam perangkap tanpa akhir. Dunia maya akan selalu lapar, rakus akan data.

Sekarang, pertanyaannya adalah: Apakah keterbukaan di era digital sebagai sesuatu yang positif atau negatif?

Mengenai pertanyaan tersebut, saya akan menampilkan beberapa dialog dalam novel "The Circle", antara Bailey (petinggi perusahaan) dan Mae, untuk dijadikan bahan renungan. Saya memotong beberapa bagian agar relevan dan singkat, tapi intinya tetap bermakna sama (halaman 344):

Mae     : Tetapi, saya masih berpikir bahwa ada hal-hal, meskipun hanya sedikit, yang ingin kita simpan sendiri. Maksud saya, semua orang melakukan hal-hal pribadi, atau di kamar tidur, yang membuat mereka malu.

Bailey  : Oke, terhadap hal-hal seperti itu akan ada dua hal yang akhirnya terjadi. Pertama, kita akan menyadari bahwa perilaku apa pun yang kita rahasiakan itu sebenarnya sangat tersebar luas dan tidak merugikan sehingga tidak perlu menjadi rahasia. Atau yang kedua, jika kita semua, sebagai masyarakat, memutuskan bahwa ini adalah perilaku yang lebih baik tidak kita lakukan, akan mencegah perilaku ini dilakukan.

Bailey  : Mae, pernahkah kau punya rahasia yang menggerogotimu dari dalam, dan begitu rahasia itu terbongkar, kau merasa lebih baik?
Mae     : Pernah.
Bailey  : Aku juga. Begitulah sifat rahasia. Rahasia itu seperti kanker jika disimpan di dalam, tetapi tidak berbahaya setelah dikeluarkan.
Mae     : Jadi, Anda mengatakan tidak boleh ada rahasia.
Bailey  : Aku sudah memikirkan hal ini selama bertahun-tahun, dan aku belum menemukan skenario ketika rahasia lebih bermanfaat ketimbang merugikan. Rahasia memungkinkan perilaku antisosial, amoral, dan destruktif.


"Once you've lost your privacy, you realize you've lost an extremely valuable thing"
-- Billy Graham

Novel "The Circle" memuat banyak sekali kalimat-kalimat yang layak untuk didiskusikan lebih mendalam. Kalimat itu mengkritisi masyarakat modern, dimana semua data diri dengan mudahnya mengalir masuk ke dalam sebuah sistem pengolahan data raksasa, tanpa benar-benar bisa dikelola secara mandiri. Saya tidak bisa membahasnya satu persatu di sini, hanya mengambil tema intinya saja, yang diketengahkan oleh Dave Eggers, sang penulis, yaitu:

1. Rahasia adalah kebohongan.
2. Berbagi berarti peduli.
3. Privasi adalah pencurian.

Dave Eggers menulis kritik mengenai rahasia di halaman 354: "Ketika ada sesuatu yang dirahasiakan, terjadi dua hal. Yang pertama adalah bahwa hal itu memungkinkan terjadinya kejahatan. Kita bertingkah lebih buruk ketika perbuatan kita tidak perlu dipertanggungjawabkan. Itu sudah jelas. Dan, yang kedua, rahasia menimbulkan spekulasi. Ketika tidak tahu apa yang disembunyikan, kita menebak-nebak, kita mengarang jawabannya."

Hmm. Rahasia memang terdengar mengerikan, karena unsur misteri yang meliputinya. Namun jika kita dituntut untuk mempublikasikan semua hal tanpa terkecuali (meniadakan rahasia) dan sebagai konsekuensinya, mengetahui semua yang terjadi terhadap seseorang setiap detiknya, menurut saya itu bukanlah gagasan yang baik. Dave dengan cermat mengkritisi perilaku masyarakat Circle yang sangat tergantung dengan media sosial dan segala macam pernak-pernik di dalamnya. Bagi dunia ideal versi Circle, masyarakat sudah semestinya memberikan semua hal yang mereka ketahui kepada masyarakat lain melalui internet, baik itu pengalaman pribadi, tempat-tempat menarik, hasil karya, dan semacamnya. Tidak ada lagi rahasia. 

Dengan berbagi hal tersebut, maka masyarakat telah menerapkan konsep kepedulian terhadap sesama. Bisa saja ada orang-orang yang tidak bisa mendaki gunung, merasakan pengalaman melihat gunung melalui video milik orang lain yang didokumentasikan, sehingga semua pihak senang. Itu yang dimaksud dengan "berbagi berarti peduli". Seperti yang tertulis dalam novel: "Menyembunyikan sesuatu yang indah, perjalanan yang menyenangkan di atas air, cahaya bulan yang bersinar, bintang jatuh... itu hanya karena egois. Itu egois dan tidak lebih."

Menurut dunia ideal versi Circle, menyembunyikan suatu hal yang kita lihat, ketahui, dengar, cium dan rasakan adalah keegoisan pribadi. Bagi mereka, sudah semestinya hal-hal tersebut didokumentasikan dan dibagikan kepada orang lain, karena semua orang berhak tahu apa yang kita tahu. Tidak boleh ada rahasia di antara orang lain. Rahasia itu sendiri justru menimbulkan perilaku yang merusak bagi tatanan masyarakat sosial.

Lebih lanjut, Dave Eggers memberi sindiran terhadap privasi. Dia membuat seorang tokoh dalam novel menyatakan bahwa ketika kita tidak memberikan pengalaman seperti yang kita alami kepada teman, atau kepada mereka yang memiliki keterbatasan fisik, pada dasarnya kita mencuri dari mereka. Kita mengingkari hak mereka. Pengetahuan adalah hak asasi yang mendasar. Akses setara terhadap semua kemungkinan pengalaman manusia adalah hak asasi manusia.


"Friends don't spy, true friendship is about privacy, too" -- Stephen King

Lika-liku konflik yang dituangkan dalam novel The Circle menyadarkan saya bahwa masyarakat yang hidup dalam era keterbukaan informasi tidak sepenuhnya sempurna. Apa yang semula dipandang sebagai demokrasi, nyatanya tidak semanis itu. Pihak yang memegang kendali penuh atas semua informasi masyarakat bisa menggunakannya untuk kepentingan mereka, menjatuhkan lawan politik dan hal-hal mengerikan yang justru melenceng dari konsep demokrasi. Transparansi data digunakan sebagai simbol kepedulian, padahal justru hal itu mendorong masyarakat semakin terjebak dalam sebuah lingkaran sempurna. Layaknya bentuk lingkaran yang tidak memiliki lubang keluar, demikian juga segala asupan informasi yang kita berikan. Terjebak dalam lingkaran. Yang membuatnya ironis adalah, kita tanpa sadar telah terjebak.

Tidak ada jalan keluar. Semua berhak tahu. Semua berhak menghakimi. Semua berhak diberitahukan kepada semua orang, tanpa terkecuali. Hidup yang semula damai tanpa banyak notifikasi, mendadak menjadi riuh karena semua orang melihat apa yang orang lain lihat, padahal belum tentu mereka mengenal orang tersebut secara personal. Bersosialisasi dengan media sosial yang awalnya didengung-dengungkan dengan gencar, justru cenderung menimbulkan sikap antisosial itu sendiri. 

Mengenai dampak ini, Dave Eggers menyinggungnya di halaman 311. Melalui seorang tokoh teman Mae, Dave menulis sebagai berikut: "...Kau mengikatkan diri secara sukarela. Dan, dengan sukarela kau menjadikan dirimu autis secara sosial. Kau tidak lagi mengerti isyarat komunikasi mendasar manusia. Kau berada di meja bersama tiga manusia, yang semuanya berusaha memandangmu dan berusaha bicara denganmu, dan kau malah memandangi layar. Yang menjadi paradoks adalah, kau mengira menjadi pusat dunia, dan itu membuat pendapatmu lebih berharga, tetapi dirimu sendiri menjadi kurang hidup."

Begitulah. Masyarakat dalam konsep Circle adalah masyarakat yang didorong untuk terus-menerus terbuka dalam hal informasi. Berikan kepada dunia, maka kamu akan dianggap peduli. Jangan pernah menyimpan rahasia, karena itu bisa mengarah pada kejahatan. Dengan sendirinya, individu yang tidak cocok dengan konsep Circle, akan terdesak keluar dari sistem, dan mereka adalah anomali sosial.

Wow. Konsep itu terdengar mengerikan bagi saya. Duh, bisa jadi saya adalah individu yang tidak cocok dengan konsep Circle. Kecuali untuk melihat beberapa akun berita, saya terhitung jarang sekali melihat linimasa media sosial dalam segala bentuknya, memposting sesuatu, dan semacamnya. Melihat linimasa media sosial kerap menimbulkan stres jika tidak disertai mental yang kuat. Saya masih mengandalkan keberadaan teman dekat untuk berbagi segalanya. Saya percaya mereka bisa menghakimi dengan tulus, bukan penghakiman sepihak yang marak terjadi di dunia maya akhir-akhir ini, padahal yang mereka hakimi belum dikenal secara pribadi.

Novel The Circle menekankan bahwa privasi adalah kejahatan. Itu adalah sindiran yang sangat telak. Untuk beberapa kasus khusus, menjaga privasi memang bisa menimbulkan tindakan merusak norma sosial. Misalnya, saat seorang koruptor gigih melindungi data percakapannya dengan pihak lain dalam kasus korupsi. Hal-hal seperti itu kerap menimbulkan konflik sosial. Dave Eggers pun seolah menggantungkan permasalahan ini, tidak memberi solusi. Bisa jadi Dave ingin membiarkan pembaca menginterpretasikan sendiri, apakah tindakan menjaga ketat privasi untuk mereka yang melakukan tindak kejahatan termasuk "kejahatan", atau bukan.

Oke. Coba kesampingkan hal tersebut. Saya tidak ingin mengomentari lebih lanjut, isunya terlalu sensitif. Mari bahas mengenai orang-orang yang kerap kita temui dalam jalur pertemanan media sosial. Orang-orang yang dengan bantuan teknologi, menjadi terhubung dengan kita, entah itu di Facebook, Twitter, Path, Instagram dan sebagainya. Entahlah dengan kalian, tapi bagi saya, melihat dengan akses penuh kehidupan orang lain, terutama yang tidak kita kenal secara pribadi, bukanlah hal yang menyenangkan. Saya tidak berhak mengawasi setiap gerak-gerik manusia.

Ada orang yang mengatur media sosialnya agar hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang dia kenal, atau hanya mengikuti akun yang memang benar-benar "temannya". Mereka tidak mau dijejali linimasa yang penuh dengan postingan orang-orang yang tidak mereka kenal secara pribadi. Media sosial sendiri pun menyediakan fitur untuk mengakomodir hal-hal semacam itu. Artinya, masih ada kepedulian dari pembuat aplikasi untuk menghargai privasi. Dalam dunia ideal Circle, hal-hal seperti itu tidak diperkenankan. Mereka tidak menerima tindakan mengunci, mengosongkan atau menghapus hal-hal yang telah diunggah. Jika data yang telah tersimpan di penyimpanan awan dihapus, artinya mencederai konsep transparansi yang diagung-agungkan. Tindakan demikian dianggap anomali. Lingkaran tidak akan terbentuk sempurna jika masih ada potensi kebocoran di dalamnya.


"It takes discipline not to let social media steal your time" -- Alexis Ohanian

Saya juga paham, media sosial berdampak positif terhadap masyarakat modern, mulai dari menemukan teman lama, berinteraksi dengan kenalan baru, mendapat jejaring luas untuk bisnis, atau sekedar mendalami hobi. Tidak masalah. Semua memiliki kebutuhan masing-masing. Data diri saya juga tidak sepenuhnya tertutup kok, sebagian telah terunggah ke internet. Seperti yang saya bilang di atas, internet seolah sudah menjadi kebutuhan yang sulit diabaikan. Menggunakannya dengan berhati-hati dan semata untuk tujuan positif tidak ada salahnya. Jangan sampai berlebihan, itu yang tidak baik. Berbijaklah dalam menggunakannya.

Mungkin hanya blog ini yang masih saya anggap media yang "sesuai" dengan minat dan kebutuhan. Tanpa sadar, saya telah menumpahkan beberapa keluh kesah dan opini tertentu dalam blog selama ini, dan bisa saja itu disalahartikan. Kekhawatiran tersebut malah menimbulkan perasaan cemas tak berdasar, sehingga saya memandang sinis blog sendiri. Ditambah faktor malas menulis, membuat saya melupakan blog. Semua orang bisa mengurus hidup masing-masing tanpa saya harus ikut campur tangan memberi opini publik. Itu yang saya pikir.

Kenyataan berkata lain. Saat vakum menulis, dunia seolah tidak bersahabat terhadap saya. Tidak ada unsur excitement. Datar. Nyaris tak berwarna. Saya beraktivitas dengan kejemuan maksimal. Hiburan sederhana semacam buku, musik dan film tidak terlalu diminati lagi. Saya tenggelam dalam arus dunia dengan segala tuntutannya. Gejolak pikiran yang dulu biasa saya tumpahkan lewat tulisan seringkali terpendam dalam benak tanpa berani dikeluarkan. Saya kurung mereka dalam sudut tergelap. 

Saat semua terasa muram, novel The Circle itu hadir sebagai kejutan dan memberi warna tersendiri dalam aktivitas sehari-hari. Kejutan kedua datang dari seorang rekan bloger, Yoga Akbar Sholihin, yang mengirim email menanyakan perihal absennya saya dalam dunia blog. Yoga merupakan salah satu pembaca setia yang kerap meletakkan komentar di banyak artikel saya. Sejak itu saya terhenyak, menyadari bahwa identitas bloger tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Bloger memang bukan profesi saya, namun menulis sudah pasti menjadi salah satu hal yang bisa membuat hidup saya terasa lebih hidup. Beberapa kali saya vakum, dan efeknya selalu sama: hidup nyaris tak berwarna lagi.

Setelah itu, beberapa teman memberi semangat untuk kembali menulis di blog. Butuh dorongan mental luar biasa bagi saya untuk kembali membuka blogger.com dan masuk ke akun pribadi. Tulisan ini sendiri mengalami bongkar pasang tak terhitung banyaknya. Saya hampir lupa bagaimana pola menulis yang biasa. Sempat timbul keraguan, apakah ini langkah yang benar. Saya pendam tulisan ini dalam draft selama beberapa waktu dan kembali dibongkar pasang lagi tanpa henti. Sepertinya ini adalah proses edit artikel blog paling melelahkan yang pernah saya alami.

Kemudian saya tersadar, betapa panjangnya tulisan ini! Proses edit kembali bergulir, hingga di satu titik, saya menyerah. Lagipula, ini bukan jenis artikel yang mensyaratkan jumlah kata dan semacamnya. Saya hanya ingin menulis.

Saya juga tidak peduli jika artikel ini hanya dibaca oleh satu orang, atau bahkan tidak ada sama sekali, alias saya sendiri yang membaca. Tak apalah. Kenapa? Karena saya memperoleh hadiah yang teramat luar biasa dalam beberapa bulan terakhir ini, yakni perasaan lega. Ya, saya lega bisa menumpahkan lagi pemikiran dalam benak. Saya lega dan tersenyum lebar melihat beberapa komentar yang masuk ke artikel-artikel sebelumnya, meski sampai saat ini ada yang belum sempat saya balas dan mengunjungi balik (terima kasih kepada para bloger yang telah berkomentar di postingan saya ya).

Bicara mengenai postingan, saya jadi membayangkan jika hidup dalam masyarakat versi ideal Circle, sebuah masyarakat yang dituntut melaporkan (mem-posting) apapun ke media sosial: kemana kita pergi, apa yang kita pikirkan, apa yang kita makan, apa yang dikenakan, jenis hiburan apa yang baru saja dialami, dan sebagainya. Beruntunglah pemerintah tidak menuntut saya rajin mengunggah apapun ke media sosial semacam Facebook, Twitter, Instagram, Path dan sejenisnya, atau menuntut saya untuk melihat linimasa seluruh media sosial tersebut, demi mengemban "misi berpartisipasi". Jika itu terjadi, maka saya dipastikan langsung tereliminasi dari sistem sosial. Serius. Saya akan menyerah, tidak sanggup memenuhi hal tersebut.

Hmm... jika dipikir-pikir, meski saya tidak aktif membagikan apapun ke media sosial, tetap saja teknologi mampu "membaca" dan "melacak" saya, berdasarkan data-data yang telah saya unggah ke internet. Semua data itu dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Jadi, meski saya berpegang pada prinsip "privasi adalah prioritas", bisa jadi saat ini internet sedang menertawakan saya, sembari berkata, "Lo itu ngga sepenuhnya suci, bro! Internet bisa tahu tentang lo dalam sekejap mata."

Well, semoga masyarakat ideal yang diharapkan dalam novel The Circle hanya terjadi di dalam novel, tidak di masa depan. Selama saya masih bergelut dengan internet di kehidupan sehari-hari, sebisa mungkin saya berusaha bijak saat mengunggah apapun ke dalamnya. Kita tidak akan tahu apakah unggahan kita saat ini bisa berbalik menyerang kita di masa mendatang, bukan?


-Bayu-


Catatan selama proses menulis:

Film "Garden State" membuat saya mengenal sebuah band asal Amerika Serikat bernama The Shins. Di film itu, sang tokoh utama yang diperankan Natalie Portman mengatakan bahwa "musik ini akan merubah hidupmu..." dan memang itulah aura yang diusung The Shins melalui lagu "New Slang". Lagu bernapaskan folk ballad yang lembut ini menemani saya sepanjang proses menulis, memacu mood untuk terus bergerak positif.


image source: amazon.com

READ MORE - Keterbukaan di Era Media Sosial
 

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.